Did You?
Chapter 1 : Did You Feel Enough?
Huang Renjun, 21 tahun. Mahasiswa tingkat akhir jurusan hukum yang sedang dikejar skripsi. Hidupnya yang sudah kalang kabut mengurus skripsinya yang ia tunda sedemikian bulan kini harus ditimpa sebuah beban berat lainnya.
Apa ia bisa bertahan?
/.../
"... Apa Yukhei mengatakan sesuatu padamu?"
Inginnya Renjun melamun saja atau setidaknya mengabaikan pertanyaan yang baru saja dilontarkan laki-laki yang berstatus sebagai...kekasihnya itu. Mungkin akan lebih baik ia berpura-pura tidak mendengar dan bertingkah bodoh juga membeo daripada harus menjawab pertanyaan sialan semacam itu. Hiperbola? Ya, terserah. Memang seperti itulah kenyataannya.
"Renjun-ah?"
Suara lembut itu memorak-porandakan pertahanan Renjun. Kekasihnya ini benar-benar sialan. Yang lebih sialnya lagi ia terlalu mencintai si sialan ini.
"Tidak. Memangnya ia akan mengatakan apa?" meski hati dan perasaannya tak menentu Renjun berhasil mengeluarkan intonasi datar dalam kalimatnya.
Renjun POV
Saat itu pukul 2 pagi ketika Jungwoo datang dan aku sedang memainkan remote televisi. Jangan tanya mengapa aku tak bisa tidur padahal malam telah sangat amat larut. Kalian sudah pasti tahu jawabannya. Dan ketika alasan kenapa aku tak bisa tidur datang dengan sebuah kantong plastik belanjaan di tangannya mau tak mau aku menoleh cepat ke arahnya.
"Chagi..."
Suara lembut itu...
Entah kenapa menyakitiku, menyesakkanku, dan rasanya hampir membuatku gila. Namun, ini sungguh aneh. Karena disaat bersamaan aku juga menginginkannya...memilikinya utuh.
Lalu, tanpa diperintah tubuhku bangkit dari sofa yang tadinya kududuki dan kakiku otomatis berlari ke arahnya. Memeluknya. Menenggelamkan diri dalam balutan Jungwooku yang hangat. Aku takut. Aku...benar-benar takut. Takut jika ini akan berakhir. Rasa takut mencengkeram jiwaku. Membuat air mata tak lagi bisa kutahan. Jatuh mengalir dengan derasnya. Aku menangis.
"Chagi..."
Dia, Jungwooku memanggil. Tapi, aku masih menangis, mana mau aku mendongak.
"Lihat aku,"
Jungwooku menyentuh pipiku dengan gerakan lembut untuk kemudian ia tangkup dengan telapak tangan besarnya itu lalu mengangkatnya sedikit hingga mata kami bertemu dalam satu pandangan. Dan dalam pandanganku, aku melihat kilau bola mata karamel dengan indahnya, begitu indah bak kilau mutiara. Begitu dalam sedalam samudra, hingga tak seorang pun bisa menggapai apa yang tersimpan di dalamnya. Entah tersimpan sebagai apa aku di dalam pandangannya. Meski begitu dia adalah Jungwooku. Milikku. Suara dan sikap lembutnya yang seperti angin musim semi membuatku nyaman. Dan semua itu hanyalah milikku. Dia milikku!
"kenapa menangis, heum?"
Jungwoo milikku. Aku-
Hiks.
Hiks.
Air mataku jatuh lagi. Jatuh banyak sekali. Dadaku sesak. Kepalaku berkabut. Mencetuskan kalimat...Jungwoo milikku!
Milikku...
Milik...hiks...ku...
Hiks...milikku...hiks...hiks...
Tapi...
...apa benar...
...dia hiks...
...milikku?
Ataukah...
...hiks...
...sebenarnya dialah yang memilikiku?
/.../
Zhong Chenle, 19 tahun. Seorang anak bertubuh mungil dengan wajah imut. Saran saja, jangan tertipu dengan wajahnya yang seperti bayi. Chenle itu termasuk ke dalam list 10 orang paling anti-mainstream di dunia. Oh, tentu saja ini menurut Renjun.
Ingin bukti?
