Keduanya saling melempar tatapan intimidasi, baik dari pihak Sera maupun lelaki itu. Gadis itu beserta pasukannya berdiri kukuh saling berhadapan, begitu juga kumpulan lelaki asing pindahan asal China tersebut, lalu kemudian Sera mendesis tajam
"Kita perlu bicara"
"Jelaskan padaku, siapa Sehun itu?" desak lelaki itu
Sera menarik sudut bibirnya, ia menilik satu persatu nama lelaki di hadapannya.
"Xiang Hao"
"Zhe Qing"
"Guo Zheng"
"Yi Chen"
"Han Bao
"Selamat datang, kami menyambutmu" lalu Sera tersenyum -penuh arti
"Kau tidak mau menjawabku!" yang bernama Xiang Hao itu mulai menggeram
"Sombong sekali, kalian bahkan tidak membalas salam penyambutan kami" sahut nya
"Tidak usah berbasa-basi" desak Han Bao
"Aku sudah mengatakan di awal bahwa kami pendukung Sehun dan Luhan, kau bertanya tentang Sehun kan? Bagaimana kalau aku menjawab dia kekasih nya Luhan?"
Sera dan pasukannya dibelakang menampilkan seringaiannya.
"Kau mengatakan Luhan takdir mu? Tchh.. Delusi sekali" decih nya sambil membuang muka
Xiang hao dan kelompok nya mulai memerah padam, mereka menggeram.
"Dan kebetulan aku adalah pemimpin disini. Jika kalian mengganggu mereka, maka kalian akan berhadapan dengan kami"
"SEJAK KAPAN MEREKA MENJALIN HUBUNGAN?! JAWAB AKU, HAN SERA!"
Guo Zheng memekik, ia berteriak marah.
"Itu tidak penting, intinya adalah bahwa saat ini dewi kalian telah menemukan takdir yang sesungguh nya.
"Dan satu lagi" sahut nya cepat, "kupikir kita akan jadi teman baik setelah ini, hhmm.. kalau begitu kami permisi"
Tanpa menjawab pertanyaan mereka, Sera dan pasukannya segera beranjak pergi sebelum perdebatan ini semakin panjang, lebih baik mereka cari aman daripada harus baku hantam dengan sasaeng tersebut.
.
.
.
Damn I'm Manly Oh Sehun!
Chapter 11
Who is he?
By: HunHan SeRaXi
.
.
Luhan mengerjab, ia menggeliat dipelukan Sehun. Rupanya matahari telah terbenam, Sehun lupa menutup jendela beserta gordennya. Luhan mengembuskan napas, bola matanya bergerak ke segala arah dan berhenti pada sebuah benda yang saat ini menunjukkan pukul 6 petang. Ia melirik Sehun yang masih asik terlelap, dengan membernikan diri ia menggoncang tubuh yang tengah memeluk dirinya.
"Sehun, bangun. Hari mulai gelap"
Sehun sempat menggumam tak jelas, ia akhirnya membuka mata walau sedikit berat. Tatapannya jatuh pada Luhan yang juga menatap nya dari jarak sedekat ini, ia tersenyum bahagia, sedikit tidak percaya jika 3 jam yang lalu, dirinya dan Luhan sudah resmi berpacaran.
"Kenapa menatap ku seperti itu, aku jadi takut"
Luhan memindahkan lengan Sehun dari atas perut nya, kemudian ia bangkit.
"Kau ingin mandi?"
"Hmm.."
"Kau duluan, aku akan menyiapkan baju untuk mu"
Luhan sudah masuk kedalam kamar mandi, sambil menunggu ia amati isi lemari pakaiannya. Dari seluruh pakaian yang ia punya, sepertinya tidak ada yang pas untuk Luhan. Pria cantik nya itu memiliki tubuh yang mungil, berbeda dengan dirinya. Disudut sana, nampak sweater biru yang sepertinya sudah lama tidak dipakai, Sehun mengambil nya, dan ia baru tersadar jika sweater tersebut terakhir kali dipakai ketika ia masih SMP, sekarang jelas saja sudah tidak muat lagi ditubuh nya.
Luhan kemudian keluar, dia mengenakan salah satu bathrobe nya dengan lilitan handuk diatas kepala.
"Kurasa ini cukup untuk mu" Sehun menyodorkan sweater biru tersebut
"Terimakasih" Luhan tersenyum, saat Sehun gantian masuk ke kamar mandi, diam-diam ia menciumi sweater tersebut
"Apa bau Sehun juga tertinggal disini?" ia terkikik, kemudian memakai nya dan tanpa ia sadari sweater tersebut malah menenggelamkan tubuh nya
"Aishh... tubuh anak itu besar sekali" gerutu nya, ia meraih jeans nya yang sejak tadi tercecer.
Tokk..tok..
"Ya, sebentar" sahut nya. Setelah merapikan diri, ia membukakan pintu tersebut
"Ohh.. Minho Hyung?!"
"Bisa minta waktumu sebentar?"
...
"Kenapa Hyung memebawaku kesini?"
Luhan memutar lehernya ke kanan dan kiri, ia mengamati sebuah lorong dengan kondisi cahaya minim, ada salah satu lukisan mahal dan juga guci yang menghiasi tempat ini, saati ini hanya mereka berdua yang ada disana.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur..." Minho menjeda, Luhan menatap nya penuh minat.
'Apa?'
"Apa yang barusan kau lakukan dengan Sehun dikamar nya?"
