Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
Rate : M
.
.
Wajib di baca
Catatan : Untuk chapter kali ini author kasih Rate M, tenang alur fic ini masih berada di rate T hanya chapter ini saja, yaa, author harus menceritakan dari mana Sarada dan author sendiri lupa jika fic ini rate T *jungkir balik* so, chapter kali ini mengandung usur dewasa untuk 18+ kalau tidak senang di skip saja, tapi kalau nggak di baca nggak tahu alurnya *laught devil* author hanya memberi peringatan dan bijaklah menjadi seorang reader. :) *kabur*
.
.
.
Don't Like Don't Read !
.
~ Another cherryblossom ~
.
[ Chapter 6 ]
.
.
Flashback.
Hari dimana sebelum Sarada hadir.
"Apa tidak apa-apa kau mengikuti ucapan ayahmu?" Ucap Naruto.
"Hn, tidak masalah, lagi pula dia ingin aku segera belajar ikut menjalankan perusahaan." Ucap Sasuke.
"Baguslah, kau tahu, awalnya akan sulit, aku sama sekali tidak mengerti akan perusahaan dan apapun di sana, bahkan para orang-orang tua itu seenaknya ingin menyingkirkanku, memangnya mereka siapa? Aku kan yang memiliki semua perusahaan itu." Protes Naruto.
"Kau harus lebih tegas pada mereka, jangan sampai mereka mengambil milikmu." Ucap Sasuke.
"Ah, kau benar, aku harus tetap menjalankan apa yang sudah orang tuaku tinggalkan." Ucap Naruto, bersemangat.
Saat ini, Sasuke yang sudah menyelesaikan masa kuliahnya dan mulai mengambil posisinya sebagai wakil direktur di perusahaan yang kakaknya kelola, awalnya Sasuke sudah berencana akan keluar negeri dan melanjutkan S2nya, hanya saja Fugaku sudah berharap banyak pada anak bungsunya. Naruto yang sudah di tinggal mati kedua orang tuanya, dia harus bekerja keras untuk mempertahankan perusahaan miliknya dari tangan orang-orang yang suka menyabotase keadaan, di umurnya yang sekarang dia harus pandai-pandai mengambil perannya sebagai direktur utama.
Itachi sangat sibuk dan berada di luar kota, Fugaku, Ayah Sasuke meminta anak bungsunya untuk menggantikan Itachi datang pada rapat jalin kerja sama antara beberapa perusahaan, hal ini memang tidak terlalu baru bagi Sasuke, dia sering ikut meeting di saat magang di perusahaan Uchiha, cuma meeting kali ini cukup serius dan termasuk skala besar, dia akan berusaha terbiasa. Naruto, sahabatnya, dia hanya memberi masukkan pada Sasuke sebagai orang yang lebih dulu menjalankan perusahaannya sendiri hingga sekarang.
Meeting di adakan jam 7 malam di sebuah hotel mewah, orang-orang yang hadir di meeting kali ini hanya memiliki waktu di jam itu, Sasuke mau tidak mau hanya mengikutinya saja, ini demi nama baik ayahnya dan demi perusahaan yang di kelola bersama kakaknya. Berjalan menyusuri sepanjang lobi, mereka sudah memesan sebuah tempat untuk meeting, Sasuke hanya merasa sedikit bingung, kenapa harus sebuah hotel dan bukan sebuah tempat yang wajar untuk di gunakan meeting, mungkin kantor.
Menghela napas sejenak, mengetuk pintu beberapa kali terdengar beberapa suara untuk meminta Sasuke masuk, gagang pintu di putar dan Sasuke bisa melihat ada 4 orang pria di sana, mereka terlihat jauh lebih tua dari Sasuke, selain mereka, ada 3 orang wanita yang duduk di sebelah mereka, berpakaian minim dan berdandan menor, Sasuke yakin mereka bukan istri-istri para pria ini, dia harus tenang dan tidak perlu mempermasalahkannya, di meja terlihat beberapa botol anggur yang mahal dan berkas-berkas perusahaan, ruangan itu penuh asap rokok, pemuda ini tidak mengerti dengan apa yang di lakukan pria-pria ini, mereka sedang meeting atau sedang bersantai ria.
"Yaa, Sasuke masuklah, wah... kau jauh lebih muda dan tampan jika di lihat secara langsung." Ucap salah satu dari mereka.
"Anak-anak Fugaku memang sangat jenius dan berbakat saat umur mereka masih muda." Ucap yang lainnya.
