Akhirnya bisa juga update chapter ini…
Maaf chibi baru bisa update 'coz chibi harus kuliah…
Jadi maaf kalau updatenya terlalu lama #bow
Ada yang bilang alur cerita chibi cepet. Benernya itu karena chibi lagi kehabisan ide a.k.a malesisasi #ditendang…
Jadi chibi buat chapter ini sebagai permintaan maaf chibi…
Pair : NaruGaa
Warning : OOC, Yaoi, yg ga suka jangan dibaca.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Fic ini punya Chibi
Cekidhot…
Chapter 5
Nejipun bergegas menuju sebuah apartemen mewah yang merupakan tempat tinggal Naruto. Di wajahnya terukir kecemasan akan kebenaran keputusan yang diambilnya namun hatinya meyakinkan bahwa ini yang terbaik. Dia sayang Gaara, maka dia akan bahagia jika Gaara bisa bahagia.
Ting…tong… Degup jantung Neji semakin kencang setelah menekan bel di apartemen Naruto. (kaya' mau ketemu sapa aja Neji pake malu-malu #dikeroyok fans Neji)
"Ya, siapa?" keluarlah lelaki berambut pirang dengan mata sebiru langit. Siapa lagi kalau bukan Naruto.
"Halo, apa benar kau yang bernama Uzumaki Naruto?"
"Iya, kamu siapa? Ada perlu apa denganku?"
"Perkenalkan aku Hyuuga Neji, tunangan Gaara."
"…" seakan melihat sesosok makhluk lain, mimik wajah Naruto langsung berubah menjadi keruh
"Ada apa?" tanya Naruto dengan nada suara yang dingin
"Sebelum itu, bolehkah aku masuk? Atau sekedar menawarkan teh mungkin." Jawab Neji berusaha mencairkan suasana
"Silahkan." Memasuki apartemen yang terbilang sederhana walau dari luar Nampak megah. Berbagai tumpukan buku dan majalah berceceran di lantai.
"Apa kau seorang penulis?" tanya Neji setelah menduduki sofa di ruang tamu
"Bukan, itu hanya hobby sampingan saja. Lalu apa keperluanmu?" Sembari meletakkan dua gelas orange juice
"Aku pikir kau sudah mengerti bahwa Gaara sedang melakukan operasi dan perawatan di Rumah Sakit Konoha."
"Lalu? Apa hubungannya denganku?"
"Aku ingin kau pergi sekali saja untuk menjenguknya. Siapa tahu itu dapat mempercepat kesembuhannya."
"Aku rasa itu tidak mungkin. Aku sangat sibuk sekarang, apalagi kantorku sedang ada proyek baru."
"Tidak akan lama. Lima ah tidak satu menit saja. Aku harap kamu bisa meluangkan waktumu satu menit saja untuk menjenguk Gaara."
"Apa yang kaum harapkan setelah aku bertemu dengannya?"
"Mungkin kebahagiaan yang bisa menyembuhkannya." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Neji tanpa bisa dikendalikan
"Maksudmu? Bukankah dia sudah memilikimu sebagai tunangannya? Lalu kenapa dia bisa bahagia bila bertemu denganku?"
"Awalnya aku juga tidak mengerti tapi kenyataannya Gaara masih menyukaimu, Naruto. Lebih tepatnya dia mencentaimu."
"Omong kosong!" Naruto berdiri dengan tatapan tajam menusuk kepada Neji
"Itu benar."
"Apa yang kau tahu?! Jangan seenaknya memutuskan. Apa kamu sebagai tunangannya tidak sadar dengan kau ucapkan?"
"Aku tahu. Aku sudah tahu semuanya. Karena Gaara sudah menuliskan semuanya dengan rinci di buku ini." Menyerahkan diary Gaara pada Naruto
"Sudah cukup. Kau tid…" belum selesai Naruto berbicara, ada seseorang yang datang ke apartemen Naruto
"Dobe." Merasa namanya dipanggil, Naruto segera membukakan pintu
"Teme?! Bukankah jadwal pesawatmu baru besok? Kenapa kau ada disini sekarang?"
"Hn. Biarkan aku masuk dulu, dobe."
"Kenapa kau tidak memberitahu kedatanganmu? Aku kan bisa menjemputmu di bandara?"
