Aku tak selalu mendapatkan inspirasi namun ketika dapat, itu akan lansung kutuangkan untuk kalian. Ini setidaknya sebagai pemanasan bagiku untuk kembali melanjutkan semua kisah yang kutulis. Terimakasih banyak atas semua dukungan kalian selama ini
RiesA AfieLa
Naruto menghembuskan nafas pelan. Dalam perjalanan tenangnya menuju ke suatu desa yang berdekatan dengan kota para petualang- Orario, Naruto menyadari bahwa perjalanannya ini setidaknya sudah memakan waktu hingga setengah hari.
Itu hal yang wajar mengingat Naruto sendiri hanya berjalan kaki saja sejak dia pergi dari rumah tanpa bergerak cepat seperti seorang ninja. Pada punggung Naruto sendiri ada sebuah tas besar yang terbuat dari kulit binatang buas yang Naruto bunuh untuk diambil daging dan kulitnya sebagai bagian dari peralatan yang dia perlukan. Dalam tas besar yang dia bawa, ada begitu banyak barang yang ingin dia tukarkan di desa yang dia tuju.
Naruto sendiri sudah cukup lama melakukan pertukaran dengan desa yang dia tuju. Itu diingatnya tepat dua minggu setelah dia menyesuaikan dirinya dengan kehidupan pada dunianya yang baru. Naruto ingat betapa ketika dia baru berada pada dunianya yang baru ini, Naruto lebih dahulu mencari semua informasi yang berkaitan dengan dunia ini sebelum kemudian Naruto memilih untuk hidup dalam kedamaian, menyingkirkan dirinya dari dunia agar ketenangan dia dapatkan. Hal yang pantas untuknya mengingat apa yang telah dia lalui.
Perang selalu menyisakan luka yang tidak akan pernah terobati. Bahkan oleh waktu sekalipun. Yang bisa dilakukan oleh waktu hanya membiarkan diri menerimanya sebagai hal yang telah terlampaui.
Desa yang Naruto tuju sudah terlihat dimata pemuda itu. Pagar dari batang kayu besar yang mengelilingi desa untuk terlindung dari serangan binatang buas ataupun monster yang keluar di luar area Dungeon terlihat bersamaan dengan mengepulnya asap dari rumah-rumah warga yang ada di desa.
Ada satu orang yang berjaga di luar desa itu, seorang pemuda yang sama seumuran dengan dirinya dimana ketika Naruto mendekat, pemuda penjaga tersebut terlihat tersenyum dan melambaikan tangannya.
"Narutooo!" Teriak pemuda itu yang membuat Naruto juga tersenyum dan melambaikan tangannya balik. Naruto mempercepat langkahnya kemudian.
Pemuda penjaga itu memiliki rambut berwarna coklat. Tubuhnya cukup tegap untuk seukuran umurnya dan otot-otot menandakan dia juga latihan. Hal yang wajar karena dia adalah penjaga desa juga.
"Halo Kyle. Hari yang cerah ya."
"Yap!" Jawab Kyle- pemuda penjaga. "Seperti biasa mau bertemu dengan pak Alex?"
"Mau apa lagi kalau bukan itu?" Naruto kemudian menurunkan tas yang ada dipunggungnya. "Ada banyak barang bagus yang kudapatkan dan aku juga kebetulan dapat pesanan yang pernah kau minta." Naruto melepas tali dari kantong bagian luar dari tasnya. Ada sebuah bungkusan dari kain yang cukup besar yang kemudian diserahkan pada Kyle yang terlihat menampakkan raut senang. Naruto menyerahkan kantong kain tersebut pada Kyle dan dengan tergesa-gesa Kyle menerimanya.
Mata pemuda itu terbinar terang ketika membuka bungkusan kain yang didalamnya berisi jamur yang cukup berharga.
"Wahhhh...!" Kyle menari kecil yang menimbulkan rasa geli dan tawa kecil pada diri Naruto. Pemuda itu kemudian mendekap bungkusan berisi jamur tersebut dengan erat. "Dapat darimana ini Naruto? Dan berapa harganya?"
