Title : All About Us
Main cast : Tao,Kris,Kai
Pair : Taoris
Genre : Angst, Romance,Tragedy
All about us
Chapter II
Jongin memperhatikan Zitao yang meninggalkan kelas secepat kilat segera setelah guru mengakhiri pelajaran. Ia bahkan bertabrakan dengan guru yang berusaha keluar kelas. Zitao melesat tanpa meminta maaf. Jongin yang memperhatikan ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia tahu kemana Zitao ingin pergi sampai terburu-buru seperti itu.
Zitao punya kebiasaan untuk makan siang dengan kakaknya di kantin sekolah. Ia langsung meninggalkan bangkunya yang terletak persis di depan bangku Jongin. Jongin hafal betul. Apabila waktu sudah mendekati jam istirahat dan kelas belum juga berakhir, ia akan bergerak-gerak gelisah di bangkunya. Melihat ke arah jendela, Kadang mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja yang mengganggu konsentrasi teman-teman sekelas, Atau malah sibuk bermain dengan ponselnya. Tak pernah sekalipun ia mendengar omelan guru yang ditujukan padanya. Pun pelajaran yang diberikan guru. Masuk ke telinga sebelah kiri dan langsung keluar ke telinga sebelah kanan.
Jongin mengawasi teman sekelasnya itu berjalan cepat menuju kelas di seberang kelas mereka, kelas 3-1, dimana kakaknya tercinta sedang belajar. Ia langsung masuk ke kelas itu dengan cueknya, mengetahui kalau itu adalah area senior, dan langsung keluar lagi setelah menyadari bahwa guru di kelas itu bahkan belum mengakhiri pelajarannya. Terdengar gelak tawa dari kelas itu. Kemungkinan menertawakan Zitao.
Sudah satu bulan semenjak penerimaan siswa baru dan itu cukup untuk membuat seluruh teman sekelas Yifan mengenal Zitao. Sebenarnya hanya butuh satu hari bagi Zitao untuk membuat namanya dikenal seantero sekolah. Berkat insiden perkelahian yang terjadi di upacara penerimaan siswa baru , nama Zitao sudah ditakuti oleh junior bahkan senior. Mereka semua menjadi waspada ketika anak dengan rambut hitam dan mata tajam itu berada di dekat mereka. Mereka takut akan apa yang dilakukan Zitao pada diri mereka. Sampai sekarang, tak ada yang tahu kenapa Zitao tiba-tiba memukuli Jungwon.
Zitao segera memasuki kelas ketika guru itu sudah keluar dari kelas kakaknya. Ia langsung menghampiri bangku kakaknya yang berada di belakang dan sukses menabrak bahu Jungwon yang hanya bisa melotot melihat kekurang ajaran junior sialan itu. Kakaknya sedang berbicara dengan Yixing dengan raut muka yang sangat serius. Ia bahkan tidak menyadari bahwa adiknya sudah menjemputnya. Yixing yang pertama kali menyadari itu.
"Oh hei Zitao!" sapa Yixing riang.
"Hei" balas Zitao singkat.
Yifan menoleh dan mendapati muka masam adiknya.
"Zitao! Maaf aku sedang mendiskusikan tugas matematika kami, aku tidak tahu kau datang"
"Gege masih sibuk?" tanya Zitao.
"Ah, tidak tidak. Kami sudah selesai. Kalian makan siang dulu sana" Yixing yang menjawab. Ia menutup buku matematika tebal yang sedari tadi mereka permasalahkan dan mendorong Yifan untuk menyingkir.
"Tapi katamu tadi-"
"Kata Guru Jei, kita berdua akan mewakili sekolah dalam olimpiade matematika. Persiapkan dirimu. Sudahlah, kita bicarakan nanti. aku lapar. Aku juga mau makan. Bye" dengan itu, Yixing bergabung dengan teman sekelasnya yang lain dan meninggalkan dua kakak beradik itu.
"Gege, aku lapar" Zitao menepuk-nepuk perutnya dengan lucu.
"Iya iya. Ayo ke kantin" Yifan tersenyum dan membereskan buku-bukunya yang bertebaran di meja. Ia menggandeng adiknya keluar kelas.
Kantin sudah sangat penuh tetapi Yifan berhasil menemukan tempat duduk kosong untuk mereka berdua.
"Zitao, kau mau makan apa?" tanya kakaknya.
"Erm…aku ingin memilih sendiri untuk hari ini"
"Baiklah. Ayo kesana"
Seketika murid-murid yang lain menyingkir melihat dua kakak beradik ini menuju stand makanan. Sungguh perpaduan yang sempurna. Wajah mereka berdua sangat tampan. Yang satu penuh senyum sedangkan yang lain memasang wajah masam.
"Selamat siang, Yifan-ge!" sapa seorang gadis. Yifan hanya mengangguk dengan sopan. Wajah Zitao makin masam.
"Nah, kau mau makan apa?" Yifan mengambil piring untuk mereka berdua. ia sudah mengisi piringnya sendiri dengan sandwich isi tuna juga segelas air putih. Adiknya masih bingung. Ia menggigit bibirnya dan berpikir keras. Tapi akhirnya ia malah mengambil makanan yang sama dengan kakaknya. Tetapi ia terlihat kebingungan lagi ketika ia mencoba mencari minumannya.
"Susunya habis" Zitao cemberut.
"Benarkah?" Yifan mencoba mencari sekotak susu yang masih tersisa dari rak dan tidak menemukan apapun. Ia menatap adiknya lagi yang makin cemberut.
"Kau mau jus? Atau yang lain?" tanya Yifan mencoba menenangkan adiknya. Disaat seperti ini ia harus bergerak cepat. Karena apapun yang diinginkan Zitao harus ada saat itu juga. Tidak boleh tidak.
Tangan Yifan sudah bergerak menjangkau segelas jus jeruk ketika Zitao membantahnya.
"Tapi aku mau susu!" rengek Zitao.
"Baiklah baiklah. Aku akan belikan di mesin minuman-"
"Tidak perlu" sela seseorang dari belakang. Dua kakak beradik ini menoleh dan mendapati Jongin sudah berdiri di belakang mereka. Tidak lupa dengan senyuman khasnya. Ia juga membawa sekotak susu cokelat yang bungkusnya masih rapi. Ia menyodorkannya pada Zitao.
"Ini. Kau mau susu,kan? Tenang saja, Aku belum meminumnya sama sekali" tawar Jongin. Masih tersenyum.
Yifan terdiam. Siapa anak ini?
"Terima kasih, Jongin" ujar Zitao. Ia menerima susu itu.
