Padang rumput hijau yang begitu indah tiba-tiba saja terbakar, dan Lucian bergerak dengan gelisah. Wayfarer di sisinya berontak dan lari menjauh. Kemudian ia melihat Valentine dan Lilith berdiri bersebelahan, menyebarkan api—membakar apapun yang mereka pijak.
Lucian mencoba menghentikan, namun suaranya tidak keluar. Sesaat kemudian ada yang menggoncang tubuhnya, matanya terbuka. Stephen di sebelahnya, membangunkan tidurnya, bahkan menatapnya dengan bingung.
Mimpi. Lucian memimpikan Lilith.
-o-o0o-o-
The Werewolf's Tale
By Niero
The Mortal Instruments © Cassandra Clare
-o-o0o-o-
.
Part III
.
Apa yang terjadi selanjutnya, satu bulan dari kejadian Lilith. Lucian tetap menjaga janjinya pada Valentine untuk tidak membocorkan apapun. Sudah terlalu banyak rahasia yang ia simpan, sampai terasa penuh dengan sumpah-sumpah atas nama malaikat yang tak pernah terlisan secara nyata—bahwa itu artinya sampai mati ia akan menjaga rahasia Valentine tanpa syarat. Hanya saja intensitas waktunya di sebelah Parabatainya itu berkurang drastis, Valentine memilih sendiri dalam bergerak. Kecuali dalam berburu, mereka tetap berkelompok.
Di saat Lucian menghabiskan waktu di rumahnya sendiri, Jocelyn tiba-tiba datang. Dan perasaannya semakin tidak tenang.
"Aku takut, Lucian." Jocelyn yang sedang hamil, terlihat lebih pucat dan gelisah. Sudah terlihat sedikit tonjolan di perutnya. Ia menceritakan pada Lucian akan ketakutannya terhadap Valentine. "Dia, dia…"
"Shhhh… Jocelyn," yang bisa Lucian lakukan hanya memeluk sahabatnya. "Tenangkan dirimu, apa yang terjadi?"
"Aku takut pada tingkah laku Valentine. Hampir tiap malam dia menghilang, dan kemudian sering terdengar suara-suara jeritan dari ruang bawah tanah di Manor."
Lilith. Satu nama itu yang terpikir di benak Lucian. Kalau dulu Valentine berhasil mendatangkan iblis itu, kali ini apalagi yang akan diperbuatnya. "Jocelyn, apa Valentine tahu kau kesini?"
Jocelyn menggeleng. "Aku akan ke rumah orang tuaku setelah ini, jadi Valentine tidak akan curiga."
Setelah mengantar Jocelyn pulang. Dan meyakinkan sahabatnya itu untuk beristirahat dan tidak memikirkan apapun—demi kebaikan kandungannya juga. Lucian segera menyiapkan dirinya untuk berburu. Namun pikiranya tidak lepas dari Valentine, jika Jocelyn takut, ia justru khawatir dan cemas. Memakai celana kulit, kaos hitam, juga jaket kulit, dan mempersiapkan senjatanya, ia tidak menghitung berapa pisau seraph dan pedang seraph yang ia bawa, dan terakhir sepatu booth hitam tebal yang ia pakai. Serta tak lupa menyandang busurnya kemudian. Berburu sudah menjadi kewajiban seorang Shadowhunter. Tapi ia akan menemui Valentine lebih dahulu, Lucian tetap memegang teguh ikatan Parabatai antara dirinya dan sang Morgenstern.
.
"Dia mengadu padamu?"
Lucian tidak punya pilihan lain selain menceritakan bahwa Jocelyn telah menemuinya. Ia hanya ingin tahu apa yang Valentine sembunyikan. Selain itu, ia tidak bisa berdiam diri lagi sementara Valentine melakukan entah apa tanpa sepengetahuannya.
"Valentine, dia ketakutan."
Valentine tertawa kemudian, "Tidak ada apa-apa di sini, Lucian. Jocelyn mungkin hanya gugup karena sedang mengandung anak pertama kami."
"Aku tahu kau. Aku mengenalmu. Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan apa yang kau katakan, apa yang kau rencanakan sebenarnya, Valentine?"
"Aku bahkan tidak yakin kau cukup mengenalku,"
Lucian terpaku di tempatnya, ucapan Valentine menohoknya. Seperti itukah, bukankah ia adalah orang yang terdekat dengan Valentine selama ini—tapi benarkah ia tidak tahu apa-apa tentang pemuda itu. Ia sudah ingin membalas lagi, tapi Lucian merasakan Valentine seperti mengeluarkan aura yang bisa mengunci gerak. Sementara Valentine sendiri dengan ringan seperti meluncur, melangkah ke arah Lucian. Mendorong Lucian sampai punggungnya membentur dinding. Napas Valentine terasa panas menyapu wajah Lucian.