Lihat saja kelakuannya sekarang. Marah-marah sambil mondar-mandir dihadapan Renjun. Oh ayolah! Ini kantin! Bagaimana jika ada melihat atau mendengar? Renjun bisa berakhir! Lagipula, hei! Renjun tidak patut dipersalahkan disini!
"Aku tidak paham jalan pemikiranmu, ge! Sungguh!"
Renjun menatap Chenle. Sungguh, andai saja ia bisa menutup mulut berisik Chenle dengan sepatunya, hal itu sudah pasti ia lakukan sedari tadi. Tapi, seorang Huang Renjun tidak mungkin melakukan hal konyol itu, kan?
"Apa perlu kutekankan sekali lagi? Bukan aku yang menggoda Jungwoo-hyung! Dia sendiri yang datang padaku! Lagipula Yukhei-ge juga tidak mencintainya! Lalu kenapa? Apa salahku jika aku jatuh cinta padanya?!" Renjun tak mau kalah. Ia tak pantas dijadikan tersangka. Hei, ia korban dalam kasus ini!
"Tapi kau tahu dia calon kakak iparmu! Oh God! Kemanakah Renjun, gege-ku yang berhati malaikat dan rasional?! Tinggalkan dia, ge! Tinggalkan!" Chenle mulai menjambaki rambutnya sendiri. Siapa yang tidak frustasi jika sahabatmu dengan bahagianya mau menjadi selingkuhan dari tunangan kakaknya sendiri? Dan parahnya ia bercerita padamu seolah-olah itu adalah hal yang mulia?
"Memangnya urusan hati menggunakan rasionalitas? Cinta itu bukan kehendakku. Ia datang dengan sendirinya. Katakanlah Tuhan yang memberikannya. jika sudah demikian, apa aku punya kesempatan untuk menghindar?!" sekali lagi Renjun membantah tidak terima. Sifat diplomasi khas pengacara miliknya mulai bangkit dan menguasai dirinya.
Chenle terdiam sejenak. Ia ikut menatap Renjun.
"Kau itu calon jaksa, ge! Kau akan menuntut untuk kebenaran! Memberi pertimbangan untuk menghukum kriminal! Lalu kenapa kau sendiri malah menjadi kriminal?!"
Tapi, jangan salahkan seorang Zhong Chenle, dia juga calon jaksa-jaksa penuntut umum.
Aargghhh.
Renjun mengusak rambutnya kasar. Ia frustasi dengan keadaan ini. Apa benar ia yang salah disini? Kenapa pula ia yang bersalah?
"Aku bukanlah kriminal, Chen. Cintaku yang kriminal!"
/.../
Yukhei melepas pearching di telinga kanannya yang ia rasa mulai terlihat kuno. Kemeja Jungwoo yang kebesaran melingkupi tubuh semampainya. Jangan kira ia belum mandi hanya karena kemeja putih yang ukurannya tidak sesuai dengan tubuhnya itu. Tentu saja ia sudah menyelesaikan aktifitas wajibnya itu. Dan sekarang tinggal mengganti pearchingnya lalu pergi pemotretan.
Greb!
Sebuah lengan yang amat Yukhei kenali melingkari pinggangnya dari belakang. Jungwoo. Memang siapa lagi yang berani memeluk singa macam Yukhei?
None!
"Lu..." Jungwoo memanggil rusa kecil-ah! Induk singa mungkin lebih tepat.
Tapi Yukhei tidak menoleh. Tidak akan! Bisa fatal jika-
Chu!
...ia menoleh.
Ck!
/flashback/
Yukhei berontak dalam pelukan Jungwoo. Ia sangat tidak nyaman! Kenapa jantungnya begitu menyebalkan? Oh God! Kenapa jantung ini begitu menyiksanya? Kenapa harus ada jantung orang lain dalam tubuhnya? Kenapa...jantungnya lemah sekali terhadap Jungwoo?
"Kenapa kau suka sekali memelukku?!" keluh Yukhei sambil terus memberontak.
"Karena dengan begini aku bisa mendengar jantungmu berdetak, aku akan bisa memastikan kau masih hidup dan tidak akan meninggalkanku"
Sumpah! Yukhei tidak mencintai Jungwoo. Hanya saja jantungnya...berdetak tak karuan pabila pria berambut hitam itu menatapnya, menciumnya atau memeluknya seperti sekarang.
Jika kalian bertanya, sebenarnya Yukhei itu mencintai Jungwoo atau tidak, sih?
Jawabannya...
