Hmm… ternyata membuat sebuah cerita itu susah-susah gampang…

Susahnya memikirkan bagaimana ide untuk yang selanjutnya, gampangnya karena sudah terbiasa menulis hehehe #autor sombong dilempar tomat

Yosh mumpung chibi masih semangat dan ide terus mengalir cekidot…


Summary : Neji adalah seorang direktur muda paling berbakat yang akan melakukan pertunangan dengan Gaara. Pemuda paling tampan dan pintar di Suna. Namun, Neji menemukan buku harian Gaara yang menyembunyikan rahasia terdalam Gaara dengan Naruto.

Pair : NaruGaa

Warning : OOC, Yaoi, yg ga suka jangan dibaca.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Fic ini punya Chibi

Please Enjoy…


Chapter 4

Setelah membaca lebih dari separuh Diary milik Gaara, Neji memutuskan untuk bertanya kepada Temari dan Kankuro tentang pemuda bernama Uzumaki Naruto.

"Temari-nee ada yang mau aku tanyakan."

"Apa? Apa ada hubungannya dengan kesehatan Gaara."

"Um…hm… Mungkin lebih pada kebahagiaan daripada kesehatan Gaa-chan."

"Maksudmu?"

"Kemarin aku tak sengaja menemukan diary milik Gaa-chan. Dan aku penasaran seperti apa isinya. Jadi aku putuskan membaca satu halaman saja."

"Apa?! Kenapa kamu lancang sekali Neji!? Apa kamu tidak pernah diajari sopan santun!?"

"Aku tau, aku salah temari-nee. Tapi rasa penasaranku telah menutupi rasa bersalahku. Dan setelah membacanya aku makin penasaran. Aku ingin tahu siapa pemuda bernama Uzu…"

"Aku tidak akan menjawab apa-apa jika pertanyaanmu berhubungan dengan hal-hal yang Gaara tulis dalam Diarynya."

"Tapi nee-san aku penasa…"

"Lebih baik kau memikirkan kesembuhan Gaara. Tidak usah memikirkan hal-hal yang lain lagi."

"Baiklah jika nee-san tidak ingin membantu. Biar aku mencari kebenaran itu sendiri." Nejipun segera keluar dari Rumah Sakit dengan ekspresi wajah yang campur aduk antara marah, penasaran, kecewa, dan sedih.

"Lebih baik kau tidak usah bertemu dengan-nya, Neji." gumam Temari sembari melihat sosok Neji yang beranjak pergi

"Nee-san, aku sudah ke tempat-nya. Tapi sepertinya dia tidak ingin bertemu denganku." Kankuro yang sedari tadi bersembunyi dibalik tembok mengeluarkan suara kecil yang hanya bisa didengar oleh Temari.

"Begitukah? Semoga saja dia tidak menyesali keputusannya ini."

"Aku benar-benar berharap dia bisa berubah pikiran nee-san. Entah mengapa aku merasa dengan adanya dia, Gaara pasti bisa sembuh."

"Aku juga tapi mau bagaimana lagi. Kita bisa berharap pada-nya, pada akhirnya keputusan tetap dia yang ambil."

Kedua saudara itu hanya bisa tertunduk lesu dengan berbagai pikiran berkecamuk di kepala mereka.


Selama 3 hari Neji terus mencari hingga wujudnya tidak lagi seperti Hyuuga Neji sang direktur perusahaan Hyuuga Corp, melainkan seperti seorang pegawai yang terkena PHK. Melihat kekacauan yang dialami Neji, Kankuropun berusaha menyelediki apa yang terjadi pada calon adik iparnya itu.

"Apa yang sebenarnya kau lakukan, Neji?" Kankuro agak kaget melihat kondisi apartemen Neji yang biasanya selalu rapi dan bersih menjadi berantakan dan kotor.

"Aku mencari Uzumaki Naruto. Apa kau mengenalnya Kankuro-nii?"

