"Dia datang," Aku berbisik pada diriku sendiri.
"Tidak seperti biasanya kau datang lewat pintu depan," Itu suara Frankie dari balik pintu. Gelak tawa terdengar keras setelah itu. Itu suara Muzi.
"Frankenstein, kau membuatnya terdengar seperti aku ini tidak punya adab, aku ini werewolf yang paling sopan kau tahu?" Aku membalikkan badan menatap ke arah pintu dan kemudian mereka berdua muncul dengan senyum terhangat (yang pernah kulihat semenjak kepergian ibuku) terarah padaku. "Putrinya Raizel, kau tidak juga bertambah tinggi, sudah berapa tahun sejak terakhir aku melihatmu? 7 tahun?"
Aku berlari ke arahnya, dia menyambutku dengan tangan terbuka, memelukku dan mengangkatku tinggi-tinggi seperti saat seorang ayah mengangkat putri kecilnya. "Tepatnya 7 tahun 10 bulan 25 hari Muzi." tak sengaja aku melihat tatapan Frankie, itu adalah tatapan yang paling tidak ingin kurasakan darinya. Iba. Dia melihatku seperti itu. Dia mungkin berpikir aku tidak pernah menyadarinya.
"Nona, aku undur diri dulu, aku tak ingin mengganggu waktu kalian ini," Kini tatapannya berubah. Sinar matanya, senyumannya, raut wajahnya semuanya menggambarkan ketulusan. Dia selalu mengkhawatirkanku tanpa mengetahui aku juga menyadari kekosongannya. Atau mungkin dia memilih untuk pura-pura tidak tahu. Karena Frankie yang ku kenal tahu segalanya. Bagaimana bisa seorang pelayan setia harus tetap melanjutkan hidupnya ketika tuan yang selalu diikutinya sudah lama tiada? Aku tak bisa berkata apa-apa aku hanya bisa menganggukkan kepalaku dan melihatnya pergi.
"Kau masih terus disini dan seperti ini?" nadanya sedikit tidak percaya. Dia menghela nafas seperti mengerti maksud tatapanku, "Putrinya Raizel apa yang bisa kau lihat dari balik jendela ini? Dunia itu sangat luas dan indah kau akan tercengang dibuatnya," Dia mengatakannya dengan sangat menggebu-gebu. "Kau tidak tertarik? sama sekali?"
Aku hanya bisa tersenyum melihatnya memasang ekspresi yang kekanakan seperti itu, "Aku bisa membayangkannya, dari semua ceritamu aku bisa tahu kalau dunia ini luas dan indah,"
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Putrinya Raizel dengarkan aku, keindahan dunia ini jauh dari apa yang bisa kau bayangkan, kau tidak harus mengurung diri di sini, tidak ada yang menyukai rasa kesepian, semua makhluk melawannya dengan cara mereka sendiri, tapi kau justru menerimanya seperti teman lama, tindakanmu ini mengingatkanku pada ayahmu, dan itu terus membuatku gelisah," Ah tatapan itu. Dia bersedih untukku. Mungkin dia bersedih untuk takdir yang harus ku pikul. "Aku yakin Frankenstein pun mengkhawatirkan hal ini," sambungnya.
"Muzi, apa yang harus kalian khawatirkan? Aku memilikimu dan Frankie, Sang Lord, dan juga para kepala keluarga. Aku mensyukuri hal ini, seperti ini saja sudah cukup," aku mengatakannya dengan nada meyakinkan. Setidaknya begitulah menurutku. Suasana hening sejenak aku mengamati wajahnya, berbagai emosi tergambar disana, mulai dari rasa tidak puas-terkejut-ragu-ragu, lalu kemudian dia menganggukkan kepalanya menatapku dengan bagaimana harus kukatakan perasaan bangga?
"Bagaimana perjalananmu kali ini? Kau menemukan tempat baru?" Dia menghadap ke jendela melihat langit dengan pandangan menerawang. Tak seperti biasanya Muzi menunjukan emosinya.
"Tidak ada lagi tempat yang belum pernah ku datangi di dunia manusia, satu-satunya tempat yang ingin ku datangi adalah tempat yang takkan pernah bisa kudatangi," Apa itu? Aku diam berdiri beberapa langkah dibelakangnya, ketika aku melihat sosoknya dari belakang tanpa harus melihat senyum yang sedikit dipaksakan yang selalu menempel diwajahnya itu dan tanpa mendengar tawa yang keluar dari mulutnya tanpa menyentuh hatinya, ah betapa kesepiannya.