"Tapi aku mengenalmu, aku mengetahui apa yang ada pada seluruh dirimu." desisnya, dengan sebelah tangan bergerak ke arah kepala, menggenggam rambut Lucian, mencengkeramnya. "Jangan kau pikir aku tidak tahu perasaanmu padaku, Lucian. Kau terlalu mudah ditebak, kau jatuh cinta padaku. Kau memujaku. Kau bahkan rela melakukan apapun yang aku perintahkan padamu."
Selanjutnya Valentine melumat bibir Lucian dengan rakus. Menciumnya seakan menuntaskan dahaga.
"Hentikan… Valentine…" lirih Lucian mencoba untuk mengelak, tidak mau lagi dicium oleh Valentine. Ia berpaling, mengigit bibirnya sendiri, membuat lelehan darah merah mengalir ke dagu.
"Jangan menolakku, Lucian!" amarah Valentine semakin naik. Masih mengekang tubuh Lucian yang tidak sebanding dengan kekuatannya, menjilat lelehan darah dari bibir pemuda itu.
Perih yang Lucian rasakan membuat matanya berair, pertama kalinya ia menangisi keadaannya. "Hentikan, kau memiliki istri… Bukankah kau mencintai Jocelyn, bahkan dia sedang mengandung anakmu. Jangan lakukan ini padaku…"
Valentine membuat tawa melecehkan. "Aku baru menyadari. Tubuhmu lebih membuatku bergairah."
Tubuh Lucian terlihat ringkih jika dilihat dari cara Valentine menghempaskannya ke tempat tidur. Terlebih dengan perlawanan yang Lucian berikan, yang tidak ada artinya itu menunjukkan betapa lemahnya ia saat ini. Tiap kali Lucian meloloskan diri, mendorong Valentine dan ingin berlari, saat itu pula tamparan atau bahkan cekikan di leher yang ia dapat sebagai balasan. Sekalipun Lucian tidak ingin diperlaukan seperti ini, jika ia tetap melawan itu hanya akan membuat tubuhnya semakin tersakiti. Semakin banyak darah yang mengalir karena selain dari gigitan tanpa sungkan Valentine akan menggoreskan ujung Kindjal pada kulit Lucian.
Percuma saja Lucian menangis, percuma Lucian meratap dengan getaran tubuh yang tiada henti. Valentine sudah sedemikan butanya, bahkan kaos hitamnya saja tadi terenggut dengan satu tarikan keras, Valentine merobeknya tepat di tengah. Entah kemana kekuatan Lucian pergi, ia masih sanggup menerima saat Valentine memperlakukannya seperti ini dulu, tapi sekarang yang Valentine lakukan seperti sengaja membuatnya lebih menderita, kesakitannya, Valentine seperti menikmati jeritan pilunya. Tanpa ampun lagi tubuh Lucian semakin terkoyak—merah darah yang mempermudah Valentine dalam geraknya menerobos paksa tubuh Lucian.
"Panggil namaku, Lucian. Menagislah untukku, merintihlan, dan menjeritlah untukku!"
Lucian merasa bibirnya kebas, ia bahkan menelan darahnya sendiri, ujung bibirnya sudah pecah dari tadi, sebagian lagi terluka karena gigitannya sendiri. Sehancur apapun tubuhnya saat ini, tidak sehancur serpih-serpih kepercayaannya dan perasaannya.
"Va… len… tine…."
Dan Lucian tidak bisa lagi mengingat apa yang terjadi selanjutnya.
.
Mengerjap pelan, tubuhnya sudah terbungkus selimut tebal. Beberapa kali mengerjap lagi Lucian menyadari ia masih berada di kamar Valentine di Manor. Tubuhnya sakit semua, tidak ada satu hal pun dari perbuatan Valentine yang lepas dari memorinya—sebelum ia pingsan. Apakah ia benar-benar pingsan? Mengerang perlahan. Dan saat itulah ia mendengar suara erangan kesakitan dari suatu tempat Manor itu. Hampir bersamaan dengan erangannya sendiri, tapi bukan—Lucian yakin itu bukan suaranya.
"Velentine,"
Kamar ini kosong, Lucian menarik selembar selimut sutra pelapis ranjang Valentine untuk menutupi tubuhnya, dan tertatih keluar. Suara jerit memilukan terdengar lagi, jenis suara yang membuat Lucian memegang tengkuknya, suara itu membuat nyalinya ciut. Ia tidak takut terhadap roh, jangankan roh—iblis saja biasa dibunuhinya. Tapi suara ini begitu asing, bukan jenis suara yang pernah didengarnya. Inikah yang membuat Jocelyn ketakutan, batin Lucian.
"Valentine?" Lucian memasuki perpustakaan, Jocelyn mengatakan bawah tanah, tapi bawah tanah yang mana. Dan beruntung Lucian mengetahui satu tempat tersembunyi di Manor ini, ia menggeser salah satu rak buku pelan-pelan, dan menemukan tuas di sana. Memeriksa keadaan sekali lagi—semua masih sepi.