"Jangan diam saja di situ, duduklah, tidak perlu tegang, ini hanya meeting santai." Ucap pria lainnya dan menyambut ramah Sasuke.
"Bacalah beberapa berkas ini."
Sasuke duduk dan mengambil beberapa berkas yang mereka berikan, dia akan fokus pada berkas-berkas, suara-suara manja dari para wanita itu cukup mengganggu, tapi dia tidak perlu memperhatikannya.
"Hey, apa yang kau masukkan itu?"
"Tenanglah ini hanya obat."
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, hahahaha, apa karena gadis yang membawa pesanan kita?"
"Tidak-tidak, aku orang yang baik-baik kok."
"Hati-hati, dia itu masih gadis loh, wajahnya saja masih sangat muda."
Pemuda ini sesekali melirik ke arah mereka yang tengah sibuk berbicara, entah apa yang tengah mereka bicarakan, salah satu dari mereka menghubungi bagian pelayanan kamar untuk kembali membawakan beberapa es batu dan cemilan.
"Nah, Sasuke, apa kau sudah memiliki pacar?"
Sasuke menghentikan kegiatan membacanya dan menanggapi pertanyaan mereka. "Belum, saat ini aku hanya fokus untuk pekerjaan." Ucap Sasuke santai.
"Ada muda jaman sekarang memang harus seperti itu, selagi kau masih muda, hahahaha."
Sasuke hampir menyelesaikan membaca berkas-berkas itu, para pria itu semakin aneh dan tangan-tangan mereka mulai nakal hanya sekedar untuk meraba tubuh setiap wanita yang duduk di samping mereka, kecuali satu orang, dia hanya fokus pada minumannya, pintu di luar di ketuk beberapa kali dan terdengar suara 'pelayanan kamar', mereka berucap untuk masuk saja dan seorang gadis masuk membawa apa yang mereka pesan. Sasuke sibuk pada berkas-berkas dan tidak melihat gadis itu masuk, dia menaruh setiap pesanan di meja, sebelum pergi, seorang pria ingin memberinya tip, belum sempat mengambilnya, lengan gadis itu di tarik dan membuatnya terduduk di sebelah pria yang menarik tangannya.
"Tunggu dulu, aku akan memberikanmu tip lain."
Sasuke melirik ke arah mereka, dia hanya melihat pria yang memegang tangan seorang gadis, pegawai hotel.
"Aku rasa di pegawai yang cantik."
"Benar kan, aku tidak salah lihat."
"Ma-maaf, aku harus kembali bekerja." Ucap gadis ini, dia sedikit takut dengan suasana kamar VIP ini, meskipun ada wanita juga di dalamnya tapi gadis tidak yakin kalau mereka pun wanita baik-baik.
"Sebentar saja, karena hari ini kami tengah mengadakan kerja sama, bisakah kau ikut merayakannya, tenang ini anggur dengan kadar alkohol yang rendah, kau tidak akan mabuk."
Gadis ini ingin melawan, tapi dia pun akan kena marah dari bosnya jika tidak ramah pada tamu, merasa serba salah, gadis ini akan meminum anggur itu dan bergegas pergi.
"Ini aku sudah membacanya." Ucap Sasuke, menyimpan berkas itu di meja dan tangannya sengaja mengenai salah satu gelas yang masih berisi anggur. "Ah, maaf-maaf, aku tidak sengaja." Lanjut pemuda itu, para pria itu cukup terkejut dengan gelas yang tertumpah di atas berkas-berkas, mereka sibuk, mencoba mengamankan berkas-berkas lain dan tanpa sadar Sasuke sudah menukar anggur yang entah sudah di beri apa dengan anggur lain.
"Tidak apa-apa, berkas ini masih ada soft-filenya."
"Ah syukurlah." Ucap Sasuke, seakan-akan dia pun takut ada apa-apa dengan berkas itu.
"Hahahaha, anak Fugaku ini cukup menarik juga, bagaimana dengan kesepakatannya?"
Sasuke sibuk berbicara dengan pria lainnya, sedang pria yang duduk di sebelah gadis pegawai hotel ini memberinya anggur, gadis itu meneguk beberapa kali dan menyimpan gelasnya, pria di sampingnya menahannya untuk duduk sebentar, tapi gadis itu sudah tidak bisa berlama-lama lagi, dia pamit sopan dan bergegas keluar.
"Ada apa? sepertinya dia tidak mampan dengan itu."
"Sial! Padahal obat itu sangat manjur meskipun sebutir."
"Sudahlah, kau bisa memakai punya." Ucap pria lain dan menyodorkan wanita di sebelahnya.
