Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

Catatan : author memang cuma mengagumi pair sasu-saku, bukan berarti author tidak akan mencatumkan pair atau chara lain, author suka beberapa pair di Naruto, so, jangan harap hanya ada Sasu-saku saja, yaa emang sih ujung-ujung akan sasu-saku, tapi dalam beberapa fic auhtor, chara lain sangat membantu, alurnya jadi seru dan tidak monoton, masa alurnya sasu-saku mulu, ceritanya tidak akan berkembang, kali ini pair Naru-Hina. XD

.

.

Don't Like Don't Read !

.

~ Another cherryblossom ~

.

[ Chapter 4 ]

.

.

Kriiinggg... kriinnggg...

Bunyi alarm jam beker yang cukup berisik, mulai sekarang pria ini akan bangun dengan sendirinya, tidak ada pelayan yang rajin membangunkannya setiap hari jika dia terlambat untuk bangun. Mencoba meraih jam beker itu dan menghentikan deringnya, kembali membuka matanya perlahan, dia harus bekerja, tidak lupa dengan posisinya yang sebagai wakil direktur.

Melirik ke samping, sedikit terkejut dengan seorang anak kecil yang masih tertidur, melupakan sesuatu yang sudah terjadi, dia lupa jika sudah memilih keluar dari kediamannya dan memilih untuk mengasuh Sarada, sebagai pangsuh yang sah, meskipun tetap dalam hukum, Sarada bukan siapa-siapa untuknya selain anak kecil yang di jaganya. Semalam anak kecil itu tidak bisa tidur dan berlari masuk ke kamar Sasuke, takut tidur di kamarnya, kadang terdengar suara-suara aneh saat tengah malam. Gadis kecil ini merasa lebih tenang tidur di samping Sasuke.

"Sarada, bangun, kau akan terlambat ke sekolah." Ucap Sasuke, membangunkan perlahan gadis kecil di sampingnya, bersyukur dengan Sarada bukan tipe gadis pemalas, membuka matanya perlahan, sesama mata onyx saling bertatapan.

"Bisa memeriksa kamarku? Aku rasa ada sesuatu di sana." Ucap Sarada, dia tidak ingin terlalu merepotkan Sasuke dengan terus-terusan tidur di kamar pria ini, menguap perlahan dan mengucek-ngucek matanya.

"Hn, bersiaplah dan aku akan memeriksa kamarmu." Ucap Sasuke.

Gadis kecil itu bergegas bangun dan berlari ke arah lantai bawah, Sasuke menghela napas sejenak, Sarada tidak menjadi beban baginya, tapi dia harus mengurus banyak hal tentang anak kecil itu, Mengantarnya ke TK, menyediakan baju dan beberapa perlangkapan untuknya saat bersekolah, juga dia tidak sangat tidak pandai untuk memasak, memilih makanan pesanan dari luar untuk berdua, beranjak dari kasur miliknya yang sudah di ganti sebelumnya, keluar dan masuk ke kamar Sarada yang hanya bersebelahan dengan kamarnya, mengamati beberapa tempat di sana, mencoba mencari sesuatu yang di katakan Sarada terdengar berbunyi beberapa kali.

"Oh, rupanya ini." Ucap Sasuke, membuka jendela kamar Sarada, di sana ada pohon rindang dengan banyak daun, pohon milik tetangga yang sudah sangat besar, dahannya sampai ke arah jendela Sarada dan jika angin bertiup, ranting yang di tumbuhi banyak daun itu akan menggesek-gesek atas jendelanya, seakan ada seseorang yang berusaha membuka jendela kamar Sarada, Sasuke menahan tawa, rasa takut anak kecil itu cukup lucu, tapi mungkin dia juga akan sama jika seumuran dengan Sarada, suara aneh yang tiba-tiba muncul di kamar, seakan-akan menakutkan.

"Su-sudah menemukannya?" Ucap Sarada, masih sedikit takut untuk masuk ke kamarnya, melirik dari sisi pintunya.

"Kemarilah, akan aku perlihatkan sesuatu." Ucap Sasuke.

Gadis kecil itu berjalan ke arah Sasuke dan di perlihatkan sebuah ranting pohon yang sudah sampai pada jendela kamarnya.

"Mungkin kita harus meminta ijin pada tetangga sebelah untuk memotongnya, dengan begini tidak ada suara aneh lagi di kamarmu." Ucap Sasuke.

"Hmm, syukurlah, aku kira semacam orang jahat yang akan masuk ke kamarku." Ucap Sarada, sedikit lucu untuk Sasuke. "Hari ini kita akan makan apa?" Tanya Sarada.

