Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

~ Another cherryblossom ~

.

[ Chapter 7 ]

.

.

Serasa memiliki keluarga yang lengkap, saat ini di Konoha Land (plesetan dari Dis*yLand) Sarada berjalan menggenggam tangan Sasuke dan tangan Sakura, merasa dia sudah mendapat orang tua, Sarada terlihat begitu senang, Sakura merasa malu dengan keadaan ini dan Sasuke masih terlihat tenang, sesekali melirik Sarada dan senyum ceria itu tidak juga memudar dari wajahnya, hal itu menjadi kesenangan tersendiri untuk Sasuke jika melihat gadis kecil itu sangat senang.

"Pertama ke sana." Ucap Sarada, menarik kedua tangan orang dewasa itu, mereka akan menaiki wahana pertama, berdesain gelas yang berputar.

"Kalian saja, aku tidak perlu." Ucap Sasuke, dia tidak terbiasa menaiki wahana dan membiarkan Sarada bersama Sakura.

"Pokoknya harus ikut." Ucap Sarada, dia tidak ingin Sasuke berdiam diri dan menunggunya selesai, wajah cemberutnya akan sukses meluluhkan hati Sasuke.

"Baiklah, selanjutnya, harap berhati-hati dan pada orang tua harap menjaga anak mereka masing-masing." Ucap pemandu wahana itu.

Sarada memilih duduk di sebelah Sakura dan membiarkan Sasuke duduk dekat Sakura, gadis kecil ini benar-benar usil untuk mendekatkan mereka berdua. Wahana mulai bergerak, bergeser dan mulai berputar, Sarada dan Sakura tertawa dan sesekali teriakan kecil karena wahana itu berputar kadang cepat dan kadang lambat dan berpindah tempat, tanpa sadar Sakura bergeser dan sedikit menabrak Bahu Sasuke.

"Maaf." Ucap Sakura.

"Hn." Sasuke hanya bergumam, dia tidak merasa itu sebuah masalah dan harus di balas dengan maaf.

Sakura jadi terdiam dan Sarada terus memperhatikan mereka, Sasuke bahkan memilih menatap ke arah lain. Wahana ini berakhir, Sakura membantu Sarada untuk turun, selanjutnya mereka akan menaiki wahana berdesain pesawat, kali ini Sarada tidak bisa di biarkan duduk di pinggir, dia akan duduk di tengah, Sasuke tidak ingin terjadi apa-apa pada Sarada jika di duduk di pinggir. Wahananya mulai bergerak maju, naik dan turun, awalnya pelan dan mulai sedikit cepat, kembali dua orang itu, Sakura dan Sarada akan tertawa ceria, Sasuke masih tetap dengan tatapan datarnya atau terlihat lebih santai, wahana seperti ini tidak cukup ekstrim baginya.

Beberapa wahana lain menjadi incaran Sarada, dia sangat jarang menghabiskan waktu liburannya bersama Sasuke, tapi hari ini membuatnya semakin senang dengan gurunya ikut, saat Sasuke akan mengantri untuk membeli tiket wahana lain, Sarada akan menunggu bersama Sakura, wanita ini bahkan tidak melepaskan Sarada ketika beberapa kerumunan pengunjung lewat, Sakura spontan menggendong Sarada agar anak kecil itu tidak terikut arus pengunjung, keduanya saling bertatapan dan tersenyum. Tidak beberapa lama Sasuke datang, dia bisa melihat Sakura menggendong Sarada, dia tidak tahu apa yang terjadi sampai Sakura harus menggendong gadis kecil itu.

"Ada apa? kakimu sudah lelah?" Ucap Sasuke.

"Tidak." Ucap Sarada dan di turunkan oleh Sakura secara perlahan.

"Dia hanya hampir terikut gerombolan orang." Ucap Sakura.

"Aku tidak apa-apa, ayo selanjutnya." Ucap Sarada.

Kembali menaiki wahana lain, anak kecil benar-benar heboh jika melihat wahana yang terlihat menarik, tiba pada wahana kereta, hanya anak kecil yang boleh naik, Sasuke dan Sakura akan duduk dan menunggu Sarada hingga selesai, sesekali gadis kecil ini akan melambaikan tangannya ke arah Sasuke dan Sakura.

"Maaf, tiba-tiba mengajakmu seperti ini." Ucap Sasuke, suasana sedikit canggung.

"Aku tidak masalah, hanya saja aku yang merasa seperti pengganggu untuk kalian berdua, bukannya kalian yang seharusnya menghabiskan waktu berdua?" Ucap Sakura, dia merasa sedikit malu untuk ajakan jalan-jalan keluarga ini.

"Sarada menyukaimu dan dia ingin sekali kau ikut bersama kami." Ucap Sasuke.

Tatapan Sakura sedikit terkejut, seakan sebuah tanda jika Sarada ingin lebih dekat dengan Sakura, bukan cuman sebagai seorang murid dan guru.

"Aku hanya wanita biasa, aku rasa kau sudah memiliki pasangan." Ucap Sakura, dia merasa sedikit bodoh dengan ucapannya tadi, wajahnya memerah.

"Sampai sekarang pun aku masih lajang, aku belum menemukan wanita yang pas, mereka seperti tidak bisa menerima Sarada." Ucap Sasuke, tatapannya terlihat serius, Sakura berusaha menenangkan dirinya yang malu sendiri.

"Kenapa? Sarada anak yang baik, dia ramah, patuh dan cukup jenius." Ucap Sakura, dia merasa kagum saat mengajari Sarada.

"Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan." Ucap Sasuke.

"Aku harap kau menemukan seseorang yang tulus dan bahkan mau menerima Sarada." Ucap Sakura dan tersenyum.

"Bagaimana jika orang itu adalah kau?" Ucap Sasuke, keduanya saling bertatapan.

"Wah, asik sekali naik kereta itu." Ucap Sarada, dia sudah selesai dan menghampiri Sasuke dan Sakura, keduanya langsung saling membuang muka dan ada rona merah pada wajah mereka. Sarada terlihat bingung, tapi detik berikutnya mereka mulai mengajak Sarada untuk ke wahana berikutnya.

Menyelesaikan sebagian wahana, sebagiannya lagi Sasuke tidak mengijinkan Sarada, mereka akan beristirahat sejenak sebelum pulang, Sarada masih tidak henti-hentinya bercerita pada Sakura jika wahana ini begini , wahana itu begitu dan dia akan mengucapkan wahana yang menjadi favoritnya.

