okay, i had to republish this part, here is the author's note untuk reviewer:
Thank you for the reviews, it means so much to me. i glad that can hear and say about this story from your opinions. As what i have ever said, i can't edit this story because writing this ff is not my only activity. Most of my best stories in the past were written with a hundred time of edit and the second writer which is the editor, jadi pembaca akan menemukan banyak sekali typo, salah kata, dan alur yang tidak jelas, saya belum menemukan teman yang mau jadi editor untuk ff ini, jadi walau saya menulisnya dengan menghabiskan banyak waktu dan tenaga ff ini cuma akan jadi seperti ini.
Ada beberapa review mengenai penggunaan kau dan kamu dalam ff ini yang ingin saya luruskan
okay, dalam kbbi, penggunaan kau dan kamu adalah sama saja alias sejajar.
but for me, "Kamu" is used in casual and daily conversation, you can find "kamu" di media seperti televisi, koran, atau majalah (selain memakai "anda" dan "lo"), while "kau" is mostly used in "poetic language" (poem, poetry, songs etc). Also, depend on how the culture is. Jika kamu pergi ke daerah Indonesia bagian timur, you'll find most all of them using Kau than Kamu. And mostly for North Sumatra.
in java island, "Kau" is a little bit rough and impolite (kasar) beside of that , It has correlation with javanese people culture behavior that they have a polite/soft/kind of attitude, so.. "Kamu" is more better than "kau" if you are leaving on java island especially when you talking with someone who older than you.jadi ini lebih ke kebiasaan penulis saja, i wished that these little thing won't make the reader forget about something that more important like giving support and loves for Chanbaek.
Maafkan raga dan hati, ini lebaran
THE EXCEPTION
chanbaek
Bab V : Please hold my hand
-the exception-
Dinding tebal itu menjulang lagi di antara mereka berdua. Bahkan baekhyun meragukan bahwa dua hari sebelumnya dia telah melakukan hal paling intim yang pernah ia lakukan dengan orang lain dengan seorang Park Chanyeol. Orang asing. Orang asing. Alam sadar Baekhyun bahkan mengejek dirinya sendiri. Lalu untuk apa Chanyeol menikahinya? Atau memberi kesan kalau ia peduli?
Baekhyun tidak bisa tidur sampai pagi karena sakit hati dan bengkak di wajahnya. Dia hanya menangis beberapa menit lalu tertawa dan terdiam seperti orang gila. Dia tidak sampai memikirkan pengaruh seorang Park Chanyeol pada dirinya, membuatnya seperti ini, Baekhyun bodoh karena sudah melibatkan perasaannya terlalu jauh, harusnya ia tahu sebelumnya.
Cermin memantulkan bayangannya yang jelek. Matanya lebam dan pipi kanannya bengkak lebih parah dari pipi kirinya. Baekhyun tidak mendengar suara ketukan lagi, dia tidak mendengar Chanyeol ataupun Jongdae yang berusaha membujuknya, mereka sudah menyerah, baekhyun menyeringai mengejek. Cahaya matahari yang menembus masuk melalui celah-celah gorden membuat Baekhyun bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan. Apakah kemarin ia hanya overreacting? Chanyeol tidak harus memberitahunya tentang apapun, Chanyeol kemarin sudah mencoba meminta maaf dan bahkan Baekhyun melihat kesakitan yang sangat jelas di mata Chanyeol. Chanyeol juga terluka, mungkin Baekhyun hanya terluka di wajahnya yang mana akan sembuh dalam beberapa hari, tapi Chanyeol terluka di hatinya, entah apapun hal yang membuat ia sampai bermimpi semengerikan itu pastilah hal yang sangat menyakiti Chanyeol, belum lagi rasa bersalah Chanyeol karena melukai Baekhyun, dan Baekhyun memperburuknya dengan sangat baik.
Baekhyun membasuh wajahnya agar terlihat lebih baik dan mengoleskan salep penghilang memar yang ia temukan di kotak p3k di kamar mandi hampir seperti memakai krim perawatan wajahnya. Ia lalu ingat kalau Chanyeol juga akan memar di tempat yang ia pukul, walau tak separah Baekhyun, tapi tetap saja pasti sakit karena Baekhyun benar-benar memukul Chanyeol dengan keras saat itu. Ini sudah jam setengah tujuh, Baekhyun akhirnya membuka kunci pintunya lalu keluar membawa salep penghilang memar itu untuk mencari Chanyeol.
Jongdaelah yang Baekhyun lihat pertama kali saat membuka pintu kamarnya, membawa antiseptik, dan beberapa obat untuk merawat luka.
"Selamat pagi, Tuan Baekhyun, bagaimana keadaan anda? "
"Saya baik-baik saja Jongdae, terima kasih. "
"Tuan Chanyeol meminta saya merawat anda dan membawa anda ke rumah sakit saat anda sudah bangun--"
"Apa Chanyeol ada di kamarnya? , Baekhyun enggan mendengar laporan Jongdae.
