My Affair
.
.
Mungkin fic ini gak sesuai dengan
ekspektasi kalian.
Kalau gak suka jangan maksain diri baca ya.
.
.
Chapter 11
.
.
Sakura menatap langit yang hitam. Tanpa bulan dan bintang, mungkin juga tanpa awan. Entahlah. Sakura mendesah mengingat percakapanya dengan ibu Sasuke. Tidak, lebih tepatnya Mikoto yang bicara. Sakura hanya mendengarkan, dan sesekali menjawab jika perlu. Sakura mengakui betapa baik hatinya wanita itu. Dia tak memojokan Sakura meski tahu detil tentang Sakura. Ya, Mikoto yang mengatakan padanya bahwa wanita itu menyuruh seseorang menguntitnya sejak Sasuke selalu ribut meminta Mikoto menemui Sakura.
Sasuke benar, kau sangat manis Sakura.
Sakura tidak tahu bagaimana penilaian Mikoto padanya hingga wanita itu mampu mengucapkan kata yang mau tak mau membuat Sakura senang. Senyum simpul Sakura terukir meski masih ada keraguan di hatinya.
Aku tak bisa bilang jika keluargaku bisa menerimamu dengan baik. Tapi aku bisa memastikan kami akan memperlakukanmu sesuai dengan statusmu.
Entahlah Sakura tak bisa menyimpulkan bagaimana perasaanya saat Mikoto mengucapkanya. Tidak mungkin Sakura akan senang dengan hal itu, tapi bukankah srharusnya dia bersyukur karna Mikoto dan keluarga Sasuke lainya tidak menolaknya. Setidaknya Sakura ingin mengartikanya begitu.
Aku tentu saja sangat tak senang dengan prilaku Sasuke yang merusak rumah tangga orang lain. Tapi semuanya sudah terjadi, mungkin saja ini memang yang terbaik bagi putraku.
Sakura menghela nafas, ucapan lembut Mikoto tak bisa mencegahnya untuk merasa sangat bersalah. Sasuke pasti mendapatkan kesulitan dalam keluarganya selama ini, dan Sakura hanya sibuk pada malahnya sendiri. Sasuke begitu pintar menyembunyikan masalahnya selama bersama Sakura, atau memang Sakura yang kurang peka.
Sasuke membuat kami tak memiliki pilihan lain selain menerimamu. Karna itu aku harap kau tidak akan mengecewakanya. Kebahagiaan putraku adalah segalanya bagiku. Dan ku harap kau bukan pilihan yang salah baginya.
Sakura mendesah berat. Ini bukan lagi tentangnya dan Sasuke tapi tentangnya dan keluarga prianya. Tidak akan menjadi hal baik jika dia memaksakan kehendaknya. Hidupnya yang lalu sudah menjadi pengalaman berharga baginya.
Sakura mencoba menenangkan degup jantungnya. Malam ini dia di undang makan malam di rumah Uchiha. Tentu saja dia gugup duduk semeja dengan kedua orang tua Sasuke. Di tambah Fugaku sang kepala keluarga berwajah datar sehingga Sakura sama sekali tidak tahu apa yang di pikirka kepala keluarga Uchiha itu tentangnya.
"Sakura-chan cobalah ayam ini" Mikoto menggeser lauk itu agar lebih dekat pada Sakura. "Aku memasak banyak makanan saat Sasuke bilang akan membawamu ke sini. Kau harus mencoba ini, ah yang ini juga"
"Kaa-san, Sakura tak akan bisa menghabiskan itu semua" rajuk Sasuke. Sedangkan Sakura hanya tersenyum sopan sembari menyuap potongan kecil daging ayam ke mulutnya.
"Sasuke, Kaa-san hanya senang ada yang makan di sini selain kita"
"Makanlah dengan tenang, Mikoto" ucapan datar nan tegas Fugaku membuat suasana meja makan menjadi hening. Hanya dentingan alat makan yang beradu mengisi keheningan. Apanya yang tak bisa menerima, keluarfa ini menyambutnya dengan sangat hangat. Meski begitu Sakura kesulitan menutupi kegelisahanya.
"Ah jika Itachi dan Hana ada, mereka pasti senang bertemu denganmu Sakura" ucap mikoto. "Itachi kakak Sasuke, dan Hana istrinya" Mikoto memjelaskan sebelum Sakura bertanya.
"Ku dengar kau tinggal sendiri, di mana orang tuamu?" Tanya Fugaku. Sakura terdiam sebentar kemudian tersenyum.
