Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

~ Another cherryblossom ~

.

[ Chapter 5 ]

.

.

Setelah makan siang bersama, para anak kecil itu sibuk bermain, Naruto harus kembali ke kantor dan Hinata bisa dengan tenang beres-beres, Himawari akan sibuk bersama Sarada dan Boruto.

Hingga menjelang sore, acara bermain mereka terhenti, hanya ada yang tertidur lelap, Hinata sengaja menaruh kasur panjang dan membuat mereka bisa tertidur di ruang tengah, memberi selimut pada mereka, anak kecil saat tidur sungguh lucu, Hinata tersenyum melihat mereka bertiga, Himawari seperti tidak ingin jauh dari Sarada dan tertidur sambil memeluk Sarada, Boruto sedikit cemburu dengan Himawari yang hanya dekat dengan Sarada, membuat Hinata terhibur dengan sikap kedua anaknya itu.

Hari sudah semakin sore, seseorang memencet bel, Hinata berjalan keluar dan membuka pintu, Sasuke sudah datang.

"Dia sedang tertidur, apa aku bangunkan saja?" Ucap Hinata.

"Tidak perlu, biar aku menggendongnya saja." Ucap Sasuke.

"Oh, baiklah, silahkan masuk." Ucap Hinata.

Sasuke membuka sepatunya dan berjalan masuk, melihat ke arah ruang tengah, ada tiga orang anak yang tengah tertidur pulas di sana.

"Mereka terlalu lelah bermain." Ucap Hinata, sedikit memisahkan Hima dari Sarada.

Sasuke menatap sejenak ke arah Sarada, merasa sedikit senang, gadis kecil ini tidak hanya akan belajar terus menerus, dia bisa juga bermain.

"Hima sangat menyukainya sampai-sampai Boruto cemburu." Ucap Hinata dan tersenyum.

"Seperti memiliki teman bermain yang sesuai mungkin itu pikiran Hima." Ucap Sasuke. Mengangkat pelan gadis kecil itu dan menggendongnya di depan, Sarada tidak terusik, dia sangat kelelahan, menjadikan bahu Sasuke sebagai bantalnya.

"Terima kasih sudah menjaganya." Ucap Sasuke.

"Iya, sama-sama, kapan-kapan jika Sarada ada waktu senggang lagi, kau boleh membawanya ke sini, aku rasa Himawari sangat senang bermain dengannya." Ucap Hinata, menatap anak gadisnya itu yang masih tertidur.

"Hn, baiklah, sampaikan salamku pada Naruto." Ucap Sasuke dan pamit pada Hinata.

Membawa gadis kecil itu ke dalam mobil, menidurkannya di kursi belakang, dia mungkin akan bangun sebentar lagi.

.

.

Tiba di rumah, Sasuke melirik ke belakang, Sarada belum bangun, tidak ada niatnya untuk mengusik gadis kecil itu, mengangkatnya perlahan keluar dari mobil, Sasuke akan membawanya ke kamar. Beberapa tetangga yang lewat menyapa Sasuke, mereka tersenyum melihat Sasuke yang berusaha membawa Sarada yang tertidur.

Sebelum pintu terbuka, gadis kecil itu terbangun, merasa dirinya sedang tidak berada di sebuah kasur, tapi di gendong oleh seseorang, Sarada sangat hapal dengan pemilik pafrum ini.

"Paman." Ucapnya serak, dia baru bangun.

"Hn, kau sudah bangun?" Ucap Sasuke.

"Iya." Ucap Sarada dan menguap, Sasuke menurunkannya perlahan untuk membuka kunci pintu. Sarada sepertinya belum sepenuhnya sadar, bersadar pada sisi paha Sasuke dan menutup matanya, Boruto mengajaknya bermain kejar-kejaran dan itu sungguh membuatnya lelah, dia jarang untuk bermain lari-lari.

"Kau bisa tidur di kamar." Ucap Sasuke, mengusap perlahan puncuk kepala gadis kecil itu, Sarada membuka matanya dan mengangguk.

"Apa mau di gendong?" Tawar Sasuke.

"Tidak perlu." Ucap Sarada, dia berjalan sendiri ke arah kamarnya.

