Title : Passionately Ever After (Re-Make)
.
.
Author : Pinky Joy137(ganti pen-name^^)
.
.
Cast :
- Cho Kyuhyun
-Lee Sungmin
- Other Cast
.
.
Genre : Romance & Drama
.
.
Rate : T+
.
.
Length : Chaptered
.
.
Summary : Hanya karena takut kutukan Cho itu benar-benar terjadi dan melukai orang-orang yang dicintainya, Sungmin memilih menghindar dari Kyuhyun, bahkan menyembunyikan kehamilannya dari Kyuhyun. Kyuhyun,seorang lelaki yang dicintainya itu. Satu-satunya lelaki yang tidak bisa berbagi masa depan dengannya.
.
.
Disclaimer : KyuMin saling memiliki dan KyuMin milik Tuhan. Ide cerita keseluruhan dari fanfic ini murni dari Metsy Hingle yang saya Re-Make menjadi KyuMin Version tanpa ada perombakan sama sekali di alur ceritanya. Tapi saya hanya mengganti cast nya fanfic ini REMAKE, tapi fanfic ini milik saya.
.
.
Warning : GS for Uke | Typo(s) | REMAKE | DLDR | Plagiat?Out!
.
.
*Anda boleh membashing saya. Tapi jangan bash Cast dan FF nya yaa :D *
.
.
Happy Reading )/
.
.
Bagian 2
.
.
Sesaat, Sungmin tidak sanggup bicara. Sepanjang mengenal Kyuhyun, ia mendapati pria itu memiliki beragam sisi. Sisi pengusaha cerdas dan ambisius yang berhasil memperoleh kekayaannya yang pertama sebelum menginjak usia 25 tahun. Sisi pria baik dan penyayang, yang menyayangi keluarganya sama kuatnya dengan rasa sayang Sungmin kepada keluarganya sendiri. Sisi kekasih yang penuh dengan gairah dan kelembutan, pada siapa ia menyerahkan keperawanan dan hatinya. Tapi tidak sekalipun, bahkan saat ia menolak mengumumkan hubungan mereka ataupun membicarakan lamaran untuk menikah, ia pernah melihat Kyuhyun seperti ini, dalam keadaan murka, dan yang semakin membuatnya menakutkan adalah karena pria itu begitu keras menahan diri.
Amarah terpancar dari setiap pori-pori tubuh pria itu. Amarah itu tampak di sekeliling bibirnya yang merapat, di kedutan otot pipi kanannya, di rahangnya yang mengeras. Meskipun Sungmin mengenakan sweter dan perapian memancarkan kehangatan, ia bergidik di bawah tatapan tajam mata Kyuhyun yang dingin. Bukannya ia takut pria itu akan menyakitinya secara fisik. Bukan itu. Ia tahu pria itu lebih baik memotong tangannya sendiri daripada menyakiti wanita mana pun. Tetapi kebencian yang tampak dimata Kyuhyun menghantamnya dengan keras.
"Itu pertanyaan sederhana Sungmin. Aku masih menunggu jawabanmu."
Kepala Sungmin berkunang-kunang. Sambil memejamkan mata, ia bersedekap dan berjuan menenangkan diri, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan.
"Pandang aku Sungmin." Perintah Kyuhyun dengan suara sangat lembut hingga Sungmin berusaha keras agar bias mendengarnya.
"Apa kau setidaknya berencana memberitahuku tentang bayi ini? Atau ,menurutmu aku tidak pantas tahu kalau aku akan menjadi ayah?"
Sungmin membuka mata dan memaksa diri membalas tatapan Kyuhyun. "Tentu kau berhak tahu." Ucapnya. "Dan aku memang akan memberitahumu."
"Kapan?" desak Kyuhyun. "Setelah bayi itu lahir? Apa yang akan kau lakukan? Mengirimi aku kartu pemberitahuan kelahiran dan menempel catatan bertuliskan 'Omong-omong selamat, kau sudah menjadi ayah'?"
Sungmin ingin menangis mendengar kebencian dalam suara pria itu, tapi ia memaksakan diri menghadapi kemarahan Kyuhyun Lagipula, pikirnya, pria itu memang layak marah. Aku punya waktu bebrbulan-bulan untuk membiasakan diri menjadi orangtua,sementara Kyuhyun….. Kyuhyun sama sekali tida tahu menahu karena aku tidak mengatakan apa-apa.
"Tidak…..Aku akan memberitahumu sebelum bayi ini lahir. Aku bersumpah, aku berniat melakukannya." Katanya, berharap Kyuhyun mempercayainya. "Aku tak pernah berniat merahasiakan ini darimu Kyuhyun. Aku sudah ingin menceritakannya sejak berbulan-bulan lalu, sejak aku tahu aku hamil."
"Lalu, kenapa kau tidak melakukannya?" Tanya Kyuhyun dengan kemarahan di mata dan suaranya.
"Demi Tuhan Sungmin! Bagaimana bias kau berbaring di pelukanku, bercinta denganku dan mengatakan kau mencintaiku, lalu merahasiakan hal seperti ini padaku?"
Sungmin merasakan kepedihan pria itu. Ia merasa sedih atas dirinya sendiri dan semua kepedihan yang mereka rasakan selama beberapa bulan terakhir. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipi Kyuhyun. "Aku tidak ingin merahasiakannya. Aku ingin menceritakannya padamu. Aku hanya tidak tahu caranya."
Sebagian amarah di wajah pria itu memudar mendengar kata-kata Sungmin. Kyuhyun memalingkan bibirnya ke telapak tangan Sungmin dan menciumnya. Saatbibir pria itu menyentuhnya lembut, hati Sungmin mengembang dipenuhi cinta untuk Kyuhyun. Oh,betapa aku mencintainya,batin Sungmin.