"Kau ingin makan apa untuk sarapan?" Tanya Sasuke, dia juga belum memutuskan akan makan apa.

"Uhm, karena jika makanan berat dan memesan terlalu lama, kita makan sandwich saja, aku bisa membuatnya." Ucap Sarada, gadis kecil itu cukup bersemangat.

"Biar aku yang memotong tomatnya, kau masih tidak boleh untuk memegang benda tajam." Ucap Sasuke. membatasi beberapa hal yang tidak boleh Sarada lakukan di dapur.

"Okey. Yeey, roti sandwich, potong tomat yang banyak, paman." Ucap Sarada, dia sudah berlari kembali turun ke dapur.

"Hai-hai." Ucap Sasuke, mengikuti gadis itu yang sudah lebih dulu berada di dapur.

Sarada mengambil beberapa bahan di kulkas, menaruhnya di meja dan menunggu Sasuke untuk memotongnya. Gadis kecil itu akan menyiapkan roti. Terdiam sejenak saat melihat Sasuke memotong-motong Sayuran dan sosis.

"Boleh aku mencobanya?" Tanya Sarada, rasa penasaran anak kecil lebih besar saat melihat sesuatu yang akan sangat jarang mereka lakukan, Sasuke menatap Sarada, tersenyum dan meminta Sarada untuk berdiri di hadapannya.

"Jangan melakukan gerakan apapun selain memotong, mengerti?" Ucap Sasuke, memberi arahan, merasa sedikit was-was jika pisau itu akan di ayunkan ke sembarang arah. Sarada mengangguk saat Sasuke mulai memintanya memegang pisau, masih tidak ada keringanan, tangan Sasuke juga tepat berada di atas tangan Sarada dan menuntun anak kecil itu menahan tomatnya dan mulai memotong perlahan dan perlahan.

"Cukup sulit, baiklah, sudah cukup." Ucap Sarada, meminta untuk berhenti dan menunggu Sasuke menyelesaikan memotongnya. Dia tidak ingin waktu mereka terbuang hanya gara-gara tindakannya yang sangat lama untuk memotong.

Tidak menunggu lama, sandwich buatan mereka berdua telah selesai, segelas susu untuk Sarada dan secangkir kopi untuk Sasuke, mereka mulai menikmati sarapan buatan mereka, kali ini buatan tangan sendiri dan tidak memesan dari luar.

"Mungkin aku akan datang sedikit terlambat, kau bisa menungguku?" Tanya Sasuke, di sela tengah membaca koran.

"Hn." Gumam singkat, Sarada tidak mempermasalahkan jika dia akan terlambat di jemput, yang dia tahu Sasuke akan selalu membawanya pulang, dia tidak ingin merasa kesepian setelah keluar dari kediaman dan hanya tinggal Sasuke satu-satunya orang yang bersamanya.

Pria ini melirik ke arah Sarada, berharap tidak ada wajah sedih di sana, dia cukup sibuk dan hanya dia yang bisa mengantar-jemput Sarada, Sasuke tidak ingin mempercayakan siapa pun untuk bersama Sarada, terlalu banyak kasus penculikan anak, jika seorang anak kecil di biarkan sendirian dengan orang yang mungkin baru di kenal.

"Ada masalah?" Tanya Sasuke. Gadis kecil itu menggeleng kepalanya cepat dan tersenyum, sebagai tanda dia baik-baik saja dan tidak masalah untuk lama di jemput.

"Yosh, cepatlah bersiap, kita akan berangkat." Ucap Sasuke.

Sarapan mereka sudah berakhir, Sarada membantu Sasuke menaruh piring kotor, gadis kecil itu cukup keras kepala untuk membantu Sasuke mencuci piring, karena tubuhnya yang pendek dan masih kecil, westafel tak cukup di gapainya, Sasuke sengaja membelikan sebuah bangku kayu kecil agar gadis itu bisa sampai pada westafel.

"Hati-hati pada gelasnya." Ucap Sasuke.

"Aku tidak akan memecahkannya." Ucap Sarada dan tertawa.

Bersiap untuk mengantar Sarada, beberapa tetangga kadang berlalu lalang dan mengucapkan selamat pagi, Sarada ada membalas sopan dan para tetangga sering mengusap perlahan puncuk kepala Sarada. Gadis itu tersenyum dan pamit pada mereka, Sasuke akan segera mengantar.

"Paman." Panggil Sarada, mereka tengah di jalan.

"Hn?"

