Title : All About Us

Main cast : Tao, Kris, Kai

Pair : Taoris, broken!KaiTao

Genre : Angst, Romance, Incest, Tragedy


ALL ABOUT US

Chapter V


Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Zitao merasa sudah cukup. Ia membuka mata dan langsung berjumpa dengan wajah sang kakak. Tanpa dosa, seolah apa yang telah ia lakukan sama sekali tak mengganggu, Yifan tersenyum lebar. Akhirnya, ia berhasil membuat Zitao bangun.

"Gege, kau tahu aku tidak suka digelitik," tatapan marah adiknya berubah lucu ketika bibirnya mencebik.

Hanya Yifan yang tidak gentar dengan tatapan yang mungkin bagi sebagian orang terlihat menakutkan. "Maaf," meskipun wajahnya tidak benar-benar mengatakan itu. "Kalau tidak begitu kau tidak akan bangun."

"Aku tidak mau bangun. Malas sekolah," Zitao semakin merapatkan diri ke tubuh sang kakak, kalau itu masih mungkin mengingat betapa dekat mereka saat ini. Saling berpelukan diatas ranjang sang kakak. Kaki mereka saling bertaut. Kaki mana milik siapa. Kau tidak akan tahu. Tangan Yifan menemukan tempat favoritnya di pinggang Zitao. Merengkuhnya erat. Ia menyusuri punggung adiknya dan membelainya sayang.

"Kita sudah bolos kemarin. Bersyukurlah ibu tidak tahu tentang itu," nasehat Yifan.

"Gege yakin hari ini mau masuk sekolah?" tanya Zitao. Suaranya teredam dada Yifan.

"Tentu saja. Memangnya kenapa?" Yifan mengangkat alis.

Zitao menyeringai yang tidak bisa dilihat oleh kakaknya. "Tidak ada. Hanya saja…apakah gege yakin bisa berjalan ?"

Yifan terkesiap menyadari maksud pembicaraan Zitao. Ia mendorong tubuh disampingnya itu, menindihnya. Zitao menertawakan sang kakak.

"Kau menggodaku?" suara Yifan terdengar berbahaya.

"Ampun, ge. Hahahahaha! Ge, lepaskan!" Zitao menggeliat dibawah tubuh Yifan.

"Kau pikir ini semua salah siapa? Huh? Salah siapa!" Yifan masih melarikan jemarinya di sekujur tubuh Zitao. Tangannya masuk ke dalam kaos adiknya, mencari permukaan kulit yang akan ia siksa.

"Hahahahaha! Geli! Gege, maaf! jangan gelitiki akuuuu!" Wajah Zitao antara ingin tertawa dan menangis. Tapi Yifan belum selesai, ia mengangkat kaos adiknya sampai keatas dada, memperlihatkan sepasang nipple. Tanpa pikir panjang lagi, ia meraupnya dan memainkan benda itu dalam mulut. Seperti yang ia harapkan, Zitao menggelinjang.

"Ah!" ia memekik pelan. Tangannya menemukan rambut pirang milik sang kakak dan menggenggamnya. Yifan merasakan kedua kaki jenjang Zitao memeluk pinggangnya. Sial, mereka harus sekolah. Sebanyak ia ingin menyentuh Zitao, ia harus berhenti. Ia mengangkat wajah dan hendak menciumnya.

"T-tunggu!" Zitao menahan wajah Yifan, hanya beberapa senti dari bibirnya.

"Ada apa?" Yifan mengangkat alis.

"Masih tanya?! Bau nafas! sikat gigi dulu, sana!"

Yifan memutar bola mata dan mendekat lagi. Protes adiknya terredam sempurna oleh bibirnya. Menyerah, Zitao memeluk leher sang kakak dan mengabaikan nafas khas pagi hari diantara mereka berdua. Mereka telah bersatu. Hal seperti itu bukan masalah baginya. Ketika Yifan hendak memindahkan ciuman ke leher Zitao, suara ibu mereka mengejutkan keduanya.

Zitao membelalak dan mendorong Yifan. Ekspresi wajah kakak beradik itu sama. Horor.

"Yifan? Zitao ada didalam? Cepat bangun!" seru sang ibu dari balik pintu. Yifan bersyukur mengingat ia telah mengunci pintu kamarnya semalam.

"I-iya, Ibu! Kami segera bersiap-siap!" balas Yifan, masih terengah-engah. Langkah kaki ibunya menghilang dan keduanya menghela nafas lega. Tapi alih-alih bangun, Zitao malah tidur lagi.

"Zitao! jangan tidur!"

"Ibu mengganggu saja…," gumam Zitao, matanya terpejam. Yifan tersenyum kecil dan menghampiri sang adik. Ia mendorong bahu Zitao agar ia terduduk. Ia terkekeh melihat adiknya mencebik lagi. Tubuhnya bersandar pada sang kakak, matanya terpejam, dan bibirnya yang bawah maju. Yifan tiba-tiba menjauhkan badannya hingga Zitao terhempas lagi diatas ranjang.

"Gegeeee!"

"Aku mandi dulu," Yifan mengacak-acak rambut Zitao yang sudah tak beraturan.

"Curang! Jadi aku mandi sendiri?!" protes sang adik.

"Aku tidak mau mandi dengan pemalas sepertimu," Yifan menjulurkan lidahnya.

"Tapi ada hantu di kamar mandi!"

"Terakhir kali aku lihat, hantunya sudah pindah ke kamarmu."

"GEGE!"

"HAHAHAHAHA!"

Zitao melompat dari ranjang dan berlari mengejar Yifan yang sudah keluar kamar. Kakaknya berteriak dan tubuhnya nyaris ambruk ketika Zitao melompat ke punggungnya. Yifan terhuyung-huyung menuruni tangga, mencoba menahan beban di tubuhnya. Sial, sejak kapan adiknya seberat ini?

Zitao menikmati menyiksa kakaknya dengan melingkarkan baik lengan dan kakinya ke leher dan pinggang Yifan. Terbahak-bahak menuruni tangga. Orangtua mereka hanya terpana menyaksikan tingkah kedua putranya tersebut.

"Selamat pagi, Ayah, Ibu!" Seru Zitao riang dari punggung sang kakak, melambai dari tengah anak tangga. Yifan tersandung kakinya sendiri dan akhirnya tidak bisa menjaga keseimbangan. Dengan jeritan yang sanggup membuat tetangga mereka marah, kedua kakak beradik itu jatuh berdebam di kaki tangga. Nyonya Huang memejamkan mata sambil menutup kedua telinganya.