"Dari lembah dekat pegunungan hitam. Kebetulan ada kayu Red Wood yang tumbuh disana dan kebetulan juga jamur ini tumbuh di bawah. Kau sedang mujur." Yang dimaksud jamur itu adalah jamur khusus yang hanya tumbuh dibawah pohon Red Wood saja. "Sudah kuasapkan sekalian agar agak awet dan untukmu gratislah karena kau sudah sering membantuku juga."
"Terima kasih banyak kalau begitu!" Kyle menepuk pundak Naruto dengan senang sekali. Naruto lalu menaikkan lagi tas punggungnya. "Jangan langsung dihabiskan. Cukup susah kalau pas gak musimnya."
"Iya-iya." Kyle mengibaskan tangannya. "Sudah temui saja pak Alex di rumahnya. Dia barusan kembali dari membeli roti nona Maria."
"Nah... pak Alex kuharap gak menggoda nona Maria."
"Mustahil." Kyle tertawa. "Lagipula nona Maria juga menarik. Mereka kan kadang malu-malu."
"Kau benar." Naruto kemudian beranjak dari sana dan mulai berjalan masuk. Dia kemudian meneruskan perjalanannya menuju rumah Alex yang merupakan pedagang di desa ini yang biaa berdagang dengannya dimana Alex membawa barang dagangannya yang diperoleh dari desa menuju ke Orario.
Alex adalah pedagang yang ramah. Dia adalah yang percaya pertama kali untuk membeli barang darinya meskipun saat itu Naruto adalah orang asing yang baru pertama kali masuk desa. Naruto masih ingat betapa penduduk desa juga menaruh curiga padanya pertama kali ketika dia menginjakkan kaki di desa ini.
Butuh waktu hingga akhirnya penduduk desa secara perlahan mulai menaruh rasa kepercayaan mereka padanya dan menganggapnya bukan orang asing. Disini, Naruto adalah seorang pemburu yang tinggal cukup jauh dari desa dan bukanlah seorang petualang.
Banyak anak kecil yang menghampiri Naruto dan Naruto tertawa sambil kemudian mengeluarkan permen yang dia buat dari campuran buah-buahan hutan dan gula yang dia dapatkan setelah mengolah tanaman tebu. Anak-anak kecil disini semua mengenalnya dan orang tua mereka juga mengenal Naruto sebagai seorang pemburu yang baik apalagi Naruto juga kerap membeli barang-barang yang dijual di desa.
Naruto lalu melihat Alex, pedagang yang dicarinya tengah berdiri di depan pagar rumahnya yang juga terbuat dari kayu bambu. Pria itu tengah menyiram tanaman sayurnya yang ditanamnya sendiri sebagai bagian dari hobi yang dia punya. Pria itu berbadan tegap yang terlihat berbeda dengan pedagang kebanyakan karena Alex sendiri setahu Naruto adalah seorang mantan petualang yang telah berhenti dari petualangannya di dungeon Orario. Alex tidak pernah bercerita pada Naruto kenapa dia berhenti dan Naruto tidak menanyakan hal tersebut karena hal tersebut adalah hal pribadi bagi Alex.
Seperti merasa ada yang datang untuknya, Alex— pria itu berbalik dan tersenyum ketika dia melihat Naruto yang berjalan menghampirinya.
"Oh ... kau rupanya Naruto. Baru datang?" Alex bertanya pada Naruto yang berhenti dihadapan Alex yang menyapa dirinya.
"Iya." Balas Naruto. "Aku punya banyak barang bagus. Ada kulit dari beruang juga."
"Kau berburu beruang?"
"Kebetulan saja karena dia dekat dengan tempat tinggalku. Awalnya aku biarkan karena kupikir dia akan pergi sendiri tapi dia menyerangku secara tiba-tiba saat aku sedang keluar rumah. Aku hanya melindungi diriku sendiri saat itu."