Ia menatap wajah tampan Kyuhyun. Garis rahang yang sempurna, dagu yang angkuh, mata kelamnya yang bbegitu serius. Di bawah cahaya api, rambut coklat pria itu berkilauan seperti batu oniks yang dipoles, dan Sungmin harus menahan dorongan untuk menyibak untaian rambut yang selalu jatuh di dahi laki-laki itu. Entah bagaimana, sebaliknya ia berhasil bersuara dan berkata, "Maafkan aku. Aku tidak pernah berniat memberitahumu tentang bayi kita seperti ini. Tadinya aku berharap….aku berencana-"
"Sstt. Itu tidak penting lagi." Ujar Kyuhyun meraih tangan Sungmin yang lain. Pandangannya tidak beranjak dari wanita itu saat ia mengangkat tangan Sungmin ke bibirnya dan menciumnya lagi. " Yang penting kita sekarang sudah bersama, dan kita akan punya bayi. Bayi." Ulangnya, suaranya terdengar takjub.
"Aku maish tidak mempercayainya. Kita benar-benar akan memiliki bayi."
"Kyuhyun-"
Kyuhyun menghentikan kata-kata Sungmin dengan ciuman. "Tahukah kau betapa beratnya beberapa bulan terakhir ini bagiku? Semua yang terlintas di kepalaku saat kau meninggalkan pesan itu dan menghilang. Aku marah sekali pada keluargamu. Aku yakin mereka mengetahui hubungan kita dan memaksamu pergi."
"Tidak." Tukas Sungmin.
"Bukan mereka,tapi aku. Ini semua ideku."
"Yeah, aku menyadari itu setelah berbicara dengan Eunhyuk seminggu yang lalu. Tapi ada sisi di diriku yang tidak mau percaya kau sanggup melakukan itu . Pergi meninggalkanku begitu saja, setelah apa yang kita alami bersama."
Rasa bersalah menggelayuti Sungmin. "Bukan hal yang mudah. Aku….aku tidak tahu harus berbuat apa. Kukira,jika aku pergi,aku akan punya waktu untuk berpikir…."
"Eunhyuk juga bilang begitu. Tapi itu tidak menghilangkan kekhawatiranku, khawatir kau meragukan kita. Khawatir kau mulai percaya apa yang dikatakan keluargamu bahwa keluarga Cho-lah yang menyabotase took es krim milikmu. Kupikir….aku takut kau membenciku. Takut kau menyesali kebersamaan kita." Kyuhyun menelan ludah dan melanjutkan, "Aku takut kau menyesal mencintaiku."
"Tidak," sahut Sungmin jujur, dan tak akan mampu menghentikan diri sendiri, ia mengangkat tangan dan menyentuh pipi pria itu. Ketika sekali lagi pria itu menoleh dan menciumi telapak tangannya, ia tidak menariknya. Menyesal mencintai Kyuhyun? Tidak,batin Sungmin. Akan lebih mudah baginya untuk mati daripada menyesal jatuh cinta pada Kyuhyun. Ia dibesarkan oleh kakek-nenek dari orangtua yang member contoh tentang 'apa sebenarnya cinta sejati'. Ia tahu perasaannya kepada Kyuhyun nyata. Bahkan, ia ragu punya pilihan dalam hal mencnitai Kyuhyun.
Ia langsung jatuh cinta, hamper pada detik pertama mereka bertemu. Meskipun ia menyesali masalah dan rasa sakit hati yang akan muncul dalam kedua keluarga akibat hubungan mereka, ia tidak akan pernah menyesali cinta diantara mereka. Bagaimana mungkin ia menyesalinya, sementara anak yang tumbuh di rahimnya adalah buah cinta itu sendiri? Bayi ini keajaiban yang indah, hadiah yang akan selalu ia nikmati, sama seperti ia selalu menikmati cinta yang dilimpahkan Kyuhyun.
"Aku tidak pernah menyesal mencnitamu. Tidak pernah. Semenit pun tidak."
"Terima kasih Tuhan." Ujar Kyuhyun, dan jawaban Kyuhyun seolah-olah membuka pintu emosi dalam dirinya, ia merengkuh Sungmin ke dalam pelukannya.
Setelah berbulan-bulan tanpa kehadiran pria itu, Sungmin menikmati berada dalam pelukan Kyuhyun lagi. Kali ini, saat Kyuhyun menunduk dan menciumnya, ia tidak menghindar.
Bibir pria itu menutupi bibirnya. Kyuhyun menciumnya lembut,penuh gairah,mendamba. Saat lidah pria itu menyentuh garis bibrnya, Sungmin tidak ragu lagi. Ia menyambut Kyuhyun. Mereka saling menjelajah,menari,melengkapi. Kyuhyun menciumnya, dan menciumnya lagi. Setiap gerakan lidahnya semakin menumbuhkan hasrat ingin lebih. Ketika pria itu melepaskan bibir Sungmin dan menggeram, Sungmin merasa limbung. Hanyut dalam emosi dan sensasi, ia mencengkram bahu Kyuhyun karena takut lututnya akan goyah sewaktu-waktu. Lalu, bibir Kyuhyun yang lihai mulai mengecupi daun telinga Sungmin. Ciuman diiringi dengan gigitan pelan yang membuat jantung Sungmin berdebar dan darahnya memanas. Ketika Kyuhyun menggigiti daun telinganya, Sungmin tersentak.
Ini salah, ia menyadari saat menghirup aroma Kyuhyun yang akrab di hidungnya. Tiba-tiba indranya dibanjiri aroma pria itu. Aroma sabun,salju yang baru turun dan hutan. Sungmin hanya bias membatin betapa sering aroma ini membangkitkan kenangan akan Kyuhyun beberapa bulan terakhir ini, membuatnya ingin berada dalam pelukan pria itu lagi seperti ini.
Ketika Kyuhyun mulai menciumi garis rahangnya, Sungmin tahu ia sedang bermain api. Ia sangat menginginkan Kyuhyun, dan sangat mencintai laki-laki itu. Namun, mereka tidak punya masa depan. Ia tahu itu. Ia sudah tahu sejak awal. Bahkan janin yang tumbuh dalam tubuhnya pun tidak bias mengubah kenyataan itu. Membiarkan Kyuhyun meneruskan lebih jauh hanya akan membuat pria itu percaya mereka bakal bias bersatu. Aku salah jika membiarkan Kyuhyun mempercayai hal itu, piker Sungmin.
"Kyuhyun." Ia mulai berbicara, karena ia tahu ia harus menghentikan pria itu.
