That Man From My Past

Chapter 2 ( That Man)

Summary :

Luhan seorang psikolog muda dengan masa lalu kelam dihadapkan pada bagian masa lalunya dalam sebuah jamuan makan malam yang dibuat oleh kekasihnya yang kaya.

Oh Sehun playboy paling ulung dihadapkan pada mantan istrinya yang paling dibencinya pada jamuan makan malam dari kolega bisnisnya.

Main Pair : Luhan, Oh Sehun ( Yaoi )

Other Cast : All member EXO, Stephanie Jung, Kevin Kim

Rated : M ( For Dirty Talk )

Kalau nggak suka jangan dibaca dan saya nggak terima bash, silahkan berikan review yang membangun

Sehun menatap geram pemandangan di depan nya. Entah mengapa ia masih merasakan perasaan tak pantas untuk seorang pembunuh seperti mantan ' istrinya nya ' itu. Dengan gigi saling bertabrakan ia meninggalkan tempat itu. Jong In dan Chan Yeol yang memang mengikuti Sehun dari belakang memandang iba pada punggung itu.

" Sampai kapan ia memandam dendam dan membenci Luhan hanya karena sebuah kebohongan besar " Gumam Chan Yeol iba. Jong In hanya menghela nafasnya.

" Mau bagaimana pun mereka yang memilih jalan ini. Luhan Hyung yang bodoh dan memilih tak memberitahukan kebenarannya pada Sehun dan Sehun yang bodoh karena tak mendengarkan kebenaran nya dan lebih memilih mempercayai apa yang dia lihat " Jong In dan Chan Yeol kemudian berjalan menjauh.

.

.

.

Meskipun aku tahu kau akan menyakitiku tetapi aku masih tetap membutuhkan mu.

Mobil Kevin berhenti tepat di hadapan gedung apartemen yang ditempati oleh Luhan. Apartemen ini adalah apartemen hadiah dari Kevin. Luhan dan Baekhyun yang menempatinya bersama dengan adik Luhan yang masih duduk di Senior High Class. Dengan gentlenya pria blasteran itu membukakan pintu untuk kekasih hatinya dan perlakuan manis itu mendapat kan timbal balik berupa senyuman tipis menawan yang mampu menggetarkan hati seorang Kevin Kim yang dikenal sangat sulit ditaklukkan.

" Apakah kau ingin mampir sebentar? " Tanya Luhan. Kevin menatap ponselnya sejenak kemudian mengiyakan ajakan Luhan.

Mereka kemudian berjalan beriringan kedalam gedung apartemen dengan tangan Kevin yang menggenggam tangan Luhan erat. Luhan menatap tautan tangan itu dengan intens.

" Bahkan tangan Kevin tak mampu mengalahkan kehangatan tangan pria itu " Batin nya sengsara. Luhan dengan segera menatap kedepan ketika langkah Kevin berhenti tepat berada di depan pintu bernomorkan 342.

Luhan segera memasukkan kode password untuk apartemen nya. Gelap menyambut mereka ketika Luhan mulai membuka pintu apartemen nya. Sepertinya Baekhyun dan adik Luhan belum pulang.

" Tunggulah disini. Aku akan menyiapkanmu cemilan dan teh " Kevin mengangguk sekilas kemudian menggantung coat panjang nya di gantungan yang berada di dekat lemari. Pria tampan itu mengistirahatkan dirinya di atas sofa merah menyala itu. Pikiran nya kini dipenuhi oleh hubungan antara Luhan dan Sehun. Disaat dirinya hampir memenangkan hati Luhan mengapa brengsek itu malah kembali dan membuat pertahanan Luhan sedikit goyah hanya karena pertemuan singkat itu. ' Setelah banyak hal yang kulakukan untuk mendapatkan pria itu dan aku harus melepaskan nya ketika harapan telah muncul dihadapan mataku. Hanya orang bodoh yang akan melakukan nya ' Batin nya. Pikiran nya buyar ketika mendengar pria manis itu memanggil namanya.

" Minumlah dahulu. Sebenarnya aku takut karena beberapa hari ini ada seorang maniak yang berkeliaran di sekitar apartemen mengetuk pintu dan berkata-kata kotor itu membuatku takut " Ujar Luhan.

" Baiklah setidaknya aku harus menunggu Baekhyun dan Jae Hyun pulang. Aku mau berbaring sebentar Lu " Luhan berdiri untuk mempersilahkan Kevin meluruskan kakinya yang agak panjang. Kevin mengangkat sebelah tangan kiri dan menutupi wajahnya. Luhan memperhatikan Kevin dalam diam. Kakinya baru saja akan melangkah ketika suara pria itu terdengar.