"GEGE AWAS!"

"AAAAAAARGH!"

Setelah selesai mandi, si bungsu duduk dengan patuh dan membiarkan ibunya memeriksa luka di pipinya. Zitao lagi-lagi mencebik.

"Yifan, mana plester lukanya?" seru sang ibu, wajahnya masih tampak marah.

Yifan menyerahkan kotak P3K dengan hati-hati dan mundur. Masih enggan berada di sekitar ibu mereka yang sedang murka. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat wajah adiknya saat ini.

"Lain kali, kalau kalian memutuskan untuk main-main saling gendong di tangga, beritahu ibu," ujar Nyonya Huang dengan nada yang luar biasa tenang. Ia selesai menempelkan plester luka lucu bergambar panda di pipi putranya yang paling kecil. "Karena ibu punya banyak koleksi plester yang jauuuh lebih menggemaskan dari ini!"

Yifan mendelik melihat plester luka berbentuk pita berwarna merah jambu norak di tangan ibunya. Ia tidak tahu ada orang yang membuat benda seperti itu dan yang lebih penting, kenapa ibu mereka menyimpannya. Zitao mulai duduk dan menyantap roti bakarnya, masih cemberut. Ia menggumamkan 'maaf' tanpa memandang sang ibu.

Yifan tersenyum kecil melihat eskpresi di wajah Zitao. 'Kenapa bukan dirinya saja yang terluka' pikirnya sedih. Tapi adiknya memang terlihat lucu dengan plester luka imut di wajahnya. Seekor panda tersenyum kini bertengger di pipinya. Sementara itu, sang ayah hanya terkekeh oleh peristiwa pagi hari yang baru saja terjadi.

"Sudahlah, Bu. Bukankah bagus? lihat mereka berdua. Kalian sudah berbaikan?" goda ayah mereka. Kakak beradik itu tampak tersipu malu mendengar sang ayah. Zitao menyembunyikan rasa terkejutnya ketika tangan sang kakak mencari-cari tangannya di bawah meja. Ia melirik Yifan dan melihatnya tetap makan seolah sang kakak tidak sedang mencoba membocorkan rahasia di depan kedua orang tua mereka. Tangannya diremas pelan dan itu cukup membuatnya tenang. Ia tahu kakaknya sedang coba mengatakan 'tenang, semua akan baik-baik saja'.

"Kami berangkat dulu," Yifan berdiri dan Zitao ditariknya. Orang tua mereka mengucapkan selamat jalan dan agar berhati-hati di jalan. Tak lama kemudian, Yifan dan Zitao tengah menunggu di halte bus yang ramai.

Tangan mereka masih bertaut.

Zitao menatap wajah kakaknya yang tenang. Yifan menoleh ke arah yang sama untuk memastikan bus mereka telah datang. Ia berjengit ketika tangan sang adik menyentuh dagunya.

"Gege terluka," ujarnya pelan, ia membelai lecet di dagu Yifan. Pasti ibunya luput memperhatikan itu. Yifan tersenyum dan menyentuh balik tangan Zitao.

"Hanya luka kecil." Senyumnya menenangkan.

Selalu.

Zitao pikir ibunya selalu menjaganya terlalu berlebihan. Kadang ia merasa itu tak adil bagi sang kakak. Ayahnya juga tak jauh beda.

"Aku akan kembali dan mengambil plester luka," Zitao akhirnya memutuskan. Tapi Yifan menarik tangan mereka yang adiknya coba lepaskan.

"Tidak perlu. Gege baik-baik saja. Lukamu lebih parah."

"Bukan masalah siapa yang lukanya lebih parah tapi Gege juga terluka!"

"Aku bilang, Jangan. Ibu sudah melihatnya dan ia bilang ini hanya luka kecil."

"Kenapa ibu tidak memberimu plester luka juga?! Ibu keterlaluan!"

"Zitao!"

Yifan akhirnya membentak sang adik. Beberapa orang memperhatikan pertengkaran kecil mereka. Zitao membuang muka dan melepas genggaman tangan keduanya.

"Kau selalu begitu. Tidak mau mendengarkan kata-kataku. Apa yang harus kulakukan agar kau menurut, Zitao?" Yifan tersenyum mengatakannya.

"Aku memang begini," Zitao coba membantah.

"Jangan berkata seperti itu lagi tentang ibu. Aku tidak suka mendengarnya."

"Habis…kenapa ibu selalu membiarkan gege?"

"Oh ya? aku tidak merasa seperti itu."

Zitao terdiam.

"Aneh sekali ibu tidak menangis tadi. Mungkin beliau sudah terlalu lelah," ujar Yifan lagi.

"Ibu marah, bukannya mau menangis, Ge," Zitao memutar bola matanya.

"Kau luput melihatnya, kalau begitu. Ia sudah terlalu lelah dengan bayangan kehilangan dirimu, Zitao," jelasnya sabar. "Aku sendiri yang menolak diobati tadi."

"Kenapa begitu?" Zitao mengernyitkan dahi.

"Karena lukaku tidak separah milikmu! Argh, adikku lambat sekali!" Yifan menarik tangan Zitao dan mengajaknya naik bus yang telah datang. Sepanjang perjalanan, adiknya masih saja mengomel dan bersumpah akan menempel sepuluh plester luka merah jambu norak tadi ke wajah Yifan sepulang sekolah nanti. Yifan hanya tersenyum menyembunyikan luka di dagunya, lumayan perih memang. Tapi itu tak bisa dibandingkan dengan dosanya. Ia nyaris membunuh adiknya lagi. Menghukum diri sendiri sudah biasa ia lakukan.

.

"Zitao! apa itu di pipimu?!"

"Eh? Oh, ini," Zitao menyentuh plester luka yang sepertinya menjadi tersangka utama kenapa teman-teman perempuan di kelasnya terkikik seperti melihat pria memakai rok. "Tadi pagi aku dan kakak jatuh dari tangga dan-"

"Jatuh dari tangga?! Kau terluka?! Apa kakimu patah?!"

"Jongin, kau terlalu berlebihan," Zitao memutar bola matanya. "Dan aku baik-baik saja…hanya dimarahi ibu tadi…tapi kakak juga terluka…"

Jongin tak menghiraukan yang terakhir dan mendekatkan diri ke wajah Zitao. Seekor panda langsung tersenyum padanya dari plester luka itu. Ia menmbelai benda itu dan tersenyum lebar. Memanfaatkan kesempatan itu dan dengan sengaja menyusuri wajah sang kekasih.