Menarik tuas itu perlahan, ada pintu terbuka di bagian lantai. Secepatnya—dengan tergesa-gesa Lucian menuruni tangga. Ada gemerincing rantai dan suara rintih lirih yang semakin memenuhi indra pendengarannya. Ketika indra penglihatannya menangkap apa yang ada dalam keremangan itu, sayap putih yang terbentang, tubuh yang penuh luka dengan cairan keemasan meleleh, itu adalah warna darah malaikat. Malaikat? Sesosok malaikat terbelenggu dengan ikatan rantai. Malaikat. Bagaimana mungkin malaikat bisa berada di tempat seperti ini. Lucian menutup mulutnya dengan telapak tangan, sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat ia berlari naik. Mengembalikan tuas dan rak buku, bergegas ke kamar, kemudian menarik selimut seakan dari tadi ia tidak pernah meninggalkan ranjang.
Apa yang dilihatnya itu tidak benar. Lucian tidak percaya akan penglihatannya. Apa yang dilihatnya pasti hanya semacam tipuan.
Entah berapa lama Lucian memejamkan mata, sampai ia merasa ada yang membelai rambut dan kepalanya dengan perlahan. Ia mengenal sentuhan ini, sentuhan Valentine saat mereka masih bersekolah, Valentine yang menyentuhnya dengan lembut—yang membuatnya nyaman dan tenang. Sekarang selembut apapun, justru membuat Lucian semakin menelan perih.
"Lucian," suara Valentine terdengar penuh penyesalan.
Lucian mengerjapkan matanya, untuk kesan seolah ia baru bangun dari tidur—atau pingsan. Ia mencoba duduk, Valentine membantunya. Dan tangannya digenggam kemudian.
"Maafkan aku," ucap Valentine, raut wajahnya begitu sedih. Dan matanya berkaca-kaca. "Aku menyakitimu, menyakiti Parabataiku sendiri dan sahabat terbaik yang aku punya. Aku menyesal, Lucian."
Seharusnya tidak seperti ini, dan Lucian mudah luluh. Ia seakan langsung bisa memaafkan segala kesalahan Valentine. "Kalau kau sahabatku, beritaku aku—jangan seperti ini lagi Valentine."
Valentine masih menggenggam tangan Lucian erat, "Aku melukai perasaanmu juga, kan?"
"Tidak," Lucian menggeleng. "Kalau kau mencintai Jocelyn, tidak masalah denganku."
"Masalahnya, aku tidak bohong saat tubuhmu lebih terasa cocok untukku. Dan aku marah, karena perempuan selalu seperti itu—kau selalu menjaga apapun rahasiaku, kau selalu bisa tutup mulut sekacau apapun aku. Tapi lihat Jocelyn, sedikit mengadu ke Madeline, lalu kemudian mengadu padamu, dan entah mengadu ke siapa lagi. Aku marah, sampai melampiaskannya padamu, dengan menyakitimu lagi." Valentine menerangkan panjang lebar, membelai pipi Lucian yang memar. Kemudian memajukan tubuhnya untuk mengecup luka itu.
"Jangan! Jangan marah pada istrimu. Dia mengandung anakmu, Valentine."
"Aku tahu... Aku tahu, aku pun sangat menginginkan anak itu. Aku akan menajadi seorang ayah, dan membesarkan anakku."
Lucian tidak mengerti kenapa ia bisa tersenyum, "Valentine, maukah kau menghentikan semua ini. Circle maksudku," katanya pelan-pelan. "Kembalilah ke arah yang lebih baik. Tidak ada yang salah dengan Piagam, kita bisa memperkuat Piagam untuk menindak Downworlder yang melanggar. Tapi Downworlder banyak yang biasa diajak bekerja sama."
Untuk sesaat raut buas memnyelimuti wajah Valentine, tapi secepat hitungan detik wajah itu kembali ramah, "Akan aku coba."
Senyum Lucian semakin nyata, seakan lukanya selama ini terbayar dengan setimpal. Jika Valentine benar-benar menghentikan memburu Downworlder, itu kemenangannya. Lucian tidak ingin merusak moment ini dengan menanyakan malaikat di ruang bawah tanah, pun tidak ada alasan untuk itu—karena keadaan menjadi hening, sama sekali tidak ada jeritan apapun. Ia juga tidak berniat mengungkit masalah Lilith.
"Apakah parah, luka di tubuhmu?" tanya Valentine.
"Tidak." Lucian menjawab yakin, "Bukankah kau percaya kalau aku ini kuat."
Valentine terkekeh pelan. "Kalau begitu, tidak keberatan kalau kita berburu, Parabataiku? Ada sarang Werewolf yang meresahkan—dari informasi Stephen, sarang itu dihuni serigala yang membunuh ayahku."
