Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
.
.
Don't Like Don't Read !
.
~ Another cherryblossom ~
.
[ Chapter 9 ]
.
.
Rumah sakit Konoha.
Sasuke dan Naruto segera mendatangi rumah sakit untuk memeriksa tes DNAnya, gadis kecil itu sedikit takut, jarinya di pegang oleh seorang suster dan sebuah alat yang terlihat seperti pulpen di tempatkan pada jarinya, tersentak, gadis kecil itu tidak tahu jika itu adalah alat untuk mengeluarkan darah dari jarinya, suster itu berbicara ramah pada Sarada, sekedar menenangkannya saat darahnya di ambil.
Selanjutnya Sasuke, suster itu jadi malu sendiri saat harus memegang jari pria tampan di hadapannya, sementara itu dia ruang tunggu, Boruto bersama ayahnya sedang menunggu, setelah pengambilan darah selesai, suster itu akan membawanya ke ruang pemeriksaan.
"Hasilnya akan bisa di ketahui besok, anda bisa datang kembali." Ucap suster itu.
"Hn, baiklah, terima kasih." Ucap Sasuke.
Sarada pamit sopan pada suster itu dan berjalan bersama Sasuke keluar ruangan pengambilan darah.
"Untuk apa suster itu mengambil darahku?" Ucap Sarada, dia tidak memahami hal ini.
"Hanya cek kesehatan." Bohong Sasuke.
"Paman juga?"
"Ya begitulah, akhir-akhir aku sangat lelah." Ucap Sasuke, kali ini dia sedikit berbohong, tapi tidak untuk masalah kesehatannya, dia sedang lelah untuk masalah pekerjaan dan masalah yang sedang di pikirkannya.
"Bagaimana?" Ucap Naruto.
"Besok hasilnya akan keluar." Ucap Sasuke.
"Hoo, sebaiknya kita pulang, anak-anak juga sudah lelah." Ucap Naruto.
Ucapan Naruto malah di salah artikan oleh beberapa orang yang berada di rumah sakit, mereka semacam pasangan yang tengah bersama anak-anak mereka, Sasuke tidak peduli akan tatapan aneh mereka dan Naruto tidak menyadari apapun.
.
.
.
.
.
Esoknya, kembali mendatangi rumah sakit sebelum menjemput Sarada, Sasuke sedang menunggu hasil tes di ambil oleh seorang dokter.
"Apa anda sedang mengetes jika dia bukan anak anda?" Ucap seorang pria, dia adalah dokter dan hanya membuat Sasuke bingung. "Hahaha, maaf, beberapa pria sering datang untuk sekedar mengecek tes DNA mereka, mereka selalu kepikiran jika anak mereka bukan anak kandung, biasanya pemikiran akan istri mereka yang berselingkuh tanpa di ketahui." Sasuke hanya terdiam, semua yang di ucapan dokter itu tidak membuatnya tertarik, lagi pula dia belum memiliki seorang istri dan ingin memergokiknya jika tengah selingkuh.
"Langsung saja, aku sedikit terburu-buru." Ucap Sasuke, dia tidak ingin ada pembicaraan bertele-tele lagi.
"Ini hasil tesnya, gadis kecil yang bernama Sarada itu benar anak anda, tidak perlu lagi berpikiran jika istri anda sedang selingkuh." Ucap dokter itu dan tertawa pelan.
Ingin sekali Sasuke menonjok dokter di hadapannya itu, tapi masih di tahannya, hasil tes di selembar kertas itu cukup membuat pria ini terkejut, dia tidak menyangka jika benar, Sarada adalah anak kandungnya, terlintas satu pertanyaan, bagaimana bisa dia dan Sakura memiliki anak jika mereka tidak pernah melakukannya? Sasuke semakin di buat bingung.
"Terima kasih atas bantuannya, dokter." Ucap Sasuke dan pamit.
Tepat jam pulang Sarada, di sana Naruto sedang menunggu, menjaga Sarada, Sasuke sedikit terlambat, mendapati macet di pertengahan perjalanan.
"Kau sudah mengeceknya?" Bisik Naruto.
"Hn." Gumam Sasuke, menatap ke arah Sarada yang terlihat santai menatapnya.
"Jadi?" Ucap Naruto, dia pun sangat penasaran.
"Ah, itu benar." Ucap Sasuke, raut wajahnya terlihat bingung, ada helaan napas di sana.
"Bagaimana bisa!" Teriak Naruto, hal ini cukup membuatnya sangat terkejut.
"Ayah, kau sangat berisik, apa yang sedang kalian bicarakan?" Ucap Boruto, penasaran dan ingin ikut campur.
"Bukan apa-apa, sebaiknya kau antar dulu Sarada, kita akan bertemu setengah jam lagi di kafe A." Ucap Naruto.
"Hn."
Mereka berpisah dan mulai mengantar anak-anak mereka. Di perjalanan, Sarada menatap serius ke arah Sasuke, seperti ada yang sedang di sembunyikannya bersama ayah Boruto, pembicaraan mereka tidak di begitu mengerti.
"Apa ada masalah?" Tanya Sarada.
"Hmm, masalah kantor, aku sedang membangun sebuah proyek bersama Naruto." Bohong Sasuke.
"Hoo, kalian begitu aneh, paman Naruto juga aneh, dia terlihat sangat kaget tadi." Ucap Sarada.
"Bukan apa-apa, tenanglah semua dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Sasuke.
Sarada menatap ke sisi jendela, sesekali Sasuke akan melirik anak gadis itu, masih merasakan tidak percaya jika dia bersama anak kandungnya sendiri selama ini, terlintas kembali surat dari Sakura, permintaan Sakura yang sungguh konyol dan berakhir dia harus memikirkannya dengan begitu keras.
Tiba di rumah, Sasuke hanya mengucapkan harus kembali ke kantor. Menatap Sarada cukup lama sebelum melajukan mobilnya, sebuah usapan pelan di puncuk kepala Sarada.
"Aku akan cepat pulang, tunggulah di rumah." Ucap Sasuke.
"Hn, hati-hati di jalan." Ucap Sarada, melambaikan tangan ke arah Sasuke yang mulai melajukan mobilnya. Sebuah senyuman di wajahnya, tidak biasanya Sasuke akan mengusap-ngusap kepalanya sebelum pergi, hal ini membuatnya senang, merasakan jika Sasuke sangat menyayanginya.
.
Kafe A
Braak!
"Ini sangat mustahil!" Ucap Naruto, memukul meja dan membuat pelanggan lain yang ada di kafe itu cukup terkejut.
"Hey, kau sungguh berisik." Tegur Sasuke, melirik beberapa orang yang menatap kaget ke arah mereka.
"Ah, maaf-maaf, tapi aku sama sekali tidak percaya akan hal ini, kapan kalian melakukannya? Ingat kembali! Sarada tidak mungkin ada jika kalian tidak melakukannya bersama." Ucap Naruto, tidak habis pikir dengan keadaan ini.