Sasuke menatap malas ke arah mereka, lain kali dia tidak akan ikut meeting seperti ini, kembali membahas kerja sama. Seorang wanita dari ketiga wanita itu sejak tadi memperhatikan Sasuke, dia juga melihat pemuda itu sengaja menukar minuman tanpa ada yang sadar.
"Apa kalian tidak haus berbincang-bincang? Minumlah dulu." Ucap wanita itu, ada sebuah senyuman licik di sana.
"Ya-ya, kita minum dulu agar kerja sama ini lancar."
"Sasuke minumlah, ini hanya anggur dengan kadar alkohol rendah."
"Hn." Sasuke melirik ke arah mereka yang sudah minum, sedangkan minuman Sasuke adalah minuman yang di buat untuk gadis tadi, sedikit takut jika obat aneh yang di masukkan ke dalamnya.
"Ada apa Sasuke?"
"Tidak ada apa-apa." Ucap Sasuke, ini hanya demi ayah dan kakaknya, dia memasang muka topeng untuk pria-pria yang ada di ruangan ini, mengambil gelas itu dan minum dalam satu tegukan, tidak ada rasa apa-apa selain rasa anggur yang meninggalkan rasa pahit di tenggorakannya. Sasuke berharap tidak terjadi apa-apa padanya setelah minum anggur ini.
"Baiklah, terima kasih sudah mau kerja sama dengan perusahaan Uchiha." Ucap Sasuke dan sedikit membungkuk kan tubuhnya, dia harus menghormati orang yang lebih tua meskipun mereka sangat berengsek.
"Tenanglah, kami sudah lama mengamati perusahaan Uchiha dan kalian jauh lebih unggul dalam menanamkan saham."
"Sekali lagi Terima kasih, uhm, sebaiknya aku harus pulang, tidak ada yang perlu lagi aku baca?" Ucap Sasuke.
"Tidak ada, terima kasih juga Sasuke."
"Sampaikan salam kami pada Fugaku."
"Baik." Ucap Sasuke, ramah, pamit sopan dan bergegas keluar.
Sebelum keluar, pemuda ini menatap wanita yang berbicara tentang minuman, dia tahu, jika wanita itu melihatnya tadi dan sengaja mengucapkan hal itu, ada senyum aneh yang di layangkannya pada Sasuke, sekali lagi pemuda ini tidak ambil pusing bergegas keluar.
Berjalan menyusuri sepanjang ruang hotel ini, berhenti sejenak dan perasaannya mulai tidak enak, aneh, rasanya benar-benar aneh, Sasuke membuka kancing jasnya dan melonggarkan dasinya, tubuhnya sedikit panas dan berasa sesuatu akan meledak di bawahnya, mencoba kembali berjalan dan membuatnya berlutut, tubuhnya semakin panas dan keringat menuruni pelipisnya.
Sial! Apa yang mereka masukkan ke dalam minuman itu.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Ucap seorang pegawai hotel, Sasuke tidak bisa berbicara dengan baik dan napasnya terasa berat.
"To-tolong, satu kamar, ahhkk..., aku sudah tidak kuat lagi." Ucap Sasuke, meminta kamar hotel pada pegawai itu.
Merasa kasihan dan bingung harus berbuat apa, gadis ini mengikuti permintaan pemuda yang seperti tengah menahan rasa sakit, Sasuke memberi kartu kreditnya dan mengucapkan nomer pinnya dan gadis ini bergegas ke lantai dasar untuk memesan kamar. Teman kerjanya sedikit bingung, kenapa harus gadis ini yang mengambil kamar, dia pun hanya menjelaskan jika tiba-tiba seorang pemuda meminta kamar lagi dan dia malas untuk turun. Setelahnya, gadis ini cepat kembali pada Sasuke dan menuntunnya ke kamar yang tidak jauh dari Sasuke berlutut, memapahnya agar bisa berjalan pelan-pelan, gadis ini masih mengingat wajah pemuda yang tengah di tolongnya, pemuda ini tadi sudah menumpahkan minuman di kamar yang di datanginya tadi.
Tiba di dalam kamar, gadis ini langsung membaringkan pemuda yang di bawanya, dia terlihat begitu kesakitan, entah karena apa, suhu tubuhnya normal, tapi pemuda ini terlihat sangat keringatan.
"Tuan, apa perlu aku panggilkan dokter?" Ucap gadis itu.
