Kuroko No Basket

By Fujimaki Tadatoshi

STORY milik AUTHOR Levy Aomine Michaelis

SETTING: Class of Teiko High School

MAIN CHARACTER:

Kise Ryouta, Akashi Seijuuro, Aomine Daiki, Haizaki Shougo, Takao Kazunari, Momoi Satsuki, Midorima Shintarou.

READ AND REVIEW

~Happy Reading~

.

.

HARI SELANJUTNYA, RABU...

.

.

KORBAN KELIMA: AOMINE DAIKI

Semenjak bendera perang—ah maksud nya permainan secret devil di kumandangkan mulai. Aomine kini memperketat keamanan nya. Apalagi saat ia teringat kejadian yang menimpa Nijimura hari kemarin, membuat Aomine jadi merinding sendiri. Siapapun 'devil' Nijimura pasti lah orang yang sangat kejam hingga nekad mempermalukan guru super sadis itu satu sekolahan, Aomine bukan nya peduli ama Nijimura, Cuma jika 'devil' nya berhati sama kayak yang ngerjain Nijimura gimana? Bisa-bisa Aomine bakal di permaluin habis-habisan.

'Aomine galau mak!'

.

.

"Aominecchi—"

"Aominecchi, hoi—"

"AOMINECCHI!"

Guyuran air dingin berupa 'pop ice' rasa durian segera menghampiri Aomine dari pucuk kepala. Kontan saja tubuh nya langsung merinding geli karena air es yang manis itu mengalir dalam tubuh nya saat ini.

"OI KISE BAKA!" Aomine balik meneriaki orang yang tadi menyiram nya.

Kise mendengus kesal, "Lagian Aominecchi dari tadi dipanggil-panggil enggak ngejawab. Ngapain coba pagi-pagi udah ngelamun!" Ia pasang mode cemberut.

Aomine mengeryit dahi, "Teme! Aku sedang memikirkan soal 'devil' ku." Aku nya.

Kise menyeringai, "Apa yang kau pikirkan sih Aominecchi? Apa kau takut kalau 'devil'mu bakal ngerjain kamu kayak kejadian Nijimura-senpai kemarin?" Ujar Kise dengan tepat sasaran.

"Chee~ aku tidak takut. Aku hanya sedang menebak-nebak saja, dan lihat sampai sekarang aku belum di kerjain sama sekali. Berarti 'devil' ku yang takut sama aku. Hahaha..." Aomine ngakak garing.

"Oh gitu ya..." Kise menjawab datar. "Ano—apa kau akan terus seperti itu Aominecchi..." Kise menunjuk pada seragam putih Aomine yang sedang dikenakan nya. Seragam itu kini basah terkotori cairan kuning berbau menyengat itu.

"WOAAA aku lupa!" Panik Aomine. "Ini juga ulah mu Kise. Cepat berikan baju mu!" Paksa Aomine.

"Hiyee enak saja. Gak mau weekkkk" Kise langsung kabur dari sana sambil menjulur lidah, semua siswa yang lalu lalang ngeliatin Aomine.

"Apa lu liat-liat !" Tantang nya, dan sungguh dengan muka suram tampang preman itu memang tak ada yang berani ngatain Aomine langsung saat itu kecuali—" Kau habis bermain one-on-one dengan pacarmu di sekolah pagi hari ini Daiki? Sungguh menjijikan." Suara mengintimidasi itu menyergap dingin, Aomine yang tadi nya emang sudah mengingil karena air es jadi tambah dingin.

"E-eh Akashi... jangan berpikiran yang tidak-tidak dong. Aku bisa jelaskan kok." Sergah si dim.

Walau sebenarnya Aomine mau saja melakukan itu...

"Penjelasan mu tak menguntungkanku Daiki. Cepat pergi ganti seragam mu sebelum jam pelajaran dimulai. Aku tidak mau Hyuuga-senpai mengomeli kelas ini hanya karena ada satu murid nya yang terlihat dekil dan jorok. Begitu menganggu pemandangan." Titah Akashi dengan gunting nya yang sudah kricis kricis dari tadi, tajam nya gunting sama dengan tajam nya mulut Akashi. Aomine tahu itu.

"I-iya baik ketua kelas!" Aomine langsung ngicrit mematuhi. Ia langsung berlari keluar kelas menuju loker nya, beruntung Aomine jarang pakai almamater sekolah jadi dia ingin mengganti baju nya dengan seragam olahraga dan memakai almamater. Toh , takkan ketahuan.

.

.

Aomine pun sampai diruang loker siswa, ia bersenandung kecil kemudian merogoh kantongnya.

"Eh?"

Aomine mendalam kan lagi rogohan nya.

"EEEEEH?" Pekik nya histeris.

