Cerita ini original milik penulis a.k.a Chanie (chaniethor)
Cerita ini merupakan fanfiction, tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun. I Love BTS :*
BTS Fanfiction
HUG ME
(Chapter 2/END)
Aku punya ribuan luka tak tertutup, aku punya bekas yang menganga. Aku diamkan, karena aku tidak punya benang jahitnya. Tidak ada obat, hanya ada pembuat mati rasa. Aku berjalan dengan luka yang ada, dan kini aku mulai sakit. Saraf nyeriku kembali, aku mulai menderita. Aku butuh dia..
"Y-yoongi…" Taehyung menggumam lemah. Hidung besarnya memerah, ada ingus keluar dari sana.
Yoongi berjalan menghampirinya, masih dengan handuk yang membungkus kepala. Yoongi menatapnya, mengerut tak suka. "Kenapa kau menangis?"
"K-kau tidak pergi?" Yoongi mengernyit semakin dalam.
"Kau ingin aku pergi?"
"Apa ini berarti aku tidak bermimpi?" Yoongi berdecak, lalu mencubit perut Taehyung yang sedikit gembul seperti bantal. Taehyung mengaduh, dan Yoongi terkekeh.
"Apa kau mabuk?"
"Jadi ini bukan mimpi?" Taehyung menangkup kedua pipi Yoongi, mengunyelnya beberapa kali sampai membuat si cantik yang membuatnya terpesoda itu mengumpat kesal. Tapi, Taehyung tidak sakit hati diumpati. Dia justru melompat, bersorak senang.
"YEAYY! INI BUKAN MIMPI!"
Yoongi sedikit kebingungan, tapi Taehyung terus melompat sambil memeluknya. Taehyung berhenti melompat, lalu menatapnya dengan ekspresi kelewat senang. "Aku senang sekali ini bukan mimpi. Aku mencintaimu Yoongi."
"Ah-choo.."
Yoongi bersin, Taehyung kena cipratannya. Yoongi langsung mengerjap, bergegas mengelap air liurnya yang mendarat di sana. Di wajah Taehyung.
"S-sorry, ah.." Yoongi meringis, Taehyung menatapnya datar sebelum berubah jadi terpesona. Duh, meringis, cantik lagi. "Ah, tadi kamu bilang apa?"
Taehyung menggeleng, malah menarik Yoongi. Taehyung menariknya ke kamar. "Kau harus tidur, Yoongi."
Jika ini benar nyata, izinkan aku menerimanya seutuhnya. Semuanya, tanpa sisa.
Akan kuberikan dia juga segalanya, tanpa sisa.
Yoongi dibaringkan di kasur, diselimuti juga. Taehyung meredupkan lampu, mengunci jendela yang terbuka. Dia memastikan Yoongi hangat, dan nyaman.
"Yoongi, tidurlah." Taehyung bersiap keluar kamar ketika suara Yoongi memanggilnya.
"Kau mau ke mana?"
"Tidur di luar."
"Di sini saja," jawab Yoongi pelan. Dia menggeser posisi, menepuk kasur di sebelahnya yang luang. "Masih muat."
"T-tapi…"
"Oh, ayolahh.. Aku sudah mengantuk, malas berdebat. Kau menurut sajaa."
Taehyung terperangah. Rajukannya membuatnya bimbang, gemas, dan terkejut dalam satu waktu saja. Taehyung mengatupkan mulutnya ketika Yoongi bersiap melempar bantal. Dia mengangguk, menutup pintu, dan menempatkan dirinya di sebelah Yoongi.
"Mendekat," ucap Yoongi singkat. Taehyung bergerak menurut, masih pusing dengan ritme jantungnya yang tidak beraturan, hingga tidak sadar tubuhnya menjadi lebih hangat, Taehyung membola, menoleh kaku. Yoongi sedang memeluknya.
"Dingin."
"K-kuambilkan selimut lagi."
"Bukan itu! Haishh…" Yoongi mencubitnya lagi, mendengus lagi. "Kenapa kamu tidak peka?!"
