Chapter 4
Kirei na Tomato
Semenjak kejadian jambak-menjambak rambut oleh kelompok yankee, "Akatsuki", Kushina benar-benar jarang keluar kelas. Gadis klan Uzumaki itu selalu membawa bekal dari rumah, dan berusaha sebisa apapun—minum hanya sedikit, misalnya—untuk tidak ke kamar kecil. Bisa kacau kalau dia keluar kelas dan berpapasan dengan kelompok Akatsuki itu.
Tidak, Uzumaki Kushina, gadis itu, sama sekali tidak takut di apa-apakan oleh kelompok yankee tersebut. Hanya saja, dia tidak mau membuat namanya jadi buruk karena berkelahi di sekolah.
Walaupuun begitu, Kushina tetap saja 'agak' dijauhi di kelasnya. Tidak banyak yang tau akan kejadian tiga hari yang lalu itu, tapi penjauhan Kushina ini karena sorot matanya yang selalu terlihat marah dan kesal. Alih-alih menghaluskan sorotan matanya, Kushina malah memilih untuk tidak peduli. Pelajaran yang ada saja sudah membuat kepalanya mau pecah, jangan ditambah lagi berusaha untuk melembutkan caranya menatap sesuatu.
"Shina," Seseorang menepuk bahu Kushina sedang tenggelam dalam pikirannya.
Gadis itu menoleh dan mendapati Nagato, seulas senyum menghiasi wajah sendunya. "Cih, apa?"
"Hey, ayolah. Jangan bilang kau masih marah karena waktu itu, ya?" Nagato mengrenyitkan dahi. "Aku kan sudah bilang, aku dipanggil kepala sekolah setelah aku keluar dari toilet,"
Kushina mengalihkan pandangannya keluar jendela. Lapangan bola yang kosong saja jauh lebih menarik dari mendengar ocehan Nagato. Ya, Kushina masih kesal dengan lelaki berambut merah tua itu. Meninggalkannya di kantin sendirian itulah yang menyebabkan dia bertemu dengan yankee-yankee gadungan yang norak.
"Kau mau ke perpustakaan, tidak?" Kata Nagato lagi. "Aku belum buat tugas ips. Dan sekarang aku butuh referensi. Temani aku, yuk? Lagipula ini jam belajar sendiri."
"Tidak, kau pergi saja sendiri."
"Eh? Kenapa?" Ia menepuk pundak gadis—yang masih saja menontoni lapangan bola—itu beberapa kali. Menemukan tepukan pundak itu benar-benar menyebalkan, akhirnya Kushina memutuskan untuk menoleh.
"Kau pergi saja sendiri! Aku ingin tidur!" Ujar Kushina, nada bicaranya tidak menunjukkan kalau dia mengantuk. Kepalanya ia sandarkan ke buku-bukunya di atas meja lalu memejamkan kedua matanya. Berharap Nagato bisa pergi dengan aktingnya yang buruk itu.
Nagato terdiam sebentar, sementara Kushina menggoyang-goyangkan kaki kanannya tak sabar. Kami-sama, biarkan si kepala merah ini pergi!
"Naruhodo(jadi begitu). Jaa, oyasuminasai Shina!" Suara hentakan kaki memenuhi gendang telinga Kushina. Lama-kelamaan suara itu mengecil dan akhirnya menghilang. Ia menghela nafas lega, dan memutar kepalanya yang tadi menghadap ke ruang kelas, keluar jendela yang tepat di sampingnya. Kembali memperhatikan lapangan bola yang kosong. Hujan deras semalam membuat lapangan becek dan tidak bisa dipakai untuk pelajaran olahraga. Beberapa anak yang sering bolos kelas untuk sekedar bertanding sepak bola, hari ini tidak ada alasan lagi untuk keluar. Kushina memejamkan matanya lama, lalu membukanya kembali. Sama-sekali tidak ada orang yang lewat di lapangan itu.
Iris kelabunya menggambarkan bahwa gadis itu kesepian.
(Kushina's POV)
Entah aku berharap bisa ada sesuatu yang kukerjakan saat ini, selain melamun. Meskipun tadi aku bersikap seperti itu pada Nagato, nyatanya tanpa ocehannya sekarang aku jadi kesepian. Ditambah lagi dengan suara-suara ricuh di kelas, obrolan-obrolan tentang kakak kelas yang tampan lah, acara televisi, dan juga gosip-gosip yang dilontarkan dengan suara cempreng oleh anak-anak perempuan di kelas yang berada di lantai satu ini.
Biasanya aku akan merasa untuk membenturkan kepala mereka semua ke dinding kelas sambil berteriak 'URUSAI!'. Tapi kali ini aku ingin ikut bergabung. Ingin ikut membicarakan obrolan tidak penting itu. Mengarang-ngarang cerita tentang kekaguman dengan kakak kelas. Kenapa harus mengarang? Karena sampai detik ini aku belum pernah bertemu siapapun yang membuatku tertarik. Terkecuali Nagato. Itu pun tidak bisa disebut tertarik. Dia hanya membuat jantungku berdetak kencang satu kali, lalu membuatku merasa ilfeel sekaligus nyaman berada di sampingnya.