...tentu saja tidak.
/flashback off/
"Apa kau hari ini ada pemotretan?"
Yukhei yang kini tengah sibuk mengancingkan kemeja putih yang kali ini kemeja miliknya sendiri menjeda gerakannya beberapa detik. Mengabaikan Jungwoo yang sedari tadi tak berhenti bergelut dengan tubuhnya. Oh God! Adakah makhluk yang lebih mesum dibandingkan Jungwoo sialan ini?
"Bisakah kau berhenti sementara aku menyelesaikan ini?" ucap Yukhei yang kembali sibuk dengan kancing-kancing kemejanya. Tak berniat menjawab pertanyaan Jungwoo. Ia yakin Jungwoo pasti sudah tahu jawabannya. Jadi, untuk apa lagi Yukhei menjawab pertanyaan bodoh macam itu.
Jungwoo tersenyum. Dan Yukhei melihatnya melalui cermin rias di depannya sekarang ini.
Degh.
Degh.
Degh.
Sungguh, Yukhei tidak menyukai keadaan dimana jantungnya berdetak tak terkendali seperti ini. Sakit. Rasanya sakit. Tanpa sadar Yukhei memegangi dadanya yang turun naik dengan cepat.
"Kau tidak apa-apa? Apa jantungmu sakit?"
Dan Yukhei terdiam. Merasakan tangan besar Jungwoo melingkupi tangannya yang menempel di atas dada sebelah kirinya. Menatapnya dengan tatapan khawatir. Tapi, Yukhei tetaplah Yukhei yang berpendirian jika dirinya tidak mencintai Jungwoo. Maka dari itu pemuda manis itu membalas tatapan khawatir Jungwoo dengan dinginnya.
"Kau sudah tahu jawabannya," ucapnya datar sembari menepis tangan Jungwoo dari dadanya.
"Lu..."
"diamlah jika kau tak ingin melihatku mati karena jantungku rasanya ingin melompat keluar dari tempatnya."
"Maafkan aku..."
Yukhei berjalan menjauhi Jungwoo setelah merapikan kembali penampilannya. Tapi Jungwoo juga tetaplah Jungwoo. Tidak ada yang berani melawan kehendaknya! Bahkan untuk singa semacam Yukhei. Ia kembali menarik tubuh Yukhei ke dalam pelukannya. Memeluknya erat tanpa peduli pada Yukhei yang memukuli dadanya brutal. Mencoba berontak.
"Lepaskan aku!"
"Bagaimana aku bisa melepaskanmu? Bagaimana jika aku melepasmu sekarang aku tidak akan bisa melihatmu lagi? Bagaimana jika aku melepasmu sekarang aku tidak bisa memelukmu lagi? Bagaimana bisa aku melepasmu jika aku mungkin saja akan kehilanganmu?" ucap Jungwoo sambil mepererat pelukannya.
Apakah Yukhei munafik?
Kenapa sekarang ia terdiam membeku?
Kenapa sekarang ia seolah pasrah menerima pelukan hangat Jungwoo?
Tidak!
Yukhei bukan orang munafik. Salahkan saja jantungnya yang lemah pada Jungwoo. Tidak, ini bukan jantungnya. Ini jantung orang lain. Yukhei tidak lemah! Ia akan menolak jika saja bisa. Tapi...jantung ini menyiksanya. Tubuhnya bahkan tak kuasa menolak keinginan jantungnya yang merasa nyaman dalam pelukan Jungwoo.
Sekali lagi. Salahkan saja jantungnya!
/.../
Renjun tengah berjalan menuju kampusnya ketika matanya tak sengaja menangkap pemandangan menyakitkan di seberang sana. Mungkin seharusnya ia tak melalui jalan ini tadi. Jadi ia tak perlu melihat sepasang kekasih yang tengah bergandengan mesra keluar dari lobi apartemen paling berfungsi di distrik Gang-Nam ini. Dua orang yang amat dikenalnya. Yang satu berstatus sebagai kakaknya dan satunya lagi...bolehkah ia mengatakan jika itu adalah kekasihnya?
Kekasihnya?
Ingin rasanya Renjun tertawa miris dalam hati jika mengingat seperti apa posisinya. Seorang selingkuhan dari tunangan kakaknya sendiri.
Tapi, tetap saja bagi Renjun ini bukan salahnya.
