You are Mine
.
.
Vocaloid belong to Yamaha
But This Fanfiction is Mine
Warning! This fanfiction is only fiction!
This fiction contain rate- M
Mature and vulgar content
If you are underage, please don't read it!
.
Chapter 2: Meet Trouble
.
Yamaha Hall, 09.00
.
"Gyaa! Hentikan Riinnn!" teriak Len karena Rin s berusaha memasukan mulut botol tabasco kedalam mulut Len. Gadis pirang se- dagu itu menindih tubuh Len diatas karpet belurdu coklat dibawahnya sambil s berusaha menyingkirkan kedua tagan Len yang berusaha menghalangi aksinya.
"Ini akibat salahmu bodoh!" balas Rin kesal. "Aku sudah susah- susah rekaman dan mengatur nafasku dampai kelelahan dan kau malah menghancurkan bagian intronya! Gara- gara kau kita harus menunggu lama untuk rekaman lagi baka!"
"Gyaaa! Kaito- nii! Meiko- nee! Tolong aku!" teriak Len panik sambil sambil tangan menghalangi Rin.
Bukanya menolong, Kaito dan Meiko hanya tertawa melihat aksi kedua bocah berusia 12 tahunan itu. Bukan hanya mereka berdua, beberapa Vocaloid yang ada diruang istirahatpun turut tertawa melihat mereka.
Dalam ruang istirahat luas itu, para Vocaloid dimanjakan dengan fasilitas yang serba lengkap. Ruangan berada disisi paling timur Yamaha Hall dengan dinding- dinding berupa kaca dan berbatasan dengan taman barat, menyuguhkan pemandangan taman yang nampak hijau asri nan terduh di kota sepadat Tokyo. Ruangan seluas 1,4 hektar berlantai batu marmer hitam ini dilapisi karpet beludru berwarna coklat bermotif kulit harmau. 4 tv 42 inch yang 2 diantaranya bisa digunakan untuk bermain game ataupn karaoke, sofa- sofa modern bermerk, ac di 4 sisi ruangan, rak dengan buku- buku baik pengetahuan, kulkas besar, lukisan, foto- foto para Vocaloid, darts, dan mesin penghangat. Para Vocaloid biasanya berada ditempat ini untuk beristirahat ataupun menunggu jadwal mereka. Seperti Rin dan Len yang menunggu perbaikan rekaman mereka, Luka yang menunggu pelatih koreografinya, Meiko dan Kaito yang akan syuting video klip dan masih banyak lagi.
"Luka- san?" Gakupo yang barusaja datang menyapa Luka terlebih dahulu. Laki- laki tinggi bersurai ungu panjang ponytail layaknya seorang samurai itu menyuguhkan senyuman hangatnya pada Luka yang sedang berkosentrasi untuk menembakkan darts di papan target yang jaraknya sekitar 1,6 meter dari tempatnya berdiri.
"Ah, Gakupo sudah datang. Lama tidak bertemu. Ada keperuan apa hari ini?" tanya Luka sambil menghentikan aktivitasnya sementara. Ia mengadahkan kepalanya agar bisa menatap wajah laki- laki tinggi yang berjalan kearahnya. Gakupo kemarin tidak ikut konser di Tokyo Dome akibat ia harus menjadi perwakilan Jepang di acara musik Belanda. Nampaknya ia baru sampai pagi ini dan langsung bergegas kemari. Wajahnya memang nampak segar, namun ia belum sempat mengganti kemeja putih bergaris- garis lurus coklat muda vertikal dan celana hitam yang juga dikenakanya saat di Belanda kemarin. Hanya sepatu pantofel hitam yang kini berganti dengan sepatu New Balance berwarna coklat gelap bertali hitam.
"Latihan pedang untuk video klip selanjutnya. Kaito- kun! Meiko- chan! Apa kabar?" panggil Gakupo pada Kaito dan Meiko yang berada jauh darinya dan Luka.
"Ou! Gakupo- kun!" jawab Meiko sambil melambaikan tanganya dari arah sofa depan tv.
"Kau sudah pulang terong!" tambah Kaito senang.
"Ya!" balasnya. Luka melirik Gakupo dari sudut matanya kemudian memfokuskan pandanganya pada sasaran dihadapanya lagi. Sudah beberapa kali ini ia meleset mengenai target dan hanya satu darts yang mendapat poin 10. Bisa tidak kosentrasi dia jika melihat senyum laki- laki bersurai ungu itu. Untung saja ia sedang mengalihkan pandanganya kearah lain untuk menyapa Vocaloid lain.
Gakupo memang terkenal murah senyum meski kadang agak ceroboh. Ia memang sering digambarkan sial di beberapa video klipnya, seperti sering dibully anggota Vocaloid lainya, tama Luka. Ia sering digambarkan sial pula bersama Kaito. Namum dalam beberapa proyeknya belakangan ini ia digambarkan sebagai laki- laki yang bisa membuat banyak wanita jatuh hati. Sosoknya didunia nyata seolah berada sama persis dengan yang di video klip. Gagah dan baik hati. Dan itu sangat Luka sukai meski dalam diam. Hubungan antar anggota dilarang memang di Vocaloid meski beberapa memang sangat dekat dan memulai hubungan backstreet. Contohnya seperti Meiko dan Kaito. Keduanya memang di video klip sangat bertolak belakang. Ceroboh dan sangat galak. Namun realitanya, Kaito adalah laki- laki yang bisa Meiko andalkan dan bisa menjadi tempat berlabuh. Kaito sama seperti Gakupo, dewasa dan tenang. Mereka sangat tenang dalam menghadapi fans yang agresif dan dapat menghindar dengan mudah. Dan Luka bisa jatuh hati pertamakali pada Gakupo karena dulu Gakupo berhasil menyelamatkanya dari kejaran hyper fans sampai dirinya sendiri terkena masalah. Padahal dirinya sendiri dulu adalah orang baru. Vocaloid memang sering melakukan aksi bermesraan di video klip mereka seperti berpelukan, ciuman atau melakukan hal yang bersifa dewasa. Namun hal itu mereka lakukan atas tuntutan pekerjaan dan mereka sering menggunakan pemeran pengganti ataupun menggunakan efek editan visual. Mereka terlihat melakukanya, namun kadang tidak semuanya benar. Khususnya Rin, Len dan Miku, serta serta para Vocaloid yang masih dibawah 18 tahun, adegan- adegan itu dilakukan oleh pemeran pengganti ataupun editan.