"Aku ke toilet sebentar." Ucap Sasuke, meninggalkan mereka yang sedang menyantap makan siang bersama. Sasuke sudah pergi, Sarada sedikit mendekat ke arah Sakura, dia hanya ingin mengucapkan sesuatu.

"Apa Sakura sensei menyukai ayahku?" Ucap Sarada dengan suaranya yang cukup pelan.

Wajah Sakura merona, ini bukan hal yang pantas untuk seorang anak kecil harus tahu atau di pertanyakan.

"Aku tidak begitu yakin." Ucap Sakura.

"Ada apa? Apa ayahku jelek atau di jahat padamu?" Ucap Sarada.

"Tidak-tidak, dia sangat baik dan dia uhm.. pria yang tampan." Ucap Sakura, rona wajahnya belum menghilang, dia kembali mengingat ucapan Sasuke saat sedang menunggu Sarada tadi.

"Jadi? Apa sensei menyukainya?" Ucap Sarada.

"Dengar Sarada, perasaan suka seseorang itu berbeda-beda, suka untuk menyayangi, suka untuk mencintai, suka untuk sekedar mengagumi, suka untuk ingin melindungi atau pun suka untuk memiliki, sensei sangat menghargai ayahmu, kalau di katakan suka, iya aku suka sikap ayahmu, dia sangat memperhatikanmu dengan baik, aku suka pria yang menyayangi anaknya." Ucap Sakura, melirik ke arah Sarada dan gadis kecil itu terlihat bingung. "Ah, maaf, mungkin sedikit rumit untuk kau pahami." Tambah Sakura, dia salah berbicara dengan gadis kecil yang masih berada di bangku TK, hanya ada usapan lembut di puncuk kepala Sarada.

"Tidak apa-apa, yang penting aku tahu, Sakura sensei tidak membenci ayahku." Ucap Sarada dan dia tersenyum.

"Tunggu, di pipimu sedikit kotor." Ucap Sakura, mengambil tissu dan melap saus spageti yang berada di pipi gadis kecil itu.

"Terima kasih." Ucap Sarada.

"Makanlah seperti ini, agar sausnya tidak blepotan." Ucap Sakura, memperlihatkan Sarada makan spageti dengan benar. Sarada mengikutinya.

Sasuke sudah kembali, dia bisa melihat apapun yang mereka lakukan tadi, Sasuke akan sedikit percaya pada wanita ini jika dia memang berbeda, dia harus membuang pikiran buruknya terhadap wanita-wanita yang dulu mencoba akrab dengannya.

.

.

Hari sudah semakin sore, terakhir mereka hanya menonton pertunjukan satwa liar yang sudah di latih, Sarada sudah lelah untuk semua wahana, dia tertidur, Sakura menggendongnya, membiarkan Sasuke membawa balon dan boneka yang Sarada inginkan di toko mainan tadi, berjalan menuju parkiran, jalan-jalan hari ini sudah berakhir.

"Biar aku saja yang menggendongnya." Ucap Sasuke, melihat Sakura yang sejak tadi menggendong Sarada.

"Tidak perlu, hanya sampai parkiran kan, kau cukup membawa barangnya saja." Ucap Sakura dan tersenyum, sudah lama sekali wanita ini ingin menggendong seorang anak kecil.

Tiba di parkiran, Sakura membaringkan Sarada ke dalam mobil, Sasuke meminta Sakura untuk duduk di sampingnya saja dan membiarkan Sarada tidur di belakang.

"Hari yang cukup melelahkan." Ucap Sakura, dia menikmati jalan-jalannya hari ini.

"Terima kasih sudah mau ikut." Ucap Sasuke, mobilnya sudah berada di jalan raya, Sasuke mengendarainya dengan santai.

"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih." Ucap Sakura, ya dia pantas berucap seperti itu, jika bukan Sarada dan Sasuke, Sakura hanya akan menghabiskan hari minggunya dengan bermalas-malasan di rumahnya.

kembali suasana menjadi canggung, Sasuke melirik sejenak ke arah Sakura, dia hanya fokus pada jalanan di depan, berdehem sebentar dan memulai pembicaraan lagi.

"Aku tidak memaksakanmu untuk hubungan ini, aku hanya ingin Sarada terlihat senang bersamamu." Ucap Sasuke.

"Ki-kita jalani saja seperti biasa, aku pun tidak keberatan, tapi aku harap kau pun tidak merasa risih jika berdekatan denganku hanya gara-gara Sarada." Ucap Sakura, dia tidak ingin Sasuke terpaksa bersamanya untuk menyenangkan hati Sarada.

"Hn, aku tidak akan mengecewakanmu, meskipun aku tidak pernah benar-benar memiliki hubungan serius dengan wanita mana pun." Ucap Sasuke, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia sedikit malu untuk berucap hal itu. "Hanya itu yang bisa aku ucapkan." Tambah Sasuke. Mobil Sasuke menepih dan menunggu Sakura turun.

"Baiklah, dah." Ucap Sakura, sebelum turun, dia bergerak agar tangannya sampai ke tempat duduk belakang, mengusap perlahan puncuk kepala Sarada. "Terima kasih." Ucap Sakura pada Sarada, gadis kecil itu masih tidur dan Sakura mulai turun dari mobil.

Sakura menatap mobil itu hingga menghilang di pembelokan, wajahnya kembali merona, jantungnya tadi hampir copot, ucapan Sasuke membuatnya senang, mereka seperti sudah membuat kesepakatan, hanya hubungan biasa hingga mereka benar-benar memiliki hubungan khusus, Sasuke pun tidak merasa keberatan bersamanya, ini seperti sebuah takdir, Sakura tidak akan menyia-nyaikan, cinta pertamanya kembali dan Sarada, dia sangat menyukai anak kecil itu, berharap segera mendengar Sarada memanggilnya ibu.

.

.

.

.

.

Hari-hari berlalu, semua berjalan dengan baik, Sasuke yang akan meminta tolong pada Sakura jika dia benar-benar akan terlambat menjemput Sarada, mereka tidak akan menunggu di sekolah, Sakura selalu membawa Sarada ke apartemennya, pekerjaannya pun akan berakhir jika sekolah sudah sepi, Sasuke jadi sangat tertolong, dia tidak perlu kabur dari pekerjaannya hanya untuk menjemput Sarada.

"Kali ini mau makan siang apa?" Tanya Sakura, Sasuke sedang meeting dan membuatnya tidak bisa menjemput Sarada tepat waktu, Sakura mengajak Sarada sementara berada di apartemennya.

