"Hinata ada apa?"
"Ah tidak ada apa-apa Sakura-chan," Hinata tersenyum tipis sembari menggeleng kepalanya kecil. Namun Sakura bukanlah gadis yang tidak peka. Ia sangat tau, sorot mata Amethyst didepannya memancarkan sebuah kesenduan. Ia menyadari mungkin Hinata sedang ada masalah. Ingin rasanya Sakura bertanya pada Hinata, namun ia urungkan, Ia tidak ingin menganggu privasi calon istri sahabatnya itu.
Saat ini, seperti biasa mereka sedang berada di Rumah Sakit Konoha— lebih tepatnya di taman belakang rumah sakit, untuk menikmati bento makan siang.
"Arigatou ne Hinata, jika tidak ada kau mungkin pekerjaanku tak akan cepat selesai.."
Lagi-lagi Hinata hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Hinata memang sering ditugaskan membantu Sakura atau medic-nin yang lain dirumah sakit, karena dengan byakugannya para medical-nin seperti Sakura lebih cepat mendapatkan titik cakra pasien untuk memberikan pengobatan.
Hanya saja, belakangan ini iya memang sudah jarang ke Rumah Sakit untuk bertugas ataupun menjalankan sebuah misi karena harus sibuk mengurus persiapan pernikahannya yang tinggal beberapa minggu lagi.
"Ne Hinata, semalam si baka itu sudah jadi memesan tempatnya."
"Ah begitu ya.."
Sakura mengangguk antusias, lalu gadis bersurai senada bubble gum itu berkata, "Hanya saja aku heran, kenapa semalam kau tidak ikut Hinata?"
"I-itu ada sesuatu hal yang harus kuurus Sakura-chan."
Tangan seputih porselen bertautan erat menahan rasa gugup lantaran kebohongan yang dilontarkannya, Ia tidak mungkin mengatakan perihal ia tidak ikut karena calon suaminya yang memang tak peka atau sedikit baka itu tidak menawarkannya untuk ikut.
"Oh begitu ya hehe, padahal semalam aku menghajarnya karena kupikir dia tak memberi tau Hinata," ujar Sakura sembahri menunjukan cengiran malunya pada gadis indigo itu, yang dibalas senyuman maklum Hinata.
Angin musim semi berhembus sepoi-sepoi menerpa surai berbeda kedua gadis yang sedang hanyut dalam menikmati bento mereka. Tidak ada percakapan lagi yang menjadi peneman, hanya suara rimbun angin yang menjadikan backsound ketenangan
Mata Emerald menatap langit-langit dengan pandangan yang sulit diartikan. Fikirannya menerawang jauh, membayangkan wajah seorang pemuda yang sangat dirindukannya. Di dalam hati, Sakura selalu bertanya-tanya— Bagaimana keadaan dia? Dimana keberadaannya sekarang? dan yang terpenting Aku sangat merindukannya.
Tidak pernah sehari pun fikirannya berhenti untuk memikirkan pemuda itu— cinta pertamanya.
Jujur saja Sakura sedikit merasa iri dengan Hinata, gadis itu telah berhasil mendapatkan pemuda impiannya. Perasaan gadis itu telah berbalas setimpal dengan keseriusan Hubungan yang dijalaninya dengan Naruto. Dia juga bahagia sahabatnya yang selalu dia anggap bodoh dan sedikit tak peka bisa mendapatkan gadis baik seperti Hinata.
Ah mengenai Naruto, terkadang Sakura sedikit tidak menyangka, sahabatnya yang selalu bertingkah konyol dan kekanakkan bisa berubah 180 derajat di depan Hinata— maksudnya dalam segi sifat. Pemuda itu bisa sangat dewasa walau tak sepenuhnya menghilangkan sifat konyolnya, lalu dia juga bisa bersikap romantis dengan caranya sendiri dan yang terakhir seperti julukannya— Ninja penuh kejutan, tiba-tiba saja Naruto memberitahunya bahwa pemuda itu akan menikah. Sakura masih ingat bagaimana syoknya dia saat mendengar sebuah kabar bahwa sahabatnya itu akan menikah, hal itu bermula dari gosip yang menyebar mengenai Naruto yang mendatangi mansion Hyuga tanpa wali untuk melamar Hinata. Pada awalnya dia tak terlalu percaya akan gosip itu sampai dia menanyakannya sendiri pada Naruto, dan hal yang lebih mengejutkannya lagi— dengan salah tingkah Naruto membenarkan hal tersebut bukan sekedar gosip.