"Tenanglah, kau hanya membuatku pusing." Ucap Sasuke, dia masih berpikir dan mencoba mengingat hal yang telah berlalu, tapi tetap saja di tidak mengingat pernah melakukannya bersama Sakura.
"Kemungkinan hanya ada dua hal yang terjadi." Ucap Naruto, berusaha menyimpulkan apa yang tengah di pikirkannya.
"Apa?"
"Pertama, Sakura sengaja membuatmu pingsan dan melakukannya, apa kau pernah ke sebuah bar dan pergi minum-minum hingga mabuk." Ucap Naruto.
"Aku tidak pernah ke bar sendirian, jika tidak bersamamu, dan yang mabuk itu adalah kau." Ucap Sasuke, menatap malas ke arah Naruto, dia yang paling cepat mabuk.
"Heheheh, sepertinya opsi pertama salah, bagaimana dengan kedua, kau melakukannya bersama Sakura tanpa kau sadari." Ucap Naruto.
"Pertanyaannya, dimana aku bertemu Sakura, sadar bodoh." Ucap Sasuke.
"Maka dari itu, kau harus mengingatnya! Kau sungguh keterlaluan, membuat seorang wanita hamil dan kau tidak sadar." Ucap Naruto.
"Sial, kecilkan suaramu." Ucap Sasuke, berharap tidak ada yang mendengar ucapan dari Naruto, pria yang duduk di hadapannya itu sungguh berisik, orang-orang akan salah paham dengan ucapan Naruto.
"Untuk saat ini, hal yang terpenting adalah Sarada anakmu, bukan kah hal itu sungguh luar biasa? Kau bersamanya selama ini, uhm... ini seperti sebuah takdir, anak dan ayah di pertemukan." Ucap Naruto.
"Aku sampai tidak bisa berbicara apa-apa lagi, gadis kecil yang aku rawat selama ini adalah anakku." Ucap Sasuke, sedikit rasa senang di hatinya, jika Sarada bagian dari Uchiha.
"Pantas saja kalian begitu mirip." Ucap Naruto.
"Ibuku bisa membunuhku jika tahu aku melakukan hal ini." Ucap Sasuke, mengingat kembali saat dia membawa Sarada, Mikoto sampai menatap tajam ke arah Sasuke jika anaknya melakukan hal tidak senonoh hingga memiliki anak dari wanita yang entah siapa.
"Hahahaha, kau pantas mendapatkannya." Ucap Naruto, tertawa girang.
"Aku akan membunuhmu duluan." Ucap Sasuke, memicingkan mata ke arah Naruto.
"Ha-hanya bercanda. Hehehe, jadi? Aku rasa kau harus mencari Sakura, dia mungkin bisa menjelaskan sesuatu, apa kau tidak penasaran dengan hal ini? Bagaimana kalian bisa bertemu dan akhirnya Sarada ada, uhm.. aku juga penasaran." Ucap Naruto. Melipat kedua tangannya ke dada dan mengangguk perlahan.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi." Ucap Sasuke, mengalihkan tatapannya.
"Jangan egois seperti itu? Tidak mungkin Sakura meminta hal ini padamu jika dia tidak punya alasan tertentu, atau awalnya Sakura hanya ingin memastikan jika kau adalah ayah Sarada, apa Sakura itu wanita penghibur?" Ucap Naruto.
"Semuanya tidak ada penjelasan sama sekali, tapi satu hal yang bisa aku pastikan, Sakura, bukan wanita penghibur." Tegas Sasuke.
"Kenapa kau begitu yakin jika dia bukan wanita penghibur?" Ucap Naruto.
"Sekedar melihat sikap wanita itu." Ucap Sasuke.
"Aku tidak percaya jika kau pandai menebak hanya dari sikap seseorang." Ucap Naruto.
"Ah, sudahlah, aku akan kembali ke kantor." Ucap Sasuke.
"Sebagai sahabatmu, aku hanya bisa memberi saran, carilah Sakura, kau butuh semua penjelasan darinya dan turunkan sedikit egomu." Ucap Naruto dan tersenyum.
Tidak ada jawaban berarti dari Sasuke, pria itu pamit dan bergegas pergi, hari ini pikirannya campur aduk, senang, kecewa, bingung, semua membuatnya harus memikirkan kembali Sakura yang perlahan-lahan ingin di lupakannya.
.
.
Jam 4 sore.
Mobil Sasuke sudah terpakir rapi dari garasi, berjalan masuk, seorang anak kecil berlari ke arahnya dan terlihat senang, Sasuke pulang lebih cepat dari biasanya, merebah diri di sofa, melihat gadis kecil itu membuat ruang tamu sedikit ramai dengan buku-buku yang tebarnya, dia sedang asik membaca.
"Membaca lagi?" Ucap Sasuke.
"Uhm, buku dari Sakura-sensei sangat bagus, aku menyukainya." Ucap Sarada.
Sasuke terdiam, gadis itu masih sering menyebutkan nama wanita itu, dia tidak bisa melarangnya, meskipun Sarada sudah di peringati, gadis kecil itu masih tetap membicarakan gurunya.
"Apa kita tidak bisa bertemu lagi dengan Sakura-sensei?" Ucap Sarada.
"Sarada-"
"-Ah, maaf, aku lupa, aku tidak akan membahasnya." Ucap Sarada, dia selalu lupa akan teguran Sasuke, wajah gadis itu menunduk. Sasuke tidak senang melihat hal ini.
"Kemarilah." Pinta Sasuke, lembut.
Gadis kecil itu berjalan perlahan hingga berdiri di depan Sasuke yang masih duduk di sofa, onyx ketemu onyx, Sasuke melihat bayangan dirinya ada pada Sarada, wajah ketika ayahnya sedikit menentangnya dan dia akan terlihat seperti itu, menghela napas perlahan.
"Maaf, aku tidak akan melarangmu untuk membicarakannya lagi." Ucap Sasuke.
"Paman Sasuke tidak akan marah?" Ucap Sarada, hati-hati.
"Hn, tidak akan marah." Ucap Sasuke.
"Jika aku meminta Sakura-sensei kembali, kau bisa melakukannya untukku?" Ucap gadis itu, menatap penuh harap pada Sasuke.
"Itu tidak akan terjadi Sarada, Sakura sudah meninggalkan Konoha." Ucap Sasuke.
Wajah gadis itu terlihat sedih, tapi di terus menahan diri dan memendam perasaannya itu, hal yang ingin di lakukannya sekarang bertemu Sakura, dia sangat merindukan sosok wanita lembut dan penyayang itu, Sarada tidak menginginkan wanita lain bersanding dengan Sasuke selain Sakura.
"Aku harap Sakura-sensei tidak kembali pada bibinya." Ucap Sarada.
