"Luhan, bertahanlah sebentar lagi..."
Mobil ambulance yang mereka tumpangi melaju kencang, dibelakang sana Baekhyun dan Kyungsoo duduk disamping Luhan yang terbaring tak sadarkan diri, pemuda Cina itu semakin lama semakin pucat dengan diikuti bibirnya yang memutih, kedua laki-laki yang menemani dengan sigap membersihkan sisa-sisa muntahan yang melewati sudut bibir Luhan, mereka harap-harap cemas, semoga Luhan baik-baik saja.
"Tuhan, tolong selamatkan Luhan"
Itu adalah permohonan Baekhyun, ia merasa bersalah atas kejadian beberapa hari terakhir. Dia sudah menduga bahwa Luhan berniat bunuh diri kali ini, Baekhyun jadi merasa berdosa, ditengah do'a nya ia tersentak ketika Luhan memuntahkan cairannya lagi, kedua nya jadi panik.
"Paman, tolong lebih cepat!" teriak Kyungsoo panik
Salah seorang petugas yang ada disana mencoba mencairkan keadaan, perawat perempuan itu meminta Kyungsoo dan Baekhyun tenang. Ia mengatakan bahwa Luhan akan baik-baik saja, namun jika menoleh dan mengamati keadaan Luhan, pemuda China itu jauh dari kata baik.
Kekhawatiran mereka sempat berkurang ketika ambulan yang mereka tumpangi berhenti, dalam sekejap tubuh Luhan sudah dipindahkan dan segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Baekhyun dan Kyungsoo mengikuti perawat-perawat tersebut dan harus terhenti karena hanya dokter dan perawat yang boleh masuk.
Keduanya terduduk dengan napas yang belum teratur, ini sudah malam hari, seharusnya mereka telah terbang kealam mimpi, tapi keadaan memaksa mereka tetap siaga. Luhan tidak memiliki siapapun disini, jika mereka pulang bagaimana nasib Luhan kemudian. Memikirkan bagaimana respon keluarganya di China membuat keduanya jadi semakin resah, siapa yang akan disalahkan atas kejadian ini nanti.
"Kyungsoo, Baekhyun, bagaimana keadaanya?"
Sehun, Kai, dan Chanyeol baru sampai di rumah sakit. Mereka menyusul belakangan dengan mengendarai mobil, alasan mereka terlambat adalah karena terus di damprat puluhan pertanyaan oleh penjaga asrama, untung nya mereka bagi tugas, Sehun yang menyiapkan mobil, Chanyeol yang diintrogasi, dan Kai yang membereskan keperluan Luhan untuk dibawa ke rumah sakit.
"Dia sudah ditangani dokter" Baekhyun menjawab lemah
Ketiganya mengembuskan napas, sedikit lega mendengarnya. Tiba-tiba Baekhyun bangkit dan memeluk Chanyeol erat, lelaki itu menangis sejadi-jadinya di dada Chanyeol "Chanie, bagaimana ini? Hiks.. aku bersalah dalam hal ini, Luhan pasti berniat bunuh diri, ini semua karena ku kan? Ini semua salahku hiks..."
"Tidak. Ini salah kami semua, Baekhyun kumohon, jangan terus meyalahkan dirimu sendiri" Chanyeol mengusap pucuk kepala Baekhyun, sebetulnya bukan Baekhyun saja yang merasakan hal itu namun semuanya juga merasa sama, mereka yang bersalah dalam hal ini, dan bukan hanya Baekhyun saja.
"Tapi, Chan, bagaimana jika Luhan tidak selamat? Bagaimana jika—"
"Stop Baek! Jangan bicara lagi" Sehun memotong nya, ditengah keadaan genting seperti ini bukannya berdoa malah ribut memperdebatkan siapa yang bersalah. Sehun jengah tentu saja, namun rasa khawatirnya lebih mendominasi, dugaan awalnya adalah Luhan overdosis, dan bisa jadi Luhan berniat bunuh diri, tapi apa lelaki itu begitu bodoh hanya karena tidak dibilang manly, jadi frustasi seperti itu lalu bunuh diri? Menggelikan –pikirnya
Selama beberapa menit mereka terdiam, menatap pintu ruangan tersebut dengan penuh harap. Ditengah keheningan ponsel Chanyeol berdering, si pemilik sedikit terkejut ketika mengetahui siapa yang menelponnya
"Hey! Bagaimana ini? Apa yang harus ku katakan?"
Chanyeol menunjukkan layar ponselnya, ke-empat temannya itu ikut merasa cemas. Tidak tahu penjelasan apa yang harus diberikan, tidak mungkin juga mereka mengatakan Luhan overdosis karena tidak dibilang manly atau Luhan sengaja bunuh diri dengan meminum banyak pil. Kai memberinya kode untuk segera mengangkat panggilan tersebut, orang itu pasti khawatir dengan keadaan Luhan.
"Ya, Mama..." ujarnya sedikit ragu
"CHANYEOL, BAGAIMANA KEADAAN ANAKKU DISANA?!" dan Chanyeol menyumpah dalam hati, bahwa ia bingung harus menjawab apa pada Ibu si rusa cantik ini.
.
.
Damn I'm Manly Oh Sehun!
Chapter 07
-Stupid Luhan-
By: HunHan SeRaXi
.
.
"Padahal aku sudah mengambil jam terbang paling cepat,tapi kenapa rasanya lama sekali? Tak bisakah pilot-pilot itu ngebut di udara?" runtuk seorang wanita yang merupakan Ibu Luhan, daritadi ia duduk tak tenang di dalam pesawat akibat memikirkan kondisi putranya disana.
"Mama, tenanglah. Luhan sudah dibawa ke rumah sakit, ia pasti sudah mendapatkan penanganan dari dokter" ujar Lao Gao disamping Ibu Luhan, malam-malam hari ia terpaksa menemani wanita itu terbang ke Korea karena kondisi Luhan yang tiba-tiba dibawa ke rumah sakit. Sebagai seorang sahabat yang telah mengenal Luhan maupun keluarganya, tentu ia merasa sungkan ketika dimintai bantuan.
