"Jadi menurutmu yang mana sebaiknya kita pilih Hinata?"

Hinata memilih diam, tak menjawab pertanyaan Naruto.

"Ba-bagaimana kalau kita diskusikan dulu hal ini dengan Tou-sama, ya Naruto-kun."

Naruto mendengus sebal, entah kenapa dia merasa kesal lagi -lagi Hinata bertingkah seperti ini.

Saat ini mereka sedang duduk berdua didepan teras mansion Hyuga bagian mansion utama tempat Hinata tinggal.

Angin sore yang berhembus sepoi-sepoi menjadi penyejuk utama bagi kedua sejoli yang tengah berdiskusi serius membahas sesuatu hal.

Terlihat sang pemuda tengah menunjukkan beberapa kertas berisi gambar dan alamat yang dibawanya kepada sang gadis.

Dari caranya menjelaskan gambar itu walaupun tutur katanya sangat berantakkan, Kini Naruto laksana seorang sales yang sedang mempromosikan suatu barang kepada sang calon pembeli. Ya namun apa daya,ibarat orang yang tak berniat membeli—

Begitulah kelakuan Hinata menurut Naruto.

Jujur, Naruto sangat kesal saat ini. Ia sebenarnya sangat ingin menolak, ia merasa Hinata seperti tidak mempercayai dirinya ikut andil dalam persiapan pernikahan mereka.

Naruto sangat mengerti Hinata tidak ingin membebankan dirinya, hanya saja—

Tidak ada salahnya kan, Naruto ingin mempersiapakan pernikahan ini hanya berdua dengan Hinata tanpa harus ada campur tangan pihak lain.

Sebenarnya ia mulai risih akan suatu hal.

Cukup saja Mulai dari persiapan tema, Naruto tak keberatan para tetua Hyuga dan Ayah Hinata lebih menyarankan pernikahan mereka menggunakan tema dengan nuansa tradisional.

Ia juga tak marah saat dirinya sudah mati-matian memikirkan budget mengenai makanan yang akan mereka hidangkan buat para tamu, lalu melakukan survei ke beberapa tempat makan yang bersedia melayani pesta pernikahan, namun berakhir sia-sia karena Hinata memberitahunya bahwa untuk hidangan makanan akan diurus oleh juru masak dan pelayan clan Hyuga.

Pada awalanya Naruto sangat bersyukur karena mendapat banyak bantuan dari klan Hyuga, namun sebagian jiwa lelaki sejatinya sedikit memberontak.

Entah kenapa ia merasa tak perlu mendapat bantuan pihak manapun, Naruto sangat yakin uang yang dimilikinya saat ini mencukupi untuk biaya pernikahan mereka.

Pada awalnya juga Naruto hanya menginginkan pesta pernikahan yang sederhana, dengan dihadari keluarga Hinata beserta sahabat dan kerabat dekat mereka.

Tidak pernah sekalipun terlintas difikiran Naruto, bahwa rencana pesta pernikahannya akan menjadi sesuatu yang besar dan viral, pesta pernikahan yang mewah dengan begitu banyak permintaan undangan.

Belum lagi para tetua Hyuga yang menyindirnya mengenai fakta kebiasaan clan Hyuga yang tak pernah menggunakan segala sesuatu hal yang murah— alias low quality.

Sukses membuat Naruto memutar otaknya, mengenai budget pernikahannya yang sangat melenceng dari perhitungan awal.

Apalagi ditilik dari segala kebutuhan pesta pernikahan mereka yang telah disiapkan, tidak ada yang berharga murah.

Mulai dari bahan kain kimono, bahan makanan, design gulungan undangan benar-benar dipesan yang dengan standart High quality.

Itu saja sukses membuat kantongnya membengkak, bahkan sebelum perhitungan biaya sewa gedung pernikahan, dekorasi dan bunga pengantin.

Memikirkannya saja sukses membuat kepala Naruto berdenyut.

Maka dari itu untuk mengantisipasi kekurangan budget, Naruto memutuskan untuk gedung, dekorasi dan bunga pengantin biar menjadi pilihannya dan Hinata saja tanpa campur tangan keluarga Hyuga.