"Kau berisik, Dobe." Pada saat melewati ruang tamu, Ia melihat orang lain selain dirinya dan Naruto. "Kau sedang ada tamu? Kenapa tidak bilang padaku?" menghampiri Neji "Hai, perkenalkan aku Sasuke. Uchiha Sasuke."
"Oh iya, aku Hyuuga. Hyuuga Neji. Maaf kalau boleh tahu kau ada hubungan apa dengan Naruto?" tanya Neji dengan pandangan menyidik.
Bagaimana tidak? Pemuda tampan dengan kulit putih, hampir seputih dan semulus kulit Gaara. Berambut raven dengan bentuk melawan arah gravitasi namun tampak lembut itu, terlihat akrab dengan Naruto. Jangan sampai kemungkinan terburuk yang ia bayangkan menjadi kenyataaan. Kenyataan bahwa Naruto telah memiliki pasangan.
"Ah, aku adal…"
"Dia kekasihku. Kami sudah setahun berpacaran dan minggu depan berencana untuk melangsungkan pernikahan." Celetuk Naruto
Sasuke yang mendengar hal itu hanya memberikan deadglare terbaiknya sedangkan Naruto tampak acuh. Lain dengan Neji, dari wajahnya terlihat bahwa dia amat syok dengan kenyataan yang sedang dihadapinya
"Kami-sama, kenapa kau biarkan ini semua terjadi pada Gaara? Apa kau belum puas memberikan Gaara kesengsaraan? Setelah kau hamper merebut nyawanya sekarang kau pun akan mengambil kebahagiaannya? Betpa kau kejam Kami-sama…" ungkap Neji dalam Hati
"Hyuuga-san, kau tidak apa? Mukamu tampak pucat. Hari sudah hamper malam bagaimana kalau kau menginap disini saja?"
"TEME!"
"Diam kau, Dobe!"
"…!" tersentak Naruto melihat kilatan amarah pada pupil Sasuke
"Mungkin lebih baik aku pulang saja, Uchiha-san. Aku tidak ingin kehadiranku disini menganggu kalian berdua."
"Jangan begitu, kau tid…"
"Baguslah kalau kau sadar. Akan lebih baik lagi jika kau cepat-cepat angkat kaki dari sini."
"Naruto!"
"Huh!" Naruto melangkahkan kakinya dengan angkuh menuju lantai dua
"Aku benar-benar minta maaf, Hyuuga-san."
"Tidak apa. Aku yang salah jadi aku yang harusnya minta maaf. Oh ya, tolong panggil aku dengan Neji saja."
"Baiklah, tapi kau juga harus memanggilku Sasuke saja."
"Setuju. Kalau begitu aku undur diri dulu. Selamat malam."
"Selamat malam. Hati-hati dijalan."
Nejipun pulang dengan perasaan yang bercampur aduk. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Naruto sudah memiliki seorang kekasih yang tampan dan baik.
"Hm… Tak kusangka ada orang sepertinya. Dia lebih tenang dibandingkan dengan sikap Naruto yang gampang marah. Dia terlihat begitu mempesona dengan senyum tipis saat mengantar Neji keluar. Tunggu dulu!? Mempesona?! Apa yang sedang ku pikirkan?! Aaarrrrggghhh! Lebih baik aku segera bergegas." Gerutu Neji sambil mengarahkan mobilnya kembali ke RS Konoha
Sementara itu di apartemen Naruto
"Apa-apaan itu tadi, Dobe?!"
"Apanya?" tanya Naruto santai sembari berkonsentrasi pada layar laptonya
"APA KAU BILANG?! Bukankah kau sudah keterlaluan tadi? Kenapa kau tidak pergi saja? Kenapa kau malah bersikap seperti itu? Kau tidak seperti Naruto yang ku kenal! Malam ini aku akan langsung pulang. Aku tidak ingin serumah dengan orang yang hanya terbawa emosi saja."
"Hei, hei… Jangan begitu, Sasuke. Aku hanya tidak ingin tenggelam dalam masa lalu lagi saperti saat itu. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu, mungkin aku sudah menjadi penghuni rumah sakit jiwa sekarang." Kata Naruto berusaha mencegah Sasuke untuk pergi dari apartemennya.
"Tetap saja kau keterlaluan!"
"Kau mau kemana? Buakankah kau baru datang?"
