Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

~ Another cherryblossom ~

.

[ Chapter 3 ]

.

Mereka sudah tiba di kedai ramen Ichiraku, ramen terkenal di Konoha, banyak orang berdatangan, apalagi jam makan siang, kedai berlantai dua itu akan semakin ramai. Sasuke, Naruto, Boruto dan Sarada masih menunggu untuk duduk, tempatnya penuh, mereka harus antri, bersyukur jika tidak terlalu jauh untuk mengantri. Pintu hanya satu dan orang-orang akan keluar dan masuk bersamaan, membuat antrian cukup panjang dan orang-orang harus bersabar untuk masuk.

"Terlalu ramai." Ucap Naruto.

"Ayah, apa kita akan dapat tempat?" Ucap Boruto, dia sudah tidak sabar ingin makan ramen.

"Bersabarlah sedikit." Ucap Naruto.

Mereka mengantri dan menempatkan anak-anak mereka masing-masing di depan mereka, tidak ingin terjadi hal buruk jika membiarkan anak-anak mengantri sendirian, seseorang tidak sengaja menyenggol Sarada dan gadis kecil itu hampir terjatuh, dengan sigap Sasuke menahan bahu Sarada dan mengangkat gadis kecil itu, menggendongnya di depan agar tidak seorang pun menyenggolnya lagi.

"Baik-baik saja?" Tanya Sasuke. Sarada hanya mengangguk. Sedikit tidak nyaman Sasuke mengangkatnya.

"Turunkan." Pinta Sarada.

"Kau akan turun setelah kita mendapat meja." Ucap Sasuke, tidak peduli jika anak itu meminta turun, Sasuke akan tetap menggendongnya.

"Maaf aku merepotkanmu, tuan Sasuke." Ucap Sarada, wajahnya lagi-lagi terlihat murung.

"Berhenti memanggilku tuan Sasuke." Ucap Sasuke, dia tidak senang jika Sarada seperti orang asing baginya. Sarada terdiam, dia menyadari jika Sasuke akan terlihat kesal jika dia memanggilnya dengan sebutan 'tuan'.

"Ayah! Aku juga mau di gendong seperti Sarada." Ucap Boruto sambil menunjuk-nunjuk Sarada.

"Kau sudah besar, laki-laki seharusnya sabar untuk mengantri." Ucap Naruto.

"Dasar pelit! Kenapa hanya Hima saja yang masih di gendong." Protes Boruto.

"Ahk, Baik-baik." Ucap Naruto, tidak ingin ribut dengan anaknya di depan umum, Naruto berjongkok dan meminta Boruto naik ke pungungnya. Setelah anak kecil itu naik, Naruto berdiri dan membuatnya jauh lebih tinggi dari orang-orang sekitar, Boruto duduk di punggung Naruto dan memegang kepala ayahnya agar tidak jatuh.

Sarada melihat tingkah Boruto dan sedikit tersenyum, terkesan norak tapi begitulah Boruto. Sasuke sendiri melihat aneh pada mereka berdua, Naruto double plus plus bersatu membentuk pilar, pemikirannya terlalu jauh tentang dua Uzumaki itu.

Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka mendapat tempat, memesan beberapa ramen dan makan bersama, Naruto jadi mengingat kembali masa-masa saat mereka masih sekolah dan mampir ke kedai yang dulunya hanya satu lantai, semacam nostalgia jaman dulu, mereka sudah jarang makan ramen bersama.

"Jadi rindu akan masa-masa sekolah." Ucap Naruto.

"Ayah dan paman Sasuke selalu ke sini?" Tanya Boruto.

"Tentu, kami selalu ke sini setiap pulang sekolah." Ucap Naruto.

"Kalian terlalu berisik." Ucap Sasuke.

"Hahaha, kau ini, dengar-dengar, Sasuke itu paling populer di sekolah loh." Ucap Naruto pada kedua anak kecil itu.

"Aku rasa karena paman Sasuke jauh lebih tampan darimu ayah, hahahaha." Ucap Boruto.

"Makan-makan, jangan berisik." Ucap Naruto setelah mendengar ucapan polos anaknya sendiri.

Sarada terkekeh mendengar ucapan Boruto dan melihat tingkah Naruto. Sasuke memperhatikannya, setidaknya gadis kecilnya tidak selalu berwajah murung dan dingin, dia bisa juga tersenyum atau pun tertawa pelan. Naruto dan Sasuke akan bercerita tentang bisnis, sedangkan anak-anak mereka ikut mendengar meskipun tidak mengerti.