Zitao selalu terlihat sempurna bahkan dengan plester panda di wajahnya.

Kelas pertama adalah olahraga. Jongin menghabiskan sepanjang pelajaran menempel seperti lem pada Zitao. Guru Li menyuruh kelas bermain sesuka mereka. Beberapa siswa memilih bermain futsal, sementara Jongin dan Zitao mengambil tempat di lapangan basket. Hanya berdua saja. Jongin sesekali mencuri kesempatan untuk menyentuh panda yang ada di pipi kekasihnya itu. Keduanya terlihat sangat menikmati permainan.

Sama sekali tidak sadar oleh sepasang mata yang mengawasi mereka.

Kelas 3-1 berkumpul di laboratorium untuk praktikum biologi. Sejak tadi, Yifan kesulitan berkonsentrasi pada mikroskop di depannya. Bagaimana tidak? ia bisa dengan jelas melihat adiknya dan teman sekelasnya itu bermain di lapangan basket di bawah sana. Ia memejamkan mata dan coba mengenyahkan suara tawa Jongin yang sesekali akan nyaring terdengar bahkan di lantai dua dimana ia berada sekarang.

Tidak bisa, batin Yifan.

Apa yang dipikirkan Zitao? Apa adiknya juga tersenyum? Tertawa? Bagaimana wajah adiknya saat ini? berseri-seri? bahagiakah? Yifan tidak ingin menebak-nebak apalagi mengintip. Ia sudah cukup gusar saat ini.

"Apa kubilang…"

"Sulit dipercaya…"

Jelas, teman-teman sekelasnya berusaha agar suaranya tidak terdengar. Tapi mustahil mengingat Yifan duduk sangat dekat dengan mereka. Ia tahu apa yang mereka bicarakan sejak tadi. Bisik-bisik seperti tukang gosip murahan.

Mereka jelas-jelas menghina adiknya.

"Zitao dan Kim Jongin…"

Nama keduanya akan muncul lalu kalimat selanjutnya akan menghilang di balik telapak tangan. Yifan masih ingat siapa-siapa yang mengetahui perihal adiknya dan Jongin. Ia menahan tangannya yang sudah gatal ingin melempar cairan berbahaya berwarna hijau yang tertata rapi dalam lemari kaca ke wajah mereka. Atau bangkai kodok yang kemarin mereka bedah. Atau saliva yang sekarang digunakan sebagai uji coba? Kedengarannya itu lebih bagus.

"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali," tegur temannya yang lain.

"Kemari! Cepat! ini top secret…"

Suara krek terdengar ketika Yifan tanpa sengaja memurunkan makrometernya terlalu cepat. Preparatnya pecah. Bagus, itu artinya ia harus mengulang dari awal. Mengerang kesal, ia membawa preparat gagal itu dan hendak membuangnya, tapi sepertinya hari ini bukan hari keberuntungannya. Ujung preparat sialan itu memutuskan untuk menggores telapak tangannya.

"Woah, Yifan! Kau berdarah!" seru Yixing seperti melihat hantu.

Seharian ini ia tidak bertemu Zitao. Jongin jelas-jelas memonopoli adiknya. Tiba-tiba Yifan merasa praktikum biologi hari ini tidak berguna, karena bakteri tolol yang berusaha mereka temukan dengan lensa okuler sampai kesal telah tersedia di depan matanya sejak awal.

Kim Jongin adalah bakteri itu sendiri.

Alih-alih menunjukkan kesedihan, wajah Zitao tampak bahagia ketika menempelkan plester warna warni di telapak tangannya. Adiknya memang tidak main-main ketika bersumpah akan membalut wajahnya dengan plester. Bahkan tak hanya dagunya yang diplester. Wajah Yifan sendiri sekarang sudah penuh dengan plester serupa dengan yang ada pada Zitao. adiknya dengan bangga menyebut mereka panda kembar. Yifan tak bisa berkata apa-apa dan hanya terkekeh.

Ia merasa adiknya telah kembali.

"Selesai!" Zitao tersenyum bangga melihat hasil karyanya. Yifan mengangkat alis dan meraba wajahnya. Tiga plester merekat di kedua sisi pipinya sehingga membuatnya tampak seperti Naruto. Tidak lupa di batang hidungnya, dipasang secara horizontal. Bahkan dagunya telah disulap seperti pria tua berjenggot. Yang paling lucu adalah yang terletak di bawah hidung di atas bibirnya. Sekarang ia punya kumis.

Zitao tertawa sampai matanya tinggal segaris.

"Apa yang terjadi pada telapak tanganmu, Ge?" tanya Zitao yang tengah mencari-cari ponselnya. Ia menemukannya di bawah bantal.

"Praktikum biologi. Tergores kaca," Ia tak ingin mengingatnya lagi.

"Lain kali hati-hati," tegur adiknya. Yifan tersenyum dan menatap kebawah, ke telapak tangannya. Suara klik dan blitz mengejutkannya. Ketika ia mendongak, Zitao dengan ponsel di tangan sudah siap memotretnya lagi.

"Senyum, Ge!"

Yifan tersenyum malas dan memosisikan kedua tangannya ke belakang untuk menopang tubuhnya di atas ranjang.

"Pegang kumismu!"

Zitao tak bisa mengendalikan tawanya dan terus mengambil gambar disana sini. Yifan masih dengan senyum tak niat, menatap sang adik lewat bidikan kamera.

"Bagaimana main basket dengan Jongin?" tegurnya tiba-tiba. Zitao menghentikan gerakannya, membeku. Suara klik masih terdengar lagi meskipun wajahnya mulai berubah dari penuh tawa menjadi kecut.

"Apa dia sebaik aku?"

Zitao mengambil gambar lebih dekat.

"Siapa yang lebih hebat?"

Zitao tidak bisa lebih dekat lagi karena ia kini tengah memotret jerawat di dahi kakaknya.

"Aku atau Jongin?"

"Wajahmu lucu sekali saat cemburu, Ge."

Yifan meraih ponsel itu dan menyingkirkannya. Ia menarik pinggang Zitao hingga tubuh mereka begitu dekat. Jari kakaknya menyusuri wajah sang adik dan berhenti di plester yang ada di pipinya. Ia membelai panda tersenyum itu dan kemudian mengecupnya. Lama dan lembut. Zitao memejamkan mata dan menunggu Yifan melepasnya. Entah berapa lama, sampai ia merasakan bibir itu berpindah dari tempat awal ke bagian lain di wajahnya. Yifan menangkup kedua sisi wajah adiknya ketika kali ini mencium bibirnya .