"Jangan dipikirkan. Hanya sekotak susu. Kalau kalian tidak keberatan, aku ingin mengambil makan siang juga"
"Oh, tentu saja. Silahkan" Yifan memberikan jalan untuk Jongin.
"Terima kasih, Kakak Zitao" ujar Jongin dengan nada menyanyi.
Yifan mengajak Zitao ke meja mereka untuk makan. Jongin mendengar percakapan mereka berdua.
"Siapa anak itu?" tanya Yifan.
"Teman sekelas" jawab Zitao singkat sambil menyeruput susu cokelatnya.
"Oh"
Segera kakak beradik itu menikmati makan siang mereka dengan riang. Zitaolah yang banyak bercerita sementara kakaknya sesekali mengelap sisa makanan yang menempel di mulut adiknya. Jongin memperhatikan semua ini dari mejanya yang tak terlalu jauh dari meja Zitao. Ia bisa menyaksikan wajah itu hanya pada saat-saat tertentu saja. Wajah penuh kebosanan yang sering ia tunjukkan di kelas seketika berubah menjadi wajah yang penuh kebahagiaan saat berada di dekat kakaknya. Jongin memperhatikan bahwa ia bisa mendengar dan melihat tawa serta senyum Zitao hanya pada saat-saat tertentu, yaitu makan siang bersama kakaknya dan saat pulang sekolah yang lagi-lagi dengan kakaknya. Seolah-olah kegiatan utama Zitao hanya dua hal itu. Makan siang dan pulang sekolah dengan kakaknya yang populer. Menyimak pelajaran dan mengerjakan tugas? Mungkin lain kali.
.
Kelas 1-1 sore itu berubah ricuh ketika senior Yifan memasuki kelas itu dengan tergesa-gesa. Ia kesulitan masuk ketika gadis-gadis dari kelas itu malah menanyainya macam-macam. Ia hanya ingin menemui adiknya. Ia berhasil melewati kerumunan itu dengan bantuan ketua kelas yang akhirnya mendapat makian dari gadis-gadis itu sebagai balas jasanya.
Zitao yang sedang merapikan buku-bukunya, terkejut melihat kakaknya sudah berada di depan bangkunya.
"Gege? Maaf aku sedikit terlambat. Tunggu aku-" Zitao buru-buru menjejalkan bukunya ke dalam tas hanya untuk disela oleh Yifan.
"Maaf, Zitao. Hari ini kau pulang duluan saja" sela Kakaknya. Zitao menghentikan aktivitasnya dan terdiam menatap kakaknya.
"Kenapa?" tanya Zitao.
"Aku ada kursus persiapan olimpiade matematika bersama Guru Jei" ujar Yifan dengan nada menyesal.
"Dengan orang bernama Yixing itu lagi?" batin Zitao kesal.
"Oh, baiklah kalau begitu" Zitao menyibukkan diri dengan buku-bukunya lagi. Menolak menatap kakaknya. Yifan menghela nafas.
"Maafkan Gege" Yifan meraih kepala Zitao dan mencium puncak kepalanya dengan lembut. Zitao tak menggubris semua itu.
"Hati-hati di jalan. Katakan pada Ibu, aku pulang terlambat" ujar Yifan sebelum ia meninggalkan kelas Zitao. Meninggalkan adiknya dengan wajah seolah ingin menangis. Ia meraih tasnya dan beranjak dari bangku ketika sebuah suara menghentikannya.
"Hei Zitao, bukumu jatuh"
Zitao menoleh.
Jongin.
Ia melihat Jongin membungkuk memungut bukunya. Ia menyerahkan buku itu pada si pemilik dengan senyuman.
"Jangan buru-buru begitu. Bagaimana kalau kita pulang bersama?" ajak Jongin.
Zitao meraih buku itu dan tanpa sepatah katapun meninggalkan Jongin dan kelas yang sudah kosong. Jongin mengangkat alisnya dan menyeringai.
"Baiklah. Setidaknya aku sudah mencoba" ia mengangkat bahu.
.
Yifan pulang ke rumah pada pukul delapan malam. Ibunya sudah menyambut dirinya dengan berkacak pinggang.
"Darimana saja kau eh?" tanya ibunya.
"Pelajaran khusus dengan Guru Jei, Bu. Aku akan ikut olimpiade matematika, karena itu banyak materi yang perlu diulang" jelas Yifan.
"Benarkah? Olimpiade matematika? Ibu akan mendukungmu, Nak!" ibunya memekik penuh bangga.
"Zitao tidak mengatakan apa-apa?" tanya Yifan.
"Zitao? Tidak. Dia langsung mengurung diri di kamar sepulang sekolah tadi. ia tidak menjawab saat ditanya"
Adiknya pasti masih marah. Yifan menghela nafas. Ia naik ke lantai atas dan menurungkan niatnya melihat keadaan Zitao karena pintu kamar adiknya terkunci rapat.
.
Esoknya, Yifan berniat menemui adiknya pagi sekali. Ketika ia melihat bahwa pintu kamarnya tidak terkunci, ia langsung masuk dan menyiapkan seragam Zitao, seperti biasa. Tidak lupa mengecek PR Zitao yang ia yakin pasti belum dikerjakan. Kakaknya hanya bisa geleng-geleng kepala. Maka ia duduk di meja belajar Zitao dan mulai mengerjakan PR milik adiknya.
Zitao baru selesai mandi ketika ia melihat kakaknya yang sudah rapi sedang duduk di meja belajarnya, sibuk mengerjakan sesuatu.
"Gege? Apa yang kau lakukan?" tanya Zitao, mengagetkan Yifan.
"Oh, kau sudah selesai mandi?" Yifan memutar badannya dan melihat adiknya hanya berbalut handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Kenapa Gege mengerjakan PR-ku?"
"Karena kau belum mengerjakannya dan aku tak mau kau dihukum karena itu" jelas Yifan. Ia bangkit dan mengeringkan rambut Zitao dengan handuk yang tergantung di lehernya.
"Tidak usah repot-repot" ujar Zitao acuh.
"Kenapa? Bukannya setiap malam aku juga mengajarimu mengerjakan PR?"
"Yeah. Dan karena seseorang tidak ada kemarin malam, aku jadi tidak bisa mengerjakannya"
"Ow Zitao adikku, jangan marah lagi. Gege akan mentraktirmu makan siang hari ini. ya?"
"Memangnya aku anak kecil?" Zitao cemberut.
"Bagiku, selamanya, kau adalah adik kecilku yang manis" Yifan mengacak-acak rambut adiknya. Zitao terdiam beberapa saat tetapi tidak lama kemudian senyuman di bibirnya merekah. Yifan tersenyum lega.
"Sarapan sudah siap. Ayo pakai seragammu" perintah kakaknya.
