Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.
TnM's notes: This is remake! I do not own the story. Cerita ini banyak beredar di internet. Drabbles ini hanya menambahkan nama dari karakter-karakter yang ada di Inuyasha ke dalam cerita.
AU-Modern setting.
Muda dan berjaya, dua kata itu cocok melekat pada Sango Ishii, salah satu mahasiswi hukum di Universitas Tokyo. Gadis berparas cantik yang biasanya cerdas, komunikatif, logis, rasional, dan lugas itu kini tengah mempertanyakan kewarasannya sebab, ia selalu terbangun tiap pukul dua dini hari sejak beberapa hari yang lalu.
Setiap hari, tepat di jam, menit, dan detik yang sama ia selalu terjaga. Entah mengapa titik fokusnya selalu terbetot ke arah jendela kamar. Apa yang ia lihat di jendela itu pun sama setiap malamnya, wajah pucat seorang pria yang terbingkai surai kelam sebahu yang acak-acakan, dengan seringai lebar yang seakan membelah wajah. Senyum penuh teror yang memberikan rasa dingin di sekujur tubuh siapapun yang memandangnya.
Walau gadis itu bisa menggerakan sebagian besar tubuhnya, ia tak dapat menoleh, juga tak dapat berkedip saat itu terjadi. Pengulangan itu hanya terjadi dua puluh detik, tapi, bagi satu-satunya putri keluarga Ishii, siksaan psikologis itu seperti puluhan tahun lamanya.
Pada awalnya, Sango hanya menyangka bahwa itu hanyalah mimpi buruk semata. Namun, semakin lama, semakin ia meragu. Hingga akhirnya, demi memastikan mimpi atau bukan, ia pernah menelepon seorang sahabatnya tepat saat hal janggal itu terjadi.
Segera setelah tahu bahwa itu bukanlah mimpi, Sango lantas mencoba banyak cara untuk mencegah hal yang sama terus terulang; obat tidur tidak manjur, gorden berlapis selimut yang digunakan untuk menutup jendela selalu terlepas begitu saja, dan senyum ganjil itu terus menghantuinya meski ada orang lain yang tidur di sisinya.
Semua usaha terasa percuma. Seharusnya ia memanggil polisi, ya kan? Tapi, bagaimana polisi bersedia mempercayai ceritanya dan membantunya bila jendela yang menjadi masalah itu ada di lantai dua puluh gedung apartemen yang ditempatinya sekarang?
Tepat di hari ulang tahunnya yang kedua puluh, atas saran dari sahabat, ia memanggil seorang Pendeta. Pendeta itu datang ke apartemennya dan melakukan sebuah ritual pengusiran setan.
Malam harinya, Sango terlelap begitu ia pertama kali kepalanya menyentuh bantal. Jam dua pagi, ia terbangun, lagi-lagi. Akan tetapi, malam itu berbeda, ia bisa bernapas lega sekarang, seringai mengerikan itu tak lagi tampak. Dengan senyum lega, gadis itu menarik selimut hingga ke dada.
Tapi, sosok yang muncul di tepi ranjang membuat udara terhempas dari paru-parunya, tenggorokannya bagai tercekik, dan jantungnya bak berhenti mendadak.
Wajah itu memang tak lagi muncul di jendela, namun, celakanya, makhluk itu kini berhasil masuk ke dalam kamarnya. Tubuh makhluk yang mengambang itu samar, hanya serupa kabut hitam, yang teramat jelas adalah kepala dan tatapannya, juga, senyum yang lebih cocok dikatakan seringai.
Seringai itu masih sama, lebar, dan menakutkan!
Sango memejamkan mata erat-erat. Ia menghitung sampai dua puluh. Setelah ia sampai di angka terakhir, ia membuka mata.
Dan, wajah itu kini hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
Dengan suara berat dan terdengar jauh, sosok itu berbisik, "Waktumu telah habis."
.
