Lucian berdiri di balkon kamar Valentine di Morgenstern Manor, melihat langit yang semula cerah namun sekarang mendung berarak dari barat. Hutan di kejauhan berkabut, dan semakin menghitam tak terjangkau pandangan mata. Ia sedikit menggigil dingin saat udara malam menyapa kulitnya. Sepertinya badai akan datang.
Valentine menyusul, memeluknya dari belakang. Mereka mengulangi lagi—berciuman seperti yang sebelumnya dilakukan di sore harinya, di padang rumput, ciuman yang berbaur dengan canda. Namun sekarang menjadi begitu bermakna.
Malam yang dingin tidak akan menjadi dingin untuk mereka.
-o-o0o-o-
The Werewolf's Tale
By Niero
The Mortal Instruments © Cassandra Clare
-o-o0o-o-
.
Part II
.
Semakin hari Lucian tidak bisa jauh dari Valentine. Ia melewati ujiannya dengan gemilang, mulai ikut berburu, dan membunuh iblis. Ia berkembang menjadi Shadowhunter yang diperhitungkan, dan di Akademi menjadi orang kedua setelah Valentine di kelompoknya. Dengan dengung isu yang menyatakan dirinya calon Parabatai untuk Valentine, dan dengan kenyataan Lucian lebih sering menghabiskan waktu di Morgenstern Manor. Mereka dinilai lebih dekat dari saudara, dan benar-benar siap untuk dipasangi Tanda Parabatai meski Valentine baru berumur tujuh belas tahun, sedangkan Lucian masih enam belas tahun. Menjadikan mereka pasangan Parabatai termuda dalam sejarah Nephilim.
Malam ini pun, Lucian menghabiskan waktu di Manor lagi. Ia berbaring tengkurap, membaca sebuah buku yang diambilnya dari meja sebelah tempat tidur, sedangkan Valentine duduk di sebelahnya memoles belati kembarnya—Kindjal, hadiah dari ayahnya. Valentine sudah menceritakan bahwa belati itu hanya ada sepasang di dunia, yang kemudian sudah dimilikinya, senjata langka dari Caucasian. Yang membuat Lucian mengambil kesimpulan, belati itu akan menjadi belati kesayangan Parabatainya ini.
"Hei, Lucian..."
"Ya?" Lucian menutup bukunya. Berbalik untuk duduk dan menghadap Valentine.
"Aku sering bertanya-tanya, kenapa jumlah Shadowhunter sangat sedikit, tidak ada seujung kuku dari total mundane di dunia ini. Dan dengan Demon dan Downworlder yang selalu mengacau, membunuh Nephilim disetiap terjadi pertempuran. Kita terancam punah, kenapa kita tidak membuat lebih banyak Shadowhunter. Kenapa kita menyimpan kekuatan ini sendiri, dan tidak membaginya dengan manusia lain."
Lucian masih berpikir, pada awalnya ia mengagumi gagasan Valentine—yang sekalipun ia tidak pernah terpikir hal seperti itu. Namun seperti ada yang salah, apa jadinya kalau seluruh manusia menjadi Shadownunter. Apakah keseimbangan itu tercipta, meskipun benar jika nantinya Demon dan Downworlder tidak bertindak semena-mena lagi.
"Hal semacam itu, bukankah melanggar peraturan Clave?" kening Lucian sedikit berkerut, memikirkan gagasan yang muncul sebagai obsesi Valentine itu.
"Para Dewan itu picik, Lucian. Mereka egois, ingin menjadi yang teristimewa sendiri. Piala Raziel seharusnya tetap digunakan untuk membuat lebih banyak Shadownunter. Menghadiahi manusia dengan kemampuan melihat Dunia Bayangan."
Lucian termenung, pemikiran Valentine mulai merasuki dirinya. Dan membenarkan, dipikirkan baik-baik memang apa yang dikatakan Valentine itu benar. Valentine menginginkan perubahan dalam tubuh Clave, sebuah reformasi untuk kemajuan dan kedamaian kehidupan manusia di dunia ini.
Sebuah kecupan di pipi melepaskan angan Lucian. "Valentine,"
"Wajahmu menggemaskan kalau terlalu banyak berpikir," godanya. "Kita akan membentuk kekuatan dan organisasi baru kalau perlu, Lucian. Untuk membangun Clave yang lebih baik. Tapi sekarang... lebih baik kita bersenang-senang."