Ngomong-ngomong soal jantung, tiba-tiba sekarang otot jantungku yang tidak bisa dikendalikan ini memaksa jantungku untuk berdetak kencang.
"Uzumaki-san!"
Seseorang memanggil namaku, lamunanku buyar. Bola mataku membentuk bayangan seorang laki-laki berdiri di depan jendela disampingku. Menutupi pandanganku dari lapangan bola.
"Uzumaki-san?" Sekali lagi dia memanggil. Aku mengangkat wajahku untuk melihatnya.
"Mi-minato!" Laki-laki yang berdiri di depanku itu, Namikaze Minato—begitu yang tertulis di sisi kanan kemejanya—mengeluarkan ekspresi terkejut.
"Minato? Dulu kau memanggilku senpai." Minato tertawa. Aku menyembunyikan senyumanku dengan tatapan dingin. Nanti aku dianggap suka atau bagaimana hanya karena ditolongnya sekali. Itu pun bukan karena tulus untuk menolong, aku dengar, tugas ketua OSIS, kalau dia tidak mendamaikan dua pihak yang sedang berseteru maka dia akan dikenakan sanksi. Setidaknya informasi dari Nagato itu membuat image Minato ini agak rusak di mataku.
"Memangnya memanggil seorang senpai dengan sebutan senpai itu wajib, ya?" Kalimat yang kulontarkan bernada dingin. Mungkin sedingin es. "Aku tidak pernah membacanya di buku peraturan sekolah,"
"Benar," Jawab Minato sambil menunjukkan senyuman mautnya. Aku menahan otot-ototku untuk tidak ikut membalas senyumnya. "Terserahmu saja mau memanggilku apa."
"Hmm,"
"Dan itu berarti terserahku mau memanggilmu apa, benar?"
"Yap." Aku mengiyakan. "E-eh? Maksudmu?"
Minato mendekatkan wajahnya ke jendela, memperhatikan wajahku sebentar, lalu tertawa kecil. Aku tahu benar ekspresiku bingungku saat itu benar-benar parah.
"Tomato." Bisiknya. "Uzumaki Tomato, darou?"
Aku terdiam mendengar kata-katanya tadi. Tomato? Itu adalah nama kecilku dulu—selain 'Red Hot-blooded Habanero'—, dan beberapa hari yang lalu juga aku dipanggil tomat oleh yankee berambut kuning, Deidara. Sekarang, tambah satu orang lagi? Karena rambutku yang berwarna senada dengan tomat, sampai sebesar ini aku tidak pernah mengkonsumsi buah sial itu!
"A-Apa?! Aku tidak mau dipanggil begituan! Namaku Uzumaki Kushina, ttebane!" Aku cepat-cepat buka suara setelah melihat lelaki rambut jabrik itu melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku, bingung karena aku mendadak diam.
"Souka?" Minato memiringkan lehernya. "Kalau begitu.."
Ini yang kedua kalinya dia mengamati wajahku. Gerakan tangan yang sama, mimik muka yang sama, ia ulangi seperti yang dia lakukan beberapa saat yang lalu. Lelaki bertubuh jangkung dengan bahu yang tegap ini kemudian menepuk tangan kirinya dengan kepalan tangan kanannya sendiri. Mengisyaratkan 'oh, aku tau!'.
"Kirei na Tomato (Tomat yang cantik)!"
(Minato's POV)
"Kirei na Tomato," panggilan itu keluar begitu saja dari mulutku. Padahal aku tadi berencana memanggilnya 'Tomat yang chubby' atau apapun yang mendeskripsikan pipinya yang tembam. Namun saat pandanganku mendarat di matanya, aku langsung bicara begitu.
"Apa, ttebane?" Kata Kushina, wajahnya merah padam. Dan dengan kondisi begitu dia luar biasa manis. Kedua sudut bibirnya, dipaksa untuk tidak tersenyum. Sorotan mata dinginnya tadi berganti dengan sorot mata terkejut. Kalau begini terus, bisa-bisa wajahku juga ikut-ikutan merah. Aku tidak mau kondisiku yang begitu terlihat oleh gadis dihadapanku ini.
"E-e-eh.." Aku memutar bola mataku, memikirkan cara untuk melarikan diri dari sini sesegera mungkin. Akh! Handphone, mana handphone! Tanganku merogoh saku celana dan dengan cepat mengeluarkan handphone milikku. "Aish! Rapat akan dimulai! Jaa, mata ashita!"
