"Eonni, aku tidak percaya aku bisa melakukan hal ini" tukas nya sambil terkikik

"Serius Dayong-ah, Kau mengatakan hal seperti itu pada Luhan?" Yujin menyahut, ia sedikit terkejut mendengar cerita Dayoung

"Dia meminta mu menjadi pacar hanya untuk status belaka, haha..." Hera menepuk pundak Dayoung sambil terus tertawa

"Sepertinya kita harus selalu merusak rencana Luhan. Kau hebat Dayoung-ah" Puji Yerin

"Eonni, apa kau tidak memikirkan sebuah jebakan lagi untuk Luhan?" cetus Dayoung dengan ujung alis terangkat dan bibirnya yang sedikit menyerigai

"Tentu saja, aku takkan tinggal diam" Sera mengakhiri keterdiamannya sejak tadi, ia menatap anak buahnya dengan senyum evil, seperti ia akan merencanakan sebuah pembunuhan saja besok

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tukas Hera kemudian

.

.

.

.

Chapter 06

By: HunHan SeRaXi

.

.

Tidak ada asap jika tidak ada api, pepatah tersebut seolah mengatakan bahwa setiap masalah pasti ada penyebabnya, tidak dapat dipungkiri bahwa kata pepatah tersebut dapat diterima akal sehat. Hanya karena sebuah video berciuman tak senonoh, membuat seisi sekolah mengenalnya sebagai pria gay, kebohongan besar ini secara tidak langsung menjatuhkan harga dirinya, Luhan takkan tinggal diam, kekesalan tersebut bercampur baur menjadi satu dalam dada nya, jangan berani mengusik Luhan saat ini karena ia bisa saja mengamuk tanpa sebab, yang terpenting sekarang ia harus segera bergegas menuju asrama nya

Di lain tempat, Baekhyun tengah ketakutan saat ini. Ia berlari ke kamar Chanyeol untuk meminta pertolongannya, Chanyeol sendiri tidak menyangka bahwa video itu berasal dari ponsel Baekhyun, dengan bijak ia hanya mengatakan 'tidak apa-apa' pada kekasihnya, Chanyeol segera meraih ponsel Baekhyun dan menghapus video tersebut.

"Jangan takut Baek, semuanya akan baik-baik saja"

"Baik-baik saja katamu, bagaimana jika sampai Luhan mengetahui nya?" bantah nya dengan nada cemas, ia tidak bisa bersikap tenang saat ini

"Aku akan melindungimu jika hal itu terjadi"

"Kau menggombal disaat seperti ini, Yeol? Kau gila!" sarkas nya dengan nada kesal

"Video nya sudah ku hapus, Luhan takkan mengetahuinya" bisik Chanyeol

"Kata siapa? Aku mendengar semua percakapan kalian!"

ucapan tersebut berasal dari posisi belakang mereka, sontak kedua orang tersebut berbalik. Luhan sudah berdiri disana sambil menyilangkan kedua tangannya dengan tatapan tajam, Baekhyun yang sudah ketakutan setengah mati reflek bersembunyi dibalik punggung Chanyeol, ia melirik kekasihnya yang juga gugup, mustahil rasanya jika sebentar lagi Luhan tidak akan meledak

"Baekhyun, kemari kau. Jangan menjadi pengecut!" titah nya angkuh

Chanyeol semakin mengeratkan genggamannya ditangan Baekhyun, suhu tangan kekasih nya sudah mendingin bak es batu, ia melirik kesamping lalu menggeleng, memberi kode bahwa sebaiknya ia saja yang mengahadapi Luhan. Chanyeol maju selangkah, menatap Luhan dengan tatapan datar, yang ditatap itu tiba-tiba tersenyum angkuh

"Kau ingin membela nya, yeol?" Luhan mengangkat satu alis, ia menghela napas. Dengan kasar ia mendorong bahu Chanyeol dan mendekat kearah Baekhyun

"Hei Byun Baekhyun, kupikir kita ini teman" Luhan tersenyum kecut kemudian membuang muka nya kesamping

"Jangan sakiti Baekhyun, hadapi diriku terlebih dahulu, Luhan" Chanyeol menjadi was-was sendiri, hawa disekeliling nya menjadi tegang

"Aku akan mencekik Baekhyun jika kau terus mengoceh" ancam nya, Chanyeol lantas terdiam

"Apa yang kau inginkan, Luhan? Kau ingin menamparku? Tampar saja, aku pantas mendapatkannya" Baekhyun pasrah, ia sudah tidak tahan berada di situasi seperti ini

"Aku masih punya harga diri untuk tidak menampar lelaki lemah sepertimu" ia tersenyum menyindir dan melanjutkan "Apa motif mu merekam video itu? Kau ingin memberitahukannya pada Sera lalu membuat seisi sekolah tahu begitu?"

