That Man From My Past
Chapter 3 ( Who She Is?)
Summary :
Luhan seorang psikolog muda dengan masa lalu kelam dihadapkan pada bagian masa lalunya dalam sebuah jamuan makan malam yang dibuat oleh kekasihnya yang kaya.
Oh Sehun playboy paling ulung dihadapkan pada mantan suaminya yang paling dibencinya pada jamuan makan malam dari kolega bisnisnya.
Main Pair : Luhan, Oh Sehun ( Yaoi )
Other Cast : All member EXO, Stephanie Jung, Kevin Kim, Min Ha Ri, Oh Hye Jin
Rated : M ( For Dirty Talk )
P.S ( Dirty Talk disini bukan hanya pembicaraan mengenai sex tetapi kata-kata kotor )
Kalau nggak suka jangan dibaca dan saya nggak terima bash, silahkan berikan review yang membangun.
Saya sudah peringatkan, ini ff BoyxBoy jadi jangan menjadi orang bodoh dengan meninggalkan komentar yang berisi bash dan jika tak suka langsung klik exit dipojok kanan.
Jika kau mengambil jalur yang salah maka berputarlah ke tempat semula dan mulai dari awal
5 Tahun lalu
Min Ha Ri menyeret wanita itu dari atas lantai, wanita itu terus memberontak mendekati tubuh seorang pria yang tergeletak dengan mengenaskan nya di atas lantai. Darah nya menggenang, di tubuhnya terdapat beberapa luka akibat tusukan benda tajam.
" Lepaskan aku! Lepaskan aku! Dasar penyihir! Apa yang kau lakukan pada nya? Lepaskan aku Kim Hye Jin! " Teriak nya sambil mengibaskan tangan nya tetapi cengkraman di kedua tangan nya akibat cengkraman Min Ha Ri dan cengkraman salah satu pria bertubuh besar. Wanita itu terus memberontak dengan sekuat tenaga hingga ia berhenti karena kehilangan kesadaran. Salah satu pria bertubuh besar itu kemudian menyeretnya menuju pintu keluar dan membawanya kea rah mobil , Min Ha Ri segera mengambil posisi duduk menangisi sosok yang terbujur kaku itu. Suara pintu terbuka membuatnya segera memalingkan wajah. Tampak oleh nya sosok pemuda menatap terkejut padanya.
Luhan membuka matanya ketika alarm di sampoing nakas nya berbunyi nyaring. Ia segera menolehkan kepala nya kesamping.
" Pukul 07.30 " Gumam nya. Dibuka nya selimut yang tadi menyelimuti badan nya dan bangun dari atas kasur. Ia melakukan peregangan kecil dan melangkahkan kaki nya menuju balkon kamar. Dihirup nya udara segar pagi itu, ia melakukan olahraga kecil di atas balkon.
" Hyung aku lapar. Tolong buatkan aku sarapan " Suara itu membuat Luhan berhenti melakukan aktifitas pagi nya dan beralih keluar dari kamar menuju dapur. Seorang pemuda terlihat olehnya, dalam keadaan topless. Sebuah handuk melekat di pinggang nya, air dari tubuh nya turun menuju lantai di bawahnya.
" Yya! Jangan memamerkan badan kerempeng mu itu didepan ku " Pria itu dengan wajah bantal nya menaruh paras rupawannya di atas meja makan. Luhan mendecih ringan melihatnya, dengan pelan diketuknya kepala pria dengan rambut menyala terang itu dengan sendok yang tadi digunakan nya untuk mengaduk kopi nya.
" Tunggulah, aku baru akan membuat sarapan. Pakai bajumu dan tidurlah di sofa dan tunggu sarapanmu siap Seol-ah " Ujar Luhan. Pria dengan mata tertutup itu berjalan dengan malas-malasan dan langsung merebahkan diri dengan cara kekanak-kanakan yang membuat Luhan menggeleng perlahan melihatnya.
Luhan mengambil beberapa sayuran dan roti untuk membuat roti lapis dengan keju. Kemudian ia menumpuk beberapa sayuran, tomat dan keju kemudian ia lumuri dengan saus tomat, tak lupa pula ia siapkan dua gelas susu. Pria manis itu kemudian membuka kulkas mengambil beberapa buah telur dan juga beberapa lembar rumput laut kering. Dengan cekatan tangannya memotong wortel, kentang dan daun bawang untuk kemudian ia campur ke dalam adonan telur yang akan dibuatnya menjadi telur dadar. Setelah telur dadar itu selesai, Luhan mengambil wortel, mentimun dan juga kimchi yang kemudian ia gulung hingga menjadi kimbab siap saji.