"Setelah ini kau harus bangun untuk makan malam." Ucap Sasuke, tidak ada ucapan balasan dari gadis kecil itu. Sasuke merasa dia mendengarnya. Sedikit lucu melihat tingkah anak kecil jika sedang mengantuk, Sasuke tersadar jika hubungannya dengan Sarada hari ini cukup baik, dia sudah kembali berbicara padanya dan tidak ada suasana canggung.

.

.

.

.

.

.

"Jadi untuk apa mengajakku ke sini?" Ucap Sasuke, dia tengah sibuk dan Naruto tiba-tiba menghubunginya untuk bertemu di sebuah cafe.

"Santailah, aku hanya ingin mengenalkanmu pada seseorang." Ucap Naruto.

Beberapa detik berlalu, seorang wanita berambut merah dengan kacamata hitamnya, pakaian yang terlihat modis, berjalan sedikit cepat ke arah orang yang sudah menunggunya.

"Maaf, aku sedikit terlambat." Ucap wanita itu.

"Akhirnya kau datang juga. Nah Sasuke, perkenalkan, namanya Karin, sebenarnya kami sedikit ada hubungan keluarga, keluarga jauh." Ucap Naruto.

"Ah, salam kenal." Ucap Sasuke, tanggapannya biasa, dia tidak terlihat tertarik pada Karin.

"Sa-salam kenal." Ucap Karin, sedikit malu menatap Sasuke, dia pria yang sangat tampan bagi penglihatan Karin.

"Aku sudah menceritakannya pada Karin tentangmu." Ucap Naruto.

"Lain kali, kalian harus mengajak gadis kecil itu." Ucap Karin dan tersenyum.

"Kau akan bertemu dengannya nanti." Ucap Naruto, dia terlihat bersemangat menjodohkan sahabatnya itu.

Di Toilet. Sasuke dan Naruto meninggalkan sejenak Karin, mereka butuh berbicara berdua.

"Seharusnya kau katakan dulu padaku." Ucap Sasuke, ini terlalu mendadak.

"Hehehehe, maaf. Tapi, setidaknya kau bisa coba dulu, Karin wanita yang mandiri dan dia cukup menyukai anak-anak, aku rasa Sarada akan cocok dengannya, lagi pula kau seharusnya sedikit mendengar ucapan Sarada, saat makan siang di rumah, dia merasa setuju jika kau memiliki pacar." Ucap Naruto.

"Dia masih anak kecil dan tidak tahu apa-apa." Ucap Sasuke.

"Cobalah untuk berpikir, Sarada mungkin membutuhkan seorang wanita yang bisa mendampinginnya selain kau, mencari pasangan itu tidak buruk juga, apa kau akan seumur hidup seperti ini?" Ucap Naruto.

"Ah, kau sungguh keras kepala, baiklah aku akan mencobanya, jika Sarada tidak menyukainya, jauhkan kami darinya." Ucap Sasuke, tatapannya terlihat serius.

"Baik-baik." Ucap Naruto.

Mereka berdua kembali ke meja mereka, Karin masih menunggu, menghabiskan jam istirahat untuk berbicara dengan Karin. Setelah jam istirahat berakhir, Sasuke tidak akan kembali ke kantor, menjemput Sarada dan dia bisa kembali, sesuai permintaan Naruto, Sasuke mau mengatar pulang Karin, mungkin sekalian bertemu dengan Sarada.

.

.

Tiba di depan TK Sarada, gadis kecil itu berlari menghampiri Sasuke, hari ini tidak menunggu lama, Sasuke menjemputnya dengan cepat. Dari arah mobil Sasuke, seorang wanita turun, Sarada melihatnya, wanita yang terlihat sangat dewasa dan cantik.

"Jadi ini Sarada, dia sangat imut, salam kenal Sarada, namaku Karin." Ucap ramah Karin.

"Sa-salam kenal." Ucap Sarada, sedikit malu dan menjadikan Sasuke tamengnya, merapatkan diri pada Sasuke dan menyembunyikan wajahnya di sisi Sasuke, dia baru saja melihat wanita ini, menatap ke arah Sasuke dan hanya ada sebuah senyum di sana. Sarada memberanikan diri untuk menghampiri Karin, menjabat tangan dan tersenyum malu.

"Kau sungguh lucu, hari ini bisa mengantarku pulang?" Ucap Karin.