"Luhan sungguh, itu bukan aku. Sera sendiri yang mencuri video itu dariku" bela nya

"Ceroboh sekali kau Byun" Luhan berdecih "Bodoh nya diriku berteman denganmu! Kalian membawa dampak buruk bagiku, juga sekolah ini. Bukankah dulu kita berjanji untuk saling menghargai? Kenapa kau ingin menyeretku masuk ke dunia sepertimu, hah?!" mata rusa nya berkilat penuh amarah, ia mengucapkan kalimat tersebut dengan nada tinggi

"Aku memang ceroboh Luhan, maafkan aku" Baekhyun merapalkan kedua tangan nya, ia bisa-bisa menangis karena dituduh seperti itu oleh Luhan

"Apa kata maaf dapat mengembalikan semuanya? Aku membencimu Byun Baekhyun. Sekarang aku tidak sudi berteman denganmu termasuk kalian semua" tukas nya final, Luhan dengan kemarahan memuncak berjalan keluar dari asrama. Ia butuh sesuatu untuk mendinginkan otak nya

Sedangkan Baekhyun saat ini tengah memeluk Chanyeol erat, ia menangis karena tertohok dengan kata-kata Luhan. Ia menyesal dan sungguh merasa bersalah, Chanyeol sendiri tidak dapat berbuat apa-apa, ia terus menggumamkan kata 'tenanglah' ditelinga baekhyun agar kekasihnya itu berhenti menangis

...

Tidak ada yang bisa Luhan lakukan selain mengabsen nama-nama binatang saat ini, ia sudah cukup kesal dengan semuanya, Han Sera. Seorang gadis yang berhasil membuat harinya kacau seperti saat ini, ia terlalu bodoh untuk menghadapi seorang perempuan, berulangkali ia mengumpat, mengacak rambut nya kesal hingga jatuh terduduk dibelokan tangga yang kebetulan sepi. Ia sungguh muak dibilang gay, sebenarnya ia terlalu lelah dan ingin istirahat tapi mau ditaruh dimana wajah nya tidur bersama si bajingan tinggi itu? Luhan tidak sudi.

"Apa yang harus kulakukan arghh..." teriak nya frustasi

Luhan menggeleng beberapa kali dengan pikiran aneh nya, sempat terlintas ide-ide yang ekstrim untuk menghindari masalah ini, tapi sepertinya ada satu solusi yang ia yakini dapat membantunya sekarang. Luhan kemudian bangkit dan langkahnya ia bawa ke sebuah ruang tata usaha, ia sedang menggantungkan harapan dan harga dirinya disini, setidaknya harus berhasil.

"Annyeonghaseyo Kwon songsaenim..." Luhan menyapa seorang pegawai tata usaha berambut sanggul didepannya, ia membungkukkan badannya sebagai formalitas

"Ohh Xi Luhan, ada apa? Apa kau mencariku" tanya wanita itu, sejenak ia menghentikan aktifitas mengetiknya di komputer

"Ya, benar saya mencari anda" Luhan kemudian terdiam, ia gugup untuk menyatakan pendapatnya pada wanita dihadapannya, perempuan itu juga terdiam menunggu kalimat Luhan selanjutnya

"Maafkan aku, tapi bolehkah aku meminta tukar kamar asrama? Bukankah anda yang mengurus masalah ini?"

"Kenapa?" sahut wanita itu

"Aku merasa tidak nyaman saja" tukas Luhan, wanita itu mengernyit lalu menatap Luhan dengan tatapan bingung

"Belakangan aku tidak mendengar keributan di asrama putra. Rommate mu Park Chanyeol kan? Kenapa dia? Apakah dia memperlakukanmu secara kasar?" tanya perempuan itu beruntun

"Eung..anu..dia memang tidak melakukan semacam bullying terhadapku, tapi hanya saja aku tidak merasa nyaman"

"Luhan, tiap kamar asrama sudah di data. Jika aku menukar nya maka aku harus mengganti banyak dokumen disini, juga jika ada siswa baru itu akan sulit karena kamar itu memang jatah mu" Jelas Yuri memberi tahu

"Hey Kwon Yuri, mana berkas yang kuminta tadi pagi?!"

Lantas kedua orang tersebut menoleh bersamaan, Yuri yang kebetulan ditegur senior yang menjabat sebagai guru itu pun langsung menundukkan dirinya beberapa kali sambil menggumamkan kata maaf "Maafkan saya, pak. Tadi pagi anak saya sakit jadi saya datang agak terlambat, saya saat ini tengah menyelesaikan tugas yang diperintahkan bapak, maaf. Pekerjaan saya sedikit terganggu karena masih berurusan dengannya" Yuri melirik kearah Luhan

Luhan yang ditatap guru paruh baya itu tiba-tiba menegang, ia menggumamkan kata maaf beberapa kali sambil menunduk, tidak ia duga bahwa lelaki yang mengajar tari ini semakin mendekat kearahnya, Luhan meneguk ludah beberapa kali, kalaupun ada pintu ajaib, ia ingin segera kabur sekarang juga

"Ada urusan apa kau dengan Kwon Saem?" tanya guru lelaki paruh baya tersebut

"Eung...maaf, saya hanya ingin meminta pindah kamar asrama" tiba-tiba saja bicaranya menjadi gagap, satu kaki Luhan tengah bergetar hebat saat ini

"Apa kau pikir ini sekolah nenek mu? Kau tidak berhak mengatur Kwon Saem meskipun ia hanya pegawai tata usaha" laki-laki tersebut membentak Luhan, beberapa orang yang berada disana sempat melirik mereka berdua yang tengah bersitegang