Luhan melirik jam dinding diatas TV, dengan cekatan tangan terampilnya memasukkan kimbab yang dibuatnya tadi dan tak lupa memasukkan telur gulung tadi. Ia memasukkan kotak bekal itu di dalam tas kecil. Dicucinya kedua tangan putih nya, dia berjalan kemudian menuju Han Seol yang tertidur dengan posisi tengkurap. Luhan dengan iseng mengambil bantal dan-
Buk
Ia memukul punggung mulus adiknya itu dengan bantal menyebabkan erangan kesakitan( kekesalan ) ha Seol terdengar. Pria tampan itu segera bangun dan menatap tajam kearah Luhan yang memandangnya polos.
" Cepatlah bangun dasar pemalas. Aku tau kau ada kuliah pagi, cepatlah mandi dan sarapan. Jangan sarapan dengan wajah penuh liur dan mulut bau seperti itu " Gerutu Luhan. Han Seol memajukan bibirnya mendengar omelan Luhan. Dengan refleks ia meraba wajah tampannya ( ia mengatakannya sendiri dan Luhan terlalu sering mengatai wajah adiknya itu tak pantas dikatakan tampan berakhir Luhan yang di timpuk menggunakan bantal ). Luhan memandang jijik bantal yang dipegangnya, ternyata ia memegang air liur dari bocah ingusan ini. Luhan menjitak kepala adiknya itu dan hampir menendangnya jika si pria tampan tinggi itu tak segera menghindar dan berlari terbirit-birit menuju kamar mandi.
Sembari menunggu adiknya selesai dan mereka sarapan bersama, Luhan juga bersiap-siap. Ia masuk kedalam kamar mandi, dengan wajah di torehkan ke atas menikmati bulir-bulir air menyentuh kulit sensitive nya. Tatapan Luhan kini tertuju pada tattoo di bagian lengan atasnya. Ia meraba tattoo itu –tattoo yang dibuatnya ketika ia masih bersama Sehun.
FLASHBACK
Luhan merengek dan terus mengoceh dihadapan Sehun yang memasang wajah jengkel. Sehun mungkin saja menuruti semua kemauan Luhan tetapi untuk kali ini dia tidak bisa. Ia tidak bisa membayangkan kulit seputih porselen Luhan di hiasi oleh tattoo yang menurut Sehun tidak ada gunanya. Lagipula apakah si mungil itu bisa menahan sakitnya saat di tattoo. Meskipun belum pernah merasakannya tetapi Sehun yakin jika mentattoo itu rasanya sakit. Sehun sangsi jika si mungil bisa menahannya, tangan nya hanya terkena goresan saja ia sudah menangis hingga menyebabkan mata dan hidung mungilnya memerah.
" Hiks…hiks….hiks " Suara tangis Luhan membuat Sehun membuyarkan lamunan nya. Dengan cepat dipalingkan kepalanya kearah suami mungilnya. Sehun menghela nafas, dengan lembut diusapnya air mata yang menetes di pipi putih itu. Sesaat kemudian terdengar suara ringisan Luhan diakibatkan sentilan Sehun di dahinya.
" Dasar rusa nakal. Jangan merengek padaku kalau kau kesakitan, kau mencari sendiri penyakitmu itu " Luhan mengerucutkan bibir mungilnya mendengar omelan Sehun. Dengan cepat ia menarik lengan Sehun memasuki studio tattoo yang terkemuka di kawasan Chung-nam itu. Sehun yang ditarik seperti itu hanya menghela nafas dengan senyuman tipis di bibirnya. Ia tak akan pernah bisa menentang kemauan Luhan, jika itu terjadi bisa-bisa 'adiknya' tidak mendapatkan jatah selama seminggu. Oh itu berita buruk karena Sehun tidak suka bermain solo yang hanya membuat 'adiknya' lecet.
Sehun memperhatikan seorang pria yang lengannya dipenuhi oleh gambar tattoo naga yang membuat pria Oh itu menyerngitkan kening. Lubang tindik besar di daun telinga itu otomatis membuat Sehun berfikir keras apakah tak sakit daun telinga di tindik dengan lubang besar dengan anting bulat kecil. Perhatian Sehun teralihkan mendengar suara Luhan yang memanggil namanya lirih.
" Hun-ah, aku takut. Penanya terlihat tajam, itu pasti menyakitkan " Suara Luhan mencicit ketakutan. Sehun mendengus pelan mendengarnya.
