Chapter 3

Senpai adalah orang yang bertanggung jawab.


"Kushina, kau mau yang mana?" Nagato menjulurkan kedua tangannya, tangan kanan memegang Pudding vanilla dan yang kiri memegang pudding stroberi.

"E-eh. terserah kau saja," Jawab Kushina. Diperhatikan oleh hampir seisi kantin, kadang ada yang berkomentar 'duo merah', 'orang aneh', membuat Kushina risih duduk di tengah-tengah kantin itu. Ia sampai rela tidak meng-antre untuk mendapatkan makan siangnya, seenak apapun menu hari itu. Pudding yang kini ia lahap juga, karena Nagato sudah berbaik hati membelikan untuknya.

(Kushina's POV)

Bagaimana bisa Nagato sangat percaya diri dengan rambutnya yang terbilang aneh, itu? Walaupun warna rambut kami agak sedikit berbeda, sih—merah rambutku lebih parah—tapi tetap saja rambutnya aneh! Aku sebenarnya sama sekali tidak mau berada di tempat ini. Hanya karena ada Nagato saja, kalau tidak ada dia, demi apapun aku tidak akan berada disini. Lebih baik melamun di kelas, cih.

Aku memerhatikan sekelilingku, semuanya melahap menu hari ini—Chicken Karaage, beberapa potong sushi, sup tomat dan sayuran, dan susu sapi segar yang dingin—dengan senangnya. Perutku dari tadi sudah kelabakan minta makan.

"Kushina, sebentar aku ke toilet dulu, ya." Nagato mengelus perutnya. kelihatannya dia sakit perut sesudah memakan pudding itu.

"Eh? Bagaimana denganku?" Tanyaku cemas. Masa' aku harus menyuruhnya mengantarku dengan kondisi—dia ingin kebelakang—begitu? Atau masa' aku harus menunggu tepat di toilet laki-laki?

"Daijoubu," Nagato masih dengan ekspresi menahan sakit. "Aku akan segera kembali, kau disini saja. Dan kusarankan kau memesan makanan, kau terlihat pucat."

Setelah berkata begitu, Nagato segera berlari keluar kantin. Aku hanya bisa tercengang, mematung di atas kursi sambil menatap kepergiannya yang bisa dihitung sialan.

"Menunggu dan diperhatikan begini? lebih baik aku.." Gumamanku terusik oleh suara perut. Pagi tadi aku hanya memakan beberapa potong roti karena takut terlambat, dan sekarang sudah waktu makan siang, aku tidak bisa menahan lapar lagi!
"Sial!" Aku mengacak rambut dan berlari ke arah antrean yang tinggal sedikit. Bodoh amat dengan rambut merah ini, aku lapar!

Satu anak.. dua anak..

Giliranku sekarang! Yatta! Chicken.. Chicken..

"Anoo... aku.."

BRUK! Pundakku digeser ke samping sehingga aku terdorong dari meja makanan. Laki-laki berambut coklat dengan anting-anting di telinganya menatapku dengan tatapan mengejek. Dia mengambil nampan makanan yang SEHARUSNYA untukku itu.

"Hoo, tomat kok ada dijalanan?" Katanya dengan nada yang sangat menyebalkan. Aku mengepalkan tanganku di samping rok.

"Aniki! Kita 'kan baik, ayo kembalikan saja ke dapur!" Salah satu temannya berbicara lagi. Saat aku menoleh, sekarang aku sudah dikerumuni oleh 4 laki-laki yang aku yakin sekali 'geng' dari lelaki coklat norak yang sudah mendorongku tadi.

Tahan.. tahan.. jangan sampai kehidupan SMA-mu rusak dengan label hot-blooded habanero dan dijauhi lagi… fuuu..

"ide bagus! Deidara! Bantu aku membawanya," Kata lelaki berambut coklat itu.

"Oke!" Lelaki dengan rambut kuning panjang yang dikuncit tiba-tiba menarik rambutku dengan keras sampai aku tertarik kebelakang.

"Itai! (Aduh!)" Pekikku kesakitan. Mereka terus menerus menarik rambutku dengan kuat, sedangkan yang lainnya tertawa-tawa.

Sudah kuduga, apa yang dikatakan Nagato itu tidak akan mengubah apapun. Aku masih membenci rambutku.