"Kedua orang tuaku sudah meninggal benerapa tahun lalu" Fugaku berdehem.
"Maaf" ucap Fugaku singka. Sekilas Sakura melihat tatapan menyesal Mikoto. Mungkin wanita cantik itu tidak memberi tahu suaminya tentang Sakura secara detil.
"Tidak apa-apa" sakura merasa dirinyalah yang harus bersyukur karna keluarga Sasuke memperlakukanya dengan baik.
Makan malam berakhir, Mikoto tak membiarkan Sakura membantunya beres-beres dengan alasan sudah ada pelayan yang membantunya. Lagipula Sakura adalah tamu. Sakura tak begitu suka dengan hal itu. Seolah Mikoto membatasi keinginan Sakura untuk membaur dengan keluarga Sasuke. Tapi semoga saja itu hanya pikiran buruknya.
Sasuke menghampiri Sakura yang duduk tenang di ruang tengah. Pria itu mengecup puncak kepala Sakura dari belakang membuat Sakura sedikit terkejut. Sakura tersenyum menatap Sasuke yang duduk di sampingnya. Sakura mengalihkan pandanganya ke sekitar ruangan. Karna terlalu gugup Sakura baru menyadari jika rumah Sasuke sangat menakjubkan.
"Bagaimana kesanmu tentang keluargaku?" Sasuke meraih tangan Sakura dan mengecup punggung tanganya membuat Sakura tersenyum malu.
"Harusnya aku yang khawatir bagaimana kesan ayahmu padaku" bisik Sakura lesu.
"Kau mau menanyakanya sendiri?"
"A... apa?" Sakura sangat terkejut saat Sasuke menariknya melewati lorong dan beberapa ruangan hingga mereka sampai ke depan sebuah pintu. Sakura memandang Sasuke bertanya maksud pria itu.
"Keluarlah, temui ayah jika kau ingin tahu bagaimana kesanya tentangmu" Sasuke tersenyum jahil padanya membuat Sakura memicing tak suka.
"Kau sedang ingin mengerjaiku?"
"Sudahlah, keluar saja" Sasuke mendorong Sakura keluar ke taman belakang rumahnya di mana Fugaku berada. Sebelum menutup pintu Sasuke masih sempat melambaikan tanganya serta tersenyum jahil. Sakura bingung dengan apa yang harus dia katakan atau bagaimana seharusnya dia bersikap. Dia ingin kembali tapi onix kelam Fugaku terlanjur melihatnya. Sakura tak punya pilihan lain selain menghampiri ayah dari pria yang dia sukai itu.
"Tempat ini sangat indah" tak ada lagi yang terpikirkan selain kata itu. Tapi memang benar bahwa taman belakang kediaman Uchiha ini sangat indah. Dengan sebuah kolam kecil dengan pancuran yang terbuat dari bambu dan di huni oleh ikan koi cantik. Batu-batu yang di susun sedemikian rupa membentuk jalan setapak yang tampak aman sekaligus menawan. Jajaran pohon sakura mengelilingi taman. Sakura sangat menyukai suasana ini, tentu wajar kata indah keluar darinya.
Sakura gugup ketika Fugaku menoleh dan memandangnya dalam. Seperti mengamati Sakura lebih teliti lagi. Wajah datarnya membuat kegugupan Sakura meningkat. Sakura tak tahu harus bagaimana. Tak ada ide bagus yang masuk ke dalam kepalanya.
"Duduklah jika ada yang ingin kau katakan" Apa yang ingin Sakura katakan? Tidak mungkinkan Sakura menanyakan secara gamblang bagaimana pendapat Fugaku tentangnya.
"Sejujurnya aku tak tahu apa yang putraku sukai darimu" ucapan pertama Fugaku terasa menohoknya. Sakura juga tidak tahu apa yang Sasuke sukai darinya. "Sasuke tidak pernah melakukan kesalahan fatal. Dan bagiku, dia bersamamu yang adalah istri dari seseorang adalah kesalahan fatal Sasuke" Tubuh Sakura meremang. Perkataan Fugaku terasa benar dan menyakitinya. Mengacaukan ritme pernafasanya.
"Maaf" gumam Sakura lirih.
