Luhan berdiri didepan pintu kamar tersebut dengan gemetar, perlahan kakinya melemah dan tidak dapat menopang berat tubuhnya lagi, Luhan jatuh terduduk. Ia merintih tertahan akibat selang infusnya yang tertarik kencang, kesakitannya itu segera tertolong ketika ada seorang perempuan , yang sepertinya seorang perawat, melihat Luhan terduduk kesakitan di depan pintu tersebut. Wanita itu dengan cemas membantu Luhan berdiri

"Apa yang kau lakukan disini? Kau baik-baik saja? Dimana kamar mu?"

Seorang perawat yang awalnya ingin mengantar obat, terpaksa menunda pekerjaannya. Wanita itu dengan baiknya membantu memapah Luhan kembali ke ruang asalnya. Yang dipapah itu tidak banyak bicara, ia diam dan hanya menjawab dimana letak kemarnya

"Aku berasal dari ruang VIP"

Perawat itu mengangguk, ia tidak bertanya lagi setelahnya. Ketika Luhan sampai di depan pintu ruangan, sang Ibu menatapnya cemas dengan Lao Gao yang telah menyiapkan kursi roda untuknya. Kemudian dengan bantuan Lao Gao beserta Ibunya, Luhan dibaringkan lagi ke ranjang dan sahabatnya itu segera berlari memanggil dokter.

"Luhan, Mama sangat khawatir kau tiba-tiba menghilang. Kenapa kau selalu membuatku cemas, hah?! Kau benar-benar menginginkanku cepat tua,rupanya"

Sang Ibu mengeluh, ia telah meminta putranya untuk menunggu namun kemudian menghilang secara misterius, jelas-jelas saja wanita itu panik. Kemana perginya si Rusa Kesayangan ini?

"Mama, maafkan aku. Aku tidak jadi datang ke acara itu"

Luhan menatap Ibu nya teduh, seakan ia baru tersadar, bahwa selama ini Tuhan memberikan banyak nikmat padanya. Sang Ibu masih bisa berdiri sehat, tetap cantik, dan selalu mengkhawatirkan keadannya, lalu bagaimana penderitaan Sehun selama ini? Luhan tidak habis pikir, jika ia sendiri yang berada diposisi itu belum tentu kuat, melihat laki-laki itu menangis haru karena terbangunnya sang Ibu, membuat Luhan terenyuh, Laki-laki itu selalu menyembunyikan kesedihannya

Wanita dihadapannya ini mengutarakan semua kekesalannya, ia tidak mendengarkan seluruh ucapan sang Ibu, namun tanpa sadar, senyum simpul yang indah merekah di bibir mungil putranya, wanita itu tertegun, ia terhipnotis senyum putranya sendiri yang menawan, membuatnya mengernyitkan dahi dan lupa tentang semua keluhannya

"Mama...-hiks"

"Luhan, kenapa tiba-tiba—"

"Mama, terimakasih..."

Wanita itu terdiam, ia tetap membiarkan sang putra memeluknya kencang. Ia tidak tahu apa yang membuat Luhan tiba-tiba bersikap demikian, namun wanita itu hanya tersenyum lalu mengangguk, ia begitu bahagia ketika anak nya mengucapkan terimakasih padanya.

"Aku sangat bersyukur, kau masih tetap berada disisiku, Mama."

.

.

Damn I'm Manly Oh Sehun!

Chapter 08


Sehun Twins?


By: HunHan SeRaXi

.

.

.

"Sehun, Ibu merindukanmu"

Sooyoung menggenggam erat tangan putra nya, wanita itu merasa amat bersalah karena membuat kedua anak nya khawatir menunggu dirinya yang tak kunjung sadar, dengan kondisi yang masih lemah, Sooyoung tetap memaksakan dirinya tersenyum dihadapan kedua putranya, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.

"Aku akhirnya bisa bernapas lega ketika Ibu terbangun" ujar Sehun, ia ikut menumpukan satu tangannya diatas genggaman tangan sang Ibu

"MinHo, kenapa hanya diam? Kemarilah..." titah Sooyoung lembut

Dengan canggung, ia duduk disamping kiri Sooyoung. Matanya tak pernah lepas menatap wanita yang sudah ia anggap sebagai Ibu bertahun-tahun lamanya, walaupun kasih sayangnya tidak lebih dari yang diberikan kepada Sehun, ia tetap menyayangi wanita ini.

"Bagaimana kabarmu?" Sooyoung berujar kembali

MinHo menarik sudut bibirnya, tangannya terangkat untuk mengusap surai sang Ibu "Seperti yang Ibu lihat, aku baik-baik saja"

Sooyoung ikut tersenyum senang mendengarnya, ia mengalihkan lagi atensinya pada Sehun "Kenapa kau memakai pakaian seperti ini?" wanita itu melirik penampilan anaknya dari atas kebawah, sedikit aneh ketika melihat riasan tebal seperti itu hanya untuk datang ke rumah sakit.

"Ibu, malam ini seharusnya aku tampil, aku akan menari bersama temanku. Tapi jangan khawatir, aku sengaja membatalkan penampilanku karena Ibu terbangun, tidak ada yang lebih menggembirakan selain kabar ini"

Lagi-lagi Sooyoung merasa bersalah, jika saja ia sedang sehat, dengan semangat ia akan menonton tarian putranya. Namun sekarang ia malah terbaring yang terpaksa membuat Sehun membatalkan penampilan, wanita itu sangat menyesalinya

"Sehun, maafkan Ibu"

Tatapan kesedihan dari wajah sang Ibu membuat Sehun tidak tahan, ia dengan gelagapan berusaha meyakinkan sang Ibu bahwa semuanya akan baik-baik saja, biar ia nanti yang akan menghadapi seluruh kemarahan teman-temannya, ia tahu ia egois, tapi sang Ibu adalah prioritas utama nya.