"Tuan Chanyeol sudah berangkat ke kantor tiga puluh menit yang lalu. ", Jongdae berkata dengan sedikit tidak nyaman saat melihat ekspresi Baekhyun.
"Oh. Kalau begitu kamu bisa pergi," Baekhyun berujar datar.
"Tapi rumah sakit--"
"Kumohon Jongdae, aku sudah tidak apa-apa. Aku ingin keluar sebentar"
"Kalau begitu saya siapkan mobilnya--"
"Tidak Jongdae, aku akan bersepeda. " Jongdae mengangkat alisnya.
"Saya akan menyiapkan--"
"Tidak aku bisa sendiri, aku juga tidak mau diikuti, aku ingin sendirian oke? "
"Tapi ini standard keamanan, tugas saya--"
"Maaf aku menyelamu terus, tapi aku benar-benar ingin sendiri, aku sudah sering keluar sendirian, aku laki-laki, aku bisa bela diri dan menjaga diriku sendiri. Kalau sampai aku melihatmu mengikuti, percayalah itu adalah waktu terakhir kita bertemu." menelan ludah dan mengangguk pasrah, Jongdae mau tidak mau sepakat dengan Baekhyun.
Memakai benie, masker dan kacamata hitam, Baekhyun bersyukur Chanyeol membelikannya sebuah sepeda yang mirip dengan miliknya di rumah keluarga Byun, Baekhyun tidak sempat memikirkan tentang itu tapi Chanyeol ternyata sudah menyiapkan semuanya untuknya. Hati Baekhyun menghangat dan sedih di saat bersamaan. Sepeda untuk Baekhyun di simpan di sebelah sepeda Chanyeol. Tampilannya sangat kontras dan sangat merepresentasikan pemiliknya. Sepeda Baekhyun biru tua, mungil dan ringan sedang milik Chanyeol hitam, maskulin, dan terlihat sangat kuat. Mungkin Baekhyun bisa mengajak Chanyeol untuk kencan sepeda kapan-kapan. Tertawa hambar, Baekhyun membawa sepedanya menuju pusat kota, dia akan mengayuh tanpa peduli arah sampai pikirannya jernih. Baekhyun tidak percaya pada kenyataan Chanyeol yang bahkan pergi bekerja lebih awal setelah sebuah bom jatuh di antara mereka. Apa itu bahkan dianggap sebuah bom oleh Chanyeol? Dia harus tegas dan mengambil sikap. Ya. Dia akan bersikap tegas dengan Chanyeol, seperti sebelumnya, dia sudah pernah menegaskan pada Chanyeol kedudukannya. Baekhyun akan melakukannya lagi. Dan jika Chanyeol tetap memperlakukannya sebagai orang asing, Baekhyun akan memilih untuk hidup sendiri keluar dari rumah Chanyeol, berada di sekitar Chanyeol dan bersikap tidak perduli bukanlah sebuah hal yang bagus. Ya, Baekhyun akan pergi.
-the exception-
Jam adidas di tangan baekhyun menunjuk ke angka setengah dua belasbsaat matahari sudah mulai terik. Baekhyun berhenti di depan sebuah kafe yang berjarak setengah jam dari rumah Chanyeol untuk beristirahat sebentar dan memesan segelas susu strawberry, ia masih tidak memiliki nafsu untuk makan. Pikiran Baekhyun sangat sibuk sampai ia tak merasakan sakit di wajahnya. Meraba saku, Baekhyun mengambil telepon genggamnya, beberapa telepon tidak terjawab dari pegawainya, baekhyun harus pergi ke butiknya secepatnya. Ada beberapa telepon dari Jongdae dan yang membuat Baekhyun menaikkan alisnya, Telepon dan pesan dari Chanyeol.
Baekhyun, maafkan aku.
Apa kamu baik-baik saja?
Baekhyun, aku menyesal.
Kamu di rumah sakit?
Kamu pergi?
Jangan pergi!
Kamu dimana?
Sial Baekhyun! Angkat teleponnya!
Kumohon Baekhyun! Kamu dimana?
Kumohon sayang, aku sungguh menyesal. Katakan padaku kamu dimana.
Apa-apaan Chanyeol ini. Hati Baekhyun menghangat. Apa Chanyeol benar-benar mengkhawatirkannya? Ini baru beberapa jam Baekhyun bersepeda, dia hanya bersepeda, berlebihan sekali. Meneguk sekaligus susu strawberrynya dan meninggalkan uang untuk tagihannya di meja, Baekhyun melangkah keluar dan mengayuh sepedanya ke arah rumah Chanyeol.
