Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

.

.

Don't Like Don't Read !

.

~ Another cherryblossom ~

.

[ Chapter 8 ]

.

.

"Permisi, aku ingin menanyakan sesuatu." Ucap Sasuke pada seorang suster yang bertugas, beberapa suster di dalam ruangan itu sedikit terkejut dan sempat terpesona akan seorang pria yang masuk ke ruangan mereka.

"Si-silahkan, apa yang bisa kami bantu?" Ucap salah satu dari mereka.

"Aku ingin tahu data seorang pendonor." Ucap Sasuke.

"Atas nama siapa?" Ucap suster itu.

"Haruno Sakura, aku rasa dia melakukan donor darah kemarin." Ucap Sasuke.

"Baiklah, tunggu sebentar." Ucap suster.

Sasuke mulai menunggu, beberapa suster yang tadinya tidak ada kerjaan menjadi pada sibuk, membuka lemari arsip dan mencari data pendonor kemarin, menemukan satu map yang bertuliskan nama 'Haruno Sakura'

"Data ini cukup rahasia, apa yang anda inginkan dari data ini? kami tidak bisa memperlihatkan langsung kepada anda." Ucap suster itu.

"Uhm, begini saja, tolong data darah wanita itu anda cocokkan dengan data dari anak kecil atas nama Uchiha Sarada di ruangan inap 302." Ucap Sasuke.

"Tes DNA?" Ucap suster itu.

"Hn, apa datanya bisa aku ambil besok?" Ucap Sasuke.

"Tapi apa anda sudah mendapat persetujuan dari pemilik darah ini?" Ucap suster itu, Sasuke sedikit kesal dan harus menahan diri, dia hanya ingin tahu jika data DNA mereka cocok atau tidak.

"Tolong, ini sangat penting." Ucap Sasuke, tidak biasanya dia akan memperlihatkan ekspresi memelasnya dan malah membuat para suster yang sibuk mencuri pandang jadi semakin terpesona.

"Kami bisa melakukannya, anda bisa datang lusa jam 12 siang." Ucap suster lainnya.

"Baiklah, terima kasih." Ucap Sasuke. Berjalan keluar. Pintu ruangan itu tertutup dan membuat para suster itu merosotkan diri, mereka tidak kuat untuk berlama-lama memandang wajah tampan pria tadi.

Tampaannyaaaaa...~

.

.

Kelas mengajar sudah berakhir, Sakura buru-buru pulang untuk menyiapkan makanan, sudah jam 2 siang, Sakura bergegas ke rumah sakit, dia ingin segera menjenguk Sarada dan melihat keadaan anak kecil itu, menaiki sebuah bus dan tiba di rumah sakit besar Konoha, menanyakan pada resepsionis kamar seorang anak kecil dengan kasus kecelakaan dan bernama Uchiha Sarada, resepsionis itu menyebutkan nomer kamar gadis kecil itu, berada di lantai 3, tidak menunggu lama, kamar yang tidak jauh dari lif, sebelum masuk, mengetuk beberapa kali, pintu terbuka dan Sakura melihat ibu Sasuke di sana, membungkuk perlahan dan memperlihatkan sopan santunnya pada Mikoto.

"Bagaimana keadaan Sarada?" Ucap Sakura, dia terlihat begitu kelelahan, terburu-buru datang hanya untuk melihat Sarada.

"Masuklah." Ucap Mikoto, wanita Uchiha ini tahu jika Sakura seperti sudah tidak sabaran ingin melihat Sarada.

"Terima kasih." Ucap Sakura, berjalan masuk dan menutup pintu ruangan itu dengan pelan.

"Sarada sudah tidak apa-apa dia hanya akan istirahat beberapa hari selama masa pemulihannya." Jelas Mikoto.

"Syukurlah." Ucap Sakura, dia begitu khawatir sejak kemarin. "Uhm, aku membawakan sedikit makanan, mungkin untuk bibi makan siang." Tambah Sakura, mengangkat tas tangan berbahan kain berisi rantang kecil.

"Kau terlalu merepotkan diri." Ucap Mikoto.

"Tidak apa-apa, mungkin bibi bisa istirahat sejenak, aku sudah tidak ada kegiatan lagi." Ucap Sakura.

"Baiklah." Ucap Mikoto.

Sakura menyiapkan makanan di meja yang berada di ruangan itu, Mikoto duduk di kursi dan melihat Sakura, wanita ini terlihat cukup memiliki sopan santun dan baik hati, Mikoto merasa tidak keberatan bersama Sakura, meskipun mereka baru saja bertemu kemarin. Setelah menyiapkan makan siang untuk Mikoto, Sakura menarik kursi dan duduk di sisi ranjang Sarada, melihat gadis kecil itu belum sadarkan diri setelah pasca operasinya.

"Apa kau masak sendiri?" Ucap Mikoto, mulai menyantap makan siangnya.

"Iya, apa sesuai dengan selera bibi, aku tidak begitu tahu apa yang bibi suka, aku hanya masak makanan yang biasa Sasuke sukai, aku pikir akan ada persamaan." Ucap Sakura dan menunduk malu.

"Kalau aku tidak begitu banyak pilih makanan, hanya Sasuke yang tidak suka makanan yang manis-manis." Ucap Mikoto.

"Oh, aku pikir bibi pun tidak suka yang manis-manis." Ucap Sakura dan tersenyum.

"Tidak apa-apa, masakanmu enak, apa Sasuke sering datang ke rumahmu?" Ucap Mikoto.

"Hanya kadang-kadang, saat dia akan telat menjemput Sarada dan aku yang menjaga Sarada." Ucap Sakura, dia merasa sedikit canggung, ini untuk pertama kalinya dia berbicara hanya berdua dengan Mikoto, calon ibu mertuanya.

"Anak itu, aku sudah mengatakan untuk tetap berada di kediaman, dia terlalu keras kepala." Ucap Mikoto.

"Maaf jika aku terlalu ikut campur dalam masalah ini, aku sedikit tidak enak." Ucap Sakura.

"Uhm, kami yang seharusnya meminta maaf, pada akhirnya Sasuke harus membutuhkan orang lain untuk bersama Sarada. Apa kau yakin akan hal ini?" Ucap Mikoto.

"Tentu! Aku pun ingin bersama Sarada, entah mengapa kami terasa begitu dekat, aku sangat menyayangi gadis kecil ini." Tegas Sakura. menatap ke arah Mikoto yang terdiam cukup lama. "Ma-maaf, aku berbicara tidak sopan seperti itu." Lanjut Sakura, dia hanya membuat dirinya terlihat memalukkan di hadapan ibu Sasuke.

Sebuah senyum hangat menghiasi wajah Mikoto, dia memiliki putra yang tidak sembarangan memilih wanita untuk berdekatan dengan Sarada, menurutnya Sakura adalah wanita yang sesuai untuk keluarganya, dia seorang guru dan memiliki perilaku yang baik.

"Lakukan saja apa yang menurutmu benar, aku pun tidak sabar untuk melihat putraku yang paling keras kepala mendampingi seorang wanita." Ucap Mikoto.

"Te-terima kasih." Ucap Sakura, semakin menundukkan wajahnya dan merona.