Apa masalahnya menjadi seorang kekasih dari tunangan kakakmu sendiri saat kau tahu jika kakakmu bahkan tidak mencintai tunangannya itu?
Tidak masalah bukan?
Ya, memang tidak masalah jika saja Renjun tidak bisa merasakan rasa sakit disaat-saat seperti ini. Ia sakit. Hatinya sakit. Terlebih saat melihat Jungwoo yang tersenyum pada Yukhei tanpa peduli pada kesakitannya.
Laki-laki itu...
Renjun ingin ini berakhir. Berakhir sesuai keinginannya. Dimana ialah yang seharusnya jadi pemeran utama dalam drama roman picisan ini. Bukan kakaknya ataupun orang lain. Tapi dirinya. Dan Jungwoo adalah miliknya.
Miliknya!
/.../
"Kubilang kau tidak usah mengantarku!" ucap Yukhei.
Jungwoo menggeleng.
"Bagaimana bisa aku membiarkan tunanganku pergi sendirian? Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Bukankah jantungmu sakit?"
Yukhei menghela nafas kesal.
"Terserah," ucapnya sembari mempercepat langkahnya dengan Jungwoo yang terus menggandeng tangannya. Percuma membantah kata-kata Jungwoo. Yukhei sadar akan hal itu.
/.../
"Ada apa denganmu, ge?"
"Hapanyah...?" ucap Renjun dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Chenle yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Tidak bisakah kau pelan-pelan memakan makananmu?"
Renjun memilih tak peduli. Ia terus melahap makanannya dengan terlampau semangat. Hanya sebuah bentuk pelampiasan rasa kesalnya. Kesal atau sakit? Entahlah, yang pasti sekarang Renjun perlu pelampiasan.
"Apa ini karena laki-laki berengsek itu?"
Uhuuuk!
Chenle dengan cepat meraih segelas air putih untuk kemudian ia berikan pada Renjun yang sibuk memukuli dadanya sendiri.
"Minum, ge!"
Renjun menurut. Ia meminum air itu hingga setengah gelas.
"Jadi, benar karena dia, kan?" ucap Chenle setelah memastikan Renjun sudah mulai tenang.
"Ya! Ya!Ya! Semua ini karena dia! Kau puas?!" ucap Renjun dengan tatapan kesalnya. Tak peduli pada orang-orang di sekitar mereka yang kini melihat ke arah mereka. Ia kemudian berdiri dari kursinya. Lalu berjalan pergi meninggalkan Chenle yang masih terdiam di kursinya.
"Kenapa kau begitu menyukainya, ge? Padahal dia selalu menyakitimu."
/.../
"Lama tak bertemu denganmu," ucap seseorang yang kini duduk di samping Yukhei. Yukhei yang wajahnya kini sedang di rias tak menoleh, hanya menyahut sekadarnya. Lebih memfokuskan perhatiannya pada pantulan wajahnya di cermin rias.
"Meski lama kulihat tak ada yang berubah darimu. Tetap sempurna...dari segala sisi,"
Yukhei tersenyum. Senyum tipis khas milik seorang Wong Yukhei.
"Sudah cukup," ucapnya pada perempuan yang merias wajahnya saat dirasa riasan wajahnya sudah sesuai dengan ekspektasinya. Ia kemudian menoleh pada laki-laki disampingnya. Masih dengan senyum khas miliknya.
"Kenapa? Apa kau ingin berkata jika kau kembali terpesona padaku?"
Itulah seorang Wong Yukhei. Ia terlahir dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Tak heran jika ia sekarang dikenal sebagai model top dengan kepercayaan dirinya itu. Dan ah, tentu saja itu semua juga tak lepas dari peranan tampilan wajahnya yang terlalu sempurna.
Laki-laki tampan yang duduk di samping Yukhei lantas tersenyum. Manis. Membuat laki-laki itu terlihat semakin tampan. Tapi, bagi Yukhei senyum itu terlihat biasa saja, cenderung hambar.
"Bagaimana mungkin aku tidak terpesona pada malaikat nyata sepertimu,"
"Hentikan, Jung Jaehyun! Aku sudah bertunangan."
"Ah, benar juga. Kenapa aku selalu lupa akan hal itu? Lagipula bukankah itu tidak penting. Selama kau belum mengikat janji dengan tunanganmu itu bukankah aku masih memiliki kesempatan?"