"Iya iya" Zitao tertawa.
"Perlu kubantu?" Yifan mengawasi adiknya memakai celana.
"Tidak usah. Kerjakan saja PR-ku!"
"Baik, baik, Tuan muda" Yifan kembali melanjutkan PR adiknya dengan senang hati.
Ketika jam istirahat tiba, Yifan benar-benar mentraktir Zitao apapun yang dia minta. Yifan suka sekali melihat adiknya makan dengan lahap. Sejauh ini, tidak ada makanan yang Zitao tidak suka. Tapi, adiknya ini tak pernah gendut. Ia sampai heran.
"Oh ya, Gege. Hari ini kita bisa pulang bersama,kan?" tanya Zitao sambil makan. Nasi menempel di pipinya. Yifan tersenyum dan membersihkan nasi itu dari pipi adiknya.
"Aku tidak bisa. Sayang sekali, Zitao. Tapi beberapa minggu ini aku ada pelajaran khusus. Ini untuk persiapan olimpiade matematika nanti" jelas Yifan dengan nada sedih.
Zitao berhenti mengunyah dan meletakkan sumpitnya. Ia mengelap bibirnya dengan tissue dan terdiam. Yifan memperhatikan ini dan ikut sedih. Sebanyak ia ingin selalu menemani adiknya kemanapun, tetapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa.
"Aku harus memenangkan olimpiade ini. Seperti biasa, pialanya akan kuberikan padamu" Yifan mencoba membujuk Zitao tetapi adiknya hanya terdiam dan mengaduk-aduk supnya.
"Kau mau melihat Gege menang,kan? Zitao-"
Tetapi sebelum Yifan selesai bicara, Zitao sudah bangkit dari kursinya dan meninggalkan kantin. Yifan hanya bisa menghela nafas.
.
Suara ketukan penggaris kayu Guru Yang memekakkan telinga di kesunyian yang menyelimuti kelas 1-1 siang itu. Pelajaran fisika telah menjadi momok bagi kelas satu. Pelajaran yang menuntut ketelitian dan kecerdasan dari siswanya itu semakin menjadi beban ketika sang pengajar adalah seorang Guru Yang. Guru senior ini terkenal dengan cara mengajarnya yang keras. Apabila sosoknya yang sudah renta memasuki kelas, tak perlu sampai ia bicara agar murid-murid harus diam. Tatapan mata saja sudah cukup.
Guru Yang sedang menerangkan ketika ia menyadari bahwa hanya ada sepasang mata saja yang tidak tertuju di papan. Sepasang mata itu malah duduk dengan berpangku tangan dan menggurat tidak jelas menggunakan penanya di atas buku pelajaran. Bukan kali ini saja ia mendapati murid itu mengacuhkan kelasnya. Kali ini ia akan mendapat pelajaran yang sebenarnya.
"Huang Zi Tao" suaranya membahana. Membuat seisi kelas memalingkan wajah ke satu sosok.
Yang dipanggil tetap terdiam. Zitao mencoreti bukunya dengan gambar-gambar tak jelas. Kemudian ia menghela nafas panjang. Cukup keras untuk didengar seluruh seisi kelas. Apalagi perhatian seisi kelas sedang tertuju padanya. Tapi ia belum menyadari semua itu.
Guru Yang berdeham sangat, sangat keras.
"Huang Zi Tao!" seru Guru itu. Zitao mendongak dan mendapati seluruh mata menatap dirinya. Ia mengernyitkan dahi. Aneh. Apa yang terjadi?
Jongin mencolek bahu Zitao yang duduk di depannya. Zitao menoleh kebingungan.
"Guru Yang memanggilmu" bisiknya.
Zitao kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
"Anda memanggil saya?" tanya Zitao tanpa dosa.
Zitao tahu betul kalau ia tak pernah mendengarkan apa yang dijelaskan orang ini di depan kelas dan mungkin ia akan ditegur kali ini. Zitao sudah bisa menebak dari wajahnya yang seram.
"Aku ingin tahu, seperti apa adik Yifan. Katanya ia ada di kelas ini" Guru Yang memulai.
"Ya. itu aku" jawab Zitao seadanya.
"Kalau kau memang adiknya, maka tak akan sulit bagimu untuk mengerjakan soal ini" Guru Yang menunjuk soal di papan tulis. Semua anak menarik nafas. Itu merupakan soal yang paling sulit. Mereka belum paham betul soal itu.
"Tidak masalah" Zitao berjalan dengan cueknya ke depan kelas. Bukannya ia mengetahui cara menjawab soal itu, hanya saja suasana hatinya sedang buruk. Ia sedang tidak ingin dimarahi.
Zitao mengambil kapur dan menatap formula di papan itu dengan bosan. Ia memiringkan kepalanya ke kanan seolah berpikir. Dan tiba-tiba ia mengangguk dan menuliskan sesuatu di papan. Ia menuliskannya dengan cepat. membuat seisi kelas berdecak kagum dan berpikir bahwa ia bisa menyelesaikan rumus itu. Tapi tidak, mana Zitao tahu semua itu. Ia memang ingat kakaknya pernah membahas soal ini beberapa waktu lalu ketika mereka belajar. Tapi siapa yang peduli tentang hal seperti itu? setidaknya, bagi Zitao.
Zitao selesai menulis dan kembali ke bangku. Semuanya mengernyitkan dahi melihat apa yang sebenarnya Zitao tuliskan. Yang Zitao lakukan hanyalah menulis soal itu kembali!
"Huang Zi Tao!" raung Guru Yang.
"Yeah?" jawabnya dengan santai sambil menguap.
"Aku menyuruhmu menjawab soal itu dan bukannya menyalin!"
"Lalu aku disuruh menulis apa? Aku tidak bisa mengerjakan soal itu dan bisakah kau berhenti berteriak? Telingaku sakit"
Wajah Guru itu seketika merah padam. Seisi kelas berdengung. Mereka tidak pernah membayangkan ada murid yang berani melawan Guru Yang. Mereka semua meluruskan duduknya dan memusatkan perhatian ke guru dan murid itu.
"Kau- soal begini saja tidak bisa?! Kau tidak pantas jadi adik Yifan!"
Dan habislah sudah kesabaran Zitao. Ketika Zitao hendak berdiri, sebuah tangan mencengkeram bahunya dari belakang dan mencegah Zitao sebelum ia sempat melakukan sesuatu yang bodoh. Zitao menoleh, mengetahui itu tangan Jongin dan melotot padanya.
"Maaf, Guru Yang. Erm…tapi sejujurnya kami sekelas belum memahami betul tentang soal itu. Karena itu wajar kalau Zitao juga tidak bisa menjawabnya" jelas Jongin dengan tenang.