Mereka mulai berbicara santai, Mikoto yang hanya ingin mengetahui keadaan Sarada selama di sekolah, Sakura sudah mengetahui hal yang sebenarnya tentang Sarada, namun dia tidak melihat adanya jarak antara keluarga Sasuke dengan gadis ini, mereka terlihat sangat menyayangi Sarada, terutama Mikoto, Sakura merasa gadis kecil ini mendapat kesempatan untuk mendapat keluarga baru yang lebih baik dari pada orang yang sudah tidak menginginkannya, sedikit kasihan dan Sakura akan terus bersama Sarada, dia ingin memberikan banyak kasih sayang dan cinta pada Sarada.

"Ngg..~ paman Sasuke..~"

Sakura dan Mikoto cukup terkejut, mereka mendengar Sarada mulai berbicara, dia sudah membuka matanya dan melirik ke sisinya.

"Sarada, kau sudah bangun? Akan ku panggilkan dokter." Ucap Sakura dan segera memencet tombol untuk memanggil dokter di dinding yang tidak jauh di atas kepala ranjang.

"Sarada?" Panggil lembut Mikoto.

"Nenek Mikoto, paman Sasuke dimana?" Ucapnya, nadanya terdengar serak, dia baru saja sadar.

"Tenanglah dulu, kau harus di periksa, Sasuke akan segera kemari." Ucap Mikoto.

Tidak menunggu lama, seorang dokter dan seorang suster masuk ke ruangan Sarada, mereka mulai memeriksa keadaan Sarada, melepas alat bantu pernapasan dan beberapa alat yang sudah tidak di butuhkan lagi.

"Bagaimana perasaanmu?" Tanya dokter yang menangani Sarada.

"Sedikit sakit pada bagian lengan." Ucap Sarada.

"Uhm, tenang saja, rasa sakit itu akan hilang, jadi tolong jangan banyak bergerak pada lengan kirimu yaa." Ucap dokter itu dan Sarada mengangguk. "Suster tolong cek datanya." Ucap dokter lagi.

Setelah melakukan pemeriksaan, dokter dan suster itu pergi, mengucapkan semoga cepat sembuh pada Sarada, gadis kecil itu tersenyum dia pun sudah di beri semangat oleh dokter tadi.

"Nenek, aku haus." Ucap Sarada.

"Tunggu yaa." Ucap Mikoto, segera mengambil sebotol air mineral dan sebatang pipet untuk mempermudah Sarada minum. "Pelan-pelan." Lanjut Mikoto. Selama belum sadarkan diri, Sarada tidak pernah minum dan membuatnya begitu kehausan, selesai dan Mikoto menyimpan botol air mineralnya di atas meja di sisi ranjang Sarada.

"Sakura-sensei juga menjagaku?" Ucap Sarada.

"Tentu saja, aku akan terus menjagamu." Ucap Sakura, dia terlihat begitu senang dengan Sarada yang sudah sadar.

"Terima kasih, uhm... aku ingin bertemu paman Sasuke." Ucap Sarada.

"Sebentar lagi dia akan tiba." Ucap Mikoto. Dia sudah mengirim pesan pada Sasuke.

Gedung kantor perusahaan Itachi cukup jauh dan mereka baru tiba setelah setengah jam, Itachi juga ikut dan mereka sudah berada di ruangan Sarada, gadis kecil itu terlihat begitu senang saat melihat Sasuke. Pria ini bersyukur jika Sarada masih bisa selamat, menggenggam tangan kanan Sarada dan mengusap perlahan puncuk kepalanya.

"Merasa lebih baik?" Ucap Sasuke. Sarada mengangguk perlahan.

"Aku akan sembuh jika kalian ada di sini. Nenek Mikoto, Paman Itachi, paman Sasuke dan Sakura-sensei." Ucap Sarada.

"Lihat apa yang aku bawakan untukmu." Ucap Itachi dan memperlihatkan dua buku bacaan baru untuk Sarada.

"Hey, dia baru saja siuman." Protes Sasuke.

"Ini hanya cadangan ketika dia sudah bisa bangun." Ucap Itachi.

"Aku akan membacanya jika sudah lebih baik, saat ini tanganku masih sakit dan kepalaku kadang pusing." Ucap Sarada.

"Istirahatlah, jangan memaksakan diri." Ucap Sasuke.

"Sebaiknya kalian kembali ke kantor, jangan kabur dari pekerjaan." Tegur Mikoto

"Ibu, kami baru saja tiba dan harus kembali? Aku lebih baik bolos untuk menemani Sarada." Ucap Itachi.

"Dasar aniki bodoh, kembalilah ke kantor, ibu juga, setidaknya istirahatlah dulu." Ucap Sasuke.

"Ibu sudah cukup istirahat, Sakura tadi menggantikan ibu menjaga Sarada sejenak." Ucap Mikoto.

Sasuke menoleh ke arah Sakura, wanita itu hanya tersenyum malu, dia sudah berada di rumah sakit sejak siang hari, Mikoto mengatakan jika Sakura membawakannya makanan. Tidak beberapa lama, Sarada tertidur, dia tengah di beri obat dan memiliki efek untuk penenang, Sasuke meminta ibunya untuk pulang dulu dan bisa kembali lagi, Mikoto hanya menghela napas, Sasuke hanya ingin ibunya tidak memaksakan diri untuk merawat Sarada, pada akhirnya Mikoto pulang bersama Itachi, tidak lupa wanita ini berterima kasih atas makan siang yang di buatkan Sakura untuknya.

Pria itu masih duduk di sisi ranjang Sarada dan menatapnya. Meminta Sakura untuk menyimpan jas dan dasinya di sofa yang berada di ruangan itu.

"Apa bibi Mikoto akan kembali lagi?" Ucap Sakura, dia tadi sempat keluar sebentar untuk membeli kopi dan tidak mendengar pembicaraan Mikoto dan Sasuke sebelum pulang.

"Aku meminta ibu kembali besok, meskipun terlihat seperti itu, ibu tetap harus beristirahat." Ucap Sasuke.

Sakura berdiri di sisi Sasuke dan melihat Sarada, gadis kecil itu tidur dengan begitu tenang.

"Kau pun harus pulang, ingat kau masih memiliki murid lain." Tegur Sasuke.

Sakura hanya tersenyum dan mengangguk. "Sedikit lagi aku akan pulang." Ucap Sakura, merasa sampai rasa khawatirannya benar-benar hilang.

Sasuke menarik pelan tangan wanita di sampingnya menggengamnya erat, sedikit menarik tubuh wanita itu agar lebih dekat dengannya, Sakura mengikuti gerakan tangan Sasuke, Pria ini menyandar kepalanya di perut Sakura, sedikit melepas penatnya dengan tumpukkan pekerjaan tadi. Tangan Sakura satunya lagi memegang punggung Sasuke dan mengusapnya perlahan, dia terlihat begitu lelah, Sakura tahu, mereka sama-sama khawatir pada Sarada meskipun tengah menjalankan pekerjaan masing-masing.

"Bagaimana dengan orang-orang yang sudah menabrak Sarada?" Ucap Sakura.

"Naruto begitu gila, dia memaksa seluruh kepolisian untuk menemukan orang-orang itu, pada akhirnya mereka di temukan dan di tangkap saat tengah berkendara, Naruto sampai meminta hukuman yang berat atas dua pelanggar itu." Ucap Sasuke. Dia merasa Naruto cukup berlebihan, tapi dia harus pun berterima kasih karena Naruto sudah membantunya.