Memasuki rumah Chanyeol, Baekhyun melihat dua mobil yang tidak asing berada di luar. Mobil Chanyeol dan mobil Park Yoora. Suasana rumahnya ada yang tidak beres. Penjaga gerbang di luar membelalakkan matanya saat melihat baekhyun. Bahkan seorang pelayan laki-laki yang biasa membersihkan halaman depan dan gedung menawarkan untuk mengurus sepedanya agar Baekhyun bisa langsung masuk ke dalam rumah. Membawa langkahnya dengan berat, Baekhyun membuka pintu besar di hadapannya dan melihat Chanyeol dan kakaknya berdiri di sana dengan kerutan di dahi mereka. Chanyeol sedang menelepon seseorang dan berjalan mondar-mandir di depan sofa seolah sofa itu dia tak melihatnya.
Baekhyun melihat Park Yoora menoleh dan mata mereka bertemu. Baekhyun sangat terkejut saat ia harus menahan diri tidak terjungkang ke belakang karena Park Yoora melemparkan diri padanya, memeluknya, dan menangis. Dada Baekhyun bergetar. Sesuatu yang buruk sepertinya telah terjadi.
"Dia sudah pulang.", suara Chanyeol yang sedang menelpon terdengar oleh Baekhyun.
"Kamu darimana saja? Kenapa tidak menjawab telepon? ", Park Yoora melepaskan pelukannya dari Baekhyun. Suara kecemasan Park Yoora membuat Baekhyun semakin merasa bersalah.
"Apa ada hal buruk terjadi noona? ", suara Baekhyun tercekat saat melepaskan diri dari pelukan Park Yoora.
"Kamu yang pergi tanpa pamit. Aku kira kamu pergi. " Park Yoora menjawab, sedikit marah. Alis Baekhyun terangkat satu.
"Aku yang tidak mengerti atau memang ada kesalahpahaman? Aku cuma bersepeda sebentar, aku sudah bilang pada Jongdae tadi. ". Ujar Baekhyun sambil membuka masker hitam dan benienya.
"Sudahlah, kurasa memang salah paham, syukurlah kamu tidak apa-apa," Kelegaan memenuhi suara Park Yoora.
"Tunggu, ada apa dengan wajahmu? ", sial, batin Baekhyun.
"Kau jatuh? Ada preman yang memukulimu? Oh Tuhan, Baekhyun. " Park Yoora seperti orang kesetanan saat ia memaksa melepas kaca mata hitam yang masih Baekhyun pakai.
"Aku... Aku tidak apa-apa kak, ini cuma kecelakaan kecil. Sama sekali tidak sakit. ", terdengar dengusan yang sangat keras dari belakang Baekhyun.
"Chanyeol! Lihat lebam di wajah Baekhyun! Ia seperti sehabis berkelahi dengan seseorang. " Tubuh Baekhyun menegang saat mendengar nama Chanyeol, itu mengingatkannya kalau sedari tadi laki-laki itu berdiri di sana dan mungkin melihatnya.
"Tunggu... Tidak mungkin--" tubuh Park Yoora juga membeku, melihat Chanyeol dan Baekhyun bergantian, Baekhyun bisa melihat Park Yoora memperhatikan wajah Chanyeol, lebam di pipi Chanyeol yang Baekhyun pukul, walau tak parah tapi terlihat jelas. Baekhyun menunduk, ia tidak bisa melihat ekspresi Chanyeol yang tidak bisa Baekhyun definisikan.
Baekhyun mendengar Park Yoora melangkahkan kakinya menjauhi Baekhyun, mendekati Chanyeol. Baekhyun mengangkat wajahnya saat tamparan keras mendarat di pipi Chanyeol yang masih lebam. Tamparan itu sangat keras hingga suaranya menggema di seluruh rumah, bahkan Baekhyun mendengar Chanyeol mendesis. Baekhyun mengernyitkan dahinya lalu segera meraih tangan Park Yoora lalu menggenggamnya lembut.
"Apa yang noona lakukan? Pipi Chanyeol yang noona pukul masih lebam. "
"Diam Baekhyun! Sial Chanyeol! Kamu mengecewakan noona lagi! Belum cukupkah kamu menghancurkan hati noona? Apa noona pernah mengajarkanmu untuk memperlakukan orang lain dengan kekerasan? Apa kamu ingin menjadi seperti orang itu? ", Park Yoora menangis tersedu-sedu, tampak sangat terluka, bahkan melebihi yang Baekhyun lihat saat Park Yoora marah soal pernikahannya dengan Chanyeol. Tatapan Chanyeol saat ini kosong dan tersesat.
"Kamu memukul Baekhyun Chanyeol! Apa yang ia perbuat? Kamu menikahinya! Dia kelurga Chanyeol, keluarga! ", sebuah getaran memenuhi hati Baekhyun.
"Ini tidak seperti yang noona pikirkan, ini cuma salah paham noona. Tidak sengaja. Ini kecelakaan. Chanyeol tidak bermaksud memukulku--" Baekhyun merasa harus meluruskan semuanya.