Taehyung bangun, duduk di kasur. Dia menatap Yoongi bingung, "H-harus bagaimana?"
Yoongi ikut bangun, duduk di kasur juga. Dia balas menatap Taehyung kesal. Tapi, dia kemudian menghela napas.
Yoongi melirik sekitar, menyadari betapa banyak buku yang bertumpuk di kamar. Bukunya besar-besar, sampulnya juga tebal. Yoongi menatap Taehyung yang masih menunggu jawabannya. "Taehyung…"
"Y-ya?"
"Malam ini, aku tidak mau tidur…"
"Tidak, tidak boleh. Kamu harus tidur, Yoongi."
"Kalau begitu lakukan!" Yoongi mendengus kesal, tapi tatapannya nanar. Ah, sepertinya dia mulai demam. "Lakukan yang kuperintahkan.."
Taehyung hanya diam menunggu kalimat selanjutnya. Dia tidak menyahut apa-apa, hanya memperhatikan Yoongi yang masih sedikit gemetar entah mengapa. Yoongi kembali menatapnya setelah lelah menatap sekitar. Pandangannya dikunci.
"Bacakan aku sebuah cerita, dan peluk aku sampai kau selesai. Tidak, sampai aku bangun lagi."
Peluk aku… tolong peluk aku.
Aku mencintaimu…
Akan aku berikan segalanya untukmu.
Sekarang, peluk aku…
Taehyung berbaring dan mendekat untuk memeluk Yoongi. Dia gugup, panik sekali sebenarnya. Dia membuncah, ingin berselebrasi lagi. Tapi, Yoongi harus tidur, dia tidak mau membuatnya kesal lagi.
Taehyung sangat gugup sampai bingung mau bercerita apa. Yang terlintas dibenaknya hanya ketika ibunya juga melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan. Memeluknya, dan membacakan buku cerita hingga tidur.
Aku akan memberikan segalanya..
Dan kisah hidupku adalah satu-satunya harta yang kupunya…
Taehyung mulai bercerita tentang dia yang buruk rupa tapi masih bahagia. Masih bahagia, karena dia masih punya ayah ibunya. Dia juga bercerita tentang dia yang berubah sebatang kara. Karena kecelakaan laboratorium yang bersejarah, ayah dan ibunya adalah dua korban di antaranya yang meninggal dunia. Dia lalu bercerita tentang orang-orang yang tidak menerimanya karena kulitnya terbakar sebagian, di bagian tangan,dan sebagian leher. Dia ada di sana pada saat kecelakaan itu.
Ceritanya meningkat. Di kelas dua usai kecelakaan itu, dia akhirnya kembali ke rumah. Tinggal sendiri di sana. Semua harta keluarganya jadi miliknya, harta buku dan ladang labu rupanya. Pengacara keluarganya adalah satu-satunya orang yang peduli, yang membantunya ketika rumahnya hampir dibeli secara illegal. Yang membantunya membayar pajak dan mengambil royalty orang tuanya. Yang kini juga sudah tiada, pengacaranya sudah meninggal dunia..
Beranjak SMP, dia benar-benar sendiri. Tidak punya siapa-siapa. Uang sekolah murni dari beasiswa. Dia tidak jajan, hanya membawa bekal yang dia buat sendiri dari rumah. Ketika Song Mino dan kawan-kawan mengusiknya, dia tidak ada pembela.
"Anak itu hanya tertawa, dan semua orang kembali menganggapnya gila."
Kejadian itu terus berulang hingga dia lulus SMA. Dia baru merasa lebih tenang setelah lulus SMA, meski sama saja. Dia sendirian.
"Temannya yang baru adalah laboratorium, Jimin, dan rekan-rekan satu kelasnya."
Hanya mereka, dan di luar itu dia sendirian….
Taehyung terhenyak ketika Yoongi bergerak bangun dan memanjat tubuhnya. Taehyung kebingungan, Yoongi yang di hadapannya ini wajahnya basah. Habis menangis rupanya, tapi ekspresinya datar. Atau mungkin berusaha datar? Taehyung mengangkat tangannya untuk meraih wajah Yoongi—mengusap pipinya.