"Maafkan saya, tapi saya juga siswa disini. Saya berhak meminta apa yang menjadi hak saya" Luhan sedikit jengkel dengan lelaki tua yang sok bijak ini, apa salahnya ia meminta bertukar kamar

"Hak katamu? Lagipula kau siapa hingga mengatur Kwon Saem? Kau tidak bisa seenak nya disini" sang guru itupun masih ingin tetap menyudutkan Luhan

"Astaga, pak. Saya hanya ingin pindah kamar! Hanya itu saja..." Luhan masih tetap keras kepala, sedikit terkesan memaksa kali ini

"Kwon Saem orang yang sibuk, ia masih harus mengerjakan banyak tugas"

"Dan anda dengan seenak nya menyuruh Kwon Saem untuk mengerjakan tugas anda upss..." Luhan kelepasan, si guru dihadapannya ini lantas melotot tajam kearahnya

"Apa katamu?" guru paruh baya itu mendelik tajam "Dimana sopan santun mu hah?! Kau mengataiku seenak nya, Apa kau tidak diajarkan tata krama? Kau mengganggu pekerjaan Kwon Saem hanya demi menuruti keinginanmu yang ingin pindah kamar, kau pikir sekolah ini milikmu?"

Nada bicara guru paruh baya tersebut meninggi, ia tersinggung dengan ucapan tak terkontrol dari mulut Luhan. Beberapa pegawai tata usaha menghentikan aktifitas nya dan terfokus pada dua orang yang saling memanas saat ini, beberapa dari mereka mengagumi keberanian Luhan yang membuat guru tersebut marah. Sedangkan nyali Luhan semakin menciut, sungguh ia malu sekaligus takut karena dijadikan objek tontonan disini, Luhan rasa-rasanya ingin kabur dan bersembunyi dibalik selimut.

"Lee saem, Luhan dapat pindah kamar asalkan dia memakai rok dan rambut palsu. Bukankah wajahnya cocok jika menjadi perempuan?" celetuk seorang pria yang duduk di selatan sana, guru yang yang satu ini suka membuat lelucon dan bisa mencarikan suasana

Semua orang yang berada disana lantas tertawa, kecuali Luhan. Walaupun hanya sebuah candaan tapi ucapan itu seakan mempermalukan harga dirinya, mimik wajah Luhan mengeras, ia mengutuk semua orang dalam hatinya, namun setelah itu suasana diruang tata usaha kembali mencair.

"Nah...dengarkan ucapannya, kau mungkin bisa sekalian operasi kelamin lalu menyuntik dadamu. Penghuni asrama putri takkan mengenalimu jika kau seorang pria" tambah Guru Lee

"Xi Luhan, bersyukurlah kau memiliki wajah manis"

"Ya, manis mendekati cantik"

"Anak perempuan ku saja tidak secantik kau"

Ucapan penuh penghinaan tersebut membuat telinga dan hatinya panas, ia marah sekaligus kesal, semua orang menjadikan candaan pria itu hal lucu baginya, mereka tidak tahu bahwa Luhan amat sangat tersinggung, ia rasanya ingin jatuh terduduk sambil menangis lalu berteriak "Aku laki-laki dan aku tampan! Bukan cantik". Kemarahan yang bergelung dalam dada nya membuat Luhan terdiam cukup lama, jika ia berucap mungkin semua orang akan semakin memojokkan dirinya dan lebih mempermalukannya dari ini.

"Berhenti! Apa yang kalian tertawakan? Kalian telah mempermalukan nya, meskipun tanpa kekerasan namun tindakan seperti ini bisa dikategorikan bullying" tiba-tiba Guru Jaejong datang dan seolah-olah menjadi hero bagi Luhan, ia adalah guru BP karena itulah ia berani mengatakan tindakan tersebut termasuk bullying.

"Xi Luhan ada masalah apa? Kita bisa membicarakannya diruanganku" ajak Guru Jaejoong, Luhan hanya menggeleng, ia terlalu lelah menghadapi hari ini yang begitu sulit

"Aku tidak apa-apa, saem. Guru Lee dan Guru Kwon maafkan aku jika mengganggu kalian" Luhan menunduk beberapa kali, lalu melanjutkan "Aku permisi"

Luhan keluar dari ruang tata usaha sambil menahan amarah nya, ia berjalan tergopoh dengan mimik muka yang apabila tidak ia tahan akan meneteskan cairan bening sebentar lagi. Jaejong dibelakang nya hanya menatap murid lelaki itu sendu, ia bisa merasakan bahwa dia tidak akan baik-baik saja setelah dipermalukan seperti ini, sedikit merutuki Guru Lee yang tega membuat salah seorang siswa menjadi seperti itu. Jaejong menghela napas nya, ia melirik Guru Lee tajam lalu berjalan keluar.

...

"Hiks..hiks...Sialaaan kalian semuaa!"

Luhan menangis, itu memang benar. Ia saat ini sedang menangis, jangan anggap Luhan telah mencapai batas manly nya jika masalah sepele saja ia tangisi. Marah, kesal, jengkel, semuanya bergelut menjadi satu dalam hati dan otak nya. Sungguh ia tidak mengerti jalan pikir orang-orang ini, apa mereka tidak punya mata? Jelas-jelas Luhan adalah seorang lelaki yang menjunjung predikat manly nya, hanya karena ia berwajah cantik semua orang menginginkannya menjadi perempuan. Sampai kiamat pun Luhan takkan sudi! Camkan itu baik-baik dalam otak kalian, ia sangat menghargai apa yang Tuhan berikan padanya tapi entah mengapa nasib seakan mempermainkannya selama ini.