" Siapa yang merengek bagaikan bayi,hmm? " Kata-kata itu jelas sekali mengyindir Luhan yang memiliki radar sensitive yang peka. Tetapi meskipun begitu Sehun tetap menggenggam tangan dingin Luhan. Ia akan tertawa melihat ekspresi wajah Luhan sekarang andai saja ia tak berada di situasi ini. Mana mungkin ia tega melihat wajah manis itu kesakitan, itu juga akan menyakitinya secara tak langsung. Genggaman Luhan pada tangannya semakin erat tatkala pena tattoo itu menyentuh kulitnya, Sehun hanya dapat menggenggam tangan Luhan sembari berucap kata menenangkan. Sesaat pria albino itu terkekeh pelan, ia seperti seorang suami yang akan menemani pasangan hidupnya menjalani persalinan. Itu konyol Luhan bahkan tak memiliki rahim seperti wanita tetapi tak dapat diragukan bahwa tubuh dan wajah Luhan itu replica asli dari tubuh wanita ideal. " Dia pasti akan memukulku apabila mendengar aku mengatakan ini " batinnya geli.
Sesaat kemudian pena itu berhenti digerakkan di atas kulit seputih pualam Luhan, Sehun menoleh dan melihat pria berwajah sangar itu mengusap sebuah kain diatas lengan Luhan. Luhan menyerngit sakit membuat Sehun otomatis mengerutkan keningnya.
" Sudah selesai " Suara singkat pria sangar itu terdengar seiring dengan Luhan yang sudah terduduk di atas ranjang khusus disana. Sehun ikut memperhatikan Luhan yang dengan imutnya mengelus lengannya yang merah dengan tulisan diatas lengannya. Selesai membayar Sehun mengajak Luhan untuk makan siang di sebuah kedai dipinggir sungai Han. Luhan dan Sehun bukanlah tipe orang berada yang memiliki gengsi tinggi untuk makan di pinggir jalan. Jika menurut mereka makanan itu enak dan dapat diterima oleh perut mengapa tidak.
" Hun-ah seharusnya kau juga mentattoo bahumu itu akan terlihat keren " Ucap Luhan menggebu-gebu. Sehun hanya mengangguk malas mendengar kalimat definisi tampan yang keluar dari bibir merah darah Luhan.
" Tanpa mentattoo pun aku sudah tampak keren Luhan " Pria albino itu mengibaskan rambutnya keatas memperlihatkan dahi lebar mulusnya yang seakan menampar kewarasan anak perawan. Beberapa wanita mulai menatap Sehun dengan pandangan memuja yang membuat Luhan muak manis itu menggembungkan pipinya kesal kemudian menampar dahi Sehun kuat-kuat membuat sang empunya mengerang kesakitan. Luhan dengan pandangan laser dan tajamnya memandang wanita centil yang memandang miliknya dengan tatapan penuh gairah. ' Dasar jalang! ' umpatnya dalam hati.
Sehun tersenyum manis melihat Luhan yang kini memakan bakso ikan dan tteobokki nya dengan brutal meninggalkan noda saus di pipi bulatnya itu.
" Aigoo istriku jangan cemberut seperti itu sayang " Sehun terkekeh melihat tatapan kesal yang ditujukan Luhan padanya. Ia tahu suami mungil nan sensitifnya itu tak suka di panggil dengan sebutan 'istri' itu membuat harga dirinya sebagai pria manly tersakiti.
" Akan kucolok mata wanita-wanita jalang itu sekarang juga " Ujar Luhan geram sambil bangkit berdiri. Sehun segera menangkap pergelangan tangan suaminya dan mencegah rusa jantan itu mengamuk.
" Biarpun mereka melihatku dengan tatapan memuja penuh gairah aku takkan berpaling darimu Luhan-ah " Sehun mencuri kecupan sekilas di bibir pualam pasangan hidupnya itu membuat wanita-wanita itu mengerang kesal. Luhan melempar pandangan nya ke sekumpulan wanita itu kemudian memasang ekpresi kemenangan yang jelas di wajah manisnya.