"Tapi tetap saja, aku Mamanya. Tidak ada yang lebih membuatku khawatir daripada ini. Sungguh, apa yang sebenarnya terjadi pada putraku? Kenapa Chanyeol tidak memberikan penjelasan yang detil?"
Lao Gao memeluk wanita itu layaknya Ibu nya sendiri, sejak kecil ia memang telah menganggap kedua orang tua Luhan jugalah orang tuanya, mereka banyak membantu dalam kehidupan Lao Gao yang pas-pasan. Melihat wanita itu cemas, membuatnya juga ikut khawatir, semoga saja Luhan sadar ketika mereka datang nanti.
"Mama, percayalah padaku. Luhan akan baik-baik saja, aku mengenal temanku itu dengan baik"
...
Selang infus itu hampir melilit sebagian tubuh Luhan, ia belum sadar pasca operasi dadakan tadi. Setidaknya kelima temannya itu bersyukur karena Luhan selamat, dugaan mereka benar bahwa Luhan mengalami overdosis, dokter itu dengan sigap telah menguras usus Luhan, dan sebentar lagi mungkin Luhan akan kesulitan makan dan minum karena organ pencernaannya yang tidak stabil, hanya infus-infus itulah yang memberikan Luhan asupan pengganti makanan.
"Apa kita akan tetap disini sampai pagi?" cetus Kai
"Tapi bagaimana dengan Luhan?" Sahut Baekhyun
Kelima pemuda itu uring-uringan, mereka bingung menentukan pilihan, apakah pagi ini mereka berlima akan membolos serentak karena tanggung jawab menjaga Luhan, atau berjaga secara bergantian, sedangkan yang lain masuk sekolah. Luhan masih belum sadar akibat efek bius, mereka tidak berani meninggalkan Luhan begitu saja, mengingat mereka sendiri yang menyebabkan Luhan seperti ini.
Pintu kamar terbuka dengan keras, membuat kelima pemuda itu tersentak dan sontak menoleh kesumber suara. Wanita dengan raut cemas yang ditemani seorang pemuda berisi dengan pipi yang dipenuhi brewok, berlari kearah Luhan yang bahkan masih memejamkan mata. Wanita itu menangis melihat kondisi putranya secara langsung.
"Luhan, Mama disini sayang" wanita yang merupakan Ibu Luhan itu memeluk anak nya erat
Sehun menyenggol lengan Chanyeol, matanya seolah meminta penjelasan pada sahabat tiang nya "Dia ibu nya Luhan, dan kurasa lelaki itu teman nya" bisik Chanyeol
Kelima nya berdiri berjejer, saling diam, dan tak ingin menyambut kedatangan wanita itu. Mereka takut untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi, walaupun opini mereka belum tentu benar. Wanita itu menyudahi acara tangis-menangis nya, matanya melirik kearah lima pemuda yang nampak diam membisu, sorot tajamnya jatuh pada sosok Chanyeol, hanya laki-laki itulah yang ia kenal.
Wanita itu berjalan kearah Chanyeol, yang ditatap itu semakin gugup, Chanyeol bahkan harus menahan napas nya ketika wanita itu berhenti tepat dihadapannya "Ceritakan semuanya padaku, Chanyeol"
Seketika Chanyeol menelan ludah, gugup.
...
Perlahan mata nya terbuka, ia mengerjab beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina nya, ia melirik keseliling, seluruh ruangan ini bercat putih dan juga bau nya seperti... tunggu, ini tidak seperti biasanya, jangan katakan bahwa ia berada di...
"Oh, tidak!" gumam nya, ia angkat telapak tangannya dan selang infus menempel disana
Pantas saja ia merasa aneh, tapi Luhan tidak ingat, apa yang menyebabkan ia sampai berada disini? Ia ingin bangkit namun urung saat merasakan perutnya yang masih perih, dengan ragu ia mengarahkan tangannya pada perut, dan benar, ada bekas jahitan disana.
Luhan mengembuskan napasnya lagi, kenapa ia begitu sial? Seluruh gerutuannya teredam ketika pintu ruangan kamar nya terbuka, menampakkan sosok Ibu beserta Lao Gao. Luhan lantas mengernyit? Kenapa mereka berada disini? Atau jangan-jangan...
"Luhan kau sudah—"
"Apa sekarang aku berada di China?" Luhan memotong perkataan ibu nya
"Tidak, kami yang dari China datang menjenguk mu" sahut Lao Gao
"Sebenarnya aku ini kenapa? Kenapa tiba-tiba aku berada disini, lalu kalian datang menjengukku?"
Lao Gao beserta ibunya terdiam, sang sahabat itu mengerutkan dahi, merasa aneh dengan ucapan Luhan barusan, "Seharusnya kami yang bertanya, kenapa kau sampai overdosis begini? Apa kau berniat mengakhiri hidup di negara orang?"
Kini giliran Luhan yang terdiam, apa katanya tadi? Ia overdosis, bunuh diri, namun sungguh ia merasa tidak memiliki niatan seperti itu. Ia termenung, seingatnya ia tak melakukan percobaan bunuh diri. Hell, yang benar saja, ia terlalu konyol mengakhiri hidup nya disini, cita-cita nya saja belum tercapai dan apa-apaan itu dengan tuduhan percobaan bunuh diri? Ia kemudian menatap Lao Gao penuh tanya
"Lao Gao, seingatku, aku tidak berniat seperti itu" ujarnya ringan
"Lalu apa? Dokter bahkan telah menguras usus mu semalam" Lao Gao mengembuskan napas, merasa sahabatnya ini begitu tolol sejak berada di Korea
"Sudahlah, Luhan baru saja sadar dan kau mengajak nya bertengkar" Ibu Luhan memukul kepala Lao Gao dengan kepalan tangannya
"Luhan, dari penjelasan dokter. Kau mengalami overdosis obat pembentuk otot, sekarang Mama tanya, apa kau berniat menjadi binaragawan sekarang?" sang Ibu memberikan tatapan tajam nya pada Luhan, ia sudah menyiapkan semburan kata-kata serapah nya pada sang putra jika terbangun nanti, ditatap nya Luhan yang tengah menggigiti bibir, anaknya itu pasti menyiapkan alasan yang bagus untuk kebohongannya.
