"Adikku, akhirnya kau datang juga mengunjungi kakakmu yang sangat tampan ini," Kakak kau adalah Lord, kau berkata seperti itu di depan pengikutmu, kau sungguh keterlaluan.
"Sudah berapa lama sejak terakhir kali kau kemari, ha? Apa kau tidak merindukanku? Ini juga rumahmu tapi kau jarang sekali kemari, apa-apaan kau ini?" Ya, semua pertanyaan itu dikatakannya dalam satu kalimat. Kakakku ini mewarisi wajah ayahku tapi kepribadiannya seperti kakekku, Lord sebelum ibu, itulah yang dikatakan ibuku, juga Frankie, Muzi, dan Getchutel. Aku ingat bagaimana Muzi akan selalu tertawa terpingkal-pingkal saat berbicara dengannya di depanku.
Tidak ada jawaban, "Adikku kau diam saja, apa kau sedang sakit gigi?" Wajahnya berubah cemas, sungguhkah dia berpikir seperti itu?
"Lord, aku yakin belum pernah ada kaum bangsawan yang sakit gigi, aku hanya sedang berpikir yang mana yang harus kujawab lebih dulu," dia tertawa. Oh, jadi tadi salah satu leluconnya.
"Jawablah satu-satu, itu belum semua pertanyaanku, jadi tak perlu buru-buru, aku akan menahanmu selama yang aku bisa," dan dia pun tertawa, lagi.
Aku melihat ke arah Getchutel memohon bantuan, "Oh Lord," dia berhenti tertawa, akhirnya.
"Siapa yang memanggilku? Kau kah Getchutel? Kau boleh pergi kalau ada hal lain yang perlu kau lakukan."
Getchutel menundukkan kepalanya, "Tidak Lord, aku akan tetap di sini, tak ada hal yang perlu kulakukan, jadi silahkan dilanjutkan."
"Aku kemari dua tahun yang lalu Lord, dan 10 bulan yang lalu anda datang ke tempatku, jadi kita masih terhitung baru saja bertemu," wajahnya terlihat kurang puas.
"Kau lihat itu Getchutel, bagaimana bisa dia sampai memaksa seorang Lord yang datang mengunjunginya," Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kakak, apa yang kau bicarakan?
"Lord, aku yakin bukan begitu maksud Nona," Getchutel membalas, wajahnya nampak kurang nyaman dengan situasi ini, "Ah, Lord aku baru ingat sepertinya aku ada urusan yang harus segera kuselesaikan, aku mohon undur diri," Getchutel, aku tahu kau hanya kurang nyaman dengan situasi ini, kau ingin segera keluar dari situasi ini saja, bukan?
"Kau boleh pergi Getchutel," Lord mengatakannya dengan nada enteng. Sesaat setelah Getchutel pergi dia menatapku dengan serius. Ada apa ini?
"Adikku tinggal lah disini selama beberapa hari, setelah itu kau boleh kembali ke mansionmu," Kakak? "Kau tak perlu menatapku seperti itu, tidak ada yang terjadi, jangan cemas, sepuluh hari tinggal lah bersamaku di istana, aku mohon padamu," tatapannya barusan, kakak apa yang kau rahasiakan dariku? "Kau benar-benar mencemaskanku ya, sampai kau tak bisa berkata apa-apa lagi," Sekejap suasana serius pecah dengan suara tawanya yang menggema.
"Kakak apa yang sedang kau rencanakan, apa yang ingin kau lakukan, kau tidak bisa merahasiakan apapun dari sang Noblesse," aku tak bisa menahannya lagi, rasa penasaran ini membunuhku.
"Adikku, kau adalah sang Noblesse tapi kau juga adalah adikku, apa yang harus kulakukan? Mengambil keputusan sebagai sang Lord atau seorang kakak?" Aku tak mengerti lagi.
Dia yang sedang duduk di kursi singgasananya sangat berbeda dengan kakak yang selama ini ku kenal, aku menghampiri kemudian memeluknya, "Kakak, kau menanyakan hal yang sudah jelas," aku selalu percaya pada keputusanmu, "Kaulah Lord kami, dan akulah sang Noblesse."
Suara berisik di luar membangunkanku. Aku berjalan ke arah suara-suara itu. Aku melihat wajah-wajah baru lagi. Mereka manusia.
"Adik kecil, kamu imut sekali," satu dari mereka, seorang wanita dengan rambut sebahu dan berponi menghampiriku. Tiga lagi menyusul.
"Iya dia seperti boneka, lucu sekali," sambung wanita yang di sebelahnya.
"Kamu baru bangun, ya?" kali ini laki-laki yang berambut merah bertanya padaku sambil tersenyum. Aku mengangguk.
"Apa kamu terbangun karena kami?" Anak laki-laki yang berkacamata bertanya sambil memegang kepalaku. Aku pun mengangguk. Ekspresi mereka langsung berubah, perasaan menyesal terlihat di wajah mereka. Aku menggelengkan kepalaku. Mereka lalu tertawa. "Adik kecil, ayo kita kesana, di sana ada banyak makanan lho," dia menunjuk meja tempat semuanya berkumpul.
Disini memang banyak makanan, tapi sangat berantakan. "Adik kecil, kamu lucu sekali, namaku Sui, ini Shinwoo," menunjuk yang berambut merah. "Ikhan," yang berkacamata. "Dan Yuna," menunjuk perempuan yang satunya lagi.