Naruto juga telah mengumpulkan gambar dari Aula serba guna yang bisa dipakai untuk resepsi pernikahan mereka nanti. Dan yang sudah pasti, Aula tersebut memenuhi standart budget yang telah ditetapkan Naruto.

Ia sengaja mengumpulkan gambar tempat yang berbeda agar Hinata tinggal memilih mana tempat yang disukai gadis itu. Namun ya seperti itu, Hinata tidak pernah mau memutuskan sesuatu tanpa berdiskusi dengan keluarga Hyuga.

"Terserahmu saja Hinata, tapi aku memilih yang ini," Ujar Naruto sambil menunjukan suatu tempat seperti lapangan yang luas dengan banyak pohon Sakura disekelilignya.

Hinata menatap gambar yang ditunjuk Naruto, dia tampak terdiam mempertimbangkan lalu akhirnya mengangguk singkat setuju, "Hm, tempat ini bagus Naruto-kun."

Seketika cengiran lebar tepatri diwajah Naruto, "Bagus bukan? ini saja ya kita pilih."

"Baiklah, hanya saja tempat ini letaknya dimana Naruto-kun?"

Naruto tampak berfikir sekilas, satu tangannya terangkat menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Eto, em sejujurnya aku kurang tau ini lokasinya dimana soalnya Sakura-chan yang menyarankan tempat ini padaku tebbayo."

"Begitu ya."

"Baguslah kalau Hinata setuju, rencananya besok aku dan Sakura-chan akan kesana melihat lokasinya," Ujar Naruto semangat, tanpa menyadari perubahan raut wajah Hinata.

Julukan 'lelaki tidak peka' memang sangat pantas disematkan untuk pemuda pirang ini.

Entah memang tidak peka atau sedikit bodoh, entahlah! Hinata tidak ingin membahas hal itu.

Bagaimana mungkin Naruto berbicara terang-terangan lebih memilih pergi mensurvei lokasi bersama sahabatnya Sakura, dibanding calon istrinya sendiri.

Ya walaupun Hinata tau bahwa Naruto tidak mengetahui lokasi tempat tersebut makanya harus pergi bersama Sakura. Namun itu bukan alasan kan untuk tidak menawari Hinata ikut.

Padahal Hinata juga perlu mengetahui lokasi yang akan menjadi tempat acara pernikahan mereka.

Naruto no baka!

"Mengenai tema dekorasi dan bunga, bagaimana kalau kita minta bantuan Ino saja?"

Naruto mengangguk menyetujui, "Sakura-chan juga menyarankan hal yang sama Hinata, ohya mengenai bunga bagaimana kalau kita memakai bunga Sakura saja sebagai dekorasi?"

Entah kenapa Hinata merasa sangat kesal, kenapa segala sesuatu yang disarankan Naruto harus selalu menyangkut Sakura. Hinata sadar, mungkin ia terlalu berlebihan namun tetap saja hatinya sedikit risih saat Naruto selalu melibatkan Sakura dalam hubungan mereka.

"Daripada bunga Sakura, bagaimana kalau bunga lily saja Naruto-kun?"

"Bagus juga sih, tapi bukannya lebih bagus bunga Sakura. Sesuai dengan tema musim semi saat ini."

"Yasudah terserah Naruto-kun," ujar Hinata, sambil bangkit dari duduknya.

"Hinata mau kemana?"

"Ke kamar, sebaiknya Naruto-kun pulang saja."

"Eh?" Naruto bingung akan sikap Hinata yang seperti ini, jujur saja ia tidak mengerti apa kesalahannya. Mengapa tiba-tiba Hinata seakan mengusirnya seperti ini.


Setelah adegan pengusiran sepihak tersebut, mau tak mau Naruto melangkahkan kakinya untuk segera pulang.

Fikirannya melayang memikirkan apa kesalahannya. Jujur ia benci diabaikan apalagi jika Hinata bersikap seolah mengabaikannya seperti tadi. Naruto tidak mengerti dengan isi fikiran Hinata, dari tadi gadis itu agak bertingkah menyebalkan menurut Naruto.