Sungguh belakangan ini Sakura selalu memikirkan bagaimana dengan kisah cintanya. Kapan dia bisa mendapatkan kepastian seperti Hinata.
Bukannya Sakura meragukan Sasuke atau apa— hanya saja seorang perempuan butuh kepastian bukan?
"Astaaga laporan!" sial, terlalu larut dalam fikirannya sendiri membuat iya lupa sejenak akan tugas.
Sakura melirik kesamping kanan dimana Hinata sedang menutup bentonya tanda gadis itu telah menyelesaikan makanannya.
"Sakura-chan harus melapor ke kantor Hokage bukan?"
Sakura mengangguk, gadis itu menghela nafasnya kasar. "Hampir saja aku lupa mengenai laporan itu," lalu Sakura menutup bentonya kemudian bangkit berdiri, "Bukannya Hinata bilang juga akan ke kantor Hokage, bagaimana kalau kita bersama saja kesana."
"Baiklah," menenteng bekalnya, gadis indigo itu ikut bangkit dari kursi dan pergi dengan Sakura menuju kantor Hokage.
.
.
.
"Pre Marriage Syndrome"
Naruto Belong to Masashi Kishimoto
Cerita punya Author
Rated : T SEMI M
Genre : Romance, Drama, Semi-canon
Naruto x Hinata
Warning : Typo, EYD, alur cepat (maybe), kemungkinan OOC itu ada
.
.
Sinar mentari menyapa melalui celah-celah ventilasi yang tersedia diruangan yang bisa dikatakan cukup luas tersebut. Udara tidak panas dan tidak dingin— sejuk, tentu saja! karena ini musim semi.
Tidak ada yang aneh jika diperhatikan, kegiatan didalam ruangan itu sangat normal untuk suasana ruangan Hokage. Sang Rokudaime Hokage yang sedang memeriksa dan menandatangani dokumen dan jangan lupakan sebah buku— ah maksudnya novel berukuran sedang yang sengaja ditegakan dengan sanggahan tumpukkan dokumen, sambil menanda tangani dokumen sesekali mata bernetra onyxitu melirik membaca sebait paragraf yang tercetak di novel favoritnya itu Icha Icha Paradise.
Yap itu suasana beberapa saat yang lalu sebelum kekacauan ini muncul—,
"Aku tidak peduli! bawa Naruto ke sini sekarang!"
Kakashi menyerah, pria bersurai perak dengan masker yang setia menutupi wajah tampannya itu bahkan tak mampu lagi mengeluarkan kata yang tepat untuk gadis cantik yang sedang mengamuk dikantor Hokage sekarang.
Ini bahkan belum ada satu jam sejak ia mendapat laporan kedatangan tamu dari Negeri Iblis dan menyuruh Shinobi tersebut untuk membawa tamu tersebut ke ruang Hokage.
Kakashi bahkan tersenyum ramah dibalik maskernya sambil memberi salam hormat akan kunjungan sang Miko dari negara Iblis— Shion.
Gadis itu balas memberi salam hormat, wajahnya melukiskan senyum manis sembahri mengobservasi suasana ruangan Hokage.
Kakashi bahkan mempersilahkan Miko itu dengan sang asistennya untuk duduk. Ia juga bahkan menyuruh Shizune untuk menyuguhkan tamu Konoha itu dengan teh Ocha sambil berbincang perihal kedatangan mereka.
Dan disinilah hal yang mampu membuat Kakashi memelototkan matanya horor,
"Maksud kedatangan kami untuk melamar Uzumaki Naruto," seorang pria paruh baya yang diketahui sebagai pengawal dan asistent sang mikoberkata dengan santainya tanpa memperdulikan ekspresi horor Hokage ke enam itu.
"A-apa?"
Shion mengangguk dengan ekspresi tenang nan datar, "Bukannya anda juga ada disana waktu itu? tentu anda ingat tentang janji Uzumaki Naruto kepada saya."
Sejenak fikiran Kakashi kembali menerawang, mengingat janji apa yang dimaksud Shion. Lalu detik itu juga, mata melotot dengan raut wajah yang lebih horor dibanding ekspresi sebelumnya sukses terlukis diwajahnya. Dia ingat apa yang dimaksud Shion, karena Kakashi juga berada disana saat janji— ah lebih tepatnya permintaan gadis ini dituruti Naruto yang pada saat itu sebenarnya tidak mengerti apa maksud gadis ini.