"Walau kau memberikan alasan, Mama takkan percaya. Aku lebih percaya penjelasan dokter kali ini" ujar Ibu nya dengan nada dingin, baik Luhan maupun Lao Gao terdiam, sahabatnya dari China itu bahkan baru mengetahui sekarang jika Luhan overdosis obat pembentuk otot. Tunggu, seingatnya ia pernah memberikan saran itu pada Luhan, dan sekarang...
"Hey! Apa sampai saat ini kau masih berniat manly?" ujar Lao Gao spontan
Ibu Luhan mengernyit, ia menatap Lao Gao dengan penuh tanya "Apa maksudmu?"
"Mati aku" ucap Luhan dalam hati
"Luhan, aku tak tahu kau benar-benar bodoh atau bagaimana, demi Tuhan, kau membahayakan keselamatanmu sendiri hanya karena keinginan konyol mu itu. Sekarang aku sadar selama ini aku salah, sejak dulu aku selalu membelamu dengan mengatakan 'Ya, kau adalah ssang namja' tapi kutegaskan sekarang bahwa SELAMA INI AKU BERBOHONG! Sebagai sahabat tentu aku tidak ingin mengecewakanmu, tapi—"
Lao Gao mengambil napas sejenak, baik Luhan maupun Ibu nya tak ada yang mengeluarkan suara. Lelaki berisi itu memijit pelipis nya karena emosi yang sudah memuncak, ia benar-benar merasa dungu selama ini
"Maafkan aku, aku tahu seharusnya aku mencegahmu melakukan hal itu, aku lupa bahwa kau teman yang ambisius, kau harus selalu mendapatkan apa yang kau inginkan, tapi inilah anugerah yang Tuhan berikan padamu, sejak dulu aku setuju jika orang yang baru pertama kali melihatmu pasti mengira kau adalah perempuan, wajahmu ditakdirkan cantik, tapi tolong Lu, kau sudah kelewat batas. Kau kurang bersyukur selama ini, kenapa kau begitu ingin berubah? Jika sudah seperti ini, bukankah kau sendiri yang akan merugi?"
Luhan menundukkan kepalanya, ia kecewa mendengar ucapan Lao Gao barusan. Ia pikir Lao Gao akan mendukung keinginan nya, memberinya semangat hingga titik akhir, juga membelanya walaupun tidak ada orang yang mau mengakuinya di dunia ini, tiba-tiba setitik air mata menggenang dipelupuk mata Luhan
"Luhan, hantikan cita-cita manly mu itu. Cobalah menerima yang sudah ada, kau sempurna, Luhan! Sungguh, banyak orang-orang yang iri padamu, kau boleh saja berubah, tapi tolong, jangan sampai membahayakan dirimu sendiri" pesan Lao Gao, nada nya berubah lembut dengan tatapan sarat permohonan pada Luhan
"Aku tidak menyangka bahwa selama ini- hiks.. kau juga sama seperti orang lain, apakah kau juga setuju jika aku menjadi pria gay saja, hah?! Aku cantik dan ditakdirkan menjadi submissive begitu? Kau memintaku menerima keadaan, mencoba bangga dengan kelebihanku yang berwajah cantik lalu mengencani pria-pria gay diluaran sana? Itukah maumu? Sungguh, aku kecewa padamu Lao Gao!" teriak Luhan, kemudian ia menangis sesenggukan. Sang Ibu disampingnya sedikit terkejut, mengetahui bahwa putranya banyak menyembunyikan sesuatu darinya, termasuk hal ini, wanita itu menyesalinya sekarang.
"Lao Gao, ikut aku keluar" titah Ibu Luhan, dan yang diminta itu mengangguk. Meninggalkan Luhan sendiri yang tengah menangis didalam kamar inap
...
"One..,Two..,Three..,Four.."
"...Five, six.., seven..,eight..."
Beberapa orang di dalam ruang tari nampak fokus menatap ke cermin, mereka menirukan gerakan yang dipraktekkan sang guru sambil ikut menghitung, salah satu diantara mereka termasuk Sehun, Kai, dan Chanyeol, mereka tergabung dalam klub dance dan diminta mengisi acara dalam pagelaran hari jadi sekolahnya. Saat ini, seluruh siswa sibuk berlatih menyiapkan diri dalam pertunjukkan tersebut, mereka tidak ingin menyia-nyiakannya karena pertunjukkan tersebut akan dihadiri beberapa staff dari agensi besar.
Sehun mengikuti instruksi tersebut ala kadarnya, pikirannya saat ini terpecah antara berlatih untuk persiapan hari jadi Sekolah dan keadaan Luhan di rumah sakit pasca operasi. Rusa China itu pasti telah sadar, tadi pagi mereka berlima diminta kembali ke asrama oleh Ibu Luhan, setelah latihan ini selesai ia berinisiatif untuk menjenguk Luhan di rumah sakit.
"Latihan untuk part ke-3 selsai, istirahat 15 menit"
Beberapa siswa disana duduk di pinggiran ruangan sambil menenggak sebotol air mineral, seperti biasa Sehun, Kai, dan Chanyeol akan duduk berdampingan dan membicarakan sesuatu bersama.