"Lainkali aku akan menunjukkan kemampuanku dihadapan Ibu, asalkan Ibu segera sembuh"

"Ku pegang janjimu, Sehun"

"Ya, aku akan menepatinya" Sehun mengacungkan jari kelingking nya

"MinHo, kau juga ikut melihat penampilan adikmu, kan?" Sooyoung memastikan

MinHo menggeleng, dengan halus ia menolak "Maafkan aku, tapi jadwal kegiatan perusahaan sangat padat"

Sooyoung mengembuskan napas, ia sedikit tidak suka mendengar jawaban MinHo "Sehun adalah adikmu, kau seharusnya mendukungnya. Tidak bisakah kau cuti sehari hanya untuk melihat bakat adikmu? Sebagai yang tertua kau harusnya mengerti!"

MinHo terdiam, dalam hati ia merasa cemburu, kenapa selalu Sehun yang dibanggakan? Padahal saat ia resmi bergabung dalam perusahaan Ayah angkatnya, Sooyoung bahkan tak merayakan momen bahagia tersebut, wanita itu hanya mengucapkan selamat dan semuanya selesai. Apakah wanita itu lupa bahwa sebelum ada Sehun, ia-lah yang membuat wanita itu melupakan kesedihannya karena tak memiliki anak, ia-lah yang pertama kali membuat wanita itu merasakan jadi Ibu, dan ia pula yang membuat Sooyoung tersenyum setiap hari.

MinHo tersenyum miris, sejatinya ia memang anak panti asuhan yang diadopsi keluarga kaya. Dan ketika wanita itu berhasil mendapatkan keturunannya sendiri, seolah-olah ia telah lenyap dari hati wanita tersebut. ingin sekali ia mengingatkan bahwa dirinya adalah anaknya dan ia juga ingin selalu dibanggakan seperti Sehun, ia ingin sekali mendapatkan kasih sayang yang sama. Namun fakta bahwa ia hanyalah anak adopsi membuatnya harus sadar, bahwa selama ini ia hanya benalu dalam keluarga ini.

MinHo mengeratkan kepalan tangannya, pemandangan antara Ibu dan Sehun yang bercengkrama akrab membuat hatinya panas. Tadinya ia pikir ketika wanita itu siuman, Ibunya akan memanggil namanya, namun ia dibuat tercekat ketika nama Sehun yang terus disebut-sebut wanita itu. Dalam sadarnya yang ia ingat hanyalah Sehun, bukan dirinya. Sehingga ia terpaksa menghubungi sang adik karena Ibunya yang terus memanggil.

Tiap menit berjalan, dan semakin lama ia semakin tidak tahan berada di ruangan itu "Ibu, aku mohon pamit. Ada urusan mendadak perusahaan"

Dibelakangnya, Sooyoung menatap putranya sendu. Kenapa MinHo sekarang berubah?

...

Dokter muda itu menempelkan stetoskop pada perut dan dada Luhan, lalu dilanjutkan dengan mengukur tensi darah nya. Ditengah ia sedang melepaskan kain hitam tersebut dari lengan atas Luhan, Dokter muda tersebut memberitahunya

"Keadaanmu semakin membaik, organ pencernaanmu sudah bisa diisi kembali dengan makanan yang lembut, dan lusa kau sudah bisa pulang"

"Benarkah?" Luhan memekik bahagia, dokter itu mengangguk

"Ya. Kau bisa melanjutkannya dengan rawat jalan, bila perlu"

Luhan bernapas lega, senyum yang tercetak itu enggan luntur dari bibirnya, ia mengalihkan pandangan pada Ibunya dan Lao Gao, kedua orang itu juga sama-sama tersenyum bahagia mendengar penjelasan si dokter.

Setelah urusannya selesai, dokter muda itu ijin pamit. Sang Ibu memeluknya erat, beban nya sedikit berkurang ketika mengetahui anak nya akan segera sembuh, begitu juga Lao Gao, Luhan sudah seperti saudaranya sendiri, ia jelas turut bersuka cita mendengar kabar baik Luhan.

"Mama dengar kan, aku lusa sudah boleh pulang" ujar nya dipelukan sang Ibu

"Ya, tapi Luhan, Mama ingin mengatakan sesuatu padamu"

Seketika suasana hening, Luhan menoleh pada sang Mama dengan dahi berkerut, tiba-tiba saja ia dilingkupi perasaan aneh "Apa, Ma?"

"Sampai sekarang Mama masih belum percaya sepenuhnya padamu, maksudku Mama masih belum yakin kau benar-benar bisa hidup mandiri disini. Kejadian ini membuat Mama berpikir dua kali bahwa kau belum sepenuhnya dewasa, kau belum bisa mengendalikan dirimu"

Luhan mencerna kata-kata Mama nya yang sedikit berbelit, wanita dihadapannya ini menatapnya dengan serius, kali ini sepertinya tidak main-main.

"Lusa kau akan pulang ke Beijing, bersekolah-lah kembali disekolahmu yang dulu. Atau jika kau tidak mau, Mama bisa mencarikan guru home schooling untukmu"

"Apa maksud Mama, kenapa mengambil keputusan secepat itu?" Luhan menyela tidak setuju, ia masih belum siap jika harus kembali ke kampung halamannya

"Luhan, semua kebutuhanmu akan tercukupi disana. Selama ini Mama tidak bisa mengontrol semua aktivitasmu karena kau berada disini, saat itu Mama berpikir kau akan berubah ketika bersekolah diluar negri, tapi kenyatannya? Kau malah hampir sekarat disini"

"Mama, aku hanya tidak—"

"Sayang, kau anak satu-satunya. Mama tidak akan membiarkan kejadian ini sampai terulang lagi, semua tentang masalahmu, Mama sudah mengetahuinya dari Lao Gao. Kau tidak perlu khawatir"

Luhan menundukkan kepala, lidah nya terasa kelu untuk membantah ucapan sang Ibu. Semua yang dikatakan Ibunya ada benarnya, dan Luhan merasa bimbang menentukan pilihannya sendiri. Ia mengembuskan napas, lalu menatap lurus mata sang Ibu

"Mama, masih ada 2 hari lagi. Berikan aku waktu untuk berpikir"

Ibunya itu mengangguk menyetujui, ia sedikit merasa lega sekaligus bersalah telah memaksa kehendaknya sendiri pada putranya "Baiklah, pertimbangkan ini matang-matang"

...