"Ah, haha ma-maaf Shion-san. Bukannya itu sudah sangat lama sekali, dan aku fikir mungkin Naruto sudah tidak mengingatnya," Kakasih tertawa canggung, tangannya menggaruk tengkuknya sekilas tanda Ia bingung menghadapi situasi ini.
"Tidak mungkin! aku ingat Naruto pernah bilang dia takan pernah menarik perkataannya karena itu jalan ninjanya bukan?"
Terkutuklah dikau Naruto, mengapa bisa kebodohannya beberapa tahun yang lalu itu bisa membuat posisi sulit untuk seorang Hokage saat ini.
"Hah~" Kakashi menghela nafas frustasi,"Begini Shion-san Naruto tidak mungkin menerima lamaran anda disaat dia akan—"
"Aku tau maka dari itu kami kesini untuk melamarnya," ucap Shion memotong perkataan Kakashi.
"Hah?"
"Dia sudah berjanji Hokage-san, dia sudah menyetujui untuk membantuku meneruskan keturunan. Bertahun-tahun aku menunggunya untuk kembali menemuiku, namun aku malah mendapat kabar bahwa dia akan menikah. Jadi bagaimana dengan janji itu, Janji adalah utang. Bawa Naruto kemari!"
"Tapi Shion-san Naruto tidak mungkin menepati janji tersebut, lagi pula dia tidak mengerti apa maksud pertanyaan anda waktu itu."
Shion tidak peduli, terserah Naruto mau menikah atau bagaimana. Yang penting pemuda itu harus menemuinya, ia ingin menagih janji pemuda itu.
Tak ingin terjebak dalam masalah ini, Kakasih memilih menuruti permintaan Shion dengan membawa Naruto kehadapan mereka. Maka dari itu Kakashi memerintahkan seorang Shinobi untuk memanggil Naruto ke kantor Hokage.
Selang tak lama kemudian, suara ketukan pintu dari arah luar ruangan Hokage terdengar, "Sumimasen,Kakashi-sensei" Gadis bersurai merah jambu itu membungkuk sekilas memberi salam hormat, begitu juga dengan gadis bersurai indigo yang datang bersamanya.
"Sakura, Hinata.."
Kakashi terdiam, dia menatap Sakura dengan menggerakan matanya ke arah pintu bermaksud memberi sinyal agar Sakura dan Hinata keluar.
Namun sayangnya Sakura tak menangkap sinyal tersebut, gadis itu mengeryit tak mengerti maksud sang sensei.
"Aku hanya ingin memberi laporan mengenai dana pembangunan klinik mental anak, sensei.." gulungan putih yang berisi laporan itu diletakkan Sakura diatas meja sang Hokage. Sekilas iris Emerald nya melirik sekilas tamu Hokage yang sedang duduk disofa yang terdapat disudut ruangan itu.
"Hi-Hinata ada keperluan apa kemari?" sebutir keringat kecil menetes dipelipis sang Hokage, matanya melirik sekilas sang Miko yang menatap mereka dengan pandangan datar.
"Saya ingin memberikan ini Hokage-sama," Hinata memberikan sebuah gulungan bewarna keemasan, dengan pita silver yang menjadi ikatan gulungan tersebut.
"Ini apa?"
"Undangan pemberkatan Hokage-sama."
Kakashi mengangguk, lagi— matanya melirik kearah Shion yang masih setia berlipat tangan dengan memandang mereka dengan tatapan bosan.
"Jadi tanggalnya sudah ditentukan ya, baiklah pasti aku akan datang."
"Arigatougozaimasu Hokage-sama.."
Sakura melirik gulungan yang diberikan Hinata kepada Kakashi-sensei, dahinya mengeryit, "Bukannya tempatnya baru dipesan semalam ya Hinata."
Hinata mengerti maksud Sakura, gadis itu pasti bingung bagaimana mungkin tempat resepsi pernikahan baru dipesan semalam sedangkan undangannya sudah ada.
"Itu hanya undangan pemberkatan Saku—"
BRAK!
Suara pintu yang dibuka dengan keras tanpa berprikepintuan, memotong perkataan yang hendak diucapkan Hinata.
"Kakashi-sensei ada ap—, eh Hinata?"
"Naruto-kun.."
Tampaklah sang pelaku pemaksaan pembukaan pintu adalah seorang pemuda bersurai pirang kuning, yang merupakan Shinobi yang dijuluki sang Pahlawan.
Netra Safire itu membola kaget, gadis yang semalaman membuat ia risau ada didepan mata. Senyum manis terlukis diwajah tampannya, karena akhirnya ia bisa bertemu dengan Hinata setelah gadis itu secara terang-terangan menjauhinya sejak semalam.