"Apa saja, aku suka masakan Sakura sensei." Ucap Sarada dan tersenyum.

"Omurice? Bagaimana?" Ucap Sakura.

"Okey, boleh ku bantu?" Ucap Sarada, dia ingin sekali-kali berada di dapur.

"Tentu, tapi tetap hati-hati yaa." Ucap Sakura.

Sakura mulai meminta gadis kecil itu untuk mengambil bahan, dia hanya akan membantu mengambil apapun yang di minta Sakura, gadis kecil ini terlihat begitu senang untuk membantu Sakura, mereka akan masak dan menghabiskan waktu siang ini bersama, Sasuke pun tidak perlu khawatir, dia sudah sering meninggalkan Sarada bersama Sakura, pria ini sangat percaya pada Sakura, dan entah kenapa akhir-akhir ini dia pun mulai memikirkan Sakura, mungkin hanya pemikirannya saja, beranggapan jika Sarada bersama wanita itu, Pria berambut raven ini masih menyangkal akan perasaannya yang mulai tumbuh.

Masakan selesai dan acara makan siang bersama, ponsel Sakura berdering, Sasuke mengirim pesan jika dia akan pulang malam dan meminta untuk tetap menjaga Sarada, wanita ini tersenyum dan merasa Sasuke tidak perlu meminta tolong seakan Sakura orang asing, mereka sudah sering bersama dan Sakura tidak keberatan jika hanya menjaga Sarada.

"Ada apa sensei?" Ucap Sarada, Sakura tidak menyantap makan siangnya dan menatap layar ponselnya.

"Ayahmu akan telat pulang, setelah ini mau ikut bersamaku? Kita akan ke toko buku." Ucap Sakura.

"Aku mau, aku mau." Ucap Sarada, bersemangat.

Setelah makan siang dan bersiap, mereka akan pergi menaiki sebuah bus. Sarada baru kali ini pergi dengan kendaraan umum, Sasuke selalu menjemputnya dan mobil pribadi menjadi kendaraannya setiap hari, gadis kecil merasakan suasana baru, di dalam bus tidak terlalu ramai dan mereka bisa duduk, dia terus menatap sekeliling di dalam bus.

"Apa ini untuk pertama kalinya?" Ucap Sakura.

"Uhm, aku baru saja naik bus." Ucap Sarada.

"Katakan pada ayahmu untuk sering-sering naik kendaraan umum." Ucap Sakura.

"Dia tidak akan mendengarkannya, katanya kendaraan umum itu lamban, dia akan terlambat, aku pernah menanyakan hal itu padanya." Ucap Sarada.

"Hoo, ayahmu memang orang tepat waktu hanya untuk pekerjaan." Ucap Sakura.

"Kadang dia juga akan terlambat." Ucap Sarada dan tertawa pelan.

Sakura tersenyum, mereka bercerita sepanjang perjalanan, hingga tiba di sebuah halte, mereka turun dan berjalan beberapa meter lagi dari halte, di sana ada sebuah bangunan yang cukup besar dari bangunan yang berada di sisi-sisinya, toko buku Konoha, Sakura ingin membeli beberapa buku pelajaran untuk anak-anak TK, Sakura sudah mengajukan hal itu dan kepala sekolah TK tempat sekolah Sarada menyetujui permintaan Sakura, wanita itu di beri biaya untuk menambah beberapa buku baru untuk di kelas-kelas lain.

Menyusuri sepanjang rak-rak dan memperhatikan setiap buku bacaan yang pas untuk anak TK, buku itu harus menarik dan membuat mereka mau membacanya, info-info penting tentang ilmu pengetahuan dan cara penyampaian buku itu membuat anak-anak TK mudah mengerti.

"Sarada, menurutmu buku yang mana bagus? Ucap Sakura, dia ingin mengetes contoh buku yang di ambilnya.

"Aku suka yang ini." Ucap Sarada, menunjuk buku ilmu pengetahuan tentang binatang.

"Apa menurutmu anak-anak lain akan membacanya?" Ucap Sakura.

"Aku tidak begitu yakin, beberapa anak hanya suka melihat gambarnya saja, mereka malas membaca." Ucap Sarada.

"Kau memang muridku yang paling pandai." Ucap Sakura, dia harus lebih mencari buku yang mau di baca anak-anak lain, Sarada tidak masalah, dia sudah sering membaca dan sudah sangat lancar, anak-anak yang lain masih belum lancar dan mereka cepat bosan untuk sekedar membaca, mungkin mencari buku dengan gambar yang mencolok dan tulisan yang mencolok juga, dengan begitu anak-anak kecil itu akan penasaran dengan apa yang tertulis di sana.

"Sensei, bagaimana dengan ini?" Ucap Sarada, memperlihatkan buku cerita namun berisi pengetahuan dengan desain gambar full kertas pada setiap lembarannya, tapi di setiap sudut sisinya ada tulisan yang cukup besar di sana, berwarna-warni dan terlihat menarik untuk di baca.

"Ini bagus, bisa ambilkan beberapa lagi, anak-anak lain pasti akan senang membacanya." Ucap Sakura.

Sarada mengangguk dan mengambil beberapa lagi, Sakura harus mengambil keranjang untuk membawa semua buku-buku itu, kegiatannya selesai, dia sudah mendapat buku-buku yang di carinya. Melirik ke arah Sarada dan gadis kecil itu terdiam di salah satu rak, Sakura menghampirinya dan melihat apa yang sedang di lihat Sarada. Sebuah buku dengan sampul bergambar satu keluarga, ada seorang ibu, ayah, dan kedua anaknya, bertuliskan dalam bahasa inggris.

My family

"Kau bisa bahasa inggris?" Ucap Sakura, hanya ingin tahu jika muridnya ini juga pintar berbahasa inggris.

"Sedikit, paman Itachi sering mengajariku dulu." Ucap Sarada, dia tahu arti dari sampul buku itu.

Sakura mengingat jika Sasuke pernah mengatakan dia memiliki saudara, Uchiha Itachi, wanita itu tersenyum dan mengambil buku yang sejak tadi di lihat Sarada.

"Kau harus membacanya, kita akan ambil ini." Ucap Sakura.

"Tapi anak-anak lain tidak mengerti bahasanya." Ucap Sarada.

"Ini khusus untukmu." Ucap Sakura.

"Benarkah?" Ucap Sarada, sedikit tidak percaya Sakura akan membelikannya buku bacaan.

"Tentu." Ucap Sakura dan tersenyum pada Sarada.