"Apa kita masih bisa bertemu nenek Mikoto dan paman Itachi?" Ucap Sarada, dia merindukan sosok mereka.

"Katakan saja jika kau ingin bertemu dengan mereka, aku akan memanggilnya ke rumah." Ucap Sasuke.

"Uhm, apa kakek Fugaku marah?" Ucap Sarada polos.

"Mulai hari ini kita harus sepakat untuk tidak membahasnya." Ucap Sasuke, paginya sedikit di usik dengan mendengar nama ayahnya yang cukup egois.

"Kalian bertengkar?" Tanya Sarada, merasa jika pertengkaran Fugaku dan Sasuke akibat kehadirannya. Sasuke menghela napas.

"Kami tidak bertengkar, hanya berselisih pendapat." Ucap Sasuke.

"Berselisih pendapat?" Sarada mengulang dua kata terakhir Sasuke.

"Maksudnya, uhm... seperti kita aku ingin memakan permen dan ayah marah padaku, katanya permen tidak baik untuk gigimu tapi aku rasa permen itu enak dan tidak bahaya untuk gigi, semacam itu." Sasuke berusaha menjelaskan sesederhana mungkin agar Sarada memahaminya.

"Aku rasa kakek Fugaku benar, permen itu berbahaya untuk gigi, seperti buku cerita yang ku baca." Ucap Sarada. Sasuke terdiam, ucapan perumpamaannya malah di bantah oleh Sarada.

"Ehem, intinya seperti itu, berselisih pendapat, kau mengerti?" ucap Sasuke, bingung harus mencari penjelasan seperti apa lagi.

"Baiklah, hanya berselisih pendapat, jadi apa kakek Fugaku juga akan di undang ke rumah kita?" Ucap Sarada.

"Tidak Sarada, ayah sangat sibuk, dia akan sangat sulit jika di mintai hal seperti itu." Ucap Sasuke, hanya mencari alasan agar Sarada tidak bertanya lagi. Benar saja, gadis itu sudah terdiam dan tidak bertanya macam-macam lagi, mereka sudah tiba, mobil Sasuke menepih. "Semua sudah lengkap?" Tanya Sasuke. Sarada mengecek barang-barang di tas.

"Sudah." Ucap gadis kecil itu, turun dari mobil dan melambaikan tangan ke arah Sasuke, sebuah senyum tipis sebelum gadis itu berbalik dan berlari menuju gedung sekolahnya.

.

.

.

.

.

Kelas Sarada sudah berakhir, dia akan menunggu Sasuke. sejujurnya gadis ini ingin pulang sendirian, namun ucapannya hanya di bantah Sasuke, pria itu tidak mengijinkan Sarada pulang sendirian.

"Hey, Apa kelas sudah berakhir?" Ucap seorang pria pada Sarada.

"sudah." Jawab Sarada singkat.

"Baiklah, ayo kita pulang." Ucap pria itu.

"Paman siapa?" Ucap Sarada.

"Aku pikir kau juga akan tertipu." Ucap pria itu.

"Awalnya aku pikir, tapi setelah mendengar paman bicara, kau bukan paman Sasuke." Ucap Sarada.

"Gadis yang pintar, aku ingin mengajakmu sebentar, dan setelah itu aku akan mengantarmu pada sasuke." Ucap pria itu.

"Kata paman Sasuke, aku tidak boleh ikut dengan orang asing." Ucap Sarada, tatapaan yang terlihat santai.

"Baik-baik, kata Sasuke memang benar, tapi, aku bukan orang asing, apa kau tidak merindukan bibi Mikoto?" Ucap pria itu, dia sedikit memancing anak kecil dengan menyebutkan Mikoto. Dia bisa membaca perubahan raut wajah gadis kecil ini. "Sebaiknya kita segera pergi."

Sarada mengangguk pelan, hanya mendengar nama Mikoto saja membuatnya sangat senang, mengikuti pria itu memasuki mobil, pergi bersama orang asing mungkin akan membuat Sasuke khawatir dan marah besar padanya, tapi pria ini terlihat seperti bukan orang asing.

.

.

Sasuke baru tiba di TK Sarada, sekolahnya mulai sepi, hanya ada beberapa anak yang sedang menunggu orang tuanya. Di kelas, Sasuke tidak menemukan Sarada, dia tidak di dalam menunggu Sasuke.

"Maaf, Sarada ada di mana?" Tanya Sasuke para seorang guru yang tengah berjalan ke kelas mengecek murid-murid yang belum pulang.

