Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.


.

.

Don't Like Don't Read !

.

~ Another cherryblossom ~

.

[ Chapter 2 ]

.

5 tahun kemudian...

Pria berambut raven ini akan pulang telat seperti biasanya, pekerjaannya berakhir duluan sebelum kakaknya dengan pekerjaan yang masih menumpuk, Sasuke tidak ingin membantunya dan membiarkan Itachi menyelesaikan pekerjaannya sendiri.

Tiba di rumah jam 7 malam, umurnya sudah semakin dewasa dan seharusnya dia sudah menikah, mungkin jika kepalanya terbentur atau seseorang menghipnotisnya untuk segera menikah, Sasuke masih belum pedulikan akan hal itu, Itachi sudah menikah dua tahun yang lalu dan langsung di tinggal istrinya, bukan semacam di tinggal pergi, istrinya adalah seorang aktris dan model, kakak iparnya itu akan jarang di rumah dan selalu berada di luar kota, Sasuke tahu dan kakaknya juga sibuk, jadi mereka sangat cocok menjadi pasangan super sibuk. Mikoto memaklumi menantunya dan membiarkannya berkarier hingga dia mencapai tujuannya dan akan berakhir seperti dirinya di rumah, menunggu anak dan suaminya pulang, sahabatnya pun, Uzumaki Naruto sudah menikah dan memiliki dua anak.

"Maaf tuan, nona tidak pernah menyentuh makanannya dari sepulang sekolah hingga malam, dia bahkan menyendiri di kamar dan tidak ingin siapapun mengganggunya." Lapor seorang pelayan saat mendapati majikannya sudah tiba di rumah.

"Di mana ibu?" Tanya Sasuke, berharap nona kecil yang di sebutkan pelayan itu mau mendengar ibunya.

"Nyonya besar sedang keluar bersama tuan sejak pagi tadi dan belum pulang." Ucap pelayan itu lagi.

"Biar aku yang bicara padanya." Ucap Sasuke.

Melangkahkan kaki naik ke lantai dua, 4 tahun yang lalu sengaja ada pembangunan kecil di sebelah kamar Sasuke, kamar bayi mungil yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis kecil, umurnya sekarang 5 tahun dan dia sudah masuk di salah satu TK di kota Konoha. Fugaku masih tidak bisa akrab dengannya hingga sekarang, gadis kecil itu pun hanya akrab dengan Mikoto, Sasuke dan kadang bermain dengan Itachi.

Tok tok tok

Sebuah ketukan pelan di pintu yang cukup lebar berwarna coklat. Entah apa yang tengah di lakukan si pemilik kamar hingga melarang siapapun untuk masuk ke kamarnya.

"Kau ada di dalam?" Tanya Sasuke, hanya memastikan jika suaranya terdengar dan si pemilik kamar tahu Sasuke yang akan masuk.

"Masuk saja." Ucap gadis kecil itu.

Sasuke memutar gagang pintu dan membukanya perlahan ada sedikit bunyi decitan hingga pintu itu terbuka dan pas untuk tubuh Sasuke memasukinya, mungkin butuh waktu untuk privasi, Sasuke menutup pintu agar hanya mereka berdua bisa berbicara. Berjalan sedikit cepat hingga mencapai sebuah sofa yang tidak jauh dari meja belajar gadis kecil itu, dia bahkan tidak menyangka jika bayi yang di bawanya dulu sekarang sudah berbicara padanya.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke. Merebahkan dirinya di sofa, dia belum beristirahat sejak pulang dan sudah mendapat laporan dari pelayannya.

"Sedang belajar." Ucap gadis kecil itu.

"Hey, kau terlalu serius untuk hal ini, di TK kau yang perlu hanya bermain, nikmati masa taman kanak-kanakmu." Ucap Sasuke, dia tidak pernah menganggap gadis kecil ini layaknya seorang anak-anak pada umumnya, Sasuke sendiri bingung, tingkah gadis ini terlihat lebih dewasa, tenang dan tegas di umurnya yang masih sangat muda, dia tidak terlalu suka hal yang berlebihan dan yang membuatnya sedikit menarik perhatian Sasuke, gadis kecil ini suka apapun yang berhubungan dengan tomat, sama sepertinya.