"…!"

"Kau dan Temari-nee pasti kenal tapi entah mengapa kalian tutup mulut. Apa ada sesuatu yang berhubungan dengan Uzumaki dan Gaara yang tidak boleh aku ketahui? Apa aku sudah dianggap sebagai orang asing sehingga ada rahasia yang tidak boleh diketahui oleh tunangan Gaara?"

"Darimana kau mengenal nama itu?"

"Untuk apa kau tahu?! Kau dan Temari-nee saja tidak ingin aku mengetahui segala sesuatu tentangnya kan?!"

"…" Kankuro diam seribu bahasa. Dalam otaknya dia tak ingin Neji mengetahui tentang Uzumaki Naruto. Namun hati kecilnya ingin mereka semua mendapatkan apa yang sudah seharusnya mereka dapatkan. Dengan helaan nafas panjang akhirnya Kankuro memutuskan untuk menceritakan semua tentang Uzumaki Naruto pada Neji.

"Apa kau sudah menyiapkan mental, Neji?"

"…?! Untuk apa?"

"Aku akan menceritakan semua hal yang ingin kau ketahui. Namun sebelum itu aku ingin bertanya. Apa yang akan kau lakukan jika kau sudah mengetahui kebenaran tentang Gaara dan Naruto?"

"…!" menunduk dan terdiam. Sejenak Neji seakan sedang bergelut dengan pikiran dan hatinya "Jika memang bersama dengan Naruto bisa membuat Gaa-chan sembuh, aku tak keberatan merelakannya."

"Baiklah. Pertama-tama aku akan menceritakan awal mula pertemuan Gaara dengan Uzumaki Naruto."


#Flashback#

Bandara Suna

"Gaara, apa kau yakin?"

"Aku sangat yakin, Nee-san. Lagipula disana ada Kankuro-nii. Aku yakin aku pasti baik-baik saja. Aku juga ingin ganti suasana agar semangat belajarku tidak hilang."

"Baiklah. Aku tahu kau itu keras kepala, tapi jika terjadi sesuatu atau kau merasa tidak enak badan, segera beritahu aku atau Kankuro."

"Iya, Temari-nee. Aku pasti akan baik-baik saja."

Ting Tong Ting Tong

"Perhatian kepada penumpang pesawat SUNOHA dengan nomer penerbangan 3342 tujuan Konoha diharap segera naik ke pesawat. Sekali lagi…"

"Temari-nee, aku harus segera naik pesawat. Ittekimasu."

"Itterasai. Baik-baik disana, Gaara."

"Aku tahu."

Gaara yang sedari kecil sudah sakit-sakitan dan bolak-balik masuk Rumah Sakit memutuskan untuk pindah sekolah ke Negara tetangga, Konoha. Di Konoha ada Kankuro, kakak kedua Gaara, yang telah lebih dulu memulai sekolahnya di Konoha High Shcool sehingga Temari tidak akan terlalu khawatir dengan kondisi Gaara.


Setelah 2 hari mengurus segala macam formulir pindahnya, hari ini Gaara akan menjalani awal belajarnya di KHS.

"Gaara, kau sudah tahu dimana kelasmu?"

"Sudah, Kankuro-nii."

"Oke. Kalau begitu, masuklah agar kau tidak terlambat di hari pertamamu. Aku akan ada di kelas XI III jika kau butuh bantuanku." Gaara hanya menjawab dengan senyuman dan segera bernajak dari tempatnya menuju kelas X IV. Namun ketika melawati lapangan basket, dia dikejutkan oleh teriakan dan sorak-sorak siswi KHS.

"Naruto!"

"Kyaa… Ganbatte ne Naruto-kun."

"Naruto lihat kemari!"

"Naruto-sama. Menikahlah denganku." berbagai teriakan itu hanya disambut senyuman oleh yang bersangkutan hingga membuat siswi-siswi itu pingsan seketika.