Suara tapakan sepatu menggema ditangga asrama yang sudah sepi, saat ini jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi, ia baru saja kembali setelah diantarkan dengan mobil oleh sopir nya, walaupun rasa kantuknya sudah tak tertahankan lagi, namun langkahnya masih tetap gontai dengan pikiran yang terus berkecamuk

'Bagaimana jika Ibu terbangun lalu mencariku lagi? Tapi aku harus menyelesaikan masalah ini dulu'

Sehun mengembuskan napas, lorong asrama sudah gelap, tidak ada lagi suara-suara keributan, semuanya sunyi senyap, kemudian ia menghentikan langkahnya didepan pintu asrama tempatnya, pemuda itu hendak memutar knop pintu, namun sebuah suara menghentikan pergerakannya

"Darimana saja kau, Oh?"

'Ow, sudah dimulai rupanya'

Sehun memutar badan, berhadapan langsung dengan orang yang menyapa nya pagi-pagi sekali

"Kau belum tidur, Kai?" ia sedikit berbasa-basi, Kai nampak tersenyum dingin

"Kau hampir mengacaukan penampilan kami, apa yang kau lakukan? Kemana saja kau selama acara?" Kai hampir tidak bisa menahan emosi nya, kedua pemuda itu berbicara layaknya berbisik, tidak baik mereka bertengkar ditengah jam seperti ini.

"Aku akan menjelaskannya nanti" ujar Sehun ringan

"Kau—"

Kai hampir saja memasang kuda-kudanya untuk Sehun, namun dengan secepat kilat Sehun mengabaikannya, dan pemuda albino itu segera masuk kedalam asramanya. Kai lantas menjadi geram sendiri

'Keterlaluan'

Kai hanya belum tahu apa yang sebenarnya terjadi

...

Cahaya sinar itu menembus kaca jendela Rumah sakit, dengan pasti cahaya tersebut juga menerpa wajah seorang wanita yang tengah tertidur, perlahan kedua matanya terbuka, ia sedikit mengerjab sehabis terbangun, ketika dirasa semua nyawanya telah kembali terkumpul, ia lantas bangkit dan menyadari sesuatu

"Dimana Sehun?"

Sooyoung menghela napas, sebagai Ibu seharusnya ia mengerti jika anaknya memeiliki kesibukan sendiri, semenjak ia bangun dari koma nya, selalu Sehun yang ia cari, tidak bertemu dengan anak itu lama-lama membuatnya selalu merasa rindu, walaupun hanya beberapa jam saja.

Semalam Sehun menemaninya hingga ia tertidur, mungkin anak nya itu kembali ke asrama nya, dan kini ia harus rela ditemani oleh dua bodyguard kiriman suaminya. Dua laki-laki berbadan kekar itu nampak menyeramkan menemani nya disini, namun dengan ramah salah satu dari mereka berujar

"Apakah Nyonya ingin ke kamar mandi? Mari saya bantu" laki-laki itu hendak membantu Sooyoung berdiri, namun wanita itu tiba-tiba bertanya

"Apa Sehun sudah kembali ke asrama nya?"

Dua penjaga itu mengiyakan, "Tuan muda Sehun sudah pulang jam 3 pagi tadi, kami diminta menjaga Nyonya disini selama masa perawatan"

"Aku ingin berjalan-jalan disekitar sini" titah nya, kedua penjaga itu lantas membantu Sooyoung duduk di kursi roda, satu yang mendorong dibelakang, dan satunya lagi menyeret tiang infus majikannya

Suasana hati Sooyoung sedikit membaik saat melihat rerumputan hijau dan langit yang cerah, beberapa pasien sepertinya juga ikut berjalan-jalan disekitar halaman rumah sakit, ia hirup udara pagi itu dalam-dalam, rasanya menyejukkan sekali, sudah lama ia tidak merasakan suasana pagi seperti sekarang.

"Berhenti" titah nya lagi, kedua penjaga itu dengan patuh menghentikan langkah nya

Mereka berhenti tepat didepan vending machine, tiba-tiba Sooyoung merasa haus, ia meminta penjaganya mengambil sekaleng minuman untuk nya, disaat yang sama seorang lelaki remaja juga ikut memasukkan koin dan membungkuk untuk mengambil kaleng nya, Sooyoung sedikit terkejut melihat dari samping anak itu seperti Sehun putranya.

"Sehun?" Sooyoung tidak sadar bergumam

Lelaki itu spontan juga menoleh ke sumber suara, ia mengamati seorang wanita yang duduk di kursi roda dengan dua penjaga nya, 'Siapa wanita ini?' -batinnya

Sooyoung tersenyum malu, ternyata ia salah orang. Lelaki remaja dihadapannya ini seklias mirip Sehun, namun jika ia amati lebih cermat lagi, bibir dan mata nya tidak sama. Melihat binar mata itu sepertinya indah sekali dan entah mengapa ia merasa jika lelaki ini mirip Sehun, namun dalam versi yang manis?

"Maaf, kupikir kau Sehun" ujar Sooyoung

Lelaki itu berpikir lagi 'Sehun? Apa si cabul itu? Ahh.. yang bernama Sehun kan juga banyak"

Karena tidak hati-hati, Sooyoung malah menjatuhkan kaleng nya. kaleng tersebut berguling hingga jaraknya sedikit jauh dari mereka, merasa jaraknya lebih dekat, lelaki itu dengan sukarela mengambilnya sebelum terdahului oleh salah satu bodyguard.