"Ya, aku setuju dengan Naruto, mereka pantas mendapat hukumannya. Boruto juga seperti ayahnya tadi, tapi dia hanya mengamuk ingin ikut ke rumah sakit, untunglah guru lain bisa alihkan perhatian Boruto dan aku bisa pergi dengan tenang." Ucap Sakura.

"Maaf sudah membuatmu repot." Ucap Sasuke.

"Tidak, aku sama sekali tidak akan repot jika menyangkut Sarada, ibu mu juga tadi mengucapkan hal yang sama denganmu." Ucap Sakura dan sedikit terkekeh.

"Uhm, maaf untuk kemarin, apa ucapanku tidak terlalu terburu-buru?" Ucap Sasuke. Melepaskan genggaman tangannya dan menatap Sakura.

"Ucapan kemarin?" Ucap Sakura, dia sedikit lupa dengan apa yang sudah di ucapkan Sasuke.

"Tentang menikahimu, kita belum membicarakan hal ini, tapi kemarin waktu yang sedikit tepat saat ibuku pun ada, kau tidak keberatan?" Ucap Sasuke, menatap serius ke arah Sakura, wanita ini menjadi sedikit malu, wajahnya merona.

"A-aku tidak keberatan, hanya saja, apa kau pun yakin? Kepikiran jika kau membutuhkanku sebagai penjaga Sarada, sejujurnya aku...aku..uhm.. aku mulai menaruh perasaan lebih padamu, apa kau berpikir seperti itu juga?" Ucap Sakura, wajahnya semakin merona, mereka tidak pernah berterus terang tentang perasaan masing-masing.

"Maaf jika selama ini aku terlihat memperlakukanmu hanya seperti seorang penjaga, itu tidak benar, aku mempercayakan Sarada padamu dan juga aku pikir kita memiliki perasaan yang sama." Ucap Sasuke, menggenggam kedua tangan Sakura. "Jadi? Apa kau mau menikah denganku?" Lanjut Sasuke.

Sakura menggangguk pasti, lega mendengar ucapan Sasuke.

"Sebentar agi aku bisa memanggil kalian ayah dan ibu." Suara serak seseorang mengagetkan Sasuke dan Sakura, menoleh ke arah ranjang dan gadis kecil itu tersenyum melihat ke arah mereka.

"Kau sudah bangun? Perlu sesuatu?" Ucap Sakura.

Gadis kecil itu menggelangkan kepalanya pelan. "Aku hanya ingin memanggil kalian ayah dan ibu." Ucap Sarada.

"Kau boleh melakukannya." Ucap Sasuke, mengelus perlahan puncuk kepala Sarada.

"Aku senang hooaam...~ mendengarnya." Ucap Sarada, kembali menutup matanya, dia masih mengantuk dan kembali tertidur. Keduanya tersenyum menatap gadi kecil itu.

.

.

.

.

.

Dua hari berlalu, kesehatan Sarada membaik, kecuali lengan kirinya butuh proses untuk penyembuhan. Saat ini, Sarada di temani Sakura, Mikoto, Boruto yang sejak di sekolah memohon pada Sakura untuk mengajaknya menjenguk Sarada, akhirnya di ikutkan juga.

"Ingat Boruto jika ayahmu sudah tiba, kau harus segera pulang, anak kecil tidak boleh terlalu lama berada di rumah sakit." Tegur Sakura.

"Baik, sensei!" Ucap Tegas Boruto.

"Hahahah, Boruto sangat berisik." Ucap Sarada.

"Kau pun harus menghabiskan makan siangmu." Ucap Sakura, menyuapi beberapa kali makanan Sarada.

"Makanan di rumah sakit tidak enak, rasanya hambar, aku ingin masakan Sakura-sensei." Ucap Sarada.

"Setelah kau sembuh kau bisa makan makanan apapun, jadi untuk saat ini jangan mengeluh yaa." Ucap Mikoto.

"Iya, nenek." Ucap Sarada, dia merasa bosan untuk menu rumah sakit yang tidak enak pada tenggorakannya.

Pintu ruangan Sarada terbuka dan beberapa orang masuk, Sarada terlihat senang dengan seorang anak kecil yang ikut menjenguknya.

"Selamat siang, kami ingin menjenguk Sarada." Ucap Hinata.

"Ah, selama siang Hinata, Naruto, silahkan." Ucap Mikoto, ramah.

"Maaf jika putraku sedikit merepotkanmu, Sakura." Ucap Naruto.

"Tidak masalah, aku rasa Sarada pun butuh teman di sini." Ucap Sakura. selesai memberi makan Sarada, menyimpan tempat makanan yang sudah kosong itu di meja.

Himawari berjalan cepat ke arah sisi ranjang Sarada, meminta ayahnya untuk mendudukkannya di atas ranjang Sarada, Naruto mengangkat Himawari dan menempatkan di ranjang.

"Hima hati-hati, Sarada masih belum sembuh." Tegur Boruto melihat adik kecilnya yang ngotot ingin berada di sebelah Sarada.

"Apa masih sakit?" Ucap Himawari, dia mengacuhkan ucapan Boruto.

"Tidak sakit lagi, tapi aku di larang banyak gerak oleh dokter." Ucap Sarada.

"Kakak harus cepat sembuh yaa." Ucap Himawari dan tersenyum manis di depan Sarada.

"Dasar, dia selalu mengabaikanku jika bersama Sarada, hemp!" Boruto merasa terasingkan.

Sakura cukup senang dengan Boruto dan adiknya yang mengajak Sarada untuk berbicara, wanita ini menatap ke arah sebelah Naruto, Ibu Boruto, baru kali ini Sakura bertemu langsung dengannya, wanita berambut indigo panjang sepinggang, begitu cantik dan dia terlihat sangat ramah.

"Hinata dia adalah guru baru Boruto." Ucap Naruto pada istrinya.

"Salam kenal, terima sudah menjaga Boruto selama ini." Ucap Hinata, ramah.

"Iya, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mengajarnya." Ucap Sakura.

"Sakura dan Sasuke akan segera menikah." Ceplos Mikoto.

"Eh?" Sakura menundukkan wajahnya, malu setelah mendengar ucapan Mikoto.

"Wah, akhirnya, Sasuke itu benar-benar plin-plan, pada akhir dia menyadarinya jika Sakura pantas untuk Sarada." Ucap Naruto.

"Kami akan menunggu hari itu." Ucap Hinata, dia pun sedang mendengar kabar baik ini.

"Sasuke sudah menetapkannya." Ucap Mikoto dan tersenyum.

Para orang tua sibuk berbicara, begitu juga para anak kecil. Boruto heboh bercerita tentang kelas hari ini, Himawari tidak ingin kalah dan mau bercerita tenang apa yang mulai di lakukan di rumah bersama ibunya, Sarada tertawa sesekali melihat tingkat Boruto yang tidak mau kalah dari adiknya, Himawari yang cukup kesal malah mencubit pipi Boruto keras-keras.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, siang hari ramai dengan banyak pengunjung, Sarada sedang beristirahat, Mikoto masih menjaga Sarada, Sakura sedang berada di luar, sekedar ingin membelikan minuman untuk Mikoto. Berjalan di lorong rumah sakit dan dia bertemu dengan Sasuke. Ada yang aneh dari tatapan Sasuke, memang dia akan terlihat tanpa ekspresi atau tenang, namun saat ini dia seperti sedang kesal.

