Kepala dengan berhiaskan surai pirang kuning itu tertunduk. Netra safire miliknya menyorotkan pancaran sendu, yang mewakilkan betapa kacau dirinya saat ini.
Angin malam berhembus menggelitik sanubari— dingin tapi tak membekukan, lebih tepatnya sejuk khas musim semi. Terang bulan mulai tertutupi awan yang bergerak tertiup angin. Gelap semakin pekat, karena lampu-lampu rumah warga dan jalan sekitar mulai dipadamkan. Waktu mulai bergerak menuju kelarutan tengah malam.
"Aku tak tau harus berbuat apa sekarang," Helaan nafas kasar kembali terdengar dari bibir kecoklatannya. Tangan kanan yang terbalut perban putih— bukti nyata atas kenangan indah, simbol akhir pertarungan antara Ia dan sang sahabat yang sedang berkelana. Kembali menuangkan sebotol sake kedalam gelas kecil tersebut.
Netra onyx pemuda yang berada dihadapan sang pahlawan, ikut memandang prihatin akan permasalahan sahabatnya ini.
"Ini sudah hari yang kelima Shikamaru." Pemuda dengan surai hitam menjulang keatas bak— Nanas tersebut, Hanya bisa diam dan setia mendengarkan segala keluh kesah Naruto. Ia merasa Naruto saat ini hanya ingin di dengarkan, dan mengomentari perkataan pemuda galau yang setengah mabuk, bukanlah hal yang tepat menurut Shikamaru.
Bruk!
"Huaaa aku memang bodoh!" Sungguh saat ini Shikamaru ingin sekali menggali lubang dan mengubur dirinya sendiri, Ia sangat malu menjadi perhatian seperti ini.
Bagaimana tidak? Saat ini perbuatan Naruto sukses menjadi pusat perhatian. Sang jinchuriki kyuubi itu jatuh duduk bersimpuh kebawah.
"Oy-oy Naruto, jangan seperti ini.." Dan suara Shikamaru bagaikan angin lalu yang tak digubris sama sekali bagi pemuda pirang ini.
Tak bergeming dan enggan beranjak, sungguh sikap Naruto ini minta dilempar semangkuk ramen. Belum lagi nyanyian cempreng yang entah sejak kapan terdengar, menjadi backsound penjelas suasana hati dirinya.
'Astaga, mendukosai na..' Tolong ingatkan Shikamaru untuk tak pernah lagi berurusan dengan pemuda patah hati yang sedang mabuk— apalagi jika itu Naruto. Ia merasa bahwa kelakuan Naruto saat ini sudah diluar batas kewajaran, maksudnya si pirang itu sudah mabuk sepenuhnya.
Kepalanya tertunduk, tangannya mengepal erat memegang sisi celananya. Ia tak peduli akan beberapa pasang mata yang memandang dirinya aneh dan penasaran.
"Hinata oh Hinata," senandung nada sendu berlirikan nama kekasih, terdengar untuk yang keberapa kali.
Cukup! Shikamaru tak mampu menahan beban mental memalukan seperti ini, apalagi membiarkan sahabatnya mempermalukan dirinya sendiri bukanlah hal yang benar.
Lantas, otak jeniusnya berfikir dengan cepat. Membujuk Naruto untuk pulang merupakan hal sia-sia, karena Shikamaru sudah lelah menyuruh Naruto untuk berhenti minum dan segera pulang.
Dan Shikamaru sadar, menasehati orang mabuk itu bagaikan menasehati patung atau apapun itu yang tak mampu menggubris perkataan orang lain.
"Sudah cukup Naruto. Ayo pulang!" Baiklah, untuk sekali ini saja Shikamaru akan kembali mencoba membujuk sahabat pirangnya ini.
Nafas lelah menguar dari bibir tipis sang calon penasehat hokage masa depan ini. Ia merutuki sikapnya yang kembali mengulang sesuatu hal yang sia-sia.
Lihat saja, Naruto masih bersimp—
"Oy Naruto!" hampir saja bola mata Shikamaru keluar dari tempatnya, kaget— itu yang ia rasakan.
Bagaimana tidak?
Saat ini sang pahlawan kebanggan desa Konoha itu, telah tepar atau lebih tepatnya tak sadarkan diri atau bisa dibilang sebenarnya tertidur karena kelelahan menggalau.
Helaan nafas kasar kembali terdengar dari bibir Shikamaru. Ia segera bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju Naruto yang tepar dihadapannya.
'Hah mendukosai na,' raut wajah malas yang dimiliki Shikamaru semakin kentara menunjukkan kekesalannya, bukan karena dia harus membopong pulang Naruto atau apa, tapi karena—
"Naruto-san belum membayar minumannya." Dan Shikamaru harus rela mengeluarkan hampir setengah dari uang yang dimilikinya di saku serta di dalam dompetnya, kepada Sang Ibu paruh baya pemilik kedai sake ini, untuk membayar semua botol sake yang telah diteguk habis Naruto.
.
.
.
"Pre Marriage Syndrome"
Naruto Belong to Masashi Kishimoto
Cerita punya Author
Rated : T
Genre : Romance, Drama, Semi-canon
Naruto x Hinata
Warning : Typo, EYD( Tau/tahu, saya bingung), alur cepat (maybe), kemungkinan OOC itu ada
.
.