"Kemana saja! Asal tidak bersamamu. Renungkan semua kata-katamu tadi atau kau akan menyesal, Naruto."
BRRRAAAKKK…!
Suara bantingan pintu itu seakan menjadi teguran atas tindakan yang telah dilakukannya tadi. Namun, setiap kali ada hal yang berhubungan dengan masa lalunya, terutama Gaara, entah mengapa emosinya semakin meluap tanpa bisa ia kendalikan.
"Sial! Apa yang harus ku lakukan sekarang?!" Naruto frustasi dan melempar segala macam benda yang ada di dekatnya
BRUUK
Diliriknya buku yang baru saja dijatuhkan. Diary Gaara. Buku yang menjelaskan semua masa lalunya pada Neji, tunangannya.
"Kenapa kau menulis ini semua? Kenapa, Gaara?" tetes air matanya membuat rangkaian ingatan masa lalu terputar bagaikan kaset film di kepalanya
#Flashback#
"Hay, Naruto. Besok hari terakhir kita ujian, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Kiba sepulang sekolah
"Aku dengar kau dapat beasiswa untuk sekolah ke luar negeri?" celetuk Shikamaru
"Benarkah? Aku tidak tahu?"
"Ya, tapi masih ada perasaan yang mengganjal. Mungkin saja aku bisa pergi namun mungkin juga tidak." Kiba dan Shikamaru saling bertatapan
"Ah, aku pergi dulu ada urusan yang harus ku urus."
"Oke."
Naruto's POV
Aku sudah beberapa bulan ini memikirkannya. Awalnya aku piker hanya kebetulan saja, tapi entah mengapa aku merasa tak bisa melepaskannya dari ingatanku. Kalian tahu maksudku kan? Ya benar, aku, seorang Uzumaki Naruto, telah jatuh hati pada seorang pemuda. Siapa lagi kalau bukan Gaara. Dan hari ini aku berencana untuk mengatakan padanya.
"Ah, rasanya detak jantungku terdengar sampai keluar. Kenapa aku jadi gugup seperti ini?"
Aku berniat untuk mencegatnya keluar dari kelas dan mengajaknya ke kafe Byru di tengah taman konoha. Ketika aku melihat sosoknya, segera aku mengeluarkan suara untuk memanggil namanya, namun…
"Hentikan itu. Kau selalu saja jahil padaku!" bentak Gaara dengan wajah cemberut dan merah
"Sudahlah, Gaara. Tak perlu kau tutupi lagi. Aku sudah tahu perasaanmu yang sebenarnya."
Siapa pemuda yang bersama Gaara itu? Kenapa mereka akrab sekali? Baru pertama kali ini, aku melihat raut muka Gaara yang memerah dan cemberut. Dia kelihatan puluhan kali bahkan ribuan kali lebih imut dibandingkan saat bersama denganku. Semua perasaan itu bercampur aduk di dalam pikiranku. Tiba-tiba suara Gaara menyadarkanku
"Eh? Ah…Ti…Tidak…Aku tidak…" wajah Gaara seketika memerah dan Gaara langsung memeluk pemuda itu.
Kejadian di depan mataku, membuat hatiku hancur dan mengetahui bahwa Gaara tidak menyukaiku namun menyukainya.
"Cukup. Lebih baik aku segera pergi dari sini."
Normal POV
"Kau suka naruto kan?" bisik Kankuro di telinga Gaara
"Hentikan itu. Kau selalu saja jahil padaku!" bentak Gaara dengan wajah cemberut dan merah
"Sudahlah, Gaara. Tak perlu kau tutupi lagi. Aku sudah tahu perasaanmu yang sebenarnya."
"Eh? Ah…Ti…Tidak…Aku tidak…" wajah Gaara seketika memerah dan Gaara langsung memeluk Kankuro, "Kau tahu darimana?" bisiknya
"Hahaha… Kau memang adikku yang paling manis dan imut." Kata Kankuro sembari menyubit pipi Gaara yang memerah
"Nii-san!"
"Iya…iyaa…Aku tahu dari gelagatmu."
"Eh? Apa sebegitu kelihatan kalau aku menyukainya?"
"Yah, mungkin ditambah dengan sedikit insting seorang kakak." Katanya sambil melirik kea rah Gaara
"Nii-san!?" tangan Gaara ikut beraksi menyubit pinggang Kankuro
"Oke, sudah cukup. Ayo kita pulang."