Waktu berlalu, makan siang berakhir dengan mereka berpisah di parkiran, Naruto akan langsung mengantar Boruto pulang sebelum kembali bekerja begitu juga Sasuke.

Suasana di mobil milik Uchiha ini kembali hening, saat ada Boruto, suasananya sedikit ramai, jadi terasa canggung, Sarada tidak ingin memulai pembicaraan apapun begitu juga Sasuke bingung mencari topik pembicaraan.

Perjalanan mereka berakhir, Sasuke tidak akan memasukkan mobil ke dalam garasi, dia hanya akan menurunkan Sarada di depan gerbang masuk, seorang satpam yang berjaga di pintu gerbang rumah Uchiha datang menghampiri Sarada.

"Temui ibu di kamarnya, dia ingin berbicara padamu." Ucap Sasuke pada Sarada, gadis kecil itu hanya mengangguk pelan.

Mobil Sasuke kembali melaju, satpam penjaga membawa Sarada masuk ke rumah, sebelum ke kamar Mikoto, Sarada akan menaruh tas dan mengganti baju, merasa tidak sopan jika dia datang dengan pakaian yang sudah di pakainya sejak tadi, setelahnya, kaki-kaki kecil itu berjalan sedikit cepat, tapi langkahnya terhenti saat mendapati pria paru baya, kepala keluarga Uchiha, menjatuhkan kertas berkas-berkasnya dan berserakan di lantai, pelayan yang di panggil masih lama untuk datang, jaraknya tidak terlalu jauh, Sarada bergegas berlari menghampiri Fugaku, memungut satu persatu kertas yag berserakan di lantai. Fugaku terdiam saat menatap anak kecil yang sampai detik ini tidak di terimanya mau membantunya. Dia bahkan merapikan urutan kertas itu yang sesuai dengan angka halamannya.

Pelayan yang datang tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Sarada sudah selesai mengumpulkan kertas itu dan memberikannya pada Fugaku, wajahnya menunduk, Sarada tidak berbicara dan sedikit takut pada Fugaku, tatapannya memang terlihat tegas, membuat gadis kecil itu tidak berani untuk menegur Fugaku.

"Pergilah ke kamar, Mikoto menunggumu." Ucap Fugaku. Berjalan melawati anak kecil itu tanpa mengucapkan terima kasih padanya. Sarada menunggu Fugaku pergi dan berlari ke kamar Mikoto, sejujurnya jantungnya hampir mau copot, dia benar-benar takut saat Fugaku menatapnya, Sarada bisa menyadari hal itu.

Pintu kayu berwarna hitam itu terbuka, menampakkan seorang wanita yang duduk di sofa kamarnya, tengah merajut sesuatu, dia merasa jenuh untuk tidak melakukan apapun, kegiatannya terhenti mendengar langkah kecil menuju ke arahnya, menatap Sarada dan menyimpan alat merajutnya. Mikoto menepuk kedua pahanya meminta gadis kecil itu untuk duduk di pangkuannya, tapi Sarada merasa sangat canggung dan memilih duduk di sebelah Mikoto. Ada rasa kecewa saat Sarada tidak melakukan permintaannya.

"Ada apa nyonya Mikoto?" Ucap Sarada, sangat formal untuk sekedar berbicara dengan Mikoto

"Panggil aku nenek." Ucap Mikoto, tidak terima dengan panggilan Sarada.

"Tapi aku bukan cucumu." Ucap Sarada dan menundukkan wajahnya.

"Aku tanya padamu, sekarang kau berada di mana?" Ucap Mikoto.

"Di rumah keluarga Uchiha." Ucap Sarada.

"Nah, kau mengetahuinya, jika kau tinggal di sini maka kau adalah bagian dari kami, meskipun kau bukan cucuku, aku tetap menganggapmu seperti cucuku sendiri, sejujurnya aku ingin menganggapmu anak, sudah lama aku menginginkan anak perempuan, tapi sepertinya tuhan mengirimmu sebagai cucu untukku." Ucap Mikoto, membelai lembut pipi kiri Sarada, dia sangat menyayangi gadis kecil ini.