"Aku tahu, hanya saja, uhmm... tidak jadi." Ucap gadis kecilnya, dia menggantung ucapannya.

"Katakan jika sesuatu sedang mengganggu pikiranmu, apa terjadi sesuatu di sekolah?" Tanya Sasuke.

"Tidak, ... tuan Sasuke." Ucap gadis itu, ucapannya menjadi aneh, tidak biasanya dia memanggil 'tuan Sasuke' setiap harinya dia akan memanggil Sasuke dengan sebutan 'paman'.

"Tuan Sasuke? siapa yang menyuruhmu untuk memanggil seperti itu?" Tanya Sasuke, masih lelah, tapi ini cukup serius, gadis kecil yang di bawanya 5 tahun yang lalu mulai berubah dari biasanya.

"Ini keputusanku, dan mulai sekarang aku akan memanggil, tuan Itachi, tuan Fugaku dan Nyonya Mikoto." Ucap gadis itu wajahnya terlihat murung sejenak dan kembali datar.

Sasuke seakan menatap cermin pada dirinya, tidak abis pikir dengan tingkah anak gadis ini yang tidak jauh beda dengannya. Mata kelamnya, rambut hitam pendeknya dan tubuhnya yang kecil sesuai usianya. Dia mendapat nutrisi yang baik tapi dia tetap tumbuh menjadi seperti anak-anak yang lain.

"Tidak ada perlu yang kau putuskan, ceritakan apa yang sudah terjadi." Ucap Sasuke, tatapannya terlihat serius, dia harus menahan diri untuk tidak marah.

"Aku tidak ingin berbicara apapun, bisakah anda keluar?" Ucap gadis ini. Dingin, hal itu yang terasa bagi Sasuke.

Sasuke menghela napas, beranjak dari sofa yang sengaja di tata di kamar gadis ini, sebelumnya dia memegang puncuk kepala anak kecil itu, tidak lembut, tidak juga kasar, semacam sebuah tanda jika dia juga menyayangi anak kecil itu seperti Mikoto.

"Jangan menyisahkan makanan, ibuku tidak suka itu." Ucap Sasuke, dia sudah berada di depan pintu dan beranjak keluar.

.

.

.

.

.

.

Sasuke tidak benar-benar peduli, tapi lama kelamaan hal ini menjadi masalah baginya, Sarada, nama gadis kecil yang di bawanya ke rumah saat masih bayi, Mikoto mendesaknya untuk bertanya sesuatu, hanya ada jawaban kosong, Sarada tidak mengucapkan apapun pada Sasuke, dia harus mengambil cara lain agar mendapat informasi akan perubahan sikap gadis itu, menyadari satu hal, Sasuke merasa Sarada menjadi orang yang sangat kesepian dan pendiam.

"Si-si-silahkan tuan." Ucap seorang guru TK yang mengajar pada kelas Sarada, menawarkan secangkir teh hijau pada Sasuke yang sudah duduk di ruangan guru. Wajahnya tidak henti-hentinya merona menatap seorang wali salah satu muridnya yang datang berkunjung.

"Tidak perlu seformal itu, panggil saja Sasuke." Ucap Sasuke, berusaha sedikit ramah meskipun itu bukan kebiasaannya, dia hanya menghargai guru yang mengajar Sarada

"Baiklah, jadi ada keperluan apa?" Ucap guru wanita itu, berusaha tidak terlihat norak, seperti baru menemukan pujaan hati, maklum di usianya yang juga sudah menginjak kepala 3 dan belum mendapatkan jodoh.

"Langsung saja, akhir-akhir ini Sarada terlihat aneh di rumah, dia jarang untuk makan makanannya dan jarang keluar dari kamar, apa sudah terjadi sesuatu di kelasnya?" Tanya Sasuke, dia tidak punya banyak waktu untuk sekedar basa-basi.

"Sarada? Uhm, tidak ada, dia gadis yang sangat pintar di kelasnya, cepat lancar membaca dan berhitung, aku rasa dia keturunan orang-orang jenius, sayangnya, beberapa kali aku mendapatinya selalu sendirian, dia jarang untuk bergaul dengan teman-temannya." Jelas guru itu.