Sarada mengangguk, dia tidak masalah dengan mengantar Karin, berpikir jika Naruto sudah menepati janjinya, mencarikan seseorang yang mirip Mikoto, Sarada bisa melihat dari sikap Karin, dia baik dan ramah.

Sesi perkenalan berakhir, Sarada duduk di kursi belakang dan Karin duduk di sebelah Sasuke, mereka akan mengantar Karin pulang.

"Terima kasih atas tumpangannya." Ucap Karin dan pamit.

Kembali mobil itu melaju ke arah jalan raya, Sarada terdiam, dia menimbang-nimbang sikap Karin, mungkin itu sudah jauh lebih cukup, Sarada merasa Sasuke perlu seorang wanita di sampingnya, seperti beberapa pasangan orang dewasa pada umumnya, Sarada merasa keluarganya akan lengkap, Sasuke dan Karin, mereka seakan menjadi ayah dan ibu bagi Sarada. Memikirkannya saja membuat Sarada sudah sangat senang.

"Bagaimana?" Ucap Sasuke, dia butuh respon gadis kecil itu, semua keputusan ada padanya.

"Sejauh ini dia cukup baik, apa paman menyukainya?" Ucap Sarada.

"Entahlah, aku tidak terlalu tertarik, tapi jika kau menginginkannya, kita bisa bersamanya." Ucap Sasuke. Sarada mengangguk senang. Apa yang di pikirkan Sasuke hanya ingin membuat Sarada senang.

.

.

.

.

.

.

Apa yang di inginkan Sarada menjadi kenyataan, selama masa percobaan meskipun belum resmi jadi pasangan, Sasuke berusaha mengakrabkan diri dengan Karin, begitu juga Sarad dia merespon baik kehadiran Karin, mereka akan terlihat keluar bersama, Karin kadang akan membantu Sasuke menjemput Sarada jika dia sangat-sangat sibuk.

Beberapa tetangga sering melihat Karin yang mendatangi rumah Sasuke, mereka hanya mengamati dan melihat Sarada begitu senang bersama Karin, berpikir jika anak kecil itu mulai membutuhkan sosok ibu.

Hari ini pun Karin menjemput Sarada, gadis kecil itu di beri kunci cadangan dan dia bisa pulang.

"Bibi Karin mau mampir dulu?" Ucap Sarada.

"Ah, tentu, aku akan menemanimu sebentar." Ucap Karin dan tersenyum ramah.

Setelah pintu terbuka, gadis kecil ini bergegas naik ke lantai dua, dia akan mengganti baju, menyajikan teh dan kue untuk Karin. Wanita itu berjalan ke ara ruang tamu dan duduk di sana, dia merasa sedikit lelah, lelah untuk membuat Sasuke hanya fokus padanya, pikirnya akan semudah itu, tapi Sasuke sangat jarang akan menghabiskan waktu bersamanya berdua, selalu saja gadis kecil itu di ajak, Sasuke juga tidak pernah untuk sekedar menghubunginya duluan atau akan mengajaknya keluar, lagi-lagi Karin yang akan bertindak duluan.

"Silahkan." Ucap Sarada, dia sudah menaruh secangkir teh dingin, Sasuke melarangnya untuk menggunakan air panas, tak lupa sepotong kecil kue stroberyshort cake.

"Apa Sasuke selalu sibuk?" Ucap Karin, nada bicaranya sedikit berubah.

"Iya, paman Sasuke selalu sibuk, dia akan pulang sore jika cepat." Ucap Sarada, dia belum menyadari perubahan sikap Karin.

"Hoo." Karin jaid merasa bosan, berhenti berwajah ramah dan menyandarkan tubuhnya di sofa, dia sampai pada batasnya, meskipun hati Sarada sudah ada padanya, tapi hati Sasuke sungguh tidak bisa di gapainya. "Dengar, aku ingin sering-sering pergi bersama Sasuke, bisakah kau katakan padanya jika kau tidak bisa ikut?" Ucap Karin dan menatap tajam ke arah Sarada.

"Kenapa?" Tanya Sarada, anak kecil ini masih belum mengerti juga.

"Aku tidak suka jika kau terus-terusan berada di sekitar Sasuke, lagi pula siapa kau? kau bahkan bukan anak atau keponakan Sasuke." Ucap Karin.

Deg.