"Aku tak tau harus bagaimana lagi sensei." Kepala bermahkotakan surai indigo itu tertunduk— rasa sedih menguar begitu saja, setelah Ia menceritakan permasalahannya dengan sang kekasih kepada guru dan sahabat-sahabat tim delapan.
"Si baka itu memang perlu diberi pelajaran." Suara nyalak Akamaru, dan anggukan Shino menyetujui ucapan Kiba. Sebagai sahabat Hinata, tentu saja mereka tidak terima sahabat kesayangan mereka disakiti seseorang, meskipun seseorang itu calon suami Hinata sendiri.
"Sudahlah, kalian tidak perlu ikut campur masalah ini. Aku yakin Hinata dan Naruto bisa menyelesaikan permasalahan mereka."
Sebagai guru sekaligus orang yang tertua di ruangan ini, tentu saja Kurenai mencoba bersikap bijak.
Perlahan, wanita itu berpindah posisi mendekat dimana Hinata berada. Satu tangannya mengenggam lembut tangan seputih porselin milik sang mantan muridnya.
"Ne Hinata," Hinata mendongak menatap langsung iris merah delima milik sang sensei.
Ibu Mirai itu tersenyum lembut kepada Hinata, "Sebaiknya kau menemui Naruto, Hinata."
Hinata menggeleng kecil, bukan dirinya bermaksud menolak atau apa. Hanya saja, hal yang disarankan Kurenai-sensei padanya sudah Ia coba.
"Pasti Naruto-kun takan mau melihatku." Lagi, helaian indigo itu jatuh terurai lantaran sang pemilik yang kembali menunduk sendu.
"Mengapa Hinata bicara seperti itu?"
Hinata kembali menggeleng kecil, Ia bingung harus menjelaskan bagaimana kepada Kurena-sensei.
"Hinata," gadis itu kembali mendongak saat merasakan tangan lembut Kurenai-sensei, menepuk pelan bahunya.
"Jika Hinata tidak mau cerita juga tak apa. Tapi hanya ini yang ingin sensei katakan padamu, percayalah pada calon suamimu."
"Se-sensei," hiasan-hiasan bening mulai menghiasi amethyst Hinata. Ia harus mengakui apa yang dikatakan Kurenai-sensei sangat menohok hatinya.
Ia percaya pada Naruto, dari dulu hingga sekarang. Namun, saat rasa kepercayaan Hinata akan pemuda itu beralih topik mengenai perasaan Naruto kepadanya, Ia tidak mengerti mengapa hatinya meragu.
"Bukankah Hinata sangat menyukai Naruto?" Kaca-kaca, rias cikal bakal air mata haru nan sedih yang terpatri di kedua matanya. Kini seolah bertabrakan kontras dengan rona merah tipis yang menghiasi pipi gembil Hinata. Dia sedikit malu, saat Kurenai-sensei secara tak langsung menggoda dirinya atas perasaan yang Ia miliki untuk sang kekasih pirang.
Dengan malu-malu Hinata mengangguk kecil, yang sukses disambut senyuman hangat Kurenai, serta deheman singkat syarat menggoda dari kedua sahabatnya.
"Pernah mendengar istilah Pre maried syndrome atau pre marriage syndrome?"
"Sugoi, sensei bisa berbahasa asing." Ujar Kiba dengan cengiran lebar penuh rasa bangga, yang mendapat respon dengusan kesal pemuda pecinta serangga disampingnya. "Diamlah Kiba.."
"Urusai Shino.."Jawab Kiba tak mengalah.
Dahi Hinata mengeryit bingung, saat secara langsung indra pendengarannya menangkap kalimat asing yang diucapkan Kurenai-sensei.
Ia menggeleng kecil, sungguh Hinata tidak paham apa maksud dari istilah tersebut.
"Itulah yang tengah Hinata alami saat ini."
"Hah?" Ketiga Ninja elit didikan Kurenai itu, dengan serentak menyuarakan kebingungan mereka.
"Ma-maksud sensei, Hinata terkena penyakit gitu." Kiba menyuarakan rasa kagetnya, Ia sungguh tak mengerti pada awalnya. Ia juga semakin bingung dan khawatir akan sahabat dekatnya itu.
"Maksdunya sensei?" Shino yang biasanya diam dan mengamati, juga tak mampu menahan rasa penasarannya.
"Apa itu semacam genjutsu, sensei?" Dan akhirnya tawa Kurenai pecah melihat kebingungan muridnya, apalagi spekulasi yang diucapkan dengan wajah polos oleh Hinata, mampu membuat Ia melepas segala rasa wibawanya sebagai guru mereka.
"Hahaha, astaga." Tangan kanan Kurenai terangkat menyeka cairan bening yang keluar dari mata merah delima miliknya. Kekehan pelan masih terdengar menguar memenuhi ruangan yang mendadak sepi, karena tak ada satupun dari mereka yang buka suara kecuali suara kekehan guru mereka.
"Pre maried syndrome atau pre marriage syndrome itu adalah sindrom yang biasanya dialami orang yang akan menikah. Biasanya mereka akan dipenuhi kecemasan berlebihan, lalu muncul keraguan tentang pasangan kalian masing-masing. Maka tak heran, biasanya mereka yang terkena sindrom ini tak jarang berakhir dengan seringnya pertengkaran menyelingi hubungan mereka dengan sang kekasih."