"Aku bahkan telah berusaha untuk merubah diri, tapi hik...kalian hik... selalu membuatku down"

Biarkan saja ia menangis sampai puas disini, lagipula halaman depan asrama nampak sepi. Ia sedang duduk dibangku yang terletak di ujung pojok, beberapa burung yang bertengger diatas pohon menatapnya dengan bingung, apa gerangan seorang lelaki menangis sendirian? Beberapa ekor dari mereka menertawakan dengan gaya khas nya sendiri, sebagian lain mengolok nya dengan bahasa burung.

"Lihat saja! Orang yang tersakiti akan lebih termotivasi daripada kalian, jangan terkejut jika setelah ini aku akan berubah menjadi pria sesungguh nya. Aku saat ini hanya belum puber" semangat nya pada diri sendiri

Selain burung yang membicarakan Luhan dari atas sana, diseberang Luhan tepat nya dibalik semak-semak, beberapa gadis tengah merencanakan sesuatu sambil terkikik. Mereka telah menyusun jebakan ini dengan matang, walaupun mereka harus meminta bantuan pada Sehun sendiri, mereka tidak lah bodoh mengetahui bahwa Luhan saat ini tengah bersedih hati, karena nya para gadis-gadis ini berniat untuk menghibur Luhan.

"Ehem!"

Luhan langsung menoleh ketika mendengar deheman tersebut, mata rusanya sedikit membulat ketika gadis itu tanpa permisi duduk disamping nya "Sendirian saja, ya?" tukas nya sambil tersenyum

"Jangan terkejut begitu, Aku tahu kau daritadi menangis" lalu gadis itu sedikit terkikik

Luhan kontan saja malu, ia mengusapi seluruh wajah nya agar tidak kentara ia habis menangis

"Kau Luhan, kan? Pacar nya Sehun, kenalkan aku Lee Jaerin" ujar gadis yang bernama Jaerin tersebut, ia menatap Luhan penuh perhatian dan sedikit berempati padanya

"Jangan sebut namanya, kumohon" sahut Luhan geram

"Huft...sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik" Jaerin mengerucutkan bibir nya, ia lalu berseru "Kau mau ku perlihatkan sesuatu? Aku bisa sulap looh.." tukas nya dengan sedikit berbinar

"Benarkah? Coba tunjukkan padaku" semangat Luhan tiba-tiba bangkit mendengar seruan Jaerin

"Aku mempunyai selembar tisu dan korek, kau tatap ini baik-baik" Jaerin menatap Luhan serius, rasa penasaran Luhan yang sudah diubun-ubun itu tak dapat ditahan lagi, ia menatap lekat benda di tangan Jaerin, si pemilik tangan itu sedikit menyunggingkan senyum, ia berhasil mendapatkannya!

Jaerin menyulut korek api tersebut dan membakar selembar tisu sambil bersorak "Satu dua tiga kamu akan tertidur!" dan boom, Luhan langsung tak sadarkan diri disamping nya

Para komplotan gadis dibalik semak-semak itu pun langsung keluar, mereka memutari bangku tersebut untuk melihat Luhan lebih dekat. Jaerin memberi instruksi pada mereka untuk tidak membuat kegaduhan, rencana ini akan berjalan lancar sebentar lagi jika mereka mematuhi perintah nya.

"Luhan, sekarang kesadaranmu sedang ku ambil. Saat ini apapun yang aku perintahkan akan kau laksanakan, anggukan kepalamu jika kau paham" ujar Jaerin yang diikuti anggukan Luhan

"Bagus. Tapi sebelum itu, coba kau bayang kan Sehun saat ini" titah nya, Luhan menggeleng kasar. Ia sedikit tidak nyaman jika melihat bayangan Sehun di alam bawah sadarnya

"Rileks, Luhan. Lalu kemudian bayangkan pemain sepak bola favoritmu, Christiano Ronaldo, kan? Anggap dia saat ini berada didekatmu" Luhan lalu menangguk, ia tersenyum-senyum sendiri melihat idola nya hadir dalam bayangan alam bawah sadar nya

"Perlahan raga Ronaldo memasuki jasad Sehun, ia berada di tubuh Sehun sekarang. Jika kau melihat Sehun, otomatis kau akan melihat Ronaldo saat itu juga. Anggukan kepalamu jika kau mengerti"

Luhan mengangguk lagi, Jaerin tersenyum. Ia meminta para gadis itu kembali bersembunyi karena sebentar lagi ia akan membangunkan Luhan. Setelah dirasa semuanya siap, Jaerin membisikkan sesuatu ke telinga Luhan "Kau akan tersadar jika mendengar tepukan tanganku, dan bangunlah ketika aku menepuk pundak mu setelah ini"