Tidak ada ucapan, hanya ada tetesan air mata di wajah Sarada, Mikoto menarik lembut dan memeluk gadis kecil itu. Sarada hanya ingin keluarga sebenarnya, keluarga yang benar-benar berada dalam aliran darahnya, jauh di lubuk hatinya, dia tidak keberatan berada di keluarga Uchiha, bahkan Sasuke sangat menyayanginya seperti ayah baginya.

"Sasuke sangat marah dengan sikapmu saat ini, maukah kau tidak bersikap seperti itu lagi?" Pinta Mikoto.

"Apa aku menyusahkan kalian?" Tanya Sarada, mengangkat wajahnya dan menatap Mikoto, tangan lembut itu menghapus perlahan air matanya.

"Sejujurnya anak laki-laki jauh lebih menyusahkan dari pada anak perempuan." Ucap Mikoto dan tersenyum.

"Terima kasih, nenek." Ucap Sarada, kembali memeluk Mikoto, sebuah belaian pelan pada puncuk kepala Sarada, membuat anak kecil itu tenang di dalam pelukan Mikoto.

Keluar dari kamar Mikoto, menutup perlahan pintu kamar itu, Sarada berjalan ke arah kamarnya dan sebuah senyum di wajahnya, mendapat sedikit ceramah dari Mikoto, sikapnya sedikit keterlaluan, seharusnya dia lebih bersyukur ada keluarga yang sangat menginginkannya, ada baiknya Mikoto berbicara padanya, dia harus segera mengubah sikapnya saat bertemu Sasuke.

.

.

Siang berganti malam, gadis kecil ini memilih membaca buku cerita dan tidak perlu sibuk untuk belajar, kadang dia akan mengingat kata-kata Sasuke saat sendirian.

"Boleh aku masuk?" Suara seseorang di depan pintunya, Sarada menoleh dan mengangguk pasti.

Sasuke yang baru tiba mendatangi kamar Sarada sebelum ke kamarnya, hanya ingin memastikan jika ibunya berhasil berbicara dengannya.

"Belajar lagi?" Tanya Sasuke.

"Tidak, aku hanya membaca buku cerita." Ucap Sarada.

"Dimana buku tulismu?" Ucap Sasuke, berada di sisi meja belajar Sarada.

"Ini. Untuk apa?" Ucap Sarada, memberi buku tulisnya ke arah Sasuke.

Sasuke melihat sejenak buku tulis itu, di tengah-tengahnya ada tempat untuk menuliskan nama pemilik buku, hanya ada tertera nama Sarada, mengambil pulpen di saku bajunya, Sasuke menambahkan tulisan 'Uchiha' di depan nama Sarada.

"He? Jangan di tulis." Ucap Sarada, menarik buku yang sudah terlambat, di sana sudah tertulis 'Uchiha Sarada'

"Apa artinya sebuah marga jika dengan sangat mudah kau menuliskannya, meskipun ayah tidak memberimu marga, kau tetap milik kami, kau adalah seorang Uchiha, jangan ragu untuk menambahkan 'Uchiha' pada namamu." Ucap Sasuke.

"Apa Boruto yang mengatakannya?" Tanya Sarada, ingin marah, tapi dia tidak bisa melakukannya.

"Tidak, aku mengetahuinya sendiri, Boruto tidak terlibat." Bohong Sasuke demi melindungi Boruto, mungkin besok Sarada akan memukul anak itu dengan sudah membongkar rahasianya jika Sasuke mengatakannya yang sebenarnya.

"Maafkan aku." Ucap Sarada, wajahnya kelam dan tertunduk.

Sasuke berlutut untuk menyamai posisinya dengan gadis kecil yang tengah duduk di kursi belajarnya.

"Tidak ada yang perlu minta maaf, seorang Uchiha memiliki harga diri yang tinggi untuk sekedar minta maaf, tapi jika kesalahannya amatlah berat kau harus melakukannya." Ucap Sasuke.

"Apa benar aku tidak inginkan lagi oleh ibuku?" Tanya Sarada, sebagai seorang anak yang normal, dia pun menginginkan seorang ibu. Mikoto tak cukup hanya untuknya, dia sudah menganggap Mikoto nenek dan sosok ibu tidak ada dalam bayangannya. "Kadang aku iri pada mereka yang memiliki ibu." Ucap Sarada.