"Tentu saja, aku akan membantumu membereskannya."
Valentine memeluk Lucian, berbisik di telinganya, "Aku akan menjagamu,"
Lucian percaya saja dengan apa yang dikatakan Valentine, mereka membersihkan sarang itu. Valentine sangat ahli bertarung jarak dekat, jadi Lucian pikir Valentine akan mengamankannya saat ia terlalu sibuk dengan busur dan menarik anak panah membidiki Werewolf yang tertangkap matanya. Namun saat Lucian sadar Valentine tidak lagi di sisinya—dan seekor serigala besar sudah menancapkan taring dan gigitan di bahunya.
Berat tubuh serigala yang mengunci Lucian dengan gigitan akhirnya terlepas saat Valentine datang, jangankan membunuh serigala itu, Valentine hanya menatap Lucian yang tergeletak dengan bahu berdarah-darah dengan bengis. Sepatu hitamnya yang tebal menginjak luka Lucian, seakan ingin luka itu lebih parah lagi.
"Kau terlalu banyak tahu, Lucian. Dan kau berniat menentangku, aku tidak memerlukan orang yang tidak lagi memiliki kesetiaan penuh kepadaku, aku tidak akan membiarkanmu menghalangi jalanku." kata Valentine sambil berjongkok, suaranya benar-benar dingin. Sementara Lucian telah kehilangan kesadarannya. "Kau melihat Lilith, kau juga menyelinap ke ruang bawah tanah dan melihat Ithuriel. Sekarang aku harus mencari tempat lain untuk memindahkan malaikat itu."
Valentine berjalan pergi, ia akan kembali pada Jocelyn dan Circle dengan memasang kesedihan akan Lucian. Kemudian ia ingat sesuatu, kalau belum tentu gigitan wereworf akan mengubah seseorang menjadi werewolf juga. Maka terpaksa ia berbalik, membawa Lucian pulang. Dan memastikan sendiri apa yang akan terjadi nanti.
.
Valentine membiarkan Lucian bersembunyi di Fairchild Manor, Jocelyn selalu merawat luka Lucian, dan luka itupun cepat sembuh. Keduanya tidak ada yang melapor pada Clave, dan Valentine berbohong dengan mengatakan kalau ia berharap Lucian akan baik-baik saja dan tidak akan berubah menjadi werewolf.
Selama tiga minggu Lucian menanti, sampai akhirnya bulan naik dengan penuh. Purnama, dan sinarnya benar-benar terang. Lucian akhirnya berubah, ia merasakan sakit luar biasa pada seluruh tubuhnya—seakan tulang-tulangnya dicabut paksa, perasaan bingung dan gelap ikut menyerangnya. Ia tidak bisa berpikir lagi, tidak ingat apa yang ia lakukan, sampai akhirnya entah beberapa jam kemudian ia terbangun di padang rumput yang sangat jauh dari Manor. Ia berlumuran darah, dan ada ceceran tubuh binatang hutan di sekitar kakinya.
Dengan sangat ketakutan Lucian berlari kembali ke Fairchild Manor, Jocelyn menangis melihat keadaan sahabatnya, Lucian dengan tubuh gemetar dan wajah belepotan darah, dengan Tanda yang sempurna terlucuti dari tubuhnya. Lucian telah berubah menjadi Downworlder.
"Lucian," Valentine menggelengkan kepalanya, ekspresinya sulit dibaca.
Yang dilakukan Valentine adalah menyeret Lucian kembali ke kedalaman hutan, genggaman tangan Valentine begitu erat, seakan memastikan Lucian tidak akan kabur.
"Seharusnya aku membunuhmu," ucap Valentine kalut, atau hanya berpura-pura.
Lucian dengan segenap kemarahannya mencengkeram kerah jaket kulit Valentine, "Kenapa kau biakan serigala itu menggitku? Kau sudah berjanji untuk menjagaku! Kenapa, Valentine?" ia lepaskan tangannya, dan jatuh ke tanah lembab, berlutut disana. Rasanya ingin menangis, tapi ia sudah tidak sanggup lagi. Air mata saja tidak cukup dalam sebagai tanda ia terluka jiwa dan raga.
Valentine menarik sebilah dari Kindjal kesayangannya. Menekan sisi tajamnya pada leher Lucian, tapi yang Valentine tidak tahu mengapa, ia tidak bisa melakukan itu. Tangannya tertahan, bahwa ia tidak sanggup membunuh Lucian. Dan tidak dimengerti alasanya kenapa ia menjadi kehilangan tenaga, ada yang berontak di dalam dadanya. Maka selanjutnya ia mencium belati itu, menyerahkannya pada Lucian.
"Akhiri hidupmu secara terhormat dengan tanganmu sendiri, sebagai Shadowhunter. Jangan biarkan penyakit kotor menguasai tubuhmu."
