Did You?
Chapter 2
Wong Yukhei, 23 tahun.
Setiap detik dalam hidupnya yang sempurna, pekerjaannya yang sebagai model, tunangan yang kaya dan tampan juga latar belakang keluarga yang baik, ia berpikir; Seharusnya ia mati saja waktu itu!
/.../
"Maafkan aku..."
Yukhei membiarkan tubuhnya direngkuh.
Membiarkan puluhan pasang mata menatapnya ragu. Oh ayolah! Yukhei adalah manusia paling acuh yang pernah ada! Apa bagusnya memerdulikan tatapan orang lain?
"Lepaskan," bisik Yukhei.
Pun Jungwoo tak sepenuhnya menurut. Hanya pelukannya saja yang melemah.
"Aku pulang dengan Jaehyun,"
"Tidak!" Jungwoo berucap setelah merenggangkan pelukannya.
Yukhei menepis tangan Jungwoo dari pundaknya.
"Kau ingin membunuhku?" ucap Yukhei dingin. "Aku tak ingin melihatmu sekarang, apa kau paham?!"
Jungwoo terdiam. Kehabisan kata-kata. Niat hati ingin membantah, tapi memaksa Yukhei dengan keadaan jantungnya yang abstrak, adalah membunuh Yukhei perlahan.
Jadi ia biarkah saja Yukhei menang.
Sungguh, hati Jungwoo serasa terbakar kala melihat Yukhei yang dengan santainya menggandeng lengan Jaehyun. Ditambah ekspresi mengejek Jaehyun yang ditujukan padanya. Argghh! Berani sekali Jung itu menyentuh apa yang menjadi miliknya! Akan Jungwoo pastikan laki-laki kurang ajar itu membayar mahal untuk penghinaan ini.
Dia hanya belum tahu, siapa Kim Jungwoo yang sebenarnya.
/.../
"Aku akan pulang sendiri,"
Begitulah kalimat yang didengar Jaehyun dari mulut Yukhei ketika mereka telah berada di luar restoran. Sesaat keningnya dibuat berkerut heran.
"Apa maksudmu? Bukankah kita akan pulang...,"
Yukhei berhenti berjalan. Pun, Jaehyun mengikuti.
"Kurasa pendengaranmu masih berfungsi dengan baik. Apa kau tidak mengerti dengan ucapanku barusan?"
Jaehyun mengerjap bingung.
"T-tapi...tadi?"
"Memang tadinya kubilang begitu, tapi sekarang tidak, apa kau mengerti?" ucap Yukhei tanpa perasaan.
"Tapi..., Yukhei..."
Dan sebuah taksi berhenti sesuai aba-aba Yukhei.
"Wong Yukhei!"
Yukhei tak mengindahkan panggilan itu. Ia memilih masuk ke dalam taksi yang ia pilih untuk membawanya pulang.
/.../
Malam sudah larut saat Jungwoo kembali ke apartemennya dan mendapati tunangannya yang tertidur tanpa selimut dengan AC yang disetel pada suhu rendah.
Jungwoo menatap punggung Yukhei yang sekali lagi terbalut selembar kemeja putih miliknya dengan sekelebat perasaan bersalah.
Kemeja itu...,
/flashback/
Dulu. Dulu sekali di bulan-bulan pertama Yukhei menempati kamar ini...,
Ia menangis setelah matanya terbuka dari tidur lelapnya. Ia menangis, dadanya sesak. Ia tidak mengerti apa alasan dari derai air mata itu. Yang ia tahu hanya keanehan. Seperti ada sesuatu yang salah dan perasaan itu menghimpit dadanya. Rasanya sesak dan..., sakit?
Lama Yukhei terdiam di atas tempat tidur dengan air mata yang terus berlinang. Tangannya tanpa lelah memukuli dadanya yang sesak. Berharap pada hasil yang hanyalah tinggal harapan pula.
Apa yang salah disini?
Kenapa begitu kosong? Begitu sakit?
Apa yang hilang dari Yukhei?
Jungwoo...,
Otaknya bersuara...,
Jungwoo...,
Jungwoo?
Yukhei memeluk lututnya sendiri. Menyimpan ketakutannya. Ia benar-benar tak akan melirik kesisian kasur. Tidak akan!
Tapi..., Yukhei menginginkannya. Ia ingin menemui faktanya. Ia ingin..., melihatnya...