Apa yang dengar Sarada barusan cukup membuat perasaannya jadi tidak tenang, kembali mengulang ucapa Karin dalam pikirannya. 'Siapa kau? kau bahkan bukan anak atau keponkakan Sasuke', Sarada terdiam, yang di ucapan Karin memang benar, dia bukan siapa-siapa untuk Sasuke.

"Kau hanya jadi penghalang untukku dan Sasuke, jadi jika kami keluar, kau tidak perlu ikut." Ucap Karin, tersenyum puas, dia harus menegaskan batasan anak kecil ini, dia tidak pantas berada di sekitar Sasuke jika tidak memiliki identitas yang jelas di marga Uchiha.

"Baik." Ucap Sarada, wajahnya terlihat sedih.

"Sudah yaa, aku ada urusan lain, sampai jumpa." Ucap Karin dan pergi begitu saja.

Pintu sudah tertutup dan suara mobil Karin sudah menghilang, Sarada membaringkan dirinya di sofa.

"Siapa aku? Siapa? Aku? Aku tidak tahu, aku sebenarnya siapa?" Ucap Sarada, dia merasa sangat sedih, ucapan Karin seperti sebuah mantra untuknya yang terus terngiang di telinganya.

.

.

Sasuke pulang telat, sudah jam 7 malam, setidaknya mereka bisa makan malam bersama, Sasuke menyadari perubahan sikap Sarada, gadis ini hanya diam dan memain-mainkan makanannya.

"Makan dan segera tidur." Tegur Sasuke.

"Uhm... paman." Ucap Sarada, berhenti memain-mainkan makannya dan menatap Sasuke.

"Hn?"

"Pergilah berjalan-jalan dengan bibi Karin, aku rasa dia akan sangat senang." Ucap Sarada.

"Baiklah, Saat hari minggu kita pergi bersama." Ucap Sasuke.

"Tidak, aku tidak akan ikut, uhm... aku akan ke rumah paman Naruto saja, aku ingin bermain bersama Himawari." Ucap Sarada dan tersenyum, tapi Sasuke sama sekali tidak bisa di bohongi, dia sadar jika Sadara sedang dalam tekanan.

"Uhm, baiklah." Ucap Sasuke, berpura-pura untuk merespon baik ucapan Sarada.

Makan malam berakhir dan Sarada bergegas tidur. Dia sungguh tidak rela jika Sasuke bersama Karin, wanita itu tidak seperti apa yang di harapkannya, dia wanita jahat dan hanya ingin memenangkan hati Sasuke. Sarada pun kembali teringat ucapan itu, sekali lagi dia bukan siapa-siapa.

.

.

.

.

.

Naruto bergegas menjemput Boruto, dia akan ada meeting setelah mengantar anaknya.

"Ayah." Panggil Boruto.

"Uhm, apa?" Ucap Naruto, tatapannya tidak lepas untuk fokus berkendara.

"Sarada bersikap aneh." Ucap Boruto.

"Bersikap aneh? Seperti apa?" Ucap Naruto.

"Dia terlihat sedih dan tidak ingin bermain bahkan membaca buku favoritnya." Ucap Boruto, dia merasa jika Sarada sangat berbeda tadi.

"Apa dia sakit?" Ucap Naruto, menyimpulkan jika anak kecil tidak bersemangat biasanya mereka terserang penyakit.

"Tidak, Sarada tidak sakit, dia sehat-sehat saja. Aku sempat bertanya padanya, Sarada cuma katakan jika dia hanya jadi pengganggu." Ucap Boruto.

Naruto terdiam, pemikiran anak-anak jaman sekarang sedikit rumit, mereka mulai memikirkan hal semacam 'jadi pengganggu', hal itu hanya orang dewasa yang memahaminya.

"Pengganggu? Hahaha, sudahlah, mungkin Sarada hanya sedang tidak mood untuk bersemangat." Ucap Naruto. Tapi yang di ucapkan anak-anak itu selalu sejujur, dia harus membicarakan hal ini pada Sasuke, mungkin saja ada sangkut pautnya dengan kehadiran Karin dan Sarada merasa tersingkirkan.

.

.

Kembali gadis itu di jemput Karin, dia tidak akan bersikap ramah lagi, Karin sudah mengeluarkan sikap aslinya, Sarada akan terdiam dan Karin akan terus berucap hal seperti ingin gadis ini keluar dari kehidupan Sasuke selama-lamanya.