Itulah kata terakhir yang Lucian dengar dari Valentine. Karena selanjutnya, dengan membawa Kindjal milik Valentine, menggenggamnya erat. Lucian berlari—terus berlari selama berhari-hari. Ia ingin mencari tempat untuk mengakhiri hidupnya, tapi ia harus membunuh manusia serigala yang membuatnya seperti ini lebih dahulu. Setelah itu, akan ia akhiri hidupnya seperti permintaan Valentine.
Karena ia tidak tahu lagi untuk apa hidupnya sekarang. Takdir senang sekali mempermainkannya, sekalipun takdir tidak pernah mau berpihak kepadannya. Tubuhnya rusak, perasaannya hanya seperti debu yang berterbangan—betapa hebat Valentine menghancurkan perasaannya itu. Dan terakhir kehidupannya sebagai Nephilim pun terenggut.
Lucian tidak ingin hidup lagi.
-o0o-
Takdir ternyata belum bosan mempermainkan kehidupan Lucian. Katakan ia berhasil membunuh serigala yang membuatnya menjadi Downworlder, namun kemudian ia menyadari bahwa membunuh Alpha, justru akan menjadikannya Alpha baru dari Pack itu. Lucian perlahan menerima kehidupannya sebagai serigala, ia tetap menyimpan Kindjal-nya. Selalu mengingat bagaimana Valentine mencium belati yang kini selalu ia sandang kemanapun itu.
Pelan ia meminta maaf, karena ia tidak akan bunuh diri. Mengusap pelan lengannya yang dulu terukir tanda Parabatai di sana, terasa begitu miris. Ikatannya dengan Valentine telah terputus, ia tidak bisa merasakan Valentine lagi, tidak ada keselarasan jiwa yang dulu masih ada.
Kemudian tahun Piagam datang, tahun dimana Downworlder dan Shadowhunter akan berkumpul untuk memperbaharui hukum yang mengikat mereka. Lucian mulai mencari isu yang beredar, vampir dan peri sudah beberapa kali mendengungkan kalau Valentine akan merusak Piagam. Dari sana Lucian mengerti, kalau Valentine sama sekali tidak berubah—kalau dirinya ternyata selama ini memang disingkirkan. Lalu ia teringat Michael, bukankah Michael selama ini juga diam-diam tidak setuju dengan gagasan Valentine, apakah pemuda itu baik-baik saja. Dan apakah Jocelyn juga masih aman karena perempuan itu selalu dekat dengan Valentine. Dan apakah anak mereka sudah lahir?
Lucian tidak berani membayangkan lebih jauh lagi. Takut kalau Valentine akan menghancurkan anak dan istrinya, dan kalau ternyata mereka hidup bahagia maka pahit pula untuknya.
"Valentine bersekutu dengan iblis," ucap sesosok fey yang memakai banyak sekali bunga-bungaan di kepalanya.
Lucian hanya mendengarkan, ia berada di sebuah pesta Downworlder yang diadakan di reruntuhan rumah jauh di tengah hutan. Ia tidak tahu siapa yang mengadakan pesta ini. Seorang warlock kata beberapa makhluk di sini.
"Katanya dia menempatkan banyak jebakan senjata di Aula Malaikat. Aku tidak akan datang ke Alicante," sosok lain yang Lucian tidak mengerti jenisnya menyahut.
"Ada kiriman senjata juga dari markas Iron Sisters," warlock dengan sayap kelelawar di punggung menambahkan.
"Akan terjadi perang besar, kehidupan kita semua terancam. Apa kita harus bersekutu dengan Clave untuk melawan Circle? Aku dengar Valentine mengacau di rapat dan menentang para Dewan."
"Semua Downworlder harus bersatu, Valentine sudah mengumandangkan perang, kita semua tidak bisa diam saja!"
Kepala Lucian mendadak sakit mendengar semua itu, apakah yang dibicarakan para Downworler di sini benar-benar Valentine-nya? Ia tidak bisa lagi tinggal diam kalau begitu, sebagai salah satu pimpinan pack werewolf yang ternyata lumayan besar, Lucian jelas akan hadir di Piagam. Sudah cukup, ia tidak akan kabur, ia akan menunjukkan diri, dan menghadapi Valentine kalau perlu.
.
Hari Piagam benar-benar datang. Yang Lucian lakukan pertama kali setelah sampai di Alicante adalah ke Manor, Alicante terbuka dan banyak sekali rombongan Downworlder dari berbagai kaum yang berpapasan dengannya tadi. Lucian masih bersembunyi dalam kegelapan, kemudian ia lihat Valentine keluar dari Manornya bersama Jocelyn, sekarang ia merasa begitu marah karena kenapa setelah sekian lama, bahkan dirinya saja sudah berubah menjadi werewolf tapi perasaan sialnya masih ada. Masih terasa sesak yang membuatnya ingin melolong—benar, ia ingin melolong, bukan lagi berteriak.