"Sarada? Bukannya dia sudah pulang dari tadi?" Ucap guru kelas Sarada, dia kembali bertemu dengan pria ini, wali Sarada.

"Pulang?"

"I-iya, dia sudah tadi, aku sempat melihatnya dia pulang bersama anda." Ucap guru itu, saat melihat ke jendela, di melihat pria yang terlihat seperti Sasuke.

"Apa-apaan ini! Aku bahkan baru ingin menjemputnya." Ucap Sasuke, dia terlihat marah.

"Maaf, aku sungguh tidak tahu kalau pria itu bukan anda." Ucap guru Sarada, dia sedikit takut melihat tatapan Sasuke, wajahnya terlihat kesal, berlari keluar kelas dan bergegas mengendarai mobilnya, berpikir jika pria itu cuma mengantar Sarada.

Tiba di rumah, Sarada tidak ada di sana, dia juga belum tiba di rumah, mendecak kesal, Sarada mengabaikan ucapannya untuk tidak pergi bersama orang asing. Kembali mengendarai mobil, melirik kiri dan kanan berharap menemukan gadis kecil itu.

Nihil, sepanjang jalan tidak terlihat gadis dengan tubuh kecil dan rambut hitam pendeknya. Sasuke benar-benar marah. Berhenti di kantor kepolisian, melaporkan kehilangan seorang anak, kerja polisi pun sungguh lelet dan membuat Sasuke seakan-akan ingin mengamuk di sana, kembali melajukan mobilnya, hari sudah semakin gelap dan tidak ada titik terang menemukan anak itu, kenapa? Dia merasa sangat aneh, dia sungguh khawatir akan anak itu.

Dreet...dreet...dreet..

Ponsel Sasuke bergetar, sebuah nomer yang tidak di kenal Sasuke, mengangkatnya dan coba berbicara.

"Apa kau sudah benar-benar merasa putus asa tidak menemukan anak itu?"

Sasuke mengerutkan alisnya, suara ini tidak asing baginya, tidak ada ucapan apa-apa dari Sasuke, memutuskan ponselnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat cepat, dia sudah muak untuk hari ini.

.

.

Kediaman Uchiha.

Sasuke berhenti di depan pagar rumahnya, tidak ingin memarkirkannya di dalam, melirik ke arah garasi dan mobil ayahnya tidak ada di sana, sepertinya Fugaku keluar kota, pria itu berjalan cukup cepat dan tergesa-gesa, tidak mengetuk dan langsung membuka paksa pintu rumahnya, orang-orang yang berada di ruang tamu terdiam melihat pintu yang di buka, cukup keras hingga membentur dinding. Sasuke terlihat sangat marah.

Dia ruang tamu, Itachi, Mikoto, Sarada dan pria yang sudah sengaja menculik Sarada.

"Pulang!" Ucap Sasuke, menarik paksa tangan anak kecil itu, Sarada sedikit merintih, genggaman tangan Sasuke sangat kuat.

"Apa yang kau lakukan Sasuke? Kau menyakitinya." Tegur Mikoto.

"Kau mengabaikan ucapanku! Apa yang sudah aku katakan untuk tidak pergi bersama orang asing ha!" Bentak Sasuke., dia mengabaikan ucapan Mikoto. Sarada sangat terkejut.

Mikoto segera menarik Sarada dan memeluknya, Itachi mencoba menenangkan Sasuke.

"Tenanglah, lagi pula dia tidak bersama orang asing." Ucap Itachi.

"Aku tidak menyangka kau akan semarah ini Sasuke." Ucap Pria itu.

Bughtt!

Satu pukulan mendarat ke arah Izuna, Uchiha Izuna. Dia adalah sepupu Sasuke.

"Ini semua kesalahanmu, jangan pernah melakukan ini lagi." Ucap Sasuke, dia benar-benar kesal.

"Sarada, kita pulang." Ucap Sasuke.

Tidak ada gerakan apa-apa dari Sarada, dia masih memeluk Mikoto dan tidak ingin melepaskannya, takut, Sarada sungguh takut melihat sikap Sasuke saat ini.

"Sebaiknya Sarada pulang besok saja, ibu yang akan mengantarnya." Ucap Mikoto.

"Tidak bu. Kami akan segera pulang." Ucap Sasuke, dia sudah tidak ingin Sarada berada di kediaman ini lagi. "Apa kau lupa dengan apa yang sudah kita sepakati sebelum pergi dari sini?" Ucap Sasuke pada Sarada.