"Hei, kalau diperhatikan dia agak mirip dengan Rai iya, kan?" Aku yakin dia yang namanya Ikhan.
"Iya juga, kalau diperhatikan lagi memang agak mirip, apalagi hidung dan matanya," Itu Sui.
"Adik kecil kalau nama kamu siapa?" itu suara Yuna.
Aku mengedipkan mataku sekali, ke dua kali, dan ke tiga kali. Aku tak bisa mengatakannya. "Terserah kalian ingin memanggilku apa," mereka menatapku dengan wajah bingung.
"Kamu tak ingat namamu?" Itu Shinwoo. Aku mengangguk. Membiarkan mereka berpikir begitu akan lebih mudah bagiku.
"Apa yang terjadi?" kali ini Yuna bertanya dengan nada khawatir.
"Aku mengalami kecelakaan dan membentur kepalaku," itu tidak sepenuhnya bohong. Jadi tidak apa.
Mereka semakin cemas. "Lalu apa kamu masih sakit?" sambungnya.
"Aku sudah tak apa." Mereka mengkhawatirkanku?
"Kamu masih pucat, sepertinya kamu masih butuh banyak istirahat, kami akan pulang saja, lain kali kami kesini lagi, kita main ya," aku melihat ke arah Yuna.
"Aku akan mengantar kalian," Regis tiba-tiba berdiri dan melihat ke arah mereka berempat.
"Tidak perlu, Regis. Kami bisa pulang sendiri kok," Shinwoo mencoba menghentikan Regis.
"Ayo." Regis mengatakannya dengan nada tanpa kompromi.
Mereka semua sontak menjawab, "Ba-baiklah." Mereka pun pergi dan suasananya langsung menjadi hening.
"Kami tahu anda perlu istirahat, tapi aku tak bisa mengusir mereka, maafkan aku," aku melihat ke arah Seira. Dia yang sekarang dan yang ku kenal tak jauh berbeda, tetap lembut, cantik, dan baik hati.
"Jangan meminta maaf, itu sama sekali bukan masalah." Dia mengangguk. Aku melihat ke arah jam dinding. "Seira," aku menatapnya. "Aku tahu ini sudah terlalu malam, tapi maukah kau memasakkan sesuatu untukku? Aku sangat lapar."
Dia langsung berdiri, "Tentu saja aku bersedia."
"Terima kasih, Seira," aku tersenyum ke arahnya. Aku ingin sekali memeluknya, tapi di dunia ini kami tidak sedekat itu.
"Itu sudah menjadi tugasku Nona," dia beranjak ke dapur.
Aku mengambil tempat duduk di samping Rael dan berhadapan dengan Frankie, disampingnya ada Razark, kemudian Karius. "Jadi, Frankie sudah berapa lama sejak aku tertidur?" aku melihat ke arahnya.
"Sudah lima hari sejak kejadian itu. Sepertinya menjelajah waktu cukup menguras energi kehidupan Anda."
Aku mencoba memfokuskan pikiranku dan merasakan energi kehidupanku. "Sepertinya begitu."
"Menurutku anda masih perlu tidur untuk beberapa hari lagi," Dia benar.
Tapi aku tak mau. Aku tak boleh membuang-buang waktu. Banyak yang perlu kupelajari dan kuketahui dari dunia ini. Lebih cepat lebih baik. "Frankie, itu tidak perlu."
"Apa kalian sudah melaporkan keberadaanku pada Lukedonia?" Aku baru saja terpikir tentang hal ini. Sudah lima hari, pasti berita ini sudah tersebar.
"Aku hanya melaporkan bahwa anda adalah seorang bangsawan dari masa depan. Menurut Frankenstein, kalau berita sang Noblesse ada dua tersebar keluar, itu akan menimbulkan kegemparan tak hanya bagi kaum bangsawan tapi juga banyak pihak. Dan aku setuju dengan pendapatnya."
"Bagus! Frankie, kau memang cerdas dan selalu bisa berpikir cepat." aku berdiri kegirangan. Satu masalah terselesaikan. Misi ini sama sekali tak boleh gagal. Mereka semua menatapku, mungkin karena aku terlalu kegirangan.
Aku kembali duduk, "Dan Razark Kertia, aku juga menghormati pemikiranmu, pada akhirnya itu semua berkat keputusanmu." aku mengangguk-anggukkan kepalaku, "Aku bisa tahu sekarang kenapa Rael sangat bangga padamu," Rael melihat ke arahku. "Apa?" wajahnya sedikit merah. Ah, dia pasti malu.
"Tapi kita tak bisa menyembunyikan hal ini terus-menerus." Frankie benar. Cepat atau lambat berita ini pasti akan tersebar.
"Aku tahu, karena itu aku harus menyelesaikan misiku sebelum berita ini tersebar dan menghilang dari dunia ini."
Tak berapa lama, Seira datang membawa beberapa piring makanan siap disajikan. Semuanya sudah diletakkan di depanku dan semuanya tampak lezat. Tak butuh waktu lama aku langsung menghabiskan tiga piring hidangan makan malam yang ada di atas meja. Aku sendiri terkejut. "Seira, bahkan sejak masih muda kau sudah sangat ahli dalam memasak." Pipinya merona. Aku tahu dia sangat senang dipuji. Mulai sekarang aku akan ingat untuk lebih sering lagi memujinya.