Tapi Naruto berusaha menahan diri, dia tidak ingin bertengkar dengan Hinata. Sekesal-kesalnya dia akan sifat Hinata yang kadang plin-plan dalam persiapan pernikahan mereka ini, pemuda bersurai pirang itu akan selalu berusaha sabar dan mencoba mengerti.

"Kau yakin akan melepas Hinata dari clan, Hiashi?"

Langkah Naruto berhenti seketika, indra pendengarannya mendadak sangat peka saat mendengar nama sang kekasih disebut.

Tubuhnya perlahan mendekat kearah sebuah ruangan tempat dimana suara tersebut berasal.

Naruto berdiri disamping sebuah pintu yang menjadi penghubung ruangan tersebut.

"Hinata sudah dewasa untuk menentukan pilihannya, aku tak punya hak melarang jika itu sudah keputusan Hinata."

"Tapi, kita sudah sepakat Hinata sudah mampu untuk menjadi ketua clan selanjutnya" ujar tetua Hyuga.

"Hinata sudah menolak posisi tersebut, dia merelakan Hanabi yang akan menjadi ketua clan."

"Dan kau menyetujuinya Hiashi?"

Dan Naruto tak mendengar apapun lagi, kakinya bergerak melangkah menjauh begitu saja.

Ia merasa lancang jika harus mendengar semua percakapan para tetua Hyuga itu dengan calon ayah mertuanya.

Sepanjang perjalanan fikiran Naruto terus teringat akan percakapan tetua Hyuuga tersebut, Mengapa Hinata menolak posisi tersebut dan banyak hal lainnya yang tidak bisa Naruto mengerti.

Bukannya Hinata berlatih sangat keras sedari dulu agar dapat membuktikan dia bisa menjadi lebih kuat. Dan saat gadis itu telah mampu melewati segala masa sulitnya, dan telah mampu membuktikan kekuatannya. Mengapa justru Hinata sendiri yang menolaknya.

Entah mengapa seketika rasa bersalah menyinggapi hati Naruto. Hati dan fikirannya bergelut, memikirkan bahwa alasan Hinata menolak posisi tersebut karena dirinya.

Ya benar, kenapa Naruto tak menyadari hal tersebut. Dirinya menjadi kesal sendiri akan kebodohannya, yang tidak memikirkan hal penting seperti ini.

Tentu saja setelah mereka menikah, Hinata akan menyandang marga Uzumaki bukan Hyuga lagi, dengan kata lain clan Hyuga telah melepas Hinata dari anggota clan untuk mengikuti clan dirinya. Maka dari itu, tidak mungkin bukan Hinata menerima posisi ketua clan.

"Hah~" menghela nafasnya kasar, Naruto sekarang mengerti, Hinata rela melepas posisi jabatan tersebut demi dirinya.

Gadis bodoh!

Walaupun harus Naruto akui, dulu dia memang tidak terlalu dekat dengan Hinata. Namun tentu saja dia mengetahui dengan jelas mengenai cerita Hinata sebagai anak ketua clan Hyuga yang dipandang sebelah mata, bahkan tak sedikit orang yang menyebut Hinata sebagai putri yang dibuang Ayahnya sendiri.

Oke, mungkin dibuang terlalu kasar, namun memang hampir begitulah faktanya.

Kakinya terus melangkah pelan membelah seluk-beluk jalan desa Konoha, bahkan karena terlalu bergelut akan fikirannya, pemuda sang pahlawan dunia itu sampai tidak menghiraukan sapaan-sapaan yang ditunjukkan kepadanya.

Orang-orang yang menyapanya, memandang bingung. Tidak biasanya Uzumaki Naruto mengabaikan orang yang menyapanya.

Sampai—

"Senpai!" dua orang gadis berteriak menghampirinya, satu orang gadis bersurai pirang sebahu dan satunya lagi bersurai coklat panjang sepinggang.