Bola mata berisikan netra sewarna lavender pucat itu membola kaget. Ia tak menampik, hal yang dijelaskan Kurenai-sensei pada mereka tadi benar adanya. Harus Hinata akui, bahwa semua ciri-ciri yang Kurenai-sensei jabarkan adalah hal yang tengah ia rasakan belakangan ini.
"Aku baru mengetahui bahwa orang yang menikah bakal mengalami hal seperti itu. Bukannya sepasang manusia yang menikah adalah pilihan mereka sendiri? Jadi kenapa mereka harus cemas dan ragu?" Shino yang sedari tadi bungkam tak bersuara, kini tidak dapat menahan rasa penasarannya. Ia juga bingung dan membutuhkan penjelasan langsung dari Kurenai.
"Pernikahan adalah dimana seseorang mulai memasuki fase baru dalam hidupnya. Seperti kalian yang sebelumnya melajang, kini harus hidup berdampingan dengan seseorang yang sebelumnya bukan siapa-siapa bagi kalian. Rasa ragu dan cemas itu wajar disaat seseorang akan menikah. Sensei yakin, suatu saat kalian akan mengerti jika berada diposisi Hinata." Ketiga Shinobi itu mengangguk tanda mengerti.
"Arigatou Kurenai-sensei," ungkap Hinata. Gadis yang sebentar lagi akan berganti marga ini, merasa sebagian dari beban fikirannya mulai mampu menguar lurus.
Benar yang dikatakan gurunya itu, Hinata memang harus bisa menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin. Maka dari itu Ia harus segera berjumpa dan membicarakan masalah mereka dengan baik-baik satu sama lain.
Bibir yang terlukiskan rona merah itu, terangkat membentuk kurva melengkung keatas. Senyum lembut khas seorang ibu, terpatri nyata di wajah cantik istri mendiang Asuma ini.
"Sama-sama Hinata. Lagi pula, sensei tidak ingin pasangan yang pernikahannya paling ditunggu semua orang terlibat masalah seperti ini. Sensei percaya kalian sudah sama-sama dewasa untuk menyelesaikan permasalahan kalian. Lagi pula perjalanan kalian masih panjang bukan?" Hinata mengangguk mengerti. Mendapat wejangan panjang nan ringkas dari gurunya seperti ini, mampu membuat Hinata memahami sesuatu yang sebelumnya tidak dia mengerti.
Cinta saja tidak cukup bukan?
Benar! rasa percaya dan saling memahami juga adalah hal yang penting dalam suatu hubungan.
Jika difikir-fikir ini adalah permasalahan pertama dalam hubungan mereka.
Bagaimana lagi disaat nanti Hinata dan Naruto sudah menikah? bukannya rintangan besar dan krikil kecil akan selalu ada.
"Kalian tidak menginap?"
Kiba, Shino dan Hinata saling berpandang bergantian. Mereka menggeleng kecil secara serentak.
"Kami pulang saja sensei," Kiba membuka suara. Diiringin anggukan setuju dari sahabatnya— Shino dan Hinata.
...
Cahaya redup lampu jalanan menjadi background suasana malam yang hampir larut. Purnama yang terang, kini mulai menggelap tertutupi awan yang ditiup angin. Serta hawa dingin mulai menggelitik sekujur tubuh.
"Uh dingin sekali.." Pemuda dengan tato segitiga terbalik di kedua sisi pipinya itu, mengeratkan kedua sisi jacket berbulu miliknya.
"Hm," tangan seputih susu milik Hinata menggenggam erat satu sama lain, memberi kehangatan.
"Padahal ini sudah memasuki musim semi." Bahkan Shino yang biasanya menjadi orang yang paling kebal terhadap udara dingin, menyetujui bahwa malam ini memang terasa lebih dingin dari biasanya.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah masing-masing. Tapi sebelum itu, sebagai sahabat lelaki yang gentle, Kiba dan Shino beserta Akamaru memutuskan untuk mengantar Hinata terlebih dahulu ke mansion Hyuga.
Tarikan nafas frustasi disusul helaan nafas lelah, kembali terdengar.
"Uh Naruto kau benar-benar merepotkan." Hanya satu kalimat yang sama, terus-terusan ia ucapkan. Sungguh, seharusnya jam segini Shikamaru sudah berada di alam mimpi indahnya.
Lihat saja mata sayu miliknya yang berusaha menahan kantuk. Tidur adalah hal yang paling ia inginkan saat ini.
Namun apa daya? ia tidak mungkin membiarkan temannya yang tak sadarkan diri lantaran mabuk ini, begitu saja. Dan sebagai teman yang baik, Shikamaru harus rela membopong Naruto pulang sampai ke Apartemen.
Mata onyx sayunya mendadak berbinar, melihat orang-orang yang ada di hadapannya saat ini.
"Shikamaru.." Kiba melambaikan tangan, memanggil dirinya. Pemuda itu berjalan mendekat, yang disusul dengan Shino, Hinata dan Akamaru.
"Naruto-kun." Mata Amethyst gadis Hyuga ini memandang Shikamaru sarat bertanya. Yang tentu saja Shikamaru memahami apa maksud tatapan Hinata.
"Dia mabuk."