"Apa kau bilang? Kalian semua tidak bisa menjawab soal semudah ini?! kalian ini bodoh ya?!" Guru Yang meraung dan menendang meja. Membuat seisi kelas berjengit ketakutan. Diam-diam mereka mengutuk Jongin dalam hati.
"Jongin, kenapa kau malah melemparkan kami ke mulut buaya?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan pantaskah Zitao menjadi adik Yifan. Benar, Ini semata-mata ketidakmampuan kami" Jongin terus membela Zitao.
"Omong kosong" gumam Zitao.
"Apa katamu?!" bentak Guru Yang.
"Omong kosong. Kalau kami masih saja tidak mampu mengerjakan soal ini, menurutku ini bukan karena kami yang bodoh atau bebal atau apa. Jelas-jelas ini karena kemampuan mengajarmu yang monoton dan membosankan" ujar Zitao seenaknya.
Jongin dan seisi kelas terpengarah. Ini tontonan menarik! Wajah Guru Yang berubah dari merah menjadi pucat.
"Apa yang akan kami dapatkan dengan perasaan tertekan begini? Pelajaran saja tak akan bisa masuk. Kau sadar itu?"
Sekali Zitao marah, tak ada yang mampu menghentikannya.
"Dan jangan sekali-sekali membawa nama kakakku di kelas ini. Jangan pernah samakan dirinya dengan aku atau siswa lain. Kakakku itu berbeda. Tak akan ada yang bisa menandinginya"
Pernyataan Zitao ini langsung disambut dengungan dan anggukan tanda setuju dari gadis-gadis di kelasnya. Jongin berdeham.
"DIAM!" bentak Guru Yang. "Kau…! Bocah kurang ajar-"
"Sadarlah, Pak Tua. Cara mengajarmu itu kuno!" pungkas Zitao. Ia mendudukkan dirinya di kursi lagi. Seisi kelas berdecak kagum. Mereka menatap Guru Yang dengan tatapan aneh. mereka tidak memungkiri semua pernyataan Zitao. Karena memang itulah yang mereka rasakan selama ini.
Tangan Guru Yang mengepal di kedua sisi. Buku jarinya memucat, begitu juga wajahnya. Seumur hidupnya mengajar, belum pernah ia dipermalukan seperti ini oleh muridnya sendiri di depan kelas!
"DETENSI! Guru Yang mengangkat jari telunjuknya kearah Zitao.
"DAN KAU JUGA!" kali ini tangannya mengarah pada Jongin.
"A-aku?" Jongin tidak percaya.
"Detensi untuk kalian berdua. Seminggu penuh" desis Guru itu penuh murka.
Jongin menggeleng tidak percaya. Sementara Zitao hanya mengangkat bahu dengan acuh.
.
Sudah seminggu ini Zitao dan Jongin membersihkan toilet sekolah. Ini mereka lakukan rutin sepulang sekolah. Guru Yang tidak main-main dalam memberikan hukuman. Ia terjun dan menjadi pengawas langsung bagi kedua siswa itu. Mereka dipaksa mengepel dan menyikat tiap kloset yang ada di toilet. Dan SM academy bukanlah sekolah yang kecil. Ada banyak toilet disana. Bukan hanya toilet siswa tapi juga milik guru.
Betapapun menjijikkannya hukuman ini, Jongin selalu menantikan saat sepulang sekolah dimana hanya tinggal dirinya dan Zitao. Berdua bahu membahu membersihkan toilet bau.
Zitao tetap acuh seperti biasa. ia bahkan tidak berusaha untuk menyapa Jongin. Ia tetap bekerja dalam diam. Sementara Jongin tak pernah luput memperhatikannya. Sudah satu minggu sejak hukuman ini berjalan dan sekarang adalah hari terakhir. Jongin memang senang, tapi juga sedih.
"Tidak terasa sudah satu minggu kita berdua berkutat dengan toilet-toilet" ujar Jongin. Berusaha mencairkan suasana. Zitao hanya menggumam sebagai balasan. Ia serius sekali menggosok toilet di dalam.
"Rasanya toilet sudah menjadi rumah keduaku" Jongin tertawa, hambar.
Zitao masih saja menggumam.
Jongin berdecak. Apa anak itu selalu saja sesombong ini?
"Seberapa banyakpun aku berusaha menyemprotkan parfum, bauku tetap saja mirip pispot" Jongin mencium seragamnya dan hidungnya mengeryit. Biarpun samar, ia bisa mendengar tawa Zitao.
"Aku sudah selesai" ujar Zitao. Ia membawa ember penuh air kotor bekas pel. Keringat bercucuran dari keningnya.
"Benarkah? Cepat sekali. kau yakin sudah bersih? Pak Tua akan mengeceknya nanti dan kalau masih kotor, detensi akan ditambah satu minggu" ujar Jongin sambil menggosok lumut di lantai.
"Omong kosong" balas Zitao sambil lalu. Ia hendak keluar dari bilik toilet yang ia kerjakan ketika secara tak sengaja ia melangkah diatas sebuah sikat.
"Whoah!"
"AWAS!"
Zitao terpeleset dan meluncur menabrak Jongin yang berjongkok di depannya. Tak lupa menumpahkan seember air bau yang sekarang membasahi tubuh mereka berdua.
"Sial" gumam Zitao sambil menendang ember.
Mau tak mau mereka harus mandi kalau tak mau seisi bus menutup hidung karena bau yang menguar dari tubuh mereka. Zitao dan Jongin sedang mandi di ruang ganti klub atletik. Ruangan ini dilengkapi dengan shower. Mereka akan mengganti seragam mereka yang kotor dengan seragam olahraga.
Jongin mendengar suara air dari sebelah, menandakan Zitao sudah memulai aktivitasnya. Ia menangkap bayangan Zitao yang mencuci rambutnya. Jongin memekik kegirangan dalam hati membayangkan indahnya mandi di bawah air yang sama dengan Zitao. Suara dari sebelah membuyarkan lamunannya. Suara Zitao.
"Ouch! Sial…" rintih Zitao.
"A-ada apa, Zitao?" tanya Jongin. Ia mematikan showernya.
"A-ah" suara rintihan itu masih terus terdengar. Pipi Jongin memerah. Zitao, apa yang sedang ia lakukan?
"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin lagi. Zitao sedang tidak masturbasi,kan?
"Mataku…."
Mendengar ini, Jongin yang khawatir langsung melompat ke bilik sebelah. Uap menyelimuti bilik dimana Zitao sedang mandi. Ia meraba-raba dinding di sekitarnya. Uap dari air hangat itu terlalu tebal.