"Ini milik anda" lelaki itu menyerahkannya dengan sopan

"Terimakasih, kalau boleh tahu, siapa namamu?" Sooyoung lantas bertanya, ia terlalu penasaran dengan anak ini

"Namaku Luhan, senang bertemu dengan anda" Luhan memperkenalkan diri lalu membungkuk hormat

Sooyoung tersenyum, ia terkesan dengan cara Luhan bersopan santun. "Bolehkah aku berjalan denganmu? Ahh..bagaimana kalau kita duduk disana?" Sooyoung berseru menggebu, Luhan dengan senang hati menurutinya

"Baiklah, bolehkah jika saya yang mendorong kursi anda?" Luhan menawarkan diri, Sooyoung jelas mengangguk mengiyakan

"Kau baik sekali" pujinya, ia lantas memerintah tegas pada dua penjaga nya "Biarkan anak ini yang mendorong kursiku, aku ingin bersama nya sebentar"

Secara perlahan dua penjaga itu mundur teratur, Luhan memposisikan dirinya dibelakang Sooyoung kemudian mendorong nya perlahan yang diikuti dua penjaganya dari belakang. Ditengah perjalanan mereka, Luhan banyak berbicara dengan Sooyoung, keduanya nampak saling menikmati walaupun baru mengenal

"Apakah anda menyewa mereka untuk menjaga Nyonya disini?" Luhan membuka percakapan, sedikit berbisik mengingat ia sedikit takut untuk menoleh kebelakang

"Luhan, bisakah kau memanggilku bibi saja? Aku sedikit risih kau memanggilku Nyonya" protes Sooyoung, Luhan cepat-cepat menyahut

"Maafkan aku Nyo ..-ehh Bibi Sooyoung, hehe..." Luhan merutuki bibirnya yang hampir salah bicara

"Aigoo...kau manis sekali" Sooyoung tidak tahan, ia gemas melihat Luhan hingga tangannya terus terulur untuk mengusak rambut anak itu

Luhan berhenti didepan bangku taman, ia mendudukkan dirinya disana, sedangkan Sooyoung tetap berada di kursi nya "Apa aku tidak salah dengar? Bibi mengatakan aku manis?" Luhan memperjelas pendengarannya

"Ya, kau manis. Jika perempuan aku sudah memujimu cantik" Sooyoung sedikit tertawa setelahnya

"Aishh...aku ini laki-laki bibi" Luhan tidak terima, ia mencebikkan bibirnya kesal dihadapan Sooyoung

"Ya, bibi tahu. Sejujurnya kau pantas menjadi anak kedua ku, kau sangat mirip dengan Sehun, apakah kau kembarannya?"

"Apa yang bibi katakan? Aku tidak tahu, dan juga Sehun, aku tidak mengenal nya"

Luhan hanya mengenal Sehun si cabul, sumber segala masalah bagi hidupnya, mesum, dan tidak tahu etika. Wanita ini kelihatannya begitu baik dan terhormat, jelas saja anak nya tidak akan bertingkah seperti Sehun yang ia kenal, dan di seluruh korea ini bukan hanya 1 orang saja kan yang bernama Sehun?

"Aku akan mengenalkannya padamu, nanti. Kalian sepertinya cocok jika jadi saudara, ahh..andaikan aku bisa mengadopsimu" Sooyoung berucap gemas, tangannya tidak pernah berhenti untuk mencubiti pipi Luhan

"Apakah aku terlalu imut, Bi, hingga Bibi sampai membuat pipiku merah seperti ini?" Luhan menangkupkan kedua tangannya di dagu, sedikit terasa bekas cubitannya, yang ia yakin pasti memerah

"Jika bibi ingin, buat lagi satu anak yang seperti Sehun" Luhan memberi ide, Sooyoung menggeleng sambil tersenyum

"Dulu aku mendapatkan Sehun dengan susah payah, dan aku tidak ingin terjadi lagi" tiba-tiba mimik muka Sooyoung berubah sendu, Luhan cepat-cepat meminta maaf karenanya

"Maafkan aku bi, aku tidak bermaksud—"

"Aku tahu, jangan khawatir. Kau mau mendengar ceritaku?"

Luhan menangguk, ia membiarkan wanita itu mulai bercerita mengenai kehidupan rumah tangga nya yng tidak kunjung memiliki anak, Sooyoung merupakan putri dari keluarga kaya yang dijodohkan dengan anak teman kolega bisnis nya, mereka hidup tentram awalnya, namun karena tidak memiliki keturunan, Sooyoung terpaksa mengadopsi anak hingga ia nekat menjalani terapi ratusan juta dan pada akhirnya ia berhasil mendapatkan buah hati dari darah daging nya sendiri.

Cerita itu berlanjut hingga Sehun anaknya, putranya itu selalu dimanja dari kecil, wanita itu membebaskan Sehun memilih semua yang menjadi keinginannya, walaupun Ayah dan Hyung nya menentang, Sehun tetap pada pendirian bahwa ia ingin jadi artis, ketertarikannya pada musik sejak kecil meluruskan tekadnya untuk bersekolah disebuah asrama khusus musik.

"Apakah Bibi membiarkan Sehun dengan keputusannya? Sangat disayangkan, seharusnya ia yang mengambil alih jabatan perusahaan" disela-sela ceritanya, Luhan terkadang bertanya, ia merupakan pendengar yang baik

"Ya, aku tidak mampu untuk memaksanya. Kau tahu sendiri bahwa aku sangat menyayanginya"

Luhan mengangguk, sedikit terharu mendengar kisah Bibi Sooyoung ini.

"Kurasa sudah cukup aku bercerita, sekarang giliranmu"

Luhan menggeleng, tidak ada yang bisa ia ceritakan mengenai hidupnya "Aku hanya siswa pindahan dari China, Bi"

"Ohh kau bersekolah dimana?" Sooyoung menyahut antusias

"Sama seperti putra Bibi, aku juga menempuh pendidikan disekolah khusus musik" jawabnya ringan

"Ngomong-ngomong, aku belum tahu apa yang menyebabkan bibi sampai dirawat disini" Luhan mengalihkan topik, Sooyoung kemudian menjawabnya

"6 bulan yang lalu aku mengalami kecelakaan hingga koma, dan sekarang aku harus menjalani perawatan setelahnya" jelas nya

Luhan mangut-mangut, ia merasa prihatin mengetahuinya "Syukurlah bibi sekarang sadar"