"Sehun, kau nampak tak fokus. Memikirkan Luhan?" celetuk Chanyeol, dengan sedikit cengiran
"Kenapa kau menanyakan yang sudah jelas jawabannya?" Kai menimpali, ia mengusap peluh yang terus bercucuran dari dahinya
"Sayang sekali, dia tidak akan bisa ikut andil dalam pertunjukkan ini" tukas Sehun sambil memandang ke depan
"Benar, padahal ini adalah tahun terakhirnya di sekolah ini. Dia melewatkan momen yang bagus" Kai berujar lesu
"Apa kalian juga akan menjenguk Luhan setelah jam sekolah?" sahut Sehun, kedua temannya itu mengangguk
"Tentu saja, tapi aku tidak yakin. Songsaenim pasti akan menahan kita seharian disini, Baekhyun dan Kyungsoo juga" timpal Chanyeol
"Ahh.. Chanyeol ada benarnya juga, kurasa dua hari ke depan kita akan terus disibukkan dengan latihan" Kai lantas teringat
"Lalu aku harus bagaimana?" gerutu Sehun, sejak pagi tadi ia uring-uringan memikirkan kondisi Luhan disana, ia ingin melihat Luhan, dan ketika matanya melihat Luhan baik-baik saja. Ia baru akan merasa tenang.
"Tenanglah, biasanya sehari sebelum pertunjukkan, guru-guru akan sibuk mempersiapkan segalanya. Seluruh siswa akan diliburkan, dan kita bisa menjenguknya. Jadi, agar kita tidak perlu latihan lagi hari itu, sebaiknya kita mantapkan saja gerakannya mulai hari ini" saran Chanyeol, ketiga nya lalu melakukan high five, walaupun Sehun sempat merasa keberatan namun perkataan Chanyeol ada benarnya juga.
...
Luhan merasa bosan, tadi ia baru saja bangun tidur, dan 3 jam kemudian ia sudah menguap lagi. Rusa China itu menatap layar televisi di depannya dengan ogah-ogahan, tidak ada acara yang menarik menurutnya, Ibunya berserta Lao Gao sedang keluar membeli beberapa snack dan camilan. Luhan mendesah, ia tidak dapat makan apa-apa, ingin rasanya ia meminta snack Lao Gao secuil saja. Tapi terkadang tidak dibuat makan pun rasanya masih berdenyut-denyut nyeri, Luhan merasa tidak nyaman, sesekali ia ingin muntah tapi tak bisa, keadaanya saat ini begitu menyiksa.
Lagi-lagi Luhan melamun, mengingat flashback tadi pagi ketika ia terbangun, Lao Gao yang menyemburkan kata-kata pedas untuk nya, membuat rasa sakit hati itu masih ada hingga saat ini. Luhan mendesah, ia tatap layar ponsel nya yang tengah mati, dapat ia lihat bayangan wajah nya sendiri di layar hitam tersebut, ia pandangi pantulan bayangan tersebut lamat-lamat, dan sebuah bisikan seakan memberinya pendapat tersendiri
'Kau cantik, Luhan'
Luhan menggelengkan kepala nya, itu tadi ia salah sebut, ia pandangi lagi wajah nya dan sebagian hati nya mengatakan hal tersebut, namun otak dan hatinya seakan berperang batin, dengan segara kerasionalannya si otak mengatakan 'Luhan itu laki-laki, dan mana mungkin cantik?!' lalu disahut oleh kata hati 'Tapi aku lebih jujur, pendapatku mengatakan bahwa Luhan memang berwajah cantik'
Dan sekarang Luhan harus berpihak kemana? Baiklah, kesampingkan dulu segala kekeras kepalaanmu, mari pandangi bayangan Luhan sekali lagi, kuperingatkan jangan munafik kali ini, jawab dengan jujur, Apakah Luhan memang cantik? Hasilnya, 85% mengatakan ya, dan sisanya tidak. Beberapa responden yang mengatakan tidak, sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang menjawab Ya adalah akibat mereka ikut-ikutan kata orang. Tapi mari kita kaji kembali, apakah kata Tampan, Cool, Maskulin, Macho, dan Kekar pantas disematkan pada Luhan? :v Lalu kuberi perbandingan, bagaimana dengan kata Imut, menggemaskan, manis, dan -ehm.. cantik, apakah lebih pantas disematkan pada Luhan? Semuanya terserah padamu, kawan! ^^
"Arghh! Aku bisa gila sekarang, bagaimana bisa?!" rancau nya tidak terima, sedikit meringis karena pergerakannya tadi mempengaruhi bekas jahitan di perutnya, ada rasa nyeri yang tak tertahankan ketika ia bergerak-gerak seperti tadi.
Luhan menundukkan kepalanya, ia lelah membahas dirinya sendiri apakah ia tampan atau cantik? Jika dipikir lagi, kata Lao Gao tadi pagi sedikit memberinya pencerahan selama ini, ia terlalu gegabah menginginkan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya sendiri. Dan juga teman-temannya, ahh.. ia jadi teringat dengan kelima teman idiotnya itu, seharusnya ia berterimakasih. Mereka telah menyelamatkan nyawa nya dengan membawanya kesini, huhh.. memikirkan mereka membuat sebagian dari dirinya merasa bersalah.
Pintu kamarnya terbuka, Luhan cepat-cepat menyahut "Mama, aku ingin ngemil..." rengeknya
"Ouchh.. Baby deer ku sayang, lihat noona bawakan kau banyak buah"
Setelah mengucapkan itu gerombolan gadis itu tertawa, Luhan tercekat, ia menoleh dan tidak mendapati Ibu nya maupun Lao Gao disana, melainkan... –kumpulan Fujoshi sialan itu..