"Lihat Chanyeol, Baekhyun membelamu. Dia sangat baik. Kukira kamu benar-benar akan memperlakukannya dengan baik. Kukira kamu akan berubah, aku sekarang bahkan akan membantu memastikan Baekhyun pergi jauh darimu." suara Park Yoora meninggi, dia benar-benar marah. Baekhyun menengahi Park Yoora dan Chanyeol. Ia membawa Chanyeol di belakang punggungnya, ingin menyembunyikannya dari tatapan Park Yoora walau tidak mungkin. Kedua saudara Park ini bertengkar karena Baekhyun, saling melukai. Luka itu, luka diantara kedua saudara Park ini sangat jelas. Baekhyun membelai lembut tangan Park Yoora.
"Noona, bisakah kita bicara sebentar? Berdua saja? " Baekhyun menurunkan nada suaranya.
Membalikkan tubuhnya, Baekhyun masih melihat Chanyeol yang menatap dengan tatapan kosong. Baekhyun meraih lengan atas tangan kiri Chanyeol sebelum tersenyum walau dia tahu wajahnya sekarang sangat konyol karena lebam dan bengkak. Baekhyun membawa Park Yoora ke ruang baca dan duduk berdua. Park Yoora masih sesenggukkan.
"Noona, aku tidak apa-apa. Sungguh. "
"Ya ampun Baekhyun, aku minta maaf, Chanyeol harusnya tidak.. Tidak--"
"Sstt.. Noona terlalu keras pada Chanyeol. Kumohon,"
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa Chanyeol melakukan ini? "
"Aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi, tapi percayalah, Chanyeol sangatlah baik padaku. Dia bahkan lebih tersakiti saat menyakitiku,"
"Benarkah itu?"
"Iya,"
"Kurasa aku belum pernah melihat Chanyeol sangat bahagia. Beberapa hari ini dia sangat bahagia, dan melihat dia kalut seperti itu saat kau pergi menyakitiku juga, tapi saat melihatmu dan kamu yang terluka seperti ini, aku juga merasa sakit Baekhyun, aku ingin Chanyeol bahagia, itu saja,"
"Aku tidak apa-apa noona, aku laki-laki dewasa, aku bisa menjaga diriku sendiri, aku bisa memutuskan hidupku sendiri. "
"Jadi kamu akan pergi? "
"Apa? Pergi kemana? "
"Meninggalkan rumah ini, bercerai dengan Chanyeol? "
"Aku... Aku belum tahu--"
"Bisakah kamu tinggal Baekhyun? Kamu pengaruh yang baik untuk Chanyeol dan dia terlihat bahagia bersamamu,"
"Aku belum akan pergi noona, aku juga bahagia saat bersama Chanyeol. Aku akan berjuang, karena itu aku ingin bicara dengan noona. Aku, aku ingin membuat ini bekerja diantara kami. Aku ingin mempertahankan apapun yang ada di antara kami sekarang. Chanyeol adalah orang baik. "
"Oh, Baekhyun, terima kasih. Aku akan membantumu. " Park yoora memeluk Baekhyun dengan erat lagi.
"aku ingin percaya pada kalian berdua, oke? Ada pesta resepsi pernikahan di akhir minggu yang harus diurus. " Mereka berdua keluar ruangan dan Baekhyun ingin berbicara dengan Chanyeol. Tapi Park Yoora sudah menyeret laki-laki inggi itu untuk berbicara empat mata. Baekhyun pergi ke kamar mandi sambil menghela nafas. Bengkak luka di wajahnya sudah mengecil, hanya lebam-lebam yang masih nampak jelas. Baekhyun akhirnya memilih memakai kaca mata hitam besar yang hampir menutup setengah wajahnya, walaupun konyol, ia merasa lebih baik.
"Aku harus keluar mengurus sesuatu, kalian butuh bicara. " Park Yoora menggenggam tangannya sebentar terakhir kali sebelum melangkah keluar.
Baekhyun meremas tangannya gugup, ia harus berbicara dengan Chanyeol, ini seharusnya mudah. Ia sudah membulatkan tekad dan memikirkan beberapa konsekuensi yang harus ia ambil karena keputusannya. Baekhyun tahu Chanyeol masih ada di ruang kerjamya, jadi dia mengetuk pintu beberapa kali dan langsung membuka pintu tanpa harus menunggu izin Chanyeol. Dibalik pintu, Baekhyun melihat Chanyeol sedang menelpom seseorang, namun saat Chanyeol melihat Baekhyun, ia memutus telepon itu dan mengarahkan fokusnya melihat Baekhyun yang berdiri di ujung ruangan. Ruang kerja Park Chanyeol sedikit temaram, apalagi ditambah kaca mata hitam yang Baekhyun kenakan, tapi kehadiran Park Chanyeol di tengah-tengah ruangan itu seolah bersinar. Ruangan inipun beraroma sangat Chanyeol. Membawa langkahnya mendekati Chanyeol, Baekhyun memasang senyum, ia berharap Chanyeol bisa melihat senyumnya.