Sasuke terdiam, bahkan di sekolah pun dia tidak mendapat apapun tentang sikap Sarada, ini membuatnya kesal, dia tidak tahu jika menghadapi anak kecil akan rumit seperti ini.

"Anak kecil memang kadang seperti itu, dia memiliki daerah lingkupnya sendiri yang mungkin beberapa anak tidak bisa menyesuaikannya dan berakhir dengan dia sendirian, aku sangat menyayangkan hal ini, Sarada murid yang jenius seharusnya dia mendapat banyak teman, mungkin dia perlu belajar tentang bergaul." Lanjut guru itu.

"Apa tidak ada teman yang sering bersamanya?" Ucap Sasuke, masih belum menyerah menyelesaikan masalah ini.

"Oh ada, tapi bukan sering bersama, anak itu selalu berusaha membuat Sarada mau bermain dengannya meskipun selalu mendapat penolakan." Ucap guru itu, dia masih mengingat salah seorang murid laki-laki yang pantang menyerah mau berteman dengan Sarada.

Menit berikutnya.

"Yoo... paman!" Sapa seorang anak laki-laki yang sudah di bawa guru itu ke ruangannya, guru ini tidak mengetahui jika anak laki-laki itu dan Sasuke saling mengenal, dia bahkan sangat Pe-de berucap salam yang tidak sopan pada Sasuke.

"Uzumaki Boruto, sampaikan salam dengan benar pada orang yang lebih tua!" Tegur gurunya, merasa sangat malu, lama menjadi guru dan mendidik murid-murid hasilnya malah seperti seorang anak preman, mungkin berlaku hanya pada murid ini.

"Tidak apa-apa, kami saling mengenal." Ucap Sasuke, merasa tidak masalah.

"Eh? Sudah kenal?" Ucap guru Boruto.

"Bu guru, paman Sasuke teman ayahku." Ucap Boruto, sebuah cengiran di wajahnya saat menatap Sasuke, hal itu tidak akan di lupakan Sasuke, ayah dan anak benar-benar mirip, mereka seperti sebuah foto copy hanya saja berbeda model rambut.

"O-oh, ternyata seperti itu." Ucap guru Boruto, sedikit malu, dia tidak mengetahui hal ini.

"Apa bisa aku bicara sebentar hanya berdua dengan Boruto?" Tanya Sasuke.

"Tentu-tentu, aku akan kembali ke kelas, kalian bicaralah, Boruto ingat, kau harus sopan seperti apa yang di ajarkan ibu." Ucap guru itu, sedikit menegur muridnya yang cukup nakal di kelas.

"Oshuu...!" Ucap semangat Boruto.

"Dasar anak ini." Gumam pelan guru Boruto.

Ruangan guru sudah sepi, Boruto bergegas naik ke sofa dan berbaring di sana. Dia lelah untuk lagi-lagi mengajak Sarada bermain dan langsung di tolak.

"Ada apa paman?" Tanya Boruto.

"Bagaimana kabar ayahmu?" Tanya Sasuke, Naruto sangat sibuk dan mulai sulit untuk di temuinya. Menjadi seorang ayah, suami dan kepala direktur, Sasuke sedikit merasa iri dengan Naruto yang sudah sangat matang sebagai seorang pria dewasa meskipun kadang masih ceroboh.

"Ayah sibuk, tapi dia selalu sempat untuk pulang dan menjemputku." Ucap Boruto, bangun dan duduk dengan sopan, dia mengingat ucapan gurunya, harus sopan.

"Sarada?" Tanya Sasuke.

"Ada apa dengannya paman!" Ucap Boruto, wajahnya berubah menjadi kesal. "Dia bahkan tidak mau bermain denganku, lagi pula aku mau dekat dengannya karena paman pernah membawanya ke rumah sekali sebelum masuk sekolah." Protes Boruto. Sasuke ingin tertawa tapi di tahannya, dia bisa melihat sosok Naruto yang sedang marah dari anak kecil di hadapannya ini.

"Jadi, kau marah padanya?" Ucap Sasuke. Berbicara dengan anak kecil ini membuatnya sedikit terhibur.

"Tidak, aku tidak marah, hanya saja dia membuatku kesal." Ucap Boruto, menundukkan wajahnya.