"Zitao?"
Tangannya menggapai-gapai dan kali ini ia mendarat di sosok yang tepat. Ia menemukan Zitao. Menutupi matanya dengan kedua tangan. Ia juga mendengar isak tangis.
"Zitao! Apa yang terjadi?" tanya Jongin. Ia berusaha membuka mata Zitao dan mata itu terpejam rapat.
"Shampo sialan itu masuk ke mataku…!" Zitao merengek karena perih. Jongin menghela nafas. Syukurlah, hanya shampoo.
"Tenanglah. Sini, Biar kubantu" Jongin membasahi mata Zitao dan membilasnya dengan air, perlahan-lahan. Selama itu, Zitao menggenggam erat bahu Jongin.
"Bagaimana?" Jongin memperhatikan mata Zitao yang mulai mengerjap-ngerjap dengan normal. Matanya sudah tidak semerah tadi.
"Sudah…" Zitao sudah bisa berbafas lega. Biasanya kakaknyalah yang mencuci rambutnya. ia tidak biasa keramas sendiri. mungkin ia menumpahkan shampoo terlalu banyak ke rambutnya dan malah kena mata.
Dan saat itulah ketika mereka menyadari keadaan mereka berdua. Keduanya sama-sama telanjang bulat. Diguyur air hangat yang berasal dari shower. Mata Zitao melebar. Ia melepaskan genggamannya pada bahu Jongin dan menjauh.
"Keluarlah. Terima kasih sudah menolongku" gumam Zitao. Ia berbalik membelakangi Jongin yang masih berdiri.
"Jangan dipikirkan" Jongin menyeringai.
Uap di bilik itu semakin menebal. Mengaburkan pandangan Jongin. Ia ingin melihat tubuh Zitao dengan jelas. Lebih jelas.
Maka, ia melangkahkan kakinya dengan hati-hati dan menyentuh punggung yang lebar itu dengan telapak tangannya. Zitao berjengit.
"Jongin? Apa yang kau lakukan?" tanya Zitao heran.
"Hanya memijatmu" ujar Jongin tenang.
Ia menyusuri punggung Zitao lagi. menggosok-gosoknya dengan telapak tangannya. Kemudian, ia melingkarkan tangannya ke pinggang Zitao yang langsing. Jongin menunggu reaksi dari Zitao. Tapi ketika ia tidak mendengar apapun, ia menjalankan jemarinya ke perut Zitao yang indah. ia bisa merasakan abs di perut teman sekelasnya. Jongin semakin mengencangkan pelukannya ke pinggang itu dan merasakan penisnya menabrak pantat Zitao.
Jongin melenguh ketika ia menyadari bahwa tangan Zitao mulai mencari-cari sesuatu. Ia merasakan pantatnya diremas oleh kedua tangan Zitao yang lebar. Ia memutar tubuh Zitao sehingga tubuh indah itu sekarang menghadap dirinya. Wajah Zitao seakan berpikir. Alisnya bertaut. Sementara Jongin menyeringai penuh kemenangan.
Akhirnya. Apa yang ia impikan selama ini menjadi kenyataan. Sejak pertama kali berjumpa dengan Zitao dan menyaksikannya menghajar senior itu. ia sudah menaruh perhatian kepadanya. Apalagi mereka berdua sekelas dan duduk berdekatan. Jongin berpikir kalau ia sangatlah beruntung. Sudah tak terhitung lagi malam dimana ia membayangkan mulut Zitao membungkus batang kejantanannya. Mengulum dan memuaskan hasratnya yang haus akan sentuhan Zitao. Ia sudah memendam imajinasi liarnya selama ini dan sekarang ia nyaris tak percaya ketika imajinasi itu menjelma jadi kenyataan.
Jongin meraih kepala Zitao dan menabrakkan bibir itu dengan bibirnya. Mata Zitao melebar. Jongin merapatkan tubuhnya dengan milik Zitao. Ia bisa merasakan junior mereka berciuman. Junior yang sudah sama-sama tegang. Jongin mengemut bibir Zitao dengan agresif. Zitaopun membalasnya dengan memasukkan lidahnya ke dalam gua milik Jongin. Lidah mereka beradu dan tidak lama kemudian Jonginlah yang keluar sebagai pemenang. Ia mengulum lidah Zitao dengan bibirnya.
Jongin merasakan juniornya berkedut minta dituntaskan. Maka ia meraba-raba dan meraih tangan Zitao. Ia melingkarkan jemari-jemari lentik Zitao ke batangnya yang tegang. Zitao melepas ciuman itu dan memandangnya aneh.
"Lakukan…lakukan untukku, kumohon" Jongin melenguh ketika tangannya yang masih menggenggam jemari Zitao mulai bergerak di juniornya sendiri. Zitao tidak yakin dengan apa yang Jongin inginkan, tapi ia mulai meremas junior teman sekelasnya itu. jongin mengeluarkan lenguhan panjang.
"Yeah, seperti itu…aah" Jongin mendesis di telinga Zitao. Ia hendak meraup bibir Zitao yang indah itu lagi ketika ia mendengar suara gaduh dari luar. Zitao melepas genggamannya pada batang milik Jongin. Wajahnya khawatir.
"Kenapa showernya menyala? Bukankah kegiatan klub sudah usai?" terdengar suara dari luar.
"Siapa yang mandi disini?" sebuah tangan meraih handle pintu bilik dimana mereke berdua berada.
"Sial!" umpat Jongin dalam hati.
.
Yifan berlari menuju kelas Zitao dengan riang. Ia tak henti-hentinya tersenyum. Akhirnya setelah seminggu menjalani kursus neraka dari Guru Jei, ia bisa sedikit bernafas lega. Karena Guru Jei sedang tugas ke luar kota, maka ia mendapat libur beberapa hari. Selama hari-hari itu ia jarang bertemu adiknya. Mungkin hanya pagi hari saat mereka berangkat sekolah dan makan siang, itupun Yifan harus buru-buru kembali ke kelas karena ia harus menyiapkan prensentasi untuk makalah bahasa inggrisnya. Dan alhasil ia selalu pulang malam. Zitao pun sudah tidur. Karena itu hari ini ia sangat ingin menebus semua waktunya dengan mengajak Zitao jalan-jalan ke kota.
Kelas 1-1 sudah sepi ketika ia memasukinya. Hanya ada beberapa siswa yang masih tersisa, termasuk Zitao. Ia tersenyum lega, ia pikir adiknya itu sudah pulang lebih dulu. Adiknya itu menghadap ke belakang dan terlihat berbicara dengan temannya.
"Zitao!" panggil Yifan.