Luhan terdiam seribu bahasa, ia membeku. Sulit bagi dirinya untuk mengakui yang sebenarnya, tiba-tiba ia jadi takut untuk mendongak dan menjawab pertanyaan Minho.
"Jawab pertanyaanku, Luhan" titah nya sekali lagi
Luhan bergeming, ia enggan untuk membuka mulut, bahkan mengucap sepatah kata pun sulit.
Minho ditempatnya juga sama, ia mengamati tingkah Luhan yang tengah diintimidasi. Lelaki mungil itu sangat ketakutan, cengkraman pada ujung baju nya begitu kuat, dan juga bibir nya, ia berulangkali menggigiti bibirnya, gugup. itulah yang Minho baca.
"Kau tak perlu menjawab..." tukas Minho
Sraakk..
"Akhh.. jangan!" Luhan memekik kaget
Minho menarik kerah sweater nya, dibawah leher Luhan nampak bekas kemarahan tersebar dimana-mana. Minho tersenyum kecut, tatapan intimidasi nya semakin dalam pada Luhan
"Semuanya sudah terbukti"
"Tunggu, aku mengakui nya. tapi..." ucapan Luhan terhenti
Ia menatap takut-takut pada Minho "Apa yang kau lakukan?, kau ingin menyakitiku dan juga Sehun?"
"Kumohon, jangan..." mohonnya
"Tidak" Minho menggumam lirih
Luhan mendongak, kedua mata itu saling bertemu. Lalu kemudian Minho berujar "Ku pikir kau anak baik-baik, ternyata..."
...Apa kau yang membuat adikku seperti itu?"
Luhan mencengkram tangannya sendiri, mengepal sangat kuat. Sekali lagi ia membisu.
"Kau cantik untuk ukuran pria"
Dan saat itu pula, Minho telah menjatuhkan harga dirinya. Demi apapun, bahkan ia hanya berusaha membalas perasaan Sehun, bukan menjerumuskannya. Lalu sekarang? Kenapa ia yang harus jadi korban.
"Maafkan saya tuan muda, tapi ini sudah waktu nya makan malam"
Wanita maid itu membungkuk sopan, ia kemudian berlalu sehabis memberitahukan tuan nya.
"Semuanya sudah menunggu, cepatlah..." tukas Minho, ia berjalan mendahului Luhan.
...
"Soo-yah, akhir-akhir ini aku sibuk. aku masih harus membersihkan kamar. Lagipula Sehun juga belum pulang"
"Ahh baiklah, maaf. Mungkin lainkali aku akan ikut"
"Daah! Semoga kencan mu menyenangkan"
Baekhyun memutuskan sambungannya, ia meletakkan ponsel secara asal ke meja. Ia mengembuskan napas, sambil meregangkan otot nya, ia mulai lagi membersihkan lantai dengan vacum cleaner.
"Kamar begitu kotor setelah 3 hari kubiarkan" dengus nya
Setelah selesai, ia masukkan kumpulan debu tersebut kedalam kantong plastik lalu ikut mengemasnya dalam satu kantong besar berisi sampah. Ia berjalan menuju pintu yang hendak membuang kantong tersebut diluar.
Ckleek...
"HWAA! APA ITU?!"
Baekhyun memekik takut. Sampai-sampai kantong tersebut lepas dari genggamannya.
'INI PERINGATAN UNTUKMU, SEHUN!'
Sebuah bangkai tikus dengan tulisan darah, hal yang sangat klise untuk mengancam seseorang. Tapi, siapa yang meletakkan ini di depan kamar asrama nya?. Baekhyun jadi bergidik ngeri, ia tidak tahan mencium bau busuk yang berasal dari bawah nya
"Aku bahkan telah bersusah payah untuk mengepel" gerutu nya sambil menjepit hidung
Di waktu yang sama, Chanyeol juga hendak keluar. Dibawah kakinya, ia menemukan sebuah toples berisi coklat dan juga setangkai mawar merah. Ia mengambil benda tersebut, dan sebuah pesan manis tertulis dalam secarik kertas
'Sudah lama aku tidak memberimu coklat, nikmati ini Luhan cantikku. Selamat malam'
Chanyeol rasanya ingin muntah, sebuah emot kiss tertera disana. Jadi coklat-coklat ini untuk Luhan? ahh.. kebetulan sekali ia ingin menemui Baekhyun. Lebih baik ia memberikan ini untuk kekasihnya.
Dan ketika ia akan melangkah, suara Baekhyun memekik nyaring "Chanyeolie, ada bangkai tikus! Huweee..."
Detik itu juga Chanyeol berlari secepat kilat menuju kamar asrama Baekhyun yang terletak diseberang nya.
...
Para maid itu dengan cekatan menyajikan menu masakan mereka malam ini, disana Tuan Oh Siwon yang terhormat duduk di ujung paling depan, pria baya itu hanya menatap lurus ke meja tanpa memandang sekitar. Luhan duduk disalah satu kursi dengan sedikit gugup, ia melirik Sehun disamping nya yang membisikkan sesuatu
"Darimana saja?"
"Maafkan aku, tadi aku haus"
Sehun tidak bertanya lagi, kemudian salah satu maid datang dengan mendorong kursi roda Nyonya Oh Sooyoung. Wanita itu tersenyum ketika semua keluarga nya sudah berkumpul, beserta Luhan juga. Si rusa kesayangan itu semakin melengkapi kebahagiannya.