"Ti-ahk! Tidak perlu." Ucap Sasuke, dia sudah tidak bisa menahannya, lagi, menarik gadis itu ke atas kasur dan menindihnya. "Ha-hanya kau yang bisa menolongku." Bisik Sasuke di telinga gadis di bawahnya. Gadis ini sangat terkejut, ada seorang pemuda yang sudah berani menindihnya di kasur, napas pemuda itu semakin berat, gadis ini berusaha memberontak dan tiba-tiba menjadi tenang, dia bisa melihat jelas wajah pemuda ini, di hadapannya wajah Sasuke terlihat sangat memerah dengan tatapan sayup menahan rasa sakit. Kembali mengingat, pemuda ini sengaja menumpahkan minuman dan gadis ini bisa melihat jelas, dia sudah menukar minumannya, mencoba memikirkan hal ini, jika saja minuman itu sudah di minumnya, dia sudah akan di perkosa beramai-ramai oleh para pria tadi, tapi pemuda ini yang malah kena getahnya.
"A-apa yang bisa aku bantu?" Ucap gadis ini, bibirnya bergetar, dia takut, tapi menahannya, wajahnya sangat merona, pemuda ini cukup tampan, dia harus menanggung konsekuensinya jika sudah membantu pria ini.
Tidak ada ucapan apa-apa dari Sasuke, pikirannya hilang kendali, dia sudah pada batas kesadarannya untuk menahan, segera menyambar bibir gadis itu sambil mencoba membuka celananya dan celana dalamnya begitu juga rok gadis ini, di angkat dan celana dalamnya pun di lepaskan begitu saja, hanya bisa menangis, pikirannya terlalu dangkal untuk membantu pemuda yang terkena masalah yang seharusnya dia yang mendapat masalah itu.
Detik berlalu, gadis ini sudah menjadi seorang wanita, Sasuke sudah tidak sadar dengan terus melancarkan apa yang di tahannya tadi, obat perangsang itu cukup kuat, membuatnya tidak bisa melihat baik siapa yang tengah di masukinya. Gadis itu terus mendesah, untuk pertama kalinya dia melakukan ini dan pemuda di hadapannya adalah orang sudah merebut kesuciannya. Apa yang akan di lakukan selanjutnya? gadis ini tidak tahu, pemuda ini bukan sebarang orang, setelan jas mahal yang sudah tergeletak di lantai, hanya tinggal kemejanya saja yang sudah berantakan, Sasuke tidak menjamah tubuh gadis ini, dia hanya mencium bibirnya dan masukkan dirinya ke dalam, di bawah sana jauh lebih menginginkan dari pada tangannya yang tidak sama sekali menyentuh gadis di bawahnya yang terus mendesah, bahkan gadis itu masih berpakaian lengkap, tangan Sasuke berada di pada tangan gadis itu, mereka hanya saling menggenggam erat satu sama lain.
Ini nikmat? Tentu, wanita ini menikmatinya, pemuda ini tidak mengubah posisi dan terus melakukannya, sudah tidak terhitung berapa kali wanita ini keluar lebih dulu, berakhir pada Sasuke sudah pada puncaknya dan mengeluarkannya begitu saja, wanita ini terkejut, mendorong Sasuke namun sepertinya sedikit terlambat, segera berlari ke arah kamar mandi dan berusaha membersihkan diri, dia masih berharap tidak ada yang masuk ke dalam rahimnya, ini bisa gawat dan dia pun akan kesulitan.
Mendudukkan dirinya di lantai dengan tubuh yang lelah, menatap pemuda yang sudah memasukinya tadi. Dia tertidur begitu saja. Wanita ini menghela napas pasrah, apa yang sudah di pikirkannya dengan mau mengikuti ucapan pemuda itu, cinta pada pandangan pertama yang sungguh konyol. Mencoba merapikan dirinya, tak lupa wanita ini merapikan dan membersihkan alat kelamin pria yang sudah tertidur itu, di sana masih basah, menaikkan kembali celananya dan menyelimutinya. Wanita sudah salah untuk merasa kasihan, tapi dia cukup malu mengingat apa sudah mereka lakukan. Berharap jika mereka bertemu kembali pemuda ini akan ingat padanya.
.
.
Keesokan paginya, Sasuke membuka matanya dan merasa ini bukan kamarnya, bergegas bangun dan melirik ruangan ini, kamar hotel, dia masih berada di hotel, kepalanya sedikit pusing, dia tidak tahu kenapa harus tidur di sini, ingatan terakhirnya dia merasa tubuhnya panas, membuka selimut itu dan tubuhnya tidak terasa aneh seperti kemarin, matanya menangkap sesuatu di atas kasur itu, warna merah, darah? Sasuke bergegas membuka celananya dan melihat miliknya, apa benar itu darahnya atau bukan, bernapas lega, itu buka dari miliknya, celananya masih baik-baik saja dan tidak ada bercak darah. Membaringkan tubuhnya kembali, perasaannya sedikit aneh, tapi tidak seperti tadi malam, seakan tubuhnya merasa ringan dan sudah melepaskan sesuatu.