"Rin- chan! Len-kun! Aku bawa sesuatu untuk kalian bari Belanda sesuai pesanan kalian!" panggil Gakupo agar Rin berhenti menyerang Len.
"Yeay!" sorak Rin. Ia langsung berlari kearah Gakupo dan kemudian disusul oleh Len.
"Aku padamu, Gakupo- nii!" tambah Len. Ia sangat berterimakasih karena Gakupo berhasil menyelamatkanya dari Rin. Sudah begitu ia dapat oleh- oleh pula.
Dari dalam saku celana hitamnya, Gakupo mengeluarkan 2 buah keju kuning keputihan berukuran kecil yang dibungkus plastik bening yang diikat pita berwarna oranye dan kuning. "Ini, sesuai pesanan kalian, keju limitied edition dari restoran keju Belanda. Tinggal ini yang tersisa, maaf ya." Katanya seraya memberikan keju- keju itu pada Rin dan Len.
"Yeay! Terimakasih Gakupo- nii!" spontan keduanya langsung memeluk Gakupo erat. Luka tersenyum tipis melihatnya.
"Hei! Mana pelukan untukku sudah membelikan kalian Giant Unicorn Ice Cream di Ginza minggu lalu?" kata Kaito pada kedua anak kecil beranjak remaja itu.
Keduanya langsung berlari kearah Kaito dan memeluk laki- laki berusia 20 tahunan itu erat- erat. "Terima kasih Kaito- nii!" ucap keduanya. Gakupo dan Meiko tertawa melihat tingkah keduanya yang masih kekanakan itu. Luka sendiri berusaha untuk fokus pada dartsnya namun gagal akibat tingkah duo kembar Kagamine itu. Siapa yang sangka? Mereka yang nampak dewasa dan serius dihadapan kamera ternyata bisa bertingkah konyol kekanakan?
"O ya, siapa yang akan menjadi pengarah latihan pedang itu? Bukanya Gakupo-kun sudah sangat mahir?" tanya Luka. Setelah menembakkan sebuah dartsnya yang lagi- lagi meleset dari papan target. Kemudian Luka memberikan Gakupo 2 peluru darts.
Gakupo menjawab dengan santai sambil mengatur posisi tembaknya. "Dia orang jepang campuran Irlandia. Dia sudah pernah menjalani pemotretan majalah Vouge dan beberapa majalah lain denganmu, Luka-san. Lagipula, katanya dia tidak tertarik mengajar dan malah ingin tanding langsung, haha." Jawabnya santai kemudian menembakkan darts itu. Darts itu mengenai poin 80.
Luka terdiam sejenak, kemudian keduamatanya terbelalak. "Di- dia maksudmu?!" Luka tersentak. Gakupo mengangguk.
"Aku sudah bertemu denganya sebelum ini di bandara. Dia sudah datang. Aku sempat terkejut juga mengetahui pelatihku adalah seseorang yang dulu pernah mengalahkan atlet kendo dunia Jepang dan membuat juara bertahan dunia muay thai babak belur. Meskipun kaku, sebenarnya dia orang yang cukup menyenangkan." Jelas Gakupo. Kini darts yang ia lemparkan tepat mengenai target.
"Aku tahu itu. Aku harap dia tidak serius dan membuatmu babak belur, Gakupo- kun." Kata Luka cemas.
Gakupo tertawa geli. "Haha... aku juga berharap demikian. Tapi tenang saja, dia dulu pernah satu perguruan kendo denganku jadi kurasa dia bisa sedikit berbelas kasih." Luka membelalakan matanya. "Kenapa? Kaget ya? Ingat video klip Kaito- kun yang membuatnya harus mengikuti pelatihan kick boxing di New York? Saat itu dia sudah berada disana juga dan mendapat julukan 'jenius muda' loh. Soal beladiri dia memang tidak bisa diremehkan."
"Tunggu." Sela Luka serius. Gakupo terdiam sesaat. "Dia sampai datang ke Jepang? Tapi dulu... ada yang aneh..." gumam Luka.
"Ada apa?" tanya Gakupo.
"Dia adalah salah satu rekan modelku yang lumayan dekat denganku. Yah, kami lumayan akrab lah karena dia sering membantuku dulu saat aku mencoba debut sebagai model luar negeri. Dia pernah perkata 'Jepang adalah negara yang terlarang' baginya. Meskipun dia adalah orang yang kaku dan cuek, tapi kata- katanya selalu jujur. Tapi kenapa dia bisa datang kemari?" Luka mengerutkan keningnya. "Dan nada bicaranya saat itu, tatapan matanya... dia mengatakanya dengan jujur... dan ada, kurasa, sedikit rasa dendam dan kesal." Luka memelankan kata- kata terakhirnya.
"Kebiasaanmu masih belum berubah ya? Mengeksplorasi ekspresi dan perasaan orang lain." Kata Gakupo.
Luka meremas blazer putih se- diafrgma yang menutupi tank top hitam yang dikenakanya. "Bagitulah... tapi, dia itu berbeda. Auranya, menjadi sangat dingin dan membunuh saat itu. Jika orang itu sampai mau datang ke Jepang, pasti ada alasan lain selain koreografi. Dan kali ini, pasti Presdir yang melakukanya. Mengontrak orang itu, membuatnya kembali ke negara yang terlarang untuknya... pasti ada tujuan lain." Luka mengigit bibir bawahnya.
Puk...
Luka langsung mendongak begitu merasakan diatas kepalanya ada sesuatu. Gakupo mengelus kepala Luka yang bersurai pink sambil menunjukkan senyum hangat. "Kau terlalu memikirkanya, Luka- san. Lebih baik sekarang fokuslah pada karirmu dulu. Jangan pikirkan yang lain yang membuatmu makin khawatir." Katanya lembut. Luka merasakan wajahnya memanas. Cepat- cepat ia menganggukan kepalanya. Begitu tangan Gakupo sudah diturunkan dari kepalanya, Luka langsung membuang muka dan berlari untuk memunguti darts- darts lemparanya yang meleset. Ia tidak ingin Gakupo menangkap reaksinya yang salah tingkah.
.
"Kita sudah sampai, tuan." Kata pria berkulit putih dengan bahasa jepang. Ia membukakan pintu limosin untuk Kuo.