"Taehyung…"
"Ya?"
"Ini bukan mimpi, tolong ingat…" Yoongi mengucap lirih. Seperti menahan tangis, tapi matanya masih menatap tajam. Yoongi memanjat lagi, menjadi lebih dekat dengan wajah Taehyung. Yoongi tampak memejamkan mata, reflek membuat Taehyung mengikutinya.
Dinginnya hujan badai yang terjadi di luar rumah sudah sirna. Taehyung dan Yoongi tidak merasakannya sekarang. Mereka sudah hangat, karena lidah mereka saling bergulat.
Yoongi dijatuhkan ke kasur, membuat Taehyung yang berada di atas. Kacamatanya yang retak sudah ditepikan. Taehyung sibuk bergulat, dengan lidah Yoongi yang panas.
"Mmm—ah."
Taehyung memutus pagutan, menatap Yoongi tajam meski aslinya tidak terlihat begitu jelas. Yoongi terhenyak, melihat jelas mata Taehyung yang tajam yang tengah mengunci matanya. "T-tae—uh?"
Yoongi mendelik, terkejut sekali. Taehyung tiba-tiba mencengkram rahangnya dengan satu tangan, dan memasukkan ibu jari tangan kanannya ke dalam mulutnya. Dia menekan lidahnya.
Apakah tidak boleh orang buruk rupa sepertiku meminta yang hampir sempurna sepertimu? Aku bisa melengkapi sisanya, meskipun sebagian besar aku adalah keburukan dunia.
Taehyung menghela napas, masih menatap Yoongi dengan sorotnya yang tajam. Sorot tajam yang tertutup dalam frame kacamata yang tebal. Taehyung mengganti posisi tangannya yang lain untuk menyapu poni Yoongi, lalu menghela napas lagi.
"Sudah kuduga, kau demam Yoongi."
Taehyung menarik ibu jarinya dari mulut Yoongi, meraih kacamatanya sendiri, lalu bangun dari kasur. Yoongi hanya tiduran di kasur dengan kepala yang mulai pening. Taehyung kembali beberapa saat kemudian. "Minum obat dulu."
Yoongi menggeleng. "Aku tidak suka obat," ujarnya lirih. Kepalanya terasa membakar, lehernya juga seperti tercekik. Sekarang, dia baru sadar tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan.
"Ya, sudah. Begini saja."
Taehyung meletakkan nampan di dekat Yoongi, duduk di sebelahnya, lalu meminum air putih yang dia bawa. Air putih yang disediakan untuk Yoongi meminum obatnya.
Yoongi diam saja. Dia tak bereaksi begitu berarti ketika Taehyung kembali mencengkram rahangnya supaya terbuka. Dia hanya sedikit terhenyak. Taehyung menjejalkan obat kapsul itu ke pangkal lidahnya, lalu menciumnya.
Kamu itu indah sekali, menyentuhmu itu seperti mimpi…
Jangan sakit, apalagi karena dekat denganku..
"Beristirahatlah." Taehyung bergerak ke sebelah Yoongi, meraih tubuh yang melemah itu untuk dipeluknya. Taehyung mengusap surai, mengecup puncaknya. "Aku akan memelukmu sampai bangun lagi…"
Ini seperti mimpi..
Atau memang mimpi?
Bagaimana kalau ini memang mimpi?
Dia sangat cantik.
Dia sangat menawan.
Apakah dia masih mau tinggal?
Suara patukan burung-burung yang bersarang di pohon di dekat ladang membangunkan Taehyung dari tidurnya. Cahaya matahari masuk melalui celah loteng, menyilaukan mata Taehyung, sungguh memaksanya untuk terbuka.
Ketika kesadarannya mulai sempurna, Taehyung segera melebarkan matanya. Dia menoleh cepat, menghadap ke sebelahnya. Yoongi sudah tidak ada.
Tolong jangan buat aku begini.. aku mulai ketakutan.