Zitao menoleh ke arah suara dan terkejut ketika melihat kakaknya berdiri terengah-engah di hadapannya.
"Gege? Sedang apa disini?" tanya Zitao.
"Syukurlah kau belum pulang, Zitao. Hari ini aku tidak ada kursus. Bagaimana kalau kita main ke kota?" ajak Yifan dengan semangat. Ia meraih tangan adiknya dan hendak mengajaknya keluar tetapi tangannya ditepis oleh adiknya.
"Zitao?" ia menatatap adiknya, masih terengah-engah.
"Maaf, Gege. Tapi sayang sekali, hari ini aku ada detensi" ujar Zitao. Ia mengedikkan kepalanya ke bangku di belakangnya dimana Jongin sedang duduk santai.
"Selamat sore, Kakak Zitao" Jongin tersenyum.
"Selamat sore" Yifan mengangguk ke arahnya. Ia kembali menatap adiknya.
"Detensi? Kau kena detensi?" tanya Yifan bingung. Kenapa ia tidak pernah mendengar itu?
"Jangan khawatir. Hanya sedikit adu mulut dengan Guru Yang" Zitao meraih tasnya. "Ayo, Jongin. Jangan santai-santai"
Jongin menyeringai dan bangkit dari kursinya. Jongin membungkuk kepada seniornya itu. Zitao menepuk-nepuk pipi kakaknya sebelum ia meninggalkan kelas.
"Hati-hati di jalan" Zitao melambai ke arah kakaknya yang berdiri mematung. Ia menyaksikan Jongin menyelipkan tangannya ke pinggang adiknya. Zitao membalas dengan merangkul pundak Jongin. Mereka tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang mereka tertawakan.
Yifan berdiri di tengah kelas dan terheran-heran. Sejak kapan mereka berdua seakrab itu? dan-
Tunggu, ia yang salah lihat atau adiknya baru saja mewarnai rambutnya menjadi…merah?!
.
Zitao dan Jongin memasuki sebuah mini market. Mereka berencana akan mengunjungi rumah Jongin. Tapi sebelum itu, mereka ingin membeli makanan dulu. Zitao berjalan menuju rak makanan kecil dan memasukkan beberapa makanan dan minuman ringan itu ke dalam keranjang. Setelah ia rasa cukup, ia mengajak Jongin menuju kasir.
"Jongin, ini sudah cukup banyak. Ayo ke kasir" ajak Zitao.
"Tunggu sebentar" Jongin menolak. Ia memasang hoodienya dan melihat ke kanan kiri. Bagaimanapun, ia terlihat mencurigakan. Ia menyaksikan Jongin memasukkan beberapa rokok ke dalam saku hoodienya. Tidak hanya itu, ia juga memasukkan beberapa bungkus kondom dan memasukkannya ke saku celana. Jongin menyeringai menatap Zitao.
"Lihat? Untuk apa membuang uang kalau kau bisa mendapatkannya dengan gratis?"
Benar juga. ia melihat makanan yang akan ia bayar dan terdiam. Jongin menggenggam tangannya.
"Dengar, kasir disini adalah orang yang pemalas. Ia selalu tidur saat menjaga toko. Kau bisa lihat,kan? Bahkan ia tak sadar saat kita masuk"
Zitao melirik meja kasir dan memang ia melihat kasirnya sedang tidur bertopang dagu. Ia kembali memandang temannya itu.
"Perhatikan aku. masukkan makanan itu ke dalam tas dan berjalanlah seperti biasa. jangan berisik dan jangan mencurigakan. Oke?" jelas Jongin.
Zitao menelan ludah dan mengangguk cepat. ia menjejalkan makanan itu ke dalam tas dan mengikuti Jongin menuju pintu keluar. Jantungnya hampir copot saat ia menangkap dari sudut matanya bahwa si kasir itu bergerak sedikit. Tetapi ia dan Jongin sudah sampai di jalan besar dan tidak ada yang meneriaki mereka maling.
"Kita aman" Jongin menyeringai. Zitao menghela nafas yang sedari tadi ia tahan.
"Hah hah hah…ha ha ha ha" Zitao terengah-engah tetapi kemudian semuanya berubah menjadi tawa.
"Mudah sekali,kan?" Jongin merangkul pinggang Zitao.
"Yeah. Semudah membuat Pak Tua marah"
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Jongin mengacak-acak rambut merah Zitao. Rambut itu adalah hasil karyanya. Ia berhasil membujuk Zitao untuk memulas rambutnya menjadi merah. Zitao memang tampan tetapi ia pikir sekarang Zitao jauh lebih tampan dan memikat dengan rambut itu. Jongin merapatkan pelukannya di pinggang Zitao dan berjalan berdampingan menuju rumahnya.
.
Zitao baru pulang ke rumahnya pukul enam pagi. Ia langsung disambut dengan Yifan yang sudah berdiri di depan pintu. Kakaknya itu mengenakan pakaian training. Mungkin ia selesai berolahraga. Zitao mengacuhkan kakaknya itu dan langsung menuju kamarnya sendiri. Yifan mengejarnya.
"Zitao!" panggil Yifan. Ia meraih tangan adiknya dengan kasar.
"Aku ngantuk sekali, Gege! aku mau tidur!" bentak Zitao. Ia menampik tangan kakaknya dan naik keatas.
"Tunggu, Zitao. Aku bilang berhenti!" Yifan meraung. Ia memutar paksa tubuh adiknya. Ia mencium bau aneh dari adiknya. Ia menciumi badan Zitao. Adiknya itu mendorong Yifan.
"Lepaskan!"
"Bau alkohol. Kau habis minum,ya?!" bentak Yifan.
"Bukan urusanmu! Minggir!" Zitao berlari menuju lantai atas dan Yifan mengejarnya. Derap langkah mereka membangunkan kedua orangtuanya.
"Yifan…? Ada apa?" tanya ibunya.
Zitao membanting pintu di depan wajah kakaknya.
"Zitao! Buka pintu!" Yifan menggedor-gedor pintu kamar adiknya.
Zitao menutup kedua telinganya dan berlari menuju kamar mandi. Ia segera mencuci seluruh badannya yang bau keringat, sperma, dan alkohol dari bekas semalam.
.
Yifan mengawasi Zitao melahap sarapan pagi dengan mata tajam. Ia tak pernah melepaskan pandangannya dari adiknya. Zitao duduk dengan gelisah di kursinya. ia meneguk susunya. Kakaknya pun meniru apa yang adiknya lakukan. Mereka meletakkan gelas yang sekarang kosong secara bersamaan. Ibunya menatap kedua putranya dengan heran. Apakah putranya sedang bertengkar?