Dia mungkin menyadari caraku memandangnya, dia langsung berbalik badan dan memasang senyum palsu itu. Lagi. "Masa lalu, kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan menemui diriku yang dulu dan berkata padanya, berhentilah bertindak bodoh." Jadi seorang Muzaka, Lord tersohor para werewolf bisa juga menyesali tindakannya di masa lalu dan bahkan sampai ingin kembali dan memperbaikinya. Memangnya kesalahan apa yang sudah kau lakukan?
"Aku meragukannya," kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.
"Yah kembali ke masa lalu mungkin tindakan yang hampir mustahil dilakukan," aku menggeleng-gelengkan kepalaku mengisyaratkan kalau bukan itu yang kumaksud.
"Kalaupun kau bisa kembali ke masa lalu, aku ragu dirimu yang dulu akan mendengarkan kata-katamu untuk berhenti bertindak bodoh," Apa yang kau harapkan Muzi, bahkan sampai sekarang kau masih bertindak bodoh.
Dia melihatku dengan tatapan tidak percaya. Dia lalu tertawa terpingkal-pingkal, aku mulai berpikir kalau dia sedang menertawakanku sampai saat dia berkata, " Aku rasa kau benar Putrinya Raizel, itulah kenapa tidak ada gunanya memikirkan masa lalu," dia mengatakan kata-kata itu dengan senyum di wajahnya, kalau saja aku tidak cukup mengenalnya aku akan tertipu dengan hal itu. Tapi tidak demikian. Sekeras apapun dia mencoba tatapan matanya selalu berkata jujur. Dia selalu menyimpan kesedihannya sendiri.
"Frankie, apa kita bisa pergi ke masa lalu?" pertanyaan itu keluar begitu saja, mungkin karena aku masih memikirkan kata-kata Muzi waktu itu. Dia terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku yang tiba-tiba.
"Nona, menurut ilmu pengetahuan yang kuketahui sejauh ini, ada teori-teori yang mengatakan kalau menjelajah waktu dan mengunjungi masa lalu bukanlah tindakan yang mustahil," Benarkah? "Tapi sampai sekarang belum ada yang berhasil menciptakan alat itu," dan harapanku pun padam. Apakah Frankie bisa menciptakan alat itu? Apakah dia mau melakukan itu? Aku melihat ke arahnya, dia melihatku dengan tatapan tahu segalanya. Ah. Sekali lagi aku sadar Frankie tak seperti Muzi, Frankie memikirkan segala hal dan tahu semuanya. Dia langsung tahu aku ingin dia membuat alat itu. "Untuk menciptakan alat itu diperlukan banyak percobaan dan pemikiran yang mendalam, jadi mungkin akan memakan waktu yang cukup lama,"
Aku memikirkan kata-katanya sejenak, lalu mengingat kata-kata Muzi kalau tidak ada gunanya memikirkan masa lalu, mungkin memang benar kita hanya perlu mengkhawatirkan masa depan, apa yang sudah terjadi biarkanlah demikian. "Frankie kau tidak perlu memikirkannya, itu hanya pertanyaan acak," aku mencoba meyakinkannya. Dia membalasku dengan senyuman sambil menganggukkan kepalanya.
"Nona, Ramyeonnya sudah bisa dimakan, kalau ditunggu lebih lama lagi mie-nya tidak akan mengembang dan rasanya akan jadi tidak enak," Ramyeon. Dari apa yang dikatakan ibu dan Frankie, ini adalah makanan kesukaan ayah. Kami pun jadi menyukainya. Ibu dan juga kakak.
Bicara soal kakak, "Frankie apa kau sudah bertemu dengan Lord?" Setiap tahun di waktu yang sama tepatnya hari ini, Frankie akan selalu ke istana menemui Lord untuk membicarakan banyak hal, dan kebanyakan hal yang ditanyakan kakak ku adalah mengenai diriku. Aku sudah tahu itu. Jangan tanyakan kenapa, aku tahu saja.
"Iya Nona, Yang Mulia Lord menanyakan keadaan anda, kondisi kesehatan anda, aktivitas terakhir anda, dan dia juga mengesalkan soal Muzaka yang datang kemari terakhir kali tanpa mengunjungi istana," Seperti itulah kakakku. Lord yang sangat dicintai kaumnya.
"Mungkin Muzi lupa karena terburu-buru," Aku hanya bisa tersenyum membayangkan bagaimana kesalnya kakakku saat ini.
"Itulah yang kukatakan pada beliau, tapi Lord sepertinya tidak percaya dengan alasan itu dan tetap memasang wajah kesal," mungkin kami sedang memikirkan hal yang sama dan berakhir dengan tawa yang tak lagi bisa ditahan.