"Ikut aku." Ucap Sasuke, menarik pergelangan Sakura, cukup membuat wanita itu terkejut, bukan genggaman biasa, tapi terasa begitu menyakitkan, Sasuke mencengkram pergelangannya.

Mereka keluar dari bangunan rumah sakit dan berada di luar, area dekat taman.

"Ada apa, Sasuke?" Ucap Sakura, menyembunyikan rasa sakit pada lengannya, dia hanya kebingungan akan sikap Sasuke hari ini.

"Mulai sekarang, aku minta padamu untuk menjauhi ku dan Sarada." Ucap Sasuke. Tatapannya begitu tajam dan menusuk, perasaan kesal itu masih menghiasai wajahnya.

"Apa?" Ucap Sakura, dia tidak memahami dengan ucapan Sasuke.

"Jauhi kami." Tegas Sasuke.

"Tu-tunggu, ada apa ini? aku tidak mengerti?" Ucap Sakura, dia di buat bingung.

"Jangan berpura-pura lagi, kami sudah sepakat untuk melihat sikap aslimu dan kau jauh lebih buruk dari wanita yang sudah-sudah aku temui." Ucap Sasuke.

"Pura-pura? Aku tidak pernah berpura-pura pada kalian!" Tegas Sakura. "Katakan apa yang sudah terjadi? Jangan membuatku tidak mengerti seperti ini?" Tambah Sakura, ingin menyentuh Sasuke, segera saja tangannya di tepis, terkejut akan sikap Sasuke, dia tidak mungkin berbohong akan perasaannya pada Sasuke dan Sarada, Sakura sungguh tulus menyayangi mereka.

"Ini hasil tes DNA, kau sungguh membuatku kecewa." Ucap Sasuke. Memperlihatkan selembar kertas pada Sakura. wanita itu mengambilnya dan membaca apa yang tertera di sana, data tes DNAnya dan Sarada adalah positif.

"Sarada? Ba-bagaimana bisa?" Ucap Sakura, dia tidak mengerti akan hal ini, jika data tes DNA mereka positif, maka Sarada adalah anak Sakura.

"Seharusnya kau yang tahu akan hal ini, kau berpura-pura untuk kembali mendekati Sarada setelah apa yang kau lakukan padanya!" Ucap Sasuke, dia benar-benar marah.

"Ini tidak benar! Sarada? Anakku? Tapi, saat itu-"

"-Cukup Sakura, seperti yang sudah ku ucapkan dari awal, jauhi kami." Ucap Sasuke, bergegas meninggalkan Sakura.

"Tunggu! Aku akan menjelaskannya!" Ucap Sakura menarik lengan Sasuke namun tangannya di segera di tepis kasar.

"Jangan menyentuhku, jika kau berani kembali ke ruangan Sarada, akan aku pastikan menyeretmu keluar dari sana." Ucap Sasuke. Kembali tatapan itu begitu dingin, melangkahkan pergi meninggalkan Sakura.

Sakura sangat terkejut, Sasuke marah padanya, melihat kembali hasil kertas tes DNA itu, ini sungguh tidak masuk akal, saat itu Sakura masih jelas mengingat jika anaknya sudah meninggal, itulah yang di katakan bibinya pada waktu itu.

Jika Sarada adalah anakku, jadi apa bibi berbohong?

Rasanya begitu sesak, Sasuke sudah memutuskan hubungan dengannya di saat mereka akan segera meresmikan hubungan mereka, Sasuke bahkan melarangnya untuk kembali melihat Sarada, berjalan pulang dengan perasaan hampa, dia tidak mengetahui hal yang sebenarnya dan Sasuke salah paham terhadapnya.

Berjalan lebih cepat dia akan memastikan satu hal, bukan saatnya untuk Sakura bersedih, jika semua hasil tes DNA itu benar, Sakura berhak mengambil Sarada.

.

.

.

.

.

Sakura tiba dia sebuah rumah susun sederahan, dia hanya mengingat alamat lama rumah bibinya, berharap jika bibinya itu masih tinggal di daerah itu, mengetuk beberapa kali dan seseorang membukakan pintu untuk Sakura.

"Sakura? Kau kembali?" Ucap seorang wanita tua.

"Aku tidak akan kembali." Ucap Sakura, menatap datar wanita tua di hadapannya.

"Kau, berani-beraninya pergi begitu saja! Apa begitu caramu membalas kebaikanku selama ini!" Bentak wanita itu.

"Kebaikkan? Ah yang benar saja, kau bahkan hanya menyiksaku." Ucap Sakura.

Wanita tua itu terlihat marah, melayangkan tangan kanannya ke arah Sakura dan segera di tepis wanita berambut softpink ini, membuat Wanita tua itu takut dan mundur perlahan, kali ini dia sudah mendapat perlawanan.

"Aku hanya ingin bertanya satu hal." Ucap Sakura. Wanita itu memilih diam dan mendengar ucapan Sakura. "Apa benar anakku masih hidup?" Tanya Sakura.

"Apa? Anakmu sudah meninggal!"

"Katakan dengan jujur, jika tidak, aku bisa saja menjeratmu dalam pasal pembuangan bayi, kau bisa di penjara." Ancam Sakura, nada suaranya masih terdengar tenang, dia hanya sedang menahan diri.

"Tidak! Aku tidak ingin di penjara, anakmu mungkin saja sudah meninggalkan, aku membuangnya di dekat tempat sampah. Seharusnya kau berterima kasih padaku, anak itu hanya akan membuatmu susah."

Sakura sudah cukup mendengarnya dan bergegas pergi, dia sudah sangat muak dengan tempat itu, tempat dimana kenangan buruknya semasa kecil, dia tidak peduli lagi akan kehidupan bibinya yang sudah seperti orang gila, depresi berlebihan dan hanya mementingkan dirinya sendiri. meskipun wanita tua itu terus mengumpat marah pada Sakura, wanita ini seakan tuli dan tidak mendengar semua teriakkan itu.

.

.

.

.

.

2 minggu berlalu.

Sarada hanya menopang dagunya, dia sedang tidak bersemangat untuk belajar, lengan kirinya masih di beri gips dan alat penyangga, dia tidak ingin terlalu lama tinggal di rumah, Sarada meminta pada Sasuke untuk membiarkannya ke sekolah, Boruto akan senantiasa menjaga Sarada di sisinya, sedikit repot, Boruto anak yang lebih hayperaktif agak susah membuat dirinya tetap tenang dan tidak berlarian.

"Kenapa tidak ada kabar jika Sakura-sensei di ganti guru baru." Ucap Sarada, wajahnya terus cemberut, saat masuk sekolah dan tidak mendapati Sakura, beberapa hari pun selama di rumah sakit Sakura tidak menjenguknya.

"Seminggu yang lalu Sakura-sensei masih mengajar, tapi tiba-tiba kepala sekolah masuk dan mengatakan jika Sakura-sensei ada keperluan mendadak dan tidak bisa kembali mengajar." Ucap Boruto, dia pun sedikit kecewa dengan di gantinya Sakura.

"Paman Sasuke juga tidak berbicara apa-apa." Ucap Sarada.