"Kupikir kau berburu beruang." Alex kemudian membuat gerakan agar Naruto mengikutinya dan Naruto mengikuti pria pedagang itu masuk ke rumah. Naruto kemudian menurunkan tas punggungnya dan mengeluarkan semua isinya.
Kulit beruang. Daging beruang yang sudah diasap. Tanaman herbal dan buah-buahan yang dikeringkan. Ada juga hasil buatan Naruto berupa obat salep buatan sendiri yang dibuat dari tanaman herbal di hutan.
"Cukup banyak kali ini." Ujar Alex sambil meletakkan segelas air untuk Naruto melepas dahaganya. Ada juga roti yang terlihat oleh Naruto dan seperti kata Kyle baru dibeli dari nona Maria— satu-satunya pembuat roti di desa ini.
"Sedang beruntung saja." Kata Naruto yang mengambil air dan meneguknya, melepaskan dahaga. "Bagaimana kabar nona Maria?" Tanya Naruto yang merasa geli ketika dia melihat Alex terlihat kikuk dengan pertanyaannya. "Aku bercanda."
"Bercandamu tidak lucu."
"Tapi jujur kenapa kau tak segera melamarnya."
"Sedang menunggu waktu yang tepat saja kawan." Alex duduk dan mulai melakukan perhitungan akan barang yang dibawa oleh Naruto.
"Undang aku jika kau menikah."
"Hah! kau pasti akan datang sendiri nanti." Balas Alex yang dibalas cengiran tipis Naruto. "Kapan ke Orario?" Tanya lagi Naruto.
"Besok mungkin. Barangku sudah banyak juga dan harus segera dijual." kata Alex. "Kenapa? kau mau ikut?"
Naruto menggeleng dan Alex melihat itu.
Alex sebenarnya cukup penasaran siapa Naruto yang sebenarnya dahulu. Alex yang seorang petualang tahu betul bagaimana tubuh seorang petarung dan tubuh Naruto semua mencerminkan bahwa Naruto adalah seorang petualang dahulu mungkin. Hanya Alex tak bertanya lebih jauh kecuali dia kini tahu Naruto lebih memilih hidup tenang di dalam hutan dan dengan pekerjaannya sebagai pemburu.
Hanya saja Alex terkadang penasaran saja. Tapi dia tahu batasnya.
Naruto setahu Alex hanya dua kali menginjakkan kakinya di Orario. Dua bersama dirinya dan Alex tahu bahwa Naruto bergumam bahwa dia tidak menyukai kota Orario. Entah apa dasarnya. Sebuah kenangan buruk atau apa itu.
Sedangkan Naruto sendiri memang berusaha menghindari Orario karena dia tidak ingin diketahui oleh dewa ataupun dewi apalagi dengan kemampuan dewa atau dewi yang bisa membedakan mana kebohongan ataupun kebenaran. Naruto juga tidak ingin bertemu karena diantara para dewa-dewi, dia tahu bahwa ada yang berusaha untuk mencarinya.
Dan dia berada dipuncak tertinggi menara di kota Orario.
Butuh sedikit kemampuan dari Naruto agar bisa lepas juga dari siapapun yang berusaha mencarinya.
Lagipula ditambah dengan pertemuannya kemarin kemarin dengan dewi Artemis yang dia kirim ke Orario, Naruto rasa dia harus mulai memagari tempatnya tinggal agar tidak diketahui oleh dewi itu dengan segel.
Naruto merasa dewi Artemis itu pastilah akan juga mengejarnya apalagi setelah dia mengirim dewi itu untuk menabrak tembok Orario.
Dewi itu nanti pasti balas dendam.
Mungkin Naruto harus segera mulai memagari rumahnya dengan segel setelah dia menstok makanan dan keperluannya dari desa ini dan berdiam untuk beberapa waktu.
Itu adalah ide yang bagus.
"Kupikir kau akan ikut. Kau tahu ada nona yang sempat bertanya tentang kau juga."