"Yifan, bagaimana persiapan olimpiade matematikamu?" tanya ibunya, mencoba mencairkan suasana.
"Eh? Apa yang ibu katakan?"
"Ibu bilang, bagaimana persiapan olimpiade matematikamu? Kapan lomba itu dilaksanakan?"
"Oh, itu. aku masih mengikuti kursus. Tapi untuk beberapa hari ini Guru pembimbingku sedang cuti tugas jadi-"
"Aku berangkat" gumam Zitao. Ia pun berlari meninggalkan dapur dengan cepat, sebelum kakaknya sempat mengejar.
"Sial! Ibu, aku berangkat dulu!" Yifan menyambar tasnya dan mengejar adiknya.
"I-ya. Jaga adikmu!" Ibunya semakin terheran-heran.
Yifan menoleh ke kanan kiri dan tidak melihat jejak adiknya dimanapun. ia mendengar langkah berderap dan melihat adiknya berlari menuju halte bus.
"Kembali kau, Zitao!" teriak Yifan.
Ia memacu langkahnya mencoba menyejajari adiknya yang sudah jauh. Zitao mendengar kakaknya berteriak dan semakin mempercepat larinya. Tapi sial bagi dirinya, kaki kakaknya yang lebih panjang membuat dirinya tersusul. Ia melihat bus datang dan langsung melompat naik. Ia terengah-engah. Bagus, kakaknya ketinggalan bus. Rasanya nafasnya sudah habis. Belum sempat ia duduk, tiba-tiba dari belakangnya, Yifan muncul. Rupanya kakaknya terus mengejar bus dan nekat melompat naik.
"Nah, kau tidak bisa lari lagi, Adikku" Yifan menyeringai.
"Sial!" umpat Zitao. Ia menjauhi kakanya dan mereka pun melanjutkan kejar-kejaran di atas bus.
"Kalian pikir apa yang kalian lakukan?!" pekik seorang penumpang bus yang merasa sangat terganggu dengan tingkah kakak beradik itu.
"Hei nak, kalau mau kejar-kejaran di jalan sana! Ini bukan lapangan!" pekik seorang nenek yang kakinya tak sengaja Yifan injak.
"Gyaaa! Dasar anak zaman sekarang kurang ajar!" nenek itu melepas sandal kayunya dan memukuli Yifan.
"Ampun! Maaf, Nek!" Yifan berusaha melindungi kepalanya dari pukulan sandal kayu sang nenek.
Melihat ini, Zitao melihat celah untuk kabur. Di belokan depan, ia memutuskan untuk melompat turun. Zitao mengerang kesakitan ketika kakinya menemui aspal. Yifan yang masih dipukuli oleh si nenek, tak menyangka adiknya akan senekat itu. ia hanya bisa terbelalak lebar. Zitao menyeringai dan melambaikan tangannya pada kakaknya itu dengan senyum mengejek.
.
Yifan berderap menuju ruang guru dengan wajah serius. Ia langsung menuju meja Guru Yang. Guru senior itu sedang meminum kopi dengan santai.
"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, Guru" sapa Yifan.
"Oh! Yifan! Ada apa kau menemuiku?"
"Saya hanya ingin menanyakan detensi yang anda berikan pada Zitao, adik saya"
"Oh? Anak kurang ajar itu. sungguh Yifan, anak itu beda sekali dengan dirimu yang sopan-
"Dimana ia menjalankan detensinya?" sela Yifan. Ia buru-buru.
"Di toilet sekolah. bersama anak satu lagi yang bernama…siapa,ya?"
"Kim Jongin?" sela Yifan tidak sabar.
"Ah! Ya! Bocah dari Korea itu. kenapa kau menanyakan itu? detensinya sudah selesai seminggu yang lalu"
"A-apa?"
"Maaf, Gege. Tapi sayang sekali, hari ini aku ada detensi"
Itu sudah seminggu yang lalu. Jadi…Zitao telah berbohong padanya?
.
Zitao selalu berusaha menjauhi Yifan baik di rumah maupun sekolah. ia berangkat pagi-pagi dan pulang sebelum Yifan sempat datang ke kelasnya. Dan di rumah, Ia langsung mengunci dirinya di kamar sampai pagi. Ini membuatnya kesulitan untuk bicara dengan adiknya itu. tapi sekarang ia sudah tahu dimana Zitao bersembunyi di jam istirahat. Dimana lagi kalau bukan di atap?
Yifan membuka pintu tangga darurat yang terhubung ke atap. Ia bisa melihat rambut merah Zitao. Dan ia tak sendiri, ada rambut cokelat kehitaman bersamanya. Zitao merebahkan kepalanya di atas pangkuan Jongin. Dengan santainya mereke berdua merokok. Mereka tertawa terbahak-bahak dan tak menyadari kehadiran Yifan.
Ini membuat Yifan geram. Ia berderap dan langsung merebut rokok yang adiknya hisap dan menginjak-injaknya sampai hancur. Zitao dan Jongin terperangah.
"Kakak Zitao? Oh maaf, kami tidak menyadari kedatanganmu" sapa Jongin dengan riang. Masih menghisap rokok. Yifan hanya melirik Jongin yang masih duduk dengan kepala Zitao di pangkuannya. Ia menarik tangan Zitao dengan paksa dan membuat adiknya itu berdiri.
"Darimana kau tahu aku disini? Aku pikir aku sudah menguncinya. Kau lupa menguncinya lagi ya, Jong?" tanya adiknya. Jongin mengangkat kedua tangannya.
"Tanyakan saja pada kakakmu"
"Kuharap kau tidak lupa bahwa aku ketua murid, aku punya akses kemanapun di sekolah ini" jelasnya.
"Benar juga. kalau begitu kau bisa pinjam kunci ruang klub atletik pada kakakmu, Zitao. Disana showernya mantap"
"Yeah. Ide bagus" ia menyambar rokok di mulut Jongin dan menghisapnya. Ia mendekati Yifan perlahan. Ia menghembuskan asap rokok itu tepat di wajah kakaknya. Membuatnya terbatuk-batuk.
"Apa urusanmu kesini? Katakan. Aku sedang sibuk" ia menghisap rokoknya dalam-dalam.
Yifan membuka matanya yang berair dan merah karena asap rokok. Ia kembali menguasai dirinya.
"Sebelum aku memulai, bisakah ia pergi?" Yifan mengedikkan kepalanya kearah Jongin. Kedua kakak beradik itu menatap Jongin yang mengangkat alisnya.
"Baiklah. Senior tidak menginginkan aku disini. Aku akan menunggu diluar~~" ujar Jongin dengan nada menyanyi, tak lupa ia berkedip pada Zitao.