" Jangan pergi, diam disini sampai aku tertidur Lu " Kevin mengulurkan sebelah tangan nya. Luhan hanya menghela nafas dan menyambut tangan Kevin. Ia duduk bersimpuh di lantai sambil memandangi wajah tertutup Kevin.

Pikirannya kini berkeliaran menggali kenangan yang sudah lama dipendamnya. Kenangan saat pertama kali nya ia bertemu dengan Kevin.

.

.

.

.

.

.

.

.

5 Tahun lalu

Lu Han mengelap keringat yang membasahi wajah nya dengan sehelai tisu. Dialihkan pandangan nya pada beberapa pejalan kaki di depan kedai di tempat ia bekerja. Waktu makan siang akan dimulai dan para pegawai yang ingin mengisi perut mereka asupan pasti akan mampir karena kedai tempat ia bekerja adalah salah satu kedai favorit. Tak lama kemudian kursi yang tadinya kosong telah terisi oleh beberapa orang pria dan wanita dengan setelan jas kerja dan baju formal. Luhan segera menjamu pelanggan yang masuk kedalam kafenya. Dengan cekatan ia menulis pesanan beberapa orang itu dan mengantarnya kepada ahjumma pemilik kedai untuk kemudian-makanan pesanan pelanggan diantarkan ke meja masing-masing. Suasana kedai itu sangatlah ramai dengan suara bising dari pelanggan yang meminta agar pesanan nya segera diantarkan. Luhan, beberapa teman se profesi dan Choi Ahjumma pun terlihat sangat sibuk melayani beberapa pelanggan yang bebal.

BRAKKK!

Suara itupun mengalihkan perhatian beberapa pelanggan yang sedang menyantap makan siang nya. Semua orang disana membelalakkan matanya terkejut dan ngeri ketika melihat dua mobil yang bertabrakan itu terguling diatas kerasnya aspal. Salah satu mobil disana-lebih tepatnya mobil mewah itu berguling dan menghantam tiang listrik. Bagian depan nya sudah penyok dengan lecet disana-sini. Pejalan kaki segera membantu kedua pengemudi mobil yang masih terjebak didalam. Salah satu dari pengemudi itu dikeluarkan dari mobil dengan keadaan telah menghembuskan nafas terakhir. Luhan yang merasa terpanggil jiwanya segera melangkah keluar sebelumnya ia telah meminta izin pada Choi Ahjumma.

Pejalan kaki kemudian mobil merah itu kemudian dihampiri dan mengeluarkan pria yang keadaan nya sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir keluar dari kepalanya. Luhan segera menghampiri kerumunan.

" Apakah ada dokter disini? " Tanya seorang pejalan kaki yang memangku pria malang itu. Luhan segera membelah kerumunan itu dan menghampiri pemuda malang itu.

" Aku adalah dokter. Aku akan membantu pria malang ini " Katanya. Dengan cekatan Luhan memeriksa nadi pria itu. Ia kemudian memeriksa respon mata terhadap rangsangan cahaya. Luhan dengan segera melakukan pertolongan pertama dengan melakukan CPR ketika dirasanya pernapasan pria itu mulai lemah dan pendek. Luhan memeriksa kepala pria itu, pendarahan nya sangat hebat, kepalanya tak berhenti mengucurkan darah segar. Pria itu mulai membuka matanya perlahan.

" Apakah kalian sudah menghubungi ambulance? " Tanya Luhan, pejalan kaki itu mengangguk.

" Tetapi ambulance nya akan terlambat datang karena jalan untuk menuju kemari macet. Mereka sedang mencari jalan memutar "

" Jika ambulance nya datang terlambat pria ini akan mati kehabisan darah " Batin Luhan risau. Luhan memeriksa paha pria itu, ia menekan nya sedikit.

" Apakah bagian ini sakit? " Tanya Luhan. Pria itu mengangguk. Luhan segera berdiri kemudian dengan segera berlari kearah kedai, Choi Ahjumma bahkan terkejut ketika melihat Luhan yang berlari bak orang kesetanan. Ia kemudian keluar dari kedai dengan membwa papan kecil ditangannya tak lupa pula tali.

Luhan segera memasang papan itu dipaha dan sepanjang betis nya. Ia juga merobek asal kain yang dibawa nya tadi dan menyeka darah di kepala pria itu. Beberapa menit terbunuh karena menunggu kedatangan ambulance yang dirasa sangat lama, 10 menit kemudian dua buah ambulance datang. Pria itu kemudian segera diangkat tak lupa pula pria yang telah meninggal itu.

