Arigatou minna…
Berkat kalian, chibi bisa menulis hingga chapter ini #sesunggukan
Untuk selanjutnya mohon bantuannya lagi…
Pair : NaruGaa
Warning : OOC, Yaoi, yg ga suka jangan dibaca.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Fic ini punya Chibi
Chapter 6
"Mau kemana kau?" tanya Temari
"Aku mau mencari kebenaran cinta." Jawab Kankuro santai sembari mengambil sesuatu dari dalam tasnya
"Hah? Jangan bialng kau mau pergi ke rumahnya lagi?"
"Kesungguhan hati Neji sudah menyadarkanku. Kewajibanku sebagai kakak belum sepenuhnya terlaksana."
"Apa maksudmu?! Apa kamu lupa atau memang pura-pura lupa? Dialah yang menyebabkan Gaara seperti ini?! Dia yang sudah…" seakan tak sanggup untuk berkata, Temari hanya bisa menangis
"Nee-san, aku tahu kau marah. Akupun demikian. Tapi tak inginkah kau melihat Gaara memperoleh kebahagiannya? Cintanya? Harapan hidupnya?" terdiam seolah semua kata-kata Kankuro adalah seribu jarum di lidahnya
"Aku janji, kita semua akan baik-baik saja."
Hari semakin menjelang sore, namun sosok pemuda dengan tato di wajahnya nampak tidak peduli dengan itu semua. Dia memacu mobilnya menuju Konoha Park Resident, tempat dimana Naruto berada.
Ting…tong…
"Iya sebentar." Sasuke segera menuju pintu, "Siapa ya?"
"Maaf, apa benar ini kediaman, Uzumaki Naruto?" heran melihat Sasuke yang membukakan pintu
"Iya. Kamu siapa? Ada perlu apa dengan Naruto?"
"Aku kakak Gaara." Seakan mengerti Sasukepun mempersilahkan Kankuro masuk kedalam agar bisa lebih leluasa untuk mengobrol
"Perkenalkan namaku Sasuke. Uchiha Sasuke."
"Iya aku sudah tahu tentangmu dari Neji."
"Oh begitu. Lalu ada perlu apa kakak Gaara kemari?"
"Panggil aku Kankuro saja."
"Oke. Jadi apa keperluan Kankuro-nii?"
"Kau mungkin sudah mendengarnya dari Neji. Aku berencana mengajak Naruto ke rumah sakit menjenguk Gaara. Sekarang ini Gaara sedang berjuang untuk kembali hidup. Aku mempunyai pikiran bahwa dia akan cepat sembuh kalau Naruto ada disisinya." Mendengar hal itu, Sasuke menjadi murung
"Aku tahu kau adalah tunangan Naruto. Tapi aku mohon padamu untuk meminjamkan Naruto sehari saja. Aku tidak akan meminta lebih dari ini." Ujar Kankuro sembari berlutut di hadapan Sasuke
"Bangunlah, Kankuro-nii. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak yakin Naruto berkeinginan untuk pergi ke sana."
"Apa tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membawa Naruto ke sana? Aku mohon."
"Aku ingin membantu tapi…" belum selesai Sasuke berbicara, terdengar suara Naruto dari arah pintu
"Tadaima."
"Okaeri, Naruto. Kau pulang cepat hari ini. Bagaimana proyekmu?"
"Kurang beberapa bagian lagi. Sepatu siapa ini? Apa ada tamu?"
"Eh, ah iya. Itu tadi ada tamu mencarimu."
"Oh iya? Siapa?"
"Masuklah dulu." Narutopun mengikuti Sasuke masuk ruang tamu
"Hay, Naruto. Lama tak jumpa."
"Kau?! Mau apa kau kemari!?" bentak Naruto penuh emosi
"Tenanglah, Naruto. Lebih baik kau mandi dulu lalu kita makan bersama. Setelah itu, kita bicarakan semua ini baik-baik."
"Aku tidak sudi. Kau ini kenapa, Sasuke? Apa kau ingin aku menjadi murka lagi?"