"Kenapa kau berucap seperti itu?" Ucap Sasuke, sedikit bingung dengan ucapan gadis kecilnya.
"Asal paman tahu, punggung Sakura-sensei penuh bekas luka, aku yakin Sakura-sensei berbohong padaku, Boruto juga sangat nakal, tapi paman Naruto tidak pernah memukulnya, kata Sakura-sensei, dia sedikit nakal dan mendapat bekas luka itu." Ucap Sarada.
"Benarkah seperti itu? Lalu apa Sakura mengatakan dimana tempat tinggal bibinya?" Ucap Sasuke, ini membuatnya ikut penasaran, Sakura memiliki sanak keluarga, tapi hanya bibinya, Sasuke berharap mendapat sedikit informasi.
"Sakura-sensei tidak mengatakannya, mereka sudah berpisah cukup lama, aku tidak ingin Sakura-sensei kembali pada bibinya dan dia akan mendapat hukuman lagi." Ucap Sarada.
"Sakura akan baik-baik saja, dia wanita yang pandai, dia tidak akan kembali pada bibinya, aku yakin itu." Ucap Sasuke, membelai perlahan puncuk kepala Sarada.
Sasuke berharap bisa menemukan tempat tinggal keluarga Sakura itu, dia mungkin akan mendapat sedikit informasi Sakura berada di mana, Sasuke tidak ingin sibuk dalam masalah ini, tapi dia pun butuh sebuah penjelasan, kenapa Sarada bisa menjadi anak kandungnya, menatap gadis kecil itu yang terdiam di hadapannya, sebuah pelukan hangat di berikan pada Sarada.
"Berhenti memanggilku 'paman' dan kau bisa memanggilku 'ayah'." Ucap Sasuke. Gadis kecil dalam pelukannya sedikit terkejut, kenapa tiba-tiba Sasuke memintanya untuk memanggil 'ayah'.
"Kenapa?" Ucap Sarada.
Pelukan mereka melonggar, Sarada menatap mata Sasuke, mata itu terlihat melembut padanya, gadis kecil ini belum memahami apa pun, Sasuke tersenyum begitu saja.
"Karena aku adalah ayahmu dan kau adalah anakku." Ucap Sasuke.
"Aku memang anak angkat paman Sasuke kan?" Ucap Sarada dan terkekeh.
"Suatu saat kau akan memahaminya." Ucap Sasuke.
"Sekarang pun aku sudah paham." Ucap Sarada dan tersenyum, dia tidak menyadari apapun, selain statusnya bersama Sasuke adalah ayah angkat.
.
.
.
.
.
Perusahaan Uchiha.
"Apa! Sa-Sarada anakmu! Bagaimana bisa ini terjadi!" Teriak Itachi. Sasuke sampai harus menutup kupingnya rapat-rapat, kakak tertuanya itu cukup berisik.
"Aku tidak tahu, setelah tes DNA dan hasilnya, benar, Sarada adalah anak kandungku." Ucap Sasuke, pada akhirnya dia menceritakan ini pada Itachi, Sasuke sudah mulai tidak mendapat pencerahan apa-apa lagi untuk masalah ini, hanya kakaknya yang bisa dia andalkannya sekarang.
"Ibu bisa membunuhmu jika tahu masalah ini, kau menghamili anak siapa Sasuke?" Ucap Itachi, dia sampai syok mendengar ucapan adiknya sendiri.
"Sakura, tapi aku sungguh tidak menyadari akan hal ini, aku tidak tahu kapan kami bertemu dan melakukannya, ini membuatku gila, aku bahkan baru bertemu dengannya saat menjadi guru Sarada." Ucap Sasuke.
Itachi menatap Sasuke, memperhatikan adiknya itu baik-baik, dia tidak terlihat sedang berbohong, raut wajahnya terlihat kebingungan, Itachi bisa membaca semua pada ekspresi Sasuke.
"Apa ini di katakan takdir? Selama ini Sarada adalah bagian dari Uchiha, pantas saja aku merasa anak itu tidak terlihat orang lain bagi keluarga kita, jadi apa yang akan kau lakukan? Kau sudah mengusir Sakura dari kehidupan kalian dan kau pun tidak menyadari perbuatanmu pada Sakura, kau sungguh konyol Sasuke, cepat cari Sakura dan kalian harus bersama kembali, kalian harus tanggung jawab dengan apa yang sudah kalian lakukan." Ucap Itachi.
"Aku tidak tahu dia sekarang berada di mana, tapi mungkin jika bertemu dengan bibinya, kita bisa menemukan Sakura." Ucap Sasuke.
"Pakai cara apapun untuk menemukannya, kau juga harus menceritakan hal ini pada ibu." Ucap Itachi.
"Ibu akan membunuhku." Ucap Sasuke, raut wajahnya jadi takut.
"Tanggung sendiri! Ahk, dasar adik bodoh." Ucap Itachi.
"Jangan mengatakan bodoh padaku!" Protes Sasuke.
"Kau pun tidak akan bisa menyembunyikan hal ini, ibu perlu tahu." Ucap Itachi.
"Kita diam saja, sepakat?"
"Halo ibu, Sasuke ingin menemui ibu sekarang." Ucap Itachi, segera menghubungi Mikoto dan membuat Sasuke serasa ingin mencekik leher kakaknya.
"Aku akan membalasmu." Ucap Sasuke, menatap horror pada Itachi, kakaknya sangat keterlaluan.
"Pergi, temui ibu, katakan yang sebenarnya." Ucap Itachi.
"Kau sama sekali tidak membantuku!" Ucap Sasuke, kesal.
"Ini akan jauh lebih baik, aku penasaran dengan reaksi ibu, tenanglah, ibu sangat menyayangi Sarada, aku rasa dia akan sangat senang." Ucap Itachi dan tersenyum.
.
Kediaman Uchia.
Plaaakk..!
Satu tamparan keras tepat mengenai pipi kiri Sasuke, Mikoto terlihat marah, Sasuke tidak menyangka jika akhirnya dia akan menginjakkan kakinya di kediaman ini lagi.
"Ibu membesarkanmu untuk menjadi pria yang baik-baik, kenapa kau melakukan hal ini pada wanita itu!" Ucap Mikoto.
"Ibu, aku-"
"-Tidak Sasuke, kau tidak perlu mengucapkan apa-apa lagi, ibu hanya kecewa padamu, bukan karena Sarada, kau harus mengembalikan Sakura, mau bagaimana pun juga, mereka anak dan ibu, kau tidak bisa memisahkan mereka begitu saja." Ucap Mikoto.
Sasuke merasa sedikit lega, ibunya marah bukan karena perbuatannya yang entah itu bagaimana terjadi, tapi hanya sedikit, Mikoto marah dengan tindakan Sasuke yang mengusir Sakura begitu saja, ini sedikit menjawab rasa penasaran Mikoto saat Sakura tidak lagi menjenguk Sarada.