Tidak ada lagi kata-kata berupa bahasan penting yang ingin diutarakan, yang untuk selanjutnya kata yang keluar tak akan bermakna, hanya akan berupa rintih kecil atau desah kepuasan. Lucian tidak keberatan saat Valentine mendorongnya terlentang. Meskipun kadang ia berpikir, ia hanya sebagai objek kesenangan Valentine, sebagai tempat penyalur hasrat sang Morgenstern—Lucian menerima semua itu. Pun ia tidak pernah mengutarakan rasa dalam hatinya, tidak pernah menuntut Valentine, tidak ingin tahu apa perasaan Valentine padanya. Karena Lucian sebenarnya paham, ia dan Valentine tidak akan pernah kemana-mana. Mereka parabatai. Mereka sama-sama laki-laki. Sekalipun ada keegoisan dalam dirinya yang bernama cinta—ia telan semuanya sendiri, dan ia nikmati apa yang Valentine berikan, karena apa yang ia terima selalu lebih dari yang ia harapkan.
Dan ia pendam pahitnya dalam-dalam.
"Aku dengar kau menyukai Jocelyn," Valentine menggigit leher Lucian pelan, mengecupnya kemudian. "Lucian?" lanjutnya.
"Uh..." Lucian mencari kata-katanya, mengendalikan hasratnya sendiri yang mulai memuncak. "Ba—bagaimana mungkin aku menyukainya. Kalau kau selalu memperlakukanku… seperti ini."
"Bagus."
Lucian merasakan Valentine naik ke atas tubuhnya, menindihnya. Dan saat pinggang mereka bertemu, betapa kerasnya sesuatu di arah selatan tubuh Valentine, membuat Lucian meremang. Dirinya yang membuat Valentine setegang ini, dirinyalah yang membangkitkan gairah Valentine. Itu tidak berbeda dengan dirinya sendiri, yang menuntut dorongan untuk segera melepaskan seluruh penutup raga yang melekat. Untuk segera merasakan sensasi dari kulitnya yang bertemu langsung dengan kulit Valentine. Tubuh Valentine yang terukir lebih banyak rune, membuatnya semakin panas. Jemarinya menelusuri rune itu satu demi satu—dan merasa bangga karena dirinyalah satu-satunya yang bisa menyentuh Valentine sedekat ini.
Tidak hanya dengan jemarinya, ia menggunakan bibirnya untuk memuaskan Valentine. Membiarkan Valenine menyamankan diri terbaring, beralaskan bantal-bantal dari bulu angsa yang lembut. Lucian menarikan lidahnya untuk mencecap rasa dari tubuh Parabatainya, melihat ekspresi dari wajah Valentine yang terlapisi napsu. Manik mata hitam Valentine memandang Lucian, tangannya membelai rambut sang pemuda Graymark, meminta pemuda itu mempercepat apa yang tengah diperbuatnya.
Lucian tahu prosedurnya, karena ini bukan kali pertama mereka menyatukan raga—tubuhnya sudah pernah diambil Valentine di malam setelah pemuda itu menciumnya. Dan Lucian tahu pasti Valentine akan segera membalik posisinya lagi, mengurungnya dalam kekuasaan mutlak. Valentine suka berkuasa, Valentine pihak yang memberi.
"Lucian, kau tidak keberatan dengan semua ini?" Valentine berbisik di telinga pasangannya, mempermainkan telinga itu dengan jilatan kecil setelahnya.
"Kau... licik," suara Lucian lirih bercampur desahnya. Bagaimana bisa Valentine menanyakan itu sambil memporandakan tubuhnya, dengan tekanan yang membuatnya ingin mengerang lagi. "Kalau kau peduli apakah aku keberatan atau tidak... Valentine... Mhh! Kau... kau seharusnya menanyakan itu sebelum melakukan ini,"
Terdengar tawa kecil dari bibir Valentine. "Aku hanya ingin tahu,"
"Sudah, jangan bicara lagi. Aku... Nh!"
"Kau sendiri yang berbicara,"
"Valentine..."
"Hm,"
Tidak menunggu lama untuk keduanya lebih tenggelam, menggenggam telapak tangan Lucian erat, dan membenamkan wajahnya di pundak Lucian. Valentine melepaskan semua yang tertahan, dan Lucian menyusul kemudian.