Ponselnya terus berdering, Sasuke bergegas bangun dan mencari jasnya, menemukan jas itu tersimpan rapi di sofa dan kartu kreditnya di dekat jasnya, mengambil ponselnya dan melihat panggil tak terjawab dari ayah, ibu, dan kakaknya, dia tidak pulang semalam dan tidak ada kabar. Sasuke menghubungi mereka dan hanya mengatakan jika dia sedang tidak enak badan dan memilih tidur di hotel tempat meeting.
Dia harus cek out, tidak ada gunanya untuk berlama-lama di hotel ini, dia hanya numpang tidur, merapikan kemejanya dan memakai jasnya, merasa ada bau lain pada jasnya, bau parfum wanita. Mungkin itu hanya parfum pegawai yang sudah membantunya semalam.
Ending Flashback.
.
.
Sakura hanya menopang dagunya di meja makan, apartemennya tidak jauh dari TK tempatnya sekarang bekerja, wajah pria yang menjemput Sarada kembali di ingatnya, mungkin semacam takdir, mereka tidak bertemu bertahun-tahun lamanya dan akhirnya di pertemukan kembali, pria itu terlihat semakin dewasa dan matang, Sakura masih mengingat jelas wajahnya yang dulu, masih sangat muda.
Melirik ke samping dan mengingat Sarada, anak kecil itu terlihat mirip dengan pria berambut raven itu, Sakura memikirkan jika pria itu sudah menikah dan memiliki anak, tapi Sarada seperti mengucapkan jika dia bukan anaknya, hal ini membuat Sakura bingung, wajahnya tiba-tiba merona, wajah pria itu tidak akan pernah di lupakan sebagai cinta pertamanya.
Aku mengutuk diriku di saat itu, kenapa mau saja memberikan diri pada pemuda itu, dia pun tidak sadar dan sekarang dia tidak mengenalmu sama sekali, kau sungguh bodoh Sakura.
Bodoh...!
Bodoh...!
Bodoh...!
Menghela napasnya, dia sungguh bodoh dan sekarang wanita ini masih sering terbayang-bayang oleh wajah pria itu di saat mereka bersama dalam satu kamar.
Dan sekarang aku jadi tidak tertarik dengan pria mana pun, mereka pun akan tidak suka jika dengan aku yang sudah pernah hamil, haa..~ sayang sekali, kenapa anakku harus berakhir seperti itu, jika saja dia hidup dan tetap tumbuh, mungkin dia akan menjadi satu-satunya penyemangat hidupku, sedikit berharap dia mirip dengan pria itu, sekarang umurnya akan sama dengan Sarada, mungkin.
Wanita berambut softpink itu tersenyum malu.
.
.
.
.
.
Kediaman Sasuke.
"Paman." Panggil Sarada.
"Hn." Sasuke hanya bergumam, mereka tengah sarapan bersama dan Sasuke fokus pada korannya.
"Menurutmu, Sakura sensei itu bagaimana?" Ucap Sarada. Gadis polos ini ingin mendengar pendapat Sasuke tentang guru barunya dan akhir-akhir ini sedikit menarik perhatiannya.
"Wanita yang cantik."
"Uhmm...Lalu?"
"Apa dia ramah?"
"Kenapa bertanya?"
"Aku pikir kau yang lebih tahu segalanya, kalian bertemu sepanjang hari kan."
"Iya, dia ramah."
"Lalu?"
"Baik hati, aku suka saat dia tersenyum."
"Uhm... selain itu?"
Sarada terdiam, memandang malas ke arah Sasuke, yang awalnya dia ingin mendengar pendapat Sasuke dan sekarang malah dia yang berpendapat. Tidak ada ucapan dari Sarada dan membuat pria ini menurunkan koran dari hadapannya.
"Ada apa sampai kau membahas senseimu?" Ucap Sasuke.
Sarada terdiam dan sudut bibirnya mulai tertarik dan melebar, dia terlihat begitu senang. "Aku menyukai Sakura sensei." Ucap Sarada, wajahnya sedikit merona.
"Apa kau sedang berusaha memasangkan kami?" Ucap Sasuke.