"Apa paman Sasuke sudah mengajakmu pergi?" Ucap Sarada.

"Ah, iya, dia mengajakku kemarin, terima kasih yaa, aku jadi sangat senang dia mengajaku keluar, hanya berdua." Ucap Karin dan terlihat senang.

"Oh, baguslah." Ucap Sarada, menundukkan wajahnya.

"Lain kali kau harus seperti itu terus, atau uhm... bagaimana kalau kau minta Sasuke untuk mengirimmu ke panti asuhan, di sana jauh lebih baik, ada banyak anak-anak sepertimu." Ucap Karin.

Pupil gadis ini melebar, tanpa sengaja Karin sudah bersiap untuk mengusir Sarada. Sarada semakin menundukkan wajahnya, dia tidak ingin berpisah dari Sasuke dan tinggal bersama orang-orang yang tidak di kenalnya meskipun mereka ada yang seumuran Sarada, kembali mengingat Fugaku yang tidak bisa menerimanya dan meminta Sasuke untuk membawanya ke panti asuhan.

"Cukup! Keluar dari rumahku!" Teriak Sarada, dia sudah tidak bisa menahan diri. Sasuke adalah segala-galanya, dia sudah seperti orang tua baginya, gadis kecil ini akan mengambil kembali Sasuke, dia tidak ingin orang jahat berada di sisi Sasuke.

Plakkkk...!

Sebuah tamparan keras di wajah Sarada.

"Kau hanya anak kecil, jangan berani-berani berucap kasar dan berteriak keras padaku." Ucap Karin, nada suaranya terdengar pelan, tapi dia sudah sangat marah.

Sarada terkejut dan memegang pipinya, baru kali ini ada yang memukulnya, bahkan Sasuke yang marah besar pun tidak pernah memukulnya. Kembali tangan yang menamparr wajah Sarada itu mencengkram dagunya, mengangkat sedikit lebih tinggi, Karin bisa melihat wajah gadis itu, air mata mulai menumpuk di sana.

"Jangan coba-coba jadi gadis pemberani di hadapanku, kau bukan tandinganku, jadi jalankan semua ucapanku dan pergi sejauh mungkin dari Sasuke." Ucap Karin. Melepas paksa tangannya dari dagu Sarada, membuat gadis itu terdorong dan terduduk di lantai. "Dah, aku pulang dulu." Ucap Karin.

Wanita kasar itu sudah pergi, Sarada menutup wajahnya dan menangis, tidak ada suara, hanya terdengar isak, hatinya sedikit sakit, Karin sungguh bukan wanita yang pantas untuk Sasuke.

.

.

Sasuke sudah memarkirkan mobilnya, melihat lampu yang masih menyala di ruang tamu, mungkin saja Sarada belum tidur dan masih menunggunya. Berjalan ke arah pintu dan membukanya, sedikit terkejut dengan Sarada lari menghampiri Sasuke, menarik kaki bajunya dan membuat Sasuke berlutut di hadapan Sarada.

"Ada apa, hn?" Ucap Sasuke, tidak ada jawaban dan hanya ada pelukkan erat dari Sarada. "Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke, merasa sedikit aneh dengan sikap Sarada, akhir-akhir ini sikapnya tidak biasa dan kali ini dia memeluk Sasuke dengan tubuh yang sedikit bergetar seakan takut akan sesuatu.

"Apa kau akan meninggalkanku?" Ucap Sarada, nada suaranya terdengar serak, seperti dia habis menangis.

"Tidak akan pernah, aku tidak akan meninggalkanmu." Ucap Sasuke, membalas pelukkan Sarada dan mengusap perlahan-lahan punggung gadis kecil itu. "Katakan padaku, apa yang sudah terjadi?" Ucap Sasuke, dia semakin di buat bingung.

Sarada berani melepaskan pelukkannya, Sasuke menatap wajah Sarada, lagi-lagi dia mendapat bekas air mata di sana, dia sudah berjanji tidak akan membuat Sarada sedih dan kali ini janjinya pun hanya ucapan saja. tunggu, matanya melebar ke arah pipi Sarada yang memerah.