'Aku selalu menang'
FLASHBACK END
Luhan dan Han Seol segera menyelesaikan sarapan mereka dan berjalan terburu-buru kr arah basecamp apartemen untuk sampai di dalam sebuah mobil SUV hitam. Luhan menginjak gas tepat setelah Han Seol selesai memakai sabuk pengamannya. Luhan terburu-buru membawa mobilnya untuk menghindari macet, apalagi pagi ini dia ada pasien gawat yang harus segera diatasi juga Hanseol harus segera sampai di kampus mengingat dosen Kang adalah tipe orang yang sangat on time dan tak menyukai keterlambatan maka pagi itu Luhan mengemudikan mobilnya bak seorang pembalap professional. Hanseol disebelah nya sudah komat-kamit membaca beberapa doa untuk menenangkan jiwa dan raganya, ia sedikit trauma dengan cara bar-bar kakaknya mengemudikan kendaraan beroda empat itu. Masih sangat jelas diingatannya jika Luhan selalu membawa mobilnya dengan kecepatan 120 km/jam yang membuat mereka hampir menabrak sebuah truk pengangkat gas minggu lalu.
" Hyung kau turunkan kecepatannya sedikit, aku tak mau mati muda Hyung " Hanseol berucap takut yang dihadiahi oleh Luhan sebuah keterdiaman dan malah mempercepat laju mobilnya. Jeritan Hanseol kini sudah menyamai jeritan perawan yang ingin digagahi oleh seorang om-om tambun buncit. Dengan wajah blank pria tinggi itu memandang halaman kampus yang dipenuhi oleh mahasiswa yang sedang berlalu lalang. Hampir saja tangannya akan mencubit Luhan jika saja pria yang berstatus sebagai kakaknya itu tak menendangnya keluar dari mobil dengan kekejaman yang luar biasa.
Mansion Oh
Sehun memandang pantulan dirinya yang hanya menggunakan sehelai handuk menutupi kebanggaan nya. Tubuh professional bak dewa Yunani itu terlihat begitu menggoda dengan tetesan air membasahi tiap kotak pada abdomen perut pucat seksinya. Dengan acuh ia menanggalkan handuknya dan mulai mengambil underwear juga bokser hitam. Kaki panjangnya menuju ruang pakaian untuk mengambil setelan kerja yang akan digunakan untuk menutupi tubuhnya itu. Pilihan nya jatuh kepada kemeja merah dengan jas bercorak dan celana kain merah darah. Disentuhnya kain licin hasil pekerjaan pelayan di mansion besarnya lalu dipakainya kemeja merah darah itu ke badan nya. Step one clear. Tangan-tangan yang biasa menjamah tubuh wanita sewaan itu menatap beberapa koleksi jam rolex dengan seksama sampai ia memilih jam rolex hitam dengan tali berkulit memberikan kesan mewah pada penggunanya. Rambutnya diberi sedikit jel yang dapat membantunya menaikan rambut hitam pekatnya untuk memperlihatkan dahi mulus nya itu. And step 2 clear.
Suara ketukan di pintu mengalihkan pandangan nya dari tab yang berisi schedule hari ini. Diujung sana terlihat Min Hye Ri yang memasang wajah blank nya. Wanita itu terpesona dengan tatapan memuja penuh gairah seksual yang mengalir ditubuhnya melihat penampilan Sehun yang seakan menampar kewarasan pikirannya.
" Ayo turun kita makan bersama di bawah Sehun-ah " Ajak nya. Sehun hanya mengangguk mengiyakan dan mulai merapihkan dasinya kemudian mengambil tas kerja yang berada di sisi kanan ranjang. Dibawah Min Hyerin sudah menunggunya dengan sarapan yang berat ada samgyupsal dan sup ayam yang kelihatan lezat. Sehun sangsi bahwa Min Hyerin yang memasak semua ini karena sepengetahuan Sehun Min Hyerin tak akan sudi membuat tangan nya lecet apalagi ia tahu bagaimana perempuan itu menghabiskan uang dan rela mendekam di sebuah penjara wanita hanya untuk melakukan perawatan.
" Aku menyuruh koki membuatnya aku tau ini semua adalah makanan kesukaan mu " Min Hyerin dengan gesit menyendokkan samgyupsal di mangkuk pria bermarga Oh itu, dalam hati ia terkikik senang. Ia merasa bagaikan seorang istri Sehun yang melayani kebutuhan suaminya. ' Tunggu sebentar lagi maka pria ini akan berada dalam genggaman ku ' batinnya licik. Sehun memakan samgyupsal dihadapan nya dengan perlahan khas seorang ningrat—bangsawan yang mengikuti pelajaran makan. Jongdae tiba tidak lama setelah Sehun hampir menghabiskan samgyupsal yang dibuat oleh koki di mansion ini. Pria yang memiliki bentuk bibir unik itu memberi nya beberapa berkas yang akan dipelajari untuk rapat dewan direksi hari ini. Jongdae menatap Min Hyerin bengis dengan kilatan dingin di matanya. Meskipun wanita ular itu adalah Nyonya Oh tapi Jongdae tak sudi mengakuinya, tetapi ia menghormatinya karena mau bagaimana pun Min Hyerin tetaplah seorang wanita.