Lalu kosong...,
Seharusnya tempat itu tidak kosong. Seharusnya Jungwoo ada disana. Seharusnya ia bisa melihat Jungwoo pagi ini. Seharusnya..., seharusnya...,
Tunggu!
Apa sekarang Yukhei merindukan Jungwoo?
Tidak!
Bukan seperti itu.
Demi apapun Yukhei berani bersumpah. Ia tidak merindukan laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya itu sedikitpun.
Hanya, dadanya...ah, bukan, jantungnya berdetak aneh. Ia seolah dibawa kedalam kesedihan yang janggal. Rasa sesak itu mencengkeram jantungnya hingga ia sulit menggapai napas. Sakit.
Air mata itu seyogianya berhenti mengalir. Tetapi justru semakin deras. Menganak sungai dipipi putihnya.
Hiks.
Hiks.
Ia ingin Jungwoo.
Ia ingin melihat Jungwoo.
Dan Yukhei membencinya. Membenci segala keinginan ini.
Yukhei menyibak selimutnya dan menghampiri lemari di sisian kamar. Mengobrak-abrik isinya..., mencari sesuatu.
Sekian menit...,
lalu menit yang lain...,
lalu tangisnya menderas..., hingga...,
Yukhei menemukannya!
Sebuah kemeja putih polos kesukaan Jungwoo. Yukhei memeluknya, sungguh memeluknya erat. Menangis tidak mengerti sebelum melepas piyamanya terburu-buru kemudian mengenakan kemeja yang ukurannya tidak sesuai untuknya itu.
Kemeja Jungwoo...,
Aroma Jungwoo...,
Hangatnya Jungwoo...,
Kutukan apa yang membuatnya merasa nyaman ... dalam balutan Jungwoo?
Yukhei merosot membelakangi cermin lemari. Memeluk kakinya yang telanjang. Menangis dalam tangisan yang panjang.
Lalu lelap menjemputnya.
Saat matahari sudah agak meninggi, Yukhei terbangun. Mendapati tubuhnya meringkuk dilantai dengan mata sembab. Yukhei melirik ponselnya di meja nakas sebelah kasur sesaat.
Lalu tanpa berpikir kembali ia meraihnya dan...
Bisakah ia mati saja?
Ia sungguh me-video call Jungwoo sekarang!
Tut...
Tuutt...
Tuuuttt...
Apa Jungwoo tidak akan mengangkat telponnya?
Tiba-tiba Yukhei merasa sakit, lagi.
Jangan! Sungguh ia tidak ingin menangis sekarang!
"Lu..."
Air matanya jatuh.
"Sialan...," gumam Yukhei
"Lu? Kau menangis?"
"Sialan kau, Kim Jungwoo! PULANGLAH SEKARANG ATAU AKU MATI KARENA JANTUNG INI...,"
Yukhei tercekat.
Suaranya seperti menghilang.
"Jantungmu kenapa? Apa kau baik-baik saja?"suara itu penuh kekhawatiran.
"Jantung ini menginginkanmu"lirih Yukhei tanpa melirik ponselnya.
"Kau merindukanku, ya?"goda Jungwoo sambil terkekeh. Wajah itu..., sungguh..., apa yang tepat untuk mendeksripsikannya?
"Tidak!"sahut Yukhei marah.
"Jangan menangis karena merindukanku, ne?"senyum Jungwoo disana, membuat jantung Yukhei berteriak, melonjak hingga ia tak mampu bersuara.
"..."
"Karena aku juga merindukanmu"
Brakk!
Yukhei membenamkan wajahnya pada bantal. Mengabaikan ponselnya yang retak karena menabrak dinding dan wajah Jungwoo yang masih bersemi dilayar.
"Aku akan ada disampingmu dan memelukmu malam ini, jangan menangis lagi, ne?"
/.../
Mungkin seharusnya...
...waktu kecelakaan itu...
...Yukhei mati saja...
...hingga tak perlu terjebak disituasi yang tidak ia inginkan seperti ini.
Dan...
...ia tidak akan perlu menerima jantung orang lain dalam tubuhnya...
Dan Yukhei pastilah sudah tenang sekarang.
Tanpa jantung ini. Tanpa detakkan ini.
/flashback off/
"Maaf.."bisik Jungwoo
Lalu dengan gerakan perlahan Jungwoo menaiki tempat tidur. Mengambil tempat di samping Yukhei.
"Jungwoo..."
"Ini aku..."