"Naruto itu perfect banget yah?" kata Sakura

"Perfect? Apa yang kau katakan, Sakura? Naruto itu hanya perfect jika menjadi suamiku. Rambut pirangnya, mata yang sebiru langit dan kulit tannya yang begitu eksotis, ah…" timpal Ino

"Apa katamu? Naruto itu lebih pantas bersamaku!"

"Apanya yang pantas jidat lebar?!"

"Lebih pantas aku dibanding kau piggy."

"Apa!"

Oke mari kita tinggalkan kedua sosok gak jelas #dikeroyok fans SakuIno#. Ehem…mari kita kembali pada Gaara yang mendengarkan pembicaraan dua gadis tadi. Gaarapun mencari sosok yang dielu-elukan para siswi itu, dan ketika pandangan matanya bertemu dengan Naruto.

Deg…

"Apa ini?" tanya Gaara dalam hati. "Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak kencang?" dilihatnya kembali sosok Naruto yang tengah bermain basket dengan teman-temannya.

"Naruto, oper ke kiba. Kiba shot 3 point." terdengar perintah dari Ketua Tim Basket, Shikamaru

"Tak akan ku biarkan kalian menyetak angka lebih dari ini. Otto kepung Kiba dan bedebah Naruto."

"Osh!"

"Kau pikir dengan mengepungku dan Naruto bisa menghentikan kami menyetak angka? Apa kau lupa? Kami masih punya Shikamaru."

"Sial! Cepat halangi bedebah itu!"

"Heh, kalian benar-benar mudah masuk perangkap. Naruto!"

"Yosh! Hup!"

Duk…duk…syuut…clang…Prrrrrrrrriiiiiiiiitttttttttt…

"Yosha! Kita menang!"

"3 pointmu makin akurat, Naruto." puji Kiba

"Hehehe…"

"By the way, siswa disana memperhatikanmu daritadi." Ucap Shikamaru

"Mana?"

"Itu disana yang berambut merah."

"Eh? Aku belum pernah melihatnya. Apa dia siswa baru?"

"Entahlah. Tapi kenapa dia baru pindah sekarang?" tanya Kiba

"Coba saja kita tanyakan padanya?" usul Naruto dengan mata berbinar

"Apa maksudmu? Kamu saja yang tanya. Aku sama sekali tidak tertarik dengan LELAKI. Ayo, Kiba."

"Eh, tunggu dulu, Shikamaru. Aku penasaran dengan siswa itu. Hey, Shikamaru." Naruto hanya menatap kedua sosok yang semakin menjauh itu dengan heran

"Kenapa sih dengan mereka? Memangnya kenapa kalau lelaki? Toh, dia manis begitu. Ah, lupakan. Lebih baik aku menyapanya saja. Hey, apa kamu murid baru disini? Aku Uzumaki Naruto. Siapa namamu?"

"…"

"Hoy… Halo…Apa kau mendengarkanku?" tanya Naruto sambil melambaikan tangannya di depan wajah Gaara.

"…!" Gaara yang tersadar dari lamunannya langsung pergi ke dalam kelas tanpa menggubris panggilan Naruto.


Gaara's POV

"Haah…" aku menghela nafas ketika mendengar keributan yang diciptakan oleh fans-fans Naruto.

"Maaf ya? Mereka tidak bisa diam sejenak? Apa kamu sangat terganggu?" aku menoleh kearah suara yang melontarkan pertanyaan itu

"Walau tidak aku katakan, kamu pasti sudah tahu aku terganggu atau tidak kan?" jawabku sinis

"Hehehe…"

"Jika kamu punya waktu kenapa tidak kau suruh diam saja fansgirl-mu itu?"