Sesempurna apapun seorang Valentine Morgenstern, ia tetap pemuda yang memiliki napsu. Mungkin, hasrat untuk menyalurkannya bukan perempuan—karena perempuan itu merepotkan, dan perempuan tidak terlalu pintar menyimpan rahasia. Nanti tentu saja ia akan memilih seorang istri. Namun sekarang, ia masih memiliki Lucian, Valentine mengamati wajah tidur pemuda itu, menelusuri wajahnya—wajah dan tubuh yang lebih dari cukup untuk memuaskannya. Lucian masih akan tetap digenggamnya, selama apapun yang ia perlukan.
.
Keesokan harinya saat pelajaran di kelas, Valentine dengan sembrono bertanya kepada guru. Dan jawaban yang diterimanya, bahwa kebanyakan manusia tidak akan selamat dalam perubahan dari proses menjadi Shadowhunter, selain itu hanya akan menimbulkan kerusakan, semua yang didengar hanya membuat Valentine semakin marah. Ia semakin menuduh Clave, dan menyebut Clave sudah tercemar. Ia bertekat untuk meluruskan lagi jalan itu, membentuk garis-garis Nephilim lebih banyak lagi. Ia ingin membuat Clave dengan tujuan yang lebih pasti; mengejar Mortal Cup untuk menyelamatkan ras mereka dari kepunahan, menciptakan prajurit untuk membinasakan iblis.
Pemikiran Valentine semakin berani, gagasannya semakin jauh, sekalipun itu bertentangan dengan Clave, ia yakini jalannya adalah benar.
Morgenstern Manor seperti biasa menjadi tempat mereka semua berkumpul. Lucian menangkap buku yang dilempar Hodge padanya, belakangan ia suka meminjam bahan bacaan dari Hodge—pemuda yang lebih suka bergaul dengan buku daripada dengan sesama manusia. Melihat ke sekeliling, ada Robert yang tidak perlu ditanya lagi sedang duduk di sudut berdebat seru dengan Michael. Sementara Stephen mendekati Celine, dan Maryse asyik dengan senjata-senjatanya. Hanya satu yang belum kelihatan, Lucian mengurungkan niatnya untuk membaca—ia beranjak, mencari pemuda yang telah mengumpulkan mereka semua di manor ini.
"Valentine?" panggil Lucian, memasuki kamar Valentine. Kamar dimana ia sering menghabiskan malam dalam keremangan dan hanya ia dan Valentine sendiri yang tahu.
"Ya, Lucian." Valentine tidak menoleh, mengangkat kepalanya saja tidak, matanya terpaku pada beberapa lembar kertas dengan tulisan asing di hadapannya. Ia terlalu fokus pada apa yang dipelajarinya.
Melihat Valentine seperti itu, Lucian mengerti sekalipun ia bertanya ia tidak akan mendapat jawaban. Kalau Valentine ingin ia tahu, Valentine akan bercerita dengan sendirinya. "Semua sudah menunggumu di bawah."
"Tunggu sebentar," Valentine membereskan berkas-berkasnya, memasukkannya dalam laci, dan menguncinya.
Valentine terlalu pintar, ia selalu bisa menjadi pemimpin. Membuat semua teman-temannya percaya dan mengikuti jalannya. Gagasannya untuk menyelamatkan Nephilim dari kepunahan mendapat dukungan penuh. Semua masih duduk mengelilingi meja bundar di ruang perpustakaan Morgenstern Manor. Memikirkan langkah untuk memulai semua rencana mereka. Pemuda-pemuda di sini masih sangat belia, kebanyakan baru tujuh belas tahun, bahkan kurang. Dan itu sama sekali tidak membuat surut, kemudaan mereka justru menjadi gebrakan untuk merombak Clave yang dihiasi wajah-wajah kolot.
"The Circle of Raziel." Lucian mengulang nama kelompok mereka dengan bangga—mereka benar-benar mendirikan semacam organisasi. "Kita akan berdiri di tengah-tengah Clave."
"Circle akan membawa pembaharuan," lanjut Valentine, ia mengangguk yakin. Terlihat kepuasan dalam wajahnya, dan bias amarah mulai mengikis raut ramah yang selama ini selalu Valentine tunjukkan. Kemarahannya pada Clave seakan tidak bisa surut.