"Ya, lalu kau sendiri?" Sooyoung lantas menyahut

"Ahh.. aku overdosis obat" Luhan sedikit malu mengakuinya, ia bahkan menunduk sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal

"Kau ini benar-benar..." Sooyoung memukul kepala Luhan dengan kepalan tangannya, persis seperti ia menasehati Sehun ketika nakal dulu

"Bibi aku tidak sengaja, sejujurnya aku tidak berniat bunuh diri seperti yang orang-orang pikirkan, aku hanya nekat meminum obat tanpa memperhatikan dosis yang tertera" bela nya

"Lainkali jangan seperti itu, kau bisa membahayakan dirimu sendiri" nasehat Sooyoung

"Baiklah, aku mengerti Ibu" Luhan lagi-lagi merengut lucu, wanita dihadapannya ini sudah seperti Mama nya saja

"Kedengarannya bagus jika kau memanggilku Ibu, ahh.. aku merasa senang sekali" pipi Sooyoung sedikit merona, tingkah Luhan benar-benar membuat harinya bagus

Mereka terdiam untuk sejenak, tiba-tiba Sooyoung berseru terkejut "Luhan, awas dirambutmu ada kecoa!"

"Apa?!" Luhan tak kalah terkejut, sambil berkacak pinggang ia berusaha mengusak kepala nya agar kecoa tersebut hilang, lalu tanpa di duga Sooyoung malah tertawa lepas

"Ahahaha...kau tertipu" Sooyoung masih memegangi perutnya karena terus tertawa

"Bibi, ini tidak lucu, aku benar-benar takut" kesal Luhan, ia duduk lagi ditempatnya sambil mencebikkan bibir

Pada dasarnya Luhan benci kecoa, hewan itu nampak kotor dan menjijikkan karena tubuhnya berwarna coklat kehitaman. Dan ia lebih takut lagi ketika hewan itu mulai terbang apalagi sampai hinggap ditubuhnya, ohh.. itu mimpi buruk!

"Haha..Maafkan Bibi, Luhan. kau tahu, Sehun dulu sering kugoda seperti ini" tukas Sooyoung memberi tahu

"Ishh...Jangan samakan aku dengan Sehun, bi" protesnya

"Aku tidak menyangka bahwa responmu akan sama seperti ini, haha..." Sooyoung terkikik geli, sekali lagi ia tidak tahan untuk tidak mengusak poni Luhan

"Maaf Nyonya, saat ini sudah jam terapi anda" salah satu bodyguard tersebut mengingatkan, Sooyoung menghela napas, ia masih ingin berlama-lama dengan anak ini, namun dengan berat hati ia mengatakannya pada Luhan

"Maafkan bibi, Luhan. Bibi harus—"

"Aku mengerti, Bibi" Luhan memotongnya cepat, ia kemudian berdiri juga

"Datanglah ke kamarku sekali-kali, aku menantimu" ujar Sooyoung sebelum ia pergi

"Ya, aku mengerti Bibi. Sampai nanti" Luhan melambaikan tangannya, ia tersenyum sangat manis pada Sooyoung

"Ughh...Anak manis, aku gemas melihatmu" dan lagi, Sooyoung menangkupkan kedua tangannya dipipi Luhan lalu menggelengnya. Luhan hanya diam diperlakukan seperti itu

Sooyoung sudah dibawa pergi oleh bodyguardnya, Luhan yang masih berdiri disana lantas bergumam sendiri "Apa aku begitu manis dan imut seperti katanya?"

...

"Kemana saja kau malam itu, hah?!"

Sehun tetap diam, ia tidak berniat mengeluarkan kata sepatah pun untuk lelaki paruh baya didepannya.

"Jangan hanya diam! Jawab aku Oh Sehun" lelaki paruh baya yang notabene guru tari nya itu geram, ia tidak suka didiamkan seperti ini

"Sudah kukatakan bahwa aku memiliki masalah pribadi, Songsaenim tidak perlu tahu" Sehun menjawabnya ringan, seolah ini bukanlah masalah serius

Sang Guru mengembuskan napas lelah, ia akhirnya menyerah untuk mengintrogasi muridnya ini lebih lanjut "Baiklah jika aku tak perlu tahu, tapi yang kau lakukan ini melanggar tanggung jawab mu, Sehun! Tidakkah kau menyadarinya?"

"Ya, saya mengerti. Maafkan kelalaian saya" Sehun kemudian membungkuk

"Sepenting apapun masalahmu, bisa jadi kemarin menyangkut masa depanmu. Aku harap kau tidak menyesalinya" pesan sang guru, dan Sehun tersenyum mengangguk. Ia siap menerima apapun resiko yang terjadi nanti, karena tidak ada yang bisa mengusiknya, jika masalah tersebut menyangkut sang Ibu.

"Karena kau melalaikan tanggung jawabmu, apa kau siap jika ku beri hukuman?"

Sehun sendiri bahkan sudah memprediksi bahwa ia akan diberi hukuman besok, Guru tari nya adalah orang yang disiplin dan bertanggung jawab, dan ia salah karena telah melanggar amanat nya untuk mengisi acara hari jadi sekolah, Sehun sendiri tidak tahu apakah penampilan dance nya berjalan lancar tanpa kehadirannya, atau dibatalkan? Ahh... mereka sudah kelas 12 dan seharusnya mereka profesional dengan adanya improvisasi kan?

"Ya, berikan saya hukuman" sahutnya tanpa beban, sah-sah saja sang Guru menghukum nya karena ia melanggar, dan ia tidak akan merasa keberatan dengan apapun hukuman yang akan diberikan untuknya.

"Lari keliling lapangan 10 kali ditambah push up 25 kali, dan juga bersihkan toilet pria sampai bersih" titah sang guru mutlak

Dan tanpa membantah, Sehun langsung melaksanakannya. Ia berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali kemudian dilanjutkan dengan push up 25 kali, keringat di dahinya itu ia abaikan, dengan napas masih ngos-ngosan ia juga rela menyikat kloset dari ujung ke ujung, tak peduli dengan jijik atau bau nya yang tidak bisa dibilang wangi, Sehun menerima nya, walaupun ia harus menahan malu karena menjadi tontonan anak-anak yang lewat.