" Aku akan pergi menjenguk Ahbeoji nanti, rawat Ahbeoji selama seminggu ini karena aku benar-benar sibuk. Jangan lupa untuk selalu membersihkan rambut di wajahnya dan juga bersihkan badannya. Arra? " Sehun menitahkan hal itu pada Min Hyerin yang notabenenya adalah istri kedua Oh Seunghwa.
" Arraseo aku mengerti aku akan melakukan nya tanpa kau suruh " Min Hyerin akan melangkah maju tapi Sehun langsung mengambil langkah mundur bersama dengan Jongdae yang tersenyum lebih tepatnya senyuman dingin kemenangan kepadanya. Min Hyerin mendesah kesal, jika saja pria kotak itu bukan sekretaris kepercayaan Sehun maka dia akan membunuhnya dan memotongnya menjadi serpihan kecil.
Byungwon Hospital 08.00 PM
Luhan dan Baekhyun berlari tergesa menuju ruang lift, pria bermarga Byun menekan nomor 9 pada tombol lift dan menempelkan card id nya pada pemindai scener. Lift berjalan cepat menuju lantai yang dituju.
" Hyun-ah kau sudah menyiapkan obat penenangnya kan? Vitamin dan obatnya juga kan? " Luhan bertanya selagi menunggu lift sampai di lantai Sembilan.
" Tentu Hyung. Aku baru saja menerima pesan bahwa Dokter Ji dan Dokter Uhm sudah berada disana terlebih dahulu " Baekhyun memperlihatkan isi pesan kepada Luhan. Luhan mengangguk mengerti dan keluar dari lift. Keadaan lorong lantai itu sangatlah berbeda dengan lantai satu hingga delapan, lorong nya terbuat dari kaca dan hanya satu ruangan yang terdapat pada lantai itu. Suara-suara teriakan mendominasi lantai itu, beberapa barang pecah juga berbunyi mengerikan setelah menapak kerasnya lantai. Luhan dan Baekhyun bergerak cepat membuka pintu dengan scanner jari, di luas itu memiliki fasilitas lengkap yaitu kamar tidur, kulkas, lemari pakaian, televise dan sebuah rak buku. Sebelum meniti langkah kedepan sana suara Dokter Uhm dan Dokter Ji terdengar.
" Hati-hatilah melangkah Dokter Lu, Dokter Byun. Di lantai sudah banyak pecahan kaca hati-hatilah jika kalian tidak ingin terluka " Sarannya. Kedua pria berjas putih itu mengangguk mengerti. Luhan mengedahkan pandangannya kearah depan dimana sebuah pemandangan menyesakkan tertayang disana. Seorang wanita berusia 40 tahun dengan tubuh terikat memberontak dan melepaskan pegangan beberapa suster yang memeganginya. Luhan segera mengambil tindakan dengan segera memeluk sosok itu dengan kuat.
" Eomma aku disini, Luhan anakmu ada disini. Aku disini jangan khawatir eomma " Luhan mengelus kepala yang berada di pelukannya itu membuat pemberontakan itu terhenti. Luhan membawa kepala itu kearahnya. Tatapan kosong dan dingin itu membuat mata Luhan berair, hampir saja air Kristal bening itu terjatuh tapi pria Lu itu segera menahannya. Tatapan mata wanita itu terarah kepada wajah Luhan, tangan ringkihnya menyentuh wajah halus pria yang mendekapnya longgar.
" Luhan-ah lari, berlarilah atau jika tidak kau akan dibunuh oleh wanita ular itu "
" Luhan-ah lari, berlarilah atau jika tidak kau akan dibunuh oleh wanita ular itu "
" Luhan-ah lari, berlarilah atau jika tidak kau akan dibunuh oleh wanita ular itu "
Kata-kata it uterus terulang bagaikan tape recorder yang rusak, Luhan mendekap erat wanita itu dan memberikan kode pada Dokter Ji untuk menyuntik nya. Di tidurkan tubuh kurus itu diatas bangkar dan disuntikkan nya vitamin kedalam infuse yang tertancap di tangannya. Setelah itu Luhan menghadapkan tubuhnya dihadapan Dokter Ji dan Dokter Uhm.