"Naruto!"
Dengan spontan ketiga Shinobi dan satu Hokage itu menoleh dengan serentak menuju arah gadis bersurai pirang yang memekik memanggil nama sang Jinchuriki Kyuubi.
Kakashi menepuk jidatnya frustasi.
Sakura menatap bingung gadis bersurai pirang panjang itu, fikirannya berusaha mengingat dimana ia pernah melihat gadis itu. Dan saat memori beberapa tahun silam, terekam kembali dalam benaknya, Sakura tak dapat menyembunyikan rasa keterkejutannya. Kedua tangannya membekap mulutnya sendiri, Netra hijaunya melirik Kakashi guna meminta penjelasan yang dibalas tatapan pasrah sang Mantan Sensei.
Bola mata serupa batu Amethyst itu mengerjap dengan raut wajah penuh kebingungan, Ia menatap sang kekasih berharap memberi tahunya siapa gadis itu. Namun nyatanya Naruto malah terdiam menatap gadis pirang yang berjalan perlahan mendekat kearah pemuda itu.
"Ka-kau Shion?" Nada suara Naruto terdengar ragu, pemuda itu berusaha mengingat nama gadis yang kini berdiri dihadapannya. Dan satu nama itu berhasil muncul atas memori yang sedari tadi berusaha diingatya.
"Hm, Apa kabar Naruto?"
Karena pada dasarnya Naruto itu adalah pria baik yang memiliki sifat tak peka. Ia tidak memiliki rasa curiga pada gadis yang menghampirinya ini.
"Baik," pemuda itu nyengir sesekali Ia melirik ke Arah Kakashi-sensei yang entah mengapa memasang ekspresi gugup. Lalu dia juga merasa heran akan tingkah Sakura yang terus memberinya kode tangan untuk keluar.
"Naruto-kun," gadis bersurai indigo itu berjalan mendekat menghampiri kekasihnya. Ia sedikit penasaran akan siapa gadis yang memandang sang calon suami nya dengan tatapan memuja itu.
Hinata sedikit berjinjit lantaran tubuhnya yang lebih pendek dari tubuh Naruto, ia berbisik pelan tepat di telinga calon suaminya itu ,"Dia siapa Naruto-kun?"
Naruto tersenyum senang, Hinata tidak menghindarinya lagi. Hatinya terasa legah— rasanya semua rasa khawatirnya semalam suntuk terbayar, "Dia—"
"Aku calon istrinya Naruto."
Waktu seakan terhenti seketika, semua terdiam, langit mendadak mendung seketika. Suara gagak yang entah dari mana terdengar melintas sekilas. Jarum jam seakan berhenti berdetak, serupa dengan jantung Naruto, Kakashi, dan Sakura yang serasa lepas dari tempatnya.
...
Di lain tempat, seorang pria atau wanita atau laki-laki atau apa saja bisa jadi— berambut hitam legam panjang sehalus sutra, atau seseorang yang lebih di kenal dengan sebutan— Orochimaru, yang sedang berjemur diatas patung Hokage, mengeryit bingung.
"Kenapa mendung?"
Dirinya tak menyadari seorang pria yang duduk diatas papan kayu yang entah sejak kapan ada, sambil memegang payung dibelakangnya tersenyum dengan penuh rasa syukur.
"Huft setidaknya aku tidak jadi hitam.."
Tak ada bedanya bak kuburan, ruangan Hokage yang biasanya sedikit berisik— bukan karena orang ribut atau apa, melainkan karena nyanyian cempreng sang Hokage yang menghibur diri sambil menandatangani dokumen kini sunyi tak ada suara.
Kakashi berdehem singkat, mengurangi rasa kagetnya. Sebagai Hokage yang bijak dia harus bisa membantu mantan muridnya itu menyelesaikan masalah ini.
Namun saat dia hendak menengahi masalah ini, justru suara Hinata yang memecah keheningan membuat masalah menjadi rumit.
"Apa maksudnya ini Naruto-kun?"
Naruto menoleh kearah Hinata, "Hi-Hinata aku tak men—"
Lagi-lagi ucapan Naruto dipotong oleh suara Shion yang mengintrupsi, "Naruto pernah berjanji untuk membantuku meneruskan keturunan."
Tangan kurus dari seorang gadis bertenaga monster itu mengepal kuat, Ia sedari tadi diam menahan rasa kesalnya terhadap gadis pirang itu.