"Terima kasih sensei." Ucap Sarada, dia terlihat senang bisa mendapat buku itu.

"Sarada, kau ini murid yang sungguh jenius yaa, aku rasa kau akan sangat cepat belajar." Ucap Sakura, sekali lagi dia di buat kagum oleh salah satu muridnya ini. "Aku rasa ini seperti sudah keturunan dari kakek-nenek atau pamanmu dan ayahmu." Tambah Sakura.

"Tapi- mereka bukan keluargaku." Ucap Sarada, wajah cerianya menghilang, dia tetap sadar akan posisinya dalam keluarga Uchiha.

Sakura terdiam, melihat sikap Sarada yang berubah total, hanya terlihat kesedihan di sana, merasa dia sudah salah bicara, wanita ini bergegas membayar buku-bukunya dan mengajak Sarada untuk pulang, berusaha menenangkan hati gadis kecil ini, dia tidak tahu jika Sarada itu benar-benar bukan anak dari Sasuke dan bukan keturunan Uchiha.

Sepanjang perjalanan Sarada hanya diam, dia tidak seperti saat mereka pergi, memperhatikan sekelilingnya dengan begitu bersemangat, setengah jam berlalu dan Sakura menyimpan buku-buku belanjaannya, meminta Sarada duduk di sofa dan memberinya jus jeruk.

"Maaf, atas ucapanku tadi, apa aku menyakitimu?" Ucap Sakura. berlutut di hadapan Sarada yang tengah duduk di sofa, Sedikit merasa bersalah dengan ucapannya tadi. Sarada menggelengkan kepalanya cepat, dia sudah berjanji pada Sasuke untuk tidak bersedih lagi, dia harus kuat, Sasuke selalu berada di sisinya dan sekarang dia sangat-sangat beruntung memiliki Sakura juga, sebuah pelukkan kecil mendarat ke tubuh Sakura, gadis kecil ini tidak ingin kehilangan Sakura, dia sudah sangat bergantung pada gurunya.

"Aku senang bersama Sakura sensei." Ucap Sarada, segera menghilangkan sikapnya tadi, dia tahu jika hal itu membuat Sakura khawatir padanya.

"Aku juga senang bersamamu." Ucap Sakura, membalas pelukkan Sarada dan mengusap perlahan punggung kecil itu, dia terlalu muda untuk sekedar memikul keadaannya yang sekarang, gadis kecil yang malang dan Sakura bertekad akan menyayangi Sarada seperti menyayangi anaknya sendiri.

Hari sudah semakin sore, Sakura mengajak Sarada untuk mandi dan berendam di bak, busa tebal dan lembut mulai menutupi seluruh permukaan bak, mereka sedang berendam bersama, Sakura merasa cukup lelah untuk membawa semua buku-buku tadi, Sarada sibuk bermain busa dan sesekali melemparnya ke arah Sakura, gadis kecil itu terus tertawa dan menggema di dalam kamar mandi, tawanya menghilang ketika melihat punggung Sakura.

"Sensei."

"Hmm?"

"Kenapa di punggung sensei ada bekas-bekas luka?" Ucap Sarada.

"Ah, ini, dulu aku terlalu nakal dan membuat bibi ku sampai marah, jika tidak di pukul aku tidak akan berhenti, begitulah." Ucap Sakura, dia sudah berusaha membuat cerita karangan.

"Apa sakit?" Tanya Sarada, merasa sedikit kasihan pada Sakura.

"Tidak, ini tidak sakit, aku sudah terbiasa." Ucap Sakura.

"Sekarang, bibi sensei, ada mana?"

"Aku tidak tahu, sudah lama aku meninggalkannya." Ucap Sakura.

Kembali mengingat saat dia masih tinggal bersama bibinya, dia sangat kasar pada Sakura, setelah cerai dengan suaminya, bibinya menjadi depresi berat dan sering melampiaskannya pada Sakura, wanita ini terus bertahan tinggal bersama bibinya yang merupakan saudara dari ibunya, kedua orang tua Sakura sudah meninggal, tidak ada perlakuan baik, Sakura akan di siksa tanpa sebab, membuat wanita ini sudah pada batasnya, dia bahkan sempat membangkang ketika tahu anaknya meninggal, mereka sama-sama keras dan berakhir dengan Sakura sudah tidak ingin melawan bibinya, pergi, hanya itu satu-satunya jalan yang Sakura tempuh.

"Sensei." Tegur Sarada, membuyarkan lamunan Sakura, dia kembali mengingat masa-masa kelamnya dulu.

"Maaf, aku jadi melamun." Ucap Sakura. "Ya sudah, kita tidak boleh terlalu lama berendam, mungkin sebentar lagi ayahmu akan datang." Ucap Sakura, mengangkat gadis kecil itu dari bak mandi dan membilas tubuhnya, Sarada berjalan pelan keluar dan memakai handuk, Sakura akan membersihkan dirinya dulu sebelum keluar.

Sasuke baru tiba jam 7 malam, gadis kecil itu sudah makan malam dan tertidur pulas.

"Apa dia merepotkanmu?" Ucap Sasuke.

"Tidak sama sekali, kami menikmati waktu berdua." Ucap Sakura dan tersenyum.

"Sepertinya aku yang kurang beruntung tidak ikut." Ucap Sasuke. sedikit membuat Sakura harus menahan malunya, ucapan Sasuke terdengar seperti tengah menggoda.

"Apa kau sudah makan malam?" Tanya Sakura.

"Belum, aku tidak sempat untuk makan malam." Ucap Sasuke.

"Baguslah, aku masak sedikit banyak tadi, berpikir jika kau bisa makan sebelum mengambil Sarada." Ucap Sakura, wajah terlihat sedikit malu.

"Baiklah." Ucap Sasuke.

"Akan aku siapkan." Ucap Sakura, berjalan ke arah dapur dan menyiapkan makanan untuk Sasuke.

Pria ini berjalan ke arah kamar Sakura, di sana Sarada terlihat sedang tertidur pulas sambil menggenggam sebuah buku, Sasuke mengambilnya perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkan gadis kecilnya, melihat sampul buku itu, my family, Sasuke tahu, jika Sarada sudah mulai mengerti bahasa inggris, itu karena ulah kakaknya dan kakak iparnya, mereka sering mengajarkan Sarada untuk menggunakan bahasa inggris saat dia sudah mulai bisa berbicara, meskipun sulit, gadis kecil ini cepat belajar.