"Seorang ibu hanya gambaran dari anak-anak dimana kau mendapat kasih sayang penuh, apa ibu-ibu di sini tak cukup bagimu? Ada 5 orang pelayan, ibuku dan kak Izumi meskipun dia belum kembali ke Konoha. apa mereka kurang memberimu kasih sayang? Apa mereka tidak pernah memperhatikanmu sedikit saja? Apa mereka membiarkanmu tumbuh tanpa adanya campur tangan mereka? akan ku ceritakan sedikit kejadian di mana kau masih menjadi balita kecil yang sangat tenang jika di gendong siapapun, para pelayan bahkan rela mengantri untuk mengurusmu, kak Izumi yang masih belum terpikirkan untuk memiliki anak, memilih mengurusmu saat dia sedang liburan dari pada mengurus kak Itachi, ibuku, dia yang paling menyayangimu, bagaimana? Apa kau masih butuh kasih sayang lagi?" Ucap Sasuke panjang lebar, untuk kali ini dia berbicara cukup banyak, seperti bukan dirinya, tapi dia harus melakukan itu agar Sarada tidak lagi menginginkan seseorang yang Sasuke pun sangat benci pada tindakan wanita yang membuang Sarada.

Sarada tersenyum, dia memahami ucapan Sasuke, keturunan jenius ini entah di dapatnya dari mana, Sarada pun merasa dia tidak seperti orang lain di keluarga ini, seluruh keturunan Uchiha berambut hitam dengan mata onyx, kejeniusan mereka pun turun temurun, semacam sudah tercetak pada DNA keturunan. Apa yang membuatnya merasa tak nyaman? Semua berawal saat teman-temannya mempertanyakan orang tua Sarada, kembali mengingat hal itu Sarada memejamkan matanya, dia tidak mempunyai jawaban untuk menjawab pertanyaan teman-temannya, jati dirinya menjadi simpang siur, akhirnya gadis kecil ini mencari jawaban di para pelayan, dia terlalu takut untuk bertanya pada orang-orang terdekatnya di rumah, para pelayan hanya menceritakan bagaimana cara Sarada datang ke keluarga Uchiha, Sarada sempat kecewa dan sangat sedih, seharusnya para pelayan lebih pandai membuat cerita bohong agar Sarada tidak mengetahui kebenarannya.

"Kau tidak sendirian, kami bersamamu." Ucap Sasuke, memegang puncuk kepala Sarada. Gadis kecil itu membuka matanya dan menatap Sasuke, seakan dia ayah yang sempurna untuknya.

"Ayah." Ucap spontan Sarada, gadis itu segera menutup mulutnya dan memalingkan tatapannya.

Sasuke sedikt terkejut, menjauhkan tangannya dan masih menatap gadis kecil yang sudah memanggilnya 'ayah'.

"Maaf, aku tidak bermaksud." Ucap Sarada.

"Mungkin ini sedikit konyol, tapi kau sudah seperti putri bagiku." Ucap Sasuke, sebuah senyum tipis di perlihatkannya pada Sarada, dia jarang tersenyum pada siapa pun.

"Uhuk. Kau sudah resmi memanggilnya 'ayah' Sarada." Ucap Itachi, yang tidak sopan masuk begitu saja di kamar Sarada, sebenarnya, dia ingin memberikan sesuatu untuk Sarada, langkahnya terhenti dan mendengar seseorang tengah berbicara dengan Sarada.

"Tidak sopan jika kau masuk kamar seorang gadis tanpa mengetuk terlebih dahulu." Singgung Sasuke.

"Baiklah, akan aku lakukan." Ucap Itachi, keluar dari kamar Sarada, mengetuk pintu dan membuka pintunya. "Aku sudah melakukannya apa aku boleh masuk?" Tingkah Itachi membuat gadis kecil itu tertawa pelan.

"Untuk apa kau kemari?" Ucap Sasuke. Berdiri dari tempatnya berlutut.

"Maaf, tapi aku tidak ada urusan denganmu, kemarilah putri kecil Uchiha. Aku membawakan sesuatu untukmu." Ucap Itachi, seakan dia yang lebih berhak menjadi seperti seorang ayah untuk Sarada. Gadis itu turun dari kursinya dan berjalan pelan ke arah Itachi. "Ini untukmu, aku rasa kau akan suka." Lanjut Itachi, mengeluarkan sebuah buku bacaan baru untuk Sarada.