"Shanaro! Itu sudah lama sekali, dan si baka-dobe ini tidak mengerti maksud permintaanmu. Jangan berkata yang tidak-tidak Naruto itu akan menikah!" Suara Sakura menggema memenuhi ruang Hokage. Matanya melirik sekilas ekspresi teman indigonya yang menunduk kan kepala dengan raut kecewa.
"Hinata aku bisa jelaskan," tangan tan itu terulur ingin menggenggam tangan sang gadis, yang malah ditepis secara kasar oleh sang empunya.
"Naruto.."
Kakashi angkat bicara, ia harus melakukan sesuatu. Sudah cukup baginya diam bak penonton yang sedang menonton adegan drama genre romance-hurtcomfort secara live di depan matanya sendiri.
"Sensei apa maksudnya ini semua?"
Sungguh Naruto sangat kesal. Ia tadi sedang sibuk di Apartementnya untuk memilah beberapa daftar yang harus di crosscheck ulang sebagai persiapan pernikahannya. Lalu ia juga berencana untuk segera mengurus masalah undangan yang belum dibuat, agar dapat selesai dalam beberapa hari ini.
Belum lagi dia harus mengecheck rumah yang telah dibelinya dari hasil tabungan yang dikumpulkan Naruto dari upah misi yang dijalaninya selama ini.
Rumah yang kelak sebagai tempat tinggal dirinya dengan Hinata setelah menikah. Rumah itu masih kosong dan belum terisi apa-apa, maka dari itu setidaknya Naruto ingin memasukkan beberapa perabot penting yang akan mereka gunakan seperti tempat tidur, kompor, kursi dan lain-lain sebelum pernikahan mereka berlangsung agar setelah menikah, rumah itu bisa segera ditempati.
Namun semua schedule yang telah disusun rapi oleh Naruto, harus berantakkan dikarenakan seorang Shinobi yang memberitahunya ada keadaan darurat dan menyuruhnya segera ke kantor Hokage. Dengan segera Naruto melesat cepat menuju kantor Hokage, bahkan ia tidak mengganti baju santainya dengan baju misi.
Dan sekarang, apa yang terjadi? seorang gadis mengaku-ngaku calon istrinya, disaat calon istrinya yang asli berada disana.
Demi Kami-Sama hal gila ini bisa membuat hubungan Naruto hancur.
Hinata juga menatap Kakashi dengan tatapan menuntun penjelasan.
Hokage ke enam itu lagi-lagi menghela nafas frustasi,
"Maaf untuk mengatakan ini Hinata, tapi kedatangan Shion kesini untuk menagih janji Naruto."
"Janji?" Hinata melirik Naruto, yang tampak diam lalu tak lama kemudian safire itu menatapnya dengan raut wajah yang sangat pucat. Tangan tannya spontan memegang kedua bahu mungil sang gadis.
"Hi-Hinata kumohon, dengarkan dulu penjelasanku. Janji itu, sudah sangat lama itu— em etoo aku," Hinata semakin bingung mendengar penuturan tak bermakna yang diucapkan Naruto.
"Baka! kau benar-benar bodoh Naruto, aku tak menyangka hari dimana kebodohanmu menjadi masalah rumit akhirnya datang juga."
Sakura yang berdiri di depan meja Hokage, berjalan mendekat ke arah mereka. Tangannya terkepal ia siap ingin melayangkan tamparan kepada Shion sebelum—
"Jangan melakukan hal bodoh Sakura," Netra hijau miliknya menatap nyalang tanpa rasa takut kepada sang Hokage yang di balas gelengan pelan Kakashi.
Melangkahkan kakinya kembali menuju arah pintu keluar, dengan sengaja Sakura menyenggol bahu Shion.
Yang tentu saja dibalas makian Shion, "Hey apa maksudmu kurang ajar!"
Memijit pelipisnya pelan, Kakashi menyerah. Dengan santai ia mendudukan kembali dirinya ke kursi kebanggaan Hokage. Kembali ia menarik nafas,menenangkan fikiran. Ini bukan urusanku! kepala Kakashi mengangguk membenarkan persepsinya sendiri.
"Naruto, tolong keluar dari ruangan ini. Aku yakin kau bisa menyelesaikannya sendiri."
Naruto diam, dia ingin marah pada Kakashi. Setelah memanggilnya dengan tiba-tiba kesini sehingga mengacaukan schedulenya sekarang Ia diusir begitu saja.
