Title : Mon Petite Garçon – My Little Boy
"Minnie…"
"Ne, seonsaengnim?"
"Kau masih di sini?"
Wajah namja mungil yang tengah duduk seorang diri di bangku taman sekolah itu semakin terlihat kesal dan lesu. Pasalnya, ia sudah menunggu selama 15 menit dan kini ia merasa sangat letih.
"Ne, seonsaengnim"
"Mau seonsaengnim antar?"
"MING!"
Sebuah suara menghentikan perbincangan di antara keduanya dan membuat keduanya segera melihat ke arah suara yang memanggil nama Sungmin. Tak jauh dari mereka, seorang namja tinggi berambut hitam tengah berjalan dengan santai sembari mengukir sebuah senyuman di wajah tampannya.
"Kyuhyun hyung pabbo!" seru Sungmin dengan keras.
Sungmin segera berlari ke arah Kyuhyun dengan wajah yang menunjukkan bahwa ia benar-benar kesal karena harus menunggu sangat lama. Ia segera merentangkan kedua tangannya pada Kyuhyun saat pemuda itu tak berada jauh di depannya. Kyuhyun yang mengerti maksud dari namsaeng dari sahabatnya itu, segera membawa Sungmin ke dalam pelukannya. Sebuah ciuman lembut Kyuhyun berikan pada pipi lembut namja manis yang berada dalam pelukannya itu.
"Hyung, jangan poppo Minnie" protes Sungmin saat Kyuhyun terus mencium pipinya.
Seorang yeojya berjalan dengan perlahan ke arah kedua namja itu. Sebuah senyuman terukir di wajahnya dan keduanya pipinya sedikit bersemu merah. Ada apa dengannya?
"Minnie…"
Sungmin melihat ke arah yeojya yang kini hanya berjarak 3 langkah darinya. Namja itu menatap bingung ke arah sang seonsaengnim yang terlihat berbeda. Wajahnya yang putih kini terlihat bersemu merah. Apakah yeojya itu memakai blush-on?
"Ne, seonsaengnim?"
"Nugu?" tanya yeojya itu sembari melihat ke arah Kyuhyun yang tengah memainkan handphonenya dengan menggunakan tangan kanan.
Sungmin menepuk pipi kanan Kyuhyun dengan lembut, meminta perhatian dari namja berusia 20 tahun itu. Kyuhyun pun mengalihkan perhatiannya dan menatap lembut pada Sungmin.
"Wae, Ming?"
"Seonsaengnim menanyakan Kyuhyun hyung"
Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang yeojya yang tengah menatapnya dengan malu-malu. Rambutnya yang panjang, sungguh membingkai wajah yeojya itu dengan sempurna. Namun hal itu tak membuat Kyuhyun tertarik. Wajahnya datar saat melihat kedua pipi yeojya itu semakin merona.
"Nugu?" tanya Kyuhyun dengan datar.
Yeojya itu mengulurkan tangannya pada Kyuhyun sembari tersenyum manis.
"Annyeong, Jung Kaeun imnida"
"Cho Kyuhyun" ujar Kyuhyun tanda membalas uluran tangan yeojya yang berdiri di depannya.
"Ming, kajja! Hyung akan memberikanmu ice cream strawberry, karena hyung terlambat menjemputmu"
Kyuhyun berjalan meninggalkan Kaeun yang menatap sedih pada punggung Kyuhyun yang semakin jauh. Ia tak menyangka bahwa ia akan mendapatkan penolakan yang sangat tidak sopan seperti itu. Ini pertama kalinya ia ditolak oleh seorang namja, sungguh membuat hatinya terluka. Namun ia percaya bahwa namja itu akan membalas perasaannya apabila ia berhasil menarik perhatian namja itu.
"Cho Kyuhyun…"
Kaeun berlalu dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya. Cho Kyuhyun…
(Haehyuk Kyumin)
"Hyung, Minnie ingin bertemu Changminnie hyung" ujar Sungmin.
Kyuhyun tersenyum pada namja mungil yang berada dalam pelukannya. Keduanya tengah berjalan di tengah keramaian kota padat. Sungmin yang tengah berada dalam pelukannya terlihat menikmati ice cream vanilla, tanpa menyadari bahwa ice cream tersebut telah mengotori sekitar bibir mungilnya dan juga pipi putihnya. Kyuhyun yang melihat hal tersebut hanya mengukir sebuah senyuman tipis di wajahnya. Dengan perlahan Kyuhyun mengulurkan tangannya dan mengusap pipi putih Sungmin yang ternoda oleh ice cream vanilla.