"Terima kasih tuan eh paman Itachi." Ucap Sarada senang, dia bisa membaca buku lain lagi.

"Baguslah kalau kau suka, aku akan kembali ke kamar, jangan lupa untuk turun makan malam, ibu sepertinya sedang masak makanan enak." Ucap Itachi, beranjak meninggalkan Sasuke dan Sarada.

"Sudah jauh lebih baik?" Tanya Sasuke pada Sarada.

"Uhm, aku tidak akan memikirkannya lagi." Ucap Sarada dan memperlihatkan senyumnya pada Sasuke.

"Aku juga akan ke kamar, jangan menolak makan malam lagi." Ucap Sasuke.

"Iya-iya." Ucap Sarada.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, taman kanak-kanak Konoha. Boruto sibuk mengamati Sarada yang sedang membaca, kelas sedang jam istirahat. Murid-murid ramai untuk mendatangi tempat bermain, salah satu fasilitas di TK itu.

"Kapan kau akan berhenti membaca?" Tanya Boruto.

"Setelah buku ini selesai." Ucap Sarada.

"Bermainlah di luar, kau akan menjadi...menjadi...menjadi...uhm, aku lupa, namanya apa yaa, hewan dan buku." Ucap Boruto, dia sedang bingung menentukan kata yang cocok.

"Kutu buku, itu hanya perumapamaan, bukan hewan dan buku." Ucap Sarada.

"Iya itu, kutu buku, kau akan sulit bergerak jika tidak berlari." Ucap Boruto.

"Keluarlah sendiri tanpaku." Ucap Sarada, dia masih fokus pada bukunya.

Kesal, tidak ada tanggapan baik Sarada untuknya, Boruto menarik paksa buku Sarada dan berlari.

"Boruto!" Teriak kesal Sarada.

"Apa? Bukumu? Ambil kalau bisa. Hahaha." Ucap Boruto dan melarikan diri.

Sarada yang mulai di buat kesal berlari mengikuti Boruto, berusaha mengambil bukunya, tidak peduli dengan anak-anak di sekitar melihat mereka tengah berlari di halaman.

Bughhtt...!

Sarada yang tidak biasanya berlari malah terjatuh saat kakinya tersandung, aksi kejar-kejaran terhenti, Sarada terduduk di halaman dengan kaki yang lecet. Boruto melihatnya dan berhenti untuk kabur, berlari ke arah Sarada dan membantunyan berdiri.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri, kembalikan bukuku." Ucap Sarada, merampas paksa bukunya dan mendorong keras Boruto hingga dia terduduk di tanah.

"Hahahahahah." Tidak ada rasa kesal yang melanda Boruto, dia malah tertawa terbahak.

"Ini tidak lucu" Ucap Sarada.

"Akhirnya kau berlari dan melakukan sesuatu, doronganmu kuat juga." Ucap Boruto, dia terlihat senang. Sarada tidak hanya berdiam diri sekarang meskipun itu sedikit paksaan darinya.

"Ya ampun, Sarada, Boruto, ayo ke ruangan ibu sekarang." Ucap guru mereka, guru itu bisa melihat luka di lutut Sarada, dia akan membawa muridnya itu ke ruangan guru dan mengobatinya sedangkan Boruto, di mintai untuk membersihkan dirinya.

"Ini akan mengurangi rasa sakitnya, apa Boruto mendorongmu?" Tanya guru di kelas Sarada.

"Tidak bu, aku jatuh sendiri." Ucap Sarada.

"Aku tidak mendorongnya bu." Protes Boruto.

"Iya-iya, ibu hanya bertanya, kau itu sangat nakal di kelas, sampai kapan kau akan bersikap baik pada anak-anak lain?" Ucap guru mereka.

"Aku tidak nakal bu, hanya mereka yang tidak ingin di ajak bermain." Ucap Boruto.

"Bersikap lemah lembut pada siapa pun, dengan begitu mereka mau bermain denganmu, sudah, kembali ke kelas, Sarada apa bisa jalan?" Ucap guru itu.

"Uhm." Sarada hanya bergumam.