"Hai. " Baekhyun memecah keheningan, Chanyeol masih diam, wajahnya berantakan namun masih sangat menawan, Chanyeol terlihat bingung, baekhyun tersenyum karena merasa mereka ulang lagi keadaan ia dan Chanyeol beberapa hari lalu yang canggung saat akan bicara.
"Apa kamu baik-baik saja? Sebentar, " Baekhyun mendekat ke Chanyeol sambil membuka tutup kemasan salep penghilang memar yang ia bawa. Chanyeol masih memandang Baekhyun dengan cara yang aneh. Saat memotong jaraknya hingga beberapa senti dari Chanyeol, Baekhyun mengambil sedikit salep dan mengarahkan jari-jarinya yang lentik itu ke pipi kanan Chanyeol. Lebam bekas pukulannya kemarin masih jelas, dan pipi Chanyeol sangat merah, apa noonanya tadi menampar Chanyeol sangat keras? Suara nafas berat bergema diantar mereka.
"Ishh.. Noona yura keterlaluan, lihat pipimu semerah ini.", Baekhyun masih mengoles salep di pipi Chanyeol berusaha agar selembut mungkin."
"Baek--"
"Husstt.. Maafkan aku oke? Aku tadi pagi kekanak-kanakkan, aku harusnya tidak mengunci diri di kamar. Aku akan mengerti kalau kamu belum ingin bercerita." Baekhyun tahu Chanyeol tidak bisa melihat tatapan matanya saat ini karena kaca mata hitam yang ia pakai, tapi Baekhyun berharap Chanyeol melihat ketulusannya.
"Sudah selesai, salepnya bekerja sangat baik padaku, ini tidak adil, dengan lebam itu wajahmu masih sangat tampan." Baekhyun melihat rona pada pipi dan telinga Chanyeol.
"Kenapa--", Sebelum sempat mendengar lanjutan dari kata-kata Chanyeol, Baekhyun membawa Chanyeol kepelukannya.
"Aku tidak mengatakan apapun pada noonamu, jadi kamu tidak perlu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja."
"Kamu akan pergi? " suara tercekik Chanyeol membuat hati Baekhyun berdenyut.
"Kamu ingin aku pergi? "
"Tidak. Aku ingin kamu tinggal." Baekhyun bertanya-tanya kemana perginya Chanyeol yang selalu terlihat kuat.
"Jadi aku akan tinggal. Aku akan pergi kalau kamu yang ingin aku pergi. ", ya, Baekhyun akan berjuang entah untuk apa saja yang akan ia hadapi. Baekhyun adalah seseorang yang kuat, dan persaannya untuk Chanyeol, rasa perduli, rasa sayang, rasa takut kehilangan, Baekhyun ingin bahagia dan membahagiakan Chanyeol, ia benci pada ide untuk tidak melihat Chanyeol. Baekhyun sama sekali tidak tahu rasa apa yang tumbuh dalam hatinya, ia membenci perasaan itu. Baekhyun benci bagaimana Chanyeol menumbuhkan rasa ini. Chanyeol selalu akan jadi pengecualian untuk Baekhyun.
Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap Chanyeol. "Ada pesta yang harus dipersiapkan. Aku tidak ingin membuat noonamu marah lagi. "
"Apa kamu benar-benar baik-baik saja? " Chanyeol mengarahkan tangannya pada wajah Baekhyun, meraih kaca mata hitam yang dipakai Baekhyun, namun Baekhyun segera mencegahnya.
"Tidak apa-apa, tapi aku sedang tidak terlihat bagus saat ini, bagaimana dengan kamu? ", Baekhyun mencoba tersenyum.
"Baek--"
"kumohon kita bicara nanti atau besok saja, aku sangat lapar ini sudah lewat tengah hari. "
Baekhyun mendengar Chanyeol menghembuskan nafas dengan keras.
"Oke, aku tahu kamu juga belum sarapan kan? "
"Aku cuma tidak selera. "
"Aku tahu. Tapi untuk selanjutnya, apapun yang terjadi kamu harus tetap makan, aku tidak suka ada yang kelaparan dekatku, apalagi itu kamu. " Baekhyun lega mendengar nada bossy Chanyeol kembali.
"Baiklah,"
"Chanyeol--"
"hmm.. "
"Apa kamu sudah makan? "
"Apa? Tidak. Makan adalah hal terakhir yang aku pikirkan saat ini. ", Baekhyun tersenyum mendengarnya.
-the exception-
"Kamu tadi pergi kemana? " Chanyeol mengambil roti yang sudah diberi selai oleh Baekhyun. Baekhyun lalu mengambil sehelai roti lalu mengambil telur, bacoon, dan satu buah sosis, dia sangat lapar tapi sedang tidak ingin makan yang terlalu berat.
"Apa Jongdae tidak memberi tahu? Ah ya, aku dari tadi tidak melihat Jongdae. "
"Aku menyuruhnya pergi tadi. Jongdae cuma bilang kalau kamu pergi dan tidak mau ia ikuti. "
"Aku cuma bersepeda. " Baekhyun mengambil sesuap roti.