"Naruto, apa kau sudah lupa janjimu kemarin? Jika kau masih ingat lebih baik kau turuti kata-kataku. SEKARANG!" kata Sasuke dengan penekanan pada setiap kata-katanya
"…" tidak sanggup membantah Narutopun segera menuju kamar mandi
"Dan kau, Kankuro-nii, aku harap kau bisa membantuku menyiapkan makan malam. Aku juga ingin kau maklum dengan sifat Naruto."
"Baiklah. Tak masalah buatku."
Setelah selesai makan, mereka bertiga menuju ruang tamu.
"Jadi apa yang kau inginkan dariku? Bukankah sudah berkali-kali aku katakan, aku tak ingin pergi ke tempat Gaara." Ujar Naruto membuaka percakapan malam itu
"Aku tahu itu. Tapi aku perlu tahu apa alasan yang membuatmu enggan menemui Gaara. Bukankah dulu kau menyukai Gaara?"
"..!" kaget Narutopun terbalut emosi, "Apa yang kau tahu?! Bukankah kau yang sudah mengambil Gaara dariku? Bahkan sebelum aku sempat mendapatkannya." Mimik Naruto berubah menjadi sendu
"Apa maksudmu? Aku merebut Gaara? Apa kau sudah gila? Aku ini Kakak Gaara!" bentak Kankuro tak kalah emosi dengan Naruto
"Apa?! Tapi waktu itu aku melihat kau berpelukan dengan Gaara. Lalu..lalu ekspresi Gaara berubah menjadi lembut ketika bersamamu…"
"Itu karena Gaara tak pandai menyampaikan perasaannya kepada orang lain. Jelas saja ekspresinya berubah ketika dia bersamaku yang notabenya Kakak Kandungnya sendiri! Kalau kau tidak percaya, aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu."
#Flashback#
Kankuro's POV
"Kau suka naruto kan?" bisikku di telinga Gaara
"Hentikan itu. Kau selalu saja jahil padaku!" bentak Gaara dengan wajah cemberut dan merah
"Sudahlah, Gaara. Tak perlu kau tutupi lagi. Aku sudah tahu perasaanmu yang sebenarnya."
"Eh? Ah…Ti…Tidak…Aku tidak…" wajah Gaara seketika memerah dan Gaara langsung memelukku, "Kau tahu darimana?" bisiknya
"Hahaha… Kau memang adikku yang paling manis dan imut." Kataku sembari menyubit pipi Gaara yang memerah
"Nii-san!"
"Iya…iyaa…Aku tahu dari gelagatmu."
"Eh? Apa sebegitu kelihatan kalau aku menyukainya?"
"Yah, mungkin ditambah dengan sedikit insting seorang kakak." Kataku sambil melirik ke arah Gaara
"Nii-san!?" tangan Gaara ikut beraksi menyubit pinggangku
"Oke, sudah cukup. Ayo kita pulang."
"Baiklah, sekalian nanti mampir dulu."
"Kemana?"
"Supermarket."
"Oke."
"Hari ini giliranmu memasak, Onii-chan."
"Iya, hari in… Eh?! Tunggu dulu, Gaara! Bukannya sekarang giliran…" saat menoleh ke arah samping, aku tidak melihat sosok Gaara lagi.
"Hey! Tunggu aku!"
#End of Flashback#
"Saat perjalanan pulang, tanpa sengaja Gaara melihatmu sedang berpelukan dengan seorang pemuda yang tidak lain adalah Sasuke. Gaara syock dan langsung memutuskan untuk melupakanmu. Walau aku yakin dia masih amat sangat menyayangimu."
"Bohong?! Ini semua bohong kan? Ini tidak benar kan? Sasuke katakana padaku bahwa ini hanya mimpi. Ini semua tidak nyata!?" pintanya pada Sasuke
"Tenanglah, Naruto. Ini semua nyata. Kau harus bisa menerima kenyataan ini."
"Kenapa? Kenapa semua jadi seperti ini."
"Apa kau ingat kotak ini, Naruto?" sembari menyerahkan kotak biru dengan pita orange pada Naruto
"Apa ini?"
"Bukalah." Naruto membuka kotak itu dan betapa terkejutnya dia melihat isi dari kotak itu
"Ini…"
"Itu adalah hadiah yang tidak sempat Gaara berikan padamu tiga tahun yang lalu."