"A-aku pikir kau akan cocok dengannya." Ucap Sarada, wajahnya sedikit murung, Sasuke seakan tidak setuju dengan apa yang sedang di pikirkannya.
"Jangan lupa ketika kau dan Naruto memasangkanku dengan wanita gila itu, dengar Sarada, aku tidak bisa menjamin apa-apa untukmu jika kau hanya melihat sisi luar para wanita itu, mereka mungkin terlihat ramah padamu, tapi jangan berharap banyak, aku tidak ingin ada lagi yang menyakitimu." Jelas Sasuke, itu seperti sebuah peringatan untuk Sarada.
Gadis kecil ini menundukkan wajahnya, dia merasa sedikit sedih, Sasuke menolak ucapannya, dalam pikiran gadis ini, dia sungguh ingin gurunya itu menjadi seorang ibu untuknya, selama Sakura mengajar, Sakura memperhatikan seluruh murid dengan baik, dia begitu sabar bahkan dengan Boruto yang sangat nakal. Sasuke menghela napas, dia bisa membaca pikiran gadis kecilnya ini.
"Akan ku pikirkan nanti, tapi jangan berwajah seperti itu." Ucap Sasuke, dia merasa sangat tidak tega untuk membuat gadis kecil ini merasa sedih.
"Benarkah?" Ucap Sarada, wajahnya kembali ceria.
"Hn, tapi sampai kita bisa membongkar sikap aslinya, kau tidak perlu terburu-buru." Ucap Sasuke.
"Tentu, aku akan menunggu, aku rasa Sakura sensei memang orang yang baik." Ucap Sarada, dia sangat yakin jika hati Sakura juga sangat baik seperti apa yang di perlihatkannya.
.
.
.
.
.
Kelas sudah berakhir, tapi Sarada dan Boruto belum pulang, mereka menunggu di dalam kelas dan melihat keluar jendela. Naruto terlambat untuk menjemput Boruto, Sarada, sengaja tidak keluar agar membiarkan Sasuke dan gurunya berbicara, meskipun berbicara hal yang sepeleh tentang perkembangan Sarada akhir-akhir ini.
"Apa kau sudah yakin dengan Sakura sensei?" Ucap Boruto.
"Aku yakin sekali, ada apa? Kau tidak menyukai Sakura sensei?" Ucap Sarada.
"Tidak! Aku juga menyukai Sakura sensei, dia sangaaaaat baik." Ucap Boruto dengan nada suara yang begitu heboh.
"Aku senang melihat mereka bersama." Ucap Sarada dan tersenyum.
"Semoga Sakura sensei tidak membuatmu sedih seperti bibi Karin, aku tidak suka pada bibi Karin." Ucap Boruto dan berwajah kesal.
"Tenanglah, aku rasa kali ini berbeda. Sudah ya, aku dulu." Ucap Sarada bergegas berlari ke luar.
"Aku mau ikut." Ucap Boruto.
"Eh? Tapi ayahmu?"
"Sepertinya ayahku akan sangat terlambat, Katakan pada paman Sasuke untuk memberitahukan ayahku." Ucap Boruto.
"Baiklah." Ucap Sarada.
Kedua anak kecil itu berlari keluar kelas, Sarada langsung menghampiri Sasuke dan memeluk kaki jenjang pria itu.
"Boruto akan ikut bersama kita." Ucap Sarada, mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke, tangan pria itu membelai lembut rambut Sarada.
"Hn, akan ku hubungi Naruto." Ucap Sasuke, "Kalian tunggu sebentar." Lanjut Sasuke, mengambil ponselnya dan menghubungi Naruto.
"Sakura sensei sedang membicarakan apa?" Ucap Boruto.
"Hanya perkembangan belajar Sarada." Ucap Sakura, sebuah senyum hangat menghiasi wajahnya.
"Bagaimana denganku Sakura sensei?" Ucap Boruto, dia terlihat sangat bersemangat.
Sakura membungkukkan dirinya, mengusap perlahan puncuk anak kecil yang super energik itu.
"Kau harus menjadi anak baik dulu, apa kau tahu, semua murid-murid perempuan kecuali Sarada takut bermain denganmu? Mereka tidak suka jika kau mengejar mereka atau dengan membawa serangga bersamamu." Ucap Sakura.
"Baiklah, aku akan berusaha baik." Ucap Boruto, meskipun berucap seperti itu, dia memasang wajah cemberutnya, menurutnya bermain kejar-kejaran adalah permainan yang mengasikkan.
"Kau harus mendengar ucapan Sakura sensei." Ucap Sarada, menepuk-nepuk bahu temannya itu.