"Luhan, apakah kau sudah baikan? Aku bergidik ngeri selama di sekolah, kenapa Baekhyun sunbae menatapku seperti itu? Ia marah-marah padaku tanpa sebab, lalu menuduhku yang membuat dirimu seperti ini" Sera mulai bercerocos, Luhan saja enggan mendengarnya
"Yak! Kau tidak mendengarkanku, ok, maaf. Aku hanya membuatmu terhipnotis saat itu, tapi bagaimana bisa kau sampai masuk rumah sakit begini?" Sera bertanya lagi, ia bahkan tanpa sungkan duduk di pinggiran ranjang Luhan dengan pasukannya yang ikut mengitari
"Bisakah kalian pulang saja? Aku merasa semakin parah melihat kalian datang" Luhan berujar datar, bahkan terkesan dingin
"Apa! Bahkan kita tadi patungan untuk membelikanmu bingkisan ini, kau tidak menghargai kedatangan kami?" tukas Dayoung tak terima
"Kalian tahu aku bahkan hanya mendapatkan asupan dari selang ini" Luhan mengangkat tangan yang ditempeli infus itu tinggi-tinggi
"Wah kebetulan, aku daritadi menginginkan apel merah itu" sahut Hera, Sera yang berada disamping Luhan merobek plastik bingkisan tersebut dan melemparkan apel merah kearah Hera
"Karena baby deer kita tidak bisa makan, yasudah kita nikmati saja. Toh, uang kita juga kan?" cetus Sera dan teman-temannya itu mengangguk setuju
"Oh ya, Luhan, dimana pisau nya?" dan dengan tidak etis nya, gadis-gadis itu malah mengupas apel tepat dihadapan Luhan, yang melihat itu hanya bisa meneguk liur, sial sekali pikirnya
"Sayang sekali, apel ini begitu manis" ujar Yerin sememelas mungkin, ia prihatin pada Luhan
"BIADAB KALIAN SEMUA! SUDAH, SANA PERGI. KALIAN MEMBUATKU MUAK" teriak Luhan kencang, Hera bahkan sampai terbatuk karena terkejut
"Luhan, kenapa kau begitu angkuh? Kami dengan tulus ingin menjengukmu, sungguh, aku merasa bersalah karena tadi pagi Baekhyun dan Kyungsoo sunbae menegur kami habis-habisan. Aku tidak tahu kau sampai dirawat di rumah sakit, karena itulah kami mengenjungimu" ucapan Sera tidak main-main kali ini, Luhan dapat melihat air muka gadis itu memerah menahan tangis atau lebih tepatnya kecewa. Ia tidak menyangka respon Luhan akan seperti ini jadinya
"Sunbae, bahkan sebelum kesini, kami telah menyusun rencana. Tidak mudah keluar area sekolah saat ini karena banyak siswa dan guru yang mempersiapkan acara hari jadi sekolah. Aku sendiri yakin, teman-temanmu itu pasti belum datang menjengukmu kan? Kami dengan nekat keluar sekolah karena ingin menjengukmu, dan kau marah-marah seperti ini. Sungguh, kau keterlaluan Luhan sunbae" Yujin ikut-ikutan membela Sera, sebenarnya bukan ia saja yang merasa seperti itu, namun semuanya. Gadis-gadis itu lantas menundukkan kepalanya sedih.
"Teman-teman, sebaiknya kita pulang saja. Luhan sunbae akan semakin parah karena kehadiran kita" ujar Hera lemah
"Ya, aku setuju, aku keluar saja" Dayoung ikut menyahut
"Maafkan aku Luhan, baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi mulai saat ini" Sera menunduk, lantas ia bangkit sembari membenahi letak ransel di punggung nya, namun secara tiba-tiba Luhan menahan pergerakan gadis itu yang membuatnya menoleh 'Apa?' –responnya.
"Apa katamu tadi, hari jadi sekolah?" Luhan mencoba memperjelas keterangan mereka
"Ya, pagelaran besar yang diadakan setahun sekali. Ini akan jadi momen yang dinantikan, karena... akan dihadiri oleh beberapa staff dari agensi besar"
Binar rusa nya membola, apa ia tidak salah dengar tadi? Oh astaga! Kali ini kesialannya berlipat ganda. Tanpa dikontrol Luhan bahkan melongo, menyesali perbuatannya yang gegabah, rasakan kau Luhan! sekarang kau tidak bisa mengikuti pagelaran itu kan? Ini gara-gara keinginan manly mu, sekarang rasakan sendiri dampaknya! Padahal ini adalah tahun terakhirnya dan betapa Luhan menyesal setengah mati tidak dapat mengikutinya.
Dan tanpa ia sadari, gadis-gadis itu telah lenyap dari pandangannya. Kini Luhan kembali sendiri sambil meratapi nasib.
...
Sehun beserta Kai memasuki asrama Chanyeol tanpa permisi, sudah menjadi kebiasaaan, untuk apa juga ia bersikap sopan santun dihadapan sohib karibnya ini. Keduanya mengedarkan pandangan, tidak melihat sosok tinggi itu dimanapun, mungkin sedang mandi. Mereka berniat latihan bersama untuk yang terakhir kali malam ini, karena besok mereka akan bersama-sama menjenguk Luhan di rumah sakit.
"Woy! Dobi, kami sudah datang" ujar Kai dengan lantang nya
"Mungkin dia sedang menghabiskan sabun dikamar mandi" timpal Sehun, tiba-tiba mereka terkikik
"Ahh benar, sudahlah. Ayo kita duduk" Kai berjalan mendahului, ia tidak melihat kebawah dan tanpa ia sadari ia tergelincir sesuatu
Bruuk..
Aduh!
"Kau tidak apa-apa?" Sehun spontan berlutut
Kai tidak merespon, ia lantas mencari-cari sesuatu dibawahnya. Ahh.. ternyata benda ini yang membuatnya terpeleset. Namun Kai menyipitkan matanya lagi, mengamati dengan jeli benda tersebut sambil mengernyit heran "Aku tidak tahu jika Chanyeol mengonsumsi ini"
Dalam sekejap benda tersebut direbut paksa oleh Sehun, ia ikut mengamati dengan seksama sebuah botol kecil bertuliskan 'Obat Pembentuk Otot' lalu pemuda pucat itu mendesah, lagi-lagi –pikirnya. Ia buka botol tersebut dan isinya tinggal beberapa kapsul saja, padahal dalam keterangan obat itu hanya berisi 50 kapsul dengan dosis 2 kali sehari.