Keduanya berakhir dengan Yifan berada diatas tubuh Zitao, ketika tautan itu terurai, Yifan menatapnya dengan lembut, namun tegas.

"Kapan kau akan bilang pada Jongin?"

Zitao bisa melihat meskipun kini wajah kakaknya tampak sangat konyol dengan plester disana-sini, tapi ia tahu. Ketika pertanyaan terdengar seperti pernyataan. Ia tahu kata-katanya adalah perintah.

"Besok…Gege."

.

SM academy seperti kebakaran jenggot. Bisik-bisik disana-sini. Spekulasi dimana-mana. Semua menduga-duga siapa kiranya siswa yang tengah menjadi buah bibir paling panas saat ini. Bukan sekali saja Jongin mendengar namanya disebut-sebut. Baik di kelas, kantin, lapangan, bahkan toilet.

Ada apa dengan sekolah ini? pikirnya.

Tapi ketika nama Zitao ikut tertangkap pendengarannya, Jongin hanya berdoa agar seseorang menyadari posisinya. Yifan tak lagi berusaha merebut Zitao meskipun ia dan kekasihnya itu jelas-jelas sedang bersama. Gencatan senjata. Baguslah, pikirnya lagi. Harus ada yang mundur dan itu jelas bukan dirinya. Kenapa orang itu tidak merelakan saja adiknya bahagia? Dasar aneh.

Jongin seharusnya tenang, tapi nyatanya tidak. Zitao menunjukkan tingkah aneh. Seolah menjaga jarak. Apa karena gosip itu? ia tidak yakin. Tempo hari, kekasihnya itu tidak segan menerima kecupan darinya saat kelas sedang ramai-ramainya. Zitao jelas tak berniat merahasiakan hubungan ini.

"Jongin, aku ingin bicara," Zitao berujar ketika kelas sudah usai. Hanya ada beberapa siswi yang terkikik dan berulang kali melempar pandang curiga kearahnya. Seolah sedang menyaksikan adegan film homoseksual.

Zitao mendelik kearah gadis-gadis itu dan merekapun tunggang langgang. Jongin merasakan hal buruk sedang berjalan kearahnya, tapi ia memilih mengacuhkannya dan menatap kekasihnya.

"Ada apa. Zitao?"

Jongin tentu saja belum siap mendengar apapun, begitu juga Zitao yang sepertinya kesulitan mengungkapkan tujuannya. Tapi kata-katanya lancar dan mantap saat ia mengucapkannya. Kalimat yang menandakan kiamat bagi dunia Jongin.

"Kita putus saja."

Wajah Jongin saat ini mungkin sama seperti saat ia mendengar bahwa ia harus sekolah di Cina. Tapi ia pikir jauh dari negeri, rumah, dan orang tua tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya. Zitao membuat segalanya lebih baik.

"Apa?" suaranya luar biasa pelan.

Zitao menghela nafas. Seolah memperingatkan Jongin akan kiamat keduanya. "Jongin, maaf, tapi aku tidak bisa berhubungan lagi denganmu. Kita sampai disini saja."

"Sekalinya bercanda kau berhasil, Zitao." Jongin tertawa, well, lebih tepatnya mencoba.

"Aku serius!" wajah Zitao tegang. Tawa di wajahnya lenyap seketika.

"Apa karena gosip itu? kau tahu aku tidak peduli. Aku juga tahu kau tidak peduli, Zitao!"

"Bukan begitu! Hanya…! Aku…aku-"

"Aku tahu," Jongin menyeringai. "Yifan yang menyuruhmu, kan?"

"Bukan!" sergahnya, defensif.

"Jangan mempermainkan aku, Zitao!" suaranya perlahan naik.

"Aku menyukai orang lain!" seru Zitao, akhirnya.

Zitao adalah dunianya. Dan dunia itu kini memilih mencampakkannya.

"Siapa?"

"Hah?"

"Siapa dia? Apa aku mengenalnya?"

"Jongin-"

"Apa dia ada di kelas? yang mana? apa dia tampan? atau dia gadis?"

"Aku tidak bisa mengatakannya!"

"Kenapa?! kenapa kau tidak bisa?! Hah?!"

Zitao terlihat panik. "Aku tidak bisa mengatakannya…aku tidak bisa…"

Jongin ingin sekali memeluk sosok itu saat ini. Agar ia yakin bahwa ia pernah memilikinya. Tapi bolehkah ia?

"Maaf, Jongin. Mengertilah. Aku harap kita bisa berteman setelah ini."

Ia bahkan tak mencegah sosok itu berlari meninggalkannya. Dihempaskan sekali lagi, ia terduduk di kursinya. Sepi. Kosong di kelas yang mulai gelap. Jongin bisa dengan jelas melihat punggung Zitao yang nyaris tiap hari menghalangi pandangannya ke papan tulis. Ia akan meletakkan salah satu lengannya di meja milik Jongin dibelakangnya. Tak peduli pada guru yang berteriak menyuruhnya menurunkan kakinya yang jenjang. Dengan satu kaki sebagai tumpuan, ia mendorong kursinya hingga berdiri hanya dengan kaki belakangnya. Bunyinya berdecit menggores lantai ketika ia selalu melakukan itu. Wajahnya berpaling dan seringai yang amat ia sukai menjadi hal paling penting untuk membuatnya memperhatikan pelajaran bagi Jongin yang selalu terlihat mengantuk. Bukan permen kopi atau yang lain. Hanya itu. Tak lebih.

Apa permintaannya berlebihan?

Apa dipisahkan dari orang tuanya belum cukup, Tuhan?

Dunianya hanya enam petak lantai dan dua pasang bangku dan kursi. Depan belakang di deret paling belakang dekat jendela. Bahkan matahari buatan Tuhan tak mampu mengusir kantuknya. Sekarang beritahu, setelah dunianya dihancurkan lagi untuk kesekian kalinya. Dimana lagi dia harus tinggal?

Setitik basah muncul tiba-tiba di permukaan mejanya. Terkesiap. Sudah lama sekali sejak ia menangis.

.

Perlahan tapi pasti, gosip itu surut dengan sendirinya. Banyak yang menyimpulkan bahwa itu hanyalah kegemaran orang korea yang suka melakukan sentuhan sebagai tanda bahwa mereka akrab. Zitao tak pernah lelah mengajaknya bicara hanya untuk diacuhkan. Ia semakin sering dipanggil ke ruang guru karena ketiduran di kelas. Ia tidak tidur. Ia sadar betul. Hanya saja kalau ia melihat ke depan, orang yang duduk di depannya bukan tembus pandang, maka ia memilih untuk menciptakan dunianya sendiri. Hanya Kim Jongin dan bangku dan kursi juga sinar matahari dari jendelanya yang hangat.