Naruto tersentak dari lamunannya, mata birunya memandang dua gadis yang berlari kecil menghampirinya.

"Ah kalian," satu tangannya yang terbalut perban terangkat menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sejujurnya Naruto sedang ingin sendiri, hanya saja tidak mungkin dia mengusir gadis-gadis ini—

Yang diketahuinya sebagai kohainya, walaupun sejujurnya Naruto bahkan lupa siapa nama mereka berdua.

"Senpai dari tadi kami panggil, tidak menyahut," ujar si gading bersurai panjang, dengan mengerucutkan bibirnya kesal.

"Ah maaf ya."

Si gadis bersurai sebahu menggeleng maklum, "tidak apa-apa senpai" tangannya spontan mengandeng sebelah tangan Naruto.

"Ne senpai bagaimana kalau kita ke Ichiraku, ya kan Yuki?"

Gadis bersurai panjang yang diketahui bernama Yuki tersebut mengangguk, "Ah kau benar Echan, ayo senpai" tak mau melewatkan kesempatan Yuki juga menggandeng sebelah tangan Naruto yang menganggur.

Naruto hanya nyengir canggung, disaat dirinya diperlakukan begini.

Bahkan mereka tidak menyadari, jauh dibelakang mereka seorang gadis harus rela menahan api cemburu melihat sang kekasih diapit gadis lain.


Sinar mentari pagi, telah menyongsong sedikit tinggi. Udara dingin khas pagi menari membelai kulit manusia yang masih nyaman bergelung dibalik selimut nyamannya.

Termasuk sang gadis indigo, badannya masih terbalut selimut tebal. Namun, bukan berarti sang gadis masih tidur, justru sesungguhnya ia tidak tidur satu malaman.

Fikirannya berkecamuk memikirkan kejadian semalam.

"Hah~" menghela nafasnya kasar, sungguh saat ini Hinata sangat susah menjelaskan bagaimana perasaannya.

Resah?gelisah?galau? Senang?, entahlah!

Dirinya sendiripun tak mampu menafsirkan bagaimana suasana hatinya saat ini.

Mata amethyst miliknya memandang kosong menatap lurus langit-langit kamarnya. Fikirannya menerawang kembali mengingat pembicaraan sang Ayah dengan dirinya.

Saat itu keluarga souke Hyuga sedang makan malam bersama. Sudah merupakan tradisi dimana setiap sarapan atau makan malam mereka akan kumpul bersama untuk makan.

Seperti biasa, hanya suara dentingan sendok dan sumpit menghiasi suasana makan malam saat itu, sampai sang kepala keluarga yang juga merupakan ketua clan Hyuga membuka suara—

"Hinata, ada yang ingin Tou-sama bicarakan padamu."

"Haik, Tousama."

Setelah makan malam selesai, Hiashi segera beranjak menuju ruangannya yang dikhususkan sebagai ruang kerjanya.

Tidak perlu ajakkan atau perintah, Hinata tau bahwa sang ayah mengisyaratkan dirinya untuk mengikuti dirinya.

Hinata membungkuk hormat setelah memasuki ruangan, kepada Hiashi yang sudah duduk diatas tatami.

Dirinya segera mengambil posisi Seiza menghadap sang Ayah.

"Ada apa Tousama?"

Wajah tegas Hiashi memandang serius ke arah Hinata, raut wajahnya yang memang datar sukses menutupi segala emosi yang dimiliki pria paruh baya ini.

"Sebaiknya kau fikirkan kembali hal itu."

"Tidak Tousama, aku sudah memikirkan hal ini dengan matang." Hinata sangat tau topik apa yang dibahas Hiashi tanpa perlu dijelaskan. Mereka sudah sering membahas hal ini. Namun sama seperti sebelumnya, jawaban Hinata tidak pernah berubah.

"Kau yakin?"

"Haik Tousama,"

Hiashi menghela nafasnya berat, netra senada dengan milik Hinata itu tetap memandang lekat sang putri.

"Bukannya ini kesempatanmu untuk membuktikan diri?"