"Aku senang kau ikut makan malam bersama kami" ucap Sooyoung
"Ya, aku merasa terhormat" balas Luhan
Sooyoung menatap suaminya yang masih sama, laki-laki itu bahkan sama sekali tidak menghiraukannya. Sebuah suara yang berasal dari Siwon membuat semuanya terdiam
"Jadi nama mu, Luhan?, silahkan dinikmati makanannya"
Luhan mengangguk, dengan sopan ia meraih pisau dan garpu di depannya.
Semua hidangan yang nampak di matanya sangat menggiurkan, maid-maid itu saling berdiri berjejer menunggu Tuan mereka makan. Jika salah satu dari mereka melihat gelas wine tersebut kosong, maka mereka akan mengisinya lagi sampai tuannya puas.
Suasana makan malam berlangsung dengan canggung, hanya suara dentingan pisau dan garpu yang terdengar. Tidak ada yang mau melempar gurauan, padahal mereka ini adalah keluarga –kecuali Luhan. Oh Siwon, pria baya yang diketahui pemimpin dari segala cabang perusahaan Oh, bahkan tidak sekalipun memandang Istrinya yang baru pulang dari rumah sakit. Luhan jadi bingung sendiri, ia mengalihkan pandangan dan menemukan MinHo tengah menatap nya tajam, ia jadi takut sendiri.
Minho baru makan beberapa suapan saja, daging yang tersaji memang sangat lezat, tapi suasana seperti ini membuat napsu makannya menurun, apalagi setelah bertemu pandang dengan Luhan. dan juga, ketika ia menoleh, menemukan Ibu dan Ayah nya yang saling diam semakin memperburuk suasana hatinya. Minho menghela napas, ia lalu bangkit sambil menggumam
"Maafkan aku, tiba-tiba napsu makanku hilang..."
Minho membungkuk hormat, ia kemudian pergi meninggalkan anggota keluarganya yang masih makan, ia tahu yang dilakukannya memang tidak sopan, tapi ia sudah terlanjur tidak tahan. Luhan yang berada di depannya juga menghela napas, tiba-tiba ia meletakkan kembali pisau dan garpu nya.
"Minho-ya, heii! Kau belum menyelesaikan makanan mu!"
"Maafkan aku bibi, aku ijin keluar sebentar"
Luhan juga membungkuk, kemudian menyusul Minho yang berjalan semakin menjauh. Sehun menatap Luhan dengan dahi berkerut, seperti ada yang tidak beres. Ia juga hendak bangkit namun—
"Selesaikan dulu makanan mu" titah Ayah nya tegas. Dengan pasrah akhirnya ia duduk kembali
...
"Minho Hyung, tunggu!"
Luhan berusaha menyamakan langkah nya, setelah ia berteriak, barulah laki-laki itu menoleh dan berbalik menghadap kearahnya.
"Kenapa kau mengejarku?" ujar Minho sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana
"Hyung, maafkan aku. Tolong setelah ini jangan libatkan Sehun juga, memang aku yang salah disini" Luhan mengaku, walaupun dari ucapannya tidak sepenuh nya benar
"Kau berusaha menutupi kesalahannya?" tukas nya, sambil merengut
"Tidak, tapi kumohon, jangan katakan ini pada Ayah apalagi Ibu mu. Ak- aku..."
"Memang nya kenapa jika suatu saat nanti aku mengadu?" sahut Minho, Luhan terdiam
Luhan menundukkan kepala, ia hampir saja menangis saat ini "Apa Hyung tidak suka jika Sehun bahagia?"
Kini giliran Minho yang menatap nya penuh, ia memandang Luhan dalam "Katakan yang sebenarnya"
"Sehun adalah gay"
Setelah itu tidak ada yang berani membuka suara, Minho bahkan mematung ditempat, ia telan ucapan Luhan tersebut mentah-mentah, apa yang barusan Luhan katakan bagai sebilah pisau yang menikam dada nya, dia merasa sangat bahkan lebih kecewa saat ini.
"Dan aku baru saja membalas ucapan cinta nya, maafkan aku"
Diam-diam tangan Minho mengepal erat, ia sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya akan seperti ini. Sehun adik nya yang ia sayangi menjadi gay, ia sedikit tidak rela. Lalu bagaimana respon kedua orang tua nya jika mengetahui hal ini?.
"Bibi Sooyoung baru saja sembuh, ini bukan waktu yang baik untuk mengadukan perbuatan kami berdua"
Luhan menghela napas, ia memandang Minho sejenak yang nampak shock. Luhan mengerti akan hal ini, apalagi Sehun terlahir dari keluarga terpandang, akan menjadi aib bila lelaki itu ternyata gay. Dan Luhan juga sama, ia akan hadapi ini sendiri jika seandainya hal seperti ini terjadi.
"Hyung, Luhan. Sedang apa kalian?" seruan Sehun memecah keheningan, Luhan dan Minho menoleh kesumber suara
Sehun mendekat, cepat-cepat Luhan meraih lengan kirinya "Sehunna, aku ingin pulang malam ini juga"
"Sehun, ada yang ingin ku perjelas" Minho menyahut, cengkraman Luhan pada Sehun semakin mengerat
"Kau sekarang gay?, Luhan adalah kekasihmu?"
Suasana semakin mencekam, Luhan bahkan hanya berani menatap lantai.
"Ya, benar. Kenapa?" Sehun menjawab nya tanpa beban, sampai Luhan dibuat tercekat
Minho tersenyum pahit, "Mudah sekali mengatakannya, apa kau memikirkan akibat nya nanti?"