Yukhei tak membuka matanya saat itu. Hanya mulutnya yang bergumam pelan di alam bawah sadarnya.
Yang dilakukan Jungwoo kemudian adalah membawa tubuh Yukhei ke dalam pelukannya.
Chu
"Jika bisa pun, aku tidak ingin menyakitimu".
/.../
Renjun memutar bola matanya malas. Chenle kembali menemuinya. Apa pemuda Zhong itu tidak tahu jika Renjun sangat kesal padanya?
"Ge..."
"Mau menghakimiku lagi?"
"Tidak, Ge,"
"Ya! Ya! Aku memang tidak rasional, bodoh atau sebut saja gila karena berkencan dengan CALON KAKAK IPARKU!"
"Ge! DENGARKAN AKU DULU!"
"KAU TIDAK TAHU CHEN! TIDAK PERNAH TAHU APA ITU JATUH CINTA! LALU BAGAIMANA BISA KAU BEGITU MUDAH MENGHAKIMIKU?!" bentak Renjun penuh amarah sebelum ia meninggalkan Chenle sendirian. Lagi.
Desis angin berembus dan langit memendung membawa gelap. Pun dingin tiba-tiba menyergap.
"Aku pernah, Ge. Aku pernah," lirih Chenle entah pada apa.
/.../
Renjun menatap ponselnya frustasi. Ia butuh Chenle sekarang. Tapi kenapa sekarang? Kenapa saat keadaannya tidak baik, ia malah membutuhkan Chenle?
Oh skripsi sialan! Otak Chenle sialan!
Kenapa anak itu terlampau jenius? Ah! Atau mungkin Renjun saja yang terlalu bodoh hingga membikin skripsi sendiri pun tak mampu?
Hahh...,
"Halo?"
"Ada apa, Ge?"
"Aku membutuhkanmu"
/.../
Jungwoo yang tengah libur memilih menemani Yukhei ke dokter untuk memeriksakan kesehatannya. Memenuhi pemeriksaan rutin demi stabilitas jantung dari orang yang paling ia cintai. Jantung yang selalu berdetak untuknya. Benar-benar hanya untuknya.
Kim Jungwoo, 24 tahun. Kenapa ia begitu mencintai jantung itu? Siapakah yang sesungguhnya ia cintai? Jantung itu? ataukah Yukhei?
Jawabannya...,
Keduanya...,
Dalam dua definisi yang berbeda.
Cinta Jungwoo pada jantung itu seperti cinta dengan seluruh hidupnya. Cintanya berdetak bersama jantung itu. Jantung kekasihnya.
Sedang cinta Jungwoo pada Yukhei berarti, memilikinya penuh! Memilikinya hingga utuh tanpa satu apapun yang tersisa.
Karena itu, sampai kapanpun, Jungwoo akan memastikan Yukhei akan tetap bersamanya. Ia tak ingin lagi merasakan sakit karena kehilangan.
"Ayolah, ini tidak besar. Hanya sebuah pil kecil," bujuk Jungwoo pada tunangannya itu. Setelah mereka kembali ke apartemen Jungwoo harus berusaha mati-matian membujuk Yukhei agar mau meminum obatnya.
"Tidak!" Tapi, sekeras apapun Jungwoo mencoba Yukhei tetap menolak.
"Kata dokter, kesehatanmu menurun. Ini akan membuatmu lebih baik."
"Tidak. Kim. Jungwoo! Kubilang. Tidak!"
"Kau bisa semakin sakit,"
"Baguslah. Dengan begitu aku bisa cepat mati dan lepas dari semua rasa sakit ini!"
"Mati! Mati! Tahu apa kau soal mati?! Memangnya dengan mati dan meninggalkanku semuanya akan baik-baik saja?!"
Yukhei terdiam. Dengan mata mengerjap dan tubuh bergetar ia menatap Jungwoo tak percaya. Dadanya naik turun dengan cepat membuat napasnya tak beraturan.
Apa ini? Apakah benar Jungwoo membentaknya? Dan kenapa pula jantungnya berdetak begitu keras?
"Lu..."
Dan sebiji air mata jatuh.
Tidak! Yukhei tidak menangis! Ia masih menatap Jungwoo dengan segala keangkuhannya. Ia masih bertahan disana.
"Sungguh, aku..., tidak bermaksud membentakmu,"
Bulir-bulir air mata kian deras meluncur. Mengaliri pipinya. Tapi tak sedikitpun Yukhei bergeming. Ribuan kebencian tengah ia salurkan dalam setiap jengkal pandangnya. Dan Yukhei meluncurkan air matanya lagi.