Jika Ia— Naruto tau bahwa dirinya dipanggil dan terjebak dalam masalah ini, lebih baik dia di rumah saja mengurus segala persiapannya
Tak ada yang menyadari, setelah Sakura memutuskan untuk keluar dari ruangan Hokage itu. Hinata yang tak dapat menahan rasa sakit hatinya juga memilih keluar, Ia butuh ketenangan saat ini.
Hinata terkadang tak mengerti dengan dirinya belakangan ini, sesuatu di dalam jiwanya seperti memiliki dua cabang. Dimana satu jiwanya terus menyuruhnya untuk tetap menjadi Hinata yang tenang, lembut, penyabar dan pemaaf. Namun entah mengapa, Hinata merasa semakin dekat waktu menuju dengan hari pernikahannya, semakin pula ia merasa cemas, khawatir dan lagi Ia sering merasa ragu dengan Naruto akhir-akhir ini. Bukannya Hinata tidak percaya Naruto mencintainya, hanya saja— terkadang ia berfikir semua ini terlalu cepat, bahkan mereka hanya berkencan selama beberapa bulan sebelum akhirnya Naruto melamarnya, memutuskan untuk segera menikah.
Selama ini Hinata berusaha menutup telinganya dari segala macam gosip atau persepsi negatif orang-orang tentang hubungannya. Naruto hanya kasian padanya, itu hanya salah satu kalimat dari pendapat negatif lainnya.
Ia selalu percaya, Naruto bukanlah orang yang seperti itu.
"Hinata?" alangkah terkejutnya Naruto, menyadari hilangnya atensi sang kekasih. Merutuki kebodohannya sendiri, mengapa Ia bisa tak mengetahui Hinata telah pergi.
Ia tak perduli, yang terpenting baginya sekarang adalah mengejar Hinata dan menjelaskan semua.
Membalikan badannya hendak meninggalkan ruang hokage, namun sepasang tangan menahan perggelangan tangannya.
"Kau mau kemana? urusan kita belum selesai."
Naruto hanya diam memandang datar wajah Shion. Perlahan Naruro melepaskan genggaman tangan mungil itu.
Menarik nafasnya dalam. Sang safire menatap lekat iris violet yang berada dihadapannya, "aku hanya akan mengatakan ini sekali," dan Naruto tau hanya dengan mengucapkan kalimat ini bisa membuat gadis dihadapannya untuk menyerah akan janji itu, "Arigatou sudah jauh-jauh datang kesini untuk menemuiku, akan dengan senang hati aku menyambut kedatanganmu jika bukan dengan alasan ini. Tapi maaf Shion, Aku mencintai Hinata. Aku akan merasa sangat terhormat jika kau mau hadir ke pernikahan kami 35 hari lagi." Cengiran lebar terpatri diwajah Naruto, lalu pemuda itu menatap sang mantan sensei saat ia berada di Tim 7 dulu, "Yo Kakashi-sensei, maaf ya jadi begini."
Kakashi mengangguk kecil, matanya menyipit tanda Ia tersenyum dibalik masker yang menutupi sebagian wajah tampannya. Kau sudah dewasa Naruto,dan Kakashi merasa waktu sangat cepat berlalu.
...
"Hinata!"
Nafas Naruto memburuh, jantungnya berdetak sangat cepat bukan karena kelelahan atau apa, namun lebih tepatnya karena khawatir akan perasaan Hinata.
Demi mencari Hinata, Naruto menggunakan mode sage untuk melacak dimana keberadaan sang gadis pujaan hati.
Dan disinilah Ia, di pinggir danau desa Konoha.
Tentu saja Hinata mendengar suara keras Naruto yang memanggil namanya, namun jika ego sudah berkata dia bisa apa?
Mengabaikan akan kehadiran Naruto adalah satu-satunya jalan.
Ia hendak berlalu untuk segera meninggalkan tempat itu, jikalau salah satu lengannya tidak ditahan erat oleh Naruto.
Hinata menundukan kepala mengabaikan tatapan Naruto,"le-lepas," sambil tangannya berusaha melepaskan genggaman pemuda itu. Tapi apa boleh buat, tenaganya tak cukup kuat dari Naruto.
"Kita harus bicara Hinata."
"Untuk apa?"
Rasa sesak menjalar semakin dalam, bahkan sanggup membuat suaranya terdengar bergetar menahan tangis yang akan keluar. Dan Hinata benci terlihat begitu lemah seperti ini.
"Aku tidak ingin ada kesalah pahaman Hinata. Kumohon dengar dulu penjelasanku."