"Tak perlu. Aku tahu itu bukan kesalahanmu saja. Aku hanya berharap kau tidak mengulangi yang kau lakukan pada Neji. Sasuke mungkin tak akan bisa bertahan jika itu terjadi" Lagi. Sakura merasa beban berat menimpanya hingga dia merasakan kesulitan bernafas. Perbuatanya pada Neji memang bukan hal baik. Tapi Sakura tak sebodoh itu mengulang kesalahan yang sama. Lagipula dia dan Neji berbeda dengan dia dan Sasuke. Sakura yakin untuk hal ini.
"Aku tak bisa berjanji bisa menyukaimu. Aku hanya melakukan apa yang membuat putraku bahagia. Dan jika itu denganmu... ku rasa tak masalah" Rasanya sangat tak menyenangkan jika ke dua orangtua Sasuke tidak menyukainya. Sakura sudah merasakan hal yang sama saat bersama Neji. Dan Sakura tidak mau merasakanya lagi. Tapi jika itu yang harus di tanggungnya untuk bersama Sasuke, Sakura merasa bisa menanggungnya.
"Terima kasih" Sakura tersenyum menatap manik kelam fugaku dengan yakin. "Terima kasih telah membawa Sasuke ke dunia ini. Aku tak akan minta maaf karna bersamanya. Tapi aku yakin, hanya aku yang bisa membahagiakanya. Terlepas anda percaya atau tidak, Aku tak akan meninggalkanya" Sakura membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Fugaku. Sekarang dia tak akan bertanya atau mendengarkan orang lain. Sekarang dia tak akan bimbang dalam hal apapun. Karna mulai sekarang Sakura akan mendapatkan apa yang dia inginkan, bagaimanapun caranya. Sakura akan membuat orang lain tidak punya pilihan selain berkata ya padanya.
Beberapa minggu berlalu, semuanya berjalan dengan baik. Tak ada yang menjadi beban di hati Sakura lagi. Dia bisa bersikap benar-benar ceria di manapun. Termasuk di sini, tempat yang beberapa minggu di kunjunginya tanpa ada minat, hanya sebatas kewajiban.
"Akhir-akhir ini kau terlihat lebih baik. Ada hal bagus yang terjadi?" Sakura tertawa kecil sembari mengangguk.
"Maaf Tayuya-san, kemarin aku hanya pusing memikirkan masalah perceraianku" Jawab Sakura santai sembari bersiap meninggalkan ruang guru untuk pulang.
"waw" Sakura menoleh mendengar nada takjub Tayuya. Wajah wanita itu juga terlihat tak percaya.
"Apa?" Tanya Sakura kebingungan.
"Tidak. Hanya saja kau sedikit... berbeda" Tayuya mengedikan bahunya. Sakura tertawa kecil.
"Memang niatku jadi sedikit berbeda" Sakura meninggalkan Tayuya dengan senyum mengembang. Meski tidak bisa sepenuhnya tapi sedikit terbuka bukan hal buruk. Wanita itu tersenyum ramah pada Gaara saat mobil pria itu melewatinya. Gaara menghentikan mobilnya lalu mundur hingga tepat berada di depan Sakura.
"Butuh tumpangan?" Senyum menawan Gaara tersungging.
"Tidak terima kasih" bersamaan dengan ucapannya suara klakson mobil di belakang mobil Gaara berbunyi tak sabar. "Dia lebih menyusahkan daripada Neji" kekeh Sakura.
"Wah apa sekarang bisa ku panggil Haruno-san?"
"Untuk sementara"
"Ah baiklah" Gaara sedikit menyeringai melihat Sasuke sangat bersemangat menekan klakson. "Tawaran ku waktu itu masih berlaku, kau masih bisa mempertimbangkanya?" Gaara mengedipkan sebelah matanya dan menginjak gas sebelum klakson mobil Sasuke jebol karna mendapatkan tekanan terlalu besar.
"Kau sedang mencari masalah denganku?" Rajuk Sasuke ketika Sakura masuk ke mobilnya.
"Tidak" jawab Sakura cepat.
"Tapi kau berbicara pada pria merah itu sangat lama" sungut Sasuke seraya menjalankan mobilnya.
"Kau mengenalnya?"
"Dia pria penggoda" Sakura menoleh saat mendengar nada sinis Sasuke. "Apa? Kau tak percaya? dia memiliki hampir selusin wanita. Menjijikan" Sakura tertawa mendengar ucapan Sasuke. Mungkin benar Gaara menjijikan dengan selusin wanitanya. Tapi bukankah di mata orang lain mereka juga sama menjijikanya.
"Gaara tak pernah menggodaku Sasuke-kun"
"Belum. Karna itu jangan terlalu dekat denganya. Kau mengerti?" Sakura mengangguk. Dia tak mau Sasuke makin cerewet jika dia menjawab terus kata-kata pria itu.