"Aku tidak mengerti tentang orang dewasa, apa mungkin mereka bertengkar? Biasanya aku dan Himawari jika bertengkar kami tidak ingin saling berbicara dan Himawari akan mendiamkanku selama beberapa hari." Ucap Boruto, menceritakan pengalaman sedihnya.

"Mereka bertengkar? Itu tidak mungkin, paman Sasuke sangat menyukai Sakura-sensei, mereka bahkan akan segera menikah." Ucap Sarada.

"Bagaimana kalau mendatangi rumah Sakura-sensei?" Ucap Boruto.

"Kau benar, kita harus ke sana dan menanyakannya pada Sakura-sensei, aku masih ingat jalan apartemennya." Ucap Sarada.

"Mungkin kita harus pergi bersama orang dewasa." Ucap Boruto.

"Meminta kepala sekolah?" Saran Sarada.

"Ayo kita ke ruang kepala sekolah." Ucap Boruto.

Mereka berjalan sedikit terburu-buru ke ruang kepala sekolah, mengetuk beberapa kali, sebuah suara dari dalam meminta mereka masuk.

"Ada apa Boruto dan Sarada?" Ucap Pria tua itu.

"Kami ingin bertemu Sakura-sensei, apa bapak bisa mengantar kami ke rumahnya?" Ucap Boruto.

"Untuk apa kalian ke sana?"

"Kami mohon pak, ada hal yang ingin aku bicarakan pada Sakura-sensei." Ucap Sarada.

"Kami mohon, kami mohon, kami mohon." Ucap Boruto, dia cukup berisik di dalam ruangan itu.

"Kalian harus minta ijin pada orang tua kalian dulu."

"Sakura-sensei akan menikah dengan ayahku, jadi aku ingin bertemu dengannya, dia tidak menemuiku beberapa hari ini, aku takut jika Sakura-sensei sedang sakit, dia bisa mengabari ayahku." Ucap Sarada.

"Kalian benar-benar ngotot, baiklah, tapi minta ijin pada guru kalian dulu."

"Baik!" Ucap mereka serempak.

Setelah mendapat ijin dan merasa mereka akan aman jika kepala sekolah yang mengantar, sepanjang perjalanan mereka terlihat ceria untuk sekedar bertemu kembali dengan guru favorit mereka, alamat rumah yang mereka datangi sudah benar, hanya saja yang membukakan pintu bukan wanita yang mereka cari.

"Ah, maaf, penghuni sebelumnya sudah pindah seminggu yang lalu." Ucap seorang wanita pemilik baru rumah apartemen itu.

Sarada terlihat sedih, Boruto merasa tidak senang akan raut wajah teman kelasnya itu.

"Maaf, mengganggu, terima kasih, baiklah anak-anak kita kembali ke sekolah." Ucap kepala sekolah.

"Tunggu, apa gadis kecil ini bernama Sarada?" Ucap wanita itu.

"Iya." Ucap Sarada.

"Sebentar." Wanita itu masuk ke dalam apartemennya dan beberapa saat kembali. "Aku di minta oleh penghuni sebelumnya, katanya jika ada seorang gadis kecil bernama Sarada mencarinya, dia ingin aku memberikan kotak ini." Ucap wanita itu dan memberikan sebuah kota yang berukuran sedang, sedikit berat, Boruto yang memegang kotak itu, tangan Sarada belum bisa mengangkat sesuatu yang berat-berat.

"Terima kasih." Ucap Sarada. Mereka pamit sopan dan bergegas kembali sesuai permintaan kepala sekolah mereka.

Pada akhirnya mereka tidak bertemu Sakura, guru favorit mereka sudah pindah rumah, bukan cuma berhenti bekerja, Sakura pun pergi dari kota Konoha untuk sekedar menjauh. Sarada masih belum mengerti keadaan ini, jika benar Sakura pergi, maka paman dan gurunya itu tidak akan hidup bersama.

"Hikss.."

"Eh, kau tidak boleh menangis Sarada." Ucap Boruto, dia pun bingung harus berbuat apa, gadis kecil itu menangis begitu saja.

"Ada apa Sarada? Apa ada yang sakit?" Ucap kepala sekolah mereka.

"Tidak hikss. Aku hanya sedih, Sakura-sensei pergi dari kami." Ucap gadis kecil itu.

"Bersabarlah, mungkin Sakura-sensei sedang ada urusan dan dia akan segera kembali." Hibur Kepala sekolah. Tidak ada ucapan, gadis kecil itu hanya mengangguk pelan, Boruto mengambil tissu yang berada di dalam mobil kepala sekolanya dan mengusap perlahan wajah Sarada, menghapus air mata gadis itu.

"Sakura-sensei akan kembali, tenanglah." Ucap Boruto.

"Hu-uhm."

.

.

Sepulang sekolah, raut wajah gadis ini tidak begitu senang, dia diam sepanjang perjalanan, menatap bosan ke keluar jendela dan tidak ingin berbicara apapun, Sasuke menyadari perubahan gadis kecilnya, dia memang pendiam tapi tidak dengan raut wajah sedih yang Sasuke bisa lihat dari pantulan kaca jendela mobil.

"Bagaimana sekolah hari ini?" Basa-basi Sasuke.

"Biasa." Ucap singkat Sarada, dia bahkan terlihat menghela napas.

"Uhm, kotak itu, isinya apa?" Ucap Sasuke, saat menjemput Sarada, Boruto memberikan pada Sasuke.

"Aku tidak tahu, Sakura-sensei yang memberikannya padaku, dia sudah tidak tinggal di apartemennya lagi." Ucap Sarada, wajahnya semakin menunduk.

Sasuke memilih diam dan tidak berkomentar apapun, menurutnya ini adalah jalan yang terbaik, dia tidak ingin Sakura membawa dampak buruk bagi Sarada, pria ini cukup marah dengan tindakan Sakura yang membuang anaknya begitu saja.

"Kalian saling menyukai, bukan? Aku pikir jika orang dewasa saling menyukai mereka akan hidup bersama." Ucap Sarada. "Apa kalian bertengkar? Apa ada masalah?" Tambah Sarada, menatap ke arah Sasuke, tatapannya begitu tenang, tidak jauh beda dengan Sasuke, jika Sarada seperti itu, Sasuke pun tidak bisa membaca situasi gadis kecil itu saat ini, entah itu dia sedang marah atau sedang sedih. "Aku pikir kalian akan segera menikah dan aku bisa memanggil kalian ayah dan ibu." Ucap Sarada.

"Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Sakura bukan wanita yang baik untuk kita." Sasuke akhirnya berbicara.

"Sakura-sensei sangat baik, dia tidak pernah melakukan hal jahat padaku, aku tidak mengerti dengan pikiran orang dewasa." Ucap Sarada, menahan dirinya untuk tidak menangis.

"Hentikan, Sarada. Mulai saat ini kita tidak akan pernah membahasnya lagi." Ucap Sasuke, menahan suaranya agar tidak sampai menggertak gadis kecil itu.

Suasana di dalam mobil sedikit tegang, Sarada menjadi pendiam, Sasuke pun tidak menyukai situasi ini, seakan Sarada tengah memasang tembok di antara mereka.