Boruto kembali ke kelas bersama Sarada dan guru mereka, beberapa murid yang duduk di sebelah Sarada berbisik jika Sarada sangat berani mau melawan Boruto yang terkenal cukup nakal di kelas, gadis kecil itu hanya tersenyum, teman-teman kelasnya mungkin sudah melupakan masalah latar belakang keluarganya, tingkah Boruto menarik perhatian mereka, seperti pengalihan.

.

.

Kelas hari berakhir, Sarada tidak di jemput Sasuke, tentu, Sasuke sangat-sangat sibuk, dia akan sulit untuk menjemput Sarada kecuali mengantarnya, gadis itu berjalan pelan melewati ruang tamu berharap tidak bertemu Mikoto, tapi langkahnya terhenti saat wanita itu mendapatinya tengah berjalan masuk ke ruang tamu.

"Sudah pulang?" Ucap Mikoto.

"Iya." Ucap Sarada, berusaha berjalan cepat, dia tidak ingin membuat Mikoto khawatir dengan luka di lututnya.

"Sarada, kemarilah." Ucap Mikoto. Sarada menghela napas dan berjalan ke arah ke Mikoto, dia tidak bisa kabur, awalnya Mikoto tidak mengetahui apa tengah di sembunyikan cucu kesayangannya itu, semakin mendekat dan akhirnya Mikoto bisa melihat plester yang tertempel di lututnya.

"Lututmu kenapa?" Tanya Mikoto, sedikit khawatir.

"Hanya jatuh saat bermain." Ucap Sarada.

"Bermain?" Ucap Mikoto, merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Sarada, beberapa informasi yang dengarnya dari Sasuke, Sarada jarang untuk bergaul bahkan untuk sekedar bermain-main dengan temannya. "Luka sedikit tidak apa-apa, tapi sebaiknya hati-hati saat bermain, lain kali jangan sampai terjatuh lagi." Tambah Mikoto dan mengusap lembut puncuk kepala Sarada. Hanya ada anggukan pelan dan senyum dari gadis kecil itu, dia kembali berjalan ke arah kamarnya.

.

.

.

.

.

Hari ini adalah hari libur untuk Sarada, tidak banyak hal yang di lakukannya di rumah besar ini, tidak sopan jika ingin bermain dengan para pelayan, Sarada merasa dia akan mengganggu pekerjaan mereka. Sasuke seharusnya masih berada di kamarnya dan tertidur pulas, gadis kecil itu berjalan keluar kamarnya menuju kamar Sasuke, mungkin dia bisa sedikit berbicara dengan Sasuke. Sedikit kecewa dengan kamar Sasuke yang kosong, si pemilik kamar tidak ada di sana, Sarada berdiam diri sejenak sebelum kembali ke kamarnya, terdengar seperti suara ribut di lantai bawah, ruangan Fugaku, Sarada yang penasaran berjalan menuruni tangga, pintu ruangan Fugaku sedikit terbuka, dia bisa mengintip, sejenak melihat ke dalam, di sana ada Fugaku dan Sasuke yang terlihat sangat marah.

"Bagaimana pun juga dia tidak akan pernah menyandang marga kita." Tegas Fugaku.

"Dia sudah lama tinggal bersama kita, sebagai anak yang di asuh, dia berhak mendapat marga dan latar belakang keluarganya sekarang." Ucap Sasuke, dia masih mencoba untuk membuat ayahnya itu memberi marga pada Sarada.

"Kau bahkan tidak tahu orang tua anak itu." Ucap Fugaku. Menatap tajam ke arah anak bungsunya ini.

"Kita sudah pernah membahas ini, aku sudah memutuskan untuk menjadi orang tua untuk Sarada." Ucap Sasuke.

"Apa jika setiap harinya kau menemukan bayi, membawanya pulang dan memberi mereka marga, ini bukan panti asuhan Sasuke, seharusnya anak itu berada di sana, dia tidak pantas berada di lingkungan kita." Ucap Fugaku.

"Kapan ayah akan mengerti dengan posisinya, ini hanya kebetulan aku membawanya." Ucap Sasuke.

"Cukup Sasuke! Aku tidak pernah menyetujuinya berada di sini, terserah jika kau ingin mengasuhnya, dia bukan keturunan Uchiha." Ucap Fugaku. Dia akan tetap dengan pendapatnya.