"Apa sekarang kau beralih profesi, Hun?"

Itu adalah suara Chanyeol, Sehun sekilas menoleh kebelakang lalu melanjutkan pekerjaannya lagi "Seperti yang kau lihat" ujarnya datar

"Aku tidak mengerti hal apa yang membuatmu sampai nekat malam itu, kau benar-benar membuat kami semua jengkel" tukas Chanyeol, disampingnya juga berdiri Kai yang tengah menyilangkan kedua tangannya sambil menatap remeh Sehun dibawahnya

"Maafkan aku telah membuat kalian jengkel" permintaan maaf yang terdengar amat tidak tulus, membuat Chanyeol maupun Kai berdecih geram

"Sehunna, setidaknya jelaskan dulu pada kami, apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Kenapa kau nekat membatalkan penampilan kita? Jika kami tahu alasanmu, setidaknya kami tidak akan merasa kesal seperti ini!" Kai mencoba bersabar, ia menggunakan nada lembut dalam ucapannya

Sehun lantas menghentikan aktivitasnya, ia berdiri kemudian berbalik menghadap teman nya "Maafkan aku, aku tidak dapat menjelaskannya pada kalian. Ini masalah pribadi"

"Sehunna, kau—"

"Apa kalian tidak kembali ke kelas? Aku masih harus menyelesaikan ini" potong nya cepat, kemudian mengabaikan kembali kedua sahabatnya yang dibuat semakin kesal

"Kau tidak seperti Sehun yang kami kenal"

Ucapan terakhir Kai sukses membuat pergerakan tangan Sehun terhenti, ia menggeram dalam keterdiamannya, ia cengkram erat gagang sikat tersebut, hatinya seakan dihantam batu besar ketika sahabatnya sendiri mengatakan hal seperti itu. Disusul dengan suara langkah yang menandakan Kai dan Chanyeol meninggalkannya, ia tahu ini semua akan terjadi padanya.

"Demi Ibu, aku tidak akan pernah menyesal"

Karena Sehun bukanlah tipe laki-laki yang suka mengumbar kesedihan serta cerita hidup keluarganya, cukuplah mereka tahu bahwa ia dilahirkan dari keluarga kaya. Itu saja.

...

"Kyaaa Luhaaan! Astaga dia bertambah cantik saja"

"Mata rusa nya benar-benar membuatku gila!"

"Hikss.. pacarku ikut-ikutan gay sekarang, ini semua karena dia!"

"Dia salah pakai susuk, lihat! Bukannya perempuan yang mengejarnya, malah laki-laki"

"Mana ada perempuan yang mau berkencan dengannya?"

"Kenapa ia tidak sekalian operasi kelamin saja?"

Luhan mengepalkan kedua tangannya erat, ia menggeram marah dalam hati, mereka yang mengatakan Luhan cantik telah menginjak-injak harga dirinya, dan juga sebagian cemoohan perempuan-perempuan itu, yang mana mereka sebenarnya iri dengan paras yang dimiliki Luhan, membuat lidah tak bertulang itu dengan seenak nya mengeluarkan kata-kata sampah untuk Luhan.

Entah yang dikatakan mereka itu pujian, cemoohan atau bahkan fitnah menjadi satu dalam pendengarannya, semua orang memandangnya lelaki cantik, salah pakai susuk, atau mungkin saat proses pembentukan Luhan, terjadi kesalahan saat jenis kelaminnya terbentuk. Hell..yang benar saja! Seberapa besar ia berusaha menjadi lelaki sesungguhnya, mereka tidak pernah peduli dan akan terus menjatuhkannya secara perlahan.

Dan kini Luhan merasakannya, bahwa meskipun ia berubah, tidak akan ada yang peduli dengannya. Ia malah menjerumuskan dirinya sendiri dalam bahaya, lalu untuk apa selama ini jika ia terus berusaha, sedangkan respon orang yang melihatnya akan terkejut, lalu setelahnya? Dilupakan. Dan efek sampingnya bukankah Luhan yang merasakan? Bukan mereka kan?

Dan hanya orang bodoh yang rela melakukan hal itu. Ia lantas menyadari bahwa selama ini yang ia inginkan salah, tidak seharusnya ia mendengar omongan orang lain. Mereka hanya iri, ingat? Mereka tidak akan menjatuhkanmu jika mereka tidak iri denganmu, itu artinya kau hebat! Jangan pernah diambil hati, orang terkenal sekalipun pasti memiliki pembenci, kan?

Luhan membuka kedua kelopak matanya, huhh..syukurlah ini hanya mimpi. Tapi kenapa mimpi ini seperti sebuah kilas balik? Ia masih ingat betul kata-kata siapa itu, mereka adalah teman-temannya dulu ketika di Beijing. Dulu ia sering terbawa emosi mendengar kata-kata mereka, namun sekarang ketika ingatan itu datang kembali, seperti memberinya sebuah ilham bahwa apa yang ia lakukan salah. Mendapati mimpi seperti itu membuat perasaannya menjadi tidak enak, ia rasa akan ada sesuatu hal yang buruk terjadi.

"Lusa kau akan pulang ke Beijing, bersekolah-lah kembali disekolahmu yang dulu. Atau jika kau tidak mau, Mama bisa mencarikan guru home schooling untukmu"

Kata-kata Mama nya terngiang lagi sekarang, ada satu hari lagi tersisa, dan Luhan belum menentukan keputusannya. Namun mimpi itu, membuatnya teringat lagi bahwa tujuannya pindah kemari adalah menghindari mereka, kan? Lalu apa jadinya jika ia pulang kembali? Tidak, Luhan masih belum siap. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya

"Tidak! Itu ide yang buruk" gumamnya cemas

Luhan mengamati sekeliling nya, tidak ada orang. Pasti Ibunya bersama Lao Gao sedang berbelanja sebelum pulang ke Beijing, atau bisa jadi mereka sedang jajan diluar, mengingat Lao Gao adalah sesosok manusia yang berusus karet, maksudku ia suka memasukkan makanan apa saja kedalam perutnya walaupun ia sudah banyak makan. Luhan mengembuskan napas, ia kemudian bangkit dari ranjang nya.