Namun, kemudian Kyuhyun menciumi lehernya dan protes itu lenyap dari bibirnya. Sungmin mendongak membiarkan lehernya terpapar bagi Kyuhyun untuk menemukan jalannya. Saat pria itu menciumi lehernya,sensasi yang ditimbulakannya begitu erotis,menggoda.
Kyuhyun menyentuh kulitnya yang sensitive, Sungmin nyaris mengerang. Ia meremas sweter pria itu.
"Manis,begitu manis." Gumam Kyuhyun, nafasnya yang hangat mengemus kulit Sungmin yang membara. Jantungnya berdetak tak akruan hingga Sungmin khawatir ia akan meledak.
Ketika Kyuhyun menurunkan kerah sweternya yang berleher V untuk menciumi tulang selangkanya, Sungmin tersengal. Jemarinya mengelus rambut pria itu,menarik kepla pria itu, dan membawa bibir pria itu kembali ke bibirnya.
Kali ini, saat bibir mereka bertemu, Sungminlah yang mengerang ketika Kyuhyun menggigiti bibir bawahnya dan mengambil kendali ciuman. Sungmin bagai melayang dibawah siksaan nikmat mulut dan lidah pria itu. Merasakan tangan pria itu meluncur di punggung,lalu dipinggulnya. Ketika Kyuhyun menangkup bokongnya dan mengangkatnya,menekan tubuh Sungmin ke tubuhnya yang bergairah, Sungmin gemetar.
"Ya Tuhan, Sungmin aku sangat merindukanmu." Kata Kyuhyun sambil terus menghujani wajah Sungmin dengan ciuman.
"Aku juga." Aku Sungmin, hanyut dalam sentuhan bibir dan tangan Kyuhyun ditubuhnya setelah begitu lama mereka berpisah.
"Maafkan aku karena tidak menceritakan tentang bayi ini….karena melarikan diri…."
"Sudah kubilang itu tidak penting." Ujar Kyuhyun memotong permintaan maaf Sungmin dengan ciuman lain yang menggetarkan.
Ketika pria itu mengangkat kepala,Sungmin berani bersumpah dunia di bawah kakinya tidak lagi datar. Untuk menopang diri,ia mengalungkan tangan di leher Kyuhyun. Saat itulah ia baru sadar Kyuhyun sedang membopongnya menuju sofa.
Dengan lembut pria itu menurunkannya ke sofa dan duduk disampingnya. Ia sempat menyadari apa yang sesungguhnya terjadi ketika pria itu menangkup wajahnya. Kyuhyun mencium dahinya dan berkata, "Sekarang yang terpenting kita sudah bersama. Aku bersumpah, tak akan membiarkan apapun memisahkan kita lagi."
Kata-kata Kyuhyun bagai siraman air dingin, langsung menyadarkan Sungmin.
"Kyuhyun," ucapnya.
"Aku bersumpah padamu, Sungmin, aku akan menjadi ayah dan suami yang paling baik." Lanjut pria itu.
"Kyuhyun jangan!" ujar Sungmin dan berusaha menegakkan tubuh.
"Kenapa? Ada apa dengan bayinya? Apa aku menyakitimu atau si bayi?"
"Tidak. Tidak,bayinya tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa." Sungmin meyakinkan Kyuhyun.
"Lalu ada apa? Apa yang salah?"
"Sebaiknya kita jangan terburu-buru. Semuanya berjalan terlalu cepat." Kata Sungmin.
Pandangan Kyuhyun beralih dari wajah ke perut Sungmin.
"Sayang,menurutku kita malah harus bergerak cepat." Katanya sedikit bercanda. "Kapan bayinya lahir?" Lanjut Kyuhyun.
"Februari." Jawab Sungmin.
"Saat Valentine, tanggal empat belas Februari." Ia menunggu beberapa saat agar Kyuhyun menyadari tanggal petaka itu.
Kyuhyun tidak menyadarinya. Sebaliknya,pria itu malah berkata, "Kalau begitu kita tidak punya banyak waktu untuk merencanakan pesta pernikahan. Jujur saja,aku lebih suka kita menikah diam-diam sekarang juga dengan Ryeowook dan Yesung sebagai saksi."
"Kyuhyun,please."
"Tapi kalau kau suka pesta besar-besaran aku mengerti." Kata Kyuhyun tanpa mengindahkan protes Sungmin.
"Aku hanya minta kita menikah sebelum natal. Aku ingin kita memulai tahun baru sebagai suami istri."
"Hentikan!"
Kyuhyun tersentak kaget seolah Sungmin telah menamparnya, lalu menyipitkan mata.
"Hentikan apa Sungmin?"
"Berhentilah memaksaku untuk menikah denganmu."
Kyuhyun berdiri,tapi tak mengalihkan pandangannya dari Sungmin dengan sorot mata menuduh.
"Itukah yang sedang ku lakukan? Memaksamu menikah?" Ia tidak memberi kesempatan kepada Sungmin untuk menjawab. Sebaliknya, ia melanjutkan, "Aku mencintaimu dank u kira kau juga mencintaiku."
"Aku memang mencintaimu," ujar Sungmin frustasi dan bingung. Itu kenyataannya. Ia memang mencintai Kyuhyun sepenuh hati.
Kyuhyun berlutut menggenggam tangan Sungmin.
"Kalau begitu menikahlah denganku,hidplah bersamaku dan bayi ini."
Sungmin menarik lepas tangannya dan mengalihkan pandangan. "Kau tahu situasinya tidak semduah itu."
"Aku juga tahu situasinya tidak sesulit itu. Kebanyakan orang yang saling mencintai dan sedang menanti kelahiran bayi mereka pasti menikah."
"Kita bukan orang kebanyakan." Sungmin mengingatkan.
"Aku berasal dari keluarga Lee dan kau berasal dari keluarga Cho."
"Dan bayi kita akan menjadi bagian dari dua keluarga." Tegas Kyuhyun sambil berdiri lagi.