Jungwoo menggapai tubuh Yukhei dan memeluknya erat. Kali ini Jungwoo yang menangis. Ia menangis dalam senyap yang lengkap. Dalam isak yang tenggelam bersama detak.
Apa Jungwoo harus menyerah? Ia tidak ingin melepaskan Yukhei, tidak, ia tidak bisa melepaskan Yukhei. Tapi, menahan Yukhei tetap di sisinya mungkin akan semakin menghancurkannya. Dan, sejujurnya, Jungwoo tidak bisa melihat Yukhei terluka.
"Maafkan aku..., maafkan aku...," bisik Jungwoo pelan. Nyaris tak terdengar.
Ting tong.
Jungwoo menarik tubuhnya menjauh saat mendengar suara dering bel pintu apartemennya. Mengecup pelan bibir Yukhei yang memerah karena digigit empunya.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kau hanya perlu tetap bertahan di sisiku dan kita akan bahagia,"
Dan Jungwoo melangkah pergi mendekati pintu.
/.../
"Aku akan berusaha menjaga Denis sebisaku, hyung tidak perlu khawatir."
"Apa benar tidak apa-apa, Jungwoo-ya?"
"Aku bisa ambil cuti kapanpun aku mau. Urus saja perceraianmu dengan tenang. Lagipula hanya tiga hari, bukan?"
"Tapi ini bisa mengganggumu dan Yukhei,"
"Kami akan senang bersama Denis. Benar kan, Lu?"
Yukhei memicing ketika Jungwoo menatapnya disertai sebuah senyuman. Oh ayolah, ini tidak baik!
"Ta-"
"Dia setuju,"
Kim Jungwoo sialan! Kenapa kau selalu seenaknya sendiri?!
/.../
Jungwoo. Yukhei. Denis. Satu ruangan. Kiamat.
Bisa dibilang inilah yang disebut realita yang fiktif. Dimana Yukhei dan Denis selalu kucing-kucingan, Jungwoo yang merasa mengurus dua bayi dan mereka belum makan sedari pagi.
Dan ketika Jungwoo mulai frustasi...
"Aarghhh...panggil saja Renjun untuk mengurusinya!"
Yukhei menyadarkan Jungwoo mengenai sesuatu...,
"Kita belanja,"putus Jungwoo pada dua makhluk hidup yang sedang bermain dengan sukacita.
"Ta-"
"Seperti katamu, Lu. Bersama Renjun"
Dan Yukhei hanya mampu tersenyum setelahnya.
/.../
17:58 KST
Lotte World Apartement, Lotte World Tower, Jamsil, Seoul.
Renjun tengah sibuk berkutat dengan laptop kesayangannya ketika bel apartemennya ditekan sedemikian sopan.
Renjun terdiam sebentar. Melirik pintu kamar mandi di ujung dekat tangga.
"Chen! Bisa kau cepat keluar dan buka pintunya?!"
"Ani, ge! Tanggung!" terdengar sahutan Chenle dari dalam kamar mandi.
Renjun berdecak sekali lalu bangkit dan berjalan dengan kesal ke arah pintu.
Ceklek.
Glek.
Renjun terpaku. Menatap tak percaya siapa yang ada di depannya sekarang.
"J-Jungwoo hyung..." oh, Renjun bukan tengah merasa gugup karena takut lantas suaranya terbata. Ia hanya merasa heran pada Jungwoo yang tidak seperti biasanya. Jungwoo yang biasanya akan langsung masuk ke dalam apartemennya tanpa menekan bel terlebih dahulu. Tapi sekarang?
"A-ada apa, hyung? Tidak biasanya Hyung datang dengan cara seperti ini,"
Jungwoo hanya mampu tersenyum sambil melirik Denis yang berada di sampingnya.
"Siapa dia?" tanya Renjun yang matanya ikut melirik ke arah Denis.
"Denis. Namanya Denis,"
"Tapi, apa yang membawa Hyung datang kemari?"
"Maukah kau pergi bersama kami?"
Renjun melirik kamar mandinya sekali lagi.
"Kau tidak sedang menolakku, bukan?"
"Tentu saja tidak!" jawab Renjun langsung tanpa pikir panjang.
Sekali lagi Jungwoo tersenyum.
