Suara berisik angin mengabarkan kedatangannya, daun-daun yang telah menguning lepas dari cabangnya dan jatuh ke tanah, daun yang menguning akan gugur dan akan digantikan oleh daun-daun muda yang masih hijau. Burung-burung terbang berkelompok bergegas pulang kembali ke sarangnya. Bahkan burung yang bebas pergi kemana pun ingat pulang.

"Hei, putrinya Raizel, masih menghitung daun yang jatuh?" Suara itu tak salah lagi.

Aku membalikkan badan sambil tersenyum lebar, "Muzi!" suaraku terdengar lebih keras dari yang ku harapkan. Mungkin karena aku sudah sangat menantikan saat ini. Aku berlari ke arahnya melingkarkan tanganku di pinggangnya, "Kau datang," itu bukan pertanyaan hanya pernyataan untuk meyakinkan diriku bahwa dia ada tepat di depan mataku.

"Ya, aku datang untuk melihat keadaanmu, dan seperti yang kulihat tidak ada yang berubah," katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Nadanya sedikit kecewa, juga seperti yang kuduga. Dia tak pernah berubah, walau musim berganti dan berulang seribu kali aku yakin dia takkan pernah berubah. Bebas dan bodoh. Aku melepaskan tanganku, menengadahkan kepalaku melihat ke wajahnya dengan tatapan bingung. Dia lalu menyentuh kepalaku, lalu berlutut di depanku menyamakan tinggi kami dan kemudian mengelus rambutku dengan lembut sambil tersenyum lebar, "Kau seperti Raizel, aku tidak mengerti mengapa kalian betah hanya berdiri di sini sementara kalian sangat ingin melihat dunia luar," Aku tak tahu harus menjawab apa, haruskah kukatakan padanya, bagian yang paling menyenangkan bagiku bukanlah saat melihat dunia luar dengan mata kepalaku sendiri tapi mendengar langsung darinya? Karena hanya di saat itu aku bisa melihat kesenangan di matanya, mungkinkah ini juga yang dirasakan ayah?

"Ini saja cukup," Dia menatapku menunggu penjelasan dari apa yang baru saja kukatakan. Karena tak mendapat reaksi apapun, dia langsung tertawa terbahak-bahak.

"Kau benar-benar mirip dengan Raizel," Apa itu? Aku bisa merasakan nada kepuasan dari kata-katanya, kelegaan dari raut wajahnya. Pria ini.. ayah benar-benar beruntung memiliki Muzaka sebagai sahabatnya. Ibuku sebagai pendampingnya. Dan lagi ada Frankie sebagai pelayan setianya. Ia benar-benar makhluk paling beruntung. Tanpa kusadari senyum tipis menghiasi wajahku. "Kau hanya sedikit lebih ekspresif darinya."

"Muzaka, lama tidak jumpa," itu Frankie, berjalan masuk sambil memegang buku dan secangkir teh.

"Aku rasa tidak terlalu lama, kita bertemu lima tahun yang lalu, ingat?" Muzaka tersenyum lebar menyambut kehadiran kenalan lama.

"Dari sudut pandang manusia lima tahun itu sudah cukup lama," Frankie meletakkan teh yang ada di tangan kanannya, menutup bukunya lalu membetulkan kacamatanya sambil melempar senyum tipis ke arah Muzi.

"Ah kau benar, tapi bagaimana bisa aku menganggapmu masih manusia sementara kau sudah hidup begitu lama," Aku hanya bisa menghela nafas. Itu serangan balasan, mereka memang selalu begitu. Tapi aku juga tahu, mereka berdua sebenarnya senang melihat satu sama lain.

"Kau masih saja besar mulut," Auranya mulai berubah, aku hanya bisa diam. Aku tahu setiap kali mereka melakukan percakapan seperti ini tidak ada tempat untukku bersuara, apalagi kalau suasananya sudah seintens ini.

"Kau juga masih saja lekas marah, Frankenstein," Muzaka membalasnya sambil tertawa. Mereka benar-benar cocok satu sama lain. Maksudku mereka sama-sama pandai berbicara, mengolah kata, dan memancing emosi lawan bicara.

"Nona, aku undur diri dulu," Frankie memandang ke arahku dan membungkuk pamit.

"Baiklah, silahkan Frankie," dia memandangku sambil tersenyum kemudian keluar meninggalkan kami berdua di dalam ruangan.

Muzi berdiri dan berjalan ke arah sofa melemparkan tubuhnya dan berbaring dengan santai. Aku mengikutinya dari belakang. "Nah, Putrinya Raizel kali ini kau ingin dengar cerita apa?"

Aku duduk diam, memandang keluar jendela yang ada di sampingku, menikmati keheningan sesaat sebelum menjawab, "Manusia."

"Nona kami datang berkunjung," Rael, Seira, Regis. Kurang satu? Biasanya ini empat pasukan sekawan yang menyebut diri mereka RK. Itulah yang kudengar dari Karius. Kemana dia?