Terlihat wajah-wajah penuh semangat dengan visi Circle. Stephen, Robert, Michael, Hodge, Maryse, Celine, mereka akan mengumpulkan anggota lagi—mengajak beberapa pemuda lain, untuk memperkuat Circle.
"Kau kenal Malachi?" Robert teringat seorang Dewan di tubuh Clave, "Kita bisa menggunakanya, aku yakin dia akan setuju dengan Circle, Valentine."
"Jika kita bisa mambawa beberapa Dewan mengikuti jalan Circle, membiarkan mereka tetap di Clave dan melakukan perubahan dari dalam. Itu langkah yang bagus."
Lucian tampak setuju, "Stephen, kau bisa mulai menyelidiki siapa Dewan-Dewan itu,"
"Okay… tugas pertamaku sepertinya menyenangkan."
Saat malam semakin larut, saat segala sesuatu tentang Circle mereka simpan untuk dilanjutkan keesokan harinya. Dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk bersantai, membahas apa saja—lebih banyak tentang senjata untuk Maryse, dan Robert mulai menunjukkan gelagat mendekati gadis itu.
Itu membuat Lucian berpikir, jika nanti Valentine menemukan gadisnya sendiri, bagaimana dengannya? Bisakah ia menahan diri, menanggung sakit hatinya.
Pada akhirnya saat teman-teman yang lain pulang. Lucian selalu yang paling lama tinggal, atau pada kenyataannya dilarang pulang oleh Valentine. Ia mempunyai tugas lain, selain tugas yang baru saja diterimanya, ia baru saja ditunjuk menjadi wakil Valentine di Circle, yang lain pun menyetujui Lucian mendapat tempat itu. Namun tugas lain yang menyenangkan ini—sekali lagi tidak bisa ia bagi dengan siapapun.
Biarkan kali ini ia mempertahankan keegoisannya—lagi.
.
Circle semakin terlihat nyata, bahkan bisa menarik seorang Iron Sister untuk bergabung, sekalipun Sister Magdalena tidak pernah terlihat berkumpul bersama anggota yang lain, karena tetap memilih berada di Adamant Citadel, Valentine bisa meyakinkan kalau gadis itu berdiri untuk Circle. Dan banyak nama lagi yang telah bernaung di bawah panji Circle of Raziel, Blackwell, Pangborn bersaudara, Penhallow—mereka siap memberikan kesetiaan untuk Valentine.
Namun, suatu malam saat diadakan razia rutin oleh para Shadowhunter dewasa, menertibkan werewolf di hutan-hutan pinggiran Idris. Entah saat itu Valentine tidak ikut untuk berburu, dan kemudian berita duka yang didengarnya, ayahnya terbunuh oleh manusia serigala.
Lucian masih bersama Valentine saat kabar itu sampai. Ia mengulurkan tangan, namun tidak pernah sampai untuk menyentuh pemuda itu. Amarah dan kebencian, luka dan penyesalan yang Valentine derita sampai terasa menyengat untuk Lucian. Jika biasanya ia tidak pernah takut untuk mendekat, tidak pernah ragu untuk memeluk pemuda itu—kali ini bahkan Lucian memilih berdiri dalam jarak tertentu. Namun tak pernah terlalu jauh dari Valentine.
"Lucian, pulanglah. Tinggalkan aku sendiri."
Berat bagi Lucian untuk patuh, "Valentine,"
"Pergi, Lucian!"
Hanya anggukan yang Lucian berikan. Ia tidak akan membalas amarah Parabatainya dengan amarah lain. Ia hanya merasa kecewa, karena gagal, ia hanya ingin menyenangkan Valentine. Menyenangkan dalam artian berada di sisinya—ia akan melakukan apapun, namun bukan untuk diusir.
Dan di hari selanjutnya, Valentine datang ke sekolah dengan tanda berkabung. Ia tidak ingin ditemani siapapun saat berada di Necropolis. Duka yang Valentine rasakan membawa sisi kekejamannya tumbuh, satu-satunya yang berani mendekat hanya Lucian—ia yang mencoba lebih keras untuk menghibur Valentine. Sekalipun kali ini Valentine tidak menolaknya, Lucian merelakan tubuhnya disakiti—kekejaman itu, Lucian yang pertama merasakan.