Perlahan-lahan, tangan kecil itu terlepas dari dekapan Mikoto, wanita ini sedikit tidak rela membiarkan Sarada pulang dengan Sasuke yang marah besar.

"Masuk ke mobil." Ucap Sasuke, memerintah gadis itu, dia sudah berlari keluar dan masuk ke dalam mobil sesuai perintah Sasuke.

"Sasuke, dia masih anak-anak, jangan terlalu memarahinya, lagi pula, ini salah ibu yang meminta Izuna membawa Sarada." Ucap Mikoto, mengusap perlahan punggung anak bungsunya itu.

"Aku pulang dulu." Ucap Sasuke, dia tidak juga merespon ucapan Ibunya dan bergegas pulang.

Suasana kediaman yang tadinya cukup ramai dengan suara Sarada yang menceritakan kegiatannya di sekolahnya, kini terasa begitu sepi, Itachi membantu Izuna berdiri, bibirnya sedikit robek, Sasuke memukulnya cukup keras.

"Dia benar-benar marah." Ucap Izuna.

"Ya, begitulah, dia sudah terkesan seperti seorang ayah yang sangat melindungi putrinya." Ucap Itachi.

"Sudah, berhenti berbicara dan Izuna, cepat obati lukamu." Ucap Mikoto.

"Iya, bibi." Ucap Izuna.

.

.

Suasana di dalam mobil cukup sunyi, Sarada memilih duduk di kursi belakang, Sasuke bisa melihat gadis itu terdiam lewat kaca spion tengah, tatapannya hanya menunduk ke bawah, Sasuke membuatnya sedikit takut. Sarada pikir jika pergi ke rumah Mikoto dia tidak akan kena marah, tapi, pikirannya meleset, Sasuke sangat marah tadi, dia bahkan tidak berani menatap pria itu.

Sasuke tidak bisa berbicara apapun juga, dia sungguh kejam tadi, bahkan menarik paksa anak kecil yang tidak mungkin akan melawannya, dia menyakiti Sarada.

Tiba di rumah, tidak ada ucapan apapun, Sarada bergegas masuk dan memilih ke dalam kamarnya. Sasuke menghela napas, dia sedikit lepas kendali, dia hanya takut jika anak itu di bawa orang asing dan mereka bisa berbuat apapun pada Sarada yang tidak memiliki identitas jelas di kota ini.

Tok tok tok

Sebuah ketokan pelan dari luar kamar Sarada.

"Kau harus makan sebelum tidur." Ucap Sasuke. Tidak ada jawaban, Sasuke membuka pintu dan mendapati gadis kecil itu sudah tertidur. Sepertinya dia sudah menahan diri sejak tadi, masih ada bekas air mata di sana, Sasuke tahu, Sarada menangis. Sasuke merasa sangat bersalah, hanya dia satu-satunya yang menjadi orang terdekat Sarada dan Sasuke pun malah berbuat kasar padanya.

.

.

.

.

.

Beberapa hari berlalu, sikap Sarada belum berubah, dia jadi banyak diam dan Sasuke pun bukan tipe yang banyak bicara, suasana selalu menjadi canggung di antara keduanya.

"Apa kau bertengkar dengan paman Sasuke?" Ucap Boruto. Jam istirahat, Sarada tidak sedang membaca dan terdiam diam menatap keluar jendela kelasnya.

"Mungkin saja, orang dewasa itu cukup rumit, aku tidak bisa mengerti sikap mereka." Ucap Sarada.

"Orang dewasa memang seperti itu, mereka selalu bersikap aneh." Ucap Boruto.

"Aku hanya ke rumah nenek Mikoto dan paman Sasuke sangat marah, bukannya mereka keluarga." Ucap Sarada.

"Mungkin paman Sasuke tidak suka pada keluarganya." Ucap Boruto.

"Uhm? tapi aku rasa tidak, paman Sasuke sangat menyayangi nenek Mikoto dan paman Itachi, oh iya, aku juga bertemu dengan seseorang yang mirip paman Sasuke, namanya Uchiha Izuna." Ucap Sarada.

"Woo, jadi itu bukan paman Sasuke! Aku melihatmu pulang bersamanya, aku pikir itu paman Sasuke dengan gaya rambut yang baru." Ucap Boruto.

"Kau pun tertipu, mereka hanya terlihat mirip, tapi jika paman Izuna mulai berbicara, aku bisa merasakan jika dia bukan paman Sasuke." Ucap Sarada.

"Kau sungguh hebat, bisa membedakan paman Sasuke dan paman yang terlihat mirip paman Sasuke, apa itu kagebunshinnya? Hahaha." Ucap Boruto dan malah tertawa.