"Ya, paman juga kesal padanya." Ucap Sasuke. Membuat anak kecil itu mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke.

"Eh? Paman juga? Apa dia tidak mau bermain dengan paman?" Ucap polos Boruto, lagi-lagi Sasuke harus menahan diri untuk tidak tertawa.

"Bukan seperti itu, sikapnya sedikit aneh di rumah, dia selalu saja mengurung diri di kamar, apa sudah terjadi sesuatu selama di sekolah?" Tanya Sasuke.

Boruto terdiam, seperti tengah berpikir, Sasuke sedikit kehausan dan meneguk beberapa kali teh hijaunya. Dia rasa Naruto versi kecil ini mengetahui sesuatu. Boruto masih mengingat beberapa kejadian, tapi setiap harinya terasa sama, Sarada sangat pendiam dan selalu menghindari bermain dengan siapapun.

"Tidak ada yang aneh paman." Ucap Boruto.

"Apa kau tidak ingat sesuatu yang berhubungan dengan sikapnya?" Tanya Sasuke, sejujurnya pertanyaannya cukup rumit untuk anak seusia Boruto.

"Sikap? Apa? Aku tidak mengerti paman, tapi-" Boruto menggantungkan ucapannya.

"-Tapi apa?" Sasuke sudah sangat penasaran.

"Setelah ini traktir aku ramen yaa." Ucap Boruto, Sasuke mulai kesal di buatnya, ingin menjitaknya tapi hal itu akan membuat Naruto marah padanya.

"Akan ku traktir saat pulang sekolah, Sarada juga akan ikut." Ucap Sasuke.

"Horee...!" Boruto bersorak hingga dia terdiam dan mengingat sesuatu. "Uhm.. oh iya, mungkin saat para anak-anak perempuan menanyakan marganya. Mereka mengatakan, kenapa Sarada hanya di tulis Sarada? Wali Sarada seorang bermarga Uchiha, kenapa namanya tidak Uchiha Sarada? Anak-anak perempuan di kelas cukup ribut, mereka sering bertanya Sarada itu sebenarnya anak siapa? Bahkan orang tuanya tidak ada, hanya ada nenek Mikoto dan paman. Aku sedikit kesal pada mereka, Sarada jadi semakin pendiam dan tidak ingin bermain dengan siapapun, Aku jadi kesulitan akrab dengannya." Ucap Boruto panjang lebar.

"Hanya itu?" Tanya Sasuke, dia sudah mendengar semuanya dengan baik. Ini semua karena Fugaku yang menentang kehadiran Sarada dan tidak sudi memberi marga pada anak yang entah siapa orang tuanya.

"Dia pernah katakan padaku, jika paman bukan ayahnya dan semua orang di rumahnya bukan keluarganya." Ucap Boruto.

"Kapan dia katakan itu?"

"Kemarin? Atau dua hari yang lalu? Aku lupa paman, heheheheh. Tapi tetap traktir ramen aku ingat." Ucap Boruto. Sasuke gemas sendiri ingin mencubit anak kecil itu.

"Bisa bantu paman?" Ucap Sasuke.

"Apa?"

"Tolong jaga Sarada selama di sekolah dan terima kasih untuk informasinya, jangan katakan pada Sarada jika paman mampir, setelah pulang sekolah, paman akan mentraktirmu." Ucap Sasuke, beranjak dari ruangan itu bersama Boruto, Sasuke hanya menitipkan salam pamit ke guru Sarada lewat Boruto, dia tidak bisa menunggu lama, dia masih sibuk untuk hari ini.

.

.

Sepulang sekolah.

Sarada di jemput Sasuke, gadis itu terdiam sepanjang perjalanan, ingin bertanya kenapa Sasuke tumben menjemputnya dan bukan supir, tapi Sarada merasa hal itu tidak penting, dia tetap fokus menatap jalanan, beberapa detik berlalu akhirnya dia mulai sedikit berbicara pada Sasuke saat jalur pulang mereka tidak biasanya.

"Mau kemana?" Tanya Sarada, tatapannya tetap pada kaca mobil dan tidak ingin menatap Sasuke.