"Apa ini, Naruto?"
"Kau ingat kalung warisan dari keluargaku yang hilang waktu aku bermain basket? Inilah kalung itu."
"Apa? Ya Tuhan. Jadi selama ini kalung itu ada bersama Gaara?"
"sebelum itu, aku juga ingin menanyakan apa yang kau lakukan dengannya dulu? Kalau memang kau menyukai Gaara, mengapa kau bermesraan dengannya di depan Gaara?"
"Itu sebenarnya…"
"Biar aku yang menceritakannya, Sasuke."
#Flashback#
Naruto's POV
"Cukup. Lebih baik aku segera pergi dari sini." Tak kuat melihat kejadian selanjutnya, kuputuskan untuk pulang ke rumah
"Dobe."
"Teme?! Sedang apa kau di sini?" aku kaget bertemu dengan Sasuke saat perjalanan ke rumah
"Menjemputmu memang apa lagi?" melihat raut kesedihan Naruto "Ada apa? Kau menangis?"
"Ap… Aku tidak menangis."
"Sudahlah, Dobe. Kau pikir aku baru mengenalmu hari ini?"
"…" Narutopun memeluk Sasuke sembari mengeluarkan air mata
"Hey…Ada apa? Ceritakan padaku."
"Orang yang aku cintai sudah memiliki orang lain, Teme. Aku patah hati bahkan sebelum aku sempat untuk mengatakannya." Jelas Naruto sambil menangis
"Sudahlah. Anggap saja ini ujian untukmu. Lagipula kau masih memilikiku disini kan?" ujar Sasuke sambil mengusap-usap punggung Naruto
"Terima kasih, Teme."
"Iya. Lebih baik kita segera pulang sebelum teman-temanmu melihat keadaanmu yang kacau seperti ini."
"Baiklah."
#End of Flashback#
"Setelah itu, aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Otto. Dan baru beberapa bulan yang lalu aku kembali lagi ke konoha."
Hening seketika merasuki seluruh ruang apartemen itu. Kini jelas sudah kesalah pahaman diantara mereka.
"Lebih baik kau pergi mengunjungi Gaara, Naruto." Sasuke yang mulai angkat bicara membuat Naruto dan Kankuro kaget
"Tapi Teme, aku…"
"Tidak ada tapi-tapian, Dobe. Kau sudah berjanji padaku."
"Baiklah."
"Jadi, kau akan menjenguk Gaara kan? Kau benar-benar akan mengunjungi Gaara di rumah sakit kan? Kau tidak bohong?"
"Tapi aku belum bisa memastikan hari apa aku ke sana."
"Tak apa. Itu saja sudah bisa membuat hatiku sedikit tenang. Kalau begitu aku permisi dulu. Terima kasih untuk makan malamnya."
"Aku akan mengantarmu ke depan. Naruto lebih baik kau istirahat dulu saja."
"Ya."
Keesokan harinya, Naruto pergi menuju Rumah Sakit Konoha. Di sana Naruto melihat gaara yang bertambah pucat dan kurus dengan segala macam peralatan medis menempel pada tubuhnya. Hati Narutopun terenyuh melihat keadaan gaara yang seperti itu, tak terasa air matanya menetes.
"Gaara, maafkan aku. Maafkan aku yang terlalu takut untuk mengakui bahwa aku mencintaimu. Maafkan aku yang telah banyak membuatmu menderita. Maafkan aku. Aku berjanji mulai sekarang kita bisa berteman lagi, jadi tolong buka matamu." Ucap Naruto dengan memegang tangan Gaara
Di pintu depan terlihat Neji yang memperhatikan tingkah laku Naruto
"Kau mempunyai orang yang begitu mencintaimu selama ini, Gaara. Bukalah matamu. Tidakkah kau ingin membalas cintanya? Gaara…"
"Dia pasti baik-baik saja." Ucap Temari
"Iya, karena apa yang dia inginkan sudah ada di hadapannya." Sambung Kankuro
"Iya." Walaupun Neji tersenyum hatinya masih tidak rela untuk melepaskan tunangannya itu ke orang lain
Apalah daya seorang Neji, bila sang kekasih bisa bahagia dengan orang lain maka iapun akan berusaha untuk bahagia juga.