Tanpa menjawab, Kuo menalngkah turun dari mobil itu dan berjalan mengikuti si kulit puih memasuki Yamaha Hall yang jalan masuknya dilapisi karpet merah. Ia berjalan dengan ringan karena tasnya sudah ia taruh di kamar hotel tadi. Sebelum datang ke Yamaha Hall, orang- orang itu membawanya ke Tokyo Hotel atas perintah klienya. Ia memang meletakan tasnya, namun ia tidak mau harus repot- repot mengganti pakaianya. Ia tetap mengenakan kaos merah berlengan pendek yang dilapisi dengan jaket varsity berwarna hitam- putih tak diseletingkan, celana jeans hitam panjang serta sepatu nike hitam- merah. Kacamata hitamnyapun sudah ia letakkan bersama dengan tasnya tadi.
Kuo s mengikuti orang yang berlangkah tegap itu menuju ruang Presdir yang ada dilantai 5. Begitu sampai didepan pintu ruangan, si pria berkulit putih mengetukkan pintu untuknya. Setelah mendengar jawaban dari dalam, ia membukakan pintu untuk Kuo. Begitu pintu kayu tinggi itu dibuka, nampaklah sosok Presdir bermata hitam dan berambut hitam klimis yang duduk dibelakang meja kayu hitam besar. Diatas mejanya itu terdapat papan nama 'Presdir Satoru Hicigaya' ya, dia adalah Presdir Yamaha Group. Dari tatapan matanya, ia terlihat sangatmenunggu kedatangan Kuo kedalam kantornya.
"Selamat datang, Kuo Steelberg. Senang berjumpa denganmu." Katanya pada Kuo yang melangkahkan kaki jenjangnya kedalam kantor pribadinya. "Duduklah dulu. Ada hal yang ingin kubicarakan." Pria berkulit putih tadi menutup pintu dari luar, sehingga hanya meninggalkan Kuo dan sang Presdir didalam ruangan megah ini.
Tanpa basa- basi Kuo menarik kursi hitam dihadapan Presdir dan duduk disana. "Langsung saja. Kontrak apa yang kau tawarkan padaku kali ini? Setelah membuatku mengecat rambutku seperti karakter anime. Tidak mungkin kau hanya menawari kontrak untuk aku beradu pedang dengan Gakupo." Sergahnya dingin.
"Ho... itukah terimakasih yang kudengar setelah aku mendanaimu sampai kemari?"
"Dengan, pak tua, aku kemari bukan karena uangmu. Aku bisa mengembalikan uangmu sekarang. Yang aku tanyakan, apa maksud pesanmu itu? Apa kontrak yang kau tawarkan? Sebelum aku menggantungmu seperti kelelawar." Sergah Kuo datar namun menusuk.
"Jadi, kau pasti sangat tertarik. Baiklah." Sang Presdir bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan disekitar ruangan. "Sebenarnya ada segunung kontrak yang terbuat dalam satu kontrak ini. Uhuk..." ia terbatuk tingkat. Lalu Satoru menghentikan langkah kakinya saat ia berada disamping Kuo. "Aku ingin kau membantuku balas dendam. Menghancurkan keluarga Kidomaru dari Kyoto. Atau sering dikenal dengan Kido Enterpise." Katanya tenang namun tegas.
"Oh." Kuo menjawabnya dengan singkat tanpa menatap sang Presdir. "Jadi hanya itu? Bisa kulakukan sekarang." Katanya enteng.
"Mereka tidak seperti yang kau bayangkan, Kuo. Mereka lebih cepat, besar dan licik. Mereka sangat gesit dan semua orang diJepang takut dan segan pada kelompok itu. Menghancurkan mereka tidak semudah membalikan telapak tangan. Mereka telah menjalin banyak kerjasama dengan banyak pihak sehingga sulit menyingkirkan mereka." Satoru kembali berjalan menuju kursinya dan kembali duduk disana dengan tatapan lurus menatap Kuo. "Kau akan melakukanya secara halus. Tapi mematikan. Kau menginginkanya bukan? Aku mengincar kepala keluarganya. Sedangkan kau boleh membunuh Hicigaya Jizu beserta kelompoknya sesukamu. Ya, bukankah kau menginginkan mereka? Orang yang sudah membantai kakek, nenek, dan sepupumu?" Satoru mengeluarkan beberapa lembar foto yang gambarnya nampak diambil dari kamera model terdahulu. Di foto- foto itu terlihat jelas ada beberapa mayat yang tergenang dengan darah. Beberapa organ tubuh mereka ada yang terpisah. Dan Kuo tahu persis itu adalah keluarganya. Lalu di foto yang lain ada gambar beberapa wajah pria yang tidak ia kenal. Dan beberapa bagian dari foto itu ada yang sudah Satoru kirimkan pada Kuo sebelum ini lewat via e-mail.
"Siapa mereka?" tanya Kuo.
"Mereka adalah orang- orang yang membunuh keluargamu. Hicigaya Jizu, Jinzou Fugaki, Masahiro Lin dan Saruwatari Kondo." Jelasnya sambil menunjuk masing- masing wajah mereka.
Kuo mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa kau menunjukkan ini padaku? Bagaimana kau tahu tentang masalah keluargaku?" selidik Kuo.
"Mereka sudah membunuh anakku, Hideki dan Karin." Katanya dengan nada yang tidak menyenangkan. "Mereka ingin menghancurkan bisnisku karena aku tidak mau bekerjasama dengan mereka untuk membunuh Linda Auritz, artis agensiku, seorang agen FBI yang menyamar, mengetahui semua kejahatan mereka dan memegang buktinya. Mereka takut, mereka akan dihancurkan oleh PBB, apalagi saat itu Jepang sedang gencarnya menjalin kerjasama anti- narkoba, dan perdagangan manusia. Linda adalah agen yang diutus oleh PBB untuk menyelidiki masalah ini dengan berkedok artis, karena dulu artis yangan rantan dengan narkoba. Awalnya aku memang belum mengetahuinya, aku pikir Linda hanyalah artis- artis biasa. Tapi ternyata tidak. Dia begitu gesit. Disela perkerjaanya, dia bisa menyelidiki misi yang ditugaskan padanya. Bahkan menemukan sampai keakarnya. Kido Enterpise terbukti bukan hanya bergerak dibidang real estate dan fashion saja, tapi dibaliknya mereka juga adalah keluarga yakuza yang membuat dan mengedarkan narkoba, serta sering menculik orang untuk dijual sebagai budak atau pelacur diluar negeri." Satoru menghela nafas panjang. "Tentu saja aku menolak hal itu. Aku tidakmau bersekongkol membunuh orang. Apalagi Linda itu terlihat mirip dengan almarhum kakaku. Tapi apa daya? Sebelum ada Vocaloid, koneksi kami belum sekuat sekarang. Linda berhasil dibunuh dan sebagai ancaman aku tidak memberitahukan rahasia itu ke polisi, mereka membunuh kedua anakku, yang nantinya akan jadi pewarisku. Lalu setelah Vocaloid terbentuk dan kami menjadi sangat kuat, mereka hanya bisa memberikan serangan- serangan ringan yang bisa diatasi dengan mudah. Mereka sudah tidak berani menyerang seperti masalalu karena akan merugikan diri mereka sendiri."