"Siapa yang melakukan ini?" Ucap Sasuke, wajahnya terlihat marah, dia tidak akan mengampuni siapa pun yang menyakiti Sarada. "Katakan siapa!" Ucap Sasuke, dia akan jauh lebih membalas sakit Sarada berkali-kali lipat. Tangan kecil itu menggenggam lembut tangan Sasuke, berusaha membuat Sasuke tenang, mereka harus sama-sama berpikir jernih. "Baiklah, apa yang harus kita lakukan?" Ucap Sasuke, seakan bisa membaca apa yang tengah Sarada lakukan padanya.

"Aku hanya tidak ingin berbohong padamu, aku ingin dia sendiri yang mengeluarkan sikap aslinya." Ucap Sarada.

"Sesuai rencanamu, akan aku lakukan." Ucap Sasuke, kembali memeluk gadis kecil itu, dia harus menahan emosinya.

.

.

.

.

.

.

Hari minggu, Karin merasa cukup senang, Sasuke mengundangnya ke rumah untuk makan siang bersama, Sasuke tidak begitu pandai memasak dan meminta Karin untuk membantunya, kadang jika menatap ke arah Sarada, gadis itu terdiam, Karin merasa Sarada tidak menceritakan saat dia sudah menampar Sarada.

"Ah, kita kehabisan garam, baiklah tunggu sebentar, aku akan pergi membelinya." Ucap Sasuke.

"Okey." Ucap Karin. Wanita itu akan menunggu Sasuke dan memotong-motong bahan masakan. "Sasuke sudah tidak ada, kau tidak perlu bersikap sok manis lagi di hadapanku." Ucap Karin, menatap ke arah Sarada dan pisau yang di pegangnya masih berada di tangannya. "Jadi, apa yang kau katakan pada Sasuke tentang wajahmu?" Tanya Karin, dia terlihat santai.

"Ha-hanya jatuh saat bermain." Ucap Sarada, dia sudah menjadi takut pada Karin.

"Baguslah, kau sudah menjadi gadis pembohong." Ucap Karin.

"Aku akan katakan pada paman yang sebenarnya." Ucap Sarada, dia tengah memancing Karin.

"Oh, katakan saja, lagi pula mana ada anak kecil yang di percaya." Ucap Karin.

"Sepertinya kau tidak terlalu mengenal paman Sasuke, dia jauh lebih percaya padaku, makanya dia tidak pernah meninggalkanku meskipun kalian pergi bersama." Ucap Sarada. Dia harus berani, tangannya sedikit dingin dan gugup.

Karin berhenti memotong bahan masakannya, ucapan Sarada menjadi tombak amarah untuknya, dia sadar akan hal itu, Sasuke selalu saja mengajak Sarada kenapa pun mereka pergi, tidak ada waktu berdua untuk mereka.

"Kau! berani-beraninya, dengar! Kau hanya anak kecil!" Ucap Karin, dia mulai terlihat kesal.

"Iya, aku hanya kecil, tapi aku dan paman Sasuke sudah sangat lama bersama, kau sama sekali tidak berarti apa-apa untuknya" Ucap Sarada, dia harus kuat.

"Cih, baguslah, jika dia lebih mementingkanmu, jika sekarang kau tidak ada, aku yang akan menjadi satu-satunya orang penting untuknya." Ucap Karin, langkah perlahan, pisau itu masih berada di tangannya, pikirannya berkabut, dia menginginkan Sasuke seutuhnya tanpa ada satu pun benalu yang selalu berada di sekitar Sasuke.

Sarada mulai panik dan berlari, sayangnya langkahnya kalah cepat, Karin sudah menarik baju gadis itu, membantingnya di lantai dan siap akan menusuk Sarada. Kegiatannya terhenti, sebuah tangan menepis keras tangan Karin membuat wanita itu melemparkan pisau yang dari pegangannya ke arah lain, sebuah tendangan keras mendarat di perutnya. Sasuke tidak main-main untuk melawan seorang wanita, pria itu bahkan berani menendang Karin, mengangkat segera Sarada dan menggendongnya, Sarada sudah sangat berusaha untuk memancing Karin. Tubuhnya bergetar, Sasuke berusaha menenangkannya. Gadis kecil itu berhasil membuktikan pada Sasuke, jika Karin adalah wanita yang buruk.

"Tu-tunggu Sasuke, ini tidak seperti apa yang kau lihat, kami hanya main-main." Ucap Karin, memegang perutnya yang cukup sakit.