Di malam ia menemani Valentine, bukan lagi kelembutan. Valentine tidak lagi peduli apakah Lucian akan terluka—yang ia pedulikan hanya kepuasannya sendiri, kenikmatannya sendiri. Tapi Lucian tidak pernah berniat kabur, tidak terbesit keinginan untuk meninggalkan Valentine. Ia tutupi lukanya, ia gambar rune Healing untuk mempercepat kesembuhan goresan atau memar dari perbuatan Valentine, tidak dibiarkannya seorangpun tahu, atau berdalih jika ada yang bertanya. Dan ia tetap tersenyum di Akademi keesokan harinya.
Kadang, seperti perulangan di masa-masa sengsara dulu, Lucian kembali duduk sendirian di bawah pohon. Membiarkan Valentine menikmati kesendiriannya, dengan berkas-berkas kuno yang tetap tidak dimengerti oleh Lucian.
"Keberatan kalau aku temani," Michael Wayland mengambil tempat di sebelah Lucian, dan ikut bersandar pada batang pohon besar itu.
Lucian menggelengkan kepalanya.
"Dia menjadi berbeda," bisik Michael pelan.
"Aku tahu, Michael." Lucian menghela napasnya lelah, "Aku bahkan sulit menjangkaunya sekarang, dia bukan lagi seperti Valentine yang dulu." ia mengamati rune Parabatai di lengannya, ikatannya masih kuat, masih ia rasakan kesedihan Valentine.
Keduanya menerawang pada kejauhan, memikirkan ke arah mana nantinya Circle akan bergerak, jika Valentine saja sekarang sudah sangat berubah.
-o0o-
Anggota Circle yang terkumpul semakin banyak, sebagian besar Shadowhunter muda memilih untuk bergabung. Mungkin bisa dikatakan ini sebuah perubahan yang bagus, dengan banyaknya pihak yang mendukung Circle, meski gerakannya sebagian masih secara terselubung, bahwa faktanya gagasan-gagasan Circle dinilai lebih baik dari Clave.
Perubahan. Tidak hanya Valentine yang berubah, pun Lucian ikut mengalami perubahan itu. Perasaannya yang berubah, jika semula ia merasa Valentine miliknya sekarang sakit yang harus ia telan, kesedihan, ia merasa ditinggalkan—hatinya selalu tertinggal, benar jika cinta itu selalu menghancurkan. Namun bukankah itu sebuah perasaan, perasaan bukanlah suatu hal yang bisa dicegah sekehendak hati, perasaan muncul mengikuti keadaan yang terjadi. Jika perasan bisa dikendalikan, Lucian tentu memilih untuk tidak jatuh pada Parabaitainya itu. Ia tersenyum getir saat mengingat hari dimana tiba-tiba Jocelyn Fairchild dengan kebaikannya mendekati Valentine, gadis itu tersentuh akan simpati—duka kehilangan seorang ayah yang diderita Valentine menimbulkan cinta Jocelyn tumbuh untuk sang Morgenstern. Gadis itu ingin membuat Valentine bahagia.
Bukankah seharusnya itu tugas Lucian—membahagiakan Valentine.
Tapi rasa sayangnya terhadap Valentine yang membuatnya mengabaikan semua itu, mengabaikan sakit hatinya. Lucian melihat bagaimana Valentine kembali bersemangat dan tersenyum, meski senyumnya berbeda dari senyum yang dulu, pemuda itu lebih terlihat bengis sekarang. Lucian menyaksikan sendiri Valentine dengan leluasa mencuri kecupan dari bibir Jocelyn di tempat terbuka—di depan anggota Circle.
"Kau baik-baik saja," Stephen yang duduk di sebelah Lucian, menatap Lucian dengan rasa turut menyesal.
Reflek Lucian menoleh, wajahnya pasti pucat saat ini. "Apa maksudmu?"
"Bukankah kau juga jatuh cinta terhadap Jocelyn, tapi Jocelyn tidak menanggapi perasaanmu. Kau, tidak apa-apa melihat mereka akhirnya berpacaran?"