"Sasuke, makanan sudah siap." Ucap Sakura dia depan pintu masuk kamarnya. Sasuke mengangguk pelan, menyimpan buku itu di sebelah Sarada dan mengikuti Sakura ke arah meja makan.

"Kau membelikannya buku?" Ucap Sasuke di sela makannya, Sakura sudah makan dan hanya menemani Sasuke.

"Dia melihat buku itu terus jadi aku membelikannya." Ucap Sakura.

"Lain kali, katakan jika dia ingin sesuatu, aku akan membelikannya." Ucap Sasuke, merasa tidak enak jika Sakura yang memenuhi keinginan Sarada.

"Tidak apa-apa, aku senang jika membelikan buku untuknya, dia suka sekali membaca." Ucap Sakura.

"Kau seperti kakakku, dia yang selalu memberikan buku baru secara diam-diam pada Sarada." Ucap Sasuke.

"Apa benar kalian tidak pernah kembali ke kediaman lagi?" Ucap Sakura, sedikit ikut campur masalah keluarga Sasuke. Pria itu berhenti menyuapi makanannya dan terdiam cukup lama. "Ah, maaf-maaf, aku tidak bermaksud, sudahlah, lupakan saja apa yang sudah ku ucapkan tadi." Ucap Sakura, dia merasa bodoh sudah mau ikut campur.

"Sebenarnya hanya ayahku saja yang masih tidak menginginkannya, karena hal itu, yang lainnya ikut kena dampaknya, aku tidak keberatan mereka berkunjung, itu jauh lebih baik, Sarada tetap bisa menjalin kekeluargaan antara kakakku dan ibuku." Ucap Sasuke, dia sudah tenang untuk menghadapi masalah ini.

"Aku turut prihatin mendengarnya." Ucap Sakura, seakan dia bisa membaca situasi antara Sasuke dan ayahnya.

Sasuke menyudahi makan malamnya, beristirahat sebentar dan mulai bersiap untuk pulang, dia tidak akan membangunkan Sarada yang sudah tertidur, gadis kecil ini cukup aktif di siang hari dan saat malam dia benar-benar tidak akan terusik dari tidurnya. Menggendong Sarada dan pamit pulang pada Sakura, mereka sudah di depan pintu keluar, sebuah kecupan selamat malam di kening Sakura, wajah wanita ini merona, Sasuke jarang melakukan hal itu, tapi kali ini Sarada sedang tertidur dan gadis kecil itu tidak akan melihatnya.

"Selamat malam dan hati-hati di jalan." Ucap Sakura dan tersenyum malu.

"Hn." Ada sebuah senyum tipis di wajah Sasuke sebelum dia pergi, dia benar-benar berterima kasih Sakura sudah hadir di tengah-tengah mereka.

Sasuke sudah pergi, Sakura menutup pintunya dan sangat bahagia, kecupan itu sebagai tanda Sasuke pun ingin bersamanya, bukan sebagai seseorang yang hanya menjaga Sarada beberapa kali jika dia sibuk, tapi sebagai seseorang yang penting yang mulai mengisi kehidupannya.

.

.

.

.

.

Perkiraan cuaca hari ini cukup buruk, akan terjadi hujan dengan intensitas rendah di siang harinya. Anak-anak dia larang keluar untuk bermain, Boruto berusaha menahan dirinya untuk mengerjai teman-temannya lagi atau berlarian di dalam kelas, dia menjadi sedikit penurut saat di tegur gurunya.

"Apa Paman Sasuke akan terlambat?" Ucap Boruto.

"Tidak, kali ini dia akan menjemputku, ayahmu bagaimana?" Ucap Sarada.

"Dia akan telat lagi." Ucap Boruto.

"Mau ikut bersama kami?" Ucap Sarada.

"Aku mau." Ucap Boruto, dia bisa bermain di rumah Sarada.

Sudah jam pulang, beberapa anak sudah di jemput, Sarada dan Boruto masih menunggu, Sakura melihat Sarada dan menanyakan jika dia akan pulang atau tidak, gadis kecil ini sudah katakan Sasuke akan menjemputnya, Sakura akan segera kembali dan menemani Sarada setelah dari ruang kepala sekolah.

Melirik ke arah jendela dan sesuatu menarik perhatiannya, seekor anak kucing yang berada di dekat gerbang, kucing kecil itu mengeong dengan keras, seakan memanggil ibunya dan tubuhnya basah kuyup, menggigil dan terlihat cukup kotor dengan percikan air di tanah, Sarada merasa sangat kasihan melihat kucing kecil itu, hewan itu bahkan tidak berani bergerak, seperti takut dan terdiam di sana, Sarada berjalan keluar kelas, melirik ke sana-kemari dan Sakura belum kembali, dia ingin membuat anak kucing itu berteduh, tidak ada yang bisa membantunya. Gadis kecil ini memakai jas hujannya dan berlari ke arah kucing itu, dia akan menolongnya, merasa jika nasib kucing itu sama sepertinya, sendirian dan tidak memiliki siapa pun, Boruto yang sibuk mencari sesuatu yang menarik namun tidak ada hal bisa dia lakukan, melihat sekeliling ruangan kelas dan Sarada sudah menghilang, mereka sudah janji pulang bersama dan Sarada tidak terlihat, Boruto berjalan ke depan pintu kelas, melihat seorang anak dengan jas hujan berwarna birunya, mungkin saja itu Sarada, dia sedang mencoba mendekati sesuatu tapi Boruto tidak bisa melihatnya, Boruto tidak berpindah dari sana dan masih memperhatikan, akhirnya dia bisa melihat apa yang sedang di hampiri Sarada, seekor anak kucing berlari ke arah jalanan, dia mungkin takut jika manusia berada di sekitarnya, Sarada mengejar kucingnya.

Pipppppppp...!

Braaakkk...!

Boruto sangat terkejut, anak laki-laki itu berlari dengan cepat ke arah ruangan guru, tubuhnya gemetaran dan air mata sudah menuruni pipinya.

"Sensei..! Sarada...! Sensei...! Sarada." Hanya itu yang bisa di teriakkan Boruto, dia sangat panik.

Sakura mendengar teriakan Boruto, berlari keluar kantor kepala sekolah dan melihat apa yang terjadi.

"Ada apa Boruto?" Ucap Sakura, dia bingung kenapa anak berambut blonde ini teriak-teriak di depan kantor kepala sekolah, guru-guru lain juga ikut keluar mendengar teriakkan Boruto.