Kuo membuang pandanganya kearah lain dengan wajah yang ia topang pada tangan kanan yang ia sandarkan pada tangan kursi. "Lalu?"
"Saat itu aku belum bisa melakukan banyak tindakan. Jadi, aku secara diam- diam mencaritahu seluk beluk Kido Enterpise. Mencaritahu segala perbuatan mereka dan manggabungkanya dengan bukti yang dimiliki Linda, berharap suatu saat aku dapat membuat mereka merasakan hukuman yang setimpal. Lalu, ditengah- tengah penyelidikanku itu, aku menemukan kasus keluargamu. Keluargamu dibunih karena keluargamu yang dulunya merupakan guru beladiri para anggota yakuza keluarga Kido s berusaha menghalangi tindakan kriminal mereka. Kau dibawa kabur oleh ibumu ke New York karena disana ayahmu sudah menjalin kerjasama dengan agen- agen FBI dan dirasa aman. Kau menjadi model atas perintah ibumu, bukan? Semakin kau populer dan terkenal, maka kau akan semakin mudah dilacak dan dilindungi oleh orang- orang ayahmu itu. Negarapun pastinya akan menjadikanmu sorotan dan hal itu akan menyulitkan para yakuza itu untuk membunuhmu. Kau dan ibumu memang selamat, tapi tidak dengan ayahmu. Ayahmu dibunuh didalam gedung Kilton bersama dengan satu timnya karena berhasil dijebak oleh orang- orang Kido itu, bukan? Dan aku sangat yakin informasi itu sangat akurat. Apakah itu menjawab pertanyaanmu barusan?" Satoru mengakhiri pembicaraanya.
Dengusan nafas lelah keluar dari mulut Kuo. Kemudian ia bergumam. "Hm." Tanda bahwa semua pernyataan Satoru itu benar.
"Dan disinilah aku mulai tertarik padamu, Kuo. Bukan hanya sebagai model, tapi kau juga memiliki kemampuan 'itu'. Aku memanggilku kemari karena aku tahu, kau sendirilah yang sudah membunuh orang- orang yang membunuh ayahmu. Semua dari mereka yang ditugaskan di New York saat itu. Cara membunuhmu sangat cerdas. Kau meracuni mereka, membuat mereka kelebihan narkoba, kemudian membakar gedung tempat persembunyian mereka yang juga digunakan untuk membuat narkotika itu. Kau membuat mereka mati didalam kebakaran konsleting listrik setelah memodifikasi beberapa aliran listrik gedung tersebut. Agar api cepat menyebar, kau menempatkan cairan spiritus yang mudah terbakar dan lenyap tanpa jejak. Sekelompok mafia tewas dalam kebakaran konsleting listrik saat keadaan mereka sedang overdosis narkotika. Cerita yang bagus. Kau menyiksa mereka tanpa darah. Pembunuh berdarah dingin." Satoru menyeringai. Kuo membuang wajahnya kearah lain, namun ia melirik tajam Satoru dari ekor matanya. "Itu belum semuanya, bukan? Kudengar dulu keluarga Kidomaru pernah mendapat kiriman potongan tubuh manusia dan 3 liter darah. Dan adalah ulahmu. Kau membunuh sisa targetmu yang tidak ada didalam gedung itu. Jumlahnya ada, 15 orang, bukan? Setelah kau membunuh mereka, kau sempat memutilasi beberapa bagian tubuh mereka dan mewadahi darah mereka kedalam botol. Aku tidak tahu bagaimana caramu memaketkanya sampai ke Jepang tanpa ketahuan oleh para pihak keamanan. Tapi itu benar- benar sangat menarik. Kau membuat mereka membayar perbuatan mereka. Untuk keluargamu. Tapi mereka tidak tahu siapa yang melakukanya sampai sekarang. Kamu menyembunyikan identitasmu dengan sangat sempurna."
"Itu adalah kejadian masalalu. Aku melakukanya hanya untuk membalaskan apa yang mereka lakukan pada ayahku dan timnya."
"Lalu, apa kau tidak ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang mereka lakukan pada keluargamu di Okinawa?" Kuo terdiam. Ia tak bergeming samasekali. "Aku membutuhkan kemampuanmu, Kuo. Sangat. Kau mewarisi kemampuan ninja dari kakekmu. Di dunia ini, hanya kau yang bisa kumintai tolong melakukan hal ini." Kuo menatap Laki- laki berambut klimis itu selama beberapa detik.
Ia tahu, laki- laki dihadapanya saat ini terdengar sangat pasrah dan putus asa. Semua usaha laki- laki itu seolah menjadi jelas sekarang dimata Kuo. "Biarkan aku memikirkanya dulu." Kuo bangkit dari kursi hitam serupa sofa yang tadi didudukinya. "Aku butuh udara segar sebelum aku menjawab. Aku akan kembali datam 30 menit dan menemui Gakupo terlebih dahulu. Kurasa dia sudah lama menungguku." Katanya seraya berjalan pergi.
"Kau bisa menemuinya di ruang koreografi lantai 3. Dia sudah disana sekarang. Aku akan menunggu disini." Kata Satoru yang mengisyaratkan ia menunggu jawaban Kuo secepatnya. Kuo tak menjawab. Ia s berjalan tanpa melihat kebelakang sampai akhirnya menghilang dibalik pintu. Begitu Kuo sudah pergi, Satoru menghela nafas panjang. Dalam hatinya ia lumayan ragu. Jika Kuo menolak? Siapa lagi yang dapat ia ajak bekerjasama? Apalagi, kata- kata Kuo adalah mutlak. Jika ia berkata 'tidak', maka sampai dunia kiamat sekalipun, ia tidak akan mau melakukan hal itu. Satoru hanya bisa berharap Kuo mau menerima tawaranya. Dengan begitu, semua kegundahan didalam hatinya bisa terlepas.