"RUSA CANTIK ITU BENAR-BENAR! DIA TIDAK PERNAH KAPOK RUPANYA" geram Sehun menjadi-jadi, matanya berkilat penuh kemarahan, kini ia tahu apa yang menyebabkan Luhan hingga seperti ini. Ia lantas mengusap bawah dagu nya, merasa lelah dengan semua tingkah pujaan hatinya ini.
"Apa yang terjadi?" tahu-tahu Chanyeol menyembul dari belakang, pemuda tinggi itu sudah berpenampilan rapi
"Luhan benar-benar overdosis, dia begitu bodoh" ujarnya dingin
Lalu keheningan terjadi setelahnya.
...
Esoknya sesuai rencana, mereka berlima datang dengan membawa sebuket bunga dan bingkisan buah seperti kemarin. Luhan saat itu bahkan tubuhnya baru saja diusap dengan air hangat. Ia tengah duduk menatap keluar lewat jendela kamarnya. Luhan melenguh, tiba-tiba saja pintunya terbuka dan merasakan kehadiran orang banyak diruangannya, yang sakit itu lantas menoleh dan terkejut ketika teman-teman idiotnya itu yang datang.
"Luhan, apakah kau sudah baikan?"
Bahkan dengan senyum ceria nya, Kyungsoo menyapa seperti biasa. Seolah melupakan perkataan nya kemarin yang begitu menyinggung mereka semua, Luhan tetap terdiam, ia merasa sedikit tidak enak ketika akan mengucapkan sesuatu, ia takut ucapannya yang keluar akan menyakiti perasaan temannya lagi.
Pintu terbuka lagi, Ibu nya sedikit terkejut mengetahui ada teman-teman Luhan yang datang menjenguk, termasuk Chanyeol. Dengan ramah sang Ibu mempersilahkan mereka duduk dan Baekhyun menyerahkan bawaan mereka "Ini untuk Luhan" ujarnya lembut
"Kalian begitu baik, apa kalian tidak sekolah hari ini?" tanya Ibu Luhan, kelima pemuda itu menggeleng
"Hari ini sekolah diliburkan" Chanyeol menyahut
"Ahh..begitu ya, sebetulnya aku berniat mengunjungi temanku disini. Apa kalian bisa menemani Luhan sebentar?, aku tidak akan lama. Lagipula Lao Gao sedang berada di bank"
"Lao Gao?" Sehun mengernyit, merasa tidak asing dengan nama itu
"Ahh.. dia sahabat karibnya Luhan di China" buru-buru sang Ibu menyela, kini Sehun paham. Ia mengangguk sebagai respon
"Kalau begitu Mama tinggal dulu ya, Lu" sang Ibu itu mengecup kening putra nya lalu berlalu meninggalkan ruangan inap Luhan
"Lagi-lagi aku ditinggal" desahnya parau
Kini Sehun mendekat, Luhan yang merasa was-was memberikan tatapan intimidasi pada lelaki pucat itu. Sehun menarik sudut bibirnya khas, dengan begitu dingin ia berujar "Kau tidak berubah, Lu" ia angkat botol kapsul itu dari sakunya dan mengarahkannya tepat didepan mata Luhan
"Apa kau tidak kapok saat aku menukar obatmu saat itu?" suaranya makin memelan, bahkan terkesan mendesis
"Ak..aku—"
"Kau sungguh membuat kami khawatir, Lu. Kau tahu Baekhyun hingga tak bisa tidur karena terus menyalahkan dirinya. Padahal ini semua akibat ulahmu sendiri" Sehun bahkan melempar botol itu hingga mengenai dahi Luhan. ia tidak peduli, ia terlalu emosi pada rusa China ini
"Kau mengatakannya sendiri, bahwa kau sudah memutuskan hubungan dengan kami. Tapi apa? Kami terlalu peduli padamu dengan membawamu ke rumah sakit. Seharusnya aku membiarkanmu sekarat waktu itu" desis Chanyeol
"Chanyeol, hentikan" potong Baekhyun, ia tahu dirinya lebih sakit disini. Tapi ia begitu takut untuk membentak seseorang yang bahkan terkapar lemah di rumah sakit
"Mulai saat ini kami tidak akan mengganggu mu lagi" sahut Kai, Luhan terdiam seribu bahasa. Ia teringat ucapan Sera kemarin, kata-kata tersebut sama persis dan tepat menusuk relung jiwanya
"Maaf, jika kami terus mengatakan kau cantik. Kami berbohong, kau tampan" Kyungsoo ikut berkomentar, semua teman-temannya berwajah kaku. Sama sekali tidak menunjukkan wajah bersahabat padanya
Baekhyun perlahan mendekat kearahnya, dengan wajah menunduk ia berkata "Kami seharusnya tidak menjengukmu, kau bukan lagi bagian dari kami. Kami semua hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, setelah ini kau bebas, lakukan apapun sesukamu tanpa kami. Chanyeol mungkin diam-diam akan menumpang di asrama ku"
Luhan tidak tahu harus berucap apa, ia sedih, sangat sedih mengetahui teman-temannya kali ini berusaha menghindar darinya, tapi bukankah ini keinginannya juga? Lalu kenapa ia merasa keberatan sekarang?.
"Ohh ya, aku hampir lupa, ini undangan untukmu. Seharusnya ini ditujukan untuk wali murid dan tamu, tapi kau juga siswa disekolah ini, jadi aku meminta lebih kemarin pada songsaenim. Aku harap kau juga datang besok malam"
Baekhyun meletakkan undangan itu di nakas, tepat samping Luhan. tulisan 'Seoul Academy Music School 32nd Anniversary' tercetak dengan jelas dan berukuran lebih besar diantara yang lain. Luhan menelan ludahnya, ia begitu ingin menghadiri acara itu atau lebih tapatnya ia juga ingin mengisi acara dalam pagelaran itu. Rasa penyesalan itu terus menggerogoti hatinya setiap hari.