Di sore sabtu Karin datang kerumahnya. Sakura merasa sedikit canggung karna Sasukelah yang membukakan pintu untuk wanita cantik itu. Ternyata bukan hanya Sakura, Karinpun terlihat tak nyaman dengan situasi ini. Hanya Sasuke yang terlihat tenang-tenang saja.
Mungkin karna tingkat kecanggungan yang di rasakan Karin sudah melebihi batas, wanita itu menyerahkan undangan pernikahan Ino pada Sakura lalu pulang. Sakura menatap kertas berwarna emas di tanganya dengan semyum lebar. Ternyata Ino benar-benar menikah dengan pria bermulut tajam itu.
Hari pernikahan Ino tiba. Wanita bermanik biru pudar itu terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih dengan hiasan mawar tiga dimensi berwarna pink ivory. Sakura memeluk Ino, ikut merasakan kebahagiaan sahabat pirangnya itu.
"Kau sangat cantik pig" bisik Sakura lembut.
"Panggilanmu yang membuatku jelek" Sakura terkekeh.
Sakura mengusap air matanya saat Ino dan Sai mengucapkan janji pernikahan di altar. Dia tak pernah seberuntung Ino. Wanita berambut pink itu menoleh pada Sasuke yang masih memperhatikan sepasangan pengantin baru itu. Senyum lembut terukir di bibirnya. Mungkin saja jika dengan Sasuke dia akan mengalami hal indah itu. Tatapan Sakura kembali ke depan seolah dirinya dan Sasukelah yang sedang mengucapkan janji pernikahan.
"Jika Sangat menginginkanya, aku bisa membuat hal itu terjadi pada kita besok" Bisik Sasuke di telinganya. Sakura tersenyum manis tanpa memandang Sasuke. Sakura tahu, Sasuke akan benar-benar melakukan hal itu untuknya.
Saatnya untuk berfoto bersama pengantin. Dengan Ceria Sakura menarik Sasuke ke arah pengantin. Saat itulah matanya menatap rambut oranye yang sangat di carinya sejak tadi. Karin menyembunyikanya dengan baik.
"Naruto..." Sakura berlari ke arah Naruto yang tertawa merentangkan tanganya bersiap menyambut Sakura. Hampir saja sakura mendarat di pelukan Naruto jika saja tidak ada tubuh ramping yang memeluknya.
"Ka... Karin?!" Sakura sangat terkejut melihat wanita berambut merah memeluknya erat. Karin melepaskan pelukanya dan menatap Sakura tajam.
"Wah Sakura lama kita tak jumpa ya, aku merindukanmu" Sakura dan Sasuke saling pandang mendengar nada ceria Karin yang tak sinkron dengan picingan matanya saat memandang Sakura. Terdengar tawa renyah Naruto.
"Ku pikir kau benar-benar senang bertemu Sakura" ucap Naruto berniat mendekati Sakura.
"Ah tentu saja benar. Aku ini baik hati, jadi mudah saja memaafkan kesalahnya" Karin merangkul lengan Naruto mesra. Menahan pria itu agar tak lebih dekat lagi dengan Sakura. Sakura meringis saat Karin menatap lembut Naruto lalu menatap garang ke arahnya. Seolah wanita itu mengatakan agar Sakura jaga jarak dengan Naruto.
"Lain kali kau harus memberi wanita ini rantai agar tak menyentuh Sakura, sangat riskan" Sakura mencubit pinggang Sasuke karna mengatakan sesuatu yang buruk. Dia tak mau menyulut keributan lagi dengan Karin. Sekali cukup membuatnya jera.
"Akan ku pertimbangkan" Naruto hanya tertawa kecil.
"Isssh kau ketularan sifat menyebalkannya Sakura" Desis Karin menatap Sasuke tak suka.
"Jangan membuatku mengambil Sakura darimu. Kau tak akan menang melawanku" Ucap Naruto ringan. Tapi Sakura tahu sahabatnya itu sedang mengancam Sasuke.
"Tidak akan" Sakura pikir Sasuke juga tahu.
"Apa yang kalian lakukan?" Empat orang itu menoleh ke arah suara. Ino sudah berkacak pinggang menatap tak suka ke arah mereka. Di sampjngnya Sai hanya tersenyum melihat tingkah Ino. "Kalian tak ingin berfoto denganku?" Sungut ino membuat Sakura dan yang lainya sadar tujuan awal mereka.
