Kuroko No Basket

By Fujimaki Tadatoshi

STORY milik AUTHOR Levy Aomine Michaelis

SETTING: Class of Teiko High School

MAIN CHARACTER:

Kise Ryouta, Akashi Seijuuro, Aomine Daiki, Haizaki Shougo, Takao Kazunari, Momoi Satsuki, Midorima Shintarou.

READ AND REVIEW

~Happy Reading~

.

.

.

KORBAN KEDELAPAN: AKASHI SEIJUURO

Kamis, hari ketiga atau hari terakhir permainan secret devil...

.

.

.

Bagai semut mengerubungi gula. Mungkin ini adalah pengandaian yang cocok untuk situasi saat ini. Para siswa-siswi yang baru saja pulang dikejutkan dengan kejadian fenomenal yang bak akan jadi sejarah di Teiko Gakuen. Mereka semua yang ingin tahu segera mendekat, bahkan ada yang langsung selfie dan mengabadikan nya di aplikasi facebook atau instagram mereka. Namun semua kehebohan itu tiba-tiba mereda saat dua sosok fenomenal berhasil membelah kerumunan menjadi dua. Akashi dan Kuroko awal nya niat ingin jalan malah di kejutkan dengan objek yang jadi perbincangan hangat detik itu.

Akashi menatap diam tak percaya pada mobil mewah yang sedang parkir di depan nya, semua kerumunan sudah bubar karena di todong gunting oleh Akashi. Kuroko—sang pacar ikut tak bicara karena sedang sibuk menyesap milkshake nya. Sang empu mobil memutar untuk melihat kerusakan dan hanya satu benda yang terkena rusuhan mendadak pada mobil nya, KACA! .Ya.. Kaca-kaca yang menempel di mobil mewahnya itu sudah di kotori oleh orang misterius yang benar-benar sedang cari mati di tangan nya.

.

BAKASHI BAKASHI BAKASHI BAKASHI BAKASHI BAKASHI BAKASHI BAKASHI

.

.

Tulisan berisi hinaan sederhana dengan di sertai emot gambar kancut dan pakaian dalam wanita ikut menghiasi kaca depan mobil Akashi. Tak tanggung-tanggung, semua karya indah itu di tulis dengan cat pilok warna-warni permanen merk abal-abal. Akashi tahu itu, karena si pelaku meninggalkan kaleng cat semprotan tersebut di tempat kejadian.

"Sei-kun, ini kerjaan devil mu." Sahut Kuroko polos.

"Aku tahu Tetsuya. Aku juga sudah menunggu orang ini menjemput sendiri malaikat maut nya." Akashi tersenyum mengejek.

Akashi mengambil sapu tangan nya, kemudian memunggut kaleng cat tersebut lalu di masukkan pada plastik yang di ambil nya dari dalam mobil.

"Untuk apa kau memunggut sampah itu Sei-kun?"

"Aku akan membawa nya ke kantor polisi agar bisa di identifikasi pelaku nya lewat sidik jari." Akashi menjawab dengan wajah serius lalu menyimpan semua itu di bagasi mobil.

"Jangan di bawa serius deh Sei-kun. Kan gak lucu kalau pelaku nya nanti jadi tenar di TV lalu sekolahan kita akan penuh wartawan. Aku belum siap kalau harus di rekrut jadi model Sei-kuuuuun..." Kuroko mengeluh dengan nada manja di akhir, membuat Akashi merinding geli.

"Kau habis minum milkshake yang salah Tetsuya." Balas Akashi.

"Enak saja Sei-kun." Kuroko balik pada diri nya yang semula.

Daripada memperpanjang masalah dengan kealayan Kuroko yang sempat nyelip sesaat, Akashi segera memacu mobil nya menuju bengkel terdekat sebelum para murid lain melihat keadaan mobil nya lagi. Kuroko yang duduk pada kursi di samping nya lagi ngambek, soal nya Akashi menolak untuk membelikan nya milkshake tambahan.