"Aku sudah menentukannya, aku memilih jalan hidup ku sendiri. Tidak sepertimu, yang dipenuhi aturan perusahaan Ayah"
Air muka Minho memerah padam, ia semakin geram dengan sikap adik nya "KAU—"
"Sehunna, ayo pulang! Aku takut" rengek Luhan, yang terdengar seperti memohon
Sehun mengerti bahwa rusa nya ketakutan, ia memandang kakak nya tajam karena telah menakuti rusa kesayangannya. Sehun menyentuh pucuk kepala Luhan lalu meraih tangannya dan menggenggam nya.
"Aku pergi" pamit nya, ia menggandeng Luhan erat yang juga ikut meninggalkan Minho.
Ditengah kesunyian itu, Minho mengembuskan napas. Ia begitu marah pada dirinya sendiri.
...
Dikamar nya Sooyoung menggerutu, ia kesal pada Sehun yang seenak nya sendiri sekarang. Sedikit menyesali sifat putra nya yang memang egois, ia masih ingin berlama-lama dengan mereka, dan juga Luhan?, bukankah anak itu telah berjanji untuk menginap malam ini.
Luhan duduk bersimpu sehingga berhadapan langsung dengan Sooyoung, ia sedikit membungkuk sambil memohon, "Bibi maafkan aku, tapi Sehun benar. Kami berdua diminta untuk segera menemui guru Kang"
"Ibu, kami harus segera pulang saat ini" timpal Sehun
Sooyoung menghela napas, tangannya terangkat untuk mengusap pucuk kepala Luhan "Sebenarnya aku ingin kau tinggal lebih lama, tapi baiklah..." desah nya
"Ini darurat, mohon maafkan kami. Jika ada waktu aku akan berkunjung kesini lagi" Luhan berujar sambil tersenyum, berusaha meyakinkan Bibi Sooyoung agar percaya padanya
"Kalau begitu kami berdua mohon pamit"
Sehun membungkuk hormat yang diikuti Luhan juga, mereka kemudian meninggalkan Sooyoung sendiri dikamar itu.
"Sehunna, aku sedikit merasa bersalah" gumam nya, sambil memilin ujung baju
Langkah Sehun lantas terhenti, otomatis Luhan juga "Bukankah kau sendiri yang meminta pulang?"
Luhan menunduk, kedua tangan Sehun mendarat di bahu nya, "Maafkan aku" lirih Luhan
"Ayo, Paman Cha sudah menunggu" Sehun meraih jemari Luhan, tangan mereka saling bertautan erat
"Jangan takut" Sehun membisik, saat itu juga rasa khawatir Luhan sedikit berkurang.
...
Ditengah perjalanan, satu pesan masuk diterima oleh ponsel Sehun. Si pemilik itu lantas membacanya.
From: Chanyeol
Apa rusa itu bersamamu? Ajak dia untuk datang ke kamar asrama mu sekarang. Aku sedang berada disana, ada yang ingin aku beritahukan padamu. Ini penting!
Sehun melirik kesamping, ternyata Luhan juga ikut membaca pesannya.
"Kenapa?, apakah ada sesuatu yang terjadi?" Luhan mengernyit bingung
"Tidak!" Sehun memotong cepat
Ia tidak membalas pesan tersebut, lantas memasukkan lagi ponsel nya kedalam saku.
Sesampainya mereka di asrama, Sehun turun beserta Luhan kemudian membungkuk hormat pada sopir pribadi keluarga Sehun yang telah mengantar nya. Sehun menautkan lagi jemarinya dengan milik Luhan lalu mereka berjalan bersama, ia takut jika tiba-tiba sasaeng Luhan datang kemudian mengincar mereka. Karena kemunculan mereka kembali membuat Sehun lebih protektif sekarang.
Keduanya mendapati tulisan bahwa lantai tersebut licin, ketika sudah berada tepat didepan pintu kamar asrama Sehun, tidak mau ambil pusing, Sehun lantas masuk kedalam dan mendapati Chanyeol dan Baekhyun yang tengah berpelukan.
"Apa yang terjadi?, kenapa lantai didepan licin?" Sehun bertanya datar
Perlahan Chanyeol melepaskan pelukan erat nya pada Baekhyun "Sasaeng Luhan berulah, mereka menaruh bangkai tikus beserta darah nya didepan sana"
"APA?!" kini giliran Luhan yang berteriak, kedua matanya membola sempurna
"Kau lihat sendiri sampai Baekhyun ketakutan" Chanyeol mengalihkan pandangan pada Baekhyun yang masih menyembunyikan wajah di dada bidang nya
"Maafkan aku, aku paling takut dengan bangkai" ujar Baekhyun lemah
"Aku yang seharusnya minta maaf, sejak awal aku selalu membawa masalah bagi kalian"
Luhan menunduk, ia turut menatap Baekhyun prihatin. Sasaeng itu datang karena dirinya, ia merasa bahwa kepindahannya ke Korea selalu ditimpa kesialan berulang kali.
"Mereka memberi peringatan padamu, Sehun. Kau harus berhati-hati" tukas Chanyeol
Sehun mengambil tempat diujung sofa, tanpa sengaja ia mendapati se-toples coklat diatas meja.