Maka selanjutnya, Lucian pun segera berangkat ke Aula Malaikat beserta packnya. Keadaan masih terkendali. Untuk sesaat ia berpikir isu yang berhembus bahwa Valentine akan mengacau itu tidak benar. Tapi semua kemudian benar-benar terjadi, ketika perwakilan dari Downworlder akan maju menandatangani Piagam. Valentine berdiri kemudian menghunus senjata, dan seluruh anggota Circle pun mengikuti. Yang Lucian tidak habis pikir adalah jumlah pengikut Valentine, saat ia masih bersama Valentine anggota mereka tidak sebanyak ini.
Ledakan terjadi, benar kalau Aula Piagam sudah dipasangi jebakan. Dan dengan itu, werewolf, warlock, peri, dan vampire pun menyerbu anggota Circle. Ini adalah pertempuran terburuk yang pernah Lucian alami.
Lucian masih berdiri di atas kakinya, ia tidak berubah menjadi werewolf. Tangannya menggenggam pedang, dan sebelah lagi membawa Kindjal. Ia melihat sekeliling, mayat-mayat teronggok begitu saja, baik mayat Nephilim dan Downworlder. Dan di sebelahnya, seorang warlock dengan penampilan—yang sempat-sempatnya di situasi seperti ini memakai dandanan glitter warna-warni terlihat membakar anggota Circle dengan api biru. Api yang selanjutnya berubah menjadi tombak kemudian terlempar ke sembarang arah. Terserah saja menurut Lucian, ia hanya mencari keberadaan Valentine, dan saat menemukan kilau terang rambut pirang di kejauhan, ia bersusah payah menembus kerumunan dan berusaha untuk tidak terbunuh.
Di bawah patung besar Malaikat, Valentine membunuhi peri dengan sambaran kasar belatinya. Dan saat melihat Lucian datang, pemuda itu tersenyum sengit dan ganas.
"Manusia serigala yang bertarung dengan pedang dan belati," kata Valentine, "Sama anehnya dengan anjing yang makan dengan pisau dan garpu."
"Kau tahu pedang ini, kau juga tahu belati ini," balas Lucian. "Kau juga tahu siapa aku, kalau mau menyebutku, gunakan namaku!" lanjutnya, ia berteriak dengan putus asa.
Valentine mengibaskan belatinya, darah disana terciprat. "Aku tidak tahu nama seorang setengah manusia. Dulu… aku punya seorang teman, pemuda terhormat yang mati sebelum membiarkan darahnya tercemar." katanya, ia kemudian mengangkat belatinya, "Seharusnya aku membunuhmu ketika sempat!"
Keduanya saling menerjang. Garis akhir takdir yang mempermainkan mereka adalah di tempat ini, sama seperti permulaannya yang dimulai di Alicante juga. Semuanya, bermula dari sahabat, semua berjalan begitu indah dengan pelukan kehangatan. Kini berakhir dengan napsu untuk saling membunuh satu sama lain—lucu sekali kalau mengingat seperti apa mereka dulu. Pertarungan di sekeliling Valentine dan Lucian masih terus membara, yang semakin lama anggota Circle terdesak. Lucian bahkan melihat Robert dan Maryse sudah melempar senjatanya dan kabur, beberapa menyerahkan diri, Clave dan Downworlder berhasil menguasai Aula Malaikat.
Circle yang akhirnya kalah membuat Valentine menggeram marah, ia berbalik meraih seekor kuda dan bergegas pergi. Yang Lucian tahu ia tidak akan membiarkannya, ia berubah menjadi serigala lalu mengejar kuda itu sekuat tenaga. Ia melolong dengan keras, membuat kuda yang dinaiki Valentine ketakutan, dan kehilangan kendali, kemudian membuat Valentine terjatuh dari sana.
"VALENTINE!" cepat Lucian kembali mentranformasi dirinya menjadi manusia. "Inikah yang kau inginkan? Kau lihat sendiri, kau ingin menghancurkan Downworlder, tapi yang terjadi adalah Downworlder akhirnya bekerja sama dengan Clave untuk menghancurkanmu. Apa kau puas?!"
Dengan kecepatan yang sampai sekarang tidak Lucian mengerti Valentine telah bangkit, berdiri dengan cepat, dan menarik belati berbahan perak dari sabuk di pinggangnya. Namun Lucian lebih siap, ia lebih dulu berkelit ke arah belakang tubuh Valentine, dan menodongkan Kindjalnya di leher mantan Parabatainya itu.
"Aku tidak percaya kau bisa melakukan ini,"
"Kau yang mengajariku."