Tiba di rumah, gadis kecil itu memilih untuk masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan apapun, perasaannya sedang sedih, dia pun tahu jika tadi Sasuke sedang menahan amarahnya, semuanya semakin kacau bagi Sarada. Sasuke tidak mengucapkan apa-apa saat Sarada sudah masuk ke kamarnya, setelah memarkirkan kendaraannya, turun dari mobil dan mengingat kotak yang berada di dalam mobil, gadis kecil itu tidak mengambilnya, Sasuke membuka pintu mobil bagian belakang untuk mengambil kotak yang terbungkus kertas berwarna coklat, menempatkannya di meja ruang tamu, mendudukkan dirinya di sofa dan merebah, sedikit lelah, kantor sedang sibuk-sibuk dan sekarang dia seperti sedang bertengkar dengan Sarada. Melirik kotak kecil itu, sedikit penasaran, Sasuke membongkar pembungkus kotak itu, menggoyangkan sedikit dan cukup berat, kembali membongkar kotak itu, di dalamnya hanya ada buku bacaan anak-anak tentang ilmu pengetahuan dan sepucuk surat, surat itu di tujukan untuk dirinya.


Untuk Uchiha Sasuke.

Setelah kepergianku, aku benar-benar meningglkan kalian seperti yang kau mau, Sasuke, tapi cukup sulit bagiku jika masih bisa bertemu dengan Sarada, aku memilih untuk meninggalkan Konoha, itu akan jauh lebih baik dan membuatmu senang, aku yakin kau pasti senang dengan hal ini. sejujurnya aku kecewa kau tidak mendengarkan penjelasanku lebih detail, tapi sudahlah, kau pun tidak ingin mendengarkanku.

Jika surat ini sudah sampai padamu, aku ingin minta satu hal padamu, maksudnya aku ingin kau melakukan sesuatu seperti apa yang ku lakukan untukmu, mendengar ucapanmu untuk menghilang dari kalian berdua. Hanya untuk memastikan sesuatu, sedikit penasaran dengan tindakanmu jika mengetahui hal ini.

Aku hanya ingin kau mengetes DNAmu dengan Sarada, memang kau akan anggap ini konyol, tapi tolong lakukan itu, ini demi Sarada, bukan demi aku.

Terima kasih, sampai kapan pun kau dan Sarada akan menjadi orang berharga bagiku.


Membaca surat itu hingga selesai, alis Sasuke tidak hentinya untuk berkerut, antara kebingungan dan merasa memang dalam surat itu hanya ada kalimat-kalimat konyol.

"Apa mau mu? Jika tes DNA dengan Sarada bukan masalah bagiku, lagi pula kapan aku pernah meniduri seorang wanita, cih, benar-benar konyol." Ucap Sasuke, meremehkan surat dari Sakura itu. Meremas kertas surat itu dan membuangnya ke tempat sampah.

.

.

.

.

.

Perusahaan Itachi.

Sasuke sedang sibuk untuk memperhatikan setiap data anggaran di perusahaan kakaknya, dia harus teliti agar tidak terjadi kesalahan, perusahaan Itachi bisa bangkrut jika Sasuke salah sedikit, duduk berlama-lama di depan laptop membuatnya cukup kelelahan, menyandarkan punggungnya pada kursinya, menutup mata sejenak, dia butuh mengistirahatkan matanya.

"Ku harap aku tidak mengganggu." Ucap Itachi dan tiba-tiba masuk begitu saja di ruangan Sasuke.

"Hn? Ada apa?" Ucap Sasuke, tanpa mengubah posisinya.

"Mungkin sebaiknya kita keluar untuk sekedar minum kopi." Tawar Itachi.

"Aku sedang sibuk." Tolak Sasuke.

"Dasar, aku atasanmu, sebagai wakil yang baik, kau harus mendengarkan." Ucap Itachi.

"Aku rasa kau sudah sangat mengganggu." Ucap Sasuke.

"Hanya sebentar, lagi pula ini sudah jam istirahat, kau ini manusia bukan robot yang tidak akan lelah." Ucap Itachi.

"Ah, dasar tukang pemaksa." Respon malas Sasuke, beranjak dari kursinya.

Mendatangi sebuah kafe dan memesan minuman.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Ucap Sasuke.

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu, tapi kau tega meninggalkan Sakura begitu saja?" Ucap Itachi.

"Ha? Apa maksudmu?" Sasuke terlihat tidak senang dengan awal pembicaraan ini.

"Kalian memutuskan hubungan, aku pikir Sakura sudah menjadi wanita yang sesuai untukmu dan juga Sarada, bahkan gadis kecil itu sangat menyayanginya." Ucap Itachi.

"Apa Sarada menceritakannya padamu?"

"Tidak perlu kau tahu bagaimana bisa aku mengetahuinya, kau hanya membuat semua orang akan kecewa, terutama Sarada, kau memisahkannya dengan seorang wanita yang sudah sangat lengket dengannya, dia bahkan ingin sekali memanggil Sakura dengan sebutan 'ibu'." Ucap Itachi.

"Kau tidak tahu apa yang sudah terjadi, tidak perlu ikut campur."

"Maka dari itu, kau harus menceritakannya padaku, bukan berarti kau tidak ada di kediaman, ikatan antar keluarga pun kau putuskan begitu saja, kau anggap apa aku dan ibu?" Ucap Itachi.

"Sejak awal aku dan Sarada sudah sepakat, jika setiap wanita yang mendekati kami, saat sikap asli mereka sudah terungkap, kami akan meninggalkannya, apa Sarada tidak mengatakannya itu padamu?" Ucap Sasuke.

"Sepertinya dia melewatkan satu hal itu, tapi setidaknya kau pertahankan sejenak hubunganmu, ingat kau sudah tidak muda lagi Sasuke, atau kau hanya ingin terus berpura-pura berperan sebagai single parents? Sarada bukan anakmu dan dia butuh sosok ibu untuk mendampingi masa dewasanya." Ucap Itachi.

Saat ucapan Itachi tentang 'Sarada bukan anakmu' Sasuke kembali mengingat isi surat dari Sakura, Sasuke terlihat menghela napas, dia tidak percaya jika saat ini dia harus menceritakan kebenarannya pada, Itachi. "Sakura adalah ibu kandung Sarada." Ucap Sasuke to the point.

"Kau bercanda?" Ucap Itachi, dia cukup terkejut.

"Apa aku terlihat sedang bercanda?" Ucap Sasuke, tatapan serius sejak tadi.

"Ah, baiklah, tunggu dulu, aku mulai mengerti akan pembicaraan ini, kau pikir Sakura sengaja mendekati kalian agar ingin mengambil kembali Sarada?"

"Hn."

"Kau pikir Sakura hanya pura-pura padamu?"

"Hn."

"Jadi sesuai kesepakatanmu dengan Sarada, jika mereka mendekati kalian dengan maksud tertentu, kau akan langsung mencampakkannya." Ucap Itachi.

"Ya, kurang lebih seperti itu." Ucap Sasuke, santai.

"Kau sungguh gila Sasuke! seharusnya kau membiarkan Sakura bersama Sarada, bagaimana pun juga mereka anak dan ibu, kau tidak punya hak apa-apa untuk memisahkan mereka." Ucap Itachi.