"Aku tahu. Hanya saja-"
"Kita bias melakukannya Sungmin." Kyuhyun berkeras. "Aku tau kita bias. Kita menikah dan kau bisa pindah ke apartemenku. Atau kita bias membeli rumah dan-"
"Jangan!" teriak Sungmin, tidak sanggup mendengar Kyuhyun menggambarkan kehidupan yang dalam hati ia tahu tidak mungkin bias mereka wujudkan. Air mata itu membuatnya pedih. Ia langsung menyalahkan hormonnya yang kacau sejak ia hamil. Karena ia takut jika ia mengakui kenyataan bahwa ia menginginkan kehidupan bersama Kyuhyun seperti yang digambarkan pria itu tadi, pendiriannya akan goyah.
Ia tidak boleh melemah. Sekarang saat begitu banyak hal yang dipertaruhkan. Ia memutuskan dirinya membutuhkan jarak untuk menjernihkan indranya agar bisa berpikir rasional.
"Kurasa sebaiknya kau pergi. Itu yang terbaik." Ujar Sungmin.
"Lupakan saja. Aku tidak akan pergi ke manapun."
"Kalau begitu, aku masuk dulu." Katanya sopan. Namun Kyuhyun bergeming, pria itu hanya berdiri di situ, tampak jangkung dan menakutkan saat menatapnya.
"Tolong beri aku jalan." Kata Sungmin tegas dan tenang.
Ekspresi pria itu mengeras dan sesaat Sungmin mengira Kyuhyun akan menolak. Lalu Kyuhyun menepi dan mengulurkan tangannya. Sungmin ragu, mengakui bayi dalam perutnya membuatnya lebih sulit bangkit. Ia lalu menerima pertolongan Kyuhyun.
Namun begitu berdiri, ia segara menjauh dan bergegas meninggalkan Kyuhyun. Ia berjalan menuju perapian. Sambil menatap nyala api,ia mencari kata yang tepat supaya Kyuhyun mengerti ia tidak bias menikah dengan pria itu. Pernikahan mereka tak akan pernah berhasil. Bagaimana mungkin, jika penyatuan mereka akan mengoyak keluarga mereka? Lebih buruk lagi, ia takut akhirnya mereka hanya akan saling membenci.
"Kalau kau kira sikap dingin seperti itu akan membuatku menyerah, berarti kau tidak mengenalku seperti yang ku kira. Aku tidak akan pergi sebelum mendapat jawaban yang kuinginkan, Sungmin."
Sungmin ingin memberikan jawaban yang diinginkan Kyuhyun. Karena itu jugalah yang diinginkannya. Hanya saja, ia tidak bias. Tidak mungkin, karena kutukan membayangi diri dan anaknya yang belum lahir. Membayangkan sesuatu yang buruk menimpa bayinya, menimbulkan desakan rasa panic di sekujurtubuhnya,dan belum bisa mengendalikan diri, isak tangis keluar dari bibirnya.
.
.
"Sial." Gumam Kyuhyun. Ia ingin menendang diri sendiri karena menyebabkan Sungmin menangis. Meskipun tidak melihat wajah Sungmin, ia berani bertaruh saat ini Sungmin menyesal karena tidak sanggup menahan tangis. Ia cukup mengenal Sungmin untuk tahu wanita itu wanita itu menganggap air mata sebagai ungkapan kelemahan. Namun selama ini, Sungmin memang selalu keras terhadap dirinya sendiri, batin Kyuhyun.
Mungkin keluarganya berharap terlalu tinggi dari Sungmin.
Tidak adil. Kenapa harus Sungmin yang ditunjuk sebagai penerus peninggalan Lee Minyoung? Kenapa bukan yang lain yang mengelola Lee Felateria di Seoul Sout Korea? Kenapa harus Sungmin? Pasti ada banyak cukup keluarga Lee yang bisa berbagi tugas. Namun karena satu dan lain hal,semuanya mereka bebankan di pundak Sungmin. Dan sepanjang pengetahuannya, banyak sekali anggota keluarga Lee yang sudah terlalu lama memanfaatkan Sungmin. Hal ini harus dihentikan.
Ia menatap bahu Sungmin yang langsing,dan hanya bias membayangkan besarnya beban tanggung jawab yang ditanggung keduanya. Sungmin tidak hanya dibebani dengan mengelola Glateria dan mencoba memenuhi harapan semua orang atas dirinya,tapi juga harus menjalani kehamilannya sendirian. Seharusnya aku menyadari apa yang tidak beres sejak dulu,Kyuhyun memarahi diri sendiri dengan rasa bersalah yang memuncak. Namun,bukannya membantu dan meringankan tekanan yang menghimpit Sungmin,ia malah menambahnya. Kesadaran ini membuat Kyuhyun merasa sepuluh kali lebih buruk.
Menyesal karena telah membuat wanita itu sedih,Kyuhyun berjalan ke belakang Sungmin dan meletakkan kedua tangannya di bahu wanita itu.
"Maafkan aku." Katanya lembut.
"Kau tahu aku lebih baik memotong tanganku daripada melukaimu. Aku benci telah membuatmu menangis."
"Tidak. Maksudku,kau tidak membuatku menangis. Aku tidak menangis." Sungmin berbohong sambil mengusap matanya.
"Yah, syurkurlah." Kyuhyun berharap bias meredakan suasana dengan menambahkan,"Karena kalau pria berkata kepada seorang gadis bahwa dia mencintainya dan mengajaknya menikah, air mata sama sekali bukan jawaban yang diharapkannya."
"Oh, Kyuhyun maafkan aku." Ijar Sungmin,suaranya kembali diwarnai tangis.
Kyuhyun menghembuskan napas. Karena usahanya meredakan ketegangan gagal. Ia mencoba cara langsung, "Apakah menikah denganku begitu menakutkan?"
"Tidak." Jawab Sungmin dan Kyuhyun melihatnya mengusap air matanya lagi.
"Kalau begitu kenapa kau menangis?"
"Ada sesuatu dimataku. Mungkin Cuma bulu mata." Sungmin berusaha menjelaskan.
"Mau kulihat?" Tanya Kyuhyun,berharap wanita itu mau berbalik dan memandangnya.
"Terimakasih,tapi sekarang sudah keluar. Aku..aku baik-baik saja."
"Kedengarannya tidak begitu. Kau terdengar sedih, dan aku tidak pernah melihatmu bersedih, meskipun pada saat-saat sulit."