Valentine tertawa, parau. "Bunuh aku kalau begitu, kau tahu pasti di bagian mana harus menggoreskan belati itu untuk menghabisi nyawaku dengan cepat." katanya, namun saat ia menyadari—belati itu sama sekali tidak menyentuh kulit lehernya. "Kau tidak akan bisa, Lucian. Kau tidak kuat membunuhku, kau mencintaiku, ingat?"
"Aku tidak mencintaimu. Aku tidak mencintai Valentine yang ini!"
Suara tawa Valentine lebih nyaring, bercampur kebengisan. "Aku adalah Valentine yang sama, seperti inilah aku sejak semula."
Menarik lengan Lucian, memutarnya, dan merebut belati yang Lucian pegang, Valentine membalik keadaan. Lucian sudah pasrah saja jika Valentine akan membunuhnya, ia tahu pasti. Sejak masih muda, ia tidak akan bisa menang melawan Valentine. Ia menyadari dirinya, bahkan kekuatan yang ia punya selama ini juga berasal dari Valentine, lalu bagaimana mungkin ia gunakan kekuatan itu untuk melawan sumbernya.
"Dan aku harus benar-benar membunuhmu kali ini, Lucian!" Valentine berteriak, marah dengan keadaannya. Marah dengan semua hal di dunia ini.
"Kau bisa membunuhku sejak dulu, kau lebih memiliki banyak kesempatan untuk mengambil nyawaku. Lakukan saja kalau itu memang maumu!" seperti tidak ingin kalah, Lucian membalas teriakan Valentine. "Bukankah aku sama seperti yang lain, seperti warlock yang kau bunuh setelah kau gunakan memanggil Lilith. Seperti anggota Circle yang kau tinggalkan di Aula Piagam sekarang. Aku… Aku sudah tidak berguna lagi, begitu, Valentine? Dan kau menyingkirkanku, mengumpankanku pada manusia serigala. Mengubahku menjadi seperti ini?!"
"DIAM!" Valentine melepas belati yang digunakan menahana Lucian, belati itu jatuh di tanah kering. "Kau terlalu banyak bicara!" ia berganti mengambil belati peraknya lagi, menempelkan senjata itu di tubuh Lucian.
Lucian mengerang kesakitan, tubuhnya seperti terbakar—dan terbakar secara nyata.
"Aku membencimu, Lucian! Aku sangat membencimu!" nada putus asa yang sekarang Valentine gunakan dalam tiap kata-katanya. "Aku membenci perasaan yang membuatku lemah. Aku membenci kenyataan bahwa aku tidak akan pernah bisa sanggup untuk membunuhmu. Tidak hanya dulu, bahkan sekarangpun aku tidak bisa!" Valentine benar-benar putus asa, bukan dibuat-buat, bukan pula sekedar kesan. Belati peraknya bahkan menyusul jatuh ke tanah.
Lucian terduduk, ia gemetar kesakitan karena efek belati perak masih menyiksa tubuhnya, perak adalah kelemahan manusia serigala. Ia bahkan tidak bisa mencerna apa maksud dari perkataan Valentine. Sampai Valentine menyentuh pipinya kemudian membelainya singkat, sebelum beralih ke tengkuknya dan menariknya mendekat. Sangat dekat sampai didengarnya suara Valentine tepat di telinga.
"Aku mencintaimu," bisikan Valentine hanya seperti dengung, "Jika kau ingin tahu alasan kenapa aku tidak akan pernah bisa membunuhmu." Valentine berbalik, sebelum pergi ia melihat Lucian sekali lagi melewati bahunya. "Tapi ingat, Lucian, kau akan menyesali apa yang telah kau lakukan."
Mengetahui fakta bahwa dicintai oleh seorang Valentine Morgenstern justru tidak membuat Lucian merasa senang. Itu hanya menimbulkan luka baru yang semakin sulit sembuh, lebih menyakitkan. Jika ia bisa menerima keadaan perasaannya yang tak pernah Valentine pedulikan, sekarang ia tidak bisa menerimanya—ia tidak mengerti. Kenapa Valentine mencintainya, kenapa Valentine juga yang menghancurkannya. Apakah ia tidak bisa memiliki kehidupannya sendiri—apakah ia tidak bisa menikmati cintanya sendiri. Lucian berteriak, sakit dari belati perak sama sekali tidak sepadan dengan perasaannya sekarang.
Lucian berpikir bahwa kematian saja tidak akan semenyedihkan seperti ini.
Entah berapa lama Lucian berdiam di tempatnya. Valentine meninggalkannya, memang seperti itulah Valentine, pada akhirnya meninggalkannya dalam penderitaan, mengembalikan dirinya pada kesengsaraan. Namun kemudian mata serigalanya yang lebih tajam dari mata manusia atau bahkan Nephilim menangkap asap membumbung dari Manor kediaman Valentine.