"Kita kan punya alat gym yang lengkap di dalam rumah. Kamu tidak perlu keluar. "
"Chanyeol.. "
"Aku sangat benci perasaan yang muncul saat tahu kamu pergi. Aku mengacau, kukira kamu meninggalkanku Baek, " Baekhyun menelan kasar apa yang ia kunyah. Nafsu makannya menghilang, mendengar Chanyeol mengatakan hal-hal seperti itu membuat Baekhyun merasa bersalah.
"Aku tidak. Chanyeol, aku tidak--"
"Kau sudah melihat aku yang sebenarnya, aku tidak memberimu hidup yang kamu mau, tidak bunga dan hati, aku jahat dan buruk, aku seorang iblis, aku seharusnya menjauh darimu, tapi aku tidak bisa. "
Baekhyun mendekatkan dirinya pada Chanyeol, lalu menempelkan kedua bibir mereka, menikmati kecupan ringan yang sangat manis, bibir Chanyeol berusaha mengecap bibir Baekhyun,
"Aww.. Maaf, lebamnya sakit saat disentuh." Baekhyun melihat mata Chanyeol dipenuhi rasa bersalah lagi.
"Aku sudah memutuskan kalau aku akan pergi saat kamu yang memintaku pergi. Kamu memberiku segalanya Chanyeol, aku tidak bisa membayangkan hidupku dengan orang lain. Kamu sangat sempurna. Kemarin kamu tidur, oke? Bagaimana kalau kapan-kapan kita berdua bersepeda bersama?"
"Bersepeda? " senyum Chanyeol menyungging.
"Ya, bersepeda menjernihkan pikiranmu. "
"Kamu pasti mengira aku gila dan memikirkan hal-hal yang buruk--"
"Tidak. Aku cuma kesal karena kamu tadi pergi pagi-pagi sekali. "
"Apa? ",Chanyeol terkejut.
"Aku tadi ingin menemuimu tapi kamu malah pergi,"
"Aku kira kamu tidak ingin melihatku lagi. "
"Lalu kenapa kamu tidak mau aku pergi kalau mengira aku tidak ingin melihatmu lagi? Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau kita harus saling jujur satu sama lain dan jangan mengambil kesimpulan sendiri. "
"Baiklah. Maafkan aku. "
"Apa kamu hari ini mengambil cuti lagi? "
"Tidak. Aku harusnya ada rapat yang sangat penting hari ini, tapi itu sudah bukan masalah lagi. "
"Benarkah? Kamu sebenarnya terlalu berlebihan."
"Aku tidak akan dipecat siapapun Baekhyun. Walau akan ada sedikit kerugian jika aku tidak ada di sana, tapi pikiranku juga penuh denganmu."
"Aku belum pernah melihat kantormu, apakah karyawannya banyak? "
Chanyeol terkekeh, "Ya, karyawannya banyak. "
Baekhyun tersenyum. Perbincangan di antara mereka semakin santai. Baekhyun tahu kalau Chanyeol akan sangat bersemangat menceritakan pekerjaannya.
"Kamu sangat tampan dan selalu terlihat rapi kapanpun. Aku sangat-sangat ingin melihatmu bekerja saat memakai setelan."
"Benarkah? " Alis kiri Chanyeol terangkat.
"Hmm.. Apa tidak apa-apa jika kita ke kantormu sekarang? Ini masih siang. "
"Apa? Kukira kamu ingin bersepeda atau bersantai. "
"Karena kamu mengatakan kamu akan mendapat kerugian jika tidak datang ke kantor, dan aku ingin mampir ke butik sebentar. Tapi kalau kamu tidak mau aku ada di kantormu, aku tidak apa-apa, kita bisa pergi sendiri-sendiri."
"Tidak. Kita akan melakukan apa yang kamu mau. "
-the exception-
Baekhyun mendongakkan kepalanya keatas dan memandang deretan bangunan seluruhnya dari bawah sampai ke atas langit. Gedung Park Coorporation ini mengesankan, puncak menara ramping berkilauan seperti batu safir yang menembus awan. Baekhyun tahu dari pencariannya di internet sebelumnya bahwa interior di sisi lain yang memiliki pintu bergulir berhias bingkai tembaga juga sama-sama menakjubkan, dengan dinding dan lantai marmer keemasaan, dan meja keamanan yang dicat aluminium dan pintu putar.Gedungnya megah, hitam, kokoh, sangat Chanyeol. Tampilan Baekhyun saat ini sangat kontras dengan Chanyeol. Dia adalah seorang desainer fashion tapi tidak terlalu perduli pada pakaiannya. Baekhyun memakai pakaian yang tidak condong pada terlalu resmi maupun terlalu santai. Sebuah kaos berkerah berwarna hitam dengan celana jeans hitam panjang yang tidak terlalu ketat, ia memadukan itu dengan topi sport adidas yang ia pinjam dari Chanyeol dan kacamata hitam serta masker hitam. Sedang Chanyeol seperti biasa, setelan kerja yang mengesankan dan sangat Chanyeol. Bahkan bodyguard Chanyeol berpakaian lebih rapi dari Baekhyun.