"Dia tidak punya hak apa-apa lagi untuk bersama Sarada, aku bahkan akan menuntutnya jika dia ingin mengambil kembali Sarada, apa yang di pikirkannya! Dia membuang bayi itu dan sekarang apa? Dia ingin Sarada yang sudah ku besarkan bertahun-tahun lamanya untuk kembali padanya? Aku tidak akan membiarkannya, dia sudah menyia-nyiakan Sarada." Ucap Sasuke, dia terlihat marah.

"Kau sungguh keras kepala, menganggap jika Sakura adalah orang yang salah, kau tidak bisa mendengarkan dari sudut pandangnya, dia pasti punya alasan tersendiri kenapa harus membuang Sarada. Jangan berkesimpulan buruk tentang wanita itu, aku bisa merasakan dari sorot matanya jika dia sangat menyayangi kalian berdua, apa itu tidak cukup?"

"Sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini, jangan pernah membicarakannya lagi hadapanku, aku sama sekali tidak menyukainya." Ucap Sasuke.

"Apa perasaanmu selama ini padanya juga sebuah kebohongan?" Ucap Itachi.

"Cukup, kak Itachi." Ucap Sasuke, bergegas meninggalkan Itachi, pembicaraan yang sia-sia, Sasuke sudah tidak ingin membahas Sakura dan akan segera melupakannya, kecuali, ucapan yang di tulis Sakura belum di lakukannya, ada perasaan aneh jika dia akan mengetahui hasil tes DNAnya dengan Sarada.

.

.

Sasuke datang tepat waktu untuk menjemput Sarada, tapi gadis kecilnya itu masih belum pulang, masih ada sedikit arahan dari gurunya, mereka akan mengadakan pertunjukan drama kelas, mendapati Naruto yang juga masih menunggu dan beberapa ibu-ibu jadi merona menatap kedua ayah yang masih berpakaian jas kerja, ayah tampan yang menyayangi anaknya, begitulah pemikiran para ibu-ibu di sana.

"Kau sedang tidak sibuk?" Ucap Sasuke, menghampiri Naruto dan duduk di sebelahnya.

"Sebenarnya agak sedikit sibuk, tapi aku lelah dan berhenti sejenak, pengurus perusahaan setiap hari membuatku pusing." Ucap Naruto.

"Wajar saja jika kau seorang direktur utama, kau harus mencari kaki tanganmu untuk lebih memudahkanmu bekerja." Ucap Sasuke.

"Yaa, aku akan coba mencari orang kepercayaan." Ucap Naruto.

Para murid-murid TK sudah mengucapkan salam pada guru mereka, arahan berakhir, seluruh murid berjalan keluar dengan tertib, semua sudah tidak sabar untuk pulang, Boruto berjalan bersama Sarada, gadis kecil itu terlihat lesuh, meskipun begitu saat melihat Sasuke, dia harus memasang wajah cerianya, cukup sulit, tapi dia sangat menghormati Sasuke, namun ucapan Sasuke masih membuatnya sedih hingga sekarang.

"Ayah!" Teriak Boruto, menarik tangan Sarada dan berlari ke arah ayah-ayah mereka.

"Jadi bagaimana pertunjukan dramanya?" Ucap Naruto.

"Aku dapat peran monster jahat." Ucap Boruto dengan heboh.

"Dasar, kau malah senang mendapat peran itu, bagaimana dengan Sarada?" Ucap Naruto.

"Penyihir baik." Ucap Sarada.

"Penyihir yaa, waah, kau bisa membuat keajaiban dengan peranmu." Ucap pria berambut blonde itu dan memperlihatkan cengiran khasnya.

"Apa keajaiban itu bisa membuat Saku-" Ucap Sarada terputus saat melirik ke arah Sasuke, ucapannya untuk membuat Sakura menjadi kembali tidak bisa di keluarkannya. "Ah, maaf," Lanjut Sarada.

Naruto terlihat bengong, Sasuke terdiam begitu juga Sarada, Boruto menarik kaki jas ayahnya untuk membungkukkan diri, membisikkan sesuatu dan membuat Naruto baru menyadarinya.

"Hoo, baiklah, kalau begitu aku akan menjadi ayah monster dan menculik anak kecil." Ucap Naruto, "Maaf yaa Sarada." Lanjutnya dan tiba-tiba menggendong Sarada, berlari begitu saja meninggalkan Sasuke dan Boruto. Sarada terlihat bingung, dia segera di bawa pergi Naruto entah kemana, berlari keluar gerbang sekolahnya, tidak ke arah parkiran mobil Naruto tapi dia terus berlari.

"Apa-apaan kau, Naruto!" Ucap Sasuke, tidak mengerti apa yang tengah di lakukan temannya itu.

"Aku tidak akan memberikan Sarada padamu, kau harus menangkap kami, hahahahaha." Ucap Naruto, Sarada tersenyum, dia tidak tahu apa yang sedang di lakukan ayah Boruto, tapi ini terlihat menarik untuknya.

"Ayo paman Sasuke, kita harus mengejar penjahat itu!" Ucap Boruto, menarik tangan Sasuke dan berlari mengejar ayahnya.

Pada akhirnya, mereka berhenti di sebuah taman.

"Hosh, hosh, hosh, berlari di usia seperti ini sungguh melelahkan, aku rasa pinggangku sampai mau patah." Ucap Naruto, dia sudah melepaskan Sarada yang sedang bermain dengan Boruto, pinggangnya terasa nyeri, berlari cukup jauh sambil menggendong Sarada.

"Sialan kau! Membuat repot saja." Ucap Sasuke, kesal, dia pun kelelahan mengejar Naruto.

"Hahahaha, maaf, aku jadi tidak tega melihat Sarada, Kata Boruto, dia jadi lebih pendiam di kelas, biasanya dia akan membaca buku, tapi akhir-akhir ini dia hanya melamun dan tidak ingin bermain dengan siapa pun, aku rasa sikapnya kembali ke awal dimana dia tidak perlu bermain dengan teman-teman kelasnya, bukannya aku ikut campur, hanya saja, memutuskan hubungan itu tidak baik, kalian bertengkar?" Ucap Naruto.

Sasuke terdiam, dia memahami arah pembicaraan Naruto. "Kau dan kak Itachi sama saja, sebaiknya tidak membahasnya lagi." Ucap Sasuke.

"Aku pikir kau menyukainya, lagi pula Sakura wanita yang baik-baik." Ucap Naruto.

"Dia bukan wanita baik-baik. aku tidak habis pikir dengan rencananya untuk mendekati kami hanya ingin mengambil Sarada." Ucap Sasuke.

"Ha? Apa? Ini gara-gara kau terlalu mencap buruk semua wanita, bagaimana mungkin Sakura ingin mengambil Sarada." Uca Naruto.

"Karena dia adalah ibu kandung Sarada." Ucap Sasuke.

"Apa? ibu kandung?" Ucap Naruto, terkejut, melirik ke arah kedua anak kecil itu, tempat bermain mereka cukup jauh dan tidak mendengar pembicaraan Sasuke.

"Hn, aku selalu mencurigainya, apa motif untuk mendekati kami, saat mengetahui golongan darah mereka cocok, aku hanya iseng untuk mencoba mencocokkan DNA mereka, hasilnya positif, mereka anak dan ibu, kau mengerti ucapanku?" Ucap Sasuke.

"Aku mengerti, tapi kau sungguh keterlaluan, jadi hubungan kalian selama ini hanya sebuah kebohongan? Aku jadi bingung, apa kau yang membohongi Sakura atau Sakura membohongimu? Kau sudah menanyakan hal ini pada Sakura?" Ucap Naruto.

