Title : All About Us
Main cast : Tao, Kris, Kai
Pair : Taoris
Genre : Angst, Romance, Tragedy
All about us
Chapter III
Yifan dan Zitao kecil sedang berada di halaman rumah siang itu. Kakak beradik itu mengenakan kaos couple lucu bergambar panda. Zitao kecil sangat senang memakainya. Kata kakaknya, panda itu sama dengan dirinya. Dia lucu dan menggemaskan. Apalagi dengan kantung mata hitam yang dimiliki Zitao, ia makin mirip dengan hewan lucu itu.
Yifan disuruh oleh ibunya untuk membersihkan halaman. Sebagai anak yang baik, Yifan menerimanya dengan senang hati. Ia memang dikenal sebagai anak yang patuh. Tak pernah ia membantah perintah kedua orang tuanya. Sementara itu, Si kecil Zitao menemani kakaknya. Ia mengawasi kakaknya menyapu sambil sesekali bermain bola. Yifan melirik adiknya yang masih memegangi bola. Tetapi kemudian bola itu menggelinding kearahnya. Yifan tersenyum dan bermaksud menggoda adiknya dengan menendang bola itu kearah berlawanan.
"Gege!" Zitao cemberut.
Ia berdiri dan berlari mengejar bola itu. Yifan tertawa kecil. Ia melihat Zitao berusaha mengejarnya tapi benda itu malah semakin jauh. Adiknya berteriak kesal. Zitao berlari-lari kecil. Yifan menggeleng-geleng dan melanjutkan menyapu lantai. Ia luput memperhatikan Zitao berlari semakin jauh kearah jalan raya. Ia tidak menyadari ada sebuah mobil melintas mendekati adiknya. Ia mendengar suara nyaring klakson disusul benturan keras.
Yifan terperanjat. Ia berbalik dan mendapati adiknya sudah tergeletak bersimbah darah di tepi jalan. Yifan melemparkan sapunya dan berlari kearah tubuh itu. Beberapa orang sudah berkerumun di sekitar adiknya. Beberapa marah karena mobil yang menabrak anak kecil itu telah kabur.
"Zitao! Zitao! Bangun!" Yifan menangis memeluk tubuh adiknya yang tidak bergerak. Darah membanjiri wajah Zitao yang bersumber dari kepalanya.
Ibu mereka mendengar keributan dari luar rumah dan keluar untuk mengecek keadaan. Ia melihat orang-orang mengerumuni sesuatu di tepi jalan depan rumah mereka. Jantungnya mencelos ketika ia mendengar suara tangisan putra sulungnya, Yifan. Ia berlari dan tangisannya langsung pecah ketika kali ini ia mendapati tubuh putra bungsunya, Zitao, tak sadarkan diri dan bersimbah darah.
"Ibu…! Zitao, Ibu! Ibu, maafkan aku! ini salahku! Aku tidak tahu kalau Zitao lari ke jalan-"
Ibunya tak membalas tangisan itu dan menggendong tubuh putra bungsunya menuju mobil. Mereka membawa Zitao ke rumah sakit untuk segera diberi pertolongan. Ayah dan ibunya tak henti memarahi Yifan. Sang kakak tak berhenti menangis. Ia sangat khawatir. Bagaimana bila terjadi sesuatu pada adiknya? Bagaimana kalau adiknya mati dan semua itu gara-gara dirinya?
"Zitao selamat, tapi ia masih belum sadarkan diri" mereka sekeluarga langsung menghembuskan nafas lega ketika operasi itu selesai. Meskipun begitu, dokter memberitahu mereka bahwa kemungkinan besar bagi Zitao untuk hidup sangatlah kecil. Terjadi benturan keras di kepalanya. Mereka menunggu dan menunggu. Beberapa hari kemudian, Zitao terbangun dengan keadaan aneh. Ia tidak mengenali siapa dirinya dan keluarganya. Ia hilang ingatan. Tetapi tidak lama kemudian ingatannya sudah pulih kembali. Ia dibawa pulang dan masih harus menerima asupan obat-obatan yang tidak sedikit. Zitao berhasil melewati masa kritis dan sehat kembali. Seluruh keluarga besar bersyukur Zitao baik-baik saja.
Yifan ingat betul, saat itu ia masih duduk di kelas enam sekolah dasar ketika suatu hari ia mendapati Zitao pulang sekolah dengan baju seragamnya penuh noda darah.
"Zitao! Apa yang terjadi? Kau terjatuh?" tanya kakaknya cemas.
Zitao hanya terdiam. Wajahnya kelihatan kesal. Kemudian ia menjawab dengan entengnya.
"Xiao Yu mengambil pensilku, jadi aku pukul dia. Kepalanya berdarah dan malah mengotori seragamku"
Yifan terperangah. Adiknya memukuli teman sebangkunya hanya gara-gara pensil? Sejak kapan Zitao berkelahi? Seingatnya, Zitao adalah anak manis yang tidak pernah bermasalah dengan teman-temannya. Yifan memutuskan untuk membiarkan insiden itu dan saat itu Zitao masih kelas empat.