Pernyataan Shikamaru, sukses membuat Tim delapan tersebut menatap tak percaya. Mereka jelas tau, Naruto itu tidak pernah menyentuh yang namanya alkohol, apalagi sampai mabuk.
"Ba-bagaimana bisa?" Hinata tak mampu menahan pandangan sendu yang terpancar dari matanya saat menatap sang kekasih yang kini berada di punggung Shikamaru lantaran tak sadarkan diri.
"Kurasa Hinata tau mengapa dia seperti ini." Ucapan dengan nada acuh tak acuh Shikamaru, sukses membuat Hinata menunduk bersalah.
"Go-gomen." Rasa bersalah menyebar begitu saja, memenuhi relung hati Hinata. Tidak seharusnya Ia menjauhi Naruto seperti ini. Dan saat melihat keadaan Naruto yang terpuruk, hal ini bagaikan tamparan keras untuknya. Hinata sadar, tak seharusnya Ia bersikap egois.
"Sudahlah, ini bukan salahmu. Baiklah teman-teman aku harus mengantar Naruto du—"
"Shikamaru-kun, aku-aku akan ikut mengantar Naruto-kun." Shikamaru mengangguk menyetujui. Bukanlah hal yang buruk menerima permintaan Hinata. Lagi pula, bukannya bagus dia berjumpa dengan Hinata disini. Biar bagaimanapun, setelah mengantar Naruto, Shikamaru bisa dengan tenang meninggalkan sahabatnya itu di Apartemen. Apalagi ada Hinata— yang notabene calon istri sahabatnya itu.
"Kami akan menemanimu Hinata, iyakan Shino, Akamaru?" Anggukan kepala Shino dan suara "guk!" Akamaru sebagai tanda setuju.
Gelengan kecil tanda penolakan dari Hinata justru membuat sahabat-sahabatnya bingung. "Kenapa Hinata?" Kiba menyuarakan, kebingungannya.
"Aku tidak ingin merepotkan Kiba-kun dan Shino-kun." Namun justru ucapan Hinata tersebut mendapat dengusan kesal dari Kiba.
"Kau fikir kami ini orang lain apa? Ayo Shino kita bantu mengantar Naruto pulang. Shikamaru kau pulang saja, dari matamu kelihatan sekali kau kelelahan." Shikamaru mengangguk. Ia membiarkan Shino dan Kiba mengganti dirinya membopong Naruto.
"Arigatou Kiba, Shino. Yosh aku pulang dulu, Jaa ne.." menyianyiakan kesempatan, bukanlah gaya Shikamaru. Lantas saat ada bantuan menawarkan, tentu saja dengan senang hati dia menerimanya.
Dibawah langit kelam nan pekat, beserta angin dingin yang berhembus pelan. Detik, menit, beserta jam yang menunjukkan larut malam itu, menjadi penyerta Tim delapan yang mendapat misi dadakan— mengantar Naruto pulang.
...
"Kau yakin tidak apa-apa kami meninggalkanmu disini sendiri? kami bisa menginap juga kalau kau mau."
Untuk kali ini Shino langsung menyetujui perkataan Kiba. Mereka tidak keberatan jikapun harus menginap di Apartemen Naruto.
Gelengan kecil dari Hinata, cukup sebagai tanda penolakan. "Arigatou Kiba-kun, Shino-kun. Aku baik-baik saja sungguh."
Jika sudah seperti ini, Kiba dan Shino tidak mungkin menyela keputusan Hinata. Lantas, menuruti keinginan gadis itu adalah jalan satu-satunya.
"Baiklah jika itu keinginanmu Hinata." Ekor mata Shino melirik Kiba penuh isyarat. Yang dibalas ngedikan bahu pemuda itu.
"Hah baiklah Hinata, kalau begitu kami pulang deluan ya. Ayo Shino, Akamaru."
"GUK!"
Satu tangan Shino terangkat, tanda pamit. "Jaa ne, Hinata."
Hinata mengangguk singkat sebagai respon.
Perlahan, tangan putih miliknya menutup pintu Apartemen itu dengan pelan.
Saat ini dia tengah berada di kediaman Naruto.
Sungguh Hinata sangat bersyukur, Naruto pernah memberitahunya dimana biasanya pemuda itu menyimpan kunci Apartemen miliknya. Maka dari itu, Hinata dan sahabatnya bisa mengantar Naruto sampai kedalam Apartemen ini.
Mata Amethyst miliknya, mengobservasi dengan sesama bentuk ruangan yang dimiliki kekasihnya itu.
Semua tampak sederhana, tidak terlalu banyak barang perabot yang dimiliki Naruto.
Kaki mulus nan jenjang miliknya ia langkahkan menuju ruang dapur. Kepalanya menggeleng kecil melihat betapa banyaknya bungkus cup ramen.
"Bukankah tidak sehat memakan ramen setiap hari." Hinata benar-benar tak habis fikir dengan kebiasaan Naruto.
Dalam hati Hinata berjanji, jika nanti mereka sudah menikah. Ia takan membiarkan Naruto memakan ramen terlalu sering seperti ini.
Tangan-tangan kurusnya dengan cekatan, mengumpulkan cup-cup ramen dan beberapa sampah yang berserakan di dapur untuk disatukan dan dibuang ke tempat sampah yang tersedia.
Bola mata dengan kekei genkai byakugan miliknya, melirik jam yang tergantung di dinding sebrang penghubung dapur dan kamar tidur.