"Sadarlah, kau ini bukan berada di dunia ninja-ninja, tidak ada yang namanya kagebunshin, tapi kalau saudara kembar ada, hanya saja paman Izuna dan paman Sasuke cuma sepupu." Ucap Sarada.

"Hooo, kapan-kapan ayo pergi makan ramen Ichiraku lagi." Ucap Boruto, Naruto sibuk dan mulai jarang mengajaknya makan di sana.

"Aku tidak ingin kena marah lagi, sebaiknya kau pergi bersama ayahmu." Ucap Sarada. Dia sudah cukup kapok dengan mengabaikan ucapan Sasuke.

"Bagaimana kalau kau ke rumahku, kau bisa bertemu Hima, kalian sudah lama tidak bertemu kan?" Ucap Boruto, dia terlihat bersemangat menceritakan adik bungsunya.

"Aku harus minta ijin pada paman Sasuke dulu." Ucap Sarada.

"Tenanglah, ayahku akan meminta ijin." Ucap Boruto dan sebuah cengiran yang tidak jauh dengan ayahnya. Sarada mengangguk, hari ini Boruto sedikit menghiburnya, suasana di rumah saat ini cukup membuatnya terasa sesak, Sasuke pun tidak ingin berbicara apapun padanya, Sarada tidak berani memulai pembicaraan, dia merasa bersalah dengan sikapnya, seharusnya dia tidak mengikuti Izuna dan membuat Sasuke khawatir.

.

.

Mobil Naruto menepih, di depan gerbang, Boruto sudah melompat-lompat girang sambil melambaikan tangannya ke arah ayahnya, Sarada menatap aneh ke arah Boruto, dia terlihat mencolok seperti itu.

"Selamat siang Sarada." Sapa Naruto.

"Selamat siang paman." Sapa balik Sarada.

"Ayah, Sarada akan berkunjung ke rumah, kami akan bermain bersama Himawari, bisakah ayah meminta ijin pada paman Sasuke?" Ucap Boruto.

"Wah, ini kabar yang bagus, masuklah ke mobil, ayah akan menghubungi Sasuke." Ucap Naruto.

Boruto menarik tangan Sarada berlari masuk ke dalam Mobil, Naruto mengambil ponselnya di saku celananya dan menghubungi Sasuke.

"Ada apa, Naruto?"

"Aku ingin minta ijin padamu, membawa Sarada ke rumah, sebenarnya ini permintaan Boruto, katanya mereka akan bermain bersama Himawari." Ucap Naruto.

"Ya, kau bawa saja dia." Ucap Sasuke.

"Ada apa? Kau seperti terdengar ada masalah?"

"Hanya beberapa masalah kecil, ajaklah Sarada, mungkin jika dia bermain dengan anak-anakmu, perasaannya akan jauh lebih baik."

"Apa kalian sedang bertengkar?"

"Semua gara-gara Izuna yang membawanya tiba-tiba tanpa sepengetahuanku."

"Izuna? Oh, apa dia datang berkunjung ke Konoha, hahaha, selalu saja, dia selalu mengerjaimu dan kali ini aku rasa cukup keterlaluan sampai harus melibatkan Sarada."

"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya, tidak usah mengantarnya pulang, aku yang akan menjemputnya."

"Baiklah."

Naruto menyudahi pembicaraannya dan masuk ke dalam mobil.

"Sasuke sudah mengijinkanmu." Ucap Naruto pada Sarada.

"Terima kasih paman." Ucap Sarada.

"Apa Sasuke sedang marah padamu?" Ucap Naruto dan mulai melajukan kendaraannya.

"Paman Sasuke katanya marah besar." Ucap Boruto. Sarada hanya terdiam.

"Aku tidak bicara padamu." Ucap Naruto.

"Aku hanya menyampaikan apa yang ingin di ucapkan Sarada, ayah." Protes Boruto.

"Iya-iya, Tidak apa-apa Sarada, Sasuke memang seperti itu, dia akan merasa sangat khawatir dan akan bersikap berlebihan jika menyangkut sesuatu yang sangat di lindunginya. Hahahah Sasuke itu ada-ada saja, dia hanya takut terjadi sesuatu padamu." Ucap Sasuke.

Sarada terdiam.

"Ayah, kita makan ramen dulu baru pulang yaa." Ucap Boruto.

"Tidak ada ramen hari ini, ibumu sudah masak yang enak-enak, makanan rumah akan jauh lebih baik." Ucap Naruto.