"Sarada... hueeee... Sarada, dia di jalanan." Ucap Boruto, dia menangis sejadi-jadinya, ini untuk pertama kalinya Boruto melihat seseorang kecelakaan di depan matanya sendiri dan itu adalah teman akrabnya.

Sakura bergegas berlari keluar gerbang dan melihat sebuah mobil kabur begitu saja setelah menabrak Sarada, wanita ini bingung kenapa di jalan yang sudah jelas-jelas ada tanda untuk tidak ngebut di area depan Tk dan masih saja ada yang lalai. Darah bercampur air hujan mengalir di jalanan tempat Sarada tergeletak, mobil itu ingin menghindari kucing dan malah menabrak anak kecil.

Membawa Sarada ke rumah sakit dengan mobil kepala sekolah, menggendong Sarada menuju ruang IGD dan membuat baju Sakura di penuhi noda darah, Wanita itu segera menghubungi Sasuke, pria ini sangat terkejut dan tidak memikirkan jika dia sedang rapat penting, Sarada jauh lebih penting.

"Sensei, Sarada. Hikss..." Ucap Boruto, dia masih menangis dan panik dengan keadaan sekarang, Sakura memeluk tubuh kecil itu, dia pun merasa sangat lemas ketika melihat keadaan Sarada, wajah wanita ini memucat dan takut jika hal buruk terjadi pada Sarada.

"Boruto!" Naruto datang lebih dulu, dia di beri tahu guru lain jika Boruto memaksa ikut ke rumah sakit saat Naruto sudah tiba di TK, anak laki-laki ini berlari ke arah Naruto.

"Ayah, Sarada, dia dalam." Ucap Boruto, air mata itu belum juga kering.

"Sudah-sudah, tenanglah, lelaki sejati tidak boleh menangis, Sarada akan menertawakanmu." Ucap Naruto, dia hanya berusaha menenangkan anak pertamanya itu, Naruto tahu, Boruto hanya syok melihat keadaan Sarada. Dia hanya mengangguk dan menghapus air matanya. "Di mana Sasuke?" Ucap Naruto.

"Sebentar lagi dia akan tiba." Ucap Sakura.

"Keadaan Sarada?" Ucap Naruto.

"Dokter belum keluar, aku juga masih menunggu kabarnya." Ucap Sakura.

"Ayah, mobil itu pergi begitu saja." Ucap Boruto.

"Apa! sial! Setelah menabrak dan mobil itu kabur, mereka akan ku dapat dan di hukum seberat mungkin." Ucap Naruto dia terlihat begitu kesal.

"Kita harus tenang." Ucap Sakura, hanya Sarada yang menjadi utamanya saat ini.

Seorang dokter keluar dan mengatakan jika tulang lengan kiri atas Sarada sedikit patah, tapi masih di pulihkan jika melewati operasi dan terapi, hanya saja gadis kecil ini kekurangan banyak darah, dia membutuhkan dari O dan stok darah O di rumah sakit ini sedang kosong, Sakura dan Naruto mendengarnya, wanita ini memiliki darah yang sama dengan Sarada, dia bersedia untuk memberikan darahnya pada Sarada.

Sementara Sakura di bawa ke ruangan untuk di periksa sebelum di ambil darahnya, Naruto dan Boruto masih menunggu, anak laki-laki itu terlihat lelah dan bersandar pada ayahnya, beberapa menit kemudian, Sasuke baru tiba, dia begitu panik dan Naruto berusaha menenang sahabatnya itu.

"Sakura, di mana?" Ucap Sasuke, dia tidak melihat wanita itu.

"Dia sedang mendonorkan darahnya untuk Sarada." Ucap Naruto.

"Paman Sasuke, apa Sarada akan baik-baik saja?" Ucap Boruto.

"Sarada sudah di tangani dokter, dia akan baik-baik saja." Ucap Sasuke, dia lebih butuh di tenangkan dari pada sekedar berucap pada Boruto.

Mereka bertiga menunggu, Sarada tengah menjalani operasi untuk tulang lengannya dan menutupi luka-lukanya yang cukup parah, dari arah ruangan lain, Sakura berjalan, mungkin efek setelah di ambil darahnya dia harus berjalan perlahan, Sakura tidak biasa mendonorkan darah, tapi demi Sarada dia rela melakukannya, Sasuke menoleh dan melihat Sakura dari jauh, pria ini bergegas menghampiri Sakura yang berjalan perlahan.

"Kau baik-baik saja?" Ucap Sasuke, dia pun cemas melihat Sakura, wajahnya sedikit pucat dan bajunya penuh noda darah.

"Tidak apa-apa, aku minta maaf, maafkan aku, aku tidak bisa menjaga Sarada dengan baik, aku hikss.." Sakura menangis, dia merasa sangat bersalah, memeluk Sakura dan menenangkan wanita ini, Naruto dan Boruto sudah menceritakan kejadiannya, ini hanya sebuah kecelakaan yang tidak mungkin bisa di prediksikan, Sakura pun tidak bisa di salahkan sepenuhnya, orang-orang yang lalai membaca tanda yang harus di salahkan.

"Berdoalah agar Sarada selamat." Ucap Sasuke, mengusap perlahan punggung wanita itu, tubuhnya gemetaran.

Keduanya berjalan ke arah tempat menunggu, di sana Boruto sudah tidak bisa menahan kantuknya dan tertidur di pangkuan ayahnya.

"Sebaiknya Boruto kau bawa pulang, dia terlihat lelah." Ucap Sasuke.

"Iya, aku akan membawanya dulu dan kembali." Ucap Naruto.

"Tidak perlu, kau bisa kembali besok, aku yakin kau juga sibuk dan Hinata akan mengkhawatirkanmu." Ucap Sasuke.

"Baiklah, kabari aku keadaan Sarada nanti." Ucap Naruto.

"Hn."

Naruto mulai beranjak dan menggendong putranya itu, berjalan sepanjang koridor menuju jalur keluar, Sakura menyandarkan tubuhnya ke dinding di tempat mereka duduk, tubuhnya sedikit lemas.

"Terima kasih sudah menolong Sarada." Ucap Sasuke.

Sakura menoleh dan melihat Sasuke, wanita ini mengusap wajahnya, dia tidak akan menangis lagi dalam keadaan ini, Sasuke sudah membuat tenang dan dia harus percaya.

"Hanya itu yang bisa aku lakukan." Ucap Sakura, menundukkan wajahnya, seharusnya dia tidak membiarkan Sarada keluar atau meminta Boruto untuk melarangnya keluar, dia pun merasa sangat lalai.