Berjalan-jalan ringan disekitar kamarnya, sambil berpikir apa yang harus dia lakukan? Tiba-tiba ia teringat ucapan Bibi Sooyoung tadi pagi

"Datang-lah sekali-kali ke kamarku, aku menantimu"

Kebetulan Luhan sedang bosan, ia melangkahkan kakinya menuju lorong kamar khusus VVIP dan berhenti disebuah pintu berdigit 3 nomor yang seperti Sooyoung katakan padanya tadi. Ia mengetuk pintu tersebut dengan sopan dan setelah dipersilahkan, ia langsung masuk dan duduk didekat ranjang Sooyoung

"Bibi..."

"Ahh..kembaran Sehun, kita bertemu lagi" pekik nya bahagia

"Aku sedang bosan, bi. Bolehkah aku main sebentar kesini?" ujar Luhan bertanya

"Tentu saja, aku tidak akan melarang mu. Aku malah senang kau berada disini" tukas Sooyoung

"Ohh bagaimana terapi bibi, tadi? Apakah berjalan lancar?" Luhan mencoba bersikap ramah, wanita itu lalu tersenyum seraya menjawab

"Aku mengalami kemajuan pesat, kau tahu jika ada yang membuatku senang, aku akan bersemangat" Sooyoung memberi tahu, Luhan ikut bahagia mendengarnya

"Pasti Sehun lagi, aku sudah hapal bi.." tebak Luhan

"Tidak, kau juga salah satunya" Sooyoung menggoda Luhan, anak itu jadi dibuat memerah karenanya, tapi sepertinya apa yang ia katakan tadi adalah kejujuran

"Ahh..bibi bisa saja"

Sooyoung terkikik geli, sejak pertama bertemu dengan anak ini, ia sudah merasa terkesan. Luhan menurut pengamatannya adalah duplikat Sehun versi Manis dan Ramah, berkebalikan dengan putranya yang suka bersikap dingin, cuek, serta apatis. Maklum saja, sifatnya itu diturunkan dari Ayah nya.

Tangan Sooyoung tergerak untuk mengelus surai Luhan, entah bagaimana ceritanya, anak ini sudah bagaikan anaknya sendiri, tidak pernah ia merasa seperti ini sebelum bertemu Luhan, ahh...rusa ini begitu ajaib bisa membuat Sooyoung menaruh rasa sayang padanya. Seperti layaknya MinHo dan Sehun.

"Luhan, dapatkah setelah ini kau memanggilku Eomma?"

"Apa?!"

...

Tumpukan baju dikeranjang cuci semakin menggunung saja setiap hari, Baekhyun geleng-geleng kepala, sudah berapa hari ia tidak mengunjungi laundry? Dengan helaan napas panjang, ia sortir tumpukan pakaian kotor tersebut, ia pisahkan baju-baju miliknya dengan Sehun, kemudian dipisahnya lagi antara baju berwarna putih dengan yang lainnya.

"Milik Sehun biar dia sendiri saja yang urus" dengusnya

Ia hendak bangkit mengambil keranjang cuci yang lain, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara debuman pintu yang dibuka secara kasar

Brakk..

"Yakk! Sehun, kau membuatku jantungan saja!" teriaknya sambil mengelus dada

Sehun tetap acuh, tidak ia pedulikan ucapan apa saja yang keluar dari mulut Baekhyun, lagipula saat ini ia sedang buru-buru. Jam sekolah sudah 1 jam yang lalu berakhir, namun karena hukuman sialan itu, ia malah diberi pelajaran tambahan akibat tidak mengikuti pelajaran biasa.

"Kau mau kemana? Hey! Cucian mu menumpuk, segera bawalah ke laundry!" Baekhyun mengingatkan, matanya masih terpaku mengamati Sehun yang tengah memasukkan barang-barang ke dalam tas nya

"Lain kali saja" sahutnya datar

"Semalam kau menghilang, dan sekarang kau mau kemana lagi?" Baekhyun masih tetap penasaran, ia mendesak Sehun untuk menjawab pertanyaannya

"Bukan urusanmu" tukasnya

"Apa?!"

"Yakk! Kurang ajar sekali kau!" Baekhyun berteriak kesal

"Apa kau tuli? Sudah kubilang lain kali saja" desisnya tajam, Sehun bahkan menabrak bahu kanan Baekhyun lalu keluar kamar begitu saja, tidak lupa dengan disusul debuman pintu yang keras.

"Albino itu benar-benar!" rancau nya sambil menghentakkan kaki, Baekhyun tidak habis pikir, apa Sehun sedang PMS hingga dia bersikap demikian padanya.

Tanpa sepengetahuan dua penjaga didepannya, Sehun dengan mudah keluar dari lokasi sekolah. Ia menghentikan taksi lalu meminta sopir tersebut untuk membawanya ke rumah sakit. Sehun menyandarkan punggung nya di jok mobil, ia mengembuskan napas, rasa lelahnya itu masih belum juga hilang, namun karena sinyal telepatinya terlalu kuat dengan sang Ibu, ia jadi ingin mengunjungi Ibunya di rumah sakit.

"Ibu pasti kesepian saat ini..."

Tiba-tiba ia jadi diserang rasa bersalah, Ibunya itu pasti sendirian, Ayah, Miho Hyung, maupun dirinya, semuanya sama-sama punya aktivitas. Pasti hanya perawat-perawat itu yang membantu Ibunya disana, tidak dapat dibayangkan bagaimana kesepiannya sang Ibu disana selama salah satu anggota keluarganya tidak ada yang menemani.

"Anda sudah sampai" ujar si kemudi yang sekaligus menyadarkannya, Sehun lekas turun dari taksi

"Gamsahamnida, Ahjussi" setelah ia serahkan ongkosnya, Sehun tidak lupa untuk membungkuk hormat pada yang lebih tua

Sehun berlari menuju lift, ia menekan nomor urutan lantai tempat kamar Ibunya. Dengan sabar ia menunggu, dan ketika pintu lift tersebut terbuka, segera ia berlari menuju kamar Ibunya dirawat, dengan sekali dorong, pintu tersebut terbuka, membuat dua orang disana terkejut karena kehadirannya yang tiba-tiba.