Zitao tak pernah berkelahi lagi sejak itu. Yifan berpikir bahwa itu hanyalah kenakalan anak kecil biasa. Tetapi kejadian yang sama terulang lagi. Saat itu Zitao mulai masuk sekolah menengah pertama. Ia menanyai adiknya yang kedapatan berkelahi dengan anak baru di kelasnya.
"Dia mengejek kantung mataku" jelas Zitao enteng.
Suatu hari, adiknya pulang terlambat dengan baju seragam super kotor dan ada noda darah, lagi.
"Zitao, darimana saja kau?! Ini sudah malam" tegur Yifan.
Zitao melepas seragamnya dan melemparnya ke bak kotor begitu saja. Ia mencuci wajahnya di wastafel. Bajunya memang sangat kotor tapi wajah adiknya sama sekali tak ada yang terluka.
"Kau berkelahi lagi?" tanyanya tajam.
"Mereka sengaja menyandung kakiku saat berjalan"
"Mereka?"
"Senior. Mungkin teman-teman Gege juga"
Sejak itulah, hari-hari gelap itu dimulai. Zitao selalu diincar oleh senior karena keberaniannya. Tetapi Zitao tak pernah takut. Tak peduli itu senior, ia akan melawan siapapun yang membuatnya kesal. Dan Zitao tak pernah kalah sekalipun.
Perkelahian demi perkelahian terus terjadi dan orang tua mereka mulai khawatir. Mereka takut terjadi sesuatu pada Zitao. Mereka membawanya ke rumah sakit dan memeriksakan kesehatan mental putra bungsu itu. Karena Zitao selalu mudah terpancing pada apapun yang membuatnya kesal. Biarpun itu hanya hal-hal sepele dan remeh. Dan ia cenderung menggunakan kekerasan untuk mengungkapkan kekesalannya.
"Apakah putra ibu pernah mengalami kecelakaan?" tanya dokter yang memeriksa Zitao.
Ayah dan ibunya saling berpandangan. Mereka kemudian menjelaskan bahwa waktu kecil Zitao memang pernah mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa anak mereka. Kepalanya memang terbentur, cukup keras malah.
"Terjadi suatu retakan di tengkoraknya. Ini sangat mempengaruhi pola pikir Zitao. Ia jadi temperamental dan mudah marah. Mulai sekarang, Saya harap anda selalu memantau perkembangan anak anda"
Yifan jelas merasa bersalah. Meskipun kedua orang tuanya tak pernah menyalahkan dia lagi, tapi ia telah mengubah hidup adiknya. Ia telah membuat adiknya menjadi seorang temperamen yang mudah marah. Layaknya sebuah bom waktu yang bisa meledak setiap saat hanya karena sebuah gesekan kecil. Zitao kecil yang manis sudah tidak ada. Yang ada hanyalah monster yang ditakuti oleh seluruh teman-temannya.
Yifan menyuruh Zitao untuk menekuni wushu demi melindungi dirinya. Musuh Zitao semakin banyak dan ia tidak mau adiknya terluka karena tidak mampu melawan. Zitao terus berkelahi dan kali ini nyaris membunuh lawannya. Zitao nyaris menjadi pembunuh apabila Yifan tidak melerainya saat detik-detik terakhir. Adiknya malah memukuli dirinya yang sudah berani mengganggu usahanya untuk menumpas orang yang membuatnya kesal. Tetapi Yifan tidak keberatan. Ia akan melindungi Zitao. Ia memang tidak sekuat adiknya tapi ia tidak mau adiknya bertindak lebih jauh dari ini. Ia bersedia menjadi kantung tinju untuk menggantikan lawan-lawannya. Ia tidak mau adiknya berubah menjadi seorang pembunuh berdarah dingin.
Yifan mencatat satu hal penting dari adiknya dan selalu bersiaga.
Jangan pernah membuat Zitao marah…
Yifan mendengar suara langkah kaki adiknya semakin dekat. Ia siap. Ia siap menerima pukulan itu lagi. Ia tersenyum lemah. Ingat, ia adalah kantong tinju.
"Pukul saja aku, Zitao. Pukul aku kalau itu bisa membuatmu puas…"
Zitao berhenti dan mengangkat kakaknya dari lantai lewat kerahnya. Darah mengalir dari sudut bibir Yifan. Sekarang Yifan bisa melihat wajah adiknya dengan jelas. Ia mengenali wajah itu. Mata itu. Mata penuh kegelapan. Mata yang jahat. Beginilah Zitao kalau ia sedang murka.
Yifan memejamkan mata ketika Zitao mengangkat tinjunya. Tapi ia tak merasakan apapun. Ia membuka satu mata dan melihat wajah adiknya mengernyit kesakitan. Ia menjatuhkan Yifan dan memegangi kepalanya dengan dua tangan. Yifan menatap adiknya penuh cemas.
"Zitao…?"
"Sakit…! Kepalaku sakit!" Zitao menarik-narik rambutnya yang hitam. Ia sempoyongan kesana kemari. Pandangannya mengabur. Ia tidak bisa melihat sekitarnya dengan jelas. Kepalanya rasanya mau pecah!
"Zitao!"
Adiknya mulai memukuli kepalanya sendiri. Yifan mencegahnya melakukan itu. kepalanya bisa cedera!
"Sakit…!"
"Bertahanlah, Zitao!"