"Kerjakan tugas ini dalam kelompok, minimal dua orang. Kumpulkan sebelum bel berbunyi!"

Tak perlu persetujuan antara keduanya. Yang didepan akan memutar kursinya, atau yang dibelakang akan menyeret kursinya kedepan. Oh, tapi itu dulu. Suatu potongan dari masa lalu. Bahkan Jongin mulai tidak yakin pernah mengalami semua itu.

"Zitao! bergabunglah bersama kami!" ajak seorang gadis yang mengenakan pita di rambutnya. Belakangan ini, ia dikenal sebagai adik senior Yifan. Ia tidak lagi membuat onar.

"Erm…" Zitao melirik Jongin yang masih tersungkur di mejanya. Lengannya melingkar melindungi wajahnya dari sinar matahari. Zitao mendesah. Ia mengangguk dan berjalan meninggalkan bangkunya menuju kelompok baru, tidak lupa setelah menggeser tirai agar sinar matahari tak menerobos masuk.

"Cepat, Zitao!"

"I-iya, aku datang!"

Jongin membuka matanya. Rasanya seperti ini. Ya. Tidak salah lagi. Perasaan bagaikan berteduh di bawah pohon, di pinggir toko, atau di balik tirai. Zitao selalu membuatnya merasa teduh, dan aman. Ia merindukan semua itu.

Bunyi decit kursi membuat Zitao mendongak. Jongin, dengan wajah mengantuk khasnya berjalan ke depan kelas, ke meja guru.

"Aku sedang flu. Aku akan tidur di UKS agar yang lain tidak tertular," ujarnya cuek. Tanpa persetujuan dari Guru Tan yang saat itu mengajar, ia meninggalkan kelas.

.

Gadis itu tampak ragu. Ia menggigit-gigit bibir bagian bawahnya dan berkali-kali menarik nafas panjang. Jongin akan mengira gadis itu akan mengikuti ujian yang sangat penting kalau pipinya tidak merona merah. Ia menyemangati dirinya sendiri kemudian berjalan dengan percaya diri menuju loker. Jongin bisa saja mengacuhkan gadis itu dan menuju kelasnya, tidur, tapi tidak ketika ia menyadari bahwa gadis itu menghampiri dua siswa jangkung yang sedang bergurau di salah satu loker.

"Se-selamat pagi, Senior Yifan…," gadis itu mencicit. Jongin mencoba membuat dirinya tidak terlihat dibalik sebuah loker, mengawasi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Yifan berpaling dari adiknya dan menoleh kearah sumber suara. Hanya gadis kecil, tak lebih dari bahunya, berdiri memilin-milin jarinya.

"Selamat pagi…erm, ada apa, ya?" Yifan terlihat ragu dan bertukar pandang dengan Zitao yang wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak suka.

"K-kalau boleh…aku ingin bicara dengan se-senior…"

Zitao memutar bola matanya. Ujung bibir Jongin terangkat menyaksikan tingkah mantan kekasihnya itu.

"Oh, boleh! Boleh saja! Katakan saja!"

Gadis itu melirik Yifan kemudian Zitao kemudian menunduk lagi. Yifan semakin bingung.

"Maksudku…b-berdua saja…"

Zitao ingin sekali mendengus sekeras-kerasnya, tapi jangan, itu tidak sopan.

"Oh!" Yifan akhirnya paham. "Jangan khawatir! Dia adikku! Kau bisa mengatakan apapun. Erm, tapi maaf, kau ini siapa, ya?"

"Aku Xi Zhi dari kelas 2-7. Wajar kalau senior tidak mengenalku."

Yifan menggaruk-garuk kepalanya. "Lalu apa yang ingin kau katakan?"

"Ayah…dipindahtugas ke luar negeri mulai minggu depan," gadis itu memulai. "Selama ini aku hanya melihatmu dari jauh dan mengagumimu…"

Jongin tahu kemana arah pembicaraan ini.

"-tidak mau menyesal dan memendam perasaan ini. Aku selalu takut akan ditolak tapi karena setelah ini aku tidak akan bertemu dengan senior, maka…maka aku ingin mengungkapkan perasaanku…! A-aku sudah lama menyukai senior Yifan!"

Yifan mengangkat alis tinggi-tinggi. Zitao mendelik kearah gadis itu. Kalau saja gadis itu melihatnya, ia akan lari terbirit-birit dibuatnya. Yifan menghela nafas dan tersenyum. Ini mudah. Situasi seperti ini sudah menjadi barang lama baginya.

"Begitu. Terima kasih atas perasaanmu, aku sangat menghargainya," ujarnya penuh simpati.

"Ja-jadi…!" di mata gadis itu tersirat sebuah harapan yang ingin sekali Zitao hapus.

"Tapi maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu," bahu gadis itu merunduk seketika, lunglai. Ia menatap lantai, tidak mau ketahuan kalau sedang menangis. Ia luput memperhatikan tangan orang yang ia sukai bergerak dan mencari sesuatu, tak jauh dari tempatnya berada, tangan keduanya selalu pas satu sama lain. Ia meremasnya pelan. Hal yang selalu ia lakukan ketika meyakinkan si pemilik tangan. "Aku sudah punya kekasih."

Andai saja gadis itu tidak sibuk menangis dan menata hatinya yang hancur mengetahui orang yang sangat ia sukai sudah memiliki seseorang yang disukai, terlebih itu bukan dia. Andai saja ia mengangkat wajah dan berani menghadapi kenyataan yang ada, maka ia dengan mudah akan mengetahui siapa kekasih yang Yifan maksud.

Orang itu berada tepat diantara mereka.

Tapi gadis itu bodoh. Ia terisak-isak secara menyedihkan dan membungkuk dalam-dalam. "Kalau begitu maaf telah mengganggu senior!" gadis yang bahkan Yifan sudah lupa siapa namanya itu berlari meninggalkan orang yang ia sukai seperti anjing yang kalah. Zitao memutar bola matanya lagi dan melanjutkan pembicaraan mereka. Yifan mengangkat tangan Zitao yang masih digenggamnya, setelah memastikan tak ada yang memperhatikan, ia mengecup punggung tangan adiknya dan menurunkannya kembali cepat-cepat.

Jongin jadi tahu kenapa ia tak pernah bisa menemukan siapa gerangan orang yang disukai Zitao. Orang yang berani merebut Zitao darinya.