"Seira kau semakin cantik," Aku berlari ke arahnya dan menggenggam tangannya, "Apa aku nanti juga bisa cantik sepertimu?" dia tersipu, kemudian tersenyum sambil mengelus kepalaku, Seira adalah gadis yang baik hati dan juga lembut aku sudah mengaggapnya seperti kakak perempuanku sendiri.

"Nona, anda akan tumbuh menjadi gadis yang cantik, baik hati, bijaksana, dan terhormat seperti ibu anda, sang Lord terdahulu," kata-kata itu adalah harapan, harapannya dan juga harapanku, mungkin juga harapan kakakku Lord yang sekarang dan seluruh kaum bangsawan. Aku tersenyum dan kini giliranku yang tersipu malu dibuatnya.

"Kalian meninggalkanku, tega sekali," itu suara Karius. Baru saja aku ingin menanyakan tentangnya. "Nona, Karius Blaster datang untuk berkunjung," dia berlutut di depanku dengan setangkai bunga di mulutnya. Yah seperti inilah Karius. Aku melingkarkan tanganku di lehernya dan memeluknya sambil tertawa. "Nona sepertinya kau sangat merindukanku, aku akan lebih sering lagi mengunjungimu," katanya sambil balas memelukku.

Aku melepaskan pelukanku dan berjalan ke arah Rael dan Regis, memegang tangan mereka dengan masing-masing tanganku sambil melempar senyum. Mereka melihatku sambil tersenyum tipis, "Nona, anda baik-baik saja," aku menganggukkan kepalaku, apalagi yang bisa terjadi padaku saat aku memiliki mereka semua yang selalu memperhatikanku. Kami lalu duduk saling berhadapan suasananya santai dan hangat, diselingi dengan lelucon konyol Karius yang selalu membuatku tertawa, membuat Regis dan Seira tersenyum bahkan mampu menggelitik rasa humor seorang Rael Kertia.

"Bagaimana di dunia manusia?" Aku selalu penasaran dengan umat manusia. Mereka makhluk lemah, tapi ada sesuatu yang mengagumkan tentang mereka, mereka mampu mengikuti jaman dan menerima perubahan. Mereka bisa bertahan padahal mereka lemah. Makhluk yang gigih. Aku tenggelam dalam pemikiranku sampai tidak menyadari kalau suasananya menjadi hening.

"Peradaban manusia berkembang pesat," suara Rael memecah keheningan. Aku mengagguk, itu sudah kuduga, aku sudah sering mendengar manusia mengalami kemajuan, jadi itu bukan hal yang mengejutkan. "Tapi jadi semakin kacau," Apa maksudnya? Apa lagi kali ini? "Peperangan terjadi dimana-mana," Dari dulu sudah terjadi perang.

"Apa ada keterlibatan kaum bangsawan maupun kaum werewolf?" aku memotong ceritanya. Rael menggelengkan kepalanya, tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

"Manusia menyerang sesamanya, dunia manusia yang dulu hijau kini menjadi abu karena ledakan dashyat, merah api membakar hutan, ada juga beberapa negara yang sudah terkontaminasi dengan gas beracun, kalau begini terus, kali ini mereka tidak akan bisa bertahan," Kali ini Karius yang berbicara.

"Ada juga penyakit mematikan yang sedang mewabah di beberapa tempat, manusia rentan terhadap penyakit," sambung Regis.

"Penyakit menular yang mematikan, terorisme, dan peperangan adalah ancaman terbesar bagi umat manusia," lanjut Seira. Aku melihat wajah mereka semua dan wajah mereka mengatakan 'tak ada harapan'. Ini buruk.

"Menurut kalian kalau ayahku masih ada, apa dia akan membantu umat manusia?" kenapa aku menanyakannya, itu pertanyaan bodoh, jawabannya sudah jelas.

"Aku meragukan hal itu, Tuan Raizel tidak akan terlibat dengan urusan antarmanusia."

Jawaban yang sudah kuduga, "Kau benar Karius."

"Kalian datang," Itu Frankie. Semua tatapan tertuju padanya. Mereka berempat langsung menganggukkan kepala mengisyaratkan sesuatu.

"Nona, kami pergi dulu, Lord menyuruh kami memanggil Frankenstein, nanti kami kembali lagi, anda akan ditemani oleh Seira untuk sementara waktu," Di antara mereka semua ekspresi Regis adalah yang paling jujur, melihatnya mengatakan itu aku langsung tahu kalau ada masalah serius yang harus dibicarakan. Apa ini berhubungan dengan umat manusia? Apa bangsawan akan bertindak? Sungguhkan? Tidak mungkin.

Aku melihat ke arah Frankie, dia tersenyum mencoba meyakinkanku kalau semua akan baik-baik saja. Aku melihat Seira, dia pun menganggukkan kepalanya meyakinkanku seakan mengerti apa yang sedang kupikirkan. "Baiklah, sampaikan salamku pada Yang Mulia Lord," mereka mengangguk dan meninggalkan kami berdua.