"Baiklah, sekalian nanti mampir dulu."
"Kemana?"
"Supermarket."
"Oke."
"Hari ini giliranmu memasak, Onii-chan."
"Iya, hari in… Eh?! Tunggu dulu, Gaara! Bukannya sekarang giliran…" saat menoleh ke arah samping, Kankuro tidak melihat sosok Gaara lagi.
"Hey! Tunggu aku!"
Percakapan kedua saudara sedarah itu tidak diketahui secara utuh oleh Naruto. Dia hanya mengetahui kalau Gaara lebih bisa berekspresi ketika di dekat pemuda yang pada kenyataannya adalah kakaknya sendiri.
Saat perjalanan pulang, tanpa sengaja Gaara melihat Naruto sedang berpelukan dengan seorang pemuda tampan berkulit putih dan berambut Raven.
"Na…Naru…To? Tidak!? Ini tidak benar kan? Kenapa? Kenapa kau berpelukan mesra seperti itu?" tetes air mata mulai mengalir dengan lembut di pipi Gaara
"Gaara, kenapa kau tidak menun… Hey, ada apa? Kenapa kau menangis?" Kankuro yang baru saja bisa menyusul Gaara, tersentak melihat adegan di depannya
Perlukah author jelaskan di sini? (#author kurang kerjaan dilempar). Baiklah, adegan yang dilihat oleh Gaara dan Kankuro adalah Naruto yang sedang berpelukan dengan seorang pemuda tampan berkulit putin dan berambut raven. Naruto begitu erat memeluknya dan si Raven hanya mengelus-elus punggung Naruto seolah menyalurkan rasa kasih sayangnya ke tubuh Naruto.
"Sudah, Gaara. Kita pulang saja. Masih banyak orang yang bisa mencintaimu juga kau cintai. Sekarang lupakan saja bocah kuning itu."
"…" Gaara hanya mengangguk sembari sesunggukan
#End of Flashback#
Rumah Sakit Konoha
Neji tampak terburu-buru dengan langkahnya, seolah jika ia melambat maka ia akan kehilangan Gaara. Hari ini, Gaara sudah selesai di operasi.
"Bagaimana keadaan Gaara, Tsunade-sensei?" tanya Temari
"Operasinya berjalan lancar, tapi…"
"Tapi apa?"
"Aku sendiri tidak mengerti. Seakan-akan Gaara enggan untuk terbangun. Kami sudah melakukan yang terbaik, sekarang kita serahkan semua pada Gaara. Pada keinginannya untuk hidup."
Temari hanya mampu menutup mulut dan bercucuran air mata mendengar penjelasan dari Dokter Tsunade. Ia tak sanggup menahan betapa adik kecilnya sangat menderita.
Sementara itu di lorong…
"Bagaimana?" tanya Kankuro was-was
"Tidak bisa. Aku sudah membujuknya, tapi dia malah emosi dan mengatakan bahwa dia akan segera menikah."
"Apa?! Itu tidak benar kan? Bagaimana semua jadi seperti ini?!"
"…" Nejipun hanya mampu menundukkan kepalanya
"Aku berharap dia mau datang. Oh ya, operasi Gaara berjalan lancar."
"Benarkah? Syukurlah." Mendengar kabar itu seoalah Neji bisa melonggarkan satu urat kegelisahaannya
"Tapi…"
"Tapi apa?"
"Gaara seolah tak ingin bangun dari tidurnya. Aku takut Gaara memilih untuk…"
"Itu tidak mungkin, Kankuro-nii! Gaara kuat. Gaara pasti bisa melewati ini semua. Aku yang akan memastikan dia kembali dan mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan."
Kankuro takjub dengan perkataan Neji. Seolah dia ditampar dan disadarkan bahwa tugasnya sebagai kakak belum selelsai sampai di sini. Kankuro memutuskan untuk membawa Naruto ke sisi Gaara dengan atau tanpa kekerasan.
To Be Continue…
Seleseee…
Maaf minna-san kalau di chapter ini agak sedikit amburadul… #plakk
Chibi sendiri masih bingung bagaimana ending yang harus chibi buat…#disabakyuu
Walau begitu chibi harapkan reviewnya…
#bow..