"Apa kau yang membeli ini?" tanya nya sambil mengamati benda tersebut
"Tidak, itu untuk Luhan. aku sengaja mengambil nya" sahut Chanyeol
"Untukku?" Luhan mengernyit
Sehun membaca pesan yang melekat di toples tersebut, sedetik kemudian ia mendecih "Luhan cantikku? Cih, konyol sekali"
ia juga mendapati setangkai mawar, dan tanpa sungkan langsung ia lempar ke keranjang sampah "Kau sudah menjadi kekasih ku, tidak perlu menerima bunga sialan itu" ancam nya
"Daebak! Kalian jadian?" Chanyeol menganga tidak percaya
"Memang nya kenapa?" sahut Sehun
"Whoaa Chukkae" tiba-tiba saja Baekhyun memeluk tubuhnya kencang, yang otomatis membuat Luhan memekik
"Baek, jangan erat-erat. Aku tidak bisa napas"
"Jinjja, aku begitu bahagia" kemudian ia peluk lagi tubuh mungil Luhan
"Saat ini kau resmi jadi bagian dari kami lagi" tukas nya, Luhan lantas menjerit senang
"Benarkah? Wahh... terimakasih, maafkan aku saat itu, Baek"
"Kau bodoh, Sehun sudah menyukai mu sejak lama. Dan aku kasihan padanya"
Tatapan tajam melayang kearah Baekhyun, pemuda manis itu lantas mengerling sambil menjulurkan lidah "Akhirnya albino itu menyudahi status jomblo nya"
Luhan tertawa, ia tergelitik atas ucapan Baekhyun barusan. "Sasaeng mu itu tidak adil, mereka menaruh bangkai didepan kamarku. Sedangkan kamar mu diberi coklat" gerutu Baekhyun
"Aku meminta maaf atas sikap mereka, kalau begitu se-toples coklat ini untukmu saja" Luhan menyerahkannya pada Baekhyun, dan pemuda manis itu menerimanya dengan senang hati.
"Dasar uke!" tukas Sehun dan Chanyeol sambil melipat kedua tangan, sedari tadi mereka menonton aksi manja-manja cantik kedua uke tersebut.
Spontan kedua pemuda manis tersebut juga melempar delikan tajam pada masing-masing seme.
"Awas saja jika tidak kuberi jatah"
"TIDAK!"
...
Pagi ini semuanya berubah drastis, pagi-pagi sekali Luhan terbangun dengan Sehun disisi nya. kemudian mereka mengoles roti dan memakannya bersama, saat menuju kelas, mereka berjalan beriringan. Mata pemuda itu selalu awas, ia berjaga-jaga agar sasaeng laknat itu tidak mengganggu rusa kesayangannya.
"Sehun, entah mengapa hari ini aku merasa senang" ungkap Luhan, senyum manis nya itu terus terkembang pagi ini, Sehun rasanya betah jika harus memandanginya terus.
Ketika hampir sampai dipintu kelas, kumpulan gadis-gadis itu menghadang jalan mereka. Dengan wajah sumringah, mereka menghampiri Sehun dan juga Luhan
"Selamat pagi, Sehun dan Luhan" Sera berucap senang
"Ohh, terimakasih untuk waktu itu" ujar Luhan, ia merasa ikut bahagia setelah mendapati gadis-gadis ini kembali mengerubungi nya
"Sehun, kau tidak perlu takut. Kami juga akan membantumu, mereka hanyalah tikus pengganggu yang harus segera dimusnah kan" timpal Yujin
Sehun ikut tersenyum, ia jadi teringat sesuatu "Ahh... sepulang sekolah, ku harap kalian juga ikut merayakannya. Aku ingin mentraktir kalian semua beserta teman-temanku"
"Memang nya ada apa?" Sera menyahut bingung
"Kemarin, kami baru saja jadian" Luhan berucap tanpa canggung
"APA?!" kontan gadis-gadis itu memekik kompak
"Benarkah itu?" Yerin sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar
"Terserah kalian juga sih..." Luhan menyahut
"Ahh.. tidak! Kami tentu saja ikut, ini momen bahagia, kan?" cetus Dayoung
"Benar, ini harus dirayakan. Jika kau ingin hubunganmu dengan Luhan, langgeng" Hera membenar kan
Sehun mengembuskan napas, sedangkan Luhan mengangguk kaku, "Baiklah, kami ke kelas dulu"
Lagi-lagi ia harus terkejut, ketika duo seme itu menhadang di depan pintu. "kalian mengagetkanku"
Wajah keduanya terlihat konyol, mereka melompat-lompat ceria sambil memeluk Sehun.
"My Little Brother akhirnya memiliki kekasih" Kai tertawa girang
"Bagus lah, nak. Kau telah berusaha keras mendapatkannya" Chanyeol bahkan mengusap kepala Sehun, layak nya ia adalah Ayah nya
"Apa-apaan kalian ini" gerutu Sehun, perlahan ia melepas jeratannya dari dua kera jelek itu
"Aku benar-benar merasa senang. Dan kau Luhan, mau tidak mau kau harus jadi bagian dari kami" Kai tanpa sungkan menaruh satu lengannya dipundak Luhan, yang otomatis membuat Sehun mendelik tajam kearahnya
"Apa kalian berdua telah memaafkan kesalahan kami waktu itu?" Luhan berujar cemas, dan Kai menatapnya tersenyum
"Kami sendiri yang salah waktu itu. Mulai sekarang, jangan sembunyikan kesedihan mu lagi. Kau bisa berbagi masalah, barangkali kami bisa membantumu"
Senyum Luhan membentang sempurna, kali ini kebahagiannya bertambah berkali-kali lipat. Ia begitu senang, dan sejenak ia melupakan masalah nya sendiri.
'Semuanya kembali seperti semula, aku begitu bahagia ketika teman-temanku datang dan kembali menyambutku, kami bercanda bersama lagi, dan aku harap persahabatan ini tidak akan pernah berakhir lagi kedepannya'
...