"Satu dua tiga, bangun" seru Jaerin diiiringi tepukan pada pundak Luhan, otomatis yang di tepuk itu perlahan membuka mata nya, ia sedikit merasa aneh. Luhan melirik kearah Jaerin yang tersenyum padanya, ia sedikit mengernyitkan alis nya bak orang linglung, Luhan tiba-tiba menjadi gagu. Ia menolehkan kepala nya ke depan dan sedikit terkejut menyadari Christiano Ronaldo sedang berdiri tak jauh dari posisinya

"Hey! Bukankah itu...Ronaldo?" ujar nya terkejut sedikit tidak percaya

Luhan mengucek kedua mata nya, ia sedang tidak bermimpi kan? Ada apa gerangan Ronaldo datang ke Korea, apa dia akan melakukan pertandingan dengan Timnas Korea?, tapi kenapa Luhan tidak mendengar kabar ini sebelumnya, jika ia tahu mungkin ia akan rela bolos sekolah demi bisa melihat langsung idola nya tersebut

"Hwaaa...Ronaldo oppa! Can I ask your sign please?"

"Take picture with me, please"

"Oppa, May I touch your hair?"

Mendadak kepala Sehun berdenyut nyeri, jadi ini rencana para komplotan geng fujoshi itu. Mereka meminta bantuan Jaerin untuk menghipnotis Luhan dengan menjadikan dirinya sebagai Ronaldo? Astaga... bahkan ia masih jauh lebih tampan daripada Ronaldo. Sedikit risih ketika para gadis ini mengerubungi nya dan berbicara bahasa Inggris seolah-olah dirinya ini benar-benar Ronaldo, akting mereka sangat baik, beberapa dari gadis itu mengedip padanya dengan maksud 'Cepat lakukan akting mu, bodoh!' lalu Sehun mengangguk mengerti.

"Calm down, ok! I will serve all" Sehun mengangkat kedua tangan nya, para gadis-gadis itu memekik girang, beberapa dari mereka sudah menyodorkan sebuah spidol dan kertas

"HYAA! MINGGIR KALIAN SEMUA, AKU FANS BERAT NYA!"

Teriakan nyaring itu berasal dari mulut Luhan, beberapa gadis itu menoleh kearah nya, mereka memandang Luhan dengan tatapan tidak suka karena keegoisan nya "Sunbae, aku yang lebih dulu meminta tanda tangan nya" protes Hera, si adik kelas nya

"Persetan" sahut Luhan

Tanpa mengindahkan ucapan gadis-gadis tersebut, Luhan langsung berhambur ke pelukan Ronaldo –atau jika kau dalam keadaan sadar adalah Sehun. Sehun yang langsung dipeluk erat seperti itu sedikit terkejut hingga tubuh nya hampir oleng ke belakang karena terjangan mendadak Luhan, si rusa ini mengucapkan kata-kata kekaguman yang manis padanya, tidak ia sangka ternyata Luhan sangat menggilai Ronaldo, terselip rasa cemburu di dalam hati nya walaupun saat ini dirinya yang sedang dipeluk.

"Ronaldo, aku sangat mengagumi mu. Kau tahu jika bertemu dengan mu adalah impianku sejak kecil. Entah keberuntungan apa hingga aku dipertemukan mu hari ini"ujar Luhan dengan mimik mengharukan, ia seperti fangirl yang sedang ditimpa durian runtuh bisa memeluk idola nya sedekat ini

"I know, you can hug me as much" tukas Sehun, ia memberanikan dirinya membalas pelukan Luhan. Sehun memeluk Luhan sangat erat, ia melampiaskan rasa rindu terhadap nya hari ini. Walaupun harus Sehun sadari bahwa Luhan tidak sepenuhnya sadar, ia masih dibawah pengaruh hipnotis. Luhan sedikit mengernyit, kenapa Ronaldo memeluk nya sedekat dan selama ini? Tapi tiba-tiba ia tidak peduli, Luhan malah senang dan menyandarkan kepala nya di dada bidang Seh- ohh Ronaldo.

"Kyaaa...Eonni! bukankah mereka terlihat sangat manis"

"Sayang, dia sedang tidak sadar"

"Kapan kita akan melihat mereka seperti itu secara nyata?"

"Rasanya aku ingin terharu, astaga..."

Pekikan samar gadis-gadis itu tidak ia hiraukan, mereka berbisik-bisik dengan pipi yang sudah memerah. Sang ketua menghampiri Jaerin dan tersenyum bangga "Kerja bagus, aku akan memberi tips mu sebentar lagi"

"Ok! Hubungi aku jika membutuhkan bantuan ku lagi" Jaerin mengedip imut pada Sera

Sebelumnya Sehun sudah diberitahu oleh Jaerin jika Luhan dalam keadaan tidak sadar, ia bisa melakukan apapun padanya karena saat ini ia berperan menjadi idola nya, kau pikir kau tidak mau jika diperlakukan istimewa seperti itu oleh idola mu? Sehun lalu melepaskan pelukannya, meraih dagu runcing Luhan dan membawa mereka pada ciuman lembut yang manis

Apakah Luhan membalas nya? Maka jawabannya Ya, dia membalas ciuman Sehun. Kau sendiri mungkin akan melakukan hal yang sama jika sudah terlanjur jatuh cinta setengah gila pada idola mu, sayang nya Luhan benar-benar bodoh masuk dalam jebakan mereka. Perlahan ia menggerakkan bibir nya, mengecap rasa bibir atas Sehun, mereka melakukannya dengan sangat lembut layak nya mereka saling mencintai saja, Sehun melesakkan lidah nya semakin dalam, menyalurkan saliva yang sudah bercampur menjadi satu, ia berharap akan terus seperti ini bersama Luhan, walaupun rasanya itu sulit dan harus dalam keadaan terhipnotis seperti ini.