Sasuke sudah cukup kesal, dia tidak ingin berbicara lagi dengan ayahnya, semua kata-katanya tidak akan di dengar, Mikoto juga sudah pernah mengatakan untuk meminta Sarada di beri marga, tapi Fugaku tetap tidak akan menyetujui apapun. langkah Sasuke terhenti, mendapati Sarada yang berdiri di depan pintu ruangan Fugaku, berpikir jika dia mendengar segalanya, gadis kecil itu menatapnya, hanya ada tatapan kosong di sana.

"Kau tidak seharusnya berada di sana." Ucap Sasuke, menggenggam pelan tangan kecil gadis itu dan mengajaknya untuk pergi dari sana. Sasuke tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat gadis kecil ini tidak merasa sedih dengan ucapan-ucapan Fugaku.

Sarada menarik paksa tangannya dari genggaman Sasuke, dia tidak ingin mendapat belas kasih dari siapapun lagi di rumah ini, Sarada kembali merasa kesepian dengan statusnya sebagai anak yang tidak jelas.

"Mungkin sebaiknya aku tidak tinggal di sini." Ucap Sarada. Tatapannya terlihat sedih.

"Jangan katakan seperti itu, kau berhak tinggal di sini." Ucap Sasuke.

"Tapi-"

"-Jika kau tidak ingin di sini, kita akan keluar bersama." Ucap Sasuke, berpikir untuk memilih keluar dari kediaman Uchiha demi merawat dan mengasuh Sarada, mengangkatnya sebagai anak dan memberi marganya untuknya.

"Kakek Fugaku akan marah jika paman melakukannya." Ucap Sarada. Merasa tidak enak dengan keputusan Sasuke yang sangat mendadak. "Nenek Mikoto juga akan sedih." Tambah Sarada.

"Ibuku akan memahaminya, kemasi barang-barangmu dan kita akan pergi hari ini." Ucap Sasuke.

"Se-sekarang?" Ucap Sarada, sedikit terkejut, Sasuke benar-benar akan keluar dari rumahnya.

.

.

.

.

.

Tidak ada ucapan pamit atau apapun, Sasuke benar-benar meninggalkan kediamannya, setelah pindah mungkin Sasuke akan berbicara pada ibunya dan kakaknya kecuali ayahnya, Sasuke tidak akan berbicara apapun.

Mengajak Sarada dan memilih beberapa rumah, sejenak Sarada terdiam dan sangat bingung, untuk pertama kalinya mereka keluar rumah dan tidak akan kembali lagi, mungkin, semuanya tergantung Sasuke, Sarada tidak bisa memutuskan apa-apa, orang dewasa jauh lebih berhak dan anak kecil belum pantas untuk berpendapat, tapi gadis kecil itu bisa memahami suasana hati Sasuke, mengambil keputusan saat di dalam keadaan marah.

"Kau ingin rumah seperti apa?" Tanya Sasuke pada Sarada, mereka masih berada di dalam mobil.

"Dekat sekolah dan tidak terlalu besar." Ucap Sarada.

Beberapa kali berhenti di kantor pemasaran rumah, Sarada menolak semua rumah mewah, apartemen, dan rumah yang terlalu elit, berakhir pada rumah sederhana, dua lantai, minimalis, ruang tamu, ruang makan yang berdekatan dengan dapur, ruangan keluarga, dua kamar tidur, dua kamar mandi, garasi, dan halaman rumah.

"Kau ingin rumah seperti ini?" Ucap Sasuke, sedikit tidak percaya jika mereka akan tinggal di rumah yang sederhana, setidaknya rumah ini cukup bagus jika di lihat dari luar hanya jauh dari rumah super mewah Sasuke.

"Tentu, di sini lebih nyaman." Ucap Sarada, sejujurnya rumah besar itu membuat Sarada tidak bisa nyaman, dia hanya akan berada di kamar dan tidak ada yang bisa lakukannya, terburu-buru masuk saat Sasuke sudah membuka pintunya, rumah ini masih bagus dan di jual oleh pemilik pertamanya. Perabotnya sudah lengkap, semacam rumah siap di huni.

"Tunggu, jangan menyentuh apapun dulu, kita akan membersihkannya." Ucap Sasuke. Bersiap menghubungi jasa bersih-bersih, gadis kecil itu mengambil paksa ponsel Sasuke dan menyembunyikannya.

"Kita akan membersihkannya bersama." Ucap Sarada.

"Ini akan merepotkan." Ucap Sasuke, dia tidak pernah bersih-bersih sebelumnya, hanya para pelayan di rumahnya yang melakukannya.