Koridor di sekitarnya terlihat berputar. Zitao berteriak kesakitan kemudian tak sadarkan diri.
.
Zitao terbangun dan mendapati dirinya terbaring di kamarnya sendiri. ia sudah tidak memakai seragam. Hari sudah gelap. Ia mengedarkan pandangan dan merasakan sesuatu bergerak di sebelahnya. Ia melihat kakaknya tidur di sampingnya. Ia duduk di lantai dan kepalanya terkulai di tepi ranjang. Wajahnya damai sekali. Zitao tersenyum. Ia membelai rambut pirang kakaknya. Ia menyadari luka memar di pipi Yifan. Zitao menarik tangannya, ia merasa bersalah. Bibirnya juga terluka. Wajah kakaknya yang tampan menjadi sedikit berantakan. Dia sudah memukul kakaknya. Lagi. Ia membelai wajah kakaknya dan meraih tangannya. Ia menggenggam tangan itu sampai menjelang pagi.
.
Zitao terbangun oleh suara ibunya yang membuka gorden jendelanya. Ia menguap dan menggosok-gosok mata. Ia tertegun saat ia tak menemukan kakaknya dimanapun. Ia memandangi tangan yang menggenggam tangan kakaknya sepanjang malam. Tangan itu masih hangat.
"Ibu" panggilnya lirih.
"Ya?" ibunya sedang mengumpulkan baju kotor miliknya di sebuah keranjang.
"Dimana Gege?"
"Dia sudah pergi pagi-pagi sekali"
Zitao menghela nafas. Ibunya tersenyum kecil melihat Zitao. Ia meletakkan baju-baju itu lagi dan duduk di tepi ranjang putranya. Ia membelai penuh kasih rambut Zitao yang berantakan. Wajahnya pucat dan kuyu.
"Jangan khawatir. Kakakmu baik-baik saja"
Ia tahu putranya pasti merasa bersalah atas kejadian kemarin. Bagaimanapun, kejadian seperti ini pasti terulang lagi.
"Lagi-lagi aku memukulnya…" bisiknya lirih.
"Susshh… jangan katakan apapun. Kakakmu pasti memaafkanmu"
Zitao tersenyum lemah. Ia sendiri tidak tahu kenapa kakaknya masih mau bersamanya sampai sekarang. Bukan pertama kalinya hal ini terjadi.
"Cepat mandi, sarapan, dan pakai seragammu. Ayah dan ibu akan mengantarmu ke sekolah" perintah ibunya lembut.
Zitao menatap wajah ibunya yang cantik. Ibunya tersenyum dan beranjak dari ranjangnya. Ia membawa keluar baju-baju kotornya dan pergi. Zitao tak perlu bertanya kenapa hari ini ia perlu diantar oleh kedua orang tuanya seperti anak TK. Tak akan ada sekolah yang membiarkan insiden sebesar itu terjadi di sekolahnya. Sekolah telah melakukan pemanggilan resmi kepada orang tua Zitao. Ia tahu ini akan segera terjadi. Cepat atau lambat.
.
Yifan berdiri di depan sebuah kamar di rumah sakit Seoul. Ia terlihat ragu-ragu. Tangannya berkali-kali meraih handle pintu dan kemudian menariknya lagi. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan memantapkan hatinya. Ini akan sangat berat, pikirnya. Kemudian dengan satu helaan nafas terkahir, ia mendorong pintu itu.
Ia memasuki kamar VIP itu dan disambut dengan pemandangan Jungwon terbaring di sebuah ranjang dengan tangan dan kepala diperban. Wajah teman sekelasnya itu langsung terkejut melihat kehadirannya. Yifan berdeham dengan canggung.
"Yi Fan? Ada perlu apa kesini?" tanya Jungwon, berusaha bersikap ramah.
"Aku…erm" Yifan menggaruk kepalanya, ia mendekati Jungwon dan meletakkan sebuah keranjang berisi aneka macam buah di meja dekat ranjangnya.
"Kau menjengukku?" tanya Jungwon tidak percaya.
"Yeah. Aku mencemaskan keadaanmu"
"Apa adikmu ada disini?" tanya Jungwon dengan wajah tegang.
"Ah, tidak! Jangan khawatir. Aku tidak mengajaknya" jawab Yifan cepat-cepat.
Jungwon terlihat malu. Bagaimanapun, ia tidak mau kelihatan lemah di hadapan orang yang tidak disukainya. Apalagi, fakta bahwa ia takut pada seorang junior. Keadaan menjadi semakin canggung. Yifan memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Ada dua tujuan kenapa aku datang menjengukmu" bukanya.
"Apa itu?" selidik Jungwon.
"Pertama, sebagai ketua kelas, Aku mewakili seluruh teman sekelas mengucapkan bela sungkawa atas kejadian yang menimpamu kemarin. Kami semua masih belum sempat menjengukmu karena masih ada ujian tapi kami pasti akan datang secepatnya"
"Terima kasih" Jungwon tersenyum canggung. "Dan yang kedua?"
Yifan menghela nafas. Wajahnya terlihat tegang.