Semua orang memandangku aneh, ku akui hal tersebut. kemana-mana aku selalu mengenakan jaket hitam ini, walaupun udara tidak begitu dingin kurasa. Dan juga masker ini?, orang-orang mengira aku sedang kena flu atau semacam nya, tetapi tidak! Bukan itu tujuanku.
Bisa dibilang aku ini nekat, sama seperti mereka. Lalu siapa aku? Haha.. nanti saja kuberitahu, bersabarlah. Jam istirahat sudah berdentang, perutku tidak dapat menunggu lebih lama lagi, kaki panjang ku melangkah menyusuri tiap koridor kelas yang kulewati, beberapa siswa lain memandang ku dengan dahi berkerut, lalu mereka bertanya-tanya, siapa sebenarnya aku? Kenapa penampilanku amat misterius?
'Siapa dia?, kuperhatikan dia selalu memakai masker kemana-mana'
'Dia sepertinya siswa pindahan, seragam yang ia pakai lain'
'Sepertinya tampan, andaikan dia membuka masker nya'
Samar-samar aku mendengar bisikan mereka, aku tidak peduli! Toh ini memang gayaku. Jika saja masker ku ini kubuka, mungkin mereka akan berteriak heboh lalu membuntutiku kemana-mana dengan membawa coklat. Ow, aku terlalu pede ya? Tapi biasanya aku memang mendapati kenyataan seperti itu.
Aku duduk disalah satu bangku sambil menenteng sebuah baki, di depan meja yang tengah ku duduki, tanpa sengaja aku mendengar gerutuan para siswa laki-laki itu, kutebak mereka membicarakan si cantik yang sedang duduk diseberang sana bersama teman-temannya. Seluas senyum tercetak dibalik masker hitam ku, Great! aku berhasil menemukannya.
"Luhan kita telah direnggut"
"Aku jadi susah mendekatinya karena lelaki itu"
"Dan juga siapa mereka?, kenapa kelihatannya sangat dekat sekali dengan Luhan?"
"Aishh... dan gadis-gadis sialan itu, mereka menghalangi pandanganku saja"
Diam-diam aku mengulum senyum, gadis-gadis itu sepertinya juga akan menghalangi jalanku mendapatkannya. Baiklah, aku tidak gentar. Lihat saja nanti, obsesiku terhadap Luhan begitu besar. Kau pikir untuk apa aku sampai nekat pindah sekolah kemari jika bukan karena Luhan?, lelaki cantik yang sudah menjadi incaranku sejak setahun yang lalu. Hanya dengan menatap wajah nya dia langsung merubah orientasi seksual ku saat itu juga.
Dan pengamatanku tidak berakhir sampai disitu, aku juga mengenal pemuda putih tersebut. Namanya Sehun, kan? Dia berasal dari keluarga kaya, sama sepertiku. Ku akui dia begitu beruntung telah mendapatkan milkku, tapi nanti akan ku buktikan, bahwa aku bisa merebut milik nya saat itu juga. Wajahku lumayan tampan, omong-omong. Dan aku seorang lelaki yang penuh kharisma dan juga bakat, sangat disayangkan jika pernyataan cintaku ditolak olehnya.
Ku tatap senampan makanan itu prihatin, ahh.. maafkan aku. Hanya karena memandangi bidadara tersebut membuat napsu makanku lenyap seketika. Aku lebih senang mengamatinya dari jauh seperti ini, senyum nya yang cantik terkadang membuatku ingin lepas kendali, melihatnya tertawa ceria membuat mood hatiku membaik, dia semakin cantik dengan poni karamel nya sejak ia pindah. Asal kau tahu, Luhan. aku begitu merindukan kehadiranmu selama ini.
Ohh, tiba-tiba saja pandangan kami saling bertemu. Rusa itu juga menatap ku, sedetik kemudian ia mengalihkan tatapan dan kembali tertawa bersama teman-temannya. Aku sedikit merasa bahagia, merasakan ketika binar indah juga menatapku dari jarak jauh, sedikit ku sesali karena ini berlangsung amat singkat.
"Baiklah, Luhan. Nikmati saja hari-harimu ini, lambat laun aku akan menemui mu" gumamku kemudian
...
Siang ini, mereka kembali makan bersama dikantin setelah sekian lama sejak waktu itu. Baekhyun maupun Kyungsoo, mereka telah meminta maaf pada Luhan, tidak seharusnya mereka berdua bersikap demikian saat itu, namun dilain pihak ia juga memaklumi sifat Luhan yang agak labil, kini mereka kembali berkumpul dan tertawa bersama lagi.
"Luhan, cobalah ini! Ini sangat enak menurutku"
Kyungsoo menyumpit suwiran ayam berbumbu merah dan meletakannya dimangkuk Luhan.
"Terimakasih" Luhan menggumam, ia lalu memasukkan suwiran ayam tersebut kedalam mulutnya beserta sesuap nasi
"Enak kan?" Kyungsoo menatap penuh, kemudian Luhan mengangguk
"Makan lah yang banyak, Lu. Akan kuambilkan lagi jika habis" Baekhyun menyahut
"Tidak perlu, ini cukup" cepat-cepat Luhan berujar, ia sungkan jika harus menyuruh Baekhyun
"Baekki, aku juga mau..." Chanyeol merengek manja, disamping nya Baekhyun menggumam dalam hati
'Aku tidak mengenalnya. please'
Baekhyun meletakkan bayam hijau dimangkuk Chanyeol, kekasihnya itu hendak protes, namun Baekhyun menyela "Kau harus banyak makan sayur, jangan Cuma daging. Nanti kau cacingan"
Saat itu juga Sehun dan Kai tertawa heboh, ia mengejek sahabat tiang nya yang tampak memalukan seperti itu, sedangkan wajah Chanyeol sendiri memerah padam, satu bogeman mentah berhasil mendarat dimasing-masing kepala mereka.