"Dasar ayah yang payah." Ucap Boruto.

"Lagi-lagi, kau harus belajar sopan santun Boruto." Ucap Naruto, anaknya tidak juga berubah meskipun sudah sekolah.

Sarada terkekeh melihat pertengkaran kecil Boruto dan ayahnya, mereka selalu saja seperti itu.

.

.

Memakirkan mobil dengan rapi, kedua anak kecil itu sudah berlarian masuk, membuka sepatunya dan berjalan masuk.

"Hima, kakak sudah pulang." Teriak Boruto.

"Hima, ayah pulang." Ucap Naruto.

Uzumaki Himawari, anak bungsu Naruto, gadis kecil dengan rambut Indigo pendeknya, mata yang sangat mirip dengan Naruto, dia mendengar suara kakak dan ayahnya, berlari ke arah ruang tamu, wajahnya terlihat ceria, berlari ke arah mereka dan berbelok, Himawari malah memeluk Sarada

"Ayah, apa dia sudah lupa atau tidak bisa membedakan yang mana kakaknya dan yang mana bukan." Ucap Boruto, dia sama sekali tidak di sambut.

"Bukannya ayah jauh lebih besar dari kalian, kenapa dia tidak menyambut ayahnya sendiri, aduh Hima, ayahmu di sini." Ucap Naruto, dia pun tidak di sambut.

Sarada menatap Himawari, dia sudah sebesar ini, terakhir saat bertemu Hima, dia seorang bayi yang hanya berbaring di kasur.

"Kau masih mengenalku?" Ucap Sarada.

"Kakak." Ucap Himawari dan tersenyum senang.

"Hey, kakakmu di sini." Protes Boruto.

"Hahaha, Sarada juga termasuk kakaknya Himawari." Ucap Naruto.

"Tapi tetap saja aku kakak kandungnya." Boruto tidak ingin kehilangan haknya sebagai kakak Himawari.

Sarada mengusap perlahan puncuk kepala Himawari, merasa cukup senang bisa kembali bertemu dengan anak gadis kecil itu. Himawari menganggap punya teman yang sesuai, kakaknya seorang laki-laki dan sulit untuk di ajak bermain.

"Kalian sudah pulang?" Ucap seorang wanita dengan rambut Indigo sepinggangnya. "Oh, ada tamu, selamat siang, Sarada." Ucap ramah Nyonya Uzumaki, Uzumaki Hinata.

"Selamat siang bibi Hinata." Ucap ramah Sarada.

"Sudah lama kau tidak berkunjung ke rumah, Sasuke tidak pernah lagi mengajakmu." Ucap Hinata.

"Paman Sasuke agak sibuk." Ucap Sarada.

"Baiklah, Kebetulan waktunya tepat, Sarada, Boruto, cepat taruh tas kalian dengan rapi di ruang tengah dan cuci tangan, makan siang sudah tersedia, ajak juga Himawari yaa." Ucap Hinata.

"Baik bu." Ucap Boruto.

Ketiga anak kecil itu berlari ke dalam, menyimpan tas mereka di ruang tengah, berjalan ke arah dapur dan mencuci tangan di westafel, secara bergantian.

"Kau pulang cepat?" Ucap Hinata pada Naruto.

"Sejujurnya aku sudah sangat merindukanmu." Ucap Naruto, memeluk manja istrinya itu.

"Na-Naruto, ada anak-anak, nanti mereka melihat kita." Ucap Hinata, wajahnya sudah memerah menerima perlakuan suaminya itu.

"Iya-iya." Ucap Naruto, mengecup perlahan pipi Hinata dan berjalan ke arah dapur.

Makan siang yang cukup ramai, Sarada pun ikut membaur, seakan memiliki keluarga yang besar, Sarada sedikit merindukan makan bersama seperti ini, Mikoto, Itachi, Fugaku dan Sasuke berada di satu meja makan, hanya Fugaku kadang terlihat lebih banyak diam.

Ini yang namanya keluarga kan?

Sarada menggelengkan kepalanya cepat, dia sudah memiliki Sasuke yang sangat menyayanginya, teringat akan situasinya sekarang, Sarada tidak ingin seperti ini terus-menerus, mungkin dia harus sedikit berbicara pada Sasuke.

"Apa makanannya enak?" Tanya Hinata pada Sarada, takut jika tidak sesuai selera anak gadis itu.

"Enak, ini sungguh enak bibi." Ucap Sarada.

"Sekarang kalian tinggal bersama, apa Sasuke sering masak?" Tanya Naruto.