"Kedua, aku datang kesini sebagai kakak Zitao, aku ingin mengucapkan maaf atas apa yang telah dilakukan adikku padamu"
Jungwon mengernyitkan dahi. "Kenapa bukan adikmu sendiri yang meminta maaf? Kenapa harus kau?"
"Aku tidak yakin Zitao mampu mengendalikan dirinya apabila aku mengajaknya kesini. Aku sangat mengenal adikku. Akan lebih baik apabila dia tidak bertemu denganmu dalam waktu dekat ini"
Jungwon mengangguk. Yah, ada benarnya juga. ia tidak mau tulangnya ada yang patah lagi.
"Juga…"Yifan terlihat ragu-ragu."Aku mohon agar kau tidak memperpanjang masalah ini dan membawanya ke polisi" lanjutnya.
Mendengar ini, Jungwon mendengus keras. Ia menggeleng tidak percaya.
"Kau menyuruhku untuk membiarkan adikmu setelah usahanya yang nyaris membunuhku? Asal kau tahu, Yifan. Perban di tangan dan kepalaku ini bukan untuk sok keren saja"
"A-aku tahu! Tapi aku mohon dengan sangat, tolong maafkan Zitao!"
Jungwon memasang wajah tak habis pikirnya. Ini benar-benar sudah keterlaluan.
"Tangan kananku patah, kepalaku bocor, dan tulang rusukku patah beberapa. Aku juga tidak bisa mengikuti ujian. Kalau kau di posisiku, apa yang akan kau lakukan?"
Yifan menatapnya dengan tidak nyaman. Memang benar. Ia sudah lancang meminta hal ini pada Jungwon. Tapi ia tidak mau adiknya mendekam di penjara sementara penyebab semua ini adalah dirinya! Ia yang membuat Zitao menjadi temperamen seperti sekarang. Ia dan kecerobohannya.
"Aku tahu ini bukan tempatku untuk memohon hal ini, tapi Zitao masih kecil dan aku tidak mau dia punya catatan kriminal"
"Kau tahu? Kalau dia begitu terus, lama-lama dia bisa jadi pembunuh!"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya. Karena itu aku mohon agar kau memaafkannya!"
"Kau baik sekali, Yifan. Baik sekali sampai aku muak. Dia juga memukulmu,kan? Kakaknya sendiri dia pukul!"
Yifan menggeleng kuat-kuat. "Akulah penyebab semua itu"
"Apa?"
Yifan menggigit bibirnya.
"Zitao menjadi seperti sekarang ini bukan tanpa sebab. Dulu, dia bukan anak yang suka kekerasan. Aku melibatkannya dalam sebuah kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Aku bersyukur dia selamat, tapi sejak itu dia berubah. Dia jadi…yah, seperti yang kau lihat"
Jungwon terperangah. Apa Yifan sedang mengarang cerita?
"Kau lihat dia memukulku,kan? Itu bukan yang pertama kalinya" Yifan tersenyum lemah. Perlahan-perlahan, ia membuka blazer sekolahnya. Kemudian, ia membuka kancing kemejanya satu persatu dan yang Jungwon lihat membuat matanya melebar.
Bekas luka jahitan berawal dari tengah dadanya. Memanjang sampai ke perut dan entah berakhir sampai mana. Yifan hanya membuka kemejanya sampai di atas perutnya. Jungwon menatap wajah Yifan yang tersenyum lemah. Apa-apaan semua itu?!
"Apakah-apakah Zitao yang-?!"
"Ya. Zitao yang melakukan semua ini. Tentu saja dia tidak sengaja. Saat itu dia tengah marah besar. Aku tak mau mengingat masa-masa itu lagi. Terlalu mengerikan"
Jungwon menelan ludah. Yifan merapikan seragamnya lagi.
"Aku tidak percaya…" ujar Jungwon lirih.
"Ya. ini nyata, Jungwon. Kau sudah melihatnya"
Kau bahkan belum melihat yang ada di punggungku,batin Yifan getir.
"Tapi-tapi kalau aku membiarkan ini maka adikmu bisa melakukan hal yang lebih parah dari ini!"
Yifan mengerang putus asa.
"Aku mohon, Jungwon! Aku akan mengawasi Zitao! Aku tidak akan membiarkan dia melukaimu lagi! Kumohon…kumohon ampuni dia!"
"Tidak, Yifan! Kau saja dianiaya olehnya. Bagaimana mungkin-"
Yifan mengigit bibirnya kesal. Tanpa pikir panjang, ia menekuk lututnya dan bersimpuh di hadapan Jungwon.
"He-hei, Yifan?! Apa yang kau lakukan?! Cepat bangun!"
"Tidak. Aku akan bangun kalau kau mengampuni adikku" ujarnya mantap. Ia bersujud sampai kepalanya nyaris mencium lantai.
"Yifan! Jangan seperti ini!" seru Jungwon.
"Maafkan, Zitao. Aku mohon" Yifan telah membuang seluruh rasa malunya demi Zitao. Ia tidak peduli. Baginya, itu semua tidak penting daripada kebahagiaan adiknya.
"Baiklah! Baiklah! Ya Tuhan, kau keras kepala sekali!"
"Kau memaafkan Zitao?" Yifan mengangkat wajahnya.
"Ya! aku memaafkannya dan tidak akan membawa masalah ini ke polisi!"