"Hyung~"
"Wae, Ming?"
"Minnie ingin bertemu dengan Changmin hyung"
"Ne, arraseo…"
Kyuhyun berjalan dengan perlahan, menikmati kebersamaannya dengan namja mungil yang berada dalam pelukannya. Setiap detik, menit, jam yang mereka habiskan bersama akan selalu tersimpan dalam memori kepalanya. Karena semua itu adalah hal yang sangat berharga untuknya dan akan selalu menjadi sebuah kenangan indah tak terlupakan.
"Hyung, Minnie ingin bertemu Changminnie hyung" rengek Sungmin.
Sungmin menggerakkan tubuhnya hingga tanpa sengaja membuat ice cream yang berada di tangannya mengenai kaos putih yang dikenakan oleh Kyuhyun. Hal itu tentu tak disadari oleh Sungmin yang terus bergerak tak menentu, meminta Kyuhyun untuk menurunkannya. Mereka hanya perlu menyebrang jalan dan berjalan beberapa meter, maka keduanya akan segera sampai di café milih Changmin.
"Ming, tenanglah. Kita akan segera sampai" bujuk Kyuhyun.
Namun Sungmin terus menggerakkan tubuhnya membuat Kyuhyun sedikit kesulitan untuk menahan Sungmin. Akhirnya Kyuhyun melepaskan Sungmin dan namja berumur 8 tahun itu segera berlari tengah keramaian orang yang berlalu lalang. Kyuhyun yang melihat hal itu segera berlari mengejar Sungmin. Sungguh ia tak ingin sesuatu terjadi pada namja mungilnya.
"Ming! Berhenti, Ming!"
Sungmin terus berlari hingga tak menyadari bahwa lampu lalu lintas telah berganti warna menjadi hijau. Kyuhyun yang melihat hal itu segera memacu kecepatan berlarinya, berusaha mengejar Sungmin yang berada di tengah jalan raya.
TIN! TIN!
Suara klakson menyapa pendengarannya yang kini berlari di tengah ramainya jalan raya dimana kendaraan bermotor tengah melaju dengan cepat. Kyuhyun yang terlalu fokus pada Sungmin tak menyadari adanya sebuah mobil yang tengah melaju kencang ke arahnya.
TIN! TIN! TIN!
Suara deru mesin yang semakin kencang membuat Kyuhyun tersadar. Namun ia terus berlari, berharap semua akan baik-baik saja. Kyuhyun menutup kedua matanya dan terus berlari kencang. Dalam hatinya, ia berharap Sungmin akan baik-baik.
TIIINNNNN!
(Haehyuk Kyumin)
Changmin tengah berjaga di kasir saat sebuah gelas terjatuh dan pecah begitu saja. Ia segera memanggil Chansung, salah seorang pegawainya, untuk menggantikannya menjaga kasir. Changmin segera membereskan kekacauan yang ada tetapi tanpa sengaja jarinya tergores pecahan yang ada. Meski tak dalam, tetapi cukup untuk membuat jarinya berdarah.
"Appo…" lirihnya.
"Changmin-ah, gwenchana?" tanya sebuah suara.
Changmin segera menengadahkan kepalanya dan mendapati seorang namja berambut platina tengah menunduk sembari menatapnya khawatir. Ia segera mensejajarkan tubuhnya dengan Changmin dan mendapati jari Changmin yang berdarah.
"Appo?"
"Ne, appo~"
"Kajja, kita bersihkan luka ini. Gelas itu biar aku saja yang membereskan"
"Tapi, hyung—"
"Gwenchana. Kajja!"
Hyukjae segera menarik tangan Changmin dan membuat namja bertinggi badan 188 cm itu mau-tak-mau mengikuti langkah Hyukjae yang membawanya ke dapur. Hyukjae segera membersihkan luka Changmin dengan air dan membersihkannya dengan kain bersih yang entah berasal dari mana. Setelah itu, luka tersebut dibalut dengan perban serapi mungkin.
"Jja! Sudah selesai" seru Hyukjae dengan senang setelah melihat hasil pekerjaannya yang rapi dan memuaskan.