Chanyeol tidak perlu menunjukkan kartu pengenal pada keamanan untuk masuk ke dalam gedung perusahaannya. Baekhyun digandeng Chanyeol sejak turun dari mobil. Saat memasuki lobi yang berdesain eropa yang dipenuhi warna emas, Baekhyun bisa melihat seluruh orang memandang padanya, atau lebih tepatnya pada Chanyeol. Hanya beberapa orang yang menunduk. Baekhyun berharap tampilan setengah ninjanya tidak terlalu buruk.
Baekhyun dan Chanyeol melangkah ke arah lift, semua orang memberi jalan. Chanyeol menggesekkan sebuah kartu di salah satu lift dan lift langsung terbuka. Baekhyun melihat Chanyeol menekan lantai paling atas.
"Sepertinya ini bukan ide yang baik. ", Baekhyun mendesah dan memecah keheningan diantara mereka.
"Apa? " Chanyeol memalingkan pandangannya pada Baekhyun, ia tidak melepaskan tautan tabgan mereka.
"Aku rasa lebih baik aku ke butik saja. Nanti kamu bisa menjemputku mungkin saat kamu selesai. " Baekhyun menurunkan maskernya pelan-pelan agar bisa berbicara.
"Tidak. Kamu bilang ingin ke sini, aku menunjukkan perusahaan ini juga. Perusahaan ini juga milikmu Baekhyun. "
"Tidakkah kau lihat--"
"Lihat apa? Aku tidak mengerti, kamu bilang tadi--"
"Oke, maaf aku labil. Aku akan menunggumu. "
"Selalu pegang handphonemu dan jangan pergi tanpa Jongdae lagi. "
"Jongdae? Dia disini? Aku melihatnya terakhir kali tadi pagi. "
"Iya, dia sudah stand by. ", Bunyi lift menyela pembicaraan Chanyeol dan Baekhyun.
Saat Baekhyun melangkah keluar dari lift, ia terpesona pada suasana ruang di depannya, ruang tunggunya dihadapannya jauh lebih besar dan lebih banyak hiasan modern. Tergantung keranjang berisi tanaman pakis dan tercium aroma bunga lili,pintu kaca es itu tertulis sangat jelas Park Corporation dengan huruf maskulin, dengan huruf maskulin tebal. Dan yang paling mencolok, di dinding di belakang kursi sofa itu tertulis kalimat hias seperti grafiti namun mudah untuk sibaca, sangat besar, hingga dipastikan semua orang yang keluar dari lift akan langaung bisa membaca kalimat itu.
"Tidak ada di dunia ini yang tidak memiliki pengecualian", Baekhyun tanpa sadar membaca kalimat itu dengan keras. Dan Baekhyun terdiam mengagumi tulisan itu.
"Ada apa Baekhyun?"
Baekhyun tidak terlalu mendengar Chanyeol. Tulisan itu, tulisan Itu adalah prinsip hidup Baekhyun, ia menyukai ungkapan itu saat membacanya dari sebuah buku cerita anak-anak yang pertama kali ia baca. Sebuah buku cerita yang mengisahkan seorang pangeran yang bebas menentukan hidupnya. Ungkapan ini adalah ungkapan yang selalu membuatnya optimis menjalani hidup. Apa ungkapan ini begitu terkenal?
"Selamat siang Tuan Park dan Tuan Park--,"
Suara canggung tak asing milik Jongdaelah yang menyadarkan Baekhyun. Oh ya, Baekhyun adalah Tuan Park juga. Baekhyun tersenyum.
"Jongdae, aku kan sudah bilang, panggil aku Baekhyun saja--" kata-kata Baekhyun terhenti saat melihat wajah Jongdae yang lebam-lebam hampir separah wajahnya.
"Apa yang--"
-the exception-
"Jadi dia memukulmu?"
"Karena aku bersepeda? "
"Sialan. "
Baekhyun menggerutu sendiri sedang Jongdae hanya diam berdiri di depannya. Chanyeol sedang mengikuti rapat di ruang meeting. Baekhyun sampai tak habis pikir kenapa Chanyeol sekasar itu pada Jongdae, lagi pula apa salahnya bersepeda. Chanyeol meninggalkan Baekhyun dan Jongdae agar menunggunya di ruang kerja milik Chanyeol. Ruang kerja Chanyeol juga sangat spektakuler. Baekhyun memang dibesarkan dengan kemewahan, tapi kemewahan yang dimiliki Chanyeol sangat berbeda, indah, tak berlebihan, terasa sempurna, ruang kerja Chanyeol ini sangat mirip dengan ruang kerja di rumahnya, hanya saja pemandangan kota seoul yang menjadi background di kaca gelap itu tiada duanya. Aksen dan hiasannya tidak berlebihan, semua terkesan berada di tempat yang tepat. Dan Baekhyun tersenyum saat ada fotonya berdua dengan Chanyeol bergandengan tangan di jalan setapak dekat sungai han terbingkai di meja kerja Chanyeol. Pasti Chanyeol sudah menyuruh salah satu pengawal atau pengikutnya untuk mengambil ini. Kenapa pikiran Baekhyun selalu dipenuhi dengan Chanyeol? Tapi dia suka dengan itu. Chanyeol bukan cuma hebat di ranjang, tapi dia baik dalam segala hal, oh, pipi baekhyun yang lebam pasti lebih merah saat ini. Apa mereka berdua akan melakukan seks lagi? Baekhyun merasa dirinya menjadi mesum lagi saat semuanya sudah kembali baik-baik saja.