"Kau berjanji?"
"Tidak! Aku bersumpah! Sekarang bangun dari lantai! Kau ini laki-laki atau bukan?!"
Wajah Yifan berubah cerah. Ia bangkit dari lantai dan menahan seluruh keinginannya untuk tidak memeluk Jungwon. Ia berdiri di sisi ranjang dengan wajah sumringah. Temannya itu hanya menggeleng-geleng tidak percaya.
"Terima kasih, Jungwon. Sungguh, terima kasih"
.
Kepala sekolah SM academy hanya terdiam mendengar perkataan ibu Zitao. ia merenungkan cerita yang baru saja dilontarkan oleh wali murid ini.
"Jadi… saya mohon agar pihak sekolah memaklumi insiden ini. Untuk kedepannya, saya berjanji akan lebih mengawasi Zitao. Saya akan menyuruh kakaknya lebih berhati-hati dan memantau Zitao di sekolah"
"Kakak?"
"Yi Fan. Kelas tiga. Dia kakak Zitao. Putra sulung kami"
Kepala sekolah mengangkat alis. Yifan si murid teladan itu?
"Yifan, ya… ya ya. Dia anak yang baik dan cerdas…bisa diandalkan"
"Benar sekali. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang. Saya juga akan menasehati Zitao agar lebih menahan diri"
Lama sekali kepala sekolah itu berpikir. Wajah kedua orang tua itu cemas menunggu keputusan yang akan menentukan nasib putra mereka. Bukan kali ini saja mereka menghadapi situasi ini. Dengan semua sepak terjang Zitao, mereka harus berjibaku di depan semua kepala sekolah mulai dari sekolah dasar sampai sekarang. Mereka berpikir, kapan ini akan berakhir.
Setelah pemikiran yang lumayan panjang, kepala sekolah itu memutuskan untuk memberi ampunan pada Zitao. Dengan pertimbangan tersebarnya insiden ini ke media. Para wartawan akan membuat berita yang tidak baik untuk perkembangan sekolah ini kedepannya. Ia tidak mau SM academy yang termahsyur tercemar nama baiknya.
"Baiklah! Zitao tidak akan diskors. Tapi apabila kejadian ini terulang lagi… saya tidak berjanji akan menolong putra anda lagi"
Wajah kedua orang tua itu langsung lega. Mereka langsung berdiri dan menjabat tangan kepala sekolah itu.
"Terima kasih, Kepala Sekolah! Kami sangat berterima kasih!"
Mereka pamit undur diri dan menemui putra mereka yang bermasalah. Zitao sedang duduk di bangku yang ada di luar kantor kepala sekolah. Ia duduk dengan murung. Ibunya berlari kearahnya dan memeluknya erat.
"Zitao, kau tidak perlu khawatir lagi. Ibu sudah bicara dengan kepala sekolah. Kau belajar seperti biasa,ya?"
"Ayah dan ibu harus pergi sekarang. Jangan nakal lagi,ya,Nak."
Zitao mengangguk patuh. Ibunya mencium puncak kepalanya sebelum pergi. Zitao mengantarkan kedua orang tuanya sampai ke pintu gerbang ketika ia melihat kakaknya muncul. Memakai seragam sekolah dengan rapi.
"Yifan! Tidak biasanya kau telat!" sapa seorang penjaga keamanan yang membukakan pintu gerbang.
Yifan tersenyum ramah. "Ada sedikit urusan, Paman"
Ia bergegas menuju kelasnya dan berhenti ketika ia melihat keluarganya berdiri di dekat mobil mereka. Yifan berwajah cerah dan menghampiri keluarganya itu. Ia memeluk ayah dan ibunya, sementara Zitao bersembunyi di belakang ibunya. Malu menatap sang kakak. Yifan mengintip Zitao dari bahu ibunya. Ia tersenyum kecil melihat tingkah adiknya itu.
"Ibu, Ayah. Bagaimana? Sudah bertemu kepala sekolah?" tanya Yifan.
"Semua beres. Jangan khawatir lagi. Kami harus pergi sekarang. Jaga adikmu baik-baik,ya" ujar ayahnya tegas.
Yifan mengangguk. Ibunya hendak naik ke mobil, tetapi tangannya ditahan oleh putra bungsunya. Ibunya mengangkat alis melihat Zitao yang cemberut. Ia menggelengkan kepala dengan gemas. Bagaimana mungkin ia bisa memarahi putranya ini? Ia begitu menyeramkan tapi dalam waktu bersamaan juga lucu dan manja.
Ia mengajak Zitao ke belakang mobil dan berbicara padanya. Ia tahu Zitao masih tidak bisa menghadapi Yifan. Maka ia ingin menasehati anaknya ini.
"Ibu harus pergi" ujarnya lembut.
"Tapi,Ibu…"
"Tidak ada tapi-tapian! Kau harus belajar. Jangan kecewakan Ibu. Mengerti?"
Zitao merapikan rambutnya yang diacak-acak oleh sang ibu. Ia melirik kearah kakaknya yang sekarang ngobrol dengan ayahnya dari jendela mobil. Ibunya memperhatikan ini dan tersenyum.