Hinata menggeleng pelan tanda menolak, dirinya memberanikan diri menatap langsung netra sewarna dengannya milik Hiashi.

"Arigatougozaimasu Tousama, karena sudah mempercayakanku. Tapi, ini sudah keputusanku. Aku tidak akan mengambil posisi tersebut, aku percaya Hanabi lebih layak mengisi posisi ketua Clan."

Hiashi hanya diam, mendengar penjelasan Hinata, iya tidak ada hak memaksa Hinata. Iya hanya ingin Hinata agar tidak menyesali keputusannya.

Hiashi sadar bagaimana dulu dia memperlakukan Hinata, bagaimana Ia selalu bersikap tidak peduli pada Hinata. Tapi itu semua bukanlah hal sesungguhnya, Ia sayang pada Hinata. Ia terlalu berharap banyak kepada Hinata, namun semua tidak sesuai ekspetasinya dan hal tersebutlah yang membuat Hiashi memperlakukan Hinata dengan buruk.

Raut wajah tegas itu terlihat menyendu seketika, jujur Ia menyesal akan sikapnya pada Hinata dimasa lalu. Dan inilah saatnya dia ingin membayar segala perbuatannya dulu, Hiashi telah mengakui Hinata sekarang. Hinata telah tumbuh menjadi gadis yang kuat namun tidak menghilangkan sifat lembutnya. Tetua Hyuga juga menyetujui akan kemajuan dan perubahan pada diri Hinata, gadis itu telah mampu membuktikan bahwa dia pantas untuk diakui. Maka dari itu mereka juga menyarankan untuk melantik Hinata sebagai pengganti ketua clan yang baru, namun justru Hinata menolak akan hal itu.

Hinata tetaplah Hinata, bagaimanapun gadis itu tidak pernah bersikap egois. Hinata merelakan posisi tersebut untuk Hanabi, dan memilih untuk meninggalkan clan dengan mengikuti marga calon suaminya.

Entah mengapa, memikirkan hal tersebut membuat sesuatu didalam diri Hiashi terasa menyesakkan. Namun sekali lagi ia mampu menyembunyikan hal tersebut dibalik raut wajah nya tersebut.

"Baiklah kalau begitu," setelah mengucapkan hal itu Hiashi bangkit berdiri, kakinya hendak melangkah begitu saja meninggalkan Hinata di ruangan itu. Namun sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan itu, suara Hinata mengintrupsi.

"Sekali lagi Arigatougozaimasu Tousama," ucap Hinata dengan membungkuk hormat.

"Hinata kemarilah mendekat" ujar Hiashi, yang direspon dengan langkah kecil Hinata menuju dirinya.

Tangan kanan Hiashi terangkat menepuk pelan puncak surai indigo milik sang putri sulung, "sumane Hinata," senyum tipis terlukis diwajah datar milik sang ketua clan Hyuga itu "Ayah bangga padamu."

Senyum manis terlukis kembali diwajah cantik Hinata, dirinya tidak mampu menahan senyuman dan rasa bahagia saat mengingat kembali perlakuan lembut Ayahnya. Yang selama ini selalu bersikap tegas dan dingin.

Namun disisi lain, Hinata juga bertanya-tanya apakah keputusannya memang sudah tepat?

Pada awalnya ia sangat yakin akan keputusannya, Ia ikhlas merelakan posisi ketua clan untuk Hanabi, hanya saja— Melihat raut kecewa sang Ayah semalam yang walaupun tersamarkan dengan baik oleh raut wajah datarnya, entah mengapa membuat sesuatu didalam hati Hinata tampak kembali meragukan keputusannya.

"Hah~"

Tidak ingin berlarut-larut dalam kegelisahannya, Hinata segera bangkit dari tempat tidurnya, bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, Ia ingin pergi keluar mencari udara segar mengingat hari masih sangat pagi. Sekalian pemanasan, tidak buruk juga.


Disinilah Hinata sekarang, berada di lapangan tempat biasa dirinya dan teman-teman tim 8 berlatih.