Ia segera bangkit, menyambar Kindjal di tanah, kemudian berubah menjadi serigala dan memburu tempat itu. Ia melihat Jocelyn bersimpuh disana sambil menangis. Api yang membakar manor jelas api sihir, api biasa tidak mungkin menghancurkan bangunan sebesar manor dalam waktu sesingkat ini. Dan di sana terdapat tulang belulang—tulang belulang manusia, masih bisa dikenali dengan jelas. Liontin perak Valentine dan lencana Circle berkilauan di atas tumpukan belulang yang lain, ada juga tulang seorang anak kecil yang setengah hancur.
Lucian seakan tidak percaya itu adalah Valentine dan anaknya. Tidak. Ini tidak benar. Ia diam, membawa Jocelyn pergi dari manor yang berubah menjadi tumpukan arang itu kemudian. Jocelyn masih syok dan histeris. Jocelyn menangisi putranya—tulang belulang anak-anak itu.
Pada kenyataanya akhirnya Piagam kembali disepakati, Lucian ikut menandatanganinya. Dan Clave mempercayai kalau tulang belulang itu adalah Valentine. Semua seakan bersuka cita dengan kenyataan semu. Namun Lucian sama sekali tidak percaya kalau itu adalah Valentine, Valentine pasti masih hidup di suatu tempat. Entah kenapa ia bisa merasakannya. Setelahnya ia memilih pergi, meninggalkan Idris, menjauh dari Jerman dan Perancis, menjauh dari Eropa. Menjauh dari kehidupan Shadowhunter—dan bukankah ia sudah lama jauh dari kehidupan itu. Ia akan mengubur semuanya, ia hapus namanya sendiri. Dan seandainya bisa ia akan menghapus masa lalunya, menghapus cintanya, menghapus cinta Valentine. Tapi sayangnya ia tidak bisa, maka Lucian hanya menyerahkan perasaannya pada waktu, untuk mengikis habis semuanya.
Satu yang pasti, tidak ada lagi Lucian Graymark, pemuda itu sudah mati bersama menghilangnya Valentine Morgenstern. Sekarang hanya akan ada Luke Garroway.
Seorang manusia serigala.
-o-o0o-o-
FIN
-o-o0o-o-
"Luke,"
Gadis kecil itu berambut merah. Berlari ke arahnya yang duduk sendirian di salah satu bangku taman di antara gedung-gedung menjulang di New York.
"Hei, Clary!" Lucian meraih bocah itu, memangkunya kemudian. "Mana mamamu?"
"Membeli kanvas di sana," bocah itu menunjuk sebuah toko yang menjual peralatan melukis. Namun kemudian ia tampak bersedih, "Mama selalu diam jika aku menanyakan papa, aku ingin tahu papaku seperti apa, dan mama tidak mau bercerita."
Luke membelai rambut merah bocah itu. Ia tahu Jocelyn membohongi putrinya—putri Valentine. "Aku mengenal papamu, saat kami masih sekolah."
"Lalu?"
"Lalu papamu… Dia menjadi anggota militer Amerika, jadi aku tidak pernah bertemu dengannya lagi." Luke tidak tahu kenapa ia jadi mendukung kebohongan Jocelyn.
Clary tampak semakin murung, ia bersandar pada dada Luke, dan membiarkan Luke memeluknya. "Lalu papa meninggal dalam kecelakaan mobil," ia melihat wajah Luke yang masih lembut seperti dulu, terasa keteduhan dalam pancaran mata pria itu, "Kalau begitu ceritakan papaku saat kalian masih sekolah,"
Sambil masih membelai rambut Clary, Luke menyelami memorinya yang tersisa. Memori saat ia dan Valentine masih di Akademi, di Alicante. Saat bercanda bersama di halaman sekolah ada Stephen, Robert, dan Michael bersamanya. Lalu berkuda menyusuri padang rumput, berbagi kebahagiaan dan senyum yang tulus. Sosok yang mengajarinya berbagai hal, dan memanah—ia ingat begitu ahli dalam memanah, serta kebaikan hati Valentine yang membuat Luke jatuh cinta. Hanya sebatas itu yang Luke pertahankan. Hanya sebatas kenangan saat sekolah yang ia gunakan untuk mengingat Valentine.
"Papamu… Adalah pemuda yang luar biasa."
Done!
Well, sekarang saya mau ketemu Sebastian Monroe dan Alexander Grayson. Karena beberapa hari saya telah mengabaikan mereka demi menyelesaikan kisah Valentine dan Lucian ini. Semoga tidak mengecewakan siapapun yang membaca. Karena prinsip saya dalam membuat fic adalah untuk kepuasan pribadi, tidak mengikuti permintaan siapapun, tidak mengikuti selera pasar.
Terakhir, terima kasih untuk Kak Ai, yang sudah mengirimkan semangat dan bergalon-galon kopi. 8D Setelah baca ini, jangan benci Valentine, kak.. Dia tetap Papa Val bagi kita.
Terima kasih juga untuk siapapun yang membaca sampai sini.