Lucian menarik napas merasakan kelegaan di dadanya sebelum menjawab, ia pikir Stephen mencurigai hal yang terlarang. Eros antara dirinya dan sang Parabatai. "Aku bahagia untuk mereka, Stephen." itu bohong. Bohong kalau Lucian merasa bahagia. "Valentine bangkit lagi, dan Jocelyn bisa meredakan amarahnya yang belakangan sering tak terbendung."
Betapa lucunya persepsi yang muncul. Kalaupun bisa, Lucian ingin tertawa sekencangnya sekarang, tapi di tengah-tengah rapat Circle, dan ia sebagai wakil sang pimpinan—ia harus menjaga dirinya untuk tidak lepas kendali. Tapi bagaimana mungkin orang-orang salah menafsirkan, apakah selama ini ia terlihat mendekati Jocelyn, tidak kan? Memang benar Jocelyn sahabatnya sejak kecil, dan ia terlihat beberapa kali bersama gadis itu. Ataukah teman-temannya bisa membaca raut patah hati di wajahnya lalu menyimpulkan ia terluka karena gagal mendapatkan Jocelyn, seharusnya tidak karena Lucian sudah mati-matian menyembunyikannya. Andai mereka tahu faktanya… Andai saja hubungannya dan Valentine selama ini terbuka.
Sebenarnya dengan adanya Jocelyn, Valentine tidak lagi menyiksa Lucian. Valentine kembali bersikap lembut dan baik pada pemuda itu selayak sahabat dan Parabatai. Meski Lucian harus menolak saat Valentine akan membawanya ke tempat tidur, ia tidak bisa karena disaat yang sama ia merasa menjadi begitu berdosa pada Jocelyn, tapi bukankah ia yang pertama untuk Velentine. Bahwa kemudian ia hanya takut menangis dan takut Valentine menebak perasaannya. Valentine tidak memaksa, dan memilih fokus memacari Jocelyn.
"Lucian… Lucian! Lucian Graymark!"
Oh, tidak. Lucian kehilangan fokusnya untuk sesaat. "Ya, Valentine?"
"Kemana saja perhatianmu? Apakah kau bahkan menyimak apa yang aku katakan."
"Maafkan aku. Hal seperti ini tidak akan terjadi lagi," ucap Lucian, ia menunduk benar-benar menyesal. Meskipun ia sepenuhnya paham apa yang Valentine bicarakan, tentu saja tentang piala, pedang, dan cermin, kemudian tentang upacara pemanggilan Raziel. Sudah lama Valentine mempelajari tentang hal ini.
.
Hari yang Lucian tidak tahu harus melewatinya akhirnya datang. Hanya beberapa hari setelah kelulusan mereka dari Akademi, Valentine benar-benar menikahi Jocelyn, langkah yang sangat cepat.
Pagi itu Lucian sudah berada di Morgenstern Manor, Valentine dengan bahagia menunjuk Lucian sebagai bestman untuknya. Pria yang akan mendampingi Valentine ke altar, bahkan membawakan cincin yang akan dipasangkan di jari Jocelyn. Lucian tidak mungkin menolak tentu saja, ia senang melihat Valentine, namun ia tidak bahagi, ia tidak bisa mencegah untuk tidak membayangkan hari-harinya bersama Valentine dulu, kata dulu seperti sesuatu yang sangat jauh, sudah menjadi masa lalu. Ia melihat Valentine yang memakai tuxedo hitam dalam diam, senyum pahit tanpa sadar terkembang.
"Apa aku kelihatan aneh?" Valentine memiringkan kepalanya, mengamati Lucian yang duduk di salah satu sofa. "Senyummu mencurigakan, Lucian."
"Yang benar saja, kau tampan memakai apapun."
Valentine mengangkat kedua alisnya, "Kau menyebutku tampan,"
"Hei, apa salahnya memuji ketampanan sahabat sendiri." Lucian berdiri, membenarkan posisi dasi kupu-kupu yang Valentine pakai. "Sudah waktunya, jangan membiarkan mempelaimu menunggu terlalu lama."
"Meskipun aku menikah, kau tetap Parabataiku, Lucian. Jangan lupakan posisimu."
"Aku mengerti."