.
Ada satu masalah yang membuat Kuo mengacak- acak rambutnya sendiri sambil berjalan. Ia ingin menemui Gakupo, namun ia tidak tahu dimana ruanganya! Sangat hebat.
Sebenarnya Kuo awalnya tidak berniat bertemu dengan Gakupo, ia hanya ingin keluar dari ruangan pak tua itu karena ia memang butuh udara segar untuk otaknya yang jenuh dengan pembicaraan di ruangan itu. Ia sangat mudah cepat bosan jika hal itu dianggapnya tidak menarik. Tapi ia tidak mungkin keluar tanpa alasan. Ya, bertemu Gakupo hanyalah alasan, mengingat kontrak yang sudah ia tandatangani di Las Vegas beberapa waktu lalu untuk menjadi lawan main Gakupo bisa dijadikan alasan yang masuk akal. Apalagi hari ini adalah hari pendiskusian konsep secara empat mata bagi mereka berdua, lalu barulah esoknya proyek dilakukan dengan kru Yamaha. Setelah keluar dari ruangan itu, Kuo menjadi lebih lega. Ia hanya ingin keluar tanpa memikirkan apa yang mau ia lakukan selanjutnya. Karena tidak ada tempat yang bisa ia tuju, jadilah alasan akal- akalanya ia realisasikan. Di gedung semegah ini, tidak mungkin mereka tidak memasang CCTV, bukan? Bisa saja ia kepergok tidak melakukan apapun hitung- hitung untuk menutupi kedoknya tadi.
Dan disinilah ia. Didalam lift menuju lantai 3. Tapi, begitu sampai di lantai 3, ia tidak tahu dimana ruangan koreografi. Ia juga tidak meminta nomor Gakupo saat dibandara tadi. Tapi, Luka, dia juga adalah anggota Vocaloid. Siapa tahu Luka tahu dimana tempatnya. Sehubung ia hanya punya nomor Luka dari puluhan anggota Vocaloid, sekaligus yang ia kenal dekat. Ia malas menyimpan nomor- nomor orang yang tidak penting ataupun tidak ia percayai.
Langsung saja, Kuo mengeluarkan handphone-nya dan menelfon Luka. Satu- satunya cara yang bisa ia gunakan, mengingat hanya Luka yang ia kenal. "Halo, Luka?" katanya mengawali.
'Ah! Kuo-kun! Apa kabar!' jawab Luka. 'Kudengar kamu akan jadi lawan main Gakupo- kun ya?' tanya Luka langsung.
"Begitulah, aku baik- baik saja. Aku sekarang ada di Yamaha Hall lantai 3. Tapi aku tidak tahu dimana ruangan koreografi Gakupo. Dia sudah datang kan? Aku tak suka membuat orang menunggu." Jawab Kuo dan ia langsung to the poin menyatakan tujuanya menelfon.
'Hm... baiklah. Aku akan menuntunmu dari telfon saja, ya? Saat ini aku ada di lantai 6 dan sedang tidak bisa keluar dari ruangan ini! Maaf!'
"Baiklah. Tidak masalah." Kuo lega, akhirnya ia tidak perlu pusing lagi. "Sekarang aku ada di depan lift A." Kuo menjelaskan posisinya.
'Ok, sekarang jalan kearah kanan dan ikuti lorong sampai kamu bertemu pintu dengan kertas putih bertuliskan Koreography Room 1' jelas Luka.
"Sedang dalam perjalanan." Sahut Kuo.
'Ngomong- ngomong, Kuo-kun, kapan kamu sampai di Jepang?' tanya Luka untuk berbasa basi untuk menemani Kuo dari jarak jauh agar laki- laki itu tidak terlalu diam.
"Sekitar pukul 7 tadi pagi." Jawab Kuo.
'Haha... kamu masih tetap kaku seperti dulu, ya? Hei, kenapa sekarang kamu menginjakkan kaki d Jepang padahal dulu kamu berkata Jepang adalah negara yang tidak bisa kamu pijaki?'
"Privasi." Jawab Kuo singkat.
'Heei! Bisa tidak sih aksen irit bicaramu itu dibuang sebentar! Menyebalkan. Kubuat kamu tersesat nanti!' protes Luka.
"Lakukan saja. Jika kau melakukanya, akan kubuat laki- laki berambut ungu itu babak belur atau kubuat dia jatuh cinta pada wanita lain."
'Kamu! Bagaimana bisa!? Hmp-!' dari tempatnya sana, Luka langsung menutup mulutnya karena keceplosan. Wajahnya langsung memanas.
"Haha... ternyata benar dugaanku. Kau suka pada Gakupo ya?" ejeknya.
'Sssh! Kecilkan suaramu! Kamu tahu dari siapa?!' sergahnya.
"Dulu, saat kita ada sesi pemotretan bersama, kau terlihat bahagia sekali saat Gakupo menelfonmu. Yah, kau itu mudah ditebak kau tahu." Jelasnya santai.
'Ua... Kuo-kun~ kumohon, jangan sampai yang lain tama Gakupo tahu soal hal ini, ya? Ah! Termasuk pak Presdir! Jika aku ketahuan, baik aku maupun Gakupo-kun akan terkena masalah. Ya?' mohonya dengan sangat.
"Masalah?" ulang Kuo.
'Ini privasi para Vocaloid.' Luka meniru nada bicara Kuo dan mengembalikkan kata- kata laki- laki bersurai teal itu.
"Hn. Terserah." Jawab Kuo malas.
'Terimakasih Kuo-kun! Kamu memang yang terbaik!' ucap Luka senang. Jika Luka menterjemahkan, kata- kata Kuo barusan berarti 'Iya, bukan masalah'.
"Tunggu sebentar, aku sudah sampai didepan ruangan itu." Sela Kuo begitu ia sampai didepan pintu ruang koreografi dengan papan yang menggantung di atas pintu seperti papan nama kelas, dan bukanya kertas seperti yang Luka katakan. Tapi Kuo tidak mau mempermasalahkan hal itu. Ia mengetuk pintu ruangan Koreografi 1, itu selama 3 kali. Namun tidak ada jawaban. "Luka, kenapa tidak ada yang menjawab dari dalam?" tanya Kuo.
'Hah? Kalau begitu cobasaja buka pintunya.' Saran Luka. Seperti saran Luka, Kuo membuka pintu ruangan itu. Namun, ruangan luas berlantai motif kayu gelap dengan dinding dikelilingi kaca itu gelap, tak ada satupun orang didalamnya.