(Minato's POV)

Beberapa tugas OSIS menahanku untuk makan siang. Tinggal lima belas menit lagi, waktu istirahat akan habis. Aku akan menggunakan waktu yang sedikit itu untuk makan, dan mencari gadis itu.

Sepanjang koridor aku menoleh kanan kiri, bisa saja aku menemukan gadis itu, ya kan? Aku menuruni tangga perlahan, beberapa orang duduk di sana,

"E-eh! Kau yang.. ah, gomenasai, aku salah orang,"

Hahaha, aku jadi agak sensitif dengan apapun yang berwarna merah. Jelas saja yang tadi laki-laki. Mungkin memang aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Setidaknya untuk hari ini.

"Itai!"

Suara pekikan seorang gadis terdengar di telingaku. Asal suaranya dari kantin. Apa ini? Ada kecelakaan? Atau pem-bully-an? Aku berlari menuju kantin, jangan sampai ada sesuatu yang buruk.

Terlihatlah kerumunan siswa lain yang menghalangi pandanganku. Aku menerobos kerumunan itu sambil terus berkata "Sumimasen, permisi, mohon minggir sedikit,". Entah kenapa aku benar-benar cemas, cemas yang tidak biasa. Sampai akhirnya aku berhasil menerobos kerumunan itu

(Kushina's POV)

Aku tidak tahan lagi! Seenaknya mereka yang bahkan belum aku kenal menjambak-jambak rambutku seperti ini. Memangnya kenapa dengan julukan "Hot-blooded Habanero?" Aku tidak akan begini kalau mereka memperlakukanku dengan baik!

"OI! LEPASKAN!" Suara beratku akhirnya keluar, bagian rambutku yang ditariknya kutarik dengan paksa sampai beberapa helai rambutku lepas. Kedua tangan laki-laki bernama Deidara itu kucekram, Tangan kirinya kutahan dipunggungnya, dan tangan kanannya kutarik ke belakang dengan keras dengan posisi tubuhnya sudah membelakangiku. (KitamuraRR's note : kebayang gak? xD)

"It-Itai itai!"

"Aku, Uzumaki Kushina, tidak ada masalah dengan.." Kalimat kasarku—yang informal, walaupun dia kakak kelas—terpotong setelah mendengar bisikan-bisikan siswa lain yang mengerubuni kami.

"Apa dia gila? Menantang kelompok Akatsuki, yankee di sekolah ini? Kowaii(seram)!"

"Rambut merah itu bisa memperlakukan Akatsuki begitu? Menyeramkan!"

"Hei, dia kelas kita kan? U-Uzumaki.. Uzumaki apa tadi katanya?"

"Uzumaki Kushina, dessho?"

Mendengar itu, aku segera melepaskan tangannya dan berjalan pergi. Ternyata aku masih tidak mau kehidupan SMA-ku sama seperti dulu. Di tindas-menghabisi yang menindas-;alu ditakuti atau lebih tepatnya dimusuhi. Begitu terus menerus seperti siklus hujan. Dan kali ini aku sudah cukup disini saja, tidak perlu menghabisi mereka satu persatu.

"RAMBUT MERAH ANEH!" Derapan langkah kaki bergema di kantin. Aku spontan menoleh dan mendapati Deidara—si kuning tadi—berlari ke arahku sambil membawa semangkuk sup di tangan kanannya.

Sudah dijambak,mau disiram sup panas juga? Aku menutup mataku, tidak bisa menghindar lagi.

BYUUR!

E-Eh? Sudah disiram? Rambutku basah? Tapi kenapa tidak terasa, ya? Apa siramannya meleset? Kenapa pundakku agak aneh, ya?

Aku membuka mataku. Sesosok laki-laki yang lebih tinggi dariku berdiri dihadapanku sekarang. Tangannya memegang kedua pundakku. Aku mengangkat kepala, dia menunduk dan menatapku dengan tatapan cemas. Rambut kuning jabriknya basah, di pipinya mengalir tetesan air, dan di rambutnya.. ada sayur.

"Eh?!" Aku kaget setengah mati. Laki-laki ini.. kenapa ada sayur? Ah! Dia melindungiku?

"Daijoubu? Kau terkena cipratannya tidak?" Katanya. Aku merasa pernah mendengar suara ini sebelumnya. Aduh! Ini bukan saat memikirkan hal-hal sepele begitu!

