Title : Mon Petite Garçon – My Little Boy
PING!
Aku menunggumu di taman kota
- Dongwook hyung
Changmin menatap pesan yang ia terima 3 jam yang lalu dengan bingung. Apakah Dongwook masih menunggunya di taman kota? Tapi itu terdengar mustahil karena Dongwook tak mungkin menunggu dirinya selama 3 jam di musim dingin seperti ini. Hanya orang gila yang menunggu berjam-jam di musim dingin.
"Minnie hyung"
Sebuah suara menyadarkan Changmin dari lamunannya. Sungmin kecil yang baru saja terbangun dari alam mimpi kini tengah mengusap kedua matanya. Piyama putihnya yang bergambar kelinci terlihat berantakan. Begitu pula dengan rambutnya yang coklat. Sungguh terlihat sangat menggemaskan.
"Minnie-ah, kau terbangun?" ujar Changmin sembari menghampiri namsaengnya.
Sungmin menatap Changmin selama beberapa detik tanpa menjawab pertanyaan sang hyung, lalu pandangnya tersebut mengarah pada namja yang masih berbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Hyung, Minnie ingin tidur dengan Kyunnie hyung"
Sungmin mengulurkan kedua tangannya pada Changmin, meminta sang hyung untuk memindahkannya dari sofa ke ranjang Kyuhyun agar ia dapat tidur bersama Kyuhyun.
"Aniyo. Kau tidak boleh mengganggu istirahat Kyuhyun hyung, Minnie"
"Kyunnie hyung pernah berkata jika Kyunnie hyung akan cepat sembuh apabila Minnie ada di sampingnya, Minnie hyung. Jadi Minnie ingin tidur di samping Kyunnie hyung agar Kyunnie hyung cepat sembuh dan bisa mengajak Minnie jalan-jalan lagi" rengek Sungmin.
Changmin hanya dapat menghela napas melihat kelakuan Sungmin yang sangat manja. Mungkin salahnya yang terlalu memanjakan Sungmin sehingga namja mungil itu tumbuh menjadi pribadi yang keras kepala. Mulai besok ia harus sedikit lebih keras dalam mendidiknya namsaengnya itu agar saat besar nanti ia tak tumbuh menjadi anak manja yang keras kepala.
"Minnie hyung~"
"Arra, Minnie-ah"
Changmin membawa tubuh mungil itu dan membaringkannya di samping tubuh Kyuhyun. Saat tubuhnya menyentuh permukaan ranjang, Sungmin segera menyamankan dirinya dan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Kyuhyun yang hangat.
"Minnie akan tidur. Minnie hyung jangan berisik, arra?"
Changmin tersenyum dan mengusap surai Sungmin sehingga helai coklat itu semakin tak tertata. Ia mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan selamat tidur yang selalu ia berikan ketika Sungmin akan beranjak tidur. Sebuah kecupan manis di bibir Sungmin yang mungil dan halus.
"Arra, Minnie hyung tidak akan berisik. Jaljayo, Baby"
Changmin segera berlalu dari ruangan itu dan meninggalkan keduanya terlelap tanpa mendapat gangguan dari dirinya. Ia akan ke taman kota untuk memastikan bahwa Dongwook tak menunggu dirinya di tengah musim dingin. Entah mengapa terbesit kekecewaan di hatinya memikirkan bahwa Dongwook tak menunggunya datang. Ia tak ingin Dongwook menunggunya di tengah musim dingin dan membuat namja itu sakit karena dirinya, namun di satu sisi ia ingin Dongwook menunggu hingga kedatangannya yang sangat terlambat ini. Entahlah, ia merasa bingung.
"Dongwook hyung…"
Tanpa disadari oleh Changmin, Sungmin tak segera terlelap saat Changmin meninggalkannya berdua dengan Kyuhyun. Ia segera duduk di ranjang sembari menatap sendu pada wajah Kyuhyun. Satu hari telah berlalu namun Kyuhyun tak kunjung sadar, hal tersebut membuat Sungmin merasa sedih. Seandainya ia tidak berlari saat itu…
"Jaljayo, Kyunnie hyung" ujar Sungmin sembari mengecup bibir Kyuhyun.