"Sudah tengah malam." Tak heran jika matanya mulai terasa memberat.
Hinata melangkahkan kakinya menuju kamar Naruto.
Senyum tipis terpatri di wajah cantiknya, saat melihat betapa polosnya wajah calon suaminya itu saat tertidur.
Seketika semu merah menghiasi kedua pipi gembilnya. Entah mengapa, tiba-tiba dia merasa malu. Saat fikiran akan kehidupan rumah tangganya nanti, melintas di khayalannya.
Bukannya nanti jika dia dan Naruto telah resmi menikah, mereka akan tinggal serumah, satu ranjang dan—
Hinata menggeleng kepalanya mengusir fikiran-fikiran yang mampu membuat pipinya menjadi semakin memerah.
Gadis itu memberanikan diri membuka lemari pakaian punya kekasihnya itu. Jangan salah paham, Hinata hanya ingin mencari futon yang mungkin dimiliki Naruto.
Nafas legah menguar dari bibir plum milik Hinata. Saat matanya menangkap futon yang disimpan di dalam lemari tersebut.
Setidaknya malam ini Ia bisa tidur dengan beralaskan sesuatu. Lagi pula, tidak mungkinkan Hinata tidur di ranjang Naruto. Tentu saja, ia masih memiliki batasan-batasan tertentu yang harus mereka jaga.
Hinata menggelar futon tersebut tepat di samping ranjang Naruto. Lalu setelah membereskan peralatan tidurnya, Ia merebahkan tubuh mungilnya yang terasa sangat lelah.
Satu tangannya bertumpu menjadi bantalan kepala dengan helai indigo miliknya. Hinata berbaring, menghadap dimana Naruto sedang terlelap pulas di atas ranjang.
Pancaran sendu penuh kerinduan tersorot jelas di mata gadis ini. Detak jantungnya bertalu dengan cepat, bukan karena ia sedang gugup. Namun, karena Hinata tengah menahan perasaannya yang sedikit sakit mengingat pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu.
Perlahan matanya terpejam, lantaran rasa kantuk telah mendominasi sepenuhnya. "Oyasuminasai Naruto-kun."
Secerca sinar mentari pagi, menyelusup masuk melalui celah-celah ventilasi udara pada kamar tidur ukuran sepetak itu.
Kegelapan malam, telah berganti menjadi terangnya hari.
"Naruto-kun sayonara!"
Kelopak mata kecoklatan milik pemuda itu, terbuka secara tiba-tiba. Pandangannya kosong, menatap langit-langit kamar. Nafasnya memburuh tak teratur.
Bahkan setetes peluh keringat tampak menghiasi pelipis Naruto. Tangannya mengepal diiringi helaan nafas legah.
Seketika safire birunya melembut, menyorotkan pandangan sendu.
"Syukurlah hanya mimpi." Hatinya merasa legah saat ini. Semua ilusi akan kenangan buruk itu, hanyalah mimpi belaka.
Naruto tak dapat membayangkan bagaimana jika hal tersebut benar-benar terjadi.
Ia menggelengkan kepalanya, mengusir pemikiran buruk itu. Sungguh, Ia tak sanggup jika Hinata benar-benar kembali meninggalkannnya seperti didalam mimpi.
Satu tangannya yang terbalutkan perban memegang kepalanya yang berdenyut sakit disaat Naruto mencoba bangkit untuk duduk. Rasa nyeri hebat menghantam sisi kiri kepalanya.
"Uh.." Belum selesai dengan rasa sakit kepala yang tidak tertahankan, Naruto juga merasakan perutnya yang bergejolak seakan diputar dan dicampur aduk.
Rasanya pusing dan mual. Sial, dia terkena Hangover.
"Mmph" telapak tangannya menutup mulutnya, saat merasa sesuatu yang berasal dari perut hendak keluar. Buru-buru Naruto turun dari ranjang dan melesat menuju kamar mandi yang berada disamping dapur miliknya.
"Hoek.." Cairan putih kekuningan itu berhasil dimuntahkan keluar di dalam kloset.
Naruto berjongkok sekilas, setelah menekan tombol air untuk membersihkan bekas muntahannya.
Sungguh, perutnya sangat mual dan kepalanya terasa tertimpa beban berkilo-kilo.
"Daijoubu desu ka, Naruto-kun?"
Naruto mengangguk menjawab. Seketika mata birunya terbelalak kaget, Mengapa dia seakan mendengar suara Hinata. Namun sedetik kemudian Naruto sadar mungkin itu hanya halusinasinya.
Dia bahkan tak menyadari seseorang yang memperhatikannya dengan tatap khawatir di depan pintu kamar mandi yang memang terbuka. Apalagi posisi Naruto yang membelakangi kehadiran Hinata, membuat pemuda itu tak dapat melihat sosok sang kekasih yang ada disana.
Perlahan Naruto mencoba bangkit, namun sedikit oleng lantaran kepalanya yang masih sangat pusing. Belum lagi efek sehabis muntah, membuat badannya terasa lemas.
"Naruto-kun," dengan sigap Hinata berlari kecil menghampiri Naruto, membantu pemuda tersebut untuk berdiri.
Mata sebiru samudra milik Naruto berkedip bingung. Bibirnya kelu, dan hatinya berkecamuk penuh tanda tanya. Ia hanya bisa memandang gadis yang menurutnya sebuah ilusi itu, dengan tatapan penuh kerinduan.