"Naruto."
"Oh, Neji. Ada apa?" sembari mengusap air matanya
"Untuk ke depannya aku percayakan Gaara kepadamu. Aku yakin dia akan lebih bahagia jika berada di sampingmu, Naruto."
"Apa yang kau bicarakan, Neji? Aku yang harusnya bicara itu padamu. Sebagai tunangannya, kamu harus bisa membuatnya bahagia."
"Aku sudah melakukannya. Sebagai tunangannya aku tahu kalau Gaara lebih bahagia bersamamu."
"Omong kosong. Kau sudah tahu kan kalau aku juga sudah punya tunangan?"
"…"
"Aku tidak mungkin menduakan cinta Sasuke, Neji. Kau juga harusnya mengerti bagaimana rasanya jika tunangan kita bersama orang lain."
"Sekarang aku tanya dan kau harus jawab dengan jujur. Apa kau menyukai Gaara?"
"Itu masa laluku. Sekarang aku sudah menjadi milik Sasuke."
"Tapi kau mungkin masih memiliki rasa sayang itu? Benarkan? Sebenarnya kau masih menyayangi Gaara kan?"
"Diam kau, Neji! Apa yang kau tahu? Aku sudah punya Sasuke."
"Siapa miliki siapa, Naruto? Ikut aku." tiba-tiba Sasuke datang dan membawa mereka ke ruang tunggu
"Apa yang kau maksud aku adalah milikmu?"
"…"
"Apa maksudnya ini, Sasuke?"
"Aku adalah sepupu Naruto. Aku disini mempunyai tugas untuk mengawasi Naruto. Aku bukan miliknya apalagi tunangannya."
"Jadi?"
"Cukup! Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Yang penting adalah bagaimana cara kita menyelamatkan Gaara, bukan hal tidak penting seperti ini." Narutopun kembali ke kamar Gaara dirawat
"Tung…Tunggu dulu, Naruto! Naruto!" Neji ikut mengejar Naruto
"Haaaahhh… Dasar keras kepala."
Suasana malam itu semakin buruk. Pasalnya kesehatan Gaara tiba-tiba saja memburuk. layar monitor di samping Gaara memperlihatkan bahwa Gaara sedang berjuang antara hidup dan mati.
"GAAAARAAAA! Gaara aku mohon buka matamu! Kau bercanda kan? Kau harus sembuh Gaara!" ujar Naruto dengan panik dan menggenggam erat tangan Gaara yang mulai mendingin
"Gaara…Hiks…Jangan tinggalkan nee-chan. Hiks…Gaara…"
"Nee-chan, sudahlah. Tenangkan dirimu." Kata Kankuro memluk kakak perempuannya itu
Sementara itu, Neji dan sasuke memanggil dokter
"Tsunade-sensei!" teriak Neji
"Neji, jangan rebut di rumah sakit." Tegur Sasuke
"Ah, tidak ada waktu untuk berdebat! Tsunade-sensei!"
"Ada apa ribut-ribut?"
"Gaara! Cepat periksa Gaara! Keadaannya memburuk!"
"Apa?! Bagaimana bisa?! Sakura, ambilkan peralatanku. Siapkan semua untuk kemungkinan terburuk."
"Baik, Sensei."
"Kemungkinan terburuk apa? Gaara pasti sembuhkan? Kau mengatakan operasinya berjalan lancar?!"
"Neji, tenanglah." Bujuk Sasuke
"Aku sudah bilang kesembuhannya tergantung pada keinginannya untuk hidup. Dan kemungkinan terburuknya adalah dia tidak ingin hidup."
"Bohong?! Tidak mungkin!" jerit Neji, sementara Sasuke berusaha menenangkannya
"Sekarang aku akan melakukan semua yang bisa aku lakukan. Sisanya kita serahkan pada Gaara dan Kami-sama."
END
#BUAAAGGHHH
TheBheChe lagi hehehe…
Wuuuaaaa…
Bisa update juga…
Maafin chibi baru bisa update sekarang…
Chibi tetap minta reviewnya walau telat update…