Jongin pun akhirnya jadi tahu betapa menjijikkannya seorang Wu Yi Fan.

.

Kalau ibunya tidak menghubunginya pagi ini dan menyuruhnya sekolah, Jongin akan tidur di kamarnya yang nyaman, di atas kasurnya yang empuk, memesan banyak makanan cina yang belum pernah ia lihat, makan sampai muntah, dan menonton drama korea yang normalnya tidak akan ia lirik. Ia sangat merindukan negaranya.

Jongin mengangkat pinggang seragamnya sampai ke hidung, mencoba menyamarkan aroma tak menyenangkan yang berasal dari bilik-bilik toilet dimana ia berada kurang lebih sejak setengah jam yang lalu. Ia sudah mencoba menjadi siswa yang baik. Masuk sekolah meskipun dipaksa ibunya. Tapi yang ia dapat adalah tongkat pel, sikat, ember, dan pengharum ruangan.

Memang, ia selalu datang saat jam kelima berlangsung. Tapi, hei, terlambat lebih baik daripada membolos, kan? Kalau terlambat selama seminggu berturut-turut tidak dihitung keterlaluan. Ia pun divonis membersihkan toilet oleh bagian kedisiplinan.

Tak adakah detensi yang lebih mengasyikkan? Kenapa nasibnya selalu berakhir di sarang pispot ini?! jujur ia tidak keberatan disuruh berlari seratus putaran di lapangan. Apapun. Apapun yang mampu membuatnya tidak memikirkan Zitao.

Sialnya, toilet ini merupakan salah satu tempat penuh kenangan yang ia miliki bersama Zitao. Detensi pertama yang membuat mereka dekat, berakhir di shower ruang klub orang lain, dan menyentuh pemuda yang selalu ia inginkan sejak pertama kali berjumpa.

Andai Zitao ada disini, ia rela menyikat toilet sampai bersih seperti yang ia lihat di iklan.

Mungkin ia terlalu banyak melamun sampai tidak menyadari ada orang selain dia di toilet pria itu sekarang. Ia berbalik dan pinggang seragam yang tadi masih menempel di hidungnya kini turun. Pun tongkat pel yang ia pegang. Suaranya membuat orang yang sedang asyik menyikat lantai terkejut dan menatapnya

"Zitao?!"

"Erm, hai," sapanya kaku. Jongin ternganga.

"Hai? Hai, kau bilang?! Apa yang kau lakukan disini?!"

"Erm…membantumu?" Zitao melambaikan sikatnya.

"Apa kau juga kena detensi?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kau membantuku?"

Zitao berdiri dan menghampiri Jongin. Lengan seragamnya ia gulung sampai siku, pun celananya. "Aku hanya ingin membantumu, Jongin. Kita berteman, bukan?"

Sedetik yang lalu Jongin mengharapkan bahwa Zitao akan mengatakan kalau ia ingin kembali padanya dan meninggalkan kakaknya yang sakit itu. Tapi ternyata ia sekarang hanya masuk zona teman, ya?

"Jangan protes dan ambil sikatmu. Bagian sana belum bersih," ujar Zitao persis seorang cleaning service.

Kenapa, Zitao?

Kenapa kau bertingkah seolah tidak ada yang terjadi?

Siapa kau?

Siapa orang ini?

Aku tidak pernah melihat sosok Zitao yang ini!

"Teman, ya?" bisik Jongin, getir.

"Eh? Kau mengatakan sesuatu?" Zitao mengangkat wajah.

"Jadi sekarang aku hanya teman?" suaranya mulai kuat.

"Hah…?"

"Lalu Yifan itu apa? saudara sekaligus kekasih?"

Zitao membelalak. Tatapan Jongin menusuk tepat dimana ia menyembunyikan rahasianya.

"Darimana kau bisa tahu-"

"Tidak penting darimana aku mengetahuinya."

Zitao hanya menatapnya.

"Apa yang ada di otakmu, Zitao?" Jongin menghakiminya. "Kau tahu ini salah, kan?"

"Aku tidak peduli."

"Apa?" Jongin menyipitkan matanya. "Dengar, Zitao." Jongin nyaris kehilangan kesabaran. "Kau hanya bingung! Kau tidak mencintainya seperti yang kau kira! Aku mencintaimu, perasaan ini tidak sama dengan perasaan yang dibangun dari hubungan persaudaraan! Sadarlah!"

"Kami ingin bersama!" Zitao memejamkan matanya rapat. "Itu saja. Kami memang seharusnya bersama. Kami satu. Aku bahkan berpikir aku tak akan bisa hidup tanpa kakak."

"Jangan bercanda, Zitao. Pikirkan perasaan ibumu!"

"Kami memang belum membicarakannya, tapi kami juga tidak akan mundur."

"Lihat apa yang telah ia lakukan padamu. Kau diracuninya, Zitao."

"Tidak bisakah kita melupakan ini dan bicara sebagai teman?"

"Sayang sekali, tapi aku tidak pernah berrencana menjadikanmu apapun selain milikku," dengusnya keras.

Zitao menghela nafas. "Aku mencintai kakak. Maaf, Jongin."

"Aku ingin Zitao kembali. Bukan Zitao yang ini! aku ingin Zitao yang membuatku jatuh cinta! Zitao yang menghajar senior dan melawan guru!"

"Zitao yang itu sudah dikurung oleh kakak. Aku tidak akan membiarkan dia kabur. Dia monster."

"Menarik. Ada berapa dirimu sebenarnya, Zitao?"

"Aku tidak mau monster itu menguasaiku dan aku tahu hanya kakak yang bisa menjinakkannya. Aku tidak mau menyakiti orang lain lagi, terutama kakak dan dirimu. "

Yang benar saja. Jongin lebih suka jadi karung tinju apabila itu bisa membuat Zitao menyukainya.

"Pembicaraan ini selesai. Kumohon jadilah temanku, Jongin. Kau adalah refleksi diriku yang lain yang pernah ada karena itu aku tidak bisa meninggalkanmu."

Zitao yang ini tidak menunjukkan aura berbahaya seperti yang biasa ia pancarkan. Jongin bohong kalau ia tidak tertarik dengan sosoknya. Tapi yang manapun itu, tak akan berarti apa-apa kalau Zitao bukan miliknya.

.

"Zitao, aku tidak mau mengatakan ini. Tapi kau bau sekali."

Zitao mencium ketiaknya sendiri dan mengernyit. Ia memukul bahu Yifan. Keras. "Aku tidak sebau itu, Ge."