"Kalau begitu kami pamit, Luhan"
Dan lagi, teman-teman yang menjenguknya pulang dengan perasaan kecewa.
...
Malam ini adalah saat yang paling dinantikan oleh seluruh siswa disekolah ini, beberapa dari mereka sibuk berlatih di jam-jam sempit sambil menunggu giliran rias, wardrobe yang berkilauan disana-sini, kostum-kostum bak anime jepang, serta penampilan nyentrik ala remaja Korea sekarang, tak luput dari pandangan setiap orang. Beberapa tamu yang datang sudah memenuhi kursi, bersiap menonton pertunjukkan yang akan dibawakan oleh anak-anak mereka, betapa bangga nya sebagai orang tua melihat anak nya berbakat dalam bidang seni, yang mana merupakan bakal calon artis dimasa depan.
Keriuhan suasana dibalik panggung, termasuk juga Baekhyun dan Kyungsoo yang menjadi anggota paduan suara malam ini, akan menyanyikan sebuah lagu resmi sekolah ini, dimana setiap liriknya termuat visi, dan misi didalam nya. Anggota paduan suara ini bahkan beranggotakan 100 siswa campuran, andai saja Luhan tidak sakit, pasti ia akan tergabung juga disini.
Sama hal nya dengan Chanyeol, Sehun, dan Kai. Kostum mereka sekilas sama, perpaduan antara hitam dan putih dengan aksesori rantai dibeberapa bagian. Rambut mereka ditata sedemikian rupa, dengan tambahan bulu-bulu tipis di poni nya, juga riasan gelap yang membuat penampilan mereka kali ini terlihat luar biasa. Kali ini mereka tidak tampil bertiga, melainkan ber-lima dengan tambahan Irene dan Seulgi yang merupakan junior mereka.
"Aku tidak percaya, aku bisa melakukan kolaborasi dengan Sehun sunbae" bisik-bisik antara Irene dan Seulgi ketika mereka tengah dirias
"Yahh...akhirnya usahamu tidak sia-sia" Seulgi melirik malas kearah Irene, ia menggerutu. Kenapa ia tidak satu tim dengan Onew sunbae yang merupakan kakak kelas incarannya
Kai nampak nya tetap melanjutkan gladhi nya diwaktu sesempit ini, Sehun tidak peduli, ia acuh, ditatapnya sekali lagi bayangannya di cermin, seperti ada yang kurang batinnya, ia ubah posisi jepit tindik di telinga kirinya agak naik keatas, sekarang penampilannya sedikit lebih baik. Saat ia sedang berkutat dengan cermin, tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nama Minho Hyung dalam layarnya.
Sehun membiarkan ponsel itu berbunyi, ia berpikir ragu, mungkinkah Hyung nya datang ke acara ini? Tidak mungkin. Sepengetahuannya Ayah beserta Hyung nya itu tidak pernah merestui keinginannya bersekolah disini, tapi Hyung nya itu tidak mungkin menghubunginya jika tidak ada masalah serius yang penting, akhirnya ponsel itu kembali diam. Tapi selang beberapa detik kemudian berdering lagi dengan nama penelpon yang sama.
Sehun menyerah, ia takut terjadi apa-apa. Akhirnya ia menjawab panggilan tersebut "Ya, Hyung.."
"Sehun, cepat pergi ke rumah sakit! Ibu sudah sadar, dia terus memanggilmu saat ini"
Mimik muka Sehun mengeras, seluruh tubuhnya menegang ditempat. Ia bahkan mengabaikan ucapan Hyung nya di telepon, seluruh persendiannya melemas, ia tidak percaya ini, akhirnya sang Ibu bangun dari koma. Dengan langkah cepat, ia berlari meninggalkan ruang rias, mengabaikan seruan Chanyeol beserta Kai yang memanggilnya. Kali ini ia tidak peduli akan tampil, saat ini tujuan utama nya adalah Rumah sakit, Sehun harus segera sampai disana menemui ibu nya.
Sehun berlari dengan kencang, beberapa siswa sampai menatapnya heran, meskipun begitu ia apatis, sampai-sampai seorang wanita yang tengah memegang papan data itu ia tabrak, wanita itu jatuh tersungkur, Sehun menghela napas, ia akhirnya ikut membantu wanita itu berdiri sambil menggumam maaf beberapa kali, lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Wanita itu tertegun menatap paras Sehun, ia tidak sadar Sehun buru-buru beranjak darinya. Tiba-tiba wanita itu mencekal lengan Sehun yang otomatis mendapat delikan tajam dari si pemilik "Maaf, tapi siapa nama mu" wanita itu berucap ramah
"Aku Oh Sehun, maaf aku sedang buru-buru" Sehun sendiri bahkan tidak menatap persis wajah yang ia tabrak tadi, pikirannya hanya melayang pada sang Ibu dirumah sakit
"Oh Sehun" gumam wanita itu diikuti senyum nya yang terkembang, pemuda itu tidak menyadari bahwa wanita yang ia tabrak tadi merupakan salah satu staff dari agensi terkenal di Korea
...
Ia berlari disepanjang lorong rumah sakit, beberapa orang disana memandang nya dengan heran, kostum dance nya masih melekat dan ia sontak jadi tontonan. Dengan tidak sabar ia menekan tombol lift dan begitu sampai di lantai yang ia minta, Sehun berlari sekuat tenaga, menahan napas nya yang mulai tidak teratur, hingga akhirnya ia sampai diruangan kamar VVIP tempat sang Ibu dirawat.
Cklekk..
Pintu dibuka dengan kasar, sekejap ia dapat melihat kini sang Ibu menoleh padanya, tersenyum sangat cantik dengan tatapan kerinduan yang mendominasi.
"Sehun, anakku.."