(Haehyuk Kyumin)
Keadaan café terlihat lenggang, tak terlalu banyak pelangan yang datang. Ya, tentu saja karena jam makan siang telah berlalu beberapa jam yang lalu sedangkan jam pulang sekolah masih 1-2 jam lagi. Keadaan café yang tak terlalu ramai membuat para pegawai yang ada merasa sedikit lega karena memiliki waktu istirahat yang lebih. Sebenarnya café memerlukan tambahan seorang tenaga kerja, namun dikarenakan keadaan dan situasi yang ada membuat Changmin selaku pemilik café tak dapat membuka lowongan pekerjaan.
"Huft~" desah Hyukjae.
Namja berumur 21 tahun itu tengah menatap datar sekeliling café. Keadaan café yang lenggang membuatnya sedikit bosan karena tidak ada yang dapat dikerjakan olehnya, hanya menjaga kasir. Sungguh hal yang membosankan. Jika Changmin, Sungmin, atau Kyuhyun ada di café mungkin keadaan tidak akan semembosankan itu, namun nyatanya ketiga namja itu tak kunjung datang ke café. Hanya Changmin yang datang selama beberapa menit untuk melihat dan mengontrol keadaan café La Petite.
"Hyukkie!"
Sebuah suara menginterupsi keheningan yang terjadi di sekeliling Hyukjae. Namja itu sedikit mengalihkan pandangan dan menatap namja yang memanggil namanya. Di depannya berdiri seorang namja yang tengah tersenyum, sebuah cake kecil dengan strawberry di atasnya berada di tangan namja itu yang terulur pada Hyukjae. Hyukjae segera menegakkan posisi duduknya dan menatap cake tersebut dengan berbinar.
"Hae~" rajuk Hyukjae saat Donghae menjauhkan cake tersebut dari jangkauan tangan Hyukjae.
"Wae?"
"Mau itu~"
"Itu?"
"Cake strawberry~"
"Ah! Ini?"
Hyukjae menganggukkan kepalanya dengan semangat dengan kedua mata yang berbinar saat cake tersebut berada tak jauh dari bibirnya. Namun saat ia hendak menjulurkan lidahnya untuk mencicipi cake tersebut, Donghae segera menjauhkan cake tersebut. Hal tersebut membuat Hyukjae merenggut, kedua pipinya menggembung, dan mengerucutkan bibirnya.
"Arra. Aku akan meminta pada Chansungie" ujar Hyukjae sembari beranjak dari duduknya.
Namun sebuah tangan menghentikan langkah Hyukjae. Tangan Donghae menggenggam lengan Hyukjae dengan erat, sedikit membuat Hyukjae meringis karena genggaman Donghae yang kuat.
"Bisakah kau tak membicarakannya sebentar saja?" bisik Donghae.
Kedua mata itu menatap Hyukjae dengan luka yang terlukis di sana. Tubuh Hyukjae menegang seketika mendengar nada suara Donghae yang menyapa gendang telinganya. Bukannya ia tak menyadari bahwa sikap Donghae padanya mulai berubah semenjak ia bersama dengan Changsung. Bukannya ia tak mengetahui bahwa kini Donghae menyimpan perasaan yang lain padanya. Bukannya ia tak tau, namun ia hanya berusaha untuk tidak menyadari semua itu.
"Donghae-ah"
"Bisakah? Aku tau kau telah menyadarinya sejak dulu, tapi kenapa? Kenapa, Hyukkie?"
"Mianhae…"
Keheningan menyelimuti keduanya, membuat suasana menjadi sangat canggung. Tangan Donghae masih merasakan permukaan kulit putih Hyukjae yang lembut sedangkan tatapan matanya masih menatap luka pada kedua manik hitam milik Hyukjae.
"Hyukkie…"
"Mianhae, tapi aku tetap tidak bisa…"
Hyukjae melangkah pergi meninggalkan Donghae yang menatap sendu pada punggung Hyukjae yang mulai menjauh dan menghilang dari pandangnya.
"Andai aku cepat menyadarinya…"
Donghae menatap kesal pada permukaan lantai. Sebenarnya ia tak kesal pada lantai tersebut, namun ia kesal pada dirinya sendiri yang begitu bodoh. Andai bisa kembali ke masa lalu, ia berharap ia dapat memperbaiki semuanya. Semua yang terjadi dalam hidupnya terkecuali satu hal, yaitu… Lee Hyukjae.