"Tapi serius, kau bau pispot!"

"Mungkin karena membersihkan toilet tadi…"

"Apa? kau membersihkan toilet? Kau kena detensi lagi?" tanya Yifan tajam.

"Bukan," ia menghela nafas. "Aku hanya membantu Jongin."

Tangan Yifan yang menggosok punggung adiknya seketika membeku. Lama sekali karena Zitao menoleh kebelakang dan mengangkat alis.

"Kenapa berhenti, Ge?"

Wajah Yifan tegang. Jadi Zitao masih berhubungan dengan anak itu?

"Dia masih mengejarmu?"

"Hah? bukan seperti itu…hanya saja Jongin menghindar belakangan ini. Dia selalu sendirian di kelas."

"Lalu kenapa kalian berdua membersihkan toilet?"

"Aku tahu rasanya membersihkan toilet sebelumnya, karena itu aku membantunya. Apalagi dia hanya sendiri."

Zitao mengatakannya seolah itu tak menjadi bukan masalah besar. Karena jelas itu mengganggu sekali bagi Yifan. Zitao bermain-main dengan air yang ada di bathtub. Sama sekali tak menyadari kegelisahan sang kakak tepat dibalik punggungnya. Yifan mendekat dan merebahkan kepalanya di bahu sang adik. Lengannya melingkari pinggang mungil didepannya.

"Ge?"

"Apa yang kau pikirkan tentang Jongin?"

"Kenapa tiba-tiba-"

"Jawab saja."

Zitao menangkap nada itu lagi. Nada yang selalu kakaknya coba sembunyikan tapi gagal. Ia merasakan hembusan nafas sang kakak di tengkuknya. Ia tahu kakaknya menunggu. Setelah mengumpulkan pemikirannya, ia pun berujar.

"Aku suka Jongin," ia memulai. "Dia kelihatan sangat...terasing. Anak dari korea yang pendiam. Anehnya, aku bisa melihat diriku dalam dirinya. Kami sama-sama berbeda. Sama-sama menganggap dirinya berbahaya. Tapi di balik sosok dinginnya, aku tahu dia merasa tidak aman dengan lingkungannya. Sama persis denganku. Dia sahabatku."

Yifan mengetatkan pelukannya. Sebagian dari dirinya enggan mendengarkan itu.

"Tapi kalau boleh jujur, kalau ditanya siapa yang paling aku suka, itu Gege. Gege adalah orang yang paling aku suka di dunia ini. Aku sangat menyukai Gege. Sukaaaaaaaa sekali."

Yifan membuka mata yang sedari tadi ia pejamkan. Tersenyum. Menikmati aroma khas yang menguar dari tubuh Zitao. Disentuhnya pipi sang adik, memalingkannya kemudian kecupan lembut pun mendarat disana. Uap air yang nyaris mengelilingi mereka membuat semuanya menjadi lebih syahdu.

"Terima kasih," bisiknya setelah melepas sentuhan singkat itu.

"Karena itu teruslah cemburu, itu hanya akan membuatmu lelah."

Yifan mengerang. Ia kembali menggosok punggung Zitao. Sesekali mengecupnya. Ia belum bisa bernafas lega. Karena ia tahu Jongin bukanlah tipe orang yang akan mundur begitu saja.

.

Jongin pasti sudah lama berdiri di tepi lapangan itu, karena Zitao mulai menyadari kehadirannya. Matanya melebar ngeri saat Zitao melambai penuh semangat kearahnya. Bel sekolah sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu. Bahkan Jongin tidak tahu karena sibuk membuat pulau di mejanya. Ia yakin Zitao memanggilnya.

Gawat.

Jongin mengutuk kakinya yang dengan bodohnya membeku seketika menangkap sosok Zitao di lapangan basket. Ia bersumpah tidak bermaksud mengintip! Tapi kakinya tiba-tiba saja berhenti.

Benar, ia masih belum bisa melupakan teman sekelasnya itu.

Zitao mungkin mengira dirinya mati berdiri karena tidak kunjung membalas panggilannya. Jongin membelalak ketika Zitao menyeretnya ke lapangan basket.

Jongin pasti sudah gila.

Entah bagaimana ia menurut saja digiring ke tengah lapangan karena dimana ada Zitao, disitu ada Yifan. Dan Jongin kesulitan sekali menahan tinjunya ketika berada di dekat orang itu.

"Hai," Yifan sebenarnya tidak ingin menyapa, tapi bukankah ada yang perlu diproklamirkan? Seringai kemenangan menghiasi wajahnya. Jongin membuang muka.

"Aku pikir kau akan menginap di kelas malam ini, Jongin? kau benar-benar si jago tidur," goda Zitao. Jongin tersipu. Seulas senyum memaksa merayapi bibirnya, tapi langsung pupus ketika Zitao melanjutkan. "Sama dengan Yifan ge."

"Hei! Aku mendengar itu!" protes Yifan dari tengah lapangan. Ia menembak bola dan berhasil masuk ke ring. Zitao bertepuk tangan dan tersenyum. Jongin melirik wajahnya yang tampak bahagia dan kemudian menunduk. Tiba-tiba sebuah bola menggelinding di kakinya.

"Tempo hari aku melihatmu bermain basket dengan Zitao!" seru Yifan dari tengah lapangan. "Aku ingin tahu seberapa hebat dirimu! Kim Jongin!"

Berani sekali dia.

Ia harap Zitao tidak mencegahnya karena sepertinya kesabarannya sudah habis. Ia membanting tasnya di tanah dan membuka jasnya. Senior sialan itu akan menyesal. Lihat saja. Zitao menganga melihat Jongin berderap kearah Yifan dengan membusungkan dada. Bola di tangannya.

"Berani juga," Yifan menyeringai ketika Jongin sudah berada di hadapannya.

"Apakah kau benar-benar berpikir aku takut padamu, senior?"

"Entahlah." Yifan memasang wajah tanpa dosa. "Mana aku tahu kalau kau sekarang sedang mengompol di celanamu, mantan?"

Kalau Jongin punya tombol pemicu kemarahan maka sepertinya Yifan sudah berhasil menemukannya. Jongin mengangkat bola di genggamannya kemudian melambungkannya tinggi-tinggi. Yifan melihat bola itu melesak sempurna ke dalam ring basket. Tinggi diatas sana. Yifan mengangkat alis. Well, Not bad.

"Three point shots."