Sebuah keributan di luar membuat Baekhyun berdiri. Pintu di depannya terbuka menampilkan sosok laki-laki paruh baya tinggi. Dadanya membusung penuh percaya diri, melangkah memasuki ruangan, terlihat Taemin-asisten Chanyeol di depan pintu yang terlihat tak berdaya saat laki-laki itu masuk. Menurut Baekhyun umur laki-laki ini berada di awal enampuluhan, lebih tua dari ayahnya, wajah laki-laki ini juga tidak asing, Baekhyun sepertinya pernah melihatnya.
"Dimana Park Chanyeol? ", Suara laki-laki itu menggetarkan Baekhyun karena karisma yang ia miliki.
"Tuan Park, " Jongdae membungkuk hampir sembilan puluh derajat. Baekhyun tidak bisa menemukan kata-katanya, laki-laki ini adalah ayah Chanyeol.
"Tuan Park Chanyeol sedang ada rapat di ruang meeting."
"Ah, jadi dia benar-benar meeting, kukira dia cuma mau menghindariku. Lalu siapa ini? "
"Selamat siang Tuan Park, saya, saya Byun, ah Park Baekhyun." Baekhyun melihat ekspresi wajah ayah Chanyeol menggelap.
"Ah, kamu pelacur Chanyeol itu, jadi itu benar, sialan, lihatlah kamu harusnya malu, pelacur sesama jenis, aku tidak sudi nama besar Park disandang orang sepertimu."
Baekhyun terdiam, kata-kata ayah Chanyeol sangatlah kejam. Baekhyun tidak pernah berhadapan dengan orang seperti ini, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dia sangat marah, tapi di depannya adalah ayah Chanyeol.
"Tuan, mungkin akan lebih baik kalau anda menunggu Tuan Park di ruang tunggu. ", suara Jongdae terdengar kaku namun Baekhyun tahu kalau Jongdae ada disana untuk menjadi tamengnya.
"Kenapa? Ini ruangan anakku, lagipula aku harus mengenal menantuku kan. " Seringai mengejek itu sangat mengerikan.
"Nanti tuan Park Chanyeol akan marah besar kalau anda tetap di sini. "suara Jongdae bergetar namun tetap tegas.
"Kau seperti tak tahu kami saja Jongdae-sii." suara Tuan Park mengejek
"Jadi, Byun, seberapa banyak uang yang dibayar anakku untuk membawamu ke ranjangnya? Lihatlah lebam di wajahmu. Kukira ia masih tahu bagaimana memperlakukan jalang. Aku akan memberimu dua kali lipat untuk berada di ranjangku."
"Anda sangat tidak sopan dengan berkata seperti itu kepada saya Tuan Park, saya masih baik-baik saja saat anda menghina saya. Tapi saat anda menghina keluarga saya dan Chanyeol, saya tidak bisa menerimanya. Keluarga saya membesarkan saya dengan nilai-nilai moral yang bahkan tidak bisa anda beli dengan seluruh uang anda--"
"Baek--" Suara berat Chanyeol membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengalhkan pandangannya. Baekhyun dapat melihat ekspresi Chanyeol yang memucat dan sebuah api tersulut di mata gelap Chanyeol.
"Brengsek!! Kenapa kau ada di sini! " Chanyeol segera memposisikan dirinya di depan Baekhyun.
"Baekhyun, kamu bisa keluar sekarang." Chanyeol berkata pada Baekhyun tanpa melepaskan pandangannya dari ayahnya. Baekhyun masih membeku karena teriakan Chanyeol yang ia tidak duga.
"Baekhyun, kumohon keluarlah. ", tapi entah mengapa hati Baekhyun ingin berada di sisi Chanyeol, mendampinginya.
"Jongdae, bawa Baekhyun keluar dari ruangan ini sekarang! " Chanyeol berteriak.
Baekhyun tidak bisa berkutik, tubuhnya yang kaku ditarik paksa oleh Jongdae, dan hal terakhir yang Baekhyun lihat sebelum pintu ruang kerja Chanyeol tertutup adalah seringai ayah Chanyeol.
-the exception-
tbc