"Mampir ke sesuatu tempat sebelum pulang." Ucap Sasuke, melirik sejenak ke arah Sarada dan kembali fokus pada jalanan.

"Oh, lalu, kenapa dia harus ikut bersama kita?" Ucap Sarada, menunjuk ke arah kursi belakang.

"Kita akan ke ramen Ichiraku yang paling terkenal di Konoha, paman Sasuke sudah janji akan mentraktirku, yeeeey, seharusnya kau juga ikut senang Sarada." Ucap semangat Boruto.

"Berisik." Ucap Sarada.

Sasuke hanya tersenyum tipis, Boruto yang sangat ribut di dalam mobil dan Sarada yang lebih tenang, sesekali Boruto akan bercerita pada Sarada dan gadis bersikap dingin ini menanggapinya dengan seadaannya, dia masih terlihat seperti biasa, Sasuke sampai kebingungan harus berbuat apa agar Sarada menjadi anak gadis seperti yang lainnya, mau bergaul dan memiliki beberapa teman, setidaknya dia akan bercerita dan tidak hanya duduk diam.

"Baiklah, kita sudah sampai." Ucap Sasuke, berbelok dan masuk pada parkiran yang sudah di sediakan, masih perlu berjalan beberapa meter lagi. Sasuke akan membukakan pintu untuk Sarada, tapi gadis itu menolak dan membuka sendiri pintunya.

"Ayah!" Teriak Boruto. Sosok yang sangat familiar saat baru saja juga turun dari mobil.

"Oh, oii." Ucap Naruto, berjalan cepat menghampiri Sasuke dengan dua anak yang di bawanya.

"Ayah juga ada di sini?" Tanya Boruto.

"Sasuke menghubungiku, aku tidak akan lewatkan jika kalian pergi makan di ramen ichiraku. Heheheh." Ucap Naruto.

"Dasar, ayah merepotkan." Ucap Boruto.

"Kau yang merepotkan, dasar bocah!" Ucap Naruto.

Sasuke hanya menggelengkan kepalanya, doubel Naruto sedang bertengkar. Pertengkaran mereka berakhir saat Naruto menyapa Sarada.

"Selamat siang Sarada, waah kau semakin besar saja." Ucap Naruto, mengabaikan omelan Boruto.

"Selamat siang paman Naruto, senang bisa bertemu kembali." Ucap Sarada sopan.

"Aduuh, anak perempuan memang terlihat manis, jadi kangen ingin segera bertemu Himawari di rumah." Ucap Naruto.

"Ayah sudah bertemu Hima tadi pagi kan. Dasar orang tua pikun." Ucap Boruto.

"Diam kau! Mana sopan santunmu pada ayahmu sendiri!" Ucap Naruto, kembali meladeni anak pertamanya, Sasuke segera membubarkan pertengkaran yang tidak penting itu.

Boruto berjalan bersama Sarada lebih dulu dan di belakang mereka ada Sasuke dan Naruto, sedikit jauh hingga Sasuke dan Naruto bisa berbicara. Parkiran cukup jauh dari ramen yang di bangun dekat pinggir jalan sehingga tidak ada parkiran di sana.

"Bagaimana keadaan perusahaanmu?" Tanya Sasuke, tatapannya terfokus pada Sarada dan Boruto yang terlihat sedang bercerita dengan hebohnya tapi Sarada hanya menanggapinya dengan biasa, lagi.

"Yaa, begitu-begitu saja, semua stabil dan aku tidak perlu terlalu bekerja keras, hanya perlu mempertahankan yang sudah ada, aku sudah tidak bisa terlalu sibuk lagi, Hinata dan anak-anakku membutuhkanku di rumah." Ucap Naruto.

"Hmm. Baguslah."

"Kau sendiri bagaimana? Ayolah, kau juga harus segera mencari pendamping hidup." Singgung Naruto.

"Belum saatnya." Ucap Sasuke.

"Apa? Kau akan menunggu sampai kau tua, ha? Mau pilih salah satu pekerjaku? Mereka wanita-wanita terbaik." Saran Naruto.

"Tidak, terima kasih, aku akan menemukannya sendiri." Tolak Sasuke.

"Uhmm, ya sudah. Anak itu, bagaimana?" Ucap Naruto, mengubah topik pembicaraan.