"Ibu akan mengambil Sarada jika kau tidak menemukan Sakura." Ancam Mikoto.
"Aku tidak tahu dia berada dimana." Ucap Sasuke.
"Kau harus mencarinya, terserah menggunakan cara apa, tanggung jawab atas perbuatamu padanya." Ucap Mikoto, Sasuke merasa dia sudah mendengar ucapan itu dua kali.
"Tapi bu, aku sudah katakan tadi, aku tidak tahu kapan kami melakukannya." Ucap Sasuke.
"Dasar para lelaki, ketika sudah mendapat masalah seperti ini, hanya ingin lari dari tanggung jawab." Ucap Mikoto.
Sasuke merasa ucapannya tidak di dengar baik, ibunya terus menyalahkannya, ini membutnya tambah pusing, dia harus mencari Sakura yang entah berada di mana.
.
.
.
.
.
Berbekal pengaruh besar dari keluarga Uchiha, beberapa orang terpercaya Sasuke berhasil menemukan wanita tua itu, satu-satunya keluarga Sakura, namun tempat tinggalnya kosong, salah seorang tetangga mengatakan jika wanita yang menempati rumah itu di bawa ke rumah sakit jiwa, dia mengalami depresi berat, kadang mengamuk, berteriak dan mengganggu warga sekitar. Sasuke mendatangi rumah sakit itu hanya untuk mendapatkan informasi di mana Sakura berada.
"Maaf, kami hanya bisa memberimu beberapa menit untuk berbicara dengannya, wanita itu sungguh sulit di tangani." Ucap seorang perawat pria yang mengawasi wanita tua itu.
"Hn, aku hanya sebentar saja." Ucap Sasuke.
Perawat itu mulai mengantar Sasuke ke sebuah ruangan untuk menjenguk, di sana wanita tua itu sudah di ikat di sebuah kursi demi keamanan.
"Tolong jangan berbicara sesuatu yang membuatnya kembali depresi, dia sedang dalam tahap pengobatan."
Sasuke hanya mengangguk dan mulai duduk di kursi yang berhadapan dengan wanita itu, ada dua orang petugas keamanan yang berjaga di dalam ruangan.
"Aku tidak mengenalmu, siapa kau?" Ucap wanita itu.
"Aku tidak akan banyak bicara, bisa katakan satu hal, dimana Sakura berada?" Ucap Sasuke.
"Sakura? Siapa? Aku tidak kenal Sakura." Ucap wanita itu, dia tertawa terbahak-bahak, Sasuke menatap malas wanita di hadapannya itu, dia sedikit kesulitan dengan gangguan jiwa dari wanita ini.
"Aku dengar, kau adalah bibinya, mana mungkin kau tidak mengenalnya." Ucap Sasuke.
"Hahahahahahaha, oh iya, keponakan tersayangku, aku sedikit ingat padanya, dia sungguh tidak memiliki sopan santun terhadapku." Ucap wanita itu.
"Katakan dia dimana?" Ucap Sasuke, dia tidak ingin berlama-lama menghadapi wanita gila ini.
"Jangan bertanya padaku, dia pergi, pergi begitu saja, dia tidak pernah ingin membalas jasa-jasaku padanya, sungguh keterlaluan, dia marah hanya gara-gara aku membuang anaknya, hahahaha sungguh konyol, anak itu hanya akan membuat hidupnya susah, seharusnya dia berterima kasih padaku bukan meninggalkanku begitu saja!" Wanita itu mulai hilang kendali, dia terdiam sejenak. "Arrrggh! Biarkan aku pergi! Ini dimana! Kenapa mereka mengikatku! Kenapa! Kenapa!" Dia menjadi histeris, mengamuk pada kursi itu, beberapa petugas mulai memanggil perawat, jam besuk Sasuke berakhir, wanita itu segera di bawa kembali ke dalam ruangannya, pria ini tidak mendapat apa-apa tentang keberadaan Sakura, namun satu hal yang pasti alasan Sarada di buang adalah karena ulah wanita tua itu, Sasuke sedikit menyesal akan perbuatannya pada Sakura, dia tidak seharus mengusir Sakura dan membuatnya pergi begitu saja.
.
.
.
.
.
1 tahun berlalu.
Hari kelulusan Sarada, Sasuke tidak menyadarinya jika gadis kecilnya sebentar lagi memasuki sekolah dasar, sedikit bangga, mendapat gelar murid terbaik di Tknya. Mikoto, Itachi, dan Izumi turut mendatangi sekolah Sarada saat acara perpisahan, sekolah itu menjadi ramai dengan para orang tua menyambut anaknya setelah mendapat ijasah.
"Kau akan lanjut di mana?" Ucap Boruto pada Sarada.
"Mungkin sekolah yang tidak begitu jauh dari rumah, aku tidak ingin merepokan ayahku." Ucap Sarada, dia mulai terbiasa memanggil Sasuke dengan sebutan 'ayah'.
"Kita akan akan bertemu di sekolah yang sama." Ucap Boruto dan tersenyum, seperti sebuah senyuman yang tidak jauh beda dengan ayahnya.
"Selamat kak Sarada, aku membelikan bunga ini untukmu." Ucap Himawari.
"Terima kasih." Ucap Sarada, mengambil bunga yang berikan Himawari.
"Aku? Kau pasti tidak melupakan kakakmu ini kan Hima." Ucap Boruto.
"Aku tidak membelikan kakak bunga." Ucap Himawari.
"Kau sungguh jahat Hima." Ucap Boruto.
"Hehehe, bercanda, ini bunga untuk kakak." Ucap Himawari, mengambil buket bunga yang di bawa Hinata.
"Haa..~ kau adik yang sungguh manis Hima." Ucap Boruto, dia terlihat sangat senang dengan pemberian bunga dari adiknya.
Para orang tua sudah kembali setelah berbicara dengan guru dan kepala sekolah. Sarada, Boruto dan Himawari terus memandangi seorang bayi laki-laki, umurnya sudah 1 tahun 9 bulan. Wajahnya hampir mirip Sarada, dia adalah anak dari Itachi dan Izumi, kakak ipar Sasuke itu akhirnya berhenti dari statusnya yang seorang model saat menyadari dirinya sedang hamil, Itachi begitu senang mendapat kabar itu dan sekarang, Izumi hanya akan berada di kediaman Uchiha.
"Apa dia tampan?" Ucap Izumi pada anak-anak yang terlihat gemas ingin mencubit pipi berisi bayi laki-laki itu.
"Uhm, dia sangat tampan bibi." Ucap Himawari.
Boruto memperhatikan bayi itu dan memperhatikan Sarada. "Apa kalian saudara? Anak paman Itachi sangat mirip denganmu." Ucap Boruto.
"Tentu saja, Sarada itu kakaknya loh." Ucap Izumi dan tersenyum, dia pun jarang bertemu Sarada dan sekarang dia bisa bertemu gadis kecil yang sudah sangat besar itu.