Ia kembali merogoh lebih dalam, memeriksa juga di kantung satu nya, "Kunciku! Dimana kunci ku!" ia kemudian merogoh di semua tempat pada seragam nya seperti saku baju, kaos kaki, sepatu, celana dalam, dsb. Namun kunci nya loker nya tetap tidak ketemu.

"Akh gawat! Bagaimana ini?"

Ia melirik jam, "Sial lima menit lagi jam masuk!" Keluh nya.

'Bagaimana ini!Apa aku pulang saja? Aah Kise! Dia harus tanggung jawab.' Pikir nya.

Aomine kemudian mengeluarkan handphone nya untuk menelpon Kise.

.

"Maaf, saat ini pulsa anda tidak mencukupi untuk menghubungi nomor ini—"

.

"Chotto! Bukan nya aku baru saja mengisi pulsa lima puluh ribu kemarin. Kok udah habis sih! belum kupakai sama sekali kok." Gerutu nya tak percaya atas kenyataan yang menimpa nya. Ia kembali mencoba menelpon Kise dan tetap operator lah yang menjawab telpon nya dengan kata yang sama. "SIAL!" Pintu loker jadi sasaran bogem mentah nya.

Ia mencoba mengecek pulsa, dan benar saja pulsa nya kini tinggal 0. Aomine membelalak mata saking tak percaya nya. "Kok bisa sih! Akh!" Hp itu di gengam kasar hingga akhir nya kembali masuk ke dalam saku.

Ia benar-benar merasa bodoh sekarang.

Aomine mencoba muter otak, "Cih terpaksa aku meninggalkan jam pertama." Ia kemudian bergegas pergi ke security sekolah dan meminta kunci motor nya, ia sudah mengantongi surat izin dari guru BK agar bisa pulang mengganti pakaian nya.

"Haah semoga saja ibu ku sedang tak dirumah. Bisa-bisa aku diomelin nanti kalau ketahuan pulang saat jam sekolah." Aomine jadi membayangkan hal yang tidak-tidak sekarang. Motor ia keluarkan kemudian tanpa babibu lagi ia segera melaju menuju rumah.

Akan tetapi, belum lima menit ia meninggalkan sekolah. Ia merasa ada yang aneh dengan motor nya. Sekuat apapun Aomine ngegas tetap saja motor nya tak melaju kencang. Pada akhir nya ia memutuskan untuk stop kemudian mengecek ban.

"SHIT! Apa lagi sekarang! Akh kok bisa kempes gini sih ban nya!"

Aomine ingin meledak rasa nya, kesialan yang menimpa nya begitu bertubi-tubi. Ia merasa sedang di ikuti setan saja, "—Tunggu, 'devil'? sialan aku sudah di kerjain ternyata!"

Yaah Aomine telat berpikir ternyata permirsa.

Dengan muka yang penuh kekesalan, Aomine menggeret motor nya ke bengkel. Gak tanggung-tanggung, bengkel nya 4KM jauh nya dari tempat Aomine berada sekarang. Dan alhasil, Aomine sudah tertinggal dua mata pelajaran di sekolah nya hari ini, plus penampilan nya sekarang berkeringatan bin kucel kayak orang gila.

Aomine berpikir sembari menunggu motor nya di perbaiki. Beruntung dia tidak lupa untuk bawa dompet.

"Hmm... kira-kira siapa ya 'devil' ku. Apa pulsa ku juga ulahnya? Tapi bisa saja aku mungkin memakai nya tanpa sadar. Lagian kemarin yang pinjem HP ku Cuma si Satsuki saja. Dan dia juga tak ikut dalam permainan." Guman Aomine.

(Ah, gomen seharusnya Momoi ikut dalam permainan ini, tapi kemarin saya salah hitung. Ternyata korban nya Cuma ada 8 jadi salah satu pemain saya eleminasi. Hontou ni gomenasai.)

"Kise kah?"

Wajah nya mengkerut,"Tapi jika benar mana mungkin dia melakukan hal sekejam ini padaku."Elak nya, kemudian ia teringat perkataan Takao pada saat malam senin mereka mampir ke rumah Midorima buat bermain PS bersama Haizaki. "Kalau aku atau Haizaki-kun yang jadi 'Devil'mu kami pasti tak akan segan-segan. Hahaha" Kata nya.

Aomine tersenyum jengkel menggingat itu.

'Cih! Siapapun 'Devil' ku awas saja kau. Takkan kuampuni!" Desis Aomine bersumpah dalam kekesalan nya.

.

.

AOMINE CASE: CLOSED!

.

.

TBC

.

.

.

Araa~ Makin lama cerita nya makin membosan kan yah?

Hmm... yang klimaks nya sih memang belum jalan. Saya akan berusaha membuat case Hanamiya, Akashi dan Kise akan lebih berwarna . hehe . kalau reader mau kasih saran juga boleh. Saya terima semua nya ^^

See you in the next chapter~

Review?