Jongin telah berlari menuju bola itu sebelum mencapai tanah. Yifan mengerjap dan menyadari apa yang terjadi. Peluit khayalan di otaknya telah bersiul. Ia menangkap bola itu sebelum berhasil lemparan keduan Jongin menemukan ringnya lagi. Jongin menghalangi usahanya untuk mencetak poin untuk pertama kali. Ia berputar ke kiri dan ketika Jongin mengikuti gerakannya, ia menukik tajam ke arah berlawanan dan melompat. Mereka berdua bisa mendengar Zitao bertepuk tangan dari bangku penonton.

"1 untuk senior, 3 untuk mantan."

Jongin mendelik dan merebut bola lagi. Yifan bagaikan tembok kokoh di hadapannya. Ia terlalu menghabiskan banyak waktu menerobos tubuh jangkung terkutuk itu. Ketika ia nekat menembak, tembakannya selalu meleset. Sementara Yifan tak bisa dibandingkan dengannya. Dia kapten tim, demi tuhan. Yifan bergelantungan seperti monyet di tepi ring setelah berhasil mencetak satu poin lagi. Seringainya terlihat dari atas sana.

"Jangan sok!"

Yifan sudah menginjak-injak harga dirinya. Ia tidak mungkin kalah dari Yifan di depan Zitao! tidak akan.

"10-4 untuk senior~" Yifan bernyanyi.

Ia melempar bola kearah Jongin dengan santai. Jongin menangkapnya, terkesiap.

"Aku beri handicap. Coba lewati aku," tantang Yifan. Tapi belum sempat ia melewatinya, bola itu lari lagi dari genggamannya. Jongin berusaha menahan pergerakan Yifan, tapi si brengsek itu malah mengejeknya dengan bermain-main dengan bola. Ia melakukan atraksi bodoh di antara kedua kakinya. Jongin menggeram dan merebut bola itu. Yifan lengah dan bola itu lolos!

"Sudah kubilang jangan sok, senior!"

Yifan mengumpat dan memblokir jalan Jongin. Tapi kali ini Jongin sudah belajar dari kesalahannya dan telah menghafal gerakan Yifan. Kalau kau lari kesini maka dia akan kesini. Dengan bekal itu, ia melewati Yifan dengan mudah. Baru saja ia akan melambungkan bola, terdengar suara benda jatuh ke tanah dengan keras.

Zitao pasti melewatkan sesuatu saat membaca pesan dari ibu mereka yang menyuruhnya agar cepat pulang, karena sekarang kakaknya tengah berguling-guling di tanah memegangi perutnya. Ia berlari seketika ke tengah lapangan. Jongin menganga masih memegangi bola.

"Gege! Apa yang terjadi?! Bertahanlah!" Zitao panik, berlutut di samping Yifan.

"Aku hanya mencoba menghalanginya," Yifan kehabisan nafas. "Lalu dia menyikutku," Yifan menatap Jongin yang mulutnya sudah selebar ring basket.

"Apa-"

"Ulu hatiku kena. Oh Tuhan, Zitao- ini sakit sekali…" rintihnya.

"Apa yang kau lakukan padanya?!" Jongin tercengang melihat ekspresi wajah Zitao yang ditujukan padanya. "Ini hanya permainan, Jongin! kenapa kau curang!"

Jongin membuka dan menutup mulutnya seperti ikan, tak menemukan kata-kata yang pas. Terlalu sibuk mencerna situasi yang terjadi. "Aku tidak-"

Pembelaannya dipotong oleh batuk Yifan. Ia menatap orang yang masih menggeliat tak berdaya di tanah dan mendelik. BRENGSEK!

"Aku bersumpah," Jongin menggeleng lemah. "Zitao, aku bersumpah tidak menyentuhnya satu jaripun!"

"Kau menuduh kakakku berbohong?! Lihat dia sekarang! dia bahkan tidak bisa berdiri!" wajah Zitao memerah. Ia mencoba mengatur nafasnya. Kepalanya sampai pening berteriak-teriak seperti itu.

"Tapi aku tidak melakukannya! Dia jatuh sendiri! aku tidak menyentuh kakakmu!"

"Sudahlah, Jongin! sepertinya aku salah menilaimu. Aku tahu kau marah, tapi tidak begini caranya!""

Yifan menyeringai dari tempatnya berbaring.

"Cukup. Tidak ada yang boleh menyakiti kakakku. Jongin, aku tidak mau melihatmu lagi."

Jongin bisa mendengar bumi dibawahnya terbelah jadi dua dan menelannya mentah-mentah. Juga langit hitam yang runtuh di atas kepalanya. Apa ini namanya kiamat?

Jongin membanting bola yang dengan herannya masih ia pegang erat-erat. Bola itu memantul tinggi dan jatuh di tanah dengan suara menyakitkan. Menjadi saksi kehancurannya. Tanpa banyak bicara lagi, ia meraih tas dan jasnya kemudian meninggalkan sisa-sisa dunianya yang selamat.

Zitao menghela nafas dan membantu Yifan bangun. Sang kakak merintih kesakitan dan berjalan tertatih-tatih diatas kakinya yang sama sekali baik-baik saja. Ia menyentuh perutnya untuk meyakinkan cederanya.

"Biar kulihat," Zitao mendesah. "Pasti perutmu memar," Yifan membelalak ketika tangan Zitao mencapai pinggang seragamnya.

"Jangan!" serunya panik. Zitao mengangkat sebelah alisnya. "Kita lihat di rumah saja, Zitao. oke? Aku hanya ingin tidur sekarang."

Wajah adiknya sangat khawatir. "Pasti sakit sekali, ya, Ge?" Yifan mengangguk lemah dan berjalan ditopang lengan adiknya.

Bagus, dengan begini ia berharap Jongin bisa dipukul mundur. Sosok Jongin yang berlari tadi memang layaknya seorang pecundang di mata Yifan. Anjing kalah lari menekuk ekornya. Tetapi Yifan tidak tahu bahwa saat ini Jongin tengah menyusun kembali serpihan-serpihan dunianya. Ia memang kalah. Ia lari. Ia anak anjing yang terbuang. Tapi ia bersumpah akan menyeret Yifan ke dalam lubang menganga yang disisakan dunianya.

Ia berlari dan berlari. Hanya ada satu tempat yang memenuhi otaknya saat ini.

Rumah Zitao.


-to be continued-

Jongin mau kemana, nak? jongin gagal move on. Author keong kembali lagi. silahkan numpang lewat setelah meninggalkan review. woah benar-benar merasa nggak bersalah setelah lama nggak update ya. maaf. See ya. LESTARIKAN KRISTAO –HZTWYF-