" Pernapasan nya sangat lemah, denyut nadi nya juga sangat lemah. Tulang paha nya patah dan ia mengalami pendarahan di bagian kepala. Jika aku tak salah lihat sepertinya Liver nya juga terluka " Jelas nya pada petugas itu.

" Apakah anda dokter? Sebaiknya Anda ikut bersama kami "

" Ne, tapi aku sudah tak bekerja lagi. Tidak bisa aku harus bekerja" Jawab nya. Petugas itu mengangguk mengerti dan segera berbalik naik keatas ambulance. Luhan menghela nafas lega. Dengan segera ia kembali ke kedai dengan menggunakan pintu belakang dan mengganti bajunya yang berlumuran darah dan mengusap bagian tubuhnya yang terkena darah. Ia kemudian bergegas membantu Choi Ahjumma dan beberapa pelayan yang terlihat sibuk itu.

.

.

.

.

.

At Hospital

Pria itu membuka matanya perlahan dan menyesuaikan nya dengan cahaya yang masuk. Ia menoleh kesamping dan mendapati bibi nya tersenyum lega karena melihatnya telah sadar.

" Syukurlah kau sudah sadar Kevin " Katanya.

" Maafkan aku sudah membuatmu khawatir bibi "

" Sudahlah yang penting kau baik-baik saja " Ia mengusap wajah keponakan nya itu. Kevin mencoba mengingat kejadian ketika ia kecelakaan. Ia sempat melihat seorang pria berparas rupawan yang menolongnya ketika ia kecelakaan.

" Bibi bisakah kau mencari tau mengenai orang yang telah menolongku. Aku pernah melihatnya di daerah Samcheodong. Tolong bi " Ujarnya. Wanita paruh baya itu mengerutkan kening nya bingung.

" Untuk apa kau ingin mengetahui informasi orang itu? " Tanya wanita Kim itu penasaran.

" Aku belum berterima kasih karena ia sudah menolongku " Katanya tersenyum

FLASHBACK END

.

.

.

.

.

.

.

.

Kevin membuka matanya setelah tertidur kurang lebih 3 jam. Pandangan nya ia arahkan kearah kepada jam yang terpaku pada dinding.

" Sudah larut ternyata. Aku harus segera pulang " Ia kemudian bangkit menuju kamar Luhan dan mendapati kekasihnya itu sedang fokus membaca laporan mengenai pasien nya.

" Lu " Panggil nya. Pria manis itu menoleh kea rah asal suara. Ia tersenyum menyambut kekasinya itu.

" Kau bangun juga. Kemarilah " Luhan segera menepuk kasur nya dan member isyarat agar pria itu menghampirinya. Kevin Kim menurut dan mendudukkan dirinya di samping Luhan

" Kau sudah mau pulang? " Tanya Luhan

" Iya, aku sudah mau pulang. Besok aku harus mengurus proyek pembatalan kerja sama antara aku daan Direktur Oh " Jawabnya. Luhan memegang tangan besar Kevin

" Jangan batalkan Kev. Aku tau proyek itu sangat lah besar dan perusahaan Willis bukanlah perusahaan kecil, jangan remehkan akan kenyataan itu. Jika kau membatalkan nya apa yang akan dikatakan oleh relasi bisnismu yang lain. Mereka akan mengatakan ' Wah perusahaan Saviour ternyata sangatlah tidak konsisten karena membatalkan proyek besar hanya demi seorang pria '. Aku yakin itu akan mempengaruhi karir mu " Ujarnya. Kevin Kim terdiam menahan segala pikiran diotaknya. Luhan menaruh tangan nya di pipi Kevin.

" Aku hanya tak ingin kau mengorbankan banyak hal karena aku. Kau telah kehilangan kepercayaan ayahmu karena aku. Aku tak ingin kau kehilangan banyak hal Kev. Kau sudah banyak membantuku selama ini dan aku tak ingin mendapati kenyataan karir mu hancur hanya karena aku " Jelasnya.

" Baiklah. Aku harap ini keputusan yang benar Lu. Tetapi apabila ia menyakitimu lagi aku akan membunuhnya " Ujarnya. Luhan tersenyum geli mendengarnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Mansion Oh

Sehun dengan terhuyung masuk kedalam kediaman nya dibantu oleh sahabat nya yang merangkap sekretaris nya- Kim Jong Dae.

" Astaga anak ini benar-benar. Sebenarnya dia minum berapa botol " Keluhnya saat harus menopang tubuh Sehun yang bisa dikatakan berat. Para pelayan segera mengerubungi Sehun dan Jong Dae saat pria itu terlihat.