"Yoongi?"
"Di dapur!"
Jika ini benar nyata, izinkan aku menerimanya seutuhnya. Semuanya, tanpa sisa.
Akan kuberikan dia juga segalanya, tanpa sisa.
Taehyung menyibak selimut, segera berlari ke arah dapur. Taehyung berhenti ketika sosok menawan itu berdiri di sana, membelakanginya, meskipun tampak blur.
"Heh! Kau tidak pakai kacamata. Jangan bergerak banyak! Biar kuambilkan." Meski demikian, suara teriakan itu jelas sekali dia kenali. Itu punya Yoongi, suara khas Yoongi. Kesayangannya…
"Besok aku akan meminjamimu kontak lensa saja. Biar ini nanti diperbaiki."
Aroma masakan dapur sudah berpindah ruang. Taehyung mengikuti Yoongi yang berjalan membawa nampan ke ruang makan. "Oh, ya. Besok kau sudah tidak perlu takut lagi sama Bobby dan kawan-kawan. Sudah kubereskan, dan kau tidak perlu takut dia dendam."
"Dia tidak akan dendam?"
Yoongi menggeleng, lalu berbalik untuk menatap Taehyung. "Tidak akan. Setelah aku merapikan penampilanmu, tapi. Mereka itu masih buta sama penampilan. Aku jamin, setelah ini, mahasiswa teladan yang idiot ini tidak akan diremehkan."
Yoongi tersenyum mantap, mengusap poni Taehyung ke belakang beberapa kali. Taehyung mengerjap, tidak sadar sudah terpesona lagi.
"Ayo makan!"
"Yoongi." Taehyung membuatnya berhenti menarik kursi. Yoongi berbalik, menunggu kalimat berikutnya. "Aku mencintaimu."
Dia benar-benar malaikat…
Malaikatku,
"Aku juga mencintaimu, Taehyung."
Taehyung tersenyum, lalu berjalan mendekat. Taehyung mengecup poninya, lalu menunduk untuk menatap matanya. Taehyung menunduk lagi, dan mencium bibirnya.
"Terima kasih," ucap Taehyung lirih.
Usapan Yoongi pada pipinya mencairkan air matanya. Taehyung menunduk, sementara Yoongi bergerak mendekatinya. Yoongi memeluknya, mengusapi bahunya.
"Sama-sama, Taehyung. Dan tolong ingat, aku ini masih manusia."
Aku punya ribuan luka tak tertutup, aku punya bekas yang menganga. Aku diamkan, karena aku tidak punya benang jahitnya. Tidak ada obat, hanya ada pembuat mati rasa. Aku berjalan dengan luka yang ada, dan kini aku mulai sakit. Saraf nyeriku kembali, aku mulai menderita. Aku butuh dia..
- After story-
"Hehehe…"
Taehyung tertawa jenaka. Yoongi menunduk untuk memicing ke arahnya. Taehyung sedang tiduran di pangkuannya. "Kenapa kau tertawa?"
"Aku merasa bermimpi.." Yoongi berdecak kemudian.
"Makanya cuci muka!"
"Sudah lho ini. Makanya, aku merasa bermimpi. Aku ini bangun," sahut Taehyung, masih nyaman tiduran di sana.
"Ya, ya, terserah."
"Baiklah," gumam Taehyung. Dia menghadap ke perut Yoongi, mengusalkan kepalanya, membuat Yoongi sedikit geli. "Aku mencintamu."
Yoongi tersenyum, mengusap surainya lembut. "Aku tahu."
Semilir angin musim semi membuai mereka. Rasanya nyaman sekali. Kicauan burung-burung di ladang menjadi radio paling harmoni. "Yoongi, ayo kita buat anak yang banyak."
"Kamu sudah punya dua!"
Taehyung mengusal lagi. "Dua anak. Lebih, baik. Oke, sayang?"
"CK!"
END
Harusnya aku jadiin satu part sih wkwk
Tapi, ya sudahlah.
Mind to Review?
regards,
Sugarsister.