Memang benar, posisi Lucian tidak terganti sekalipun sekarang Valentine tinggal di tanah milik keluarga Jocelyn—di Fairchild Manor, dan kadang-kadang saja pulang ke Manornya sendiri. Bukan karena hukum yang menyatakan seoarang Shadowhunter hanya bisa memiliki satu Parabatai seumur hidupnya, tapi Lucian memang selalu berada si sebelah Valentine saat mengurus Circle dan berburu. Lucian beberapa kali memilih pulang ke rumahnya sendiri di pedesaan, atau kali lain memilih tidur di Morgenstern Manor.
-o0o-
Salah jika menganggap setelah menikah Valentine akan kembali menjadi Valentine yang baik hati.
Semakin lama tujuan utama Circle mulai bergeser. Keinginan menciptakan lebih banyak Shadowhunter dengan Mortal Cup memang masih sebagai agenda yang dicari jalan untuk pelaksanaannya. Namun satu yang harus mereka lakukan sekarang adalah lebih banyak membunuh Demon, dan terang-terangan membuat gerakan membinasakan Downworlder. Benar, sejak kematian ayahnya, Valentine tidak bisa mentoleransi Downworlder lagi, menurutnya para Penghuni Dunia Bawah hanya makhluk-makhluk pembawa virus yang harus ditumpas, seperti penyakit yang akan menginfeksi manusia jika tidak segera dituntaskan akar pembawa bencana tersebut.
"Tidak ada Downworlder yang bisa dipercaya." Valentine kembali berorasi seperti biasa dalam pertemuan Circle. "Mereka hanya monster dengan insting membunuh."
"Tapi tidak semuanya seperti itu, tidak semua Downworlder adalah penjahat, Valentine." selembut apapun Lucian mencoba. Tapi ia tidak bisa mencegah Valentine, ia tidak mempunyai kuasa untuk itu.
Valentine menggelengkan kepalanya, "Begitukah, apakah selama ini Piagam yang mengatur hukum untuk Downworlder berlaku? Apakah mereka mematuhinya? Apakah mereka benar-benar mau berada di bawah Piagam?"
"Tidak!" Robert menyahut tegas. "Mereka selalu mengacau dan tidak peduli hukum!"
"Piagam hanya omong kosong." Stephen menimpali. "Clave terlalu lunak dalam menghadapi Downworlder."
Valentine melihat semua anggotanya satu persatu, "Dunia ini ada untuk manusia, dunia milik manusia, bukan untuk separuh iblis yang tidak ada bedanya dengan iblis. Mereka suka memperdaya manusia."
"Valentine benar," Maryse yang terakhir bersuara. "Monster-monster itu harus dibinasakan."
Menyisakan Lucian yang menarik napasnya dengan berat, ia saling berpandangan dengan Michael kemudian. Hanya Michael satu-satunya yang mempunyai pikiran sama dengan Lucian. Semua ini mulai terasa tidak benar.
Lucian meski masih setia untuk Valentine, ia memang tidak nyaman, gerakan yang dilakukan Valentine melawati batas. Jika masih dijalur menambah jumlah Shadowhunter, ia mengikutinya dengan senang hati. Tapi kekejaman yang Valentine bawa—Demi Raziel, Lucian bahkan sampai menyingkir saat Valentine membawa seorang anak werewolf kemudian mengikatkan koin perak pada mata bocah itu, menyiksanya tanpa belas kasihan, ia tidak tega menyaksikannya. Dan itu diperparah dengan Robert dan Maryse yang sama gilanya seperti Valentine, menyiksa dan membunuh Penghuni Dunia Bawah seperti dijadikan sebuah hobi baru.
Hanya satu alasan yang membuat Lucian bertahan, dengan segala ketidakwajaran yang menjadi. Karena ia mencintai Valentine, karena ketulusan dalam hatinya untuk Valentine akan selalu sama sepanjang hidupnya. Ia sedang berusaha membawa Valentine ke jalan yang lebih benar, ia ingin membuat arah Circle tidak setersesat ini. Bahwa apa yang dilakukan Valentine… sudah merupakan kejahatan.
.
Lucian selalu memantau Valentine, selalu manarik pemuda itu sekuat yang ia bisa untuk tidak mengejar Downworlder yang sudah lari ketakutan. Menahan untuk tidak membunuh Downworlder yang bersih tanpa melanggar Piagam. Tapi malam ini ia kehilangan jelak Valentine, ia memacu Wayfarer—kuda yang akhirnya ia bawa untuk membuatnya leluasa menjalankan misi Circle.