"Tidak ada orang disini. Ruanganyapun gelap." Kata Kuo sambil menutup pintu itu kembali.
'Ah? Benarkah Gakupo-kun tidak ada disana? Tutup dulu saja telfonya, aku akan menelfon Gakupo- kun langsung ataupun yang lain.' Kata Luka.
"Hn. Terimakasih." Kuo langsung menutup telfonnya dan kembali memasukan handphone kedalam saku celana jeans hitamnya.
Sambil menunggu, Kuo berjalan sampai keuung lorong lantai 3. Ada sebuah pintu disana yang tulisanya 'Tangga Darurat.' Awalnya laki- laki ini memang tidak tertarik, sampai ia mendapat pesan dari Luka.
From: Megurine Luka
Kuo-kun, ternyata Gakupo- kun ada di lantai 4. Dia di ruang meeting. Aku sudah mengabarinya kamu sudah datang ikuti saja lorong lantai 4, nanti ada nama ruanganya kok diatas pintu. Sudah dulu ya, aku mau latihan dance lagi. Daa~ semoga kamu tidak tersesat _
Begitulah isi pesan dari Luka. Mengingat lift sangat jauh jaraknya, Kuo memutuskan menggunakan tangga darurat ini saja. Sekaligus olahraga kaki karena kakinya agak kram duduk mendengar ceramah diruang Presdir.
"Hentikan... jangan kejar aku..." sayup- sayup Kuo dapat mendengar suara dari ruangan anak tangga itu. Pendengaranya sangat tajam dan Kuo sangat yakin sekali itu adalah suara seorang wanita. Dalam hatinya, ia merasa dirinya seperti tokoh dalam film horor dimana mendengar suara- suara dari tempat sepi. Hantu? Masa ada hantu diwaktu tergolong pagi menjelang siang begini? Tapi Kuo bukanlah orang kecanduan film yang mencampur ekspetasi film dengan relita. Ini jelas suara manusia, wanita. Dan ada suara- suara lain. Ah, tapi masa bodolah itu bukan urusanya. Urusanya sekarang adalah menemui Gakupo dan bukanya masalah ataupun hantu.
.
"Kumohon hentikan. Kenapa manager tega sekali melakukan ini?" Miku berdiri diatas anak tangga yang berada ditengah- tengah antara lantai 4 dan 3. Ia hampir disudutkan. Terimakasih pada agensi yang membuatnya harus bisa belajar sedikit beladiri dulu sehingga ia bisa menampik tangan manager nya yang ingin menyentuhnya.
Miku berhasil menemukan dalang dibalik foto- foto tidak senonohnya. Foto- foto dirinya asli yang diambil secara diam- diam entah secara rahasia yang menunjukan bagian- bagian tubuhnya yang tidak menyenangkan. Paha, dada, dan bagian bawah roknya. Setelah ia mencoba mengusut bersama Piko yang lumayan ahli tentang IT dan dibantu beberapa staf Yamaha, terbukti managernyalah yang diam- diam mengambil foto itu. Bukan hanya Miku, Vocaloid wanita yang lainpun ada. Luka, Yukari, Ia dan masih banyak lagi. Foto- foto itu diunggah kedalam situs berbayar tinggi. Bahkan ada rekaman video dirinya ataupun yang lain sedang membuka pakaian.
Seusai rekaman, ia sengaja memanggil managernya ke ruangan tangga darurat ini, karena Miku ingin menyelesaikanya secara baik- baik. Kalaupun ia mau menuntut, buktinya masih belum cukup kuat. Hanya berbekal alamat blog dan hasil lacakan pemiliknya itu tidak bisa dijadikan bukti kuat jika tidak didukung bukti lain. Hampir diseluruh Yamaha Hall ini dipasangi CCTV kecuali tempat ini salah satunya. Miku tidak ingin Futaki Teru berkelit. Futaki Teru sudah berada di tempat ini selama 4 tahun dan pastinya tahu lokasi- lokasi CCTV. Kalau Miku mengajaknya bicara di ruangan pribadinya, tentusaja Teru tidak akan mengaku dan hanya berkelit,lalu parahnya, justru Teru yang balik menuntutnya karena pencemaran nama baik. Tapi di tempat ini, tanpa CCTV, ia bisa mengungkap kebenaran itu dan berusaha menyelesaikanya secara damai. Awalnya manager itu tidak mengakui, namun setelah Miku menunjukkan blog dan hasil penyelidikanya, Teru malah berniat memojokanya. Hingga posisinya hampir terpojok seperti sekarang ini.
Dihadapanya, managernya sendiri, Futaki Teru tertawa sinis. "Hahaha... kenapa maksudmu? Kurasa itu karena hobi, bisa dibilang." Kedua mata Miku terbelalak kaget. Ia sangat tidak menyangka, managernya yang begitu baik padanya ternyata menusuknya habis- habisan dari belakang. "Kau pikir kenapa aku begitu baik padamu, hm? Tentusaja karena aku SANGAT mencintaimu, Miku! Apa kau tidak tahu, setiap saat dipikiranku hanya dirimu! Kau begitu memabukkan! Menyegarkan!" nada bicara laki- laki tinggi berambut coklat klimis itu mulai membuat Miku bergidik. "Aku ingin kau hanya menjadi milikku, Miku! Milikku! Aku ingin semuanya darimu! Tapi kau begitu dingin dengan semua kebaikan yang sudah kuberikan!"
GREB!
Gerakan Miku langsung terkunci karena Teru memojokanya ke dinding, memegangi kedua tanganya dan menghalangi pergerakan kedua kaki Miku. Firasatnya makin tidak enak saat Teru bersiul keras. Ia tidak bisa melawan meski terus meronta keras.
Brak! Brak! Drap! Drap!Drap!
Tiba- tiba 3 orang lain masuk dari pintu lantai 4. "Pegang dia. Kita akan bermain." Perintahnya pada ke 3 orang itu. Miku tidak kenal mereka. 2 diantaranya tidak Miku kenal. Satu berjaket hitam dan satu berjaket khaki dan seorang cleaning service yang sering Miku lihat.
"Hentikan!" teriak Miku saat Teru menariknya ke tengah diantara mereka ber- 4. Teru memegang tangan kananya dan menariknya keatas, seorang lagi memegang tangan kirinya. Orang satu lagi memegangi kaki kananya dan si cleaning service memegangi kaki kirinya. "Hentikan! Kalian!" teriak Miku.