"Daebak, ini mengagumkan"

"Rencana kita berhasil sepenuh nya"

"Aku salut padamu Sera Eonni"

"Hwaa! Terimakasih Jaerin, kau benar-benar mewujudkan impian kami"

Para fujoshi itu berbisik-bisik girang, objek kedua insan yang tengah melumat itu jadi tontonan utama mereka. Beberapa ada yang sudah mengabadikannya, kemudian terkikik geli melihat bagaimana agresif nya Luhan ketika dalam keadaan tidak sadar. Mereka semakin memekik nyaring ketika Sehun menambah kecepatan tempo ciumannya menjadi semakin liar, astaga! Luhan membalasnya. Jelas hal ini membuat mereka semakin salah tingkah, menjambak rambut, memegangi kedua pipi yang memerah, mimisan akut hingga menggigit jari bak menonton film biru saja. Saking tak terkendalinya ekspresi mereka, hingga Jaerin tak sengaja bertepuk tangan.

"Luhan lucunya...aigoo" ujar Jaerin riang sambil reflek bertepuk tangan

Gerakan reflek tepukan tangan Jaerin kontan membuat Luhan terkesiap dan terkejut mendapati dirinya berada dipelukan Sehun, sambil bibir nya terus dilumat oleh si cabul ini. Astaga! Apa yang baru saja terjadi? Kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini, Luhan langsung saja melepaskan dirinya dari pelukan Sehun dan menatap nanar sekeliling nya, para fujoshi itu menatap nya takut-takut. Sebentar lagi rencana mereka semua akan berjalan 100% namun Jaerin yang ceroboh mengacaukan segalanya.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN TERHADAPKU HAHH?!" teriaknya lantang

"JELASKAN PADAKU APA-APAAN INI?!" kedua tangannya sudah mengepal erat, ia ingin sekali menghajar semua orang yang telah merencanakan ini

"KENAPA DIAM? JAWAB AKU! HEY KAU HAN SERA, KAU DALANG DIBALIK SEMUA INI KAN?" tuduh nya pula

"Memang ya, kenapa? Kami hanya berniat menghibur mu saja, Luhan. Maaf jika kau tidak suka" ujar Sera sesantai mungkin

"Apa katamu?"

"Seharian ini kau terus bersedih, dasar cengeng! Tapi tadi kau sudah bertemu Ronaldo, kan? ahaha..upss" tiba-tiba saja Sera meniru gaya aktris yang mengendorse shampo, sekejam dan seseram apapun Luhan ketika marah padanya, Sera takkan gentar

"Maaf jika tiba-tiba idola mu berubah menjadi rival mu" Sera lalu menunduk seolah ia ikut bersedih, ia tersenyum simpul pada Luhan dan berujar "Jika kau mau bertemu lagi, kami bisa membantu mu"

"Sialan kalian semua! Jadi aku tadi di hipnotis?" tukas Luhan tidak percaya

"Jadi kau baru sadar?" sahut Sera, ia lalu tertawa diikuti anak buah nya

Kontan gadis-gadis itu terus tertawa nyaring, suasana yang tadinya tegang itu langsung menjadi lucu karena respon Sera yang amat santai tapi menjebak sekaligus mempermainkan lawan bicara nya. Mereka saling melakukan high five dan Sera menjulurkan lidah nya kearah Luhan sambil berguman 'Kau kalah week, kami lebih cerdik darimu' dan jangan dibayangkan betapa masam nya wajah Luhan saat ini.

...

Sudah jatuh ditimpa tangga pula, kali ini pepatah tersebut sangat cocok dengan keadaannya saat ini, jika ada hari yang paling sial, maka hari ini adalah hari kesialan baginya. Luhan menyesal tinggal di negara ini, semua orang mengolok nya, awalnya ia pindah kemari karena ingin penghidupan yang baik namun yang terjadi malah sebaliknya, ia tidak mempunyai teman yang tulus- dalam artian benar-benar mendukung nya, bukan malah menjerumuskan. Mencari teman bak Lao Gao di China ternyata sangat sulit, masih untung dirinya mempunyai satu teman yang seperti itu walau fisik nya tidak seberapa, terkadang teman dengan fisik yang rupawan itu rata-rata munafik, seringkali diberi pujian membuat mereka tidak punya pengendalian diri. Berbeda dengan teman yang biasa saja, mereka rendah hati, namun dalam hal ini jangan salah sangka, fisik sama sekali tidak menentukan baik-buruk nya seseorang, namun biasanya nya memang seperti itu.

Luhan kini berada di gym, bukan gym milik Ayah Sehun tentu nya. Ia terlalu muak berada di lingkungan asrama, kejadian hari ini membuatnya down dan malu secara bersamaan. Tak dapat dipungkiri bahwa ia terlalu bodoh untuk dikelabuhi para komplotan fujoshi tersebut, Luhan tersenyum miris, otak nya sedikit bergeser karena ia sekamar dengan Chanyeol mungkin.