Oh, tidak. Jangan lagi...,
/.../
Jika saja Renjun tahu akan berakhir dengan luka, maka ia tidak akan bersuka hati mengikuti Jungwoo seperti sekarang. Terduduk di jok belakang bersama kehampaan.
Ia bersama rasa sakit yang menggetarkan sekarang.
Hahh...,
Andai saja Yukhei tidak pernah ada-ah! Tidak! Andai Yukhei mati saja waktu itu!
Andai Jungwoo mau meninggalkan Yukhei...,
Andai Jungwoo mau memerjuangkannya lebih...,
Seandainya Renjun tidak jatuh cinta...,
"Renjun-ah, kau menangis" ujar Yukhei datar, sesungguhnya ia khawatir. Dan wajahnya tak mampu berbohong.
Dasar tsundere!
Dan Renjun terdiam. Skeptis.
Dan Jungwoo meliriknya melalui spion.
Dan Denis menatapnya tak suka.
Dan Renjun tersenyum. Manis.
Dan Yukhei curi-curi lirik.
" Aku hanya sedang terpikir sesuatu, Ge"
'Terpikir cara untuk menebus luka ini'
/.../
Renjun berjalan sambil mendorong troli belanja sementara Jungwoo berada disisinya bersama Denis. Lalu kemanakah, Yukhei?
Sekalipun Renjun berharap Yukhei melebur saja dengan bumi, harapan tak pernah terkabul.
Yukhei berada dibelakangnya. Berjalan pelan sambil memainkan ponsel seenaknya.
Lama waktu mereka tempuh dalam keheningan, sesekali memang Denis merengek minta turun. Tapi selebihnya, hening memenuhi lingkup semesta mereka, hingga...,
"Jiùmā?"
"Hm?" Jungwoo menyahut Denis yang tiba-tiba menunjuk kearah belakang.
Disana. Yukhei sedang terduduk. Memejamkan mata dan mengatur napasnya.
"Lu...,"
Jungwoo mendekat, berjongkok tepat disampingnya.
Denis turun dari gendongannya, memeluk Yukhei erat.
"Jiùmā, jangan sakit"
Dan...,
Sesungguhnya...,
Renjunlah yang sakit disini.
/.../
Renjun berjalan beriringan bersama Yukhei sementara Jungwoo mendorong troli belanja dengan Denis yang duduk di kursi bayi troli. Renjun menatapa 'masa depannya' dengan senyum malu-malu, mengintip diantara celan bahu tegap Jungwoo, ingin melihatnya. Sungguh, Renjun rindu wajah itu.
Yukhei masih memainkan ponselnya, acuh, padahal ia sakit.
Pun masih bersikeras ikut.
Cih! Harusnya dia pergi ke kuburan saja!
Dan kemudian dering ponsel mengalihkan perhatian Renjun.
Sebuah panggilan dari Chenle.
Oh God! Renjun baru ingat jika ia sudah meninggalkan pemuda imut itu di apartemennya sendirian tanpa pemberitahuan pula.
"Yeobose-"
"Yak! Pergi kemana kau, hah?! Kenapa aku ditinggalkan sendirian?!"
Terdengar teriakan dari seberang bahkan belum sempat Renjun menyelesaikan kalimatnya.
"Aku...aku sedang di Lotte," ucap Renjun tenang seolah ia tak melakukan kesalahan. Ia tak tahu saja jika Chenle tengah mengamuk dengan wajah memerah karena kesalnya.
"Mwo?! Lotte Departement Store?"
"Uhm, ya..."
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Itu..."
"Beri aku 5 menit!"
Tut.
Sambungan terputus begitu saja.
"Kau ingin tetap disini atau pergi?"
Renjun yang masih mengerutkan kening sambil memandangi layar ponselnya lantas tersadar karena sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir kakaknya.
Renjun berpikir lama, tapi serelah melirik Jungwoo, hatinya tergetar.
Aku inginnya pergi ... tapi,...
"Aku akan tetap disini,"
Yukhei yang kini mengambil tempat disamping Renjun menatap Jungwoo yang berdiri lumayan jauh dari mereka, masih bersama Denis.
'Begitu, ya?'
/.../
Yukhei menatap horor Denis yang menarik-narik celananya setelah memaksa turun dari troli.
"Main"kata bocah 3 tahunan itu sambil menunjuk area game center.
Baru saja Yukhei hendak berkata, sebuah teriakkan telah mendahuluinya.