"Kakak bodoh yaa, keluarga itu akan terlihat mirip, kakak dan aku juga mirip." Ucap Himawari.
"Apa? Aku tidak bodoh." Protes Boruto.
Izumi hanya tertawa melihat tingkah mereka, dia pun tidak sabar jika anaknya nanti akan seperti mereka, berjalan dan berbicara padanya, menatap putranya itu, dia tertawa saat melihat ibunya menatapnya.
"Biar aku yang menggendongnya." Ucap Itachi, Izumi membiarkan Itachi menggendongnya.
"Bersiaplah, kita harus mengabadikan hal yang bahagia ini." Ucap Naruto, terlihat begitu bersemangat, mengambil sebuah tripot dan menaruh kameranya di sana, menyetel waktu dan semuanya sudah berkumpul, dari keluarga Uchiha dan Uzumaki.
Cekreek.
Mengambil beberapa foto, foto bersama, foto masing-masing keluarga besar, foto Sarada, Boruto, dan Himawari, beberapa foto lainnya dan terakhir, foto Sasuke bersama Sarada.
Hanya ada kecerian di wajah mereka hingga sebuah mobil sedan hitam berhenti, Sasuke dan Itachi terdiam, mereka sangat hapal dengan mobil dengan plat nomer yang tertera pada mobil itu, seorang pria turun dan membawa sebuah buket bunga. Mikoto tidak percaya jika suaminya akan datang di saat kelulusan Sarada.
Pria itu masih berjalan, tatapannya hanya fokus pada Sarada, gadis kecil itu menyadarinya, dia menjadi tidak enak menatap Fugaku dan hanya menundukkan wajah.
"Selamat untukmu." Ucap Fugaku dan memberikan buket bunga yang di bawanya.
Sarada mengangkat wajahnya, pria itu sedikit berjongkok untuk menyamai tingginya dengan Sarada.
"Terima kasih, kakek." Ucap Sarada dan tersenyum.
"Jadilah yang terbaik sebagai seorang Uchiha." Ucap Fugaku, mengusap perlahan puncuk kepala Sarada dan segera berdiri.
"Aku tidak tahu jika kau akan datang." Ucap Mikoto menghampiri Fugaku.
"Dia mendapat kelulusan terbaik, jelas dia harus mendapat ucapan terbaik juga." Ucap Fugaku.
Itachi dan Sasuke hanya memandang penuh kebingungan ayah mereka itu, dia tidak terlihat seperti biasanya, sikap arogan dan tegasnya menghilang begitu saja, membuat mereka kepikiran akan sikap ayahnya yang berubah.
"Apa yang terjadi pada ayah?" Bisik Sasuke, dia tidak berada di kediaman dan berharap bisa mendapat penjelasan dari kakaknya itu.
"Aku juga tidak tahu." Bisik Itachi.
"Senang bertemu denganmu lagi, Paman Fugaku." Ucap Naruto dan berjabat tangan.
"Hn, senang bertemu denganmu lagi, Naruto, kau semakin hebat saja." Ucap Fugaku.
"Ah, tidak juga." Ucap Naruto dan tersipu malu.
"Aku harap ada pengambilan foto ulang." Ucap Mikoto.
"Biar aku yang melakukannya." Ucap Naruto.
Fugaku memasang wajah malasnya, dia tidak begitu suka untuk di foto, Mikoto memaksanya, merangkul lembut lengan suaminya, kembali Keluarga Uchiha itu berfoto bersama.
Kegiatan di halaman TK berakhir saat Fugaku mengundangan keluarga Uzumaki untuk merayakan hari ini bersama di salah restoran keluarga yang sudah di pesan Fugaku. Beberapa makanan sudah di hidangkan, terlihat seperti sebuah rumah, restoran ini berdesain satu ruangan bergaya rumah tradisional dengan pemandangan halaman yang terdapat kolam ikan koi, beberapa pepohonan yang rindang, batu-batu putih yang di susun rapi.
Sedikit memanfaatkan waktu untuk berbicara bisnis bersama, Mikoto masih bisa berbicara dengan Hinata dan Izumi, anak-anak sibuk dengan mencicipi beberapa makanan.
"Hati-hati, ini masih panas." Ucap Sasuke, mengambilkan sup untuk Sarada. Gadis itu mengangguk pelan dan membiarkan Sasuke menaruh mangkuk supnya.
Boruto menatap Sasuke dan mengangkat mangkuknya, dia pun ingin mendapat sup yang sama dengan Sarada. Naruto malah sibuk berbicara dengan Fugaku. Hinata menegur Boruto untuk lebih sopan pada Sasuke, namun pria itu tidak keberatan, dia sudah terbiasa dengan sikap Boruto yang seperti Naruto, mereka berdua sangat mirip, dulunya saat Sasuke dan Naruto masih anak sekolahan.
Saat bersantai selepas makan bersama, hanya ada tiga anak kecil tapi mereka begitu ramai untuk sekedar bercerita dan bermain kejar-kejaran, setelah puas bermain, mereka kembali menatap anak Izumi yang sedang di beri makan bubur, tiba-tiba menyembur dan membuat wajah mereka penuh bubur, terdiam sejenak, saling berpandangan dan hanya ada tawa lepas dari ketiga anak kecil itu, para orang dewasa yang menatap mereka ikut tertawa. Hinata membersihkan wajah Himawari dan Naruto membersihkan wajah Boruto, Sasuke mulai melap wajah Sarada.
Perayaan yang di anggap sudah cukup, masing-masing dari mereka pamit dan mulai melajukan mobil mereka untuk pulang.
"Kau bisa katakan sesuatu, kenapa sampai ayah bisa datang?" Ucap Sasuke, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, perubahan akan sikap ayahnya itu membuatnya masih kepikiran, dulu ayahnya sangat menentang akan kehadiran Sarada, sekarang dia begitu baik padanya.
"Tiba-tiba kakek datang menjenguk." Ucap Sarada. Dia menceritakan saat Fugaku mendatangi rumah sakit dimana Sarada masih di rawat setelah kecelakaan, saat Mikoto sedang tidak berada di kamar inapnya, Fugaku hanya sebentar saja, menanyakan kabar dan mengucapkan cepat sembuh pada Sarada, awalnya Sarada tidak percaya, namun pria tua itu tidak berbicara kasar padanya, dia sangat senang dengan kehadiran Fugaku.
"Ayah menjengukmu?" Ucap Sasuke, dia pun tidak percaya.
"Hn, aku rasa kakek tidak begitu jahat, dia hanya orang yang sangat tegas." Ucap Sarada. "Apa kita akan kembali ke kediaman?" Lanjutnya.
"Tidak, tapi jika kau mau, aku bisa mengantarmu ke sana." Ucap Sasuke.