"Keluar!" Teriak Sasuke, bahkan sampai tetangga mendengar teriakkan pria bersuara bariton itu.

"Tidak Sasuke, aku tidak melakukan apa-apa pada Sarada, benarkan Sarada, ayo katakan yang jujur pada Sasuke." Ucap Karin, dia masih berusaha meyakinkan Sasuke, tidak ada tanggapan dari Sarada, memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sasuke, dia sudah sangat takut dan tidak ingin bertemu Karin lagi.

Tidak ada ampunan lagi, satu tangan Sasuke yang bebas menarik paksa Karin untuk keluar dari rumahnya, Karin jatuh terduduk dan masih tidak ingin pulang. Sasuke menatap jijik kepadanya, Karin sungguh tega untuk sekedar melawan anak kecil, bahkan jika Sasuke tidak cepat, Sarada mungkin sudah tidak akan ada lagi.

"Dengarkan aku Sasuke! anak kecil itu berbohong! Aku sungguh mencintaimu!" Ucap Karin.

"Pergi dari sini dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi." Ucap Sasuke, menatap dingin ke arah Karin.

"Aku tidak akan pergi! Bukannya sebentar lagi kita akan menikah!" Teriak Karin.

Pertengkaran Sasuke dan Karin di terasnya cukup membuat para tetangga penasaran dan sedikit terusik, mereka berdatangan dan melihat wanita yang selalu mengantar Sarada. Berisik-bisik dan merasa jika Karin terlihat seperti wanita yang tidak waras.

"Ada apa Sasuke?" Kepo salah seorang tetangga.

"Wanita ini ingin melukaiku." Ucap Sarada. Dia sudah berani memandangi Karin, tatapan yang sama persis dengan Sasuke, Karin baru saja menyadarinya, tatapan mereka berdua sungguh kelam dan menusuk.

"Ha! Apa-apaan ini, hahaha, aku tidak pernah berniat melukaimu Sarada dan kenapa tatapan kalian terlihat sama, kalian membohongiku? Aku pikir kalian bukan seorang ayah dan anak." Ucap Karin.

"Hey, wanita gila, mereka benar ayah dan anak." Ucap tetangga Sasuke, awal Sasuke dan Sarada datang, mereka sudah memperkenalkan diri sebagai keluarga.

"Iya, dasar wanita aneh, pergi dari sini, kau hanya membuat keributan."

"Apa! Aku tidak ada urusan dengan kalian." Bentak Karin

"Kau berani juga melawan warga kompleks sini."

Detik berikutnya, para tetangga Sasuke yang notabenenya ibu-ibu berbadan besar, menarik paksa Karin, menghajar wanita itu dan memasukkannya paksa ke dalam mobilnya, mengancam Karin agar tidak mendatangi kompleks ini dan mengganggu Sarada. Sasuke mendekap wajah Sarada, dia tidak ingin memperlihatkan kekerasan massal pada anak kecil itu.

"Sudah berakhir." Ucap Sasuke, dia akhirnya bisa bernapas lega, terlepas dari wanita yang tidak di sukainya dan bisa menyelamatkan Sarada.

.

.

"Sialan para ibu-ibu itu, mereka pikir siapa mereka! tunggu saja, akan aku balas kau anak kecil sialan!" ucap Karin, dia sudah sampai di apartmentnya dengan keadaan yang cukup kacau, rambutnya acak-acakan, bajunya sedikit robek dan wajahnya memar.

Terdengar bel dari depan pintu apartmentnya, Karin tidak punya waktu untuk merapikan diri, berjalan cepat dan membukanya, jika cuma pengantar barang dia akan memarahi pengantar itu. Pintu terbuka dan matanya melebar.

"Aku sungguh di buat malu olehmu." Ucap Naruto.

"I-ini kesalahanmu! Seharusnya kau tidak mengenalkanku pada Sasuke." Ucap Karin, dia sangat marah.

"Aku memberimu kesempatan untuk berbuat baik pada Sasuke dan Sarada, anak kecil itu juga sudah menjadi bagian dari Sasuke, kau tidak bisa seenaknya menyingkirkan gadis kecil itu." Ucap Naruto, dia berusaha tenang.

"Cih, aku tidak peduli padanya." Ucap Karin.