"Ayolah, akan menyenangkan jika di lakukan bersama." Ucap Sarada.

Gadis kecil itu menarik Sasuke untuk membantunya membuka kain-kain penutup perabot, masih terdapat debu di sana dan membuat Sasuke bersin, Sarada hanya tertawa.

Semua kain penutup di buka, Sasuke harus menggunakan sapu tangan untuk menutup hidungnya, begitu juga dengan Sarada, menemukan beberapa alat bersih-bersih di salah satu pintu kecil, Sarada akan menyapu dan Sasuke akan membersihkan perabotan dari debu, semuanya di lakukan bersama, hingga ruangan lantai satu menjadi bersih, beranjak ke lantai dua, di sana hanya ada 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi, kamar mandi lainnya berada di lantai satu. Kamar terbuka, ada sebuah tempat tidur, Sasuke berniat akan menggantinya nanti, tidak terbiasa tidur dengan ranjang dengan ukuran kecil.

.

.

Tinggal berdua dengan seorang anak kecil, Sasuke sudah menceritakan pada ibu dan kakaknya, mereka tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi, tidak ada juga salahnya jika Sasuke ingin hidup mandiri dan mengurus Sarada, Mikoto hanya berharap Sasuke mampu melakukannya. Fugaku sedikit marah, dia hanya membiarkan anaknya itu melakukan sesuka hatinya, Fugaku sendiri tidak akan pusing menanggapi sikap konyol Sasuke yang memilih tinggal di luar.

Rumah baru, penghuni baru, dan tetangga baru. Sarada menyapa sopan ibu-ibu yang mendatangi rumah yang sudah lama kosong dan sekarang di tempati oleh seorang pria dan anaknya, itu adalah gosip yang beredar di deretan rumah Sarada.

"Dimana ibumu?" Tanya para ibu-ibu, sedikit aneh dengan hanya mereka berdua tinggal.

Sarada terdiam dan bingung ingin mengucap apa, dia bahkan tidak tahu ibunya berada di mana. Gadis kecil ini tidak punya jawaban yang pasti, sama halnya ketika teman-temannya mempertanyakan latar belakang keluarganya.

"Maaf, ibunya sudah tidak ada." Ucap Sasuke, dia baru saja membuang sampah dan mendapati Sarada di kerumuni para ibu-ibu.

"Oh ya ampun, kami turut sedih, semoga kau menjadi anak yang tegar." Ucap para ibu-ibu yang sudah salah paham. Sarada ingin tertawa, tapi dia menahannya. Para ibu-ibu kembali fokus pada Sasuke, sedikit terpesona dengan Sasuke yang masih terlihat muda, namun sudah di tinggal istrinya, jika mereka memiliki anak gadis, mungkin saja salah satu dari mereka sudah menjodohkan anaknya dengan Sasuke.

Sasuke tidak ingin menanggapi para ibu-ibu itu lebih lama, pamit untuk masuk dengan alasan masih bersih-bersih dan memanggil Sarada untuk segera masuk juga, Sarada pamit sopan pada para ibu-ibu dan berlari mengekor Sasuke.

.

.

TBC

.

.


update lagi...~

apa siih, reader pada kepo *di lempar rame2* sabar-sabar, nanti semua author jelasin, mungkin di next chapter, mungkin,

.

.

balas review...~

Choseo ssl : update yoo~

Amamiya Rizumu : ya singkat ternyata, author juga baru sadar, hahahahah

dina haruno : semoga harapanmu terwujud, XD tunggu saja next chapter.

Kimiizumi Chan : halo, hay...~ panggil, sasuke fans sajalah sesuai nama penname XD, terima kasih sudah membaca fic author "terharu" masih ada yang mau baca juga XD, fic ini, uhmm... mungkin ada pair, mungkin, di tunggu next chapter saja yooo...

sitieneng4 : sakura jadi jahat atau engga yaa. hmm hmm.. di tunggu saja hohoh.

Uchiha Cherry 286 : okey catat.

respitasari : sudah update nih.

jey : Hahahaha, mungkin saja, bisa jadi tuh, di bikin dan nggak sadar :D :D

.

.

see next chapter lagi yoo,

fic ini memang nggak panjang-panjang ke fic author yang itu tuh, itu yang ribet minta ampun, :D