"Aku senang mendengarnya." Ucap Sarada. Dia terlihat begitu bahagia, tapi dia tetap tidak pernah melupakan Sakura, Sarada merasa rindu akan sosok gurunya itu, menatap ke arah Sasuke, pria itu sama sekali tidak berbuat apa-apa, Sarada ingin bertemu Sakura, namun Sasuke hanya mengatakan jika dia pun tidak tahu Sakura ada di mana.
.
.
.
.
.
Kediaman Uchiha.
"Ibu, tolong jaga Sarada." Ucap Sasuke.
"Tidak perlu kau katakan pun aku akan menjaganya dengan baik." Ucap Mikoto.
Pria ini mengantar Sarada ke kediamannya, Sasuke akan melakukan perjalanan bisnis beberapa hari, dia tidak tega untuk meninggalkan Sarada sendirian di rumah, itu hanya akan membuatnya khawatir dan tidak tenang selama bekerja.
"Cepatlah kembali." Ucap Sarada, untuk pertama kalinya Sasuke akan pergi lama dan mereka tidak akan bersama untuk sementara waktu, hal ini membuat Sarada sedikit sedih.
"Hn, aku tidak akan lama." Ucap Sasuke, berjongkok di hadapan gadis kecil itu, dulunya dia merasa jika gadis kecilnya hampir menyamai tingginya jika berjongkok, sekarang, dia sudah jauh lebih tinggi. "Kau semakin tumbuh saja." Lanjut Sasuke, mengusap perlahan puncuk kepala Sarada, sebuah pelukan dari Sarada, memeluknya sejenak sebelum pria yang sudah sangat di sayanginya sebagai ayah itu akan berangkat. "Semua perlengkapan sekolahmu berada di kamar, sementara waktu kau akan di antar." Tambah Sasuke. Sarada mengangguk. Melepaskan pelukannya, berjalan ke arah Mikoto dan menggenggam erat tangan wanita tua itu. Mikoto hanya tersenyum menanggapi sikap lucu Sarada, dia tahu jika Sarada masih tidak rela jika Sasuke pergi, selama ini mereka hidup bersama dan Sasuke jarang untuk pergi melakukan perjalanan bisnis, Itachi masih terlalu sibuk dan menyerahkan tugas ini pada Sasuke.
Sasuke pamit pada ibunya dan Izumi, Fugaku sedang di kantor, sebuah mobil sedan mulai melaju mengantar Sasuke ke bandara.
"Selama Sasuke pergi, kita akan bersenang-senang bersama." Ucap Mikoto, sedikit memberi semangat untuk Sarada, gadis kecil itu berusaha tersenyum, dia harus segera terbiasa dengan hal ini, Sasuke orang yang cukup sibuk.
.
.
.
.
.
.
Kota Kiri.
Perusahaan A.
"Silahkan-silahkan." Ucap seorang pria, dia menyambut baik seorang pria yang mendatangi kantornya secara khusus. "Sudah lama kita tidak bertemu, sekarang kau terlihat menjadi pria dewasa." Puji pria itu.
Sasuke masih mengingat jelas pria di hadapannya ini dan perbuatan kotornya, dia salah satu pria yang sengaja menambahkan sesuatu ke dalam minuman dan akan di berikan pada seorang gadis yang bekerja di hotel saat mereka tengah rapat bisnis, pria di hadapannya ini akhirnya sudah menikah dan mulai terlihat tua.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi." Ucap Sasuke, sopan, sekedar menghormati orang yang jauh lebih tua darinya.
"Tolong bawakan minuman ke dalam ruanganku." Ucap pria itu, menghubungi sekertarisnya. "Baiklah, kita mulai saja untuk perencanaan bisnis kerja sama ini." Lanjut pria itu.
Sasuke mulai memperlihatkan data proposalnya pada pria itu.
Tok tok tok tok
Seseorang mengetuk dan pria di hadapan Sasuke meminta orang itu untuk masuk saja, pintu terbuka, Sasuke sibuk memperhatikan data yang di ajukan perusahaan ini, dia akan membacanya dengan teliti agar tidak terjadi masalah dengan kesepakatan mereka, meskipun mereka orang kepercayaan ayahnya, Sasuke tetap akan mewaspadai apapun, sejak pertemuan pertamanya, Sasuke tidak pernah memikirkan jika mereka memiliki sikap yang baik.
Seorang wanita mulai menaruh perlahan dua cangkir kopi di atas meja, berhenti sejenak saat menaruh gelas kedua, dia tidak percaya jika akan bertemu kembali dengan pria yang sudah mengusirnya.
"Ah, Sakura, tolong tambahkan agendaku pada jam 7 malam, aku akan mengadakan rapat informal-" Ucap pria itu.
Sasuke berhenti membaca dan melihat wanita yang di sebutkan tadi namanya, dia pun terkejut, Sakura tidak menatap ke arahnya, dia sibuk untuk mendengar penjelasan direkturnya, wanita itu pamit setelah mendengar semua tugasnya, sepintas Sakura melirik ke arahnya, tapi dia pun sudah memutuskan untuk tidak mengganggu Sasuke, pelariannya selama ini membuatnya berusaha melupakan mereka, sedikit berat, sekarang dia harus bertemu lagi dengan pria itu.
"Ada apa Sasuke?" Ucap pria itu, Sakura sudah keluar dan menutup perlahan pintu.
"Ah, tidak." Ucap Sasuke, kembali fokus pada kertas-kertas yang di pegangnya.
"Aku pikir kau mengingat wanita itu, aku tidak sengaja bertemu dengannya di sini, dia pun mencari pekerjaan, dia wanita yang sama saat kita mengadakan pertemuan di hotel Konoha, dulunya dia gadis pelayan di hotel, sekarang di jauh lebih dewasa dan cantik."
Braak...!
Sasuke meletakkan berkas-berkas itu dengan kasar di atas meja, pria itu sedikit terkejut menatap Sasuke, wajahnya terlihat kesal.
"Maaf, aku permisi dulu." Ucap Sasuke, suasana hatinya memburuk, di tambah lagi ucapan pria yang sudah berumur itu membuat Sasuke muak.
"Oh, ba-baiklah, santai saja Sasuke." Ucap pria itu, dia terlihat bingung akan sikap Sasuke tiba-tiba.
Pria berambut raven ini berjalan lebih cepat, mencari wanita yang sudah menyajikan minuman padanya, tidak menemukan wanita itu, Sasuke terus mencarinya hingga tidak sengaja menabraknya setelah keluar dari ruangan office-boy. Sakura terlihat mengambil jarak, dia pun tidak berani menatap Sasuke.
"Aku ingin bicara." Ucap Sasuke.
"Maaf, aku sibuk." Ucap Sakura.
"Baiklah, di ruanganmu saja." Ucap Sasuke.
"Tidak sekarang." Tolak Sakura.
"Aku akan tetap memaksamu." Sasuke bersikeras.