Walaupun Hinata tidak memakai baju misi, dan hanya memakai pakaian yang biasanya dipakai dirinya saat bebas tugas seperti sekarang ini, tidak membatasi pergerakannya dalam pemanasan.

Melompat melewati satu pohon dan pohon lain, gadis itu dengan telaten melempar shuriken dan kunai yang telah diselipkannya didalam tas sandang kecil menuju papan kayu sebagai sasaran target.

Nafasnya memburuh, keringat membasahi wajah cantik miliknya. Merasa letih mulai menghampiri, Hinata memutuskan beristirahat sebentar dengan bersadar dibawah salah satu pohon yang ada disitu.

Matanya terpejam, menikmati detak jantungnya yang berdetak dengan cepat, dan rasa panas yang menyelimuti tubuhnya saat ini.

Pluk!

Spontan mata Hinata langsung terbuka saat merasakan suatu benda yang ditaruh diatas kepalanya.

"Sudah kuduga kau pasti disini, hehe."

Amethyst itu terbelalak kaget, melihat pemuda yang berjongkok mensejajarkan posisi badan menghadap dirinya.

"Naruto-kun?"

Dengan cengiran lebar, Naruto mengangguk membenarkan ucapan Hinata, tangannya bergerak membuka botol minum yang tadi ditaruhnya diatas kepala Hinata.

"Minumlah"

Hinata tersenyum menatap Naruto, tangannya terulur mengambil botol minum yang diberikan padanya "Arigatou Naruto-kun."

"Hm" ujar Naruto, sambil dirinya berpindah tempat duduk disamping Hinata.

Mereka berdua hanya diam, menikmati momen kebersamaan walaupun tak ada satupun dari merek yang membuka suara. Padahal tidak biasanya mereka diam begini disaat berdua, apalagi Naruto. Biasanya pemuda itu akan senang bercerita pada Hinata, melempar lelucon receh atau menggoda kekasihnya itu. Namun saat ini mereka tampak terlarut dalam fikiran masing-masing.

Sampai akhirnya suara Naruto memecah keheningan, "Lain kali jangan berlatih sendiri."

"Eh?" Hinata spontan menatap Naruto, yang juga sedang menatapnya.

"Kenapa eh?"

"Nandemonai, ah kenapa Naruto-kun bisa ada disini?" jujur sebenarnya Hinata cukup kaget mengetahui Naruto menemuinya disini.

"Jadi aku tidak boleh datang kesini?" perlahan kepala Naruto menunduk, raut wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa yang sukses membuat Hinata merasa bersalah seketika

"Bu-bukan begitu Naruto-kun."

"Mungkin, aku menganggu Hinata ya?" kepala Hinata menggeleng, tangannya spontan menggenggam kedua tangan Naruto.

"Tidak kok Naruto-kun."

Perlahan kepala Naruto terangkat, menatap balik wajah Hinata yang kini berada didepannya. Dengan cepat wajah mendekat, mencuri satu kecupan dibibir mungil sang kekasih.

Hinata diam membeku, dirinya mencoba merespon apa yang barusan Naruto lakukan padanya— sampai suara Naruto mengembalikan kesadarannya, "Hehe aku bercanda kok" melepas genggaman tangannya dari Hinata, satu tangan Naruto mengacak-ngacak gemas puncak surai indigo milik Hinata.

"Mou Naruto-kun!" lagi, selalu seperti ini. Hinata selalu tertipu disaat Naruto melancarkan aksi jahil untuk menggodanya.

"Bagaimana kalau kita mencari makanan? Aku lapar tebbayo" Ujar Naruto dengan bibir mengerucut dan jangan lupakan nada manja yang diggunakan.

Benar-benar seperti anak kecil.

Hinata mengangguk menyetujui, "Baiklah, aku juga belum sarapan."

"Yosh ayo kita ke pasar?"

Hinata tertawa kecil melihat tingkah laku Naruto yang selalu bersemangat, "tumben tidak ke ichraku?"

"Ah, Hinata mau ke ichiraku?"

"Tidak juga, tapi terserah Naruto-kun saja. Yang penting makanan kan."