Tangan kanan Hinata terselip memegang pinggang Naruto, dan tangan kirinya menyampirkan lengan Naruto keatas pundak kecilnya.
Dengan pelan, gadis itu membantu Naruto berjalan keluar dari kamar mandi tersebut. Dan membawa kekasihnya itu menuju meja makan.
Dipandangi dengan sorot mata penuh kesenduan yang mendalam seperti ini, sukses membuat Hinata sedikit merasakan kecanggungan yang mendominasi ruangan ini.
Sedari tadi, Naruto hanya diam dan tak melepaskan tatapan matanya untuk memandang Hinata yang duduk di hadapannya.
Dia bahkan mengabaikan sup kaldu dan teh jahe yang telah dipersiapkan Hinata di atas meja makan saat ini. Padahal Hinata harus rela bangun pagi-pagi sekali, demi berbelanja untuk memasakan Naruto sarapan.
"A-ano Naruto-kun, sup dan tehnya akan dingin jika tak segera dihabiskan."
"Hinata," panggilan dengan suara serak diselingi getaran menahan sedih, sanggup membuat hati Hinata teriris saat mendengarnya.
Mata lavender miliknya menampilkan kaca-kaca air mata yang siap tumpah kapan saja. Gadis itu menarik nafasnya dalam, Ia tak boleh terbawa suasana saat ini.
Hinata bangkit berdiri beranjak dari tempat duduknya. Kaki-kaki jenjangnya berjalan mendekat menuju Naruto. Mendudukan dirinya disebuah kursi tepat disamping Naruto.
Tangan mulus miliknya, mengambil segelas teh jahe yang berada diatas meja makan itu.
"Minumlah," Naruto mengangguk menurut. Bibirnya terbuka, dan meneguk teh yang kini dipegang Hinata. Posisinya saat ini, bagaikan seorang anak yang tengah diberi minum oleh Ibunya.
Hinata kembali meletakan gelas tersebut setelah hampir setengah isi teh yang dia buat, habis diteguk Naruto.
Hinata kembali mendekatkan semangkuk sup kaldu yang telah dia buat, ke arah Naruto.
"Makanlah, sup ini bagus untuk mengatasi mabuk." Yang lagi, dibalas anggukan menurut oleh Naruto.
Dengan telaten, Hinata membersihkan mangkuk-mangkuk kotor bekas sarapan mereka dari atas meja makan. Membawa peralatan makan tersebut keatas wastafel untik dicuci.
"Eto Hinata—" pandangan gadis itu menoleh kearah Naruto, dimana pemuda itu belum beranjak dari kursi meja makan. "Biar aku saja yang mencucinya." Naruto segera bangkit dari tempat duduknya, pemuda itu berjalan mendekat menuju arah wastafel tempat menyuci piring.
Tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara, hening kembali menyelimuti.
Naruto hanya diam, dan terus terfokus akan peralatan makan yang tengah Ia cuci. Setelah selesai dibilas, pemuda itu memberikan peralatan makan tersebut kepada gadis disampingnya yang bertugas mengelap kering piring-piring, dan mangkuk tersebut.
Mereka bahkan tak menyadari, jika saja ada seseorang yang melihat kegiatan mereka ini. Pasti berfikir bahwa mereka sudah seperti pasangan suami-istri muda.
Ah, benar! Lagi pula, bukannya sebentar lagi mereka akan menyandang status itu.
"Hinata," untuk kali ini saja Naruto mati-matian menahan rasa gugupnya untuk memecahkan suasana beku yang kembali melanda mereka.
Gadis yang dipanggil namanya itu, mendongak menatap langsung pemuda yang kini menatapnya dalam.
"E-eto," satu tangan Naruto terangkat menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Hancur sudah image serius yang berusaha ia pasang sedari tadi. Karena pada dasarnya Ia sungguh bingung dan gugup saat ini.
"Ya Naruto-kun?" ucap Hinata. Kepala gadis itu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah tanpa sebab.
"I-itu, ba-bagaimana Hinata bisa ada disini?"
"Ano.., Tadi malam aku, Kiba-kun dan Shino-kun berjumpa dengan Shikamaru-kun yang tengah membawa Naruto-kun yang tak sadarkan diri. Maka dari itu kami mengantarmu pulang."
Naruto mengangguk singkat. Senyum lembut terpatri diwajahnya, "Jadi kenapa Hinata tidak ikut pulang?"
Hinata membuang wajahnya malu, tidak mungkin dia menjelaskan secara terang-terangan bahwa dia khawatir pada Naruto.
Dan lagi pula, pertanyaan apaan itu. Tidak taukah Naruto bahwa Hinata bingung harus menjawab apa.
Seakan mendapat ilham, seketika Naruto menyadari akan pertanyaannya. Ia gelagapan, merutuki kebodohannya sendiri.
Bukankah pertanyaannya tadi, seakan mengusir Hinata?
"Sumane," Naruto tertunduk tanda menyesal.
"Iee, seharusnya aku yang meminta maaf pada Naruto-kun." Kedua tangan gadis ini menyatu, bersidekap di dada.
Ini waktu yang tepat menurut Hinata. Ia harus segera meluruskan permasalahannya dengan Naruto.