"Aku pikir semuanya sudah jelas." Sakura menahan dirinya.
"Aku akan mendengarkannya, jadi tolong katakan saja semuanya." Nada suara Sasuke terdengar memohon.
Sakura menghela napas, mengajak Sasuke ke ruangannya, statusnya sekarang adalah seorang sekertaris, Sakura sengaja mengunci pintu ruangannya agar tidak ada orang yang tiba-tiba masuk dan mendengar pembicaraan mereka.
"Bagaimana kabar Sarada?" Tanya Sakura, mengingat sudah lama sekali mereka tidak bertemu, sejujurnya Sakura sangat merindukan gadis kecil itu.
"Dia baik-baik saja dan sudah menjadi gadis yang lebih mandiri." Ucap Sasuke.
"Senang mendengarnya." Ucap wanita itu, sedikit membuat dirinya sibuk di mejanya, merapikan beberapa kertas-kertas laporan yang menumpuk di mejanya.
"Aku tahu, kau tetap akan marah meskipun aku meminta maaf-" Sasuke terlihat menghela napas. "-Aku tidak bermaksud buruk padamu, ucapan dan kelakuanku hanya untuk melindungi Sarada, aku pikir kau akan mengambilnya setelah tahu kebenaran tentang Sarada." Ucap Sasuke, masih setia berdiri tidak jauh dari meja Sakura.
"Aku hanya menyayanginya dan sungguh saat itu pun aku tidak tahu jika Sarada adalah anak kandungku. Kau pasti tidak akan percaya dengan ucapanku ini." Ucap Sakura, wajahnya terlihat meredup.
"Aku percaya." Ucapan pria ini membuat Sakura mengangkat wajahnya, menetap tidak yakin akan ucapan pria yang mengusirnya dulu. "Aku sudah bertemu dengan bibimu dan mendengar semuanya." Lanjut Sasuke.
"Ba-bagaimana kau tahu tentang bibiku?" Ucap Sakura, tidak percaya akan hal ini.
"Sarada, dia sempat menceritakan saat kau mengatakan hanya memiliki seorang bibi, aku mendatangi kediamannya dan ternyata dia sudah di bawa ke rumah sakit jiwa, perilakunya sudah meresahkan tetangga di sekitarnya." Ucap Sasuke.
"Aku rasa dia pantas mendapatkannya." Sakura merasa sedikit senang mendengar berita itu.
"Baik, cukup basa-basinya, aku butuh semua penjelasanmu, Tentang Sarada dan kenapa tes DNAku dengannya adalah positif." Sasuke berjalan lebih dekat ke arah meja Sakura, menatap lekat-lekat wanita itu, berusaha mempecayainya dan berharap tidak ada kebohongan lagi.
"Anggap saja semua adalah kesalahanku, aku pun tidak ingin membahas dan mengingatnya kembali, kau boleh mengambil Sarada, dia lebih membutuhkanmu." Ucap Sakura, dia sudah menetapkan hatinya, tidak akan berhubungan dengan keluarga Uchiha lagi, Sarada pun akan memiliki kehidupan yang terjamin jika bersama Sasuke.
"Ini bukan tentang kesalahan atau apapun, kau harus menceritakannya, apa yang sudah terjadi antara kita berdua?" Sasuke menuntut akan kebenarannya.
"Aku hanya menolongmu, saat itu, kau pun menolongku." Ucap Sakura, menundukkan wajahnya.
"Apa aku memaksamu?" Sasuke berusaha mengingat yang sudah terjadi pada mereka, namun tidak ada satu pun ingatan antara mereka.
Sakura terdiam dan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Maaf, aku sungguh tidak mengingatnya, tapi aku ingin meminta maaf padamu, aku mungkin tidak sengaja."
"Uhm, aku tahu, kau dalam pengaruh obat yang di berikan teman-temanmu saat itu, kau kesakitan dan aku pun bingung. Sebenarnya aku ingin berterima kasih padamu, kau sudah menolongku, tapi pikiranku pun meleset, pengaruh obat itu begitu kuat dan kau hilang kesadaran, aku meninggalkanmu di kamar hotel dan kembali bekerja." Jelas Sakura, ada perasaan malu saat menceritakan masa lalu itu.
Sasuke mengingat saat dia tersadar dan sudah berada di salah satu kamar hotel, tidak ingat memesan kamar dan ingatan terakhir dia menemukan noda darah pada seprei di kasurnya, mencium aroma parfum wanita di jasnya, menyimpulkan jika darah dan aroma itu milik Sakura. Hal ini yang bisa menjadi bukti jelas jika dia pun adalah ayah kandung Sarada, terbesit rasa bersalah, selama ini Sasuke tidak menyadari apapun.
"Tanpa sadar, aku hamil setelah mengelami gejala-gejalanya, tes kehamilanku positif, aku akhirnya berhenti bekerja saat mengandung 7 bulan, tidak ada yang ingin menerima ibu hamil bekerja, setiap harinya bibiku hanya marah tentang siapa ayah dari kandunganku, aku berusaha mencarimu, ingin mengatakan hal ini saat menemukanmu di sebuah perusahaan terkenal, aku sadar, kita memiliki jarak yang cukup jauh, sedangkan bibiku? Aku sudah bisa membaca pikirannya jika tahu kau adalah ayah dari anak yang tengah ku kandung, dia akan menuntutmu habis-habisan, dia hanya akan membuatku malu, malu padamu dan keluargamu, akhirnya aku memilih diam hingga Sarada lahir, bibiku berbohong dengan mengatakan Sarada tidak selamat di saat aku hilang kesadaran." Sakura menceritakan semuanya. Awalnya Sakura cukup ragu, Sasuke seperti tidak percaya padanya, tapi ucapan pria itu membuatnya mulai berani menceritakan apapun.
"Kembalilah ke Konoha, aku akan menanggung semua perbuatanku." Ucap Sasuke.
"Tidak perlu, bahkan saat melihat Sarada tumbuh dan di rawat begitu baik olehmu aku sangat senang dan bersyukur, dia berada di tangan yang tepat, ayahnya sendiri." Ucap Sakura, berdiri, berjalan perlahan ke hadapan Sasuke, sebuah senyuman sengaja di perlihatkannya, seakan ingin memberitahukan Sasuke jika dia sudah tidak apa-apa dan merasa baik-baik saja selama Sarada ada bersamanya.
"Sarada membutuhkanmu." Sasuke terlihat memohon.
Sakura kembali terdiam, tidak ada yang bisa di ucapannya kali ini, dia pun ingin berada di sisi Sarada lebih tepatnya di sisi mereka.
"Maaf, aku harus kembali bekerja." Sakura terlihat menghela napas. "Semoga kita bertemu kembali di waktu yang lebih baik." Sakura melangkah menghampiri pintu keluar, membukanya dan seakan meminta Sasuke untuk segera pergi, entah ini keputusan dari Sakura atau ada hal yang membuatnya terasa begitu berat, Sasuke tidak memahami tentang wanita di hadapannya ini.