"Kau sudah lebih menolongnya, ini sebuah kebetulan darah kalian sama." Ucap Sasuke, bersyukur dengan Sakura yang memiliki darah yang sama, Sarada bisa cepat di tangani.

"Uhm, saat mendengarnya ucapan dokter dan aku bersedia memberi darahku, aku ingin menyelamatkannya." Ucap Sakura.

Tangan kekar pria itu mengganggam tangan wanita ini, mereka masih menunggu dan menenangkan pikiran, kamar operasi belum terbuka, Sakura menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke, dia sangat lelah begitu juga Sasuke, dia pun lelah, ponsel pria ini berdering, mengambil ponsel miliknya di saku jas yang di kenakannya.

Aniiki Calling.

"Ada apa Sasuke? kau tiba-tiba keluar dari rapat penting." Ucap Itachi, dia merasa aneh dengan adiknya yang tidak profesional saat meeting, ini tidak biasanya.

"Sarada mengalami kecelakaan, maaf aku tidak bisa menyelesaikan rapat itu." Ucap Sasuke.

"Apa! Sarada mengalami kecelakaan! Kau ada di mana, aku akan ke sana." Ucap Itachi, nada suaranya pun terdengar sangat panik.

"Rumah sakit Konoha, masih di bagian IGD." Ucap Sasuke.

Itachi menyudahi panggilannya dan bergegas ke rumah sakit, mungkin akan bersama ibunya, mereka sangat khawatir mendengar ucapan Sasuke.

Setengah jam berlalu, dokter keluar dan mengatakan jika operasinya akan berjalan sejam lagi. Mereka di harapkan menunggu lebih lama. Kembali duduk dan menunggu, harap-harap cemas melanda mereka, selayaknya orang tua yang sangat khawatir pada anaknya.

"Sasuke!"

Pria ini menoleh dan melihat ibu dan kakaknya sudah tiba.

"Sarada, bagaimana keadaannya? Kenapa dia bisa kecelakaan! Kau seharusnya lebih bisa menjaganya dengan baik." Ucap Mikoto, dia benar-benar panik dan marah saat ini.

"Tenanglah bu, ini sebuah musibah kita harus tetap tenang." Ucap Itachi, tidak ada yang bisa di salah dalam situasi ini.

Mikoto menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita, wajahnya masih pucat dan pakaiannya itu di penuhi noda darah.

"Ini kesalahaanmu karena membiarkan Sarada berada di luar kediaman, jika dia tetap di rumah-"

"-Ibu hentikan, kita tidak akan membahas masalah itu sekarang." Potong Sasuke.

"Duduklah ibu." Ucap Itachi, Mikoto marah dan menyalahkan Sasuke.

Suasana kembali tenang, mereka berempat duduk dan hanya menunggu, Mikoto yang marah sampai lupa menanyakan siapa wanita yang terus-terusan berada di samping anak bungsunya itu.

"Siapa dia?" Ucap Mikoto dan melirik ke arah wanita di sebelah Sasuke.

"Sa-salam kenal, namaku Haruno Sakura, aku guru TK Sarada." Ucap Sakura, dia segera berdiri dan membungkuk di hadapan Mikoto, sebagai rasa hormatnya terhadap orang yang lebih tua, Sakura baru kali ini melihat ibu dan kakak Sasuke.

"Dia yang membawa Sarada ke sini." Ucap Sasuke.

"Terima kasih sudah menolong Sarada." Ucap Mikoto, dia sudah mulai tenang.

"Itu adalah tanggung jawabku sebagai guru Sarada jika dia masih dia area sekolah" Ucap Sakura.

"Ibu." Panggil Sasuke, perhatian Mikoto terfokus pada anaknya itu, jika Sasuke seperti ini dia seperti akan berbicara serius. "Aku akan menikahi Sakura." Ucap Sasuke, pria ini berdiri di samping Sakura, wanita berambut softpink ini cukup terkejut, dia tidak tahu jika keputusan akhir Sasuke adalah menikahinya.

"Apa keputusanmu tidak buru-buru? Kau harus tahu dia wanita seperti apa." Ucap Mikoto. Merasa anak bungsunya itu tidak berpikir jauh sebelum bertindak.

"Sakura anak yatim piatu, selama ini dia hidup mandiri seorang diri, aku tidak keberatan bersamanya bu, lagi pula Sarada sangat menyukainya." Ucap Sasuke, menggenggam tangan Sakura, wanita ini hanya menundukkan wajahnya, dia cukup malu di hadapan ibu Sasuke.

"Tapi-"

"-Sudahlah bu, sebaiknya Sasuke harus segera menikah, umurnya sudah tidak muda lagi, baru kali ini aku melihatnya benar-benar dekat dengan seorang wanita, aku yakin Sakura ini adalah yang terbaik untuknya." Ucap Itachi, dia sudah tahu keadaan ini, diam-diam Itachi sering menemui Sarada dan gadis kecil itu mengucapkan jika dia suka sekali dengan gurunya yang bernama Sakura, mereka mulai pacaran dan kabar ini cukup membuat Itachi senang, dia percaya dengan wanita itu, dia memberi keceriaan tersendiri untuk Sarada.

"Tolong jaga Sarada dengan baik, dia cucuku yang paling aku sayangi." Ucap Mikoto.

"Dengan senang hati, bibi." Ucap Sakura, dia seperti sudah mendapat lampu hijau dari calon mertuanya.

Sejam berlalu, pintu kamar operasi sudah terbuka, beberapa dokter keluar dan ranjang Sarada mulai di bawa ke ruangan pasca operasi.

"Bagaimana keadaannya dokter?" Ucap Mikoto.

"Dia sudah melewati masa kritisnya, tinggal menunggu waktu masa pemulihannya. Untuk sementara dia tidak boleh menggerakkan tangan kirinya dan kalian harus sering memantau keadaannya. Sekarang kalian istirahatlah, dia belum bisa di jenguk." Jelas dokter itu.

Mereka berterima kasih dan dokter itu pergi, semuanya bisa bernapas lega, serasa mereka tidak ingin pulang, menuju ruangan Sarada, dia masih berada di ruang isolasi dengan beberapa alat di sekelilingnya, jika besok keadaan Sarada membaik, dia bisa di bawa ke ruangan inap.

"Sebaiknya kau pulang dan istirahat." Ucap Sasuke pada Sakura.

"Rasanya aku tidak bisa pulang." Ucap Sakura, dia ingin terus melihat keadaan Sarada.