"Akan ku coba." Aku melihat Naruto berusaha menenangkan para fans-nya

Normal POV

Setelah beberapa bulan berada di KHS, membuat Gaara semakin tidak bisa menyembunyikan perasaannya kepada Naruto. Kankuro yang setiap hari mengawasinya, akhirnya sadar apa yang sedang terjadi pada adik kecilnya itu. Dia tidak melarang adiknya untuk jatuh cinta. Bahkan tidak jarang Kankuro justru membantu Gaara PDKT dengan Naruto. Walaupun, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kankuro memutuskan untuk tidak mencampuri urusan percintaan Gaara setelah melihat Gaara tidak memberikan hadiah ulang tahun yang sudah disiapkannya kepada Naruto dan justru membuangnya.

#End of Flashback#

"Gaara dan Naruto sekelas hingga kelulusaan. Walaupun sekelas, mereka terkesan jauh karena Naruto selalu dikerubungi oleh fans-fansnya. Jadi dari awal masuk ke KHS hingga kelulusan, Gaara hanya sempat beberapa kali berbicara dengan Naruto. Itupun hanya sebatas pelajaran atau tegur sapa saja. Hal yang terakhir kali terjadi adalah ketika ultah Naruto. Ini adalah hadiah yang tidak Gaara berikan pada Naruto tapi, justru dibuangnya. Karena aku tahu bahwa ini suatu saat akan diperlukan, akupun menyimpannya." kata Kankuro sembari menyerahkan kotak biru dengan pita orange yang sudah kumal kepada Neji.

"Lalu dimana Naruto berada sekarang?" tanya Neji sambil membuka kado tersebut

"Dari yang aku dengar, setelah lulus Naruto pergi ke tempat saudaranya di daerah Otto. Makanya, mereka komunikasi diantara mereka terputus begitu saja. Aku tahu kalau mereka saling menyukai satu sama lain. Tapi, mereka berdua terlalu takut untuk mengungkapkan perasaannya masing-masing. Sekarang Naruto tinggal di sebuah apartemen di Konoha Park Resident lantai 7 kamar 305. Kemarin aku sudah mencoba untuk menemuinya, tapi dia tidak mau bertemu denganku."

"Jadi waktu Temari-nee bilang kau sedang ada urusan, sebenarnya kau pergi ke apartemennya?" tanya Neji sambil menggenggam erat kalung dengan liontin permata biru itu

"Iya."

"Ck. Jadi selama ini, Gaara tidak mencintaiku? Lalu kenapa dia menerima ajakanku untuk bertunangan?"

"Sebenarnya, Gaara hanya berusaha melarikan diri dari kenyataan. Saat dia menerima kabar bahwa Naruto akan menikah, Gaara depresi. Di saat seperti itu kau datang membawakan kebahagiaan lain untuknya. Aku yakin dia menyayangimu walau bukan sebagai kekasih, mungkin lebih seperti penyalamat hatinya."

"Cih… Jadi aku hanya pelampiasan saja?"

"Bukan begitu. Gaara tidak mungkin menjadikanmu pelampiasan. Dia hanya menopangkan hatinya yang hancur padamu. Dia berusaha memulihkan hatinya untuk mencintaimu. Kalau dia tidak mencintaimu, mana mungkin dia mau menerima ajakanmu untuk bertunangan?"

Sejenak suasana hening menyelimuti apartemen Neji.

"Kalau begitu tidak ada alasan untukku menghalangi cinta mereka kan?" kata Neji memecah keheningan

"Maksudmu?" Kankuro binggung dengan pernyataan Neji. Dia melihat Neji merapikan kembali bungkusan kado itu.

"Aku akan menemuinya."

Thebheche...


Yosh…akhirnya selesei juga nulis chapter ini…

Makasi banget buat yang udah ngereview ffn chibi #bow

Chibi udah berhasil buat chapter panjang yeeyy #digampar...

Chibi jadi semangat untuk ngelanjutin nulis crita ini…

Maka dari itu, chibi minta reviewnya lagi ya, Minna-san…