Yukhei tersenyum sinis.
"Kesempatan katamu? Lupakan saja!"
Yukhei berdiri lalu mengarahkan tubuhnya mendekati cermin rias. Sedikit membenarkan tatanan rambutnya yang terlihat berantakan. Tanpa ia duga Jaehyun tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang.
Reaksi Yukhei?
Ia sudah bersiap dengan hairdryer di tangannya. Jika saja Jaehyun tidak melepaskannya dalam waktu lima detik sudah dapat dipastikan benda mati yang terbuat dari alumunium itu akan menghantam kepala Jaehyun.
"Kau pikir apa yang kau lakukan, hah?!" teriak Yukhei.
Dan Jaehyun seperti orang idiot justru tersenyum lebar.
"Hanya sedikit pemanasan untuk adegan yang akan kita lakukan nanti,"
Yukhei mendengus kesal. Adegan sialan itu benar-benar...
Ia tidak bisa marah pada Jaehyun lebih dari meluapkan rasa kesalnya karena memang benar akan ada adegan pelukan dari belakang persis seperti yang dilakukan Jaehyun tadi dalam pemotretan mereka.
"Terserah,"
Yukhei melangkah lebih dulu tapi Jaehyun menahan lengannya.
"Oh, apa lagi Jung Jaehyun? Kau mulai mengesalkan kau tahu tidak?"
"Setelah ini bisakah kita makan siang bersama?"
Yukhei mengangkat alis kanannya tinggi. Merasa heran tentu saja.
"Bisakah kau berikan aku satu alasan kenapa aku harus menerima ajakanmu itu?"
Jaehyun sedikit mengerling.
"Anggap saja ini ajakan teman lama. Bukankah kita sudah lama tak bertemu. Kita hanya akan makan siang. Tidak ada salahnya, bukan?"
Yukhei memicingkan matanya. Berpikir sejenak.
/.../
Dan Jaehyun benar-benar menepati perkataannya. Ia benar-benar mengajak Yukhei ke sebuah restoran mewah setelah mereka selesai pemotretan untuk makan bersama. Yah, walau ini sudah tidak bisa disebut dengan makan siang karena sekarang sudah cukup sore untuk bisa dibilang siang. Dan itu semua karena waktu pemotretan berjalan lambat entah kenapa.
Ketika itu Yukhei tengah berjalan di samping Jaehyun. Kelereng gelapnya tak sengaja melihat Jungwoo yang entah kebetulan atau memang takdir berada di restoran yang sama dengannya. Dan saat melihat jika Jungwoo tak datang sendiri Yukhei hanya melemparkan senyum andalannya.
Mungkin ini adalah pemandangan yang sudah biasa ia lihat hingga ia tak terkejut sedikitpun, apalagi sakit. Meski di depannya sekarang ini Jungwoo tengah terlihat cukup mesra dengan seseorang yang ada di sampingnya.
Jika kalian bertanya apakah Yukhei cemburu?
Tidak! Tentu saja Yukhei tidak cemburu. Hanya saja, jantungnya mulai berdetak aneh dan Yukhei merasa tak nyaman dengan hal itu.
"Kupikir lebih baik kita mencari tempat lain," ucap Yukhei.
Jaehyun yang masih belum sadar akan situasi ini merasa bingung.
"Apa maksudmu? Aku sudah memesan tempat bagus untuk kita"
"Batalkan saja bisa, kan? Tempat ini terlihat membosankan." Ucap Yukhei santai.
Awalnya Jaehyun tak mencurigai apapun dan menyetujui permintaan Yukhei andai saja ia tidak sengaja melihat Jungwoo yang ia kenali sebagai tunangan Yukhei tengah bermesraan dengan seseorang di dalam restoran itu.
Bolehkah Jaehyun berteriak kegirangan? Ini kesempatan bagus baginya. Apalagi? Tentu saja kesempatan mendapatkan hati Yukhei.
"Kurasa kita tidak bisa," Jaehyun dengan sengaja mengeraskan suaranya. Tentu saja dengan niat agar Jungwoo bisa mendengarnya.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah menyiapkan hidangan spesial untukmu," ucap Jaehyun agak keras sembari sesekali melirik Jungwoo.
Dan sesuai kehendaknya, Jungwoo menoleh ke arah mereka.