"Kau harus mengajar besok, aku akan di sini dan menunggunya sadar, setelah kau selesai mengajar kau bisa kemari." Ucap Sasuke.

"Baiklah." Ucap Sakura pada akhirnya, dia harus pulang untuk membersihkan dirinya.

"Aku akan mengantarmu pulang." Ucap Sasuke.

"Ibu, kita juga sebaiknya pulang." Ucap Itachi.

"Tidak, ibu tidak akan pulang, kalian saja yang pulang, biar ibu yang menjaga Sarada." Ucap Mikoto, wanita paru baya ini bersikeras untuk tetap menunggu cucunya sadar.

"Ibu-"

"-Aku tidak apa-apa, lagi pula tidak ada yang akan aku lakukan di rumah." Ucap Mikoto.

"Sudah, biarkan ibu di sini, aku akan kembali setelah mengantar Sakura." Ucap Sasuke pada Itachi, kakaknya itu menghela napas, Ibunya sangat keras kepala, dia akan pulang sendirian, Sakura pamit pada Mikoto dan pulang bersama Sasuke.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya setelah kecelakaan yang melanda Sarada, Sakura tengah sibuk mengajar, tapi dia sama sekali tidak bisa fokus, dia selalu terlihat melamun dan para muridnya harus berkali-kali memanggil nama sensei mereka. Wanita itu ingin segera kelas berakhir dan menemui Sarada.

Sementara di rumah sakit, melewati masa kritisnya, kini Sarada sudah di pindahkan di ruang inap, Mikoto yang menjaga dan mengurus segala administrasi Sarada selama di rumah sakit, pagi-pagi sekali, sebelum Sasuke ke kantor, dia menengok Sarada, meminta ibunya untuk istirahat namun hanya ada penolakkan dari Mikoto, wanita paru baya itu lebih mementingkan untuk mengawasi Sarada. Gadis kecil itu belum sadar, dokter sudah menyampaikan jika dia akan pulih seiring berjalannya waktu.

"Setelah ini, ibu tidak akan membiarkan Sarada bersamamu lagi." Ucap Mikoto.

"Ibu tahu sendiri bagaimana ayah memperlakukan Sarada, dia menjadi takut pada ayah." Ucap Sasuke.

"Tidak usaha pedulikan ayahmu, ibu yang akan merawatnya, kau hanya seorang pria yang tidak becus untuk mengurus anak kecil." Ucap Mikoto.

"Ibu-"

"-Kembalilah ke kantormu. Tidak ada gunanya kau berada di sini." Ucap Mikoto.

Mengelah napas, Sasuke sama sekali tidak bisa melawan ibunya, pamit pada ibu, menatap sejenak ke arah Sarada yang belum sadarkan diri, ada perban besar pada keningnya, tangan kirinya di sangga agar penyangga permanen di dalam tulangnya tidak bergeser selama masa pemulihan. Sasuke merasa sedikit sedih melihat anak sekecil itu sudah harus merasakan alat-alat rumah sakit pada tubuhnya.

Cepatlah sembuh.

Sebuah kecupan ringan pada kening Sarada sebelum dia pergi, Sasuke sungguh menyayangi Sarada seperti anak kandungnya sendiri, dia pun tidak ingin kehilangan gadis kecil itu.

Berjalan keluar ruangan Sarada, menyusuri sepanjang koridor rumah sakit, dia memikirkan sesuatu yang tiba-tiba terlintas di pikirannya. Sarada sudah berjanji pada Sasuke, jika mereka akan bersama Sakura hingga wanita itu memperlihatkan sikap aslinya, selama ini Sasuke merasa baik-baik saja bersama wanita itu, dia tidak seperti wanita lainnya yang sudah-sudah di temui Sasuke, namun pria ini masih tetap memikirkan jika nantinya Sakura punya maksud tertentu untuk mendekati Sarada, pikiran negatif yang selalu terlintas di benak Sasuke, tidak mungkin seorang wanita akan benar-benar tulus menginginkan seorang anak yang bukan dari keturunannya sendiri, Sasuke mencurigai sesuatu, alasan di balik wanita bernama Sakura bisa menjadi sedekat ini bersama mereka, sesuai janjinya dengan Sarada sebelumnya, Sasuke akan mempelihatkan sikap asli Sakura. Langkahnya terhenti, berdiri tepat di depan salah satu ruangan, pria ini melihat papan yang tergantung pada sisi pintunya, dia berbelok dan masuk ke dalam ruangan itu.

"Permisi, aku ingin menanyakan sesuatu." Ucap Sasuke pada seorang suster yang bertugas, beberapa suster di dalam ruangan itu sedikit terkejut dan sempat terpesona akan seorang yang pria yang masuk ke ruangan itu.

"Si-silahkan, apa yang bisa kami bantu?" Ucap salah satu dari mereka.

"Aku ingin tahu data seorang pendonor." Ucap Sasuke.

.

.

TBC

.

.


Sesuai urutan fic author yang TBC, kali ini yang another cherryblossem update lagi... kalau mau tahu fic apa yang update selanjutnya buka akun author terus lihat fic yang mana paling belakang dan masih TBC XD kalau malas buka, next itu gadis kuil dan para pengikutnya. sekilas info buat yang baca itu juga, promosi bagi yang belum baca, tapi cuma yang suka fic yang bergender supernatural dan humor (gagal) haaa...~ ini akibat terlalu banyak ngebuat fic yang TBC, hahahahah, tapi tetap di nikmatin satu-satu tiap ada waktu luang untuk di ketik XD *semangat...~*

di fic ini readernya kebanyakan kepo... tahap demi tahap, semua bakalan di jelaskan, sarada siapa? anak sakura mana? ada apa dengan sakura? dan lain-lainnya. bikin penasaran yaa, author ikut greget, hahahaa. sabar yaa..., maafkan jika sedikit bertele-tele nih fic... Oh ya teguran untuk typo author sudah berusaha semaksimal mungkin sampai muak mau baca berulang-ulang kali nih fic, hahahaha, :D

apa lagi yaa, sudah itu aja,

sorry yaa, akhir-akhir ini nggak ada saling respon balik sama reader, biasanya paling rajin balas satu-satu review, but, terima kasih banyak, author baca reviewnya jadi semangat terus _ untuk yang bertanya, author balas di chapter-chapter aja, hahahaha, biar tambah penasaran ini alurnya mau di bawa kemana, kek lagu yaa pffff...~

.

.

see you next chapter yoo... ;)