"Hm, ayo" tangan Naruto spontan mengenggam satu tangan Hinata, entah sejak kapan hal ini menjadi kebiasaan mereka berdua— Bergandengan tangan.


Sudah menjadi hal yang wajar, waktu di pagi hari adalah dimana manusia sibuk memulai aktifitas masing-masing. Hiruk pikuk yang terasa ramai— para pedagang yang berkeliaran mengangkat barang dagangan mereka, orang yang berlalu lalang hendak membeli. Yap! Semua itu adalah suasana yang biasa ditemukan dipasar.

Sepasang muda-mudi yang sedang berjalan beriringan dengan tangan saling bertautan, seakan menjadi tontonan gratis para warga Konoha yang kebetulan berpapasan dengan mereka diantara keramaian pasar.

"Bukankah itu Uzumaki Naruto?"

"Benar itu Uzumaki Naruto" para pedagang berbisik-bisik heboh, melihat kedatangan sang pemuda pirang yang menyandang julukan Pahlawan tersebut.

Naruto hanya bisa nyengir, dan sesekali membalas sapaan warga yang memanggil namanya.

Disebelahnya Hinata tersenyum memandang Naruto penuh rasa bangga. Gadis itu telah jatuh hati pada sang pemuda saat umur mereka masih sangat belia, Ia yang notabene adalah stalker seorang Uzumaki Naruto tentu tau bagaimana perjuangan sang kekasih untuk dapat diakui.

Naruto itu layaknya Matahari, Benarkan?

Hinata tersenyum tipis menanggapi pemikirannya. Sinar mentari yang menyapa mereka seakan background yang mendukung pemikirannya, apalagi disaat begini— Naruto yang berjalan didepannya, dengan tak melepas tautan tangan tubuh Naruto yang memang lebih tinggi dari tubuh mungilnya seakan menjadi penghalang terik matahari mengenai diri sang gadis.

Sudah berapa lama dia melihat punggung kecil sang bocah lelaki yang kini tumbuh menjadi seorang pemuda kebanggaan semua orang, sejak kapan kapan? Bahu kecil yang dulu terlihat rapuh kini berubah tegap seakan mampu melindungi apapun.

Semua terasa sangat banyak berubah, bukan?

Namun Hinata menyadari satu hal, mengapa hanya dia yang tidak mengalami perubahan yang berarti.

Tautan tangan mereka terlepas, menyentak lamunan Hinata akan dirinya. Dahinya menggerut bingung, kenapa Naruto tiba-tiba melepas genggaman mereka.

"Naruto-senpai!" mata Hinata memicing, astaga! berapa lama dia melamun sampai tak menyadari,lagi-lagi afeksinya yang jelas-jelas berada disamping Naruto, direbut begitu saja oleh para Fangirl sang kekasih.

Nasib-nasib! entah perlu bersyukur atau menyesal?

Punya kekasih yang kelewat baik, oke semua orang juga tau bahwa kekasihnya— Uzumaki Naruto, adalah pemuda yang baik terhadap siapa saja, apalagi terhadap fansnya.

Hinata bukan gadis yang mampu terang-terangan menunjukkan rasa cemburunya. Ia hanya seorang gadis yang memilih diam dan memendam semua perasaan kesalnya. Entah mengapa, disaat rasa cemburu sering kali melanda Hinata tak tau harus berbuat apa selain menghindar. Ia ingin protes, atau sekedar menarik perhatian Naruto agar menyadari kehadiran dirinya yang masih berada disamping pemuda itu, namun seperti yang dijelaskan tadi— Ia takan mampu melakukan hal tersebut. Lantas memilih mundur dan mengabaikan mereka adalah satu-satunya pilihan, lebih baik mencari makanan pengisi perut dari pada memandang hal yang dapat mengosongkan hati.

.

.

.

(Bersambung)

Halo...

Sejujurnya aku pengen buat fict ini 2 shot aja cuma kayaknya jadi kepanjangan, yaudah deh jadi aku buat 3 shot.

Makasih ya masih ada yang mau baca fict delisa :)