"Bahkan ditengah berencana peluncuran rasa es krim baru pada bulan February, ketika Sungmin punya banyak alasan untuk menangis,wanita itu juga tidak meneteskan air mata sedikitpun. Sungmin juga tidak sedikit pun menunjukkan rasa kalah,tidak seperti yang ditunjukkannya sekarang.
Sungmin mengembuskan nafas keras-keras. "Ini gara-gara hormonku. Kehamilan ini mengacaukan semuanya."
"Kurasa kita berdua tahu ini bukan hanya sekadar hormon." Saat Sungmin tidak merespons, Kyuhyun meremas bahunya. "Bicaralah Sungmin. Apapun masalahnya,aku janji kita akan mengatasinya."
"Kita tidak bisa mengatasinya."
"Bagaimana kau bisa tahu kalau bicara dengankupun kau tidak mau?" Tanya Kyuhyun. Ketika Sungmin tetap diam,ia memohon. "Aku ,jangan menjauhiku."
"Aku tidak menjauhimu."
"Benarkah? Lalu apa namanya,melarikan diri dari Seoul seperti yang kau lakukan itu?"
"Aku tidak melarikan diri." Sungmin menegakkan tubuh dan melangkah menjauhi sentuhan Kyuhyun. Sambil mengambil tongkat penyodok kayu perapian,ia menyodok potongan kayu bakar dibalik jeruji perapian. "Sudah kubilang,aku perlu menyendiri. Aku butuh waktu untuk berpikir,untuk tahu apa yang harus kulakukan dengan bayi ini."
Kyuhyun terpaku mendengar pernyataan Sungmin. Karena kaget,butuh beberapa saat sebelum ia bisa bicara.
"Kau tidak bermaksud mengatakan bahwa kau mempertimbangkan….bahwa kau pernah memikirkan untuk menyingkirkannya…."
"Tidak!" Sungmin langsung berpaling dari perapian kepada pria itu. "Bisa-bisanya kau memikirkan hal itu?"
"Kau benar. Maafkan aku. Hanya saja,sesaat tadi aku mengira….." Kyuhyun mengusap-usap tengkuknya.
"Aku tidak tahu apa yang kupikirkan. Pikiranku jelas sedang kacau."
"Kau jelas tidak bisa berpikir sama sekali. Kalau ya,kau pasti tahu aku tak akan pernah melakukan apapun yang bisa membahayakan bayiku."
"Bayi kita." Ralat Kyuhyun
Sungmin tidak menjawab,ia hanya mengalihkan perhatiannya kembali ke api.
"Lagipula aku meninggalkan Seoul karena butuh waktu sendirian agar bisa menemukan cara mengatasi semua ini."
"Maksudmu,bagaimana kita bisa mengatakan semua ini. Iya kan?" Tanya Kyuhyun. Ia berniat menjadi bagian masa depan Sungmin dan bayi mereka sepenuhnya.
Saat Sungmin tidak menjawab, Kyuhyun mengambil tongkat penyodok dari tangan Sungmin dan menaruhnya di samping. Lalu membalikkan badan Sungmin hingga wanita itu terpaksa menatapnya. Namun pandangan sekilas ke wajah Sungmin membuat Kyuhyun menyadari wanita itu jauh lebih tertekan daripada yang ia kira.
Jejak airmata di pipi Sungmin yang pucat serta kesedihan dimata rubah besarnya membuat hati Kyuhyun terkoyak. Ia ingin memeluk,mencium,dan meminta Sungmin supaya tidak khawatir lagi. Ia akan mengatasi segalanya. Ia akan melindungi Sungmin dan bayi mereka.
Yang benar saja,Cho.
Mengingat sifat Sungmin yang luar biasa mandiri,ia cukup beruntung sempat mengatakan hal itu sebelum wanita itu marah padanya habis-habisan. Lalu,wanita itu akan semakin bertekad menyelesaikan segalanya sendirian. Yah, Sungmin bukan satu-satunya yang keras kepala. Ia juga sama. Dan ia tidak akan membiarkan Sungmin menjadi satu-satunya yang boleh mengambil keputusan disini. Lagi pula,batinnya, Sungmin berada dibawah begitu banyak tekanan. Itu tidak baik untuk wanita itu sendiri maupun bayinya. Entah bagaimana,ia harus meyakinkan wanita ini untuk menikah dengannya,jika bukan demi hubungan mereka,maka demi sang bayi.
"Kurasa hal pertama yang harus kita lakukan sudah jelas."
"Maksudmu kita harus menikah?"
Mengabaikan bicara Sungmin yang membuat pernikahan terdengar sama mengerikannya dengan mencabut gigi, Kyuhyun berkata, "Betul. Dan kurasa,makin cepat makin baik."
"Aku sudah menduga kau akan bilang begitu." Tuduh Sungmin. Ia menjauh dari Kyuhyun. "Itulah sebabnya aku tidak langsung menceritakan tentang bayi ini. Aku tahu begitu kau mengetahuinya,kau akan mulai mendesakku untuk menikah denganmu."
"Aku tdiak mengira kau menganggap menikah denganku merupakan takdir yang lebih buruk daripada kematian." Tukas Kyuhyun,egonya mulai terluka.
"Kau tahu bukan itu maksudku."
"Kalau begitu,kenapa tidak kau jelaskan apa sebenarnya maksudmu?"
Sungmin duduk di depan perapian dan mengaitkan jemarinya. Sesaat kemudian ia mendongak menatap Kyuhyun. "Aku tidak bisa membayangkan hal yang lebih indah daripada menikah denganmu. Dan kurasa wanita yang menjadi istrimu merupakan wanita yang beruntung."
Merasa agak tenang dan lega,Kyuhyun membungkuk didepan Sungmin dan meraih tangan gadis itu.
"Aku yang beruntung." Katanya sambil tersenyum.
"Aku tidak hanya mendapatkanmu sebagai istri,tapi juga mendapatkan bayi."
Sungmin menarik lepas jemarinya dan berdiri. Ia bergerak ke sudut lain.
"Aku tidak sedang membicarakan diriku, Kyuhyun."
"Aku membicarakan dirimu." Jelas Kyuhyun. Ia berdiri dan mengikuti Sungmin. Kali ini, ia mendekat melingkupi Sungmin.