Dan, meminta maaf terlebih dahulu adalah hal yang tepat bukan.
"Aku-..aku, hontou ni gomenne Naruto-kun!"
Sungguh, perkataan Hinata mampu membuat Naruto diam tak berkutik. Ia, ia tak bisa membiarkan Hinata menyaalahkan dirinya sendiri seperti ini, padahal Naruto tau bahwa ini adalah sepenuhnya salah Naruto.
"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu Hinata, aku-..aku hanyalah pemuda bodoh yang belum sepenuhnya memahami arti sebuah hubungan. Tapi Hinata, aku bersumpah, kalau aku—" Tarikan nafas dalam terdengar dari bibir kecoklatan Naruto.
"Aku serius padamu Hinata."
"Naruto-kun." Rasa hangat menjalar memenuhi hati Hinata, matanya berkaca-kaca menahan air mata.
"Karena itu, kumohon jangan ragukan aku lagi Hinata." Tatapan safire itu semakin lekat menatap gadis yang kini menatapnya balik dengan pandangan berkaca-kaca. "Aku, aku sungguh mencintaimu."
Dan Hinata tak mampu menahan dirinya untuk bangkit berdiri, dan berhambur memeluk Naruto.
Tangan gadis itu memeluk erat leher Naruto, yang dibalas pelukan erat oleh tangan kekar itu pada pinggang Hinata.
Mereka berpelukan erat, meluapkan segala rasa rindu yang menguar. Hanya rasa tulus akan syarat berdamainya mereka, yang kini memenuhi relung hati kedua manusia itu.
Tidak ada fikiran apapun yang terbersit selain murni melepas rindu diantara mereka, walaupun posisi mereka cukup intim saat ini.
Naruto yang memeluk erat pinggang Hinata, dengan wajahnya yang disembunyikan pada dada gadis itu. Serta, Hinata yang masih setia memeluk erat leher Naruto.
Dan saat kesadaran logika menampar keduanya akan kenyataan, mereka hanya bisa diam dan menahan malu.
Semburat merah tipis menghiasi pipi dengan tiga guratan dimasing-masing sisi pemuda itu. Ia tak tau harus berbuat apa, Ia bahkan sadar dimana kepalanya bertumpu sekarang.
Perlahan Hinata melepas pelukan mereka, gadis itu membuang muka enggan menatap Naruto.
Dia sangat malu saat ini. Bahkan rona merah yang terhias di pipinya semakin pekat menunjukan warnanya.
Sedangkan Naruto, tak ada bedanya dengan Hinata. Ia juga hanya mampu diam dan salah tingkah sendiri.
Tidak pemuda itu pungkiri, jantungnya berdetak sangat cepat saat ini.
Naruto memejamkan matanya sesaat, Ia perlu menenangkan dirinya terlebih dahulu.
"Hinata," satu tangannya menggenggam erat telapak tangan gadis yang masih berdiri disampingnya. Dengan pelan Naruto menarik gadis bermarga Hyuga itu duduk diatas pangkuannya.
"Na-..Naruto-kun." Semburat merah yang masih setia menghiasi pipi chuby Hinata, kini kian memerah pekat.
Ia bahkan bisa merasakan jantungnya yang berdetak tak karuan. Jika saja Hinata masih seperti Hinata yang dulu, bisa dipastikan Ia akan langsung pingsan jika berada di posisi seperti ini dengan Naruto.
"Mulai saat ini, jika aku berbuat suatu kesalahan kepada Hinata yang tidak kuketahui kumohon katakan secara langsung."
Hinata mengangguk, Ia menyetujui apa yang dikatakan Naruto.
"Naruto-kun juga, jangan pernah menyembunyikan sesuatu hal dariku ya." Dengan cengiran lebar, Naruto mengangguk menyetujui permintaan Hinata.
"Aku janji Hinata. Tenang saja, aku tak akan pernah menarik kata-kataku kembali. Kau tahu itukan?"
Rasa legah menyeruak, perasaan mereka seakan membuncah ketitik tertinggi saat ini.
Benar, hanya hal ini yang mereka butuhkan.
Kepercayaan, dan keterbukaan satu sama lain, adalah hal yang penting dalam kelangsungan hubungan mereka.
Dan mulai detik ini, Naruto dan Hinata berjanji takan ada lagi hal yang perlu diragukan satu sama lain. Karena mereka sadar, sesungguhnya suatu hubungan yang semakin erat tak luput dari krikil-krikil tajam yang menghampiri.
"Hinata.." Telapak tangan berbalut perban itu terangkat, membelai lembut sekilas pipi sang calon istrinya itu. Tangan Naruto menyelusup memegang tengkuk milik sang gadis, wajahnya perlahan mendekat memotong jarak diantara mereka.
Seakan tau apa yang akan terjadi selanjutnya, Hinata memejamkan matanya secara perlahan. Sampai, benda kenyal yang belakangan ini tak lagi asing pada dirinya kembali menyapa bibir ranum miliknya.
Hanya kecupan lembut, penyalur perasaan mereka. Kecupan yang diberikan sang pemuda sebagai bentuk perasaan rindunya.
Hanya kecupan lembut, yang mulai berubah haluan menjadi lumatan pelan.
Hinata hanya bisa meremas pelan kaos putih yang dipakai Naruto. Sambil memejamkan matanya erat.