"Daijobu-desu. E—etto.. Kau.." Entah hanya aku saja yang berfikir begini, tapi di sorotan matanya menjelaskan kalau dia lega. Aku masih tidak bisa berkata banyak melihat rambut dan kepalanya basah karena sup itu. Sup yang jelas-jelas masih panas itu.

"Ka-Kaichou?! (Ke-ketua?!)" Pekik salah satu dari kelompok yang kalau tidak salah Akatsuki itu. Deidara yang jaraknya paling dekat gelagapan sendiri melihat Laki-laki yang dikatakan 'Kaichou' ini. Laki-laki ini menoleh dengan tatapan tajam, super tajam sampai aku sendiri merinding.

"Katsuhiko Deidara, Wataru Yahiko, Masaki Hidan, Takaya Kakuzu, kutunggu kalian diruang Moral dan Budi Pekerti setelah bel masuk berbunyi. Wakatta(Mengerti)?"

"Ha-Hai, Minato-sama!"

Ke-empat-empatnya, menghilang dengan cepat. Mereka benar-benar ketakutan hanya karena kalimat tadi.

"Gomenasai" Kata Minato—yang kuyakini kakak kelasku ini—senpai. Dia melepaskan kedua tangannya dari pundakku. "Murid baru sepertimu yang belum sehari disini, sudah diperlakukan begitu. Aku menyarankanmu untuk menjauhi mereka."

Aku jadi gugup sendiri, antara tidak enak hati padanya, dan terpana melihat senpai kali ini. Aduh, jadi deg-degan begini. Tapi.. mereka memanggilnya 'Kaichou', kan? Berartio dia ketua OSIS, kan? Jelas dia harus menolong yang lain. Tugas ketua OSIS memang begitu. Tidak mungkin dia menolongku karena benar-benar tulus. Ya, siapa yang mau berteman, atau minimal dekat dengan orang aneh klan Uzumaki sepertiku?

(Normal POV)

"H-Hai, Arigatou Gozaimasu, senpai. Eh.. dahimu merah, senpai! Pasti panas sekali!" Setelah beberapa saat diam, Kushina akhirnya buka suara. Tangannya refleks mengeluarkan saputangan dan mengelap dahi dan rambut Minato. Terang saja Minato terkejut sampai akhirnya frozen di tempat dia berdiri. Wajahnya memerah karena malu.

"Hai, sudah lumayan. Daripada benar-benar basah tteba?" Bola mata Kushina yang tadi terarah ke rambut Minato, kini melirik wajahnya yang merah. "Akk, senpai! Wajahnya sampai memerah! Memang supnya panas sekali ttebane.."

Ini semua tidak ada hubungannya dengan sup sial itu... pikir Minato yang tidak berani melihat Kushina secara langsung. "Uzumaki-san, ini sudah bel, nanti kau kena ceramah oleh guru kalau terlambat."

"Oh iya! Aku duluan, senpai! Terima kasih sudah menolongku!" Kata Kushina dengan senyuman mengembang. Dia senang sekali sudah ditolong oleh Minato. Dia berjalan dengan riang, dan mendadak berhenti setelah beberapa langkah, "Senpai.. adalah Ketua Osis yang bertanggung jawab," Nada sedih terdengar dikalimat itu. Lalu Kushina kembali berjalan gontai, ke kelasnya.

Minato hanya memandang Kushina dengan heran, tidak mengerti maksud perkataannya. Laki-laki berambut kuning itu membenarkan rambutnya dan kembali ke ruang kelasnya. Sementara itu Di pintu keluar kantin yang lain, seseorang menggertakkan giginya dengan geram setelah menyaksikan kejadian itu.

###


Chapter 3 ends - TBC


Yo! Minna! xD

Akhirnya selesai Chapter 3nya xD

Terima kasih atas semua reviewnya :D Author usahain ngapdet secepet yang author bisa xD Dan untuk word, sebenernya author udah sadar kalo itu pendek, tapi gaktau nggak kegerak buat nge-nambahin dan langsung publish. soalnya mata author suka perih tiap baca ff yang kepanjangan. xD Tapi ternyata pendapat yang review beda, jadi author tambahin. Gimana? Udah cukup panjang? :D

Jaa, semoga suka. Ditunggu review berikutnya :3