"Jangan bertengkar lagi dengan kakakmu. Ibu tidak suka melihat kalian bertingkah seperti orang asing begini. Cobalah berbaikan. Sapa kakakmu. Ia tidak akan marah. Ibu jamin"
Zitao berpikir sejenak, kemudian ia tersenyum. Ibunya mengecup kedua pipinya dan naik ke mobil. Yifan dan Zitao melambaikan tangan pada kedua orang tuanya. Yifan mengalihkan pandangannya pada Zitao yang masih melambai meskipun mobil itu sudah lama pergi. Zitao menoleh dan mendapati kakaknya tersenyum lembut padanya. Ia segera membuang muka. Wajahnya memerah.
Yifan mencoba meraih tangan adiknya tapi tangan itu lebih dulu dimasukkan ke dalam saku. Yifan cepat-cepat menarik tangannya dan pura-pura menggaruk kepala. Keadaan menjadi sangat tidak enak. Zitao ingin minta maaf pada Yifan tapi tak ada kata-kata yang keluar. Ia masih malu menatap mata kakaknya. Yifan tersenyum maklum.
"Ayo masuk kelas. Kita sudah terlambat" ajak Yifan.
Zitao hanya mengangguk dan mengikuti langkah kakaknya seperti anak anjing yang kalah. Ia menatap punggung kakaknya yang lebar juga tangannya yang hangat. Ia teringat tentang semalam dimana mereka berpegangan tangan sampai pagi. Ia menunduk dan tersenyum. Ia tidak suka dengan keadaan ini. Ia ingin bersama kakaknya lagi. Makan siang, istirahat, dan pulang sekolah bersama. Ia merindukan kakaknya. Dengan satu anggukan mantap ia membuat catatan dalam otaknya untuk minta maaf pada kakaknya nanti.
Kakak beradik itu tidak memperhatikan sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak awal. Jongin sedang duduk di bangkunya di lantai atas yang terletak di tepi jendela, memudahkan dirinya untuk mengawasi kakak beradik itu. Sepasang mata itu menatap si rambut pirang dengan marah. Tangannya mengepal. Dari raut wajahnya, jelas ia tidak menyukai pemandangan yang ia lihat.
.
Meskipun Zitao bilang ia akan minta maaf pada kakaknya, tapi tetap saja ia kesusahan mengutarakan itu. Ia takut mengucapkannya secara langsung. Apa yang harus ia lakukan?!
Siang itu, jam istirahat sudah selesai. Selama itu, ia tidak makan siang dengan kakaknya. Jongin mengajaknya makan di atap. Ia bilang terlalu banyak orang yang menatap Zitao. Tentu saja. Siapa sekarang yang tak kenal Zitao? murid kelas satu yang ditakuti karena kekuatannya. Dua insiden berdarah cukup membuatnya menjadi buah bibir di seantero sekolah.
Zitao duduk di bangkunya dengan wajah ditempelkan ke meja. Ia sedang kebingungan memikirkan apa yang akan ia katakan pada kakaknya. Ia ingin mengajak kakaknya pulang bersama nanti. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak naik bus bersama. Selain itu ia juga ingin mengajak Yifan mampir ke toko es krim favoritnya. Kali ini ia yang akan mentraktir sang kakak.
Yep! Sempurna!
Zitao mengangguk lucu dan mengangkat kepalanya dari meja. Ia meraih ponsel di saku celananya dan mengetik pesan singkat untuk Yifan.
To: Gegege
From: Panda ^w^
Gege, aku ingin membicarakan sesuatu.
Bagaimana kalau kita pulang bersama nanti?
Aku tunggu di gedung olahraga.
Zitao menyentuh icon sent dan pesan itu pun terkirim. Ia meletakkan ponselnya di meja dan jantungnya berdebar-debar menunggu balasan. Ia tidak menyadari Jongin mengintip dari balik bahunya.
"Zitao" panggil Jongin.
"Ya?" Zitao menoleh ke belakang.
"Aku bosan sekali. Boleh aku pinjam ponselmu? Milikku baterainya habis" Jongin tersenyum sambil melambaikan ponselnya yang mati.
"Boleh. Kalau ada pesan, beritahu aku,ya"
"Tidak masalah~~"
Zitao memberikan ponselnya pada Jongin. Ketika tangannya menyentuh Jongin, ia merasakan tangannya ditahan untuk beberapa saat. Jongin menatapnya dan berkedip nakal. Zitao tertawa geli. Ia melepaskan genggamannya pada Jongin dan menghadap ke depan lagi.
Jongin menggenggam ponsel itu dengan erat seakan ingin mematahkannya. Ia membuka menu pesan dan wajahnya berubah seram ketika membaca pesan yang diketik Zitao untuk Yifan. Ia menatap belakang kepala Zitao dengan marah. Tidak. Tidak boleh. Ia tidak mau Zitao bersama kakaknya lagi. Yifan hanya akan merebut perhatian Zitao. Zitao adalah miliknya. Kesayangannya.
Jongin mengangkat alisnya ketika ia menyadari ada pesan masuk. Ia langsung membaca pesan itu.
From: Gegege
To: Panda ^w^
Jongin mengernyit jijik melihat nama untuk Yifan di kontak ponsel Zitao tapi ia melanjutkan membaca.