Pada akhirnya Sasuke mengikuti apa yang di inginkan Sakura, berjalan keluar, menatapnya sejenak meskipun wanita itu hanya menundukkan wajahnya, dia tidak berani untuk menatap Sasuke.
Pintu di tutupnya perlahan setelah Sasuke berjalan keluar, dia akhirnya bisa bernapas lega, sesungguhnya Sakura hanya berusaha menahan dirinya, 'kembali' bukanlah hal yang tepat, dia pun butuh waktu setelah apa yang telah terjadi padanya.
.
.
TAMAT
.
.
sebelumnya...mohon maaf lahir batin buat reader yang beragama islam. ^_^ meskipun amat sangat telat cuma mau katakan aja, maaf jika author suka punya banyak salah pada penulisan fic, hehehehhee
.
.
oh akhirnya, bisa update fic lagi... maafkan author yang gara-gara liburan, setelah liburan tapi malah keterusan liburan mengetik fic, hahahahahah... dan saat mau update, ya ampun... akun author tidak bisa kebuka, terpaksa verifikasi pass baru lagi =_="
kok tiba-tiba update langsung tamat?
kok chapterny dikit?
kok begini...? kok begitu...?
Yups, sesuai awal yang author sebutkan di chapter 1 fic ini memang hanya sedikit aja, alias fic yang di buat tidak banyak chapter, bukan buru-buru buat di tamatin yaa, alurnya cuma dikit aja, beberapa fic juga akan author tamatkan. jika diteruskan alurnya hanya akan membuat jenuh author dan malas untuk di lanjutkan, sejujurnya author tidak terlalu pandai membuat sebuah alur yang berlarut-larut hingga puluhan chapter, XD cepat bosan dan pasti berputar-putar saja dan author yang akan bingung sendiri. Hahahahahaha...seharusnya author update gadis kuil..., tapi entah masih sulit menemukan alur humor, susah banget yaa buat humor!
uhm... sudah yaa, mungkin itu saja, author nggak janji buat sequel, tapi mungkin bisa buatin satu chapter extra lagi, tapi nanti...
.
.
Balas review :
Sectif88 : update lagi yaa..., maaf dengan chapter yang ini.
Miko1415 : sorry kelamaan sampai nggak bisa akun XD, author udah update.
ALSKY : emang sasu ego, mau di animenya juga begitu, hahahah, sorry, nggak bisa cepat update.
R_ Akemi : udah update.
Jamurlumutan434 : namanya juga lupa, sampai akhir pun sasuke tetap lupa, tapi usaha sakura untuk jelaskan bisa di percayainya. amat sangat telat update.
CEKBIOAURORAN : nggak apa-apa, abang sasu kasar, tapi hatinya sebenarnya baik loh, dia tetap sayang saku XD
Jey Raven Blossom : update.
QueenKylie : slow update, heheheh
sitilafifah989 : sasuke egois sih.
risnusaki : alasannya... sepertinya author udah jelaskan secara tidak langsung, sasu cinta pertama saku, dan setelah akhirnya mereka bertemu kembali setelah waktu yang cukup lama, saku jadi tidak ingin melepaskan sasu, alasan sederhana memang, author juga kadang bingung beberapa cewek udah di sakiti ama pacarnya tapi masih mau aja sama pacarnya *contoh*, alasan sederhana juga bukan, hehehehe... sorry kalau nggk sesuai penjelasannya. nggk apa2 author terima semua pendapat reader, kadang emang ada reader merasa alur itu konyol banget, nggk puas apa konfliknya, tapi di situlah sebuah konflik bisa di bangun, hehehe.
dina haruno : sorry, author nggk bisa cepat update.
Rina227 : udah ketemu kok, tapi tetap kena PHP, *ketawa jahat*
Enigmalios Lotus : sabar... sabar...semua akan indah pada waktunya. eeeaa...~ kata-kata mainstrum.
ambarathefill : makasih.
wowwoh_geegee : jadi selama ini, sarada anak sasu! hahahaha, author ketawa sendiri pas ketik chapter ini... sasu..sasu... perlu di tabok tuh orang, XD
Laifa : makasih semangat yaa. akhirnya author bisa upate chapter ini.
Younghee Lee : sorry nggk bisa update cepat.
Guest : update.
cbx : ehehe, lanjut yooo.
Bluesky Lavender : sudah auhtor jawab lewat chapter ini yooo pertanyaannya.
AmmaAyden : makasih, auhtor hanya tampilkan sedikit kehidupan itachi yaa, maaf, fic ini cuma perpusat pada saku-sara-sasu, jadi suka kelupakaan si kakak yang satu itu.
JidatLebarnya PantatAyam : udah ketemu tapi terpisah lagi, hahahaha, babe fukagu author udah munculin sedikit, malas bawa2 si babe, bikin rusuh saja hahaha.
Amamiya Rizumu : haloo... seperti udah lama nggk dapat review lagi, hahahah, abisnya kelamaan update. akhirnya bisa update lagi... fic ini semogaa... semakin penasaran *ketawa jahat*
SasuSaKyung : terima kasih, author tidak suka dengan fic yang wordnya sedikit-sedikit, mungkin itu kesukaan masing-masing dari author lainnya, tapi author tidak, pengen di jelaskan sedetail-detailanya kalau perlu sampai terhanyut dalam tuh fic, yang 20K itu author nggak sadar ketik, hahaha, dan pas di baca ulang, waaah,,, ternyata cukup makan waktu lama, tapi setiap alurnya bikin pensaran dan pengennya di baca sampai kelar, hehehe, author yang alami sendiri. amin-amin, berharap terus dapat ide-ide keren untuk buat fic, sekali lagi makasih...
Nsm12ucharno : update
sarahachi : FIGHTING FIGHTING! udah update.
saskey saki : makasih udah mau baca fic ini, udah update.
penpalkyuun : hayoo nebak lagi, hahahah, masih ada eps, extra. XD
riskahasan94 : update, tentu saja ketemu, tapi akhirnya cukup jelek...
firafitriy : iya-iya, nih udah update..
suu : sorry-sorry, author udah jelaskan di atas yaaa... ini gara-gara asik liburan sampai lupa dengan fic sendiri, hahahahhaa, nggak ada masalah apa-apa, semua fic yang author buat akan tetap lanjut, nggak ada yang hiatus atau tiba-tiba di berhentikan begitu saja... nih sudah update yaa...
.
.
fiuuuuhh...~ ini author merasa kenapa reviewnya buanyak banget, ternyata ada sampai berkali-kali ngirim review heheh saking penasaraannya..., XD
.
.
okey, sudah semua... makasih buanyak yang udah review..., see yaaah,,,~ XD
fic lain nyusul...