"Tidak, paman Sasuke tidak bisa masak, jadi kami hanya akan memesan makanan." Ucap Sarada.

"Dasar, dia membuat Sarada makan-makanan restoran saja, padahal makanan rumah jauh lebih baik." Ucap Naruto.

"Apa ayah tidak dengar, paman Sasuke tidak bisa masak." Boruto mengulang kembali ucapan Sarada.

"Seharusnya dia sudah mendapatkan pasangan, kenapa dia sangat keras kepala untuk menjadi pria tanpa pasangan seumur hidup." Ucap Naruto, sedikit kesal dengan sikap Sasuke.

"Jika paman Sasuke memiliki pacar, apa kau akan setuju?" Tanya Boruto pada Sarada.

"Hey-hey, anak kecil tidak perlu membahas masalah orang dewasa." Tegur Naruto.

"Apa? Aku hanya bertanya pada Sarada." Protes Boruto.

"Sudah-sudah, jangan ribut di meja makan." Ucap Hinata, meja makan hari ini sungguh ramai.

"Paman Sasuke memiliki pacar?" Ucap Sarada, dia tengah berpikir.

"Jangan di pikirkan Sarada." Ucap Hinata.

"Aku setuju saja jika paman Sasuke memiliki pacar, bukannya itu hal normal untuk orang dewasa?" Ucap Sarada.

"Sayangnya, dia tidak menyukai wanita mana pun." Ucap Naruto. "Sarada, tipe wanita seperti apa yang kau inginkan, aku rasa Sasuke tidak akan menolak jika wanita itu pilihanmu." Ucap Naruto, sedikit timbul ide di kepalanya. Mungkin saja Sasuke akan berubah pikiran dan akhirnya mau melepaskan masa lajangnya.

"Tipe wanita?" Ucap Sarada, tipe wanita ideal yang di bayangkannya tidak muncul, dia pun tidak terlalu tahu seperti apa tipe wanita itu. "Nenek Mikoto." Ucap spontan Sarada.

Hinata menutup mulutnya menahan tawa, Boruto kebingungan, Himawari sibuk makan dan Naruto bengong, yang di ucapkan Sarada malah Mikoto.

"Kenapa harus bibi Mikoto?" Ucap Naruto.

"Soalnya, dia sangat penyayang, ramah, baik hati, aku suka wanita seperti itu, paman Sasuke juga, kadang dia akan terlihat bermanja-maja pada nenek Mikoto." Ucap polos Sarada.

Hahaha, itu sih sudah jelas Sarada, bibi Mikoto ibu Sasuke, dia akan jauh lebih menyayangi bibi Mikoto dari pada wanita mana pun.

"Yaa, akan aku coba mencari wanita seperti bibi Mikoto." Ucap Naruto. Dia tidak menyangka jika ucapannya itu malah mendapat respon yang sangat baik dari Sarada, gadis kecil itu terlihat senang.

.

.

TBC

.

.


Akhirnya update...~

uhuk, karena ada banyak fic auhtor yang TBC jadi harus ngantri satu-satu untuk di kerjakan, hahahahah.

sudah, tidak mau banyak bacot. :D balas review dulu :

.

.

Uchiha Cherry 286 : uhm..., Sakura? belum muncul yaa, mungkin next chapter, chapter ini hanya naru-hina dulu yaa.. harap bersabar.

Choseo ssl : makasih, chapter ini pun mamanya belum muncul, hehehe

Najwa1024 : Hehe, emang sih chapter kemarin agak gimana gitu, terharu sendiri dengan keadaan Sarada, *peluk Sarada* tenang saja ada akan penjelasan dari mana Sarada :)

yagami uzumaki : okey, saran di tampung.

lacus clyne : ibunya sakura kan? jawab : mungkin. ayahnya sasuke kan? jawab : mungkin, pair sasusaku kn ? mungkin :D :D *di tabok reader*

sitieneng4 : Author suka menggambarkan karakter Boruto, hehehe, udah sesuai kan, dia itu emang anak yang paling semangat.

jey : ibu sarada, tenang, akan muncul, berapa chap yaa, kurang tahu, nggak panjang-panjang amat kok, terima kasih :) update yoo

Amamiya Rizumu : Sabar yoo, nanti akan muncul, heheheh, update.

DeShadyLady : wah, langsung di baca borong, hehehe, sepertinya anak Sasuke, abisnya mereka mirip, ehm ehm ehm... author juga penasaran mau di lanjut bagaimana ini :D :D :D

.

.

see you next chapter.