"Hanya ada satu wanita yang ingin kunikahi. Lee Sungmin,dan wanita itu adalah kau."
Sungmin menggeleng. "Kita tidak bisa. Pikirkan apa akibat pernikahan ini bagi keluarga kita. Apa masalah yang akan muncul nantinya."
"Kita akan menghadapi keluarga kita. Dan menangani masalah yang muncul. Yang penting kita bersama. Aku mencintaimu. Aku tidak mau menyelinap sembunyi-sembunyi untuk menemui dirimu dan merahasiakan hubungan dulu aku tidak pernah melakukan itu."
"Aku tahu."
"Kalau begitu,kau semestinya tahu aku ingin bisa bangun pagi bersamamu dan tidur memelukmu setiap malam. Aku ingin punya belasan bayi lain bersamamu. Aku ingin menjadi tua bersamamu,Lee Sungmin. Menikahlah denganku." Ia memohon.
"Kyuhyun jangan!" Sungmin menangis dan mulai menjauh.
Kyuhyun menghalangi jalan Sungmin. Ia meraih tangan wanita itu dan menatap mata besar itu dalam-dalam. "Menikahlah denganku. Katakan kau mau menjadi istriku."
"Kyuhyun." Sungmin tersedu dan menarik lepas tangannya.
"kenapa kau tidak mau mendengar? Kenapa kau bahkan tidak mau mencoba untuk mengerti? Permikahan kita tidak akan berhasil."
"Bagaimana kau bisa tahu kalau kita belum mencobanya?" tuntut Kyuhyun. Rasa putus asa membuat suaranya lebih keras daripada niatnya semula.
"Karena aku tahu. Menikah bukan jalan keluar."
"Sepanjang pengetahuanku, menikah adalah satu-satunya jalan keluar." Sanggah Kyuhyun.
"Jangan bodoh."
Bagaimana bisa orang semungil ini bisa keras kepala? Batin Kyuhyun. Mungkin cara berpikir manusia gua memang benar,pikirnya geram. Karena sekarang,ia benar-benar tergoda untuk menggendong Sungmin di bahunya, membawanya ke suatu tempat, dan bercinta dengan wanita itu sampai dia setuju untuk menikah. Terkejut dengan hasrat yang dibangkitkan Sungmin terhadap dirinya, Kyuhyun mengusap wajahnya. Yeah,Cho. Coba saja lakukan itu dan Sungmin pasti akan memotong kakimu.
"Kau tahu betul apa yang sedang kau bicarakan. Keluarga kita saling membenci."
"Itu masalah emreka,bukan masalah kita."
Sungmin menatap Kyuhyun seolah pria itu punya dua kepala. "Apakah kau bermaksud mengatakan sejarah pahit antara keluarga Lee dan Cho tidak berarti?"
"Itu tidak berarti. Tidak untuk kau dan aku. Permusuhan antara keluarga kita tidak ada hubungannya dengan kita."
"Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu? Apalagi dengan semua yang terjadi saat ini."
"Mudah saja." Sahut Kyuhyun, meskipun ia tahu keadaannya jauh lebih rumit daripada yang mau diakuinya saat ini. "Jika keluarga kita ingin memelihara permusuhan yang ada,biar saja. Kita tidak perlu terlibat."
"Tidak perlu? Bagaimana dengan kenyataan keluargamu mencurigai sepupuku, Zhoumi, yang menculik adikmu?" Sebelum Kyuhyun sempat menjawab, Sungmin melanjutkan. "Bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau memang Siwon yang melakukannya? Apa kau bisa mengatakan dengan jujur, hal itu tidak mempengaruhi hubungan kita?"
Kyuhyun mengepalkan tangan disisi tubuhnya. Perutnya bergejolak saat diingatkan tentang penculikan adiknya,Henry. Tidak seperti Sungmin yang memiliki banyak saudara kandung, ia hanya punya satu adik. Saat pertama kali mendengar kabar adiknnya dan Zhoumi diculik,dirinya terombang-ambing antara marah dan panic. Ia mencari ke segala tempat dan menugaskan beberapa orang untuk mencari mereka. Begitu detektif swasta menyimpulkan bahwa Zhoumi sebagai penculik dan bukan korban, Kyuhyun bersumpah akan menemukan bajingan itu dan menggorok lehernya ketika pria itu berani menyakiti Henry sedikitpun.
Bahkan jika FBI mengancam akan menuntutnya karena menghalangi penyelidikan tidak mengurangi usahanya menemukan adiknya. Namun ketika detektif itu juga berkeras, Kyuhyun telah menghalangi dan mengganggu penyelidikan alih-alih membantu, barulah akhirnya ia memutuskan untuk mundur. Tidak mudah melakukan itu. Apalagi pada saat ia hamper gila karena mengkhawatirkan adiknya yang hilang. Akhirnya ia melakukan apa yang diminta detektif itu. Ia mundur dan membiarkan detektif itu dan FBI melakukan pekerjaan mereka. Karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk Henry, ia kembali mencari Sungmin,yang ia abaikan karena berita penculikan itu. Bahkan sekarang,setelah ia berhasil menemukan Sungmin pun, kekhawatiran atas nasib adiknya belum berkurang. Tidak ada yang bisa mengurangi kekhawatirannya sampai ia tahu Henry sudah aman.
"Dari wajahmu tampak jelas kau tahu aku benar."
"Yang aku tahu, Zhoumi-lah yang bertanggung jawab atas penculikan Henry dan jika dia menyakiti Henry dengan cara apapun, dia akan ebrhadapan denganku."
"Kau lihat?" tegas Sungmin, suaranya dipenuhi kesedihan. "Saat ini pun kekacauan sudah dimulai. Kesempatan macam apa yang bisa kita dapatkan dengan begitu banyaknya kebencian diantara keluarga kita?"
Sambil memaki temperamennya sendiri, Kyuhyun berjuang mengendalikan emosi dan mengingatkan diri sendiri bahwa detektif itu akan menemukan adiknya. Saat ini, Sungmin dan bayi merekalah prioritas utamanya. "Kita pasti berhasil. Aku tahu kita bisa."
"Cobalah bersikap realistis, Kyuhyun. Ada terlalu banyak hal yang menghalangi kita. Pernikahan kita akan menjadi bencana."