"Itu yang membuatku tidak nyaman." Naruto tertawa. Sudah berapa lama dia tidak tertawa apalagi ketika mengingat nona yang dimaksud oleh Alex. "Aku tak berniat membuat keributan malam itu. Para petualang itu yang terlalu mabuk."
"Tapi kau yang sadar bahwa nona itu diganggu oleh petualang mabuk malam itu." Alex menata tanaman herbal Naruto di meja. "Para petualang itu berpikir mereka bisa bertindak sesuka mereka karena sudah nencapai level dua."
"Masih banyak petualang yang tidak seperti mereka. Kau contohnya."
"Tapi aku tak seberani dirimu." Alex menatap Naruto kini. Sebuah pertanyaan terlepas begitu saja. "Kau kuat Naruto."
Naruto yang mendengar kata-kata Alex hanya bisa tersenyum kecil. Tidak mengiyakan dan diam saja. Sesuatu yang disadari Alex untuk tidak berkata lagi.
Naruto tidaklah sekuat yang dikira semua orang.
Jiwanya telah terkikis dan lelah.
Naruto tak banyak bicara akan semua beban yang ditanggungnya dahulu namun Naruto tahu bahwa dia telah lelah.
Shinobi yang telah melalui perang— dia juga manusia.
Kini dia mencari kedamaian dalam kesempatan keduanya untuk hidup.
Aroma dari obat-obatan masuk dan membuat suatu hal familiar terasa pada dewi Artemis yang membuat Artemis perlahan membuka matanya dan mendapati dirinya melihat langit-langit putih.
Artemis menyadari dirinya tengah terbaring dan ingatan dirinya yang masih samar mencoba untuk mengingat kenapa dia bisa berada disini, di ruangan yang terasa cukup familiar bagi banyak petualang ataupun dewa dewi.
Ini ruangan pengobatan dewa Miach— dewa dari pengobatan.
Artemis mencoba untuk bangun. Tubuhnya tidak terasa sakit dan dirinya mencoba keras mengingat ingatan sebelumnya sebelum ingatan akan mata Cerulean biru yang dingin dan sosok pemuda yang bertarung dengannya masuk dalam ingatannya.
Ingatan yang menunjukkan bahwa pertarungannya dengan seorang manusia.
Dan dia kalah.
Artemis mengigit bibirnya.
Manusia bisa mengalahkannya yang seorang dewi. Dan dewi yang dia kalahkan bukan dewi sembarangan pula.
Artemis adalah pemanah, pemburu dan petarung unggul di kalangan dewa dewi di dunia atas. Kekuatan yang setara dengannya bisa dihitung dengan dua tangan.
Tapi dirinya kalah oleh manusia. Hal itu menyebabkan hati Artemis mencelos.
Tidak bisa diterima!
Tidak bisa diterima!
Tidak bisa diterima!
Dia terlalu meremehkan manusia itu dan itu berakibat kekalahannya. Dia akan mencari lagi pemuda itu dan kemudian pasti, dia pasti akan meminta pertarungan ulang dan juga memberikan hukuman bagi pemuda itu yang telah melihat tubuh telanjangnya.
Artemis kemudian bangkit dan berjalan mengambil pakaian miliknya yang ada di ruangan tersebut dan berniat mengganti pakaian yang biasa digunakan oleh mereka yang sakit. Artemis tahu Miach pasti menyuruh anggota Familia nya yang perempuan untuk mengganti pakaian Artemis. Miach adalah dewa yang jujur dan baik dan Artemis tahu setelah dia keluar dari sini dia pasti akan ditanyai kenapa dia bisa menabrak tembok Orario.
Artemis akan berbohong untuk itu. Kekalahannya dari manusia tidak perlu untuk diketahui siapapun karena itu akan merusak reputasinya.
Yang juga paling penting adalah sekarang dia harus segera menemukan manusia yang mengalahkannya dan membuat manusia itu tahu dia— dewi Artemis adalah dewi yang tidak bisa dibuat main-main.
Memasang belati pada pinggangnya, Artemis kini telah bersiap.
Waktu berburu dengan sungguh-sungguh telah tiba.