Kedua kakiku melangkah bergantian menjauh dari jendela kelas 1-C itu. Aku tau dia masih dengan raut wajah yang sama, dan itu membuatku masih ingin menoleh ke belakang untuk melihatnya. Sabar, Minato, kau harus sadar kalau wajahmu ini sekarang panas! Dasar bodoh! Apa yang kau katakan tadi? Kalau kau tadi tidak berkata begitu, saat ini kau masih bisa berbincang bincang dengan Kirei na Tomato…
Aku mengacak rambutku, menyadari kalau kata 'Kirei na Tomato' itu telah melekat di otakku. Ini sudah beberapa langkah dari kelas itu, dan sekarang aku bisa menoleh diam-diam. Melihatnya dari jauh saja sudah cukup. Saat aku menoleh, sepertinya yang berambut merah di sana ada dua. Eh?! Ada dua?
"Shina! Kau sedang apa?" Dari sini pun aku terdengar, suara berat milik laki-laki satu lagi yang kini mencoel bahunya. Dan lagi, apa katanya tadi? Shina? "Memperhatikan lapangan bola lagi?"
"Ti-tidak!" Kushina membalik tubuhnya 180 derajat, sekarang mereka jadi berhadapan. Kalau bisa aku ingin melempar laki-laki itu dengan sepatu atau apa. 'Shina' katanya tadi? Sebegitu akrab-kah mereka berdua?
"Hei, kau sudah menyelesaikan tugasmu, Nagato?" Kushina mengambil sebuah buku di tangan laki-laki bernama Nagato itu. "Su-Sugoi(keren)! Kau selesaikan sebanyak itu dalam waktu cuma beberapa menit?!"
"Hahaha aku tadi ingin cepat-cepat kembali ke kelas, makanya aku mempercepat gerakan tanganku agar selesai dalam waktu singkat. Kau tidak bosan, kan?" Kata Nagato. Kali ini aku tidak akan melemparnya dengan sepatu. AKU AKAN MELEMPARNYA DENGAN RAK SEPATU! Cih, berlagak keren di hadapan Kirei na.. maksudku di hadapan Kushina. Tapi.. aku seperti pernah melihat lelaki itu.
DRRT DRRT DRRT
Handphone di sakuku bergetar. Ada email masuk.
From: Fugaku
Subject: Rapat akan dimulai!
Kaichou dimana? Rapat akan segera dimulai!
Sial! Aku lupa hari ini benar-benar ada rapat untuk festival olahraga lusa! Untuk terakhir aku menoleh lagi ke kelas 1-C itu. Kushina dan Nagato kelihatannya sedang asyik berbincang-bincang. Raut Kushina tidak lagi kesepian seperti yang kulihat saat dia memandangi lapangan bola tadi.
"Fuuh.." Aku menghela nafas, dan tersenyum. "Setidaknya dia sudah ada teman bicara."
Di hatiku terbesit sedikit perasaan lega. Aku juga tidak tau kenapa aku selalu khawatir kalau memikirkan gadis berambut merah itu, khawatir kalau dia diapa-apakan, kalau dia kesusahan, padahal aku baru saja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Walaupun aku masih agak kesal dengan lelaki merah itu, Nagato, tapi dengan adanya dia, sekarang aku bisa agak tenang. Kurasa rapat kali ini bisa berjalan lancar karena pikiranku tenang saat ini.
###
(Normal POV)
Nagato duduk dihadapan Kushina sekarang. Nagato sibuk mengoceh, membicarakan topik-topik random yang direspon Kushina dengan anggukan dan 'ohya?'. Mata Kushina beberapa kali mencuri pandang keluar jendela, melirik Minato yang kini sudah tetap hatinya untuk berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.
"Menurut pendapatmu bagaimana, Shina?" Tanya Nagato. Kushina kaget dan cepat-cepat menghentikan aksi 'curi-pandang'nya.
"Apa, tteba?"
"EEEH?! Dari tadi kau tidak mendengarkanku?" Nagato menatap Kushina tidak percaya.
"gomen, gomen! Bisa kau ulang lagi?" Kushina merasa tidak enak. Ini karena dia terlalu sibuk melirik senpai-nya itu. Berpura-pura mendengarkan padahal sama sekali tidak tau apa yang dibicarakan Nagato.
Nagato mengulang ceritanya dari awal kembali dengan sabar. Suaranya diperlambat. Kali ini Kushina mendengarkan, tanpa tahu kalau di bawah meja, tangan Nagato terkepal keras. Seperti siap meninju apapun dan kapanpun dia mau.
###
Chapter 4 ends - TBC
Yatta! Akhirnya selesai juga ini! Fiuh!
Gomen, updatenya agak telat, hehe :3
Untuk Chen, arigatou review chapter 3! Ee—eh? Hontou?OwO Okeh, akan ku usahakan lagi agar lebih bagus! Terimakasih!
Minna! Mind to RnR? Aku sangat senang kalau kalian me-review ff ini!
Jaa, mata!^^