"Dia sudah menjadi bagian dari kami, hanya saja ayahku masih tidak memperdulikannya." Ucap Sasuke.

"Sayang sekali, asal kau tahu saja, Boruto bisa bercerita sepanjang hari tentang Sarada, katanya Sarada itu gadis pintar dan cantik, tapi sangat cuek dan susah untuk di dekati, aku jadi tidak keberatan jika Sarada dan Boruto-" Ucap Naruto terputus saat menatap wajah Sasuke yang terlihat aura kesal yang amat sangat.

"Aku tidak akan membiarkan Sarada bersama anakmu." Ucap Sasuke, semacam sebuah peringatan.

"Hehehe, Te-tenanglah, aku hanya mengucapkan kemungkinan, Sarada pasti bisa mendapat pria yang baik, iya kan? Sudah jangan di pikirkan kata-kataku tadi, hehehehe." Ucap Naruto dan tertawa garing, tatapan Sasuke cukup menakutkan, seakan Sasuke akan melemparnya dengan pembahasannya tadi.

"Aku tidak mengerti dengan sikapnya, apa kau punya saran yang baik? Dia menjadi gadis pendiam dengan beberapa anak mempertanyakan status keluarganya." Ucap Sasuke.

"Ini rumit juga, mungkin kau tidak perlu terlibat dengan masalah anak-anak, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri, aku rasa Sarada mampu melakukan hal itu." Ucap Naruto.

"Sayangnya, dia tipe penyendiri, masalahnya tidak akan selesai jika dia hanya berdiam diri." Ucap Sasuke.

"Sudahlah, semua akan baik-baik saja, kau seperti ayah yang sangat khawatir pada putrinya." Ucap Naruto dan menyikut-nyikut lengan Sasuke.

"Hentikan itu." Protes Sasuke.

"Hahaha, kau ini, lalu, bagaimana jika ibunya tiba-tiba datang untuk mengambilnya?" Ucap Naruto.

"Aku tidak akan membiarkannya, dia seharusnya di penjara untuk hal sudah yang di lakukannya." Ucap Sasuke.

"Meskipun ibunya, kau tidak akan membiarkan mereka bertemu." Tanya Naruto.

"Sarada sudah milik kerluarga Uchiha, ibunya tidak berhak apa-apa lagi." Ucap Sasuke, tatapannya terlihat serius.

"Dia sangat beruntung mendapat kasih sayang dari keluargamu, untung saja kau membawanya, bagaimana saat kau tidak melihatnya, dia sudah menjadi santapan hewan-hewan di sana." Ucap Naruto.

"Cukup, aku tidak ingin membahasnya lagi." Ucap Sasuke, jika dia tidak melihat bayi itu, para anjing sudah memakannya, mengingat kembali, tapi Sasuke tidak ingin mengingat apa-apa, dia sudah sangat menerima gadis kecil itu di rumahnya.

.

.

TBC

.

.


akhirnya bisa update lagi.

cerita sederhana,

alur sederhana,

konflik sederhana,

betul-betul fic pelarian, :D :D

sekali lagi ini buka fic tentang pedofil yaaah...! terima kasih atas reviewnya, cerita tiap chapter akan pendek-pendek aja, XD uhm... balas review saja, entah mau bahas apa.

.

.

Balas review :

jey : terima kasih reviewnya, sudah di jawab di chapter ini yoo

unnihikari : benar, itu adalah Sarada... _

Amamiya Rizumu : hayo hayoooo... ahahaha, berharap alurnya tidak terbaca, XD yup, itu Sarada, kok bisa yaa, mereka mirip, hayoo, hayooo, sengaja bikin penasaran :D

PacarnyaMarkLee : anak itachi atau Sasuke yaa, atau nggak kedua-duanya yaa.. :D

matarinegan : terima kasih, maaf chapter kemarin sebagai awal-awal dulu, jadi chapter sekarang lebih banyak dialog :)

sitieneng4 : pair ? mau ada pair ngga? author tawarin nih, kan masih on progress.

Uchiha Cherry 286 : iya, dia Sarada, ibunya siapa yaa?

.

.

See you next chapter, kalau nggk sibuk cepat update lagi. ^_^