Kuda itu berlari cepat menuju kediaman Valentine dan istrinya.
"Lucian?" Jocelyn membuka pintu Manornya. "Kau mencari Valentine, bukankah seharusnya dia bersamamu, dia bilang ada hal penting dengan anggota Circle."
Tidak ada pertemuan apa-apa malam ini. Lucian hanya membatin itu semua, kalau Valentine ternyata berbohong pada istrinya. "Oh, benar. Berarti aku selisih jalan dengannya. Aku pergi dulu, Jocelyn. Valentine tidak suka jika aku terlambat." ia terpaksa berbohong kemudian, tidak ingin membuat perempuan itu cemas.
"Kemana kau, Valentine?" hanya mengikuti insting, Lucian menerobos hutan Idris. Derap langkah kudanya terdengar menggema di antara pinus-pinus tinggi menjulang.
Tidak jauh dari bukit yang dulu dipakai Valentine untuk meminta Lucian menjadi Parabatainya, disanalah sang Morgenstern berada. Valentine berdiri berhadapan dengan sosok iblis betina yang diyakini sebagai induk semua iblis—Lilith, terkurung dalam pentagram. Di sebelah kaki Valentine ada sesosok warlock tanpa nyawa. Bisa diduga kalau warlock itu tadinya diperdaya Valentine untuk memanggil Lilith, yang selanjutnya dibunuh untuk memudahkan apapun yang ia kerjakan.
"Kau meminta darahku, kau tahu akibatnya apa jika menggunakannya untuk manusia." suara Lilith meretih, terasa parau sekaligus tajam menyayat.
Tanpa takut Valentine menantang, "Aku tahu darahmu akan memberikan kekuatan tanpa batas."
"Sekaligus memupus kemanusiaan, kau hanya akan mendapatkan monster tanpa perasaan."
"Aku bisa melatihnya menjadi prajurit yang tak kenal takut."
Perhatian Lilith yang semula terarah para Valentine kini teralih, memandag pada kejauhan, pada kuda yang berlari mendekat. "Kau kedatangan tamu,"
"Lucian," desis Valentine lirih.
"Valentine…" saat turun dari kudanya, tidak ada yang bisa Lucian katakan lagi. Tatapan tajam Valentine padanya, membuatnya menunduk dan mundur. Tangannya terkepal dan bergetar—apa yang dilihatnya, iblis Lilith berdiri tepat di depan Valentine. Iblis Lilith? Apa yang Valentine lakukan dengan iblis itu.
Sayangnya Lucian tidak bisa mendengar apapun yang dibicarakan Valentine dengan Lilith. Cawan hitam yang kemudian dibawa Valentine pun ia tidak berani menduga apa isinya. Yang Lucian tahu, Valentine mencengkeram lengannya sangat erat, sampai terasa menyakitkan. Dan meminta, mengancam Lucian lebih tepatnya untuk tidak memberitahu siapapun apa yang telah dilihatnya. Valentine kemudian meninggalkannya sendiri, dengan angin dingin yang lebih membekukan menerpa kulitnya. Apakah dirinya benar-benar tidak bisa menggapai Valentine lagi, Lucian tidak tahu harus dengan cara apa menguatkan dirinya untuk bertahan.
Dengan cara apa harus membawa Valentine kembali, menjadi Valentine yang dulu. Ataukah selama ini ia salah menilai, atau seperti inikah Valentine sejak awal. Yang sialnya seperti apapun Valentine, Lucian akan tetap memiliki rasa pada pemuda itu. Ia menggigit bibirnya sendiri sampai berdarah. Ia memiliki waktu yang tepat untuk jatuh cinta, ia memiliki kesempatan untuk memiliki cinta itu, karena pada awalnya hanya ada dirinya, dirinya yang memiliki Valentine terlepas dari seluruh hukum yang mengikat. Terlepas dari Valentine yang kini sudah menikah.
Sialnya lagi, kenapa ia masih semenderita ini. Sekalipun sehari-hari ia mengetahui fakta jalan untuknya bersama Valentine sudah tertutup rapat. Mengetahui Valentine yang semakin jauh menjadi sosok yang keji.
Cinta selalu seperti itu, datang pada orang yang tepat di waktu yang salah. Kalau tidak, cinta datang pada orang yang salah di waktu yang tepat.
.
.
End of Part II