"Tentang kantor polisi tadi aku serius Tetsuya. Tapi aku janji tidak akan membawa mereka dalam masalah ini. Aku hanya ingin tahu siapa pelaku nya." Kata Akashi selagi menyetir.

"Terserah saja." Jawab Kuroko jutek.

Tak lama kemudian handphone Kuroko berdering, Kuroko mengangkat dengan ogah-ogahan. "Um? Iya rencana kalian berhasil kok. Iya Sei-kun kesal sekali karena nya—" Akashi noleh sebentar saat namanya di sebut. "Iya-iya aku tunggu janji kalian. Tentu saja. Ya sampai jumpa." Kemudian handphone di tutup dengan si merah yang sudah menatap nya dengan rasa penasaran. Beruntung sedang di lampu merah jadi mobil nya sedang berhenti.

"Telepon dari siapa Tetsuya?" Tanya nya.

"Mau tau saja." Kuroko masih menjawab jutek.

"Itu pasti Devil ku kan? Aku tahu kau terlibat dalam semua ini."

"Mereka Cuma meminta info dari ku!" Kuroko mulai gerah.

"Baiklah kalau begitu katakan, siapa mereka?" Lampu hijau sudah menyala, Akashi mau tak mau lanjut menyetir. "Cepat beritahu aku Tetsuya." Pinta nya tanpa menghilang kan fokus pada jalanan.

"Tidak tahu Sei-kun."

"Tolong jangan membuatku memaksa mu Tetsuya!"

"Aku benar-benar tidak tahu Sei-kun."

"Lalu yang menelpon mu tadi siapa? Sini berikan HP mu." Akashi menjulurkan tangan di jalur lambat kemudian ia menepi kan mobil untuk masuk bengkel. Kebetulan bengkel itu sepi jadi mobil nya tak perlu antre.

"Tidak mau!" Kuroko menyembunyikan HP nya kemudian langsung turun dari mobil. "Aku jalan dari sini saja, jaa!" Kuroko langsung banting pintu meninggalkan Akashi yang kaget dengan kemarahan pacar nya.

"Tungggu Tetsuya!" Akashi tidak tinggal diam, ia mengejar Kuroko keluar.

"Ganti semua kaca mobil ku dengan yang baru!" Titah nya melesat pada sang montir sebelum ditinggal untuk mengejar Kuroko.

"Tetsuya tunggu!" Pekik Akashi.

Kuroko sudah memberhentikan taksi dan membuka pintu mobil, "Tetsuya dengarkan aku dulu, ini perintah!" Pekik Akashi lagi dengan nada keabsolutannya.

"Ini bukan lapangan basket Akashi-kun! Lagi pula aku sudah tahu kelemahanmu!" Kuroko balas memekik sebelum akhirnya masuk taksi. Akashi yang mengejarnya terlambat beberapa detik sebelum taksi itu berjalan.

"SIALAN!" Ketus Akashi tanpa memperhatikan sekitar. Namun aura suram yang begitu mencekam membuat warga yang tadi sibuk menonton drama mereka berdua jadi takut dan kabur secepatnya dari TKP.

Akashi kembali ke bengkel. Dahi nya berkerut menahan kesal. Jika ditanya salah siapa , tentu nya ia akan menyalahkan Devil—yang bertugas membuat nya sampai seperti ini.

.

.

.

Sepulang dari bengkel Akashi langsung mampir kerumah Kuroko, namun sang kekasih tercinta malah tidak ada di rumah. HP milik Kuroko juga tak bisa di hubungi, begitu juga teman-teman nya yang lain bahkan Ogiwara dan Kagami yang merupakan teman dekat Kuroko ikut menon-aktifkan HP nya.

"Astaga, mereka serius sekali tentang ini." Akashi memijat kepala nya yang mulai pening, ibu Kuroko yang sempat menawarkan untuk masuk di tolak nya halus. Ia bahkan belum sempat makan siang karena kejadian tadi dan Akashi yang biasa nya makan teratur mulai merasa panas di ulu hati nya.