Ino dan Sai berdiri di tengah, sementara di samping Ino ada Sakura dan Sasuke. Naruto dan Karin berada di samping Sai. Sang fotografer meminta mereka lebih rapat hingga wajah Sakura sangat dekat dengan Ino.
"Aku harap kali ini kau akan bahagia Jidat" bisik Ino tepat di saat suara klik berbunyi. Sakura hanya tersenyum menanggapi bisikan sahabatnya yang sudah sibuk berfoto dengan teman-teman modelnya.
"Sakura..." Sakura hampir terjengkang ketika Sasori memeluknya erat. Sakura tak bisa tertawa lepas seperti biasanya saat Sasori mencium pipinya. Sorot tajam onik yang hanya berjarak beberapa langkah darinya membuat tubuh Sakura tegang. Sakura menerima pelukan pria berambut mirip Ino yang tersenyum manis padanya Saat Sasori melepaskanya.
"Jangan macam-macam dengan Saso-kun. Atau ku buat kau kehilangan si pantat ayam itu" Desis Deidara tepat di telinga Sakura. Sakura hanya meringis ngeri saat Deidara berbicara manis pada Sasori. Sebenarnya apa yang salah padanya? Kenapa hari ini dia mendapat banyak ancaman.
"Kita foto bersama, ok?" Sasori merangkul pinggang Sakura. Sedangkan Naruto dengan cepat menyingkirkan tangan Sasori dari pinggang Sakura dan menggantikannya dengan tanganya. Karna tak mau terjadi keributan Sasori merangkul bahu Sakura. Tubuh Sakura merinding merasakan tatapan mematikan dari tiga orang.
"Ano..." Sakura berniat melepaskan diri dari dua pria kesayanganya ini. Tapi keburu di potong oleh kedatangan Ino, Sai, Kiba dan istrinya yang langsung menyuruh fotografer memotret mereka. Dan berakhirlah mereka di foto dengan urutan Sasuke, Deidara, Sasori, Sakura, Naruto, dan Karin. Di depan mereka Ino, Sai, Kiba dan istrinya. Sakura tersenyum manis. Dalam hati dia bersyukur teman-temanya tak banyak menayakan alasan perceraianya dengan Neji. Mereka tetap bersikap manis pada Sakura meski Sakura yakin mereka sedikit banyak tau apa yang terjadi padanya.
"Kali ini aku maafkanmu. Lain kali jangan harap aku akan membiarkan mereka menyentuhmu" ucap Sasuke dengan nada merajuk saat mereka di perjalanan pulang.
"Aku akan berusaha" Jawab Sakura sembari terkekeh.
"Kau harus di hukum" Sasuke menepikan mobilnya. Sakura menatap bingung Sasuke yang melepaskan seatbeltnya. "Di sini sepi. Kurasa tak apa-apa melakukan hal yang iya-iya" Sasuke bergerak menghimpit Sakura. Sementara Sakura hanya diam dengan senyum yang perlahan mengembang.
"Kenapa reaksimu tak menyenangkan? Padahal aku berniat menakutimu" Sasuke duduk kembali kekursinya memasang seatbelt dan mulai menjalankan mobilnya. Sakura tertawa mendengar gerutuan Sasuke.
"Kau mengingatkanku pada kejadian beberapa bulan lalu. Kau juga melakukan hal itu"
"Begitu. Jangan khawatir, mulai sekarang aku akan melakukan banyak hal padamu" Sakura tertawa bersamaan dengan mobil yang melaju membawanya pergi. Semoga kali ini membawanya pergi ke tempat yang penuh kebahagiaan. Meski tak sesempurna kisah negri dongeng, tapi kali ini Sakuralah yang akan mempertahankan kebahagiaan agar tetap bersamanya.
Aku mencintaimu, Uchiha Sasuke.
End.
Ya ya endingnya mungkin sangat gak banget dan aneh. Entahlah, aku gak bisa bikin ending yang ok. Maafkan kelemahanku. Dan makasih banget buat yang fav, foll, review dan mungkin kalo ada silent reader. Makasih udah mau nyempetin waktu buat fic ni. Kalo ada yang belom paham, pkoknya intinya endingnya Sasu Saku. Maksa bagt gak sih aku buatnya? Kadang tuh aku suka ngusahain per scene biar gak keliatan maksa. Tapi gak tahu jadinya gimana. Intinya bye bye My Affair.
Salam Ai.