"Eomma, kumohon hentikan. Astaga! Hahaha...ini geli Eomma"

"Eomma? Siapa?" Sehun bergumam penuh tanda tanya, dan ia terperanjat tidak percaya, dia? Kenapa bisa berada disini?

"Ibu?!" panggil Sehun

Sooyoung menoleh, dan terkejut bahagia mendapati putra kesayangannya berada disini. "Sehunna! Ibu merindukanmu" lekas Sooyoung merentangkan kedua tangannya dan disambut oleh Sehun, mereka –Ibu dan anak itu saling berpelukan erat. Tatapan tajam Sehun terarah pada sosok lain disamping sang Ibu yang juga memandangnya terkejut

"Maafkan aku Ibu, Ibu pasti kesepian kan, tadi? Aku—"

"Ssstt... Ibu mengerti, asal kau tahu, aku sudah mendapatkan teman disini" Sooyoung menempelkan telunjuknya dibibir Sehun ia kemudian memberi tahu dengan semangat "Kenalkan ini—"

"Apa yang Ibu maksud teman adalah Luhan?" sela nya cepat, bahkan sang Ibu sempat terkejut

"Jadi kau sudah mengenalnya?" Sooyoung bergumam tidak percaya

"Jadi anak Eomma si cabul ini?!" Luhan juga ikut memekik nyaring

"Hey! Apa-apaan itu memanggil Ibuku dengan sebutan Eomma!" Sehun protes tidak terima, keduanya saling mendelik berhadapan, seolah tanda perang akan dimulai sebentar lagi

"Apa yang kalian lakukan?, duduk!" titah Sooyoung tegas, kedua anak itu dengan patuh akhirnya menuruti perintah Sooyoung

"Sehunna, Ibu tidak kesepian karena ditemani Luhan" ujar nya lembut, jemarinya menyempatkan untuk mengusap pipi lembut sang anak

"Dan juga Luhan, dia ini Oh Sehun, anakku. Jangan kau panggil dia cabul!" kemudian Sooyoung mendaratkan kepalan tangannya diatas kepala Luhan

"Awhh...sakit Eomma" ringis nya manja, Sehun menatapnya garang. Ia tidak terima Sooyoung juga dipanggil Ibu oleh Luhan

"Sehunna jangan begitu, bisakah kalian bersahabat? Luhan sangat cocok jika jadi adikmu, wajah kalian hampir mirip" opini sang Ibu

"Huhh...yang benar saja? Aku masih lebih tampan" timpal Sehun, dan kini giliran Luhan yang kesal

Tapi sebelum Luhan protes, Sooyoung menyela duluan "Ya, kau memang tampan. Dan Luhan versi manis nya hehe..." Sooyoung tersenyum bahagia

"Eomma, kenapa selalu mengatakan aku manis?" rengek nya lagi, sepertinya Luhan lupa bahwa wanita ini adalah Ibunya Sehun, bukan Ibunya

"Baiklah kau cantik kalau begitu" lalu disusul suara tawa yang kompak antara Sooyoung dan Sehun

"Kalian menyebalkan!" dengus nya

Luhan kali ini menyudahi akting manja nya, kemudian dengan senyum manis, ia mengatakannya dengan sopan "Sehun sudah disini, bi. Kalau begitu aku pamit, Bibi sudah tidak kesepian kan?"

"Ya, terimakasih Luhan" ucap Sooyoung

Entah mengapa bahagia sekali rasanya melihat Sehun dan Ibunya tertawa kembali, ia jelas tidak ingin mengganggu momen mereka, karena itulah Luhan segera undur diri, dan Luhan tidak tahu, kenapa ia begitu manja pada Sooyoung, tapi biarlah sudah, Bibi Sooyoung juga menikmati tingkah kekanak-kanakannya kan?

"Luhan, kemana saja kau?" Lao Gao berseru, Luhan mendongakkan kepalanya

"Kau dicari Mama, cepat kembalilah ke kamar" Lao Gao menambahkan

Luhan mempercepat langkah nya, saat ia masuk kamar, sang Ibu sedang duduk di sofa sambil menonton tv. "Luhan, bagaimana keputusanmu?" tanya Ibu nya langsung ke inti

"Aku..ehm..."

Sial, Luhan bahkan belum memikirkan jawabannya. Bibir kenyal nya sampai ia gigiti saking bingung nya, matanya melirik kesamping, dan sang Ibu masih tatap mempertahankan fokusnya pada tv, sembari menunggu jawaban anaknya.

"Aku..ak-aku..."

Ting!

Satu nontifikasi pesan masuk diterima ponselnya, membuat bunyi khas itu terdengar ditengah kedua anak-Ibu yang sedang serius.

Luhan menyempatkan diri melirik layar ponselnya, dapat ia baca dengan jelas bahwa pesan tersebut berasal dari nomor Sehun

'Jam 8 nanti temui aku dikantin Rumah sakit, ada yang ingin aku bicarakan'

"Jadi bagaimana keputusanmu, Luhan?" tanya sang Ibu lagi untuk yang kedua kali

Sementara Luhan masih setia mengatupkan bibirnya rapat, ia tidak mampu menjawab pertanyaan sang Ibu walau hanya sepatah kata, pun.

.

.

TBC

Hatchih~ Hallo, ketemu lagi ^^ *lap ingus (?) Jaga kesehatan ya readers :D author nya lagi kena flu, sampai layar monitor nya hampir basah kena semprotan bersin mulu/? wkwk *poor my lepy ~.~

acieee belum-belum udah deket sama camer nih *smirk :3 *senggolin Luhan, jorokin kalau perlu sekalian :v

cuma mau ngasih tau kalo mulai sekarang ff ini akan fast update Yuhuu..!

dan terakhir, gw nagih review... :''v