"Boruto, ayahmu masik sibuk, apa mau aku antar ke rumahmu?" Ucap Sasuke, dia sudah kembali setelah berbicara dengan Naruto yang tengah sibuk meeting.
"Tidak paman, aku ingin ke rumah paman, nanti ayah akan jemput di sana." Ucap Boruto.
"Hn, kita pulang sekarang." Ucap Sasuke.
Kedua anak kecil itu sudah berlari ke arah mobil di parkir, Sasuke pamit pada sakura, wanita itu membalasnya dengan senyum malu, entah apa yang di lakukan Sarada, pria yang bernama Sasuke itu mulai sering berbicara padanya, hanya pembicaraan biasa saja, Sasuke kadang akan mengontrol belajar dan pergaulan gadis kecilnya itu, dia tidak ingin lagi Sarada kesepian di kelasnya.
Mobil sedan milik Sasuke mulai melaju ke arah jalan raya, Sarada memilih duduk di belakang bersama Boruto, mereka sengaja berbicara dengan suara yang keras agar Sasuke bisa bisa mendengarnya.
"Jadi apa yang di katakan Sakura sensei, Boruto?" Ucap Sarada, mereka sengaja pura-pura cuek pada Sasuke.
"Sakura sensei belum punya pacar sama sekali." Ucap Boruto, suara jauh lebih berlebihan.
"Dia baik kan pada semua murid." Ucap Sarada.
"Benar-benar, dia sangaaat baik dan juga Sakura sensei itu sangat cantik, sayang sekali yaa dia belum punya pacar." Ucap Boruto.
Mereka sibuk berbicara, hanya sebagai memberi informasi secara tidak langsung pada Sasuke, pria ini sadar dan merasa mereka sengaja melakukan hal ini, mencoba memikirkan Sakura, tidak buruk juga, wanita itu memang terlihat baik, apa dia sudah harus mengakhiri masa lajangnya ini? Sasuke masih memikirkannya dulu, mungkin pendekatan awal, dia harus tetap waspada jika Sakura hanya baik di hadapannya, Sasuke hanya ingin hal yang terbaik untuk Sarada.
.
.
Naruto agak terlambat menjemput Boruto, hingga sore hari dia baru saja tiba di rumah Sasuke, Sasuke tidak kembali ke kantor dan memilih menemani kedua anak itu, dia tidak akan membiarkan Boruto lebih akrab dengan Sarada. Seperti ayah yang over-protektif pada anaknya, Mereka tertidur sepanjang siang, di ruangan yang berbeda, Boruto di biarkan tidur di kamarnya, membuat Sasuke bisa berbicara dengan Naruto saat dia datang.
"Uhmm... kali ini wanita yang bernama Sakura." Ucap Naruto, mereka tengah berbicara di ruang tamu, Sasuke hanya butuh saran dari sahabatnya ini.
"Jadi?" Ucap Sasuke.
"Coba jalani saja dulu, lagi pula Sarada menyukainya kan? Boruto juga suka membicarakan gurunya itu." Ucap Naruto.
"Kau yakin dia tidak sepeti wanita yang sudah-sudah aku temui?" Ucap Sasuke, dia benar-benar muak dengan wanita yang hanya menginginkannya dan akan menyingkirkan Sarada.
"Aku belum tahu pasti akan hal itu, tapi jika wanita itu macam-macam pada kalian, tenang saja, dia akan mudah aku hilangkan dari kota Konoha ini." Ucap Naruto.
"Cih, Dasar sombong."
"Hahahahaha, hanya contoh saja, ayolah, tidak ada salahnya kau bersamanya, keputusan tetap ada pada Sarada." Ucap Naruto.
"Akan aku coba." Ucap Sasuke.
"Nah itu baru sahabatku, kau harus cepat-cepat mendapat status baru, umurmu sudah semakin tua." Ucap Naruto dan menepuk-nepuk keras bahu Sasuke.
"Hentikan itu." Ucap Sasuke menatap kesal ke arah Naruto, dia terlalu keras memukul bahu Sasuke.
"Ayah, hoaaamm...~" Boruto sudah bangun, berjalan ke arah Naruto dan mengucek matanya, sampai pada ayahnya dan langsung membuang dirinya di paha Naruto.
"Wah, kau sudah bangun, ayo pamit pada paman Sasuke, kita akan pulang." Ucap Naruto.
"Terima kasih paman Sasuke, aku pulang dulu." Ucap Boruto, tidak mengubah posisinya, dia masih terlihat mengantuk.
"Hn, terima kasih kembali." Ucap Sasuke.