Tanpa bisa dicegah, Sehun memeluk sang Ibu. Menyalurkan kerinduan selama berbulan-bulan akibat koma yang mendera ibu nya. MinHo disamping mereka hanya bisa tersenyum pahit, menatap kedekatan antara anak dan ibu yang memang memiliki ikatan darah –bukan sepertinya, padahal ia lebih tulus mencintai wanita itu sebagai Ibu nya, bahkan setiap hari ia selalu menyempatkan berkunjung demi melihat wajah Ibu nya
"Ibu, aku merindukanmu..."
"Aku lebih merindukanmu, Oh Sehun, jagoan tampan Ibu"
...
"Mama pokoknya aku tidak mau tahu, aku ingin datang ke acara ini"
Ibu Luhan memijit pelipis nya yang berdenyut, putra nya dari tadi memaksa ingin menonton acara sekolah nya, tapi bagaimana? Luhan sendiri saja belum fit sepenuhnya. Lao gao nampak nya juga mendukung keputusan Ibu Luhan, Luhan belum sembuh benar, ia harus beristirahat di rumah sakit dan belum boleh diijinkan keluar.
"Mama kumohon please, Luhan jadi anak penurut setelah ini"
Luhan mengedipkan matanya, ia merengek layaknya balita. Lao gao yang melihat nya pun geleng-geleng kepala, inikah yang disebut manly? –batinnya sang Ibu merutuki kekeras kepalaan anak nya, jika Luhan kenapa-napa nanti bagaimana? Sebagai Ibu, ia jelas-jelas takut.
"Mama hikss... Luhan sekalian ingin minta maaf.."
Dan jurus terakhir, menangis. Kedua orang itu mengerutkan dahi, ada apalagi ini? "Memangnya kau ingin minta maaf kenapa?" Lao Gao menyahut
"Aku tidak bisa jelaskan, yang penting sekarang antarkan aku kesana! Cepatlah sebelum acaranya berakhir" desak Luhan, karena tidak tahan mendengar rengekan Luhan, akhirnya sang Ibu meminta Lao Gao mencarikan kursi roda, Ibu nya lalu menatap Luhan tajam
"Baiklah, tunggu disini sebentar. Mama minta surat izin dokter" pesan Ibunya yang ditanggapi anggukan patuh Luhan
Lagipula ia memaksa seperti ini karena ia merasa sudah kuat, walaupun belum sembuh benar, tapi rasanya ia masih bisa berdiri dengan baik, bahkan berjalan walaupun masih tertatih, sepertinya jahitan operasi diperutnya perlahan mengering dan rasa sakitnya sedikit berkurang. Sambil menunggu dua orang itu, Luhan membuka kamar rawatnya sambil menyeret tiang infus itu kemana-mana, ia menatap lorong yang berisi deretan pintu kamar VIP. Dari arah kanan, ia mendengar suara langkah seseorang tengah berlari, dengan cepat Luhan menoleh.
Luhan tercekat menatap orang tersebut, walaupun berlari sambil membelakangi nya, namun Luhan merasa familiar. Postur tubuh tinggi tegapnya serta kulit putih yang nampak kontras dengan lorong yang minim cahaya, mengingatkannya pada seseorang, seperti...Sehun?
Luhan sendiri tidak yakin, tanpa diminta kaki nya itu melangkah mengikuti arah jalan pemuda tersebut. rasa penasarannya terlalu besar, ia baru menyadari bahwa langkahnya saat ini membawanya ke lorong VVIP yang mana letaknya bersebelahan dengan gang nya. Pemuda yang membelakanginya itu memasuki sebuah kamar dengan tergesa lalu menutupnya kencang, dengan hati-hati Luhan mendekati pintu tersebut, dan mengintip dari celah kaca pintu.
Walaupun agak buram, namun Luhan bisa melihat lelaki itu memeluk seorang wanita yang tengah terbaring di ranjang nya, cukup lama bahkan. Ia juga melirik jika ada satu pemuda lagi disana, namun kenapa dia tidak ikut memeluk wanita itu juga? Pintu tersebut hampir terdorong jika Luhan tidak hati-hati, namun ketiga orang didalamnya bahkan tidak ada yang menyadari, Luhan mengembuskan napas lega, samar-samar ia mendengar sesuatu.
"Ibu, aku merindukanmu..."
"Aku lebih merindukanmu, Oh Sehun, jagoan tampan Ibu"
Luhan tercekat, ia mendengar nama Sehun berdengung ditelinga nya, jadi pengelihatannya benar bahwa pemuda yang ia lihat tadi adalah Sehun, si Oh cabul itu?. Dan wanita itu adalah Ibu nya, ia menatap sekali lagi dari balik jendela, nampak Sehun tersedu di dalamnya. Luhan tidak percaya lelaki sekuat Sehun mampu menangis dihadapan Ibu nya, tiba-tiba saja ia teringat hari itu ketika air muka Sehun tidak seperti biasanya, jadi inikah emosi yang disembunyikan Sehun saat itu?.
"Akhh..."
Luhan meringis merasakan perutnya kembali berdenyut nyeri, nyatanya ia masih belum mampu berdiri cukup lama. Mata nya memejam erat merasakan sakit yang terus melilit organ pencernaaannya setiap hari, semakin lama semakin nyeri dan ia rasa sebentar lagi ia akan limbung. Sejenak keinginannya untuk menonton pagelaran tersebut sirna, ia kalah melawan rasa sakitnya sendiri.
.
.
TBC
pakabar semuanyah :* sesuai janji mumpung lagi libur akhirnya aku bisa 2 chp dalam sebulan T.T huih..lega nya, tenang wae Luhan bakal sadar diri juga ntar, trus ujung2 nya nempel ke Sehun lagi :v *spoiler nih/? aku sih gak yakin, tapi semoga bulan-bulan kedepan ini aku bisa up lagi apa enggak, yahh..do'ain aja lah hwehe.. :D
biar semangat, kasih review dong ^^ *kedip-kedip tjantiek :v