"Sudah cukup menertawakan ku?" dengus nya
"Hahaha... dengarkan itu kata Baekhyun-mu, kau harus makan banyak sayur agar cacing itu tidak menggerogoti usus mu"
Kai masih bisa belum menahan tawa nya, ia bahkan sampai memegangi perutnya sendiri. Lalu kemudian Sehun menimpali "Bagaimana saat kau akan menunggangi Baekhyun nanti, cacing-cacing itu malah menggeliat di anus mu, huwahahaha!"
Tawa Kai dan Sehun semakin kencang, Baekhyun, Kyungsoo, maupun Luhan juga ikut tertular virus mereka, ketiga uke tersebut tertawa lebar karena ucapan spontan Sehun barusan.
"Sehun benar-benar, hahaha... aku bahkan susah untuk menahan tawaku" Luhan masih dalam mode tertawanya
"Baek, kau harus segera membeli obat cacing untuk nya. Aku kasihan jika ia sampai seperti itu" Kyungsoo menimpali, namun lama-kelamaan Baekhyun merasa kasihan dengan pria nya
"Berhenti menertawakannya, aku hanya bercanda tadi. Mana mungkin Dobi tampanku ini cacingan, benarkan sayang?"
Baekhyun menangkup dagu Chanyeol dengan kedua tangannya, yang di permalukan itu semakin mengerucutkan bibir "Baekki, lihat! Aku dipermalukan oleh mereka"
Chanyeol mengadu manja, terkadang ia juga tertular virus kekanakan Byun Baek. Dan menjadi manja, rasanya sedikit menyenangkan. Namun ia hanya akan bersikap demikian didepan Baekhyun saja.
"Ohh.. Yeolli-ku yang malang"
Baekhyun mengusapi pipi Chanyeol, dan si tiang itu semakin menggesekkannya pada permukaan tangan kekasih nya. mirip seperti anak kucing yang sedang bermanja-manja dengan induk nya.
"Kau menggelikan, Park!" Sehun berseru
"Diam, kau Oh!" gantian Baekhyun yang kini menyebut marga nya
"Kalian, berhentilah menggoda big baby ku" titah nya tegas
Ke-empat temannya itu lantas menutup mulut, tidak ada lagi yang berbicara setelahnya. Luhan kembali melanjutkan aktifitas makannya yang tertunda, sambil menguyah ia lirik disekitar nya, tanpa sengaja tatapan mata nya terkunci pada objek diseberang sana, seorang siswa lelaki yang memakai masker hitam juga tengah menatap nya, sejenak Luhan mengalihkan pandangan kearah lain.
Tiba-tiba saja jantung nya berdegub cemas, tatapan mata itu seperti menyiratkan sebuah sesuatu. Firasatnya jadi tidak enak, dari tatapan matanya saja sudah tampak buas, memang terlalu berlebihan penilainnya, tapi tidak jarang ia mendapati hal seperti ini di dunia nyata ataupun film-film.
"Apakah dia malaikat maut seperti di Goblin itu?"
Luhan menggeleng, ia terlalu banyak menonton drama hingga terbawa perasaan seperti itu.
"Tapi kenapa dia menatapku seperti itu?"
Luhan mengusap tengkuk belakang nya, apa ia juga salah satu target 'Jiwa yang hilang?' Lupakan, rupanya dia sudah terkontaminasi oleh bualan drama semacam Goblin, tiba-tiba ia menggelengkan kepala, ahh.. ia terlalu bodoh untuk berfantasi seperti itu. Satu kepalan tangannya menepuk kepalanya sendiri.
"Bodoh, bodoh, kau bodoh, Luhan" gumam nya frustasi, lantas mengubur wajahnya diatas meja
Ke-lima temannya memandang Luhan bingung, apa yang tengah dilakukan si rusa ini? Kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu? Bukankah tadi dia baik-baik saja, dia masih tertawa kan, tadi? Apa kondisi mental nya sedang sakit? –ok, itu tadi beberapa pikiran aneh mereka.
"Luhan kau baik-baik saja?" Chanyeol menepuk-nepuk bahu Luhan
Luhan mengangkat wajah nya, ia tangkup dagu nya sendiri sambil menatap kosong "Aku hampir gila rasanya, kenapa pedang itu tidak kunjung dicabut, huhh.."