Dan setetes air mata berhasil kabur melewati pipi chubby gadis itu, "Bu-bukannya semua sudah jelas." Ia mendongak menatap langsung pemuda yang berdiri di sampingnya.
"Janji adalah janji Naruto-kun, dan kau harus bisa menepatinya."
"Itu sudah sangat lama Hinata, aku bahkan sudah hampir lupa tentang hal itu. Lagi pula jujur, aku tak bermaksud untuk menyetujui hal itu."
"Tapi, bagaimana bisa Naruto-kun menyetujui hal itu jika kau tak bermaksud?" Hinata menangis, entah mengapa rasanya sangat sesak. Ia seperti dipermainkan disini.
Tidak-tidak, bukan hanya saat ini. Hinata sadar, sepertinya memang selama ini persepsi orang akan dirinya memang benar.
Mengapa baru sekarang Ia menyadarinya? Apa selama ini Ia terlalu buta akan euforia Cinta?
Benar!
Selama ini tidak ada yang spesial dari perlakuan Naruto kepadanya, terkecuali status hubungan mereka.
Pada awalnya, sejak kepulangan misi mereka dari bulan. Sikap Naruto memang menjadi lebih perhatian kepadanya, bahkan pemuda itu secara terang-terangan menunjukkan kedekatan mereka pada semua orang.
Hinata bahkan baru menyadari, Naruto tak pernah memintanya menjadi kekasih pemuda itu. Yang Ia ingat hanya saat Naruto mengakui cinta di saat misi, penyelamatan bumi. Lalu mereka dekat selama beberapa bulan, menganggap diri mereka sebagai sepasang kekasih.
Sampai— saat kencan mereka yang ketiga, Naruto tiba-tiba melamarnya. Bukan lamaran romantis ala drama, tetapi hanya lamaran spontan yang terucap secara tiba-tiba,
"Akan sangat senang jika kita bisa bersama setiap waktu, Hinata menikah denganku ya?"
Saat itu mereka sedang berada diatas puncak pahatan patung yondaime Hokage. Naruto memang sering mengajaknya ke sini jika mereka sedang sama-sama bebas misi, untuk menikmati sunset atau hanya sekedar angin sore.
Hinata bahkan menangis bahagia, tak menyangka Naruto melamarnya secepat itu.
Rasa bahagia tentu saja adalah hal yang mendominan perasaan gadis Hyuga itu disaat sang pemuda pujaan hati melamarnya. Tapi justru mengapa, disaat hari semakin dekat dengan tanggal pernikahan mereka, Hinata sedikit merasa lebih sensitif. Fikirannya terus bercampur aduk, stress— mungkin hal yang cocok untuk menggambarkan dirinya sekarang.
Apalagi, semakin Ia mengenal Naruto lebih jauh. Semakin pula ia tersadar bahwa Naruto itu pemuda baik yang bahkan Hinata merasa sikap pemuda itu terhadapnya tak ada perbedaannya dengan sikap Naruto terhadap semua orang. Hinata tau, memang sudah sikap alamiah pemuda itu yang berlaku ramah dan baik pada semua orang tak terkecuali kepada para fansnya. Jadi wajar kan Hinata terkadang kesal, bagaimana tidak?
Tak jarang sikap baik dan hangat pemuda itu, membuat orang terutama para gadis— menjadi salah paham.
"Aku bahkan tidak mengerti apa maksud Shion berkata seperti itu. Lagi pula dari pada membahas hal itu, kenapa kau menghindariku sejak semalam Hinata?"
Mengunci bibirnya rapat, Hinata sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan Naruto.
"Ah aku tau, kau sudah mulai bosan padaku. Iyakan?"
Terkejut, tentu saja. Tak pernah sebersit pun Hinata berfikir hal ini akan keluar dari mulut Naruto.
"A-apa?"
"Apa benar Hinata?" Naruto memandangnya sendu, tangan pemuda itu tak lagi mengenggamnya.
"Jangan berkata yang tidak-tidak Naruto-kun."
Senyum pahit nan getir tergores dengan jelas di wajah Naruto, "Seharusnya aku sadar, aku memang tak pantas untukmu."
"Naruto-kun, hentikan."
"Gara-gara aku kau bahkan merelakan posisi penting itu."
"Naruto-kun—"
"Aku memang bodoh, tak seharusnya kita terburu-buru dalam hubungan in—"
Plak,
"Hiks," suara tangisan Hinata pecah. Dengan gemetar ia menarik kembali tangannya yang menampar pelan pipi Naruto. Itu hanya sebuah tamparan pelan bagi para Shinobi seperti mereka, apalagi Hinata tak memakai cakra sama sekali.