(Haehyuk Kyumin)
"Chansungie!"
Sebuah suara memecahkan keheningan yang terjadi di dapur. Konsentrasi Chansung yang tengah sibuk dengan kue buatannya pun terpecah. Ia menatap seorang namja yang tengah berjalan ke arahnya dengan perlahan. Wajahnya tak terlihat karena ia menunduk sehingga wajahnya tertutupi surainya yang berwarna pirang platina. Tentunya Chansung mengetahui dengan jelas namja itu, karena hanya namja itu yang dapat menggetarkan hatinya yang tengah lama mati.
"Baby?"
Hyukjae segera berlari dan memeluk tubuh tegap itu dengan erat. Wajah manisnya disembunyikan pada dada bidang Chansung.
"Mianhae…"
Chansung menatap Hyukjae yang berada dalam pelukannya dengan sendu. Tangannya mengusap surai pirang platina tersebut dengan lembut. Disesapnya aroma tubuh namja itu.
"Wae, baby?"
"Mianhae… Jeongmal mianhamnida, Chansungie"
"Gwenchana, baby…"
Chansung menutup kedua matanya dan mengukir sebuah senyuman di wajahnya. Bukan senyum kebahagiaan, namun sebuah senyum yang ia harap dapat menguatkan dirinya.
"Semua akan baik-baik saja, baby. Baik-baik saja selama kau bersamaku"
Chansung merengkuh wajah Hyukjae dengan kedua tangannya. Lalu ia mendekatkan wajah kedua hingga ia dapat merasakan sesuatu yang lembut menyapa bibirnya. Dengan perlahan namun pasti, ia melumat bibir tersebut. Chansung bahkan memindahkan salah satu tangannya ke belakang tengkuk Hyukjae untuk memperdalam ciumannya.
"Ahn… Chan…"
Hyukjae berusaha memanggil nama Chansung, namun usahanya tersebut malah membuat lidah Chansung berhasil masuk ke dalam mulutnya, mengajak sang namjachingu melakukan French kiss.
DEG!
Sebuah mata menatap keduanya dengan terluka. Tangannya menegang –menyalurkan rasa kesalnya- dan menggenggam erat kemeja putih yang dikenakan olehnya.
"Milikku… Ia milikku…"
(Haehyuk Kyumin)
Changmin duduk termenung menatap kosong pada dua orang namja yang terlelap di atas ranjang. Tangannya mengusap surai coklat Sungmin dengan lembut.
"Baby…"
Changmin menatap sendu pada namsaengnya yang tertidur dengan lelap. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu. Hari dimana ia bertemu dengan Dongwook.
Flashback
Changmin merapatkan jaket yang dikenakannya sembari menatap sekeliling, mencari sosok yang dikenalinya. Namun ia harus menelan kekecawaan saat tak mendapati sosok tersebut sejak ia menapaki kakinya di taman kota dan berkeliling di tengah udara malam yang dingin hingga menusuk tulang. Dengan kecewa, ia mendudukkan tubuhnya di salah satu bangku taman.
"Dongwook hyung…"
"Ne?"
Sebuah suara terdengar dari belakang tubuh Changmin. Ia segera membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok yang dicarinya sejak 10 menit yang lalu. Namja itu mengenakan sebuah coat berwarna hitam yang membuatnya terlihat semakin tampan dan manly.
"Memanggilku, Minku?"
Dongwook berjalan memutari bangku dan mendudukkan tubuhnya di samping tubuh Changmin. Sebuah senyuman menghiasi wajahnya yang terlihat sedikit pucat. Ya, tentu saja menunggu selama lebih dari 3 jam di musim dingin membuatnya sedikit lemah.
"Kau… Terus menungguku?" bisik Changmin dengan lirih.
"Tentu saja…"
"Tapi—"
"Karena aku tau bahwa pasti akan datang"
Dongwook mendekatkan wajahnya pada wajah Changmin dan mencium bibir tipis Changmin. Changmin hanya terdiam saat mendapati sebuah sentuhan dingin di bibirnya.
"Dingin…"
Changmin menutup kedua matanya dengan perlahan, menikmati sentuhan di bibirnya yang mulai menghangat. Tangannya yang panjang, entah sejak kapan melingkar di leher Dongwook. Sedangkan tangan Dongwook melingkar dengan erat di pinggang Changmin.