" Sebaiknya Anda membawa nya kedalam kamar nya tuan Kim " Sahut wanita paruh baya yang berkedudukan sebagai pengasuh Sehun dan juga kepala pelayan di mansion besar itu. Jong dae mengangguk mengerti kemudian dengan sekuat tenaga membopong badan besar Sehun. Dengan penuh perjuangan ia menaiki tangga menuju lantai dua dengan di ekori oleh beberapa pelayan mencegah agar tuan nya tidak jatuh kebelakang. Jong Dae menjatuhkan badan besar Sehun ke atas ranjang dan menyelimutinya dengan selimut tebal serta mengatur suhu kamar.

Sebuah suara menginterupsi dibelakangnya.

" Ada apa ini? " Suara itu terdengar dingin. Pria Kim itu membalikkan tubuhnya dan mendapati seorang wanita yang berumur sekitar 35 tahun yang bersedekap di dada memandangnya tajam. Jong dae mendengus pelan melihat wanita itu.

" Direktur mabuk karena meminum terlalu banyak alcohol, Nyonya Oh " Ujarnya sopan padahal didalam hatinya ia muak melihat wanita yang notabene-nya adalah ibu tiri Sehun.

Wanita itu mendengus kesal melihat salah satu bawahan anak tirinya itu. Ia sangat tidak menyukai pria itu-karena hanya ialah bawahan sang anak yang berani kepadanya. Tak ketinggalan kedua lelaki sahabat anaknya.

" Seharusnya kau becus dalam menjaga atasanmu itu " Wanita itu berujar marah. Jong Dae secara imajiner memutar bola matanya kesal.

" Tolong katakan itu kepada Anda sendiri. Anda adalah ibunya tapi mengapa tak mengingatkan dan menjaga Direktur agar tak mengongsumsi alkocol " Jong Dae menyeringai sekilas sebelum keluar dari kamar Sehun. Ia terhenti di samping wanita itu dan berbisik pelan.

" Tunggu hingga kau mendapatkan balasan atas apa yang kau perbuat dulu " Jong Dae berbisik pelan. Nyonya Oh menggenggam rok nya geram. Ia segera berbalik dan mengumpat kepada Jong dae yang sudah berada dianakan tangga menuju lantai satu.

" Kau tidak akan pernah berhasil melakukan nya keparat! Brengsek! Dasar manusia murahan!. Kau tidak akan bisa melengserkan ku dari tempatku " Teriaknya yang tak diperdulikan oleh Jong Dae.

" Pria brengsek tak tau diri. Aku akan membunuhmu sebentar lagi " Desisnya marah. Ia memejamkan mata guna meredam emosi nya. Kemudian dilangkahkan kakinya menuju Sehun yang tertidur pulas. Ia tersenyum menatap wajah Sehun yang tertidur. Wanita itu mendudukkan dirinya disamping Sehun dan membelai wajah Sehun dengan tatapan penuh pujaan.

" Kau juga akan segera menjadi milikku Oh " Sahutnya puas. Ia akan menunduk untuk mencuri kecupan di bibir Sehun andaikan pelayan Kim tak melihatnya.

" Sebaiknya kau menjauhkan dirimu yang kotor itu dari tubuh putra ku " Suara pelayan Kim tersengar geram. Wanita itu mendongak dan segera berdiri menatap tajam kea rah pelayan Kim.

" Kau…."

" Jika kau ingin aku mengatakan keburukan mu kepada Tuan Muda maka pukul aku kalau kau berani " Ujarnya. Wanita itu menggeram marah dan dengan menghentakkan kakinya ia segera melangkah keluar dari kamar Sehun.

Pelayan Kim menghampiri Sehun yang tertidur pulas kemudian mengusap kepala anak asuhnya dengan sayang. Samar-samar ia mendengar suara Sehun menggumam.

" Luhan-ah, kajima….kajima " Dengan air mata yang tak hentinya mengalir.

.

.

.

.

.

TBC

Maafkan saya yang terlambat mengupdate cerita ini, ada beberapa masalah di real-life. Sekali lagi saya mohon maaf untuk yang menunggu kelanjutan cerita ini. Saya tak mungkin meninggalkan kehidupan saya di dunia nyata. Sekali lagi maaf dan terima kasih untuk tetap membaca cerita abal-abal ini.

Cherry's bacot :

Akhirnya Ayu muncul juga. Jujur gw udh mau hapus ff ini karena ayu menghilang gitu aja. Tapi akhirnya dia muncul dan nge-bbm gw. Dan taraaaaa disinilah gw dengan chapter 2 (insyaallah gg bakalan mogok lagi, soalnya chapter 3 udah gw kantongin). Terima kasih buat readers yang udah fav n follow cerita ini terima kasih juga buat kalian yang udah mau nunggu ff ini.

.

.

.

.

And the last wanna revied