Ia mencoba tenang. Akashi memasuki mobil nya dan melanjutkannya perjalanan nya kembali kerumah. Percuma juga ia mencari Kuroko kemanapun, toh besok juga pasti ketemu di sekolah.

"Tadaima." Guman nya lesu saat memasuki rumah nya. Namun, ada yang aneh.

Kemana pelayan-pelayan yang biasa nya langsung menyapa Akashi saat dia tiba?

"Tanaka-san?" Panggil nya tegas, namun ruangan itu masih saja lenggang tanpa ada nya tanda-tanda kehadiran manusia selain dirinya. Akashi menghela nafas, ini bukan masalah serius jadi ia tak perlu emosi.

Bunyi langkah dari sepatu nya terdengar hingga ia menaiki tangga, masih saja ia tak bertemu siapapun.

Apa mungkin rumahnya lagi kemalingan dan semua pelayannya sedang di sekap?

Ah itu tak mungkin terjadi, karena seekor kucing yang menyusup pun bisa tertangkap oleh Tanaka, apalagi maling.

Walau begitu, Akashi tetap saja penasaran akan pergi nya semua orang itu, rumah menjadi sangat sepi. Ia melirik kamar Tanaka yang berada di dekat tangga, kemudian membuka nya perlahan, mungkin saja pelayan setia keluarga nya itu sedang sakit kan?

Namun, hasil nya nihil. Begitu juga di ruangan lain termasuk dapur dan gudang.

Akashi menghela nafasnya, ia bukan nya menyerah mencari hanya saja tubuh nya sekarang lelah dan lapar. Ia pun memutuskan untuk masuk kamar, lagipula hari sudah mulai gelap dan Akashi harus segera mandi.

Krek~

Pintu kamar di buka. Akashi mengeryitkan dahi saat melihat keadaan yang begitu gelap dalam kamarnya. Seingat nya tadi pagi Tanaka sudah membuka tirai kamar nya, kenapa jadi tertutup begitu?

Akashi mencoba menyalakan lampu kamar nya, ia meraba di dinding sebelah kanan nya dan menemukan sakelar yang di cari.

'Tap!'

Dengan sekali tekan cahaya langsung keluar dari langit-langit kamar nya yang serba merah, mata Akashi langsung membulat dan tas yang di tenteng nya tanpa sadar jatuh ke lantai karena melihat pemandangan sedap yang ada di kasur nya.

Sebuah perayaan kecil yang seperti nya sudah disiapkan oleh teman-temannya. Ulang tahun Akashi yang ke -17 dengan properti balon tulisan 'Happy Birthday' di sisi atas ranjang dan berbagai balon warna-warni plus kue mewah yang ada di tengah-tengah kasur nya menyapa pengelihatan nya, namun fokus nya adalah sesuatu yang ada di atas kasur King Size nya.

"Ha-happy Birthday Akashi-kun." Suara halus nan malu-malu itu menyapa dari balik kue. Akashi termanga melihat nya, untuk kali ini saja dia berekspresi seperti orang bodoh.

"Tiup kue nya dan terima lah hadiah ulang tahunmu Akashi-kun." Ujar Kuroko malu-malu lagi. Kenapa?

Karena Kuroko lah yang menjadi hadiah ulang tahun Akashi, dengan tubuh mulus berpakaian ala Maid yang di ikat dengan tali pita ala bondage dan pipi yang merona malu membuat Akashi tak setengah tak percaya dan tak sabar untuk menerkam hadiah nya teristimewa nya itu.

"Ya Tetsuya, ini kejutan yang bagus."Akashi menyunggingkan seringai lebar nya.

...

Kejadian sial tak selalu berujung sial, Akashi memang di kerjai namun semua itu memang ada hikmah di baliknya. Nah, lihat saja ia sekarang bisa nikmat menunggangi maid kesayangan nya di hari ulang tahun nya ini kan?

Khukhukhu~ Tamat.

.

.

.

.

.

Nantikan kelanjutan cerita nya pada sequel nya ya ^_^