"Hng… Chi…"
Suara desahan terdengar dari bibir Changmin saat lidah Dongwook berhasil memasuki gua hangat milik Changmin. Ia menggerakkan lidah dengan kaku saat lidah Dongwook menyapa lidahnya. Sedangkan Dongwook sendiri kini tengah menekan tengkuk Changmin agar semakin dekat dengannya.
"Akh… Shi… Hhhn… Chi…"
Changmin berusaha memanggil nama Dongwook saat merasakan sebuah sentuhan di punggungnya. Sentuhan tersebut terasa begitu dingin dan menggetarkan seluruh tubuhnya, membuatnya sedikit tak nyaman.
"Wae?" tanya Dongwook saat melepasan tautan bibir di antara keduanya.
"Tanganmu…"
Changmin menatap Dongwook dengan wajah memerah saat namja itu mengusap punggungnya dengan sensual.
"Tanganku? Ada apa dengan tanganku?"
"Yak! Keluarkan tangan itu dari punggungku!"
"Tanganku hanya mencari kehangatan"
Tangan itu kini telah berpindah ke perut rata Changmin yang dapat otot perut yang samar. Sedangkan tangannya yang lain –entah tangan kanan atau kiri- tengah mengusap daerah di sekitar nipple Changmin namun tak menyentuhnya.
"Ash… Shichi…"
"Wae?"
"Henthikan…"
"Hentikan apa?"
Suara desahan Changmin semakin terdengar saat tangan Dongwook memanjakan nipplenya yang telah menegang. Jemari itu dengan lincah memainkan nipple Changmin dan membuatnya semakin menegang.
"Minku, aku akan ke Jepang"
"M-mwohhh?"
Changmin tersentak kaget di tengah desahannya. Ia sedikit tak berkonsentrasi mendengarkan ucapan Dongwook karena namja itu dengan teganya mengusap kejantanannya dengan perlahan, membuatnya merasa kesal karena ia membutuhkan sentuhan Dongwook untuk melepaskan hasratnya.
"Shichi morehhh…"
Dongwook tersenyum pada Changmin. Ia segera mengeluarkan tangannya dari balik baju Changmin dan membuat zipper Changmin. Saat kejantanan Changmin tertangkap matanya, ia segera mengeluarkannya dan menggerakkan kedua tangannya yang menggenggam kejantanan Changmin dengan erat.
"Argh… Ah ah ah… Akuhhh… Oooh…"
Changmin menutup kedua matanya dan tanpa sadar mengangkat kepalanya, memperlihatkan lehernya yang putih serta jenjang. Dongwook yang melihat sebuah undangan, segera membuat beberapa kissmark di leher tersebut.
"Ohhh… Shichi… Aaah…"
"Wae?"
Dongwook menjilat hasil karyanya yang sempurna di leher putih Changmin.
"Akuhhh… Cuuumh…"
Dongwook menggerakkan kedua tangan semakin cepat saat merasakan apa yang berada di genggaman tangannya berdenyut kencang. Bibirnya pun telah berpindah dari leher Changmin dan kini telah menempel di bibir tipis Changmin.
"NGHHH!"
Sebuah desahan tertahan terdengar saat Changmin mencapai puncaknya. Tangan Dongwook telah terlepas dari kejantanan Changmin yang kini telah lemas. Tangan yang dipenuhi oleh cairan miliki Changmin dijilat tanpa rasa jijik oleh Dongwook yang menatap sang pemilik cairan.
"Nikmat?" tanya Dongwook.
Changmin menatap Dongwook dengan kesal karena namja itu seakan mempermainkan dirinya.
"Kau akan ke Jepang?" tanya Changmin tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Dongwook.
"Ne, penerbangan pertama 3 hari lagi"
"Berapa lama?"
"2 tahun"
Keheningan terjadi di antara keduanya setelah Dongwook menjawab pertanyaan Changmin.
"Jadi… Kau mengajakku bertemu untuk membicarakan… Kepergianmu?"
"Ani…"
"Mwo?"
"Aku… Aku ingin mengajakmu bersamaku ke Jepang…"
(Haehyuk Kyumin)
TBC