Apa itu yang ingin kau bicarakan?
Gege penasaran
Baiklah, tapi aku langsung ke kelasmu saja.
Gedung olahraga sedang direvonasi. Oke?
Tidak. Tidak Oke sama sekali.
Jongin mendengus kesal. Ia terdiam dan memikirkan bagaimana cara agar mereka tidak jadi berbaikan. Ia menatap ponsel di genggamannya untuk beberapa saat. Ia memutuskan untuk menghapus pesan dari Yifan. Ia menyentuh icon delete dengan tekanan yang tidak perlu. Ia langsung mengembalikan ponsel itu ke menu awal ketika Zitao berbalik ke belakang.
"Jongin, ada pesan,tidak?" tanya Zitao cemas.
"Oh? Tidak. Tidak ada. Ini ponselmu. Aku sudah selesai main game"
Zitao menerima ponselnya kembali dan berbalik ke depan. Jongin menyeringai di belakang Zitao. Ia memperhatikan wajah kekasihnya yang galau. Ia mengetuk-ngetuk ponselnya ke meja seolah menunggu sesuatu. Tiba-tiba Jongin mendekat dan meniup telinga Zitao dari belakang dengan erotis. Zitao merapatkan telinganya ke bahu dan tertawa geli. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Tetapi Jongin terus meniup telinganya dan pada akhirnya malah memeluk bahu Zitao dan menariknya ke belakang. Punggung Zitao menabrak punggung kursi. Ia merasakan nafas Jongin yang panas di dekat telinganya.
"Jongin, teman-teman melihat kita" ujar Zitao, tetapi ia mengatakannya dengan geli, bukannya malu atau sungkan.
"Memangnya kenapa? Biarkan mereka melihat. Mereka harus tahu kau milikku"
Zitao tertawa geli dan menggelengkan kepalanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jongin. Ia menatap ponselnya lagi dan wajahnya sedih.
Kenapa Gege belum membalas pesannya?
Jongin memperhatikan ini dan berbisik di telinga kekasihnya.
"Hei" bisiknya.
"Hmm?" Zitao menggumam sebagai balasan.
"Bagaimana kalau tidur di rumahku? Malam ini? Aku punya banyak film baru" bisiknya lagi. Ia sedang menahan seluruh birahinya untuk tidak mengulum telinga Zitao sekarang. Yang di luar dugaan sangat sulit ia lakukan. Dengan beberapa piercing yang menghiasi telinga itu… ugh Jongin mulai tegang. Ia tidak sabar menunggu sampai nanti malam dimana ia tidak hanya akan mengulum telinga kekasihnya saja, tetapi juga bagian lain…
"Ah, lain kali saja. Aku ada janji dengan kakak"
Seringai Jongin lenyap. Ia melotot. Ia melepaskan pelukannya dan duduk dengan benar lagi di kursinya sendiri.
"Maaf, Jongin" Zitao berbalik dan menatap Jongin yang berwajah kesal. Tetapi Jongin langsung mengubah ekspresi wajahnya cepat. Ia tersenyum.
"Lain kali saja kalau begitu"
Zitao tersenyum lega dan menghadap lagi ke depan. Jongin mengangkat alis.
Tidak apa-apa, Zitao. Toh kau tidak akan bertemu kakakmu juga nanti,pikir Jongin.
.
Yifan memasuki kelas Zitao yang sudah sepi. Ia baru saja ada ujian susulan. Ia terkejut ketika ia tidak melihat adiknya dimanapun. Mata Yifan menyipit ketika ia bertemu pandang dengan Jongin yang masih duduk di bangkunya. Mereka saling melotot lama sekali sampai Jongin berdiri dari bangkunya dan berjalan keluar kelas. Menabrak bahu Yifan dengan sengaja.
"Kalau kau mencari Zitao, Dia sudah pulang duluan dari tadi. Ia terus menggerutu tentang kakaknya yang lama sekali"
Yifan terperangah. Zitao sudah pulang duluan?
Ia bergegas meninggalkan kelas kosong itu dan pulang ke rumah. Melewati Jongin yang berusaha menyembunyikan seringainya.
.
Zitao sudah menunggu selama tiga jam dalam gedung olahraga. Ia memilih gedung ini karena ia bisa menonton klub basket bermain apabila kakaknya masih ada kelas. Tapi sepertinya ia salah. Ia heran kenapa gedung ini sepi. Tidak biasanya. Sekolah sudah hampir kosong dan kakaknya juga belum muncul.
Ia menghela nafas. Apakah kakaknya masih marah padanya? Kenapa ia tidak mau membalas pesannya? Ia mengeluarkan ponsel dan akan menghubungi kakaknya ketika ia menyadari bahwa ponselnya sudah mati. Zitao mengeluh kecewa dan menjejalkan ponselnya ke dalam tas. Baterainya pasti sudah habis. Jongin terus meminjam ponselnya untuk bermain game selama pelajaran tadi.
Zitao memutuskan untuk menunggu setengah jam lagi. Barangkali kakaknya masih ada kursus. Ia menunggu dan menunggu sampai hari sudah sore. Ia menyadari bahwa udara di dalam gedung itu mulai dingin. Ia merapatkan blazer ke tubuhnya.