"Kau salah." Kyuhyun bersikeras. "Kita saling mencintai. Kita sanggup melakukannya. Aku tahu kita bisa."
Sungmin menggeleng dan hal itu membuat emosi Kyuhyun naik kembali.
"Aku tak percaya kau mau membuang begitu saja apa yang kita miliki hanya karena permusuhan kuno yang bodoh. Yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kita."
"Ini bukan hanya soal permusuhan." Sanggah Sungmin. "Lihat saja apa yang telah terjadi pada keluargaku sesaat setelah kita menjalin hubungan."
"Maksudmu?"
"Maksudku,semua hal yang berjalan di luar rencana tahun lalu. Dimulai dari ekributan pada bulan Februari saat peluncuran rasa passionfruit baru untuk Lee Glateria. Lalu kebakaran dipabrik kami. Lalu Zhoumi dan Henry diculik. Dan sekarang, Zhoumi dituduh menculik adikmu?"
"Intinya?" Tanya Kyuhyun,tidak menyukai arah pembicaraan Sungmin.
"Intinya saat ini masalah diantara keluarga kita jauh lebih banyak daripada sebelumnya."
"Mungkin tidak ada masalah jika keluargamu tidak menuduh keluargaku sebagai penyabot." Kyuhyun membela diri. Meskipun tidak pernah setuju dengan sikap keluarganya yang memusuhi keluarga Lee dan tidak pernah ikut campur dalam permusuhan yang menurutnya konyol, ia cukup mengenal keluarganya untuk tahu mereka tidak mungkin melakukan sesuatu yang melanggar hokum dan tak bermoral. Peristiwa sabotase dan kebakaran bisnis Lee mencakup kedua hal itu.
"Apa kau bisa menyalahkan keluargaku?" Balas Sungmin. "Lihat semua tragedy yang diderita keluargaku akibat kutukan Cho."
Kyuhyun mengumpat saat kutukan itu disebut-sebut. "Kutukan itu tidak ada."
"Katakan itu pada Bibi Shinhye-mu, mengingat dialah yang bertanggung jawab mengutuk keluargaku sejak semula."
Sambil menggertakkan gigi, Kyuhyun berkata, "Apa yang disebut kutukan tidak lebih dari ocehan bodoh gadis remaja yang patah hati tujuh puluh tahun yang lalu. Itu bukan hal yang nyata. Kutukan itu tidak ada."
"Kenapa? Karena kau bilang kutukan itu tidak ada? Yah, kukatakan padamu, Cho Kyuhyun. Hanya karena kau eprcaya kutukan itu tidak ada,bukan berarti kutukan itu benar-benar tidak ada. Kutukan itu nyata. Aku tahu itu nyata….."
"Sungmin sayang, coba dengar apa yang barusan kau katakan?" Kyuhyun berusaha menjernihkan pikiran Sungmin. Ia menciba mencari kata-kata yang tepat untuk mengalahkan ketakutan wanita itu. Ia tidak percaya pada kutukan Cho, tidak pernah percaya dan tidak akan pernah percaya. Menurutnya, kutukan itu memang hanya seperti yang ia bilang. Ungkapan kasar remaja yang patah hati karena dicampakan. Meskipun begitu,selama bertahun-tahun cerita-cerita tentang kutukan itu telah berubah menjadi hal mistis. Ia jelas tidak akan membiarkan takhayul gila seperti itu menghalangi masa depannya bersama Sungmin.
"Pikirkan Sungmin,pikirkanlah. Kau salah satu wanita paling cerdas yang ku kenal. Pasti kau bisa melihat semua omongan mengenai kutukan ini….benar-benar tidak masuk akal."
"Bagimu mungkin begitu. Tapi tidak bagiku maupun keluargaku. Kutukan itu ada Kyuhyun. Kami keluarga Lee sudah banyak yang menderita akibat kutukan itu sehingga tidak mungkin kami tidak mempercayainya."
Kyuhyun menyadari kondisi emosional Sungmin yang meningkat akibat kehamilannya menyebabkan wanita itu lebih mudah mempercayai kutukan itu daripada jika dia berada pada situasi lain. Namun, sudah cukup banyak halangan yang harus ia hadapi untuk meyakinkan Sungmin agar mau menikahinya. Ia tida bisa membiarkan kutukan sialan itu juga menjadi salah satu penghalang.
"Aku tidak bilang rasa takutmu tidak nyata. Aku tahu ketakutan itu ada. Tapi Sungmin yang kukenal dan kucintai tidak akan membiarkan rasa takut mengaturnya dalam menjalani hidup."
"Sekarang bukan hidupku saja yang harus kupertimbangkan. Aku juga harus mempertimbangkan hidup bayi ini."
Kyuhyun bergerak mendekat menatap mata Sungmin.
"Kau tahu aku tidak akan membiarkan apapun atau siapapun melukaimu atau bayi kita,kan?"
"Aku tahu. Tapi beberapa hal berada di luar kendalimu."
"Jadi kau rela membuang masa depan kita maupun anak kita hanya karena kisah kuno tentang kutukan?" tuduh Kyuhyun, rasa frustasi menggerogotinya.
"Sudah kubilang kutukan itu bukan satu-satunya masalah. Keluarga kita juga. Mereka bermusuhan. Kecuali sepupuku Eunhyuk, tidak ada yang tahu kita berhubungan apalagi tahu aku hamil. Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaan keluargaku jika aku memberitahu mereka kaulah ayah bayi ini?"
Mereka sama shock-nya seperti keluargaku,aku Kyuhyun dalam hati. "Oke,hal ini akan jadi kejutan. Tapi begitu mereka tahu bagaimana perasaab kita, mereka akan mengerti."
"Mereka akan menganggapku berkhianat."
Kata-kata Sungmin menikamnya. Lebih buruk lagi, rasa mual diperutnya mengatakan Sungmin tidak harus membicarakan keluarganya sendiri.
"Itukah yang kau rasakan? Kau merasa mengkhianati keluargamu daripada berhubungan denganku?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Memang tidak. Kau bilang kau tidak mau menikah denganku karena keluargamu dan kutukan itu. Tapi mungkin alasan sebenarnya kau meributkan hal itu adalah karena kau berubah pikiran mengenai hubungan kita. Biar bagaimanapun aku beradarah Cho."