Lalu tanpa membuang waktu lebih banyak lagi Jaehyun menarik pinggang Yukhei. Mengabaikan pekikan kecil sang pemuda manis. Lelaki tampan itu tanpa persetujuan mencium bibir Yukhei. Yang mana tentu saja membuat Yukhei terkejut.
Terkejut?
Reaksi yang wajar bukan jika kau dicium tiba-tiba seperti itu?
Hanya saja Yukhei memiliki kepekaan yang terlalu tinggi hingga membuatnya mengerti kenapa Jaehyun menciumnya seperti sekarang ini. Dan hanya butuh sepersekian detik untuk Yukhei membuang rasa terkejutnya. Ia kini mulai ikut dalam permainan yang diciptakan Jaehyun dengan mengalungkan kedua lengannya ke leher Jaehyun. Pemuda manis itu tersenyum miring di sela-sela ciumannya. Memejamkan mata sembari membayangkan kemenangan. Kemenangan untuk apa? Huh, entahlah. Intinya Yukhei menikmati semua in-
Sret.
Bugh.
"Berani sekali kau mencium tunangan orang lain?!"
Bugh.
Bugh.
Jaehyun harus merelakan wajah tampannya ternoda dengan pukulan bertubi-tubi Jungwoo yang tiba-tiba datang dan menghentikan adegan yang paling disukainya tadi.
Sedang Yukhei, ia hanya berdiam diri dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Menatap dua laki-laki yang kini saling baku hantam. Seolah apa yang dilihatnya sekarang adalah tontonan yang sangat menarik. Tak sedikitpun ia berniat memisahkan dua laki-laki itu.
Kedua laki-laki itu tidak akan berhenti jika saja petugas keamanan tidak datang dan menengahi.
"Sialan! Siapa kau, hah?! Berani sekali kau mencium milik orang lain?!" ucap Jungwoo murka.
Jaehyun yang sudah babak belur tetap tersenyum.
"Milikmu?" lalu tertawa kencang. "Kurasa dia juga menikmati apa yang terjadi tadi. Bukankah begitu, Wong Yukhei?"
Jungwoo menatap Yukhei yang terlihat santai dengan gaya angkuhnya.
"Kau lumayan juga," ucap Yukhei membuat Jungwoo makin naik pitam.
Laki-laki tampan itu melepaskan diri dari pegangan petugas keamanan yang menahannya dengan kasar lalu berjalan ke arah Yukhei. Yukhei masih dengan gaya santainya. Tak peduli pada wajah merah padam penuh amarah Jungwoo.
"Apa?" ucap Yukhei tanpa tersirat nada ketakutan disana. Justru terdengar menantang.
"Wong Yukhei!"
"Apa?"
"Apa kau sadar jika kau itu milikku?"
Yukhei tertawa sekilas.
"Karena ini?" sahutnya dengan mengangkat jemari kirinya dimana tersemat cincin perak putih di jari manisnya.
"Dengan atau tanpa ini, kau...tetaplah...milik...seorang...Kim Jungwoo!"
"Ah, aku tahu! Pasti karena ini, bukan?" ucap Yukhei lagi dengan menunjuk dada sebelah kirinya. "Dengar Kim Jungwoo, aku bukan orang yang akan peduli kau memiliki hubungan dengan siapapun bahkan jika itu termasuk dengan adikku sendiri. Tapi, jantung ini membuatku tidak nyaman setiap aku melihatmu dengan orang lain. Dan aku sangat membenci keadaan itu! Karena itu, jangan pernah muncul dihadapanku dengan para selingkuhanmu!"
Jungwoo terdiam. Yang ia lakukan kemudian hanyalah memeluk Yukhei erat.
"Maafkan aku..."
TBC
Maafkan keterlambatan Caca dalam mengupdate ff ini TT...rencana nya sih mau di update kalo reviewnya udah 10. Tapi apalah dayaku yg besok mau UN Dan mengalami kementokkan. Doakan UNku sukses yaaa. Untuk semua reviewersku, untuk Ummaku FieAnn yang telah menyelesaikan bagian akhir chapter ini. Caca mengucapkan banyak terimakasih
Untuk Renjun... Soal dia AMA Jeno atau siapa itu adalah Rahasia...
Kalau ADA timbunan kesalahan. Maafkan aku yaaa... Doakan aku diterima di SMA yang aku harapkan...
Mind to Review?