"Mulai detik ini, jauh Sasuke dan Sarada, jika tidak, kau akan menanggung akibatnya" Ucap Naruto, menatap tajam ke arah Karin.

"Baik! Aku tidak akan mengganggunya lagi, sebagai gantinya, kau tidak mengusikku lagi." Ucap Karin, sejujurnya dia sangat takut pada Naruto, orang yang cukup berpengaruh, Karin tidak ada apa-apanya jika Naruto sudah bertindak.

"Bagus, itu hal yang ingin aku dengar." Ucap Naruto dan pergi begitu saja. Dia rasa ancamannya dan melihat keadaan Karin, wanita itu tidak pernah akan kembali pada Sasuke, tetangga Sasuke cukup menyeramkan.

.

.

.

.

"Selamat pagi anak-anak, hari ini ibu yang akan mengajar kalian." Ucap seorang guru TK yang baru menggantikan guru TK yang lama di kelas Sarada, guru yang terlihat begitu ramah dan membuat anak-anak senang saat bertemu guru baru itu.

"Sakura sensei! Namaku Boruto, Uzumaki Boruto." Ucap Boruto tiba-tiba memperkenalkan diri.

"Baiklah, terima kasih, ada yang mau ikut berkenalan?" Ucap Sakura, Haruno Sakura, dia seorang guru TK yang baru. Rambut softpink sebahunya, mata hijau zambrut dan senyum ramahnya.

Murid-murid lain mulai memperkenalkan diri, ada yang sedikit malu-malu dan membuatnya cukup lama. Sakura menanggapinya dengan sabar, dia sudah tahu resiko untuk mengajar di TK, butuh kesabaran lebih untuk mengajar mereka.

"Uchiha Sarada. Salam kenal." Ucap Sarada. Dia sudah sangat bangga menggunakan marganya sendiri, Sasuke sudah mengurusnya dan menuliskan marganya untuk Sarada. Sakura terdiam sejenak menatap anak gadis yang bernama Sarada itu. Sebuah senyum terukir di wajahnya dan meminta murid lain yang belum berkenalan.

Perkenalan selesai, Sakura mulai mengajar mereka.

.

.

.

.

"Apa aku boleh pulang sendirian?" Ucap Sarada, dia masih merasa tidak enak jika Sasuke sibuk dan harus repot untuk menjemputnya.

"Kau masih terlalu kecil untuk pulang sendiri." Ucap Sasuke.

Sarada mengabaikan ucapan Sasuke, gadis itu berlari kembali ke depan kelasnya, seorang wanita berjalan keluar dan menghampiri Sarada, gadis kecil itu hanya ingin pamit pada gurunya.

"Apa dia ayahmu, Sarada?" Tanya Sakura.

"Uhm... Aku tidak tahu, tapi dia cocok untuk menjadi ayahku." Ucap Sarada dan membuat Sakura bingung.

"Jadi dia bukan ayahmu?" Ucap Sakura. Sarada menggeleng cepat.

"Tidak, dia adalah ayahku." Ucap Sarada, tegas. Sakura tersenyum, anak kecil kadang sulit menggunakan kata-katanya.

"Aku baru melihat anda." Ucap Sasuke. Menghampiri keduanya.

"Salam kenal, aku guru baru di kelas Sarada, guru sebelumnya sudah mengundurkan diri." Ucap Sakura, ramah.

"Oh, baiklah, Sarada, kita harus segera pulang." Ucap Sasuke.

Sasuke sudah beranjak pergi, menunggu Sarada, gadis itu kembali pamit pada Sakura dan bergegas mengikuti langkah Sasuke.

Pria itu? ini tidak mungkin, kami bertemu lagi, tapi dia sepertinya tidak akan ingat padaku.

Wanita itu menatap mereka pergi, melirik ke arah gadis kecil itu. mereka terlihat mirip, tapi Sarada seperti mengucapkan jika Sasuke bukan ayahnya.

.

.

TBC

.

.


update...~

karena hari ini hari spesial semua fic tbc author update. karena libur ngeborong balap ngetik semua fic, oh...~ jariku mati rasa O_O

HAPPY BIRTHDAY SAKURA CHAN...~~~ :* :*

.

.

maaf untuk hari ini tidak ada balas review yaa, next time okey. XD

.

.

see you next chapter...