"Gomawo, hyung"
"Ne, gwenchana. Sebaiknya kau istirahat. Kami masih bisa mengurus café"
"Tapi—"
Hyukjae memukul lengan Changmin dengan cukup keras dan menatap namja itu dengan kesal.
"Ya! Kau itu pemilik café ini, jadi tidak perlu ikut melayani pelanggan"
Sebuah senyuman terukit di wajah Changmin. Ia tau bahwa Hyukjae peduli dan khawatir dengan keadaannya meskipun namja itu tak dapat menunjukkannya secara langsung. Dengan cepat Changmin memeluk tubuh ramping Hyukjae.
"Gomawo…"
"Gwenchana, Changmin-ah" ujar Hyukjae sembari membalas pelukan Changmin.
"YA!"
Sebuah suara menginterupsi keduanya. Di depan pintu dapur terlihat Donghae yang tengah memandang keduanya dengan kesal. Ia segera menghampiri keduanya dan melepaskan pelukan tersebut. Kedua lengannya segera melingkar di pinggang ramping milik Hyukjae dan menarik tubuh itu hingga bersentuhan dengan tubuhnya.
"Wae?" tanya Changmin dengan bingung.
Sedangkan wajah Hyukjae kini telah memerah hingga telinga. Ia segera menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rona wajah yang ada. Lain Hyukjae, lain pula Donghae. Namja penyuka ikan nemo itu melihat Changmin dengan kesal. Tanpa sadar lengan itu semakin erat melingkar di pinggang Hyukjae, membuat tubuh itu menjadi tak berjarak dengan tubuhnya.
"Wae, Donghae hyung?"
"Kau… Jangan menyentuh Hyukkie-ku" ujar Donghae dengan suara rendah.
"Hae-ah~"
"Ya! Aku boss-mu, hyung! Kau tidak menginginkan gajimu?"
"Mwo?! Jangan mengancamku"
"Hyuk hyung, mengapa kau memiliki sahabat yang begitu menyebalkan sepertinya?" seru Changmin dengan kesal.
Donghae menatap Changmin dengan kesal. Hey! Ia mendengar itu. Lagipula Hyukjae adalah miliknya, sahabatnya. Tak ada yang boleh menyentuh miliknya, apalagi memilikinya.
"Hey, ada apa ini?"
Sebuah suara menginterupsi suasana tegang yang terjadi di dapur. Terlihat sosok sang koki café yang tengah menatap bingung pada ketiga namja yang berada di wilayah kerjanya. Tanpa sengaja, matanya melihat Hyukjae yang berada dalam pelukan Donghae. Dengan segera ia menghampiri keduanya dan menarik tangan Hyukjae, membuat namja itu terbebas dari pelukan Donghae.
"Baby?"
"Ne, Changsungie?"
"Wae? Apa yang sedang terjadi?"
"Ah, gwenchana. Changmin memelukku, namun Donghae tiba-tiba datang dan memelukku. Hal itu membuat Changmin merasa kesal" jelas Hyukjae.
Chansung mengusap wajah Hyukjae dengan lembut, membuat namjachingu-nya merasa nyaman. Tanpa keduanya sadari, Donghae tengah menatap keduanya dengan kesal. Tangan yang berada di sisi tubuhnya tengah mengepal keras, menunjukkan emosi yang tengah dirasakannya. Di sisi lain, Changmin hanya diam dan menatap datar pada apa yang terjadi di depan kedua matanya. Ia sudah terbiasa melihat kedekatan Hyukjae dan Chansung serta kedekatan antara Hyukjae dan Donghae.
"Ya! Jangan bermesraan di dapurku. Kembali bekerja" seru Changmin saat menyadari bahwa suasana semakin terasa canggung.
Changmin berlalu dari dapur, membiarkan Hyukjae, Chansung, dan Donghae berada di dalam satu ruangan. Meski ia tau tak seharusnya ia melakukan hal tersebut, namun ia masih menyayangi nyawanya.
"Berapa biaya yang harus dibayar untuk memperbaiki dapur? Kira-kira berapa kerugian yang akan aku alami? Ya, itu lebih baik daripada aku kehilangan nyawaku. Sungminnie masih membutuhkanku"
Kira-kira hal itulah yang berada dalam pikiran Changmin. Dengan sebuah senyuman yang terukir di wajahnya, ia mulai melayani pelanggan dan berusaha untuk mengabaikan keteganggan yang tengah terjadi di dapur café-nya.
(Haehyuk Kyumin)
TBC