"Yak! Huang Renjun!"
Dan rupa-rupanya itu adalah Tuan Muda Zhong Chenle yang terhormat.
"Chen?!" Renjun menatap horor pada seseorang yang baru saja berteriak dan kini berjalan tergesa ke arahnya.
"Ge! Tega sekali kau padaku."
"Bukan begitu, Chen,"
"Meninggalkanku sendirian tanpa pemberitahuan apa itu namanya kalau bukan tega?"
"Aku...itu..."
Chenle menangkup pipi Renjun dan mengunci pandangnya.
"Kau bilang kau membutuhkanku, lalu kenapa meninggalkanku seperti ini?"suara Chenle melembut, melumerkan hati siapapun yang mendengarnya.
Renjun terdiam tanpa sepatah kata.
Apakah Renjun melakukan kesalahan, lagi?
/.../
Setalah adegan lovely-dovey Renjun bersama Chenle, semuanya terasa awkward dan janggal. Tiba-tiba saja semuanya terlewati, tiba-tiba saja Yukhei sudah duduk dikursi istirahat dan Denis pergi bermain bersama Renjun-juga Chenle. Yukhei menghela napasnya lelah, jantungnya sudah berdenyut tak karuan karena terus berjalan.
"Jangan ragu untuk bersandar padaku, jika kau lelah..., Lu"
Yukhei menahan getaran dalam dadanya, seluruh ungkapan Jungwoo selalu menjadi mantra yang membunuh Yukhei setiap saat,
Tapi, Yukhei mengingat betapa indah kerlip cinta dimata adiknya saat menatap tunangannya. Begitu pilu senyum yang membiru dibibirnya. Renjun tidak mengerti apapun, dan dia tidak perlu mengerti.
Yukhei sungguh tak ingin Renjun menderita luka. Sungguh! Percayalah!
/.../
Yukhei duduk sambil memeluk toples camilannya didepan televisi. Sesekali melirik Denis yang sibuk dengan mainan dan biskuitnya. Semuanya bersikap sewajarnya. Seolah Denis tidak ada. Seolah Yukhei sendiri seperti biasanya. Seolah berita di televisi begitu menarik saja.
Hmmm...,
Kemana Jungwoo?
"Ada urusan katanya" sahut Yukhei saat Denis menanyakan keberadaan paman tercintanya.
/.../
Jungwoo membiarkan tubuhnya dipeluk begitu posesif, membiarkan bibirnya dijamah begitu ambisius, membiarkan setiap jengkal tubuhnya bersentuhan, juga membiarkan telapak tangannya menyentuhi setiap inchi tubuh patnernya.
Lalu ketika lelah menyergap diantara mereka. Salah satunya ambruk dalam keheningan.
Jungwoo melirik tubuh Renjun yang diselimuti kain tebal seperti kepompong. Meneliti jejak-jejak kemerahan di selangkanya. Menatapi wajah sayu menggemaskan yang dimiliki si rambut merah.
Sekelumit perasaan bersalah kembali menyergap.
Jungwoo pun mendekati wajah itu. Mengecupnya perlahan.
" Maaf, tapi aku tidak bisa melepasmu sekarang"
/.../
Jungwoo memasuki apartemennya pukul 02:00 KST. Mendapati dirinya begitu terlambat dalam absesnsi keberadaannya dirumah.
Jungwoo memasuki kamarnya.
Degh.
Apa yang sebernarnya Jungwoo lakukan?
/.../
Jungwoo mendekati kasur, menatap sendu pada dua makhluk terkasih yang kini tertidur saling memeluk. Yukhei dengan kemeja Jungwoo dan Denis dengan piyama kecil bergambar Doraemon.
Seberkas ketakutan menyelimuti Jungwoo. Berapakah yang telah ia sakiti?
Berapa?
Berapa yang telah hancur karenanya?
Jungwoo menaiki kasur berbalut kain warna abu itu. Menarik Yukhei dan Denis diantara mereka kedalam pelukkannya.
"Sesaat saja, aku ingin memiliki kalian seutuhnya"
Dan suara itu terbang bersama angin paling dingin di musim ini...,
TBC
percayalah ff ini udah diedit, udah ada cuap cuapnya panjang banget tapi gak ke save -_-
langsung aja, caca mau nge remake ff ini gegara peminatnya dikit-_-
tolong saranin pair ya :v
pokoknya tengseu very much buat yng review :v