"Aku tidak perlu mendengar penjelasannya lagi."

"Kau sungguh kejam."

"Tapi, ada sesuatu hal yang tiba-tiba muncul."

"Apa?"

"Dia memberikan hadiah buku-buku pada Sarada dan menyelipkan sebuah surat untukku, anehnya dia memintaku untuk mengetes DNAku dan Sarada."

"Heee? Tu-tunggu, jadi? Jadi? Jangan-jangan kau ayah kandung Sarada!" Ucap Naruto.

"Jangan asal mengatakan hal itu! Apa kau pernah melihatku bersama wanita lebih lama!" Protes Sasuke.

"Kau tidak pernah bertahan lama-lama dengan wanita mana pun, kau bahkan sangat cuek pada mereka."

"Dan juga, Sakura, apa kita pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya?"

"Aku baru bertemu dengannya saat menjadi guru Boruto. Tapi, apa kau tidak pernah bertemunya di luar? Maksudku sebelum dia menjadi seorang guru."

"Entahlah, aku merasa tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya."

"Ini aneh, bagaimana jika tes DNA itu membenarkan kau adalah ayah kandung Sarada, waah ini sangat kebetulan Sasuke, ayahnya sendiri yang memungut anaknya, ahahaha jadi mirip cerita di film yaa." Ucap Naruto dan mendapat tatapan menusuk dari Sasuke.

"Aku tidak tahu, lagi pula, Haruno Sakura, aku tidak tahu dimana pernah bertemu wanita itu."

"Paman Sasuke! Sarada terjatuh!" Teriak Boruto.

Pria itu bergegas ke arah Sarada dan mengangkatnya berdiri, pipinya kotor dan luka lecet pada lututnya, Sasuke melihat ke sana-kemari dan menemukan minimarket. "Kita harus membersihkan dan mengobati lukamu." Ucap Sasuke, menggendong gadis kecil itu.

"Dasar kau Boruto, seharusnya kau menjaganya lebih baik." Ucap Naruto.

"Dia tersandung ayah! Aku tidak bisa menolongnya!" Protes Boruto.

Berjalan ke arah minimarket, Sasuke melirik gadis kecil yang tengah di gendongnya, kepikiran apa benar dia adalah anak kandungnya?

"lihatlah, dia bahkan tidak terlihat seperti orang lain, dia seperti seorang keturunan Uchiha."

Sasuke mengingat kembali ucapan ibunya saat Sarada sudah mulai tumbuh besar, mereka agak terlihat mirip, tapi Sasuke belum bisa membenarkan hal itu, dia harus melakukan tes DNA jika ingin memastikannya.

"Apa sakit?" Ucap Sasuke.

"Hn, sedikit perih." Jawab Sarada.

"Ayah, aku mau es krim." Ucap Boruto.

"Ah, iya-iya." Ucap Naruto.

Mendatangi sebuah minimarket, Sasuke membeli air mineral dalam kemasan botol dan beberapa plester, mendudukkan gadis kecil itu di kursi yang sengaja di tata di depan area minimarket, membersihkan luka Sarada dan memberinya plester, pipinya sedikit kotor, Saske mengambil sapu tangannya dan membersihkan wajah gadis itu, kegiatannya terhenti, menatap baik-baik Sarada di hadapannya, sejujurnya tidak ada hal yang membuat mereka berbeda kecuali jenis kelamin, rambut hitam, mata onyx, wajah putih dan juga dia sangat jenius.

"Ada apa paman?" Ucap Sarada, dia sadar jika Sasuke terus menatapnya.

"Tidak, apa merasa lebih baik?" Ucap Sasuke, mengusap perlahan puncuk kepala gadis kecil itu.

"Iya, perihnya berkurang." Ucap Sarada.

"Sarada, aku membelikanmu es krim." Ucap Boruto, memberikan es krim pada Sarada.

"Terima kasih." Ucap Sarada. Mengambil es krim yang di berikan Boruto.

"Dari pada kau terus memikirkannya, sebaiknya kau lakukan saja." Ucap Naruto, duduk di salah satu kursi.

"Ah, baiklah, aku akan melakukannya." Ucap Sasuke, keputusan akhir, dia harus mengetahui yang sebenarnya.

"Apa yang sedang di bicarakan paman Sasuke dan ayahku?" Bisik Boruto pada Sarada.

"Aku juga tidak tahu." Bisik Sarada.

Kedua anak itu terlihat bingung, tidak mengerti dengan ucapan ayah-ayah mereka, Naruto pun ikut penasaran dengan hasilnya tes itu.

.

.

TBC

.

.


update jugaaa... hemmpp...~ author sedang malas ngetik jadi akhir-akhir ini ficnya selalu lama update, biasanya kan semingguan udah update atau nggak, malming ada update, ehehehehe, jari kriting mulu kalau lagi mau update, di balap kerjanya sampai ada typo, kurang kata, dan sebagainya, eheheh... tolong tandai typo yaa, kalau tidak keberatan XD.

oh iya, siapa yang kesal dengan abang sasu di chapter ini...? *author angkat tangan tinggi-tinggi* udah mau ngelamar eh di usir, hahahaha, jahat sumpah, jahat bangeet! hahahahha

nggak ada mau bahas apa-apa, author balas review aja yaa.. XD

.

.

dina haruno : udah update, tapi nggak kilat, mafianya udah update dan tamat yoo...

Amamiya Rizumu : sudah di perbaiki, tapi entah ada yang lewat lagi, mungkin, XD, bukan mau cepat-cepat di tamatin sih, emang fic ini fic yang singkat, soalnya udah awal-awal publis, ngomongnya ini fic pelarian kalau sedang jenuh, hehehe, oh iya, pertanyaannya udah di jawab di chpater ini yoo.

Jamurlumutan434 : makasih, sampai terhanyut yaa baca fic ini XD update.

Dark Sakura : Authornya nggak di kangenin(?) Hahahah

Guest : udah update yoo,,, gara-gara author update pake laptop, biasanya yang ngg loggin, 'guest' tidak kebaca, tapi kalau lihat lewat app kebaca siapa yang review XD.

PantatAyam BerJidatLebar : udah author lanjut :)

matarinegan : biar bisa ngecek data pendonornya, sampel darahnya bisa di ambil buat di pake tes DNA :)

wowwohgeegee : update lagi..

Shinju Hyuuga : eh? kenapa? darah emang lebih kental? hahaha, ini kok mau di samain dengan air XD.

suu : update..

haru no ran : sudah di jawab di chapter ini, tapi untuk saku, ehehehe, sara emang anak saku, dan bagaimana dengan sasu... jengge jengg (suara musik)

penpalkyuun : baru bisa update lagi.

vitri : makasih, hurt comfort yaa? uhmm... kalau punya ide fic, coba deh PM ke author saja, mungkin yaa kalau ada waktu bisa di buatin, tapi nggak bisa janji XD

Guest : pertanyaannya udah di jawab di chapter ini. gara-gara author update pake laptop, biasanya yang ngg loggin, 'guest' tidak kebaca, tapi kalau lihat lewat app kebaca siapa yang review XD

.

.

okey, udah gitu aja, makasih... udah di beri semangat buat update :)