Entah sudah berapa lama ia menghabiskan waktu di tempat ini, memandang para wanita yang sedang berolahraga itu dengan pandangan malas tak berminat, walaupun biasanya ia suka berbinar ketika melakukan aktifitas ini. Luhan mengembuskan napasnya, ia meraih botol air mineral dan menegak nya hingga habis, ia terlalu larut dalam euforia berolahraga hingga lupa mengisi kembali ion tubuh nya.

"Hey! Kau bersemangat sekali kelihatan nya" lelaki tambun itu duduk disamping Luhan yang sedang mengelapi keringat nya

Luhan hanya terdiam dan melirik nya sekilas, lalu pria itu berucap lagi "Anak muda zaman sekarang sudah memiliki otot yang bagus, aku kagum sekali..." jeda sejenak, pria itu melanjutkan "Sepertinya kau juga"

"Tidak, aku belum" sahut Luhan

Lalu pria itu tertawa "Benarkah? Ahh... pantas saja kau rajin sekali datang kemari. Anak muda sepertimu harus mempunyai lekukan otot di perutnya, karena perempuan cantik zaman sekarang menyukai pria berotot daripada berponi" ujar pria itu

Luhan lantas melirik atas nya dan segera menyisir poni nya kebelakang, sebentar, apa pria itu menyindirnya? Luhan mengutuk orang disamping nya dalam hati

"Tapi membentuk otot itu tidaklah mudah dan membutuhkan perngorbanan yang ekstra, seperti latihan yang rutin juga meluangkan waktu, tetapi aku punya solusi nya, kau mau tahu?" tawar pria itu

"Apa?" sahut Luhan

Pria itu mengeluarkan sebotol kecil dari saku celana training nya, ia menyodorkan benda itu pada Luhan "Tablet ini membantu mempercepat proses pembentukan otot mu lebih cepat, hanya dalam waktu sebulan saja kau akan melihat perubahannya karena obat ini benar-benar special"

"Tidak seperti yang lain, obat ini diproduksi di Amerika dengan teknologi canggih sehingga ampuh dan efektif merangsang otot agar lebih cepat terbentuk. Jika kau tidak percaya, aku membawa brosur nya. Kau bisa melihat testimoni dari pemakai obat ini, rata-rata mereka semua mengatakan puas" cerocos pria tersebut

Luhan memijat pelipis nya, pria ini mendekatinya karena ia bukan ingin latihan di gym melainkan sales yang diam-diam menawarkan obat pada pengunjung disini. Luhan menghela napas mendengar ocehan pria tua itu, ia teringat jika obat nya yang waktu itu ia beli sudah ditukar dengan obat perangsang oleh Sehun, kebetulan juga ia membutuhkan obat itu lagi agar ia segera manly, Luhan memotong perkataan pria itu dan langsung bertanya "Berapa harga nya?"

"Sebelumnya kau tahu kan jika ada harga ada kualitas, obat ini tidak-lah mahal, hanya 95000 Won saja" ujar pria itu nyengir

"Apa?! Kenapa mahal sekali" pekik Luhan terkejut, sedikit berlebihan menurutnya harga segitu untuk satu botol

"Jika kau tidak mau ya sudah, kau tahu jika obat ini jadi best seller saat ini. Aku bisa menawarkan satu botol ini untuk pengunjung yang lain mengingat obat ini sangat ampuh dan mujarab" tukas pria itu yang hendak berdiri

"Ahh..tunggu, baiklah, aku membelinya, sebantar..." Luhan mengacak tas nya dan menemukan dompet yang beberapa lembar isinya ia berikan pada pria itu "Awas saja jika obat ini tidak bekerja..." ancam Luhan

"Kau tenang saja, hubungi aku jika obat itu tidak efektif. Aku akan menggantinya dan memberimu bonus tambahan nanti" lalu pria itu tersenyum, tangannya terampil menghintung lembaran won dan mengangguk

"Ohh ya, pernah ada salah satu yang memberikan testimoni jika ia telah berhasil mendapatkan otot nya selama 20 hari saja, menarik bukan? Ia hanya giat berlatih dan rutin meminum obat ini secara teratur, hasilnya? Ia mendapatkan ototnya hanya dalam 20 HARI SAJA, padahal obat ini menawarkan dalam waktu sebulan. Buktikan sendiri saja nanti, ok!" pria itu mengedip pada Luhan, kemudian menepuk pundak nya dan berjalan mendahului Luhan yang tengah diam mematung

"Benarkah bisa secepat itu?" gumam Luhan sambil menatap botol di genggaman nya

...

Sepulang dari gym, Luhan mampir di sebuah supermarket untuk membeli se-cup ramen. Gara-gara obat itu yang terlalu mahal, sisa uang Luhan hanya cukup untuk dibuat membeli ramen, tapi tidak apa-apa toh ramen ini hanya untuk mengganjal perut nya yang lapar sehabis olahraga. Seusai menghabiskan ramen nya, Luhan terpaku pada botol tablet tersebut, sempat berpikir beberapa menit sampai kemudian ia membuka penutup botol tersebut dan mengeluarkan isi nya, Luhan hendak meminum satu tablet tetapi ia teringat lagi ucapan pria itu tentang hasilnya yang lebih cepat 20 hari jika ia rutin olahraga dan minum obat ini, Luhan berpikir mungkin jika ia rutin olahraga dan meminum obat ini dalam dosis yang besar maka obat ini akan segera habis dan ia akan mendapatkan tubuh berotot idaman nya.