"Gege, kau dimana…?" Zitao menggigil kedinginan.
Zitao mulai lelah menunggu dan memutuskan untuk pulang saja ketika ia baru menyadari bahwa pintu gedung olahraga itu sudah terkunci.
Zitao panik. Ia berteriak minta tolong tetapi tak ada yang datang. Tentu saja. Mungkin sekarang sudah malam. Tak ada lagi yang berada di sekolah. Ia berlarian ke sana kemari mencoba menemukan jendela yang terbuka. Tetapi semuanya terkunci rapat.
"BUKAKAN PINTUNYA! TOLONG AKU!" Zitao berteriak putus asa.
Anehnya, udara semakin dingin. Ia menggertakkan giginya kedinginan. Ia meringkuk di sudut gedung. Gedung ini gelap dan lampunya tidak bisa menyala. Zitao bersumpah ia mendengar suara-suara aneh di sekitarnya. Rasanya ia ingin menangis. Ia boleh tidak takut pada siapapun. Ia memang jagoan. Tapi ia tidak mau berurusan dengan hantu dan semacamnya. Ia mengeluh dan menangis. Ia kedinginan dan tidak ada kain yang bisa ia gunakan untuk berlindung. Tangisannya semakin keras. Zitao menangis sampai hidungnya merah. Entah karena kedinginan atau menangis berjam-jam. Ia menekuk lututnya dan berpikir apakah ia akan mati kedinginan disini.
"Gege… kenapa kau tidak datang…?" isaknya.
.
Yifan membanting ponselnya ke kasur. Ia sudah berusaha menghubungi Zitao tapi nomornya selalu tidak aktif! Dimana adiknya?! Ini sudah malam, kenapa ia belum pulang juga? Yifan berpikir apakah adiknya itu main lagi dengan Jongin. Tapi anak itu bilang Zitao sudah pulang duluan… tidak,tidak. Jangan pernah mempercayai kata-kata anak itu. lagipula Zitao bilang ia ingin membicarakan sesuatu dengan dirinya.
Jantung Yifan mencelos. Jangan-jangan….
Ia membuka menu pesan di ponselnya. Ia membaca ulang pesan masuk dari Zitao tadi siang.
To: Gegege
From: Panda ^w^
Gege, aku ingin membicarakan sesuatu.
Bagaimana kalau kita pulang bersama nanti?
Aku tunggu di gedung olahraga.
Tidak. Jangan bilang Zitao masih ada di gedung olahraga. Yifan berlari menyambar jaketnya dan bergegas menuju sekolah.
"Yifan, kau sudah menemukan Zitao?" tanya ibunya yang khawatir.
"Aku akan mencarinya" ujar Yifan terengah-engah. Dengan itu ia berlari menuju halte bus. Ia langsung melompat dari bus ketika kendaraan itu melewati gedung sekolahnya. Ia berusaha membuka pintu gerbang yang ternyata sudah terkunci.
"Sial!" ia menendang pintu gerbang itu. Ia bemaksud untuk memanjatnya ketika ia dikagetkan oleh suara seseorang.
"Siapa itu?!"
Sinar dari senter menerangi wajah Yifan. Ia bertemu dengan wajah Paman He Yi, penjaga keamanan.
"Yifan?! Apa yang kau lakukan di sekolah malam-malam begini?!"
"Paman! Tolong bukakan pintu gerbang! Aku harus ke gedung olahraga sekarang!"
"Mau apa kau kesana? Bukannya gedung itu baru mulai direnovasi?"
"Adikku! Adikku ada disana!" jelas Yifan panik.
"Apa?! bagaimana bisa?"
"Cepat, Paman! Aku sangat khawatir!"
"I-iya-"
Paman He Yi buru-buru membuka pintu gerbang dan menemani Yifan ke gedung olahraga yang terletak di belakang.
"Kau tahu, Yifan? Gedung itu direnovasi karena pendingin udaranya sudah rusak! Mesin itu kadang hidup dan mati sendiri! tapi kalau dia sudah hidup, temperaturnya akan terus menurun! Adikmu bisa kedinginan!"
Jantung Yifan mencelos lagi. Zitao punya alergi terhadap udara dingin…
"Paman, jangan menakutiku!"
"Aku tidak menakutimu! Aduuuh kenapa adikmu bisa ada disana?!"
Penjaga keamanan itu membuka pintu gedung olahraga begitu mereka sampai. Begitu mereka masuk, Yifan langsung menggigil kedinginan. Benar juga. pendingin udaranya bekerja maksimal. Lampu disana juga rusak. Mereka menyusuri gedung yang gelap itu dengan hanya bantuan senter. Yifan melonjak ketika mendengar sesuatu yang bergerak di sudut. Ia merebut senter itu dari tangan Paman He Yi dan mengarahkannya ke titik tadi. Dan matanya melebar.
Adiknya, meringkuk tak sadarkan diri di sudut gelap itu. Wajahnya sepucat hantu dan tubuhnya sedingin es.
"ZITAO!"
-to be continued-
Lebih pendek dari biasanya. Tapi readers tetap mau review,kan? Kan? .-. author need more reviews. See ya ^^ – HZTWYF-