"Dasar, kau harus lebih sopan pada orang yang lebih tua." Tegur Naruto. Boruto hanya mengangguk dan tetap pada posisinya. "Sarada?" Ucap Naruto.
"Mungkin dia masih tidur." Ucap Sasuke.
"Ya sudah, aku pulang dulu." Ucap Naruto, menggendong Boruto yang tidak ingin jalan.
"Hn. hati-hati."
Kedua laki-laki berambut blonde itu sudah pulang, Sarada baru saja bangun, dia sudah mencuci mukanya, menghampiri Sasuke dan menanyakan Boruto, Sasuke berucap jika mereka sudah pulang.
"Hari minggu nanti, cobalah ajak senseimu, aku tidak pandai untuk mengajaknya pergi." Ucap Sasuke, ada sedikit rona merah di wajahnya, entah apa yang membuatnya sangat malu untuk sekedar mengajak Sakura.
Sarada terlihat begitu senang mendengar ucapan Sasuke, dia sungguh ingin mengajak Sakura jalan-jalan bersama di hari libur. Berharap jika senseinya itu mau menerima ajakan gadis kecil ini. Sarada mengangguk pasti pada Sasuke.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya.
Kelas Sakura sedang istirahat, Sakura tengah memberi nilai hasil gambar anak-anak didiknya, semua murid pergi bermain kecuali Sarada yang berdiri mematung di depan meja Sakura, wanita itu sadar dan menatap ke arah Sarada.
"Ada apa, Sarada?"
"Sensei, uhm... apa hari minggu ini kau sibuk?" Ucap Sarada, dia terlihat gugup, pikirnya akan mudah sekali mengajak Sakura, tapi dia pun merasa agak sulit dan takut.
"Minggu ini? aku tidak sibuk, ada apa dengan minggu ini?" Ucap Sakura.
"Aku ingin mengajak Sakura sensei pergi jalan-jalan bersama, kita bertiga akan pergi." Ucap Sarada, Sakura masih terdiam, mendengar ucapan 'kita bertiga' artinya ayah Sarada akan ikut. "Sensei mau?" Tambah Sarada.
Sakura tersenyum, mencoba membuat anak yang gugup ini sedikit tenang. "Apa kau sudah mengatakan pada ayahmu jika kau mengajak sensei?" Ucap Sakura, memastikan jika dia tidak menjadi pengganggu saat keluarga ini kecil ini pergi berjalan-jalan.
"Se-sebenarnya, ini permintaan ayahku, tapi dia terlalu bodoh untuk mengucapkannya langsung pada sensei." Ucap Sarada.
"Baiklah." Ucap Sakura, menulis nomer ponselnya di secarik kertas dan memberikannya pada Sarada. "Ini nomer ponsel milikku, kau bisa menghubungi waktu dan tempat bertemu, setelah ini sampaikan ucapan terima kasihku pada ayahmu." Ucap Sakura dan tersenyum, dia tidak mengerti tiba-tiba saja Sasuke mau mengajaknya pergi bersama dan murid favoritnya juga ikut, kesenangan berkali lipat, Sakura tidak pernah menyaka akan hal ini.
"Terima kasih sensei." Ucap Sarada, tersenyum dan dia sudah berlari menjauh.
.
.
TBC
.
.
update... segini dulu, chapter depan jalan-jalan, yeeeeyyy...~ *author yang heboh*
lama gara-gara mikir di chapter ini ada adegan anehnya =_="
sekali lagi, tolong jangan berharap LEMON berlebihan, author tak pintar buat, segini aja udah bagus menurut author, wkwkwkwkwk.
terima kasih untuk semua reader yang masih mau baca fic ini, memang kadang alur dari fic bikin beberapa orang kesal sendiri pas baca, sorry, jika tidak ada yang sesuai harapan reader XD. tapi seru kan, jadi bikin kesal sendiri, berasa authornya mau di bom hidup-hidup, :D :D ya sudah, nggak balas review tapi balas pertanyaan saja, kalau review yang lain sepertinya sudah di jawab di chapter ini.
.
.
Amamiya Rizumu : silahkan jika tidak keberatan di share, *ah..~ jadi malu* ow ya, terima kasih untuk peringatan typonya, bukan typo huruf lagi, typo satu kata, hahahhaa, author kepikiran saku dan malah ketik Saku, hahaha. maaf author yang tak sempurna ini, XD
suu : udah update.
.
.
sudah, cuma itu saja, baiklah terima kasih banyak untuk semua-semua yang sudah review :*
.
See you next chapter. :)