" Sebelum kami datang ia baik-baik saja tetapi ketika melihat pelayan membawa kain putih seprei ia berteriak histeris. Sepertinya traumanya semakin parah Dokter Lu " Kata Dokter Ji. Dokter Uhm juga membenarkan.
" Tapi bukankah beberapa minggu ini dia sudah baikan? " Tanya Baekhyun tak mengerti.
" Aku juga tak tahu apa yang membuat nya kembali kambuh padahal aku memperkirakan trauma nya akan segera sembuh " Dokter Uhm menatap wanita itu.
" Apa langkah yang akan kau ambil Dokter Lu? Kita juga tak bisa selalu mengikatnya ketika ia meraung dan memberontak" Tanya Dokter Ji. Luhan menghela nafas bingung. Bagaimana ia bisa mengambil keputusan di saat pikirannya bercabang seperti ini. Tetapi apabila dibiarkan seperti ini juga tak ada gunanya malah akan menambah masalah dan memunculkan masalah baru.
" Sunbae aku juga sudah terlalu pusing. Aku jujur merasa bingung padahal aku sudah mengusahakan hal terbaik agar dia sembuh selama beberapa tahun ini tapi seperti nya hal ini sangatlah menyusahkan dan terlalu sulit untukku " Luhan mengurut keningnya sedangkan ketiga dokter dihadapannya menatapnya dengan pandangan kasihan yang tak Luhan sukai.
" Tetapi apakah trauma itu juga sudah hilang dari dirimu? Aku tau kau juga mempunyai trauma berat karena kejadian itu Luhan " Tanya Dokter Ji. Luhan menatap Dokter wanita dihadapannya itu.
" Memang sulit membuatnya hilang tapi aku yakin aku dapat mengatasinya Sunbae " Jawab Luhan yakin.
" Apakah kau masih meminum obat yang kuberikan padamu? " Luhan mengangguk sekali.
" Untuk sekarang kita jangan mengambil tindakan dahulu aku dan Dokter Uhm akan mencari cara agar Kim Hyejin bisa sembuh " Kata Dokter Ji.
Gook-il Hospital
Sehun memasuki ruangan penuh obat-obatan itu dan menutupnya kembali. Ia menatap tubuh ringkih ayahnya diatas bangkar yang tampak menyedihkan itu. Anak adam itu mendekati bangkar dan duduk disampingnya dengan sebuah kursi kayu dibawah bokong nya.
" Ahbeoji bagaimana keadaan mu? Apakah kau merasa lebih baik? " Ia menatp wajah ayahnya yang pucat. Mata ayahnya terbuka menatapnya, mulutnya terbuka kecil tetapi tak mengeluarkan sepatah katapun . Sehun mengusap air mata yang tiba-tiba keluar dari ujung mata Ayah nya. Ia sebenarnya merasa heran mengapa setiap lelaki yang berstatus sebagai ayahnya itu menatapnya hanya air mata yang selalu keluar seakan-akan itu adalah cara ayahnya menyambut kedatangannya.
" Aku harap ahbeoji segera sembuh . Aku merindukan berbicara dan bermain baduk dengan ahbeoji " Sehun menunduk dan memegang jemari dingin ayahnya dengan erat menyalurkan perasaan hangat.
" Kau tau ahbeoji kemarin aku bertemu dengan orang yang telah membunuh wanita yang paling aku cintai di dunia ini. Ahbeoji tahu aku merasa sangat marah kepadanya yang dengan tak bersalahnya memasang wajah seakan-akan bukan dia yang menyebabkan kesengsaraan bagi kita. Aku sangat membenci nya dengan seluruh hidupku " Tatapan marah dan muak itu nyatanya membuat perasaan pria paruh baya itu tercabik-cabik.
' Andaikan kau tahu hal yang terjadi nak ' Batinnya.
TBC
Nggak tau ini bagus apa nggak soalnya pas ngetik init uh rada ragu. Mudah-mudahan ceritanya nggak tambah amburadul.
Btw aku ambil lantai 9 itu karena aku terinspirasi dari drama nya suami aing abang changwook sayang.
Kalau mau ngasih masukan ataupun saran silahkan isi kotak review yah kawan
And last salam cinta buat HHHS yang masih bertahan hingga kini ( buat yang HHS tapi berkedok BIM mending kelaut aja deh nyeburin diri terus dimakan ama hiu. enek gw ngeliatnya )