"Hoho, coba saja teriak minta tolong. Tapi sayangnya tidak akan ada yang menolongmu disini. Semua temanmu sedang sibuk. Dan ini adalah wilayah sepi tanpa CCTV. Sangat menguntungkan untuk kami." Mereka mulai melepasi pakaian Miku. Miku benci ini. Ia sangat benci ada orang menyentuh tubuhnya tanpa seizinya. "Asal kau tahu saja, aku memang sengaja membiarkanmu tahu bahwa aku adalah pembuat blog dan orang yang merekam semua gambar dan video para Vocaloid yang tidak senonoh di blog itu. Otakmu itu dangkal, Miku. Aku tahu kau pasti akan segera bertindak dan memilih tempat ini. Ya, tempat yang menguntungkan bagi kami. Karena itu, kuajak mereka juga untuk bersenang- senang. Dan blog kami akan mendapat beberapa artikel asli yang panas berkatmu."
"Kau merencanakanya..." geram Miku. Ia berusaha menghindari kepala Teru yang mau menciumi lehernya sambil terus meronta- ronta. Teru menjawab dengan tawa yang membuat Miku muak. Sangat muak.
Si cleaning service mengeluarkan handphonenya dan merekam adegan itu selagi yang lain melucuti pakaian Miku satu persatu, sampai Miku hanya tinggal mengenakan bra dan rok mini yang celana dalamnya telah dilepas. "Kita akan membuat video yang bagus hahaha!" tawa Teru bersama rekan- rekanya.
"Haha! Ini menye- AGH!" Miku menendang kepala orang yang memegangi kaki kananya dan hendak memasukkan tanganya kedalam rok gadis itu. "Sialan!" ia beralih menduduki kedua kaki Miku sedangkan tanganya mulai menggrayangi bagian dalam rok Miku.
"Hentikaan...! Tolong!" teriak Miku saaat Teru melepas pengait branya.
BRUAK!
BUAK!
"AW! Sialan! Darimana datangnya sepatu ini?!" Omel si tukang cleaning service saat mendapati kepalanya dilempar dengan sepatu.
"Hei, seharusnya kau senang bisa dilempar dengan sepatu pemberian Justin Beiber." Semua pandangan beralih pada laki- laki yang berjalan menaiki tangga dari lantai 3 kearah mereka. "Sepatu itu harganya lebih mahal dari harga otak kalian, tahu. Minggir! Aku mau lewat!" Kuo muncul dengan wajah kesalnya karena sepatunya dilempar entah kemana oleh si tukang cleaning service tadi. Pemandangan di depanya sangat tidak nyaman untuk dilihat. Seorang gadis yang diperkosa secara berdiri oleh 4 orang laki- laki. Menjijikkan. Apalagi tubuh Miku kini hanya tinggal dibalut rok mini hitamnya saja. Payudaranya sudah terekspos jelas dan tadi sempat diremas- remas oleh Teru dan pria berjaket hitam disampingnya.
"Siapa kau?!" hardik anak buah Teru yang menghentikan gerakan tanganya yang akan memainkan kemaluan Miku.
"Aku? Manusia yang lumayan membenci binatang." Jawabnya dingin. Ke- 4 orang itu dibuat naik darah karena ia mengatakanya dengan nada mengejek. Isyarat binatang itu ia tujukan bagi ke- 4 orang itu. "Tempat kalian seharusnya di jeruji penjara keun binatang dan bukanya disini. Dasar binatang- binatang rendahan." Dengan santainya ia melempar sebelah sepatunya lagi ke wajah Teru dengan keras. Lemparanya begitu keras sampai meninggalkan warna merah pada wajahnya.
"Serang dia!" perintah Teru.
Ke- 3 orang itu menerjang Kuo bersamaan. Tapi dengan mudahnya Kuo menghindar. Tubuhnya bergerak gesit dan lincah bergelantungan di pembatas tangga dan melawan ke-3 orang itu seorang diri. Sementara itu Teru mengeluarkan sebuah suntikan dari balik saku jas coklat mudanya lalu menyuntikkanya di bagian lengan kiri atas Miku sehingga membuat gadis itu makin lemas. Selagi ke- 3 orang lainya melawan Kuo, Teru berusaha membawa Miku pergi ke lantai 4.
'Cih! Merepotkan!' decih Kuo. 3 orang dihadapanya memang lumayan ahli dalam beladiri. Tapi, waktunya tidaklah banyak. Teru pasti akan membawa Miku ke tangga yang lebih tinggi lantainya dan melakukan hal yang sama. 'Tidak ada pilihan lain selain meremukkan tulang kalian.' Batinya kesal. Kuo langsug memasang posisi kuda- kuda tengah dan mendorong lengan kirinya kearah wajah lelaki berjaket hitam.
BRUAK!
Bagian bawah telapak tangan Kuo mengenai rahang pria itu hingga pria itu terlempar kebelakang. Sempat terdengar bunyi tulang remuk saat serangan Kuo mengenai wajahnya. Laki- laki itujatuh terlentang dengan darah mengalir dari mulutnya. Lalu selanjutnya, Kuo agak menaikkan kuda- kudanya dan menggeser posisi kaki kananya kebelakang. ia melakukan 2 kali straight punch pada wajah dan ulu hati pria berjaket khaki dan brazilian kick pada pria cleaning service ditambah pukulan jab. Pria berjaket hitam masih dapat bangkit, namun dengan sekali bantingan, Kuo membuat orang itu pingsan bersama ke- 2 orang lainya. Mereka sudah pingsan semua. Dan saat itu dimanfaatkan Kuo untuk mengambil handphone- handphone mereka. Setelah itu, ia membawa ke- 3 handphone itu beserta sepatu kirinya keatas. Sepatu sebelah kananya ia temukan di tangga terakhir lantai 4. 'Awas saja jika sepatu kenang- kenangan ini hilang ataupun lecet. Kubuat mereka koma 5 tahun.' batinya sambil mengenakan kembali sepatu- sepatu itu. Ia langsung menuju lantai atas bukan dengan menaiki tangga, tapi berakrobat pada pembatas- pembatas tangga. Jika Teru mendengar suara langkah kakinya, tentunya orang itu akan panik dan melakukan hal yang makin gila.
"Sial! Siapa orang itu?! Awas saja, setelah ini kau akan sangat menderita, Miku!" Teru terus menyeret tubuh Miku menaiki tangga.