Segera setelah pintu itu menutup, Yifan menampar Zitao kuat-kuat. Zitao mengangkat wajah dengan seringai di wajahnya. Yifan menjambak rambut Zitao.
"Rambutmu jelek" Yifan memulai.
"Rambutmu juga" balas Zitao.
"Sejak kapan kau merokok? Itu bisa merusak kesehatanmu"
"Siapa bilang? Kau harus mencobanya, enak kok"
"Kau menghindariku terus"
"Siapa yang tak akan kabur kalau dikejar seperti itu?"
"Kau bohong soal detensi padaku"
"…"
"Kemana saja kau semalam?"
"…"
"Kau minum,kan?"
"Bukan urusanmu"
"Kau pergi dengan Jongin?"
"Sudah kubilang, bukan urusanmu! Urus saja Yixing-mu! Kalian mau ikut lomba bersama,kan?"
"Aku melarangmu berteman dengan Jongin"
"Apa hakmu melarangku?!"
"Dia membawa pengaruh buruk padamu, Zitao! Sadarlah!"
"Tidak. Kau hanya tidak menyukai jongin dan akulah yang menginginkan semua ini"
"Tidak mungkin. Zitao-ku yang kukenal tak akan berbuat seperti ini. Zitao-ku memang pemarah, tapi ia bukan Zitao yang ini"
"Cih" Zitao meludah. "mungkin memang benar"
"Apanya?"
"Mereka semua bilang, aku tak pantas jadi adikmu"
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Yifan tajam.
"Semuanya. Dari matanya saja aku bisa membaca semua itu"
"Jangan dengarkan mereka, Zitao"
Zitao memutar bola matanya.
"Kau melarangku berteman dengan Jongin. sekarang aku bertanya padamu, Yifan"
"Lanjutkan"
Zitao menghela nafas.
"Apa selama ini aku pernah melarangmu berteman dengan Yixing? Padahal jelas-jelas aku tidak menyukainya?"
"Itu berbeda! Yixing-"
"Terus saja bela pacarmu"
"Zitao, Jongin telah meracuni pikiranmu!"
"Dia memang berbeda dari anak lain. Disini membosankan, tapi dia tidak"
"Dia memberimu rokok dan alkohol! Apa lagi yang dia berikan padamu hah?"
Tunggu sampai kakaknya dengar ia pernah mencuri.
"Sudah cukup! kalau kau tak mau reputasimu sebagai ketua murid dan juara tercemar gara-gara tingkah adikmu ini, lebih baik kita bertingkah sebagai orang asing selama di sekolah"
"Zitao!"
"Kakaknya murid teladan, adiknya bajingan"
"Zitao, aku tak penah berpikiran seperti itu!"
Yifan menarik rambutnya frustasi. Zitao menghisap rokoknya lagi dan menghembuskannya di wajah tampan kakaknya. Mata Yifan berair dan merah, tapi dirinya tahu ini bukan karena asap rokok. Hatinya pedih sekali. Zitao meludah. Ia mengambil rokoknya dan membawanya kearah Yifan. Yifan berjengit ketika ujung rokok yang menyala berkontak dengan telapak tangannya. Zitao menekankan puntung rokok itu dalam-dalam, mengabaikan wajah kakaknya yang menderita.
"Itu untukmu yang sudah menamparku tadi"
Dengan itu, ia keluar dari atap dan disambut oleh Jongin. Ia langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Zitao seperti biasa. ia menyeringai puas melihat Yifan yang menangis sendirian di atap.
.
Zitao berjalan melintasi koridor ketika ia bertemu dengan Jungwon, musuh lamanya.
"Hei, apa kau sudah melihat keadaan kakakmu? Dia menangis" Ia menyejajari langkah Zitao.
"Heran sekali. seisi sekolah langsung gempar dibuatnya. Aku pikir karena apa, ternyata tangannya terluka. Tapi dokter UKS bilang itu akibat puntung rokok. Apa kakakmu merokok? Dia tidak mau ke UKS kalau Yixing tidak menyeretnya tadi-"
Satu kata ajaib saja dan itu sudah mampu membuat amarah Zitao menggelegak. Ia mendorong Jungwon ke tembok terdekat dan menghantamnya dengan tinju berulang-ulang. Siswa lain yang sedang berjalan di koridor langsung menjerit ketakutan. Mereka menyaksikan Zitao menabrakkan tubuh Jungwon ke jendela kaca. Beberapa serpihan kaca menancap di punggung senior itu. Melihat Zitao yang semakin serius, para senior di sekitarnya berusaha menyelamatkan Jungwon sebelum terlambat. Mereka menarik tubuh Zitao ke belakang tetapi junior itu meronta-ronta dan menendang orang di dekatnya. Sasarannya berubah menjadi siapapun yang mencegahnya membunuh orang itu. ia melayangkan tinjunya pada senior dengan membabi buta. Segera, koridor itu berubah menjadi medan pertarungan. Blazer kelabu Zitao dipenuhi dengan bercak darah. Perlahan-lahan lawannya berguguran, tetapi tampaknya masih ada saja orang yang berusaha menahannya. Ia mengambil alat pemadam kebaran yang tergantung di tembok dan menyemprotkannya pada lawan-lawannya yang baru. Mereka berlari ketakutan.
Disana ia. Jungwon. Tergeletak tak berdaya. Ia merintih kesakitan. Zitao makin mendekati mangsanya. Tetapi seseorang berhasil menahan langkahnya lagi. Ia menoleh dengan gemas dan tanpa pikir panjang lagi ia langsung memukul wajah orang itu sampai tersungkur.
"Zi-Zitao…"
Seolah mendengar alarm, ia memperhatikan wajah orang itu. Suara itu. Ia mengenalnya. Amat mengenalnya.
"Gege…?"
"Pukul saja aku, Zitao. Pukul aku kalau itu bisa membuatmu puas…" ujar kakaknya lemah.
Yifan tahu ini akan segera terjadi. Ketika ia melihat mata adiknya yang gelap itu. Ia sudah tahu bahwa ini bukan adiknya. Ketika ia menyaksikan darah bertumpahan lagi, ia tahu bahwa monster dalam diri adiknya sedang menggeliat. Dan tak ada yang bisa menghentikan monster itu sekali ia terbangun.
-to be continued-
Terima kasih atas review di chapter sebelumnya^^ sebisa mungkin author akan update cepat . tapi banyak story yang harus diupdate juga, jadi author mohon jangan tinggalkan story ini dan tetap review. Untuk kedepannya, story ini akan sangat-sangat gelap dan penuh angst. Hanya memperingatkan^^ jangan lupa review yaaa. Hidup TAORISSSS -author