"Apa maksudmu?" Tanya Sungmin.
"Maksudku, kau berpikir jangan-jangan keluargamu benar tentang kami. Keluarga Cho yang kejam. Mungkin kau juga berpikir kami ada dibalik semua masalah yang keluargamu hadapi tahun ini." Sambil menggertakkan gigi, Kyuhyun menuduh, "Mungkin kau berpikir aku punya andil dalam sabotase dan kebakaran itu."
"Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu."
"Kau yakin?" desak Kyuhyun didorong amarah dan sakit hati.
"Aku tidak perlu menajwab pertanyaan itu."
Saat Sungmin beranjak meninggalkannya, Kyuhyun melangkah didepannya,menghalangi jalannya.
"Buktikan. Buktikan kau tidak percaya aku musuhmu. Buktikan kau tidak pernah menyesali hubungan kita."
Sungmin menyipitkan mata, "Dengan cara apa?"
"Menikahlah denganku sekarang juga." Ujar Kyuhyun tidak ingin member Sungmin waktu lagi untuk memikirkan alasan-alasan yang mengahalngi kebersamaan mereka.
"Sekarang? Kau memintaku menikah denganmu saat ini juga?"
"Ya."
"Ini gila. Kita tidak bisa menikah hari ini, meskipun kita mau,"
"Tentu saja kita bisa. Kita hanya perlu mencari pastur setempat. Aku yakin pasti didaerah sini ada."
"Tapi bagaimana dengan keluarga kita?"
"Kita akan pulang ke Seoul dan memberitahukan hal ini bersama-sama. Setelah kita menikah." Ujar Kyuhyun.
"Tidak. Tidak,kita tidak bisa melakukan itu." Kata Sungmin sambil menggeleng. "Kita tidak bisa memberitahu mereka dengan cara seperti itu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan reaksi mereka."
"Mudah-mudahan mereka akan member ucapan selamat."
Sungmin melontarkan pandangan sedih. "Kau tahu mereka tidak akan melakukannya."
"Mereka bisa melakukan hal yang tidak kau duga, Sungmin. Keluargamu menyayangimu,keluargaku juga menyayangiku. Mereka ingin kita bahagia. Apalagi, ibuku sudah rebut menginginkan cucu. Sudah lama beliau ingin aku menikah.
"Aku ragu ibumu membayangkan diriku sebagai menantunya."
"Mungkin tidak. Tapi beliau akan terbiasa dengan keadaan ini. Semua keluargaku akan terbiasa." Kyuhyun meyakinkan Sungmin.
"Termasuk Bibi Shinhye-mu?"
"Pada akhirnya, ya." Jawab Kyuhyun sambil berharap dirinya benar.
"Dia membenci siapapun yang bermarga Lee. Kau tidak benar-benar percaya dia mau menerimaku sebagai istrimu?"
"Jika dia tetap ingin menjadi bagian dari hidupku dan hidup bayi kita, dia akan menerimamu." Kata Kyuhyun. Namun ia tahu, Sungmin mungkin benar Bibi Shinhye tampaknya takkan bisa menerima pernikahan mereka. Betapa pun besarnya rasa sayangnya kepada wanita tua itu, Kyuhyun tidak menutup mata atas kesalahan Bibi-nya yang terbesar adalah kebenciannya yang begitu dalam terhadap keluarga Lee. Sayangnya, Cho Shinhye menghabiskan hamper tujuh puluh tahun dari hidupnya memelihara kebencian itu. Bertahun-tahun lalu, Kyuhyun menyimpulkan bibinya telah menutup diri dari cinta dan menjadikan Kyuhyun dan adiknya sebagai pengganti anak. Meskipun menyedihkan, Kyuhyun menduga dirinya dan Henry telah mengisi kekosongan akan suami dan anak dalam kehidupan bibinya. Disamping itu, Kyuhyun, Henry dan restoran, semangat hidup bibinya juga bersumber dari kebenciannya terhadap keluarga Lee. Ia tidak ingin kehilangan bibi yang sangat dicintainya, tapi ia lebih tidak ingin kehilangan Sungmin dan bayi mereka.
"Apa kata-katamu juga berlaku untuk orangtua dana dikmu?" Tanya Sungmin. "Jika mereka menolak menerimaku sebagai istrimu, apa kau juga akan menjauhi mereka?"
"Jika itu yang diperlukan agar kita bisa bersama, maka ya. Aku akan melakukannya." Jawab Kyuhyun tanpa ragu. Dan ia bersungguh-sungguh. Meskipun ia berharap tidak eprlu memilih antara keluarganya atau Sungmin, ia akan melakukannya jika peril. Dan Sungmin-lah yang akan ia pilih. Sungmin dan bayi mereka.
"Jadi bagaimana? Maukah kau menikah denganku?"
.
.
*TBC
.
.
A/N : Hueeeeeee maaf untuk keterlambatan updatenya..saya sedang sibuk dengan kegiatan sekolah saya dan dunia nyata saya. Akhir-akhir ini saya sedang latihan dalam menyiapkan PENSI di sekolah saya. Tidak bisa lama-lama bermain dengan dunia maya jadinya. Dan sepertinya Chap depan pun juga update-nya bakalan lama. Mianhae chingu-ya
Mohon pengertiannya ne?
Oh iya..ada yang bertanya Kyuhyun dan Sungmin sudah nikah atau belum ya? Dan jawabannya bisa dilihat di Chapter ini^^
KyuMin-nya belum menikah chingudeul~ . Itu si Sungmin masih keras kepala tidak mau menerima lamaran tuan Cho. Kkkk~
Ini chapter terpanjang loo sampai page 31 -_-
Awalnya pengen membagi Chapter ini menjadi dua bagian, tapi saya rasa itu tidak perlu.
.
.
Baiklah sepertinya saya tidak mau bercuap-cuap terlalu lama.
Saya membutuhkan review untuk penyemangat melanjutkan FF Remake ini, karena tanpa review-lah FF saya tidak ada apa-apanya.
So, mohon reviewnya ya.
No review tidak akan saya lanjut :D
.
.