Luhan lalu tersenyum sendiri membayangkan ia akan memamerkan tubuh berotot nya nanti pada orang-orang yang telah meremehkannya, para gadis-gadis akan bertekuk lutut sambil memohon untuk dijadikan kekasih nya, bukankah ini impian nya sejak lama? Luhan semakin tidak sabar mewujudkannya. Ia telan beberapa tablet sekaligus bersamaan air mineral. Setelah nya ia tersenyum sendiri

"Lihat saja setelah ini..." seringai nya

Sementara itu, di kamar asrama Chanyeol. KaiSoo, Chanbaek, serta Sehun sedang berkumpul membicarakan masalah Luhan hari ini, Baekhyun menceritakan semuanya ketika Luhan mengatakan ia sudah tidak mau lagi berteman dengan mereka, Kyungsoo berusaha menenangkan Baekhyun yang masih sesenggukan, Baekhyun hanya merasa dirinya saja yang bersalah disini padahal semuanya juga ikut andil dalam permasalahan ini, terutama Han Sera.

Mereka berempat menjadi jengkel dengan kecerobohan gadis itu, tetapi Sehun membelanya dengan alasan bahwa Sera juga membantunya untuk mendapatkan Luhan, tidak ada yang setuju dengan pendapat Sehun, menurut mereka Sera memang telah kelewatan dan dia yang seharus nya disalahkan dalam hal ini.

Hari sudah semakin mendekati tengah malam, terbesit di hati mereka saat ini sedang mengkhawatirkan Luhan yang tidak kunjung kembali. Chanyeol berpikir bahwa Luhan takkan sudi lagi sekamar dengannya setelah mengatakan hal itu tadi sore, karena lelah menunggu dan juga khawatir, Chanyeol hendak keluar mencari Luhan namun ditahan oleh Sehun, sebaiknya Kai saja yang mencari karena ia hari ini ia belum berurusan dengan Luhan, mungkin Luhan akan mau diajak pulang jika itu adalah Kai karena lelaki ini sedikit jarang berinteraksi dengan Luhan.

Kai yang hendak melangkah terpaksa menghentikannya ketika pintu tersebut terbuka menampakkan sosok Luhan yang tengah putih memucat, laki-laki Cina itu berjalan sedikit terhuyung yang membuat kelima orang itu sedikit khawatir

"Luhan-ah, kau baik-baik saja?" ujar Kyungsoo memastikan

Luhan tidak merespon, ia bergelut dengan rasa pusing di kepala nya hingga menyebabkan dirinya seperti ini, semakin lama nyeri itu semakin menjadi-jadi, perutnya juga mual tidak tertahankan, Luhan yang terlalu lelah berolahraga menjadikan tubuhnya lemas hingga tumbang ditengah-tengah mereka berlima.

"Luhan, ada apa? Kenapa kau—"

Kelimannya panik, Baekhyun menepuk-nepuk pipi Luhan agar lelaki ini terbangun, namun sepertinya Luhan benar-benar pingsan hingga ia tak sadarkan diri. Ketika Kai, Chanyeol, dan Sehun akan menggotongnya ke kamar, tiba-tiba Luhan...

"Hoek..Hoek.."

"Astaga!" pekik Baekhyun dan Kyungsoo kompak

Mereka berlima menjadi semakin panik saat menyaksikan Luhan dengan mata terpejam memuntahkan cairan putih berbusa dari mulut nya, sempat berkecamuk pikiran-pikiran aneh di otak mereka, ini tidak bisa dibiarkan, Luhan bisa sekarat saat ini, akhirnya mereka sepakat menghubungi ambulance untuk membawa Luhan ke rumah sakit.

Sehun terus menggenggam telapak tangan Luhan yang mulai mendingin, sembari menunggu datang nya ambulan, ia terus menggumamkan kata-kata penenang walaupun Luhan sendiri takkan bisa mendengarnya, ia lalu mengecup dahi Luhan dan berbisik "Bertahanlah sebentar, Luhan. Kami semua akan selalu berada disisimu"

.

.

TBC

Alooh pakabar smuanyahh ^^ adakah yang sadar kalo FF ini gw anggurin selama sebulan :3 maaf ya author nya ribut UAS tapi kemaren udah diganti sama ff oneshoot kok :v berhubung ini udah selesai UAS nya jadi aku bebass :D sebetulnya mau ngepost kemaren tapi gara2 keasikan ngumpul sama author2 HunHan di Line akhirnya agak sedikit ngadat update nya :v

dari FF ini mari kita ambil pelajaran, kalo misalnya kalian diet jangan berlebihan ya ^^ pakai cara Sehat dan alami saja, sebelum ujian aku sempat kena muntaber gara2 telat makan dengan alasan diet, walhasil gw malah gamasuk sekolah plus dimarahi ortu sama guru -,- pokoknya jangan ditiru wehh wkwkk

See you later, and for the last... I need your review guys :)