Dengan malu-malu gadis itu mengikuti Nalurinya, membalas ciuman Naruto dengan lembut.
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi Hinata."
.
.
.
END
.
.
.
Omake :
Hanya butuh tiga puluh hari sampai waktu yang mereka tunggu, akhirnya datang juga.
Langit cerah dan cuaca yang mendukung, seakan ikut berpartisipasi menyempurnakan hari bahagia pernikahan sang pahlawan— Uzumaki Naruto.
Montsuki yang digunakan bersama Haori hitam dan Hakama abu-abu yang kini melekat pada tubuh kekar Naruto, menjadi penyempurna penampilannya.
Gagah dan tampan, kesan yang sangat melekat pada dirinya saat ini.
Mata Safire layaknya samudra miliknya, terbelalak tak berkedip menatap keindahan mahluk ciptaan Tuhan yang berdiri dihadapannya.
"Naruto-kun," senyum manis terlukis diwajah cantik Hinata.
Ia menatap sang calon suami yang baru saja memasuki ruang tunggu pengantin, dengan pandangan penuh takjub.
Harus Hinata akui, Naruto terlihat sangat tampan dan memukau saat ini.
"Hinata," kala jantungnya berdegup dengan cepat. Naruto tak tau harus apa, saat matanya tak mampu berpaling dari bidadari cantik yang sedang tersenyum untuknya.
"Kirei.." Mata birunya berbinar penuh takjub. Benarkah, gadis secantik ini yang akan menjadi istrinya. Naruto bahkan merasa ia berada di negeri khayalan.
Shiromuku putih yang melekat pada tubuh Hinata, tampak sangat sempurna menunjang penampilannya.
Perlahan Naruto berjalan mendekat, menuju sang calon pengantin wanita. Memberikan senyum lembut penuh rasa syukur, menatap langsung gadisnya, calon wanitanya.
Dan detik itu juga, tidak sengaja pandangan mata Naruto menatap pahatan patung Hokage, dimana rupa sang Ayah terpatri disana. Matanya menatap lekat kearah patung yondaime itu, sebuah doa dan harapan tengah Ia ucapkan di dalam hati.
Setidaknya, Naruto merasa saat ini Ia seperti tengah berbicara langsung dengan Ayahnya.
Masih segar diingatannya, saat sang Ibu— Uzumaki Kushina, menasehati dirinya. Salah satu nasehat yang masih melekat diingitan Naruto, adalah saat sang Ibu menyuruhnya mencari wanita yang mirip dengan Ibunya.
Matanya sekilas melirik, sang gadis yang juga sedang memandang langit dari jendela tanpa bersuara.
''Kaa-chan, gadis itu adalah calon istriku. Aku tak tau apakah dia mirip dengamu atau tidak. Namun yang kutahu, aku sangat beruntung bisa memiliki dia."
Guguran-guguran bunga sakura yang berserakan tak beraturan, Ibarat perasaannya saat ini. Senang, sedih, gugup— semua bercampur menjadi satu. Naruto berusaha sebisa mungkin, mencoba menahan perasaannya yang bercampur aduk tak karuan.
Saat tangan mungil itu mengenggam telapak tangannya, Naruto tau Hinata mengerti akan perasaannya.
Ia berbalik badan, dan melihat seseorang yang sangat penting dalam kehidupan Hinata. Seseorang yang telah menjaga dan merawat Hinata.
Dan saat pria paruh baya itu tersenyum menatap mereka berdua, Naruto tertegun.
Ia tak mampu berkata-kata. Namun hanya dengan pancaran penuh ketegasan yang Naruto tunjukan.
Hiashi— ayah Hinata sekaligus pemimpin klan Hyuga itu, merasa bahwa ia tak perlu lagi mencemaskan segala sesuatu. Ia percaya, bahwa putrinya akan bahagia bersama pria itu.
Pria, yang juga akan menjadi anaknya sebentar lagi.
"Yosh, sudah siap?" anggukan singkat dari sang gadis, menjadi pertanda bahwa inilah waktunya.
Telapak tangan Naruto semakin mengerat menggenggam tangan Hinata, menyalurkan perasaannya yang dilanda gugup tak berkesudahan.
Saat pintu terbuka, mereka mengerti bahwa ini bukanlah akhir dari kisah mereka.
Ini hanyalah awalan, dari perjalanan panjang mereka yang sesungguhnya.
Perjalanan panjang, kisah kehidupan yang akan mereka lewati sampai kematian memisahkan.
.
.
.
.
TAMAT
A/N : Kekkon omedetou gozaimasu! Naruto, Hinata..
Sungguh, saya tak dapat menahan rasa haru saat menonton episode 500 kemarin.
Bukan hanya karena Naruhina menikah atau apa, saya hanya tak percaya setelah bertahun-tahun Naruto menemani akhirnya tamat juga.
Huaaa waktu terasa cepat berlalu bukan?
Yosh, Saya bukanlah orang yang pandai berkata-kata, sama kayak ayang beb Naru *digaplok Hinata* jadi gak pandai membuat Note yang panjang kali lebar.
Terima Kasih banyak, yang sudah membaca fict ini. Buat yang meninggalkan jejak, ataupun tanpa jejak. Kalian sangat berarti buat saya.
Ada yang sudi membaca karya abal saya saja, saya sudah senang.