Tapi jangan tanya pada orang biasa yang bukan kalangan Shinobi, tentu saja mereka akan menjawab itu tamparan yang kuat sangat kuat dan tentu saja sakit.
"Kau salah!" air mata terus mengalir melewati kedua pipinya, "Aku sangat mencintai Naruto-kun jadi tak seharusnya kau berkata seperti itu!"
Naruto terdiam, Ia masih syok akan Hinata yang menamparnya. Sebenarnya ini bukan pertama kali Hinata menamparnya, Ia ingat dulu Hinata pernah menamparnya agar sadar saat dirinya hampir termakan dengan hasutan Obito.
"Naruto-kun tak pernah mengerti, pada dasarnya kau memang tak pernah mengerti diriku!"
"Hinata.."
Gadis itu semakin terisak hebat, tangannya mendekap mulutnya sendiri untuk meredam suara tangisan.
Hati Naruto terasa sangat sakit melihat Hinata menangis seperti ini, apalagi fakta bahwa dirinyalah orang yang membuat Hinata menangis.
"Aku tau di luar sana banyak gadis yang lebih baik dan kuat dariku. Seharusnya aku yang sadar aku memang tak pantas untuk Naruto-kun."
"Hina—.."
"Benar kata mereka, Naruto-kun hanya kasian padaku kan? Iya kan?"
"Hentikan Hinata!"
"Kau yang mulai deluan!" cukup, Hinata tak sanggup. Dengan segera ia berbalik badan, melesat cepat meninggalkan Naruto sendirian disana.
"Kuso!"
Mengacak rambutnya frustasi, ia benar-benar merasa bodoh. Merutukki mulutnya sendiri pun tak berguna, di saat semua telah terjadi.
"Bocah bodoh!"
Bahkan Kurama yang berada dalam diri Naruto, tak sanggup menahan kekesalannya melihat kelakuan Jinchuriki kyuubi itu.
Kakinya lemas, terduduk bersimpu diatas rumput pinggiran danau, menjadi background dari seorang pemuda korban atau pelaku konflik cinta.
Matanya menerawang jauh, setetes air mata begitu saja jatuh melewati pipi tirus dengan ketiga garis disetiap sisinya.
"Hinata," buat apa menyebutkan nama sang kekasih jikala Naruto tau hal itu sia-sia.
Naruto hanya seorang pemuda yang baru pertama kali menjalani sebuah hubungan asmara. Tak pernah sebersit pun niat main-main atau mempermainkan Hinata dalam hubungan mereka. Di saat Naruto sangat yakin, ia memilih menghabiskan sisa hidupnya hingga Ia mati, bersama Hinata.
Biarpun banyak orang meragukan perasaannya akan gadis itu, Naruto takan pernah perduli.
Karena hanya Dia yang tau bagaimana perasaan, hati dan cinta telah sepenuhnya jatuh untuk Hinata seorang.
Lantas apakah salah, Ia ingin segera mengikat Hinata?
Apakah salah, Ia sangat menginginkan Hinata?
Naruto hanya ingin membutikan pada mereka yang meragukan cintanya untuk Hinata. Putra Yondaime itu hanya ingin membungkam mulut orang-orang yang mengatainya menjadikan Hinata pelampiasan karena tak mendapatkan Sakura.
Mereka tak tau apa-apa!
Maka dari itu dengan modal nekat Naruto melamar Hinata tanpa persiapan apapun.
Dengan menyembunyikan rasa gugup dan khawatir, Naruto memberanikan diri mendatangi Mansion Hyuga bahkan tanpa wali yang mendampingi dirinya untuk melamar Hinata, langsung di depan Hyuga Hiashi— Ayah Hinata, dan Para tetua Hyuga.
Hanya bermodalkan tekad kuat serta pakaian formal berupa Kimono, ia membulatkan tekat mendapatkan restu.
Naruto hanya ingin mereka tau, pernikahan ini adalah bentuk keseriusan cinta Naruto untuk Hinata.
...
(Bersambung)
...
Huaaaa, 4,1k word padahal rencana mau buat 3 shot aja end, tapi rasanya kepanjangan banget. Jadi chapter depan ya tamatnya, Author usahain untuk cepat update untuk chapter selanjutnya jika tak ada halangan dan kendala :)
Makasih banyak buat yang sudah membaca fict ini.
Mau ninggalkan jejak silahkan, gak mau juga gak apa kok. Ada yang baca aja udah syukur.