"Lepaskan aku..!" geram Miku marah.
"Diam kau!"
BUAK!
"Gyaa! Mataku! Mataku!" Tanpa rasa bersalah, Kuo melempar salah satu handphone 3 pria tadi kearah mata Teru hingga membuatnya tidak bisa melihat dan melepaskan Miku secara spontan.
"Gawat!" jarak Miku jatuh dengan dirinya terlalu jauh untuk menangkap dengan sempurna. Tapi, Kuo terus menerjang ketimbang tubuh gadis itu membentur anak- anak tangga. Hasilnya, tubuh Miku memang tidak membentur lantai, Tapi...
"Hmpp!"
Bibir Kuo jadi menabrak bibir Miku, kemudian mereka jatuh dengan posisi tubuh Miku menindih tubuh Kuo. Keduanya sama- sama terkejut. Tapi, Kuo langsung mendudukan tubuh Miku di dinding dan berhasil melumpuhkan Teru. Teru pingsan akibat tendangan melayang Kuo yang mengenai batang lehernya sebelum ia kabur. Begitu orang itu pingsan, tanpa rasa bersalah ia menarik kerah belakang jas Teru dan melemparkanya ke lantai datar diantara tangga menuju lantai 4 dan 5. Sama seperti tadi, Kuo mengambil handphone Teru dan memasukkanya kedalam saku celananya.
Jaket varsity hitam- putihnya kini beralih menutupi tubuh bagian atas Miku yang tak ditutupi sehelai benangpun. Miku sudah bisa menggerakan tubuhnya lagi. Tapi ia masih belum kuat untuk berdiri karena syok. Bibir mungilnya gemetaran mengingat kejadian tadi. Ini akan menjadi salah satu momen terburuk yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Kuo meletakkan tangan kananya diatas kepala gadis bersurai tosca diikat twintail itu dan berkata, "Tenanglah. Mereka tidak akan mengganggumu lagi. Mereka akan masuk penjara dalam waktu yang sangat lama." Hiburnya. Ia mengelus- elus kepala gadis itu sambil tersenyum tipis. Senyuman itu begitu hangat bagi Miku sehingga membuatnya berani menangkat wajahnya, menatap wajah Kuo secara keseluruhan. Suaranyapun sangat menenangkan. Saking terbawanya, tangis Miku langsung pecah.
"Mereka... mereka... mereka menodaiku! Menjijikkan! Aku kotor! Rasanya aku sudah tidak kuat hidup! Aku ingin mati saja!" isaknya. Entah kenapa, Kuo langsung merengkuh kepala gadis itu, memeluknya di dada bidangnya, dan membiarkanya menangis meluapkan emosinya. Padahal ia tidak mengenal gadis itu sama sekali dan baru pertamakali ini bertemu. Tubuhnya refleks melakukanya.
"Jangan begitu. Kau masih punya harapan untuk hidup. Masa depanmu masih panjang. Pikirkan orang- orang yang sayang padamu, menunggumu pulang. Kau tidak kotor. Kau masih bersih. Tenang saja. Setelah ini mandilah yang lama sampai kau tidak lagi merasakan sentuhan- sentuhan binatang- binatang itu." Jujur, Kuo sangat payah dalam hal menghibur orang. Jadi ia hanya mengatakan apa yang ada didalam pikiranya. Kuo tidak tahu kata- katanya berhasil atau tidak. Tapi, yang jelas untuk beberapa saat hanya tangis Miku yang terdengar.
"Apa mereka akan dipenjara?" tanya Miku didalam dekapan Kuo.
"Ya. Tentusaja. Bahkan untuk waktu yang lama. Begitupula dengan pemecatan secara tidak hormat." Miku langsung mendongakkan wajahnya. "Aku punya rekamanya. Maaf tidak langsung menolongmu dari awal. Aku perlu bukti. Sudah kurekam. Dan untuk bukti gambar, kita punya rekaman video orang- orang tadi. Tenanglah." Ia kembali mengelus kepala Miku. "Aku akan melaporkan hal ini pada pak tua Satoru. Dia harus bertanggung jawab atas ini. Kau orang agensi ini, bukan?" tanya Kuo seraya mendekatkan telfon itu ke telinganya. Miku mengangguk. "Hei pak tua, apa- apaan kau ini?! Kenapa didalam gedungmu bisa kemasukan orang- orang asing tanpa tanda pengenal dan pekerja mesum yang juga seorang penguntit! Maksudku? Kau datang ke tangga darurat sebelah ruang koreografi lantai 3, dan lihat apa yang terjadi dengan mata kepalamu sendiri nanti. Tepatnya di anak tangga menuju lantai 4 dan 5. Kutunggu segera atau aku tidak mau menerima kontrakmu." Kuo langsung memutus sambungan telfon itu setelah mengomel denan nada dingin menusuk. Lalu ia kembali menelfon seseorang. "Halo? Luka? Cepat kau ke lantai 4 bagian anak tangga darurat. Ini sangat penting. Cepatlah sebelum anak ini berubah menjadi es panas. Badanya panas dingin. Cepat. Ceritanya akan kujelaskan nanti." Kuo langsung menutup telfonya.
Miku yang tadinya menyandarkan kepalanya di dada Kuo langsung menatap wajah laki- laki itu penuh tanya. "Kamu, kenal dengan Luka- nee?"
"Ya. Dia temanku." Jawab Mikuo singkat sambil memasukkan handphonenya kembali kedalam saku celananya. Lalu ia menjauh dari Miku "Kau tunggulah Luka disini. Aku akan kebawah menemui pak tua itu." Kuo berjalan menuruni anak tangga.
"Tu- tunggu! Siapa namamu?" tanya Miku.
Otomatis Kuo langsung berhenti dan menatap gadis yang surainya hampir sama warna dengan miliknya dari temoatnya berdiri. "Kuo Steelberg. Kurasa kita akan sering bertemu setelah ini." Ia kembali menuruni anak- anak tangga menuju lantai bawah.
'Kuo Steelberg... ya?' ia menggumamkan nama itu didalam hatinya sambil tersenyum tipis. Kemudian wajahnya memanas. 'Gawat... dia sudah melihatku telanjang dan mencuri ciuman pertamaku pula! Waah!' Miku menutupi wajahnya dengan kedua tanganya karena malu. Malu sekali. Baru bertemu dengan seseorang laki- laki yang tidak ia kenal dan langsung mendapat pengalaman yang sangat sangat tidak menyenangkan.
.
To be Continued