Luhan kembali menenggelamkan wajah nya di meja, ia begitu frustasi menunggu episode lanjutan drama tersebut. Tapi selain itu, Sehun lebih mengkhawatirkan keadaannya saat ini, ada apa gerangan dengan kekasihnya hari ini? Kenapa begitu lesu sekali. Sehun lantas bertanya pada Baekhyun dan Kyungsoo
"Apa kau tahu maksud ucapannya?, pedang apa yang dia maksud?" tanya nya penasaran
Baekhyun dan Kyungsoo lantas memutar bola mata, yang lebih pendek itu menggumam malas "Kau tidak pernah menonton drama ya? , yang Luhan maksud itu seorang goblin dengan tusukan pedang selama 939 tahun"
"Aniya! Dia sebenarnya berumur 938 tahun, bukankah ahjussi itu mengatakan sendiri bahwa ia lahir awal tahun?" sanggah Baekhyun
"Tidak, kau salah. Sebenarnya dia 939 tahun" bantah Kyungsoo
"Kau tidak menontonnya dengan benar, sudah kubilang—"
"Diam kalian semua!" teriak Sehun
Ia juga ikut-ikutan frustasi karena dua makhluk penggila drama fiksi ini, tidak hanya Sehun, Chanyeol dan Kai juga demikian. Ia akan pastikan Baekhyun, Kyungsoo maupun Luhan nanti tidak akan bisa menonton drama itu lagi, biar saja ketika waktu drama tersebut tayang, mereka secara beramai-ramai akan menyeret uke nya masing-masing masuk kedalam kamar. Untuk apa? Kau mungkin sudah tahu sendiri.
...
Berulang kali aku telah mencoba, tapi nada yang keluar selalu sumbang, fales, dan tidak enak didengar. Ini memang pertama kalinya aku meniup terompet, beberapa siswa lain menatapku remeh, mereka mengira aku ini siswa pindahan yang tidak memiliki bakat seni apa-apa. Ow, jangan sepelekan aku bung. Masih ada darah maestro yang mengalir dalam tubuhku, dahulu kakek buyut ku adalah seorang komposer terkenal, dan hampir seluruh ketururnannya memiliki bakat menurun tersebut, kurasa aku juga termasuk, ahh.. entahlah.
Aku merutuki kebodohanku sekarang, guru tua itu menyuruhku untuk meniup benda ini lagi, dan tetap saja, hasilnya sama. Beberapa teman-teman sekelas menertawakanku, padahal alat yang kupegang ini adalah yang paling mudah dan ringan, mereka yang mengatakan itu memang pandai meniup flugel, trombone, mello, dan sejenis terompet yang lain.
"Keluar kau sekarang! Kau merusak harmoni yang aku buat"
Guru tua itu menendang kaki kiriku, dia mengusirku secara tidak hormat. Beberapa yang lainnya menertawakanku dalam hati. Dan setelah aku keluar, aktifitas yang sempat terhenti mereka lanjutkan tanpa kehadiranku, semua teman-temanku sudah pandai meniup musik horn tersebut, dan ku akui aku memang belum terbiasa meniup nya. permainan musik tersebut akhirnya mengalun dengan irama merdu tanpa kehadiranku.
Aku keluar dari ruang musik dengan langkah gontai, semula aku menundukkan kepala, namun ketika aku mendongak, aku mendapati seseorang yang sudah aku incar selama ini. Kesempatan bagus, karena kali ini dia sendirian, sedangkan sekarang adalah jam nya KBM tengah berlangsung. Otomatis di koridor seperti ini nampak sepi sekali, kemudian aku mengikuti setiap langkah nya, sepertinya ia menuju toilet pria. Baiklah, kebetulan sekali aku juga sedang senggang, bermain-main sebentar dengannya boleh juga.
Tanpa sadar aku menyerigai.
...
Hasrat ingin buang air kecil nya sudah tidak bisa ditahan lagi, ia percepat langkah nya agar segera sampai disana. Namun Luhan tiba-tiba menyadari bahwa ada suara langkah lain selain dirinya, refleks ia berbalik. Namun, tidak melihat siapapun. Pandangannya mengedar, dan ia menemukan pria bermasker hitam itu lagi, tiba-tiba aura negatif menguar kembali.
"Siapa dia?, kenapa sepertinya dia terus mengikuti ku?
Luhan berusaha tidak peduli, ia akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju toilet. Disaat ia sudah selesai menuntaskan hasrat nya, ia berbalik dan terkejut mendapati siswa bermasker itu juga berada disana, tapatnya dibelakang nya, dia nampak sedang mencuci tangan.
"Owh! Astaga, kau—"
Lelaki bermasker hitam itu menyadari keterkejutan Luhan, otomatis dia berbalik sambil mengernyitkan dahi "Kau kenapa?"
Luhan menggeleng, entah kenapa ia paranoid sekali sekarang "Maaf, aku kira tadi—"
Luhan tidak tahan berada diposisi canggung, buru-buru ia hendak keluar toilet. Namun sebelum itu terjadi, sebuah tangan besar mencekal pergerakan tubuh nya
Bughh..
Tubuh Luhan dihempas hingga ia menabrak tembok, lelaki itu mengunci tubuh nya dengan satu tangan yang menempel ke tembok. Satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengusap pipi putih Luhan, dan ia bersumpah bahwa lelaki mungil ini masih sama cantik nya seperti dulu.
"Apa yang kau lakukan" cicit nya ketakutan, Luhan trauma berada di situasi seperti saat ini
Rasanya sangat sulit baginya untuk bernapas, dapat ia lihat kilatan napsu di kedua mata lelaki bermasker tersebut. Luhan amat sangat ketakutan, bulir keringat dingin satu-persatu mengucur di dahi nya. tangan dan kaki nya berkeringat hebat, suara baritone lelaki tersebut seketika membuatnya tersadar.
"Kau masih tetap cantik, dan hati ini juga masih terobsesi padamu"
Luhan menelan ludah dengan susah payah, tidak ada seseorang yang dapat ia mintai bantuan sekarang.
"Kau siapa?, tolong lepaskan aku" lirih nya dengan wajah memohon.
Sarat ketakutan yang dipancarkan oleh wajah rusa itu membuat semuanya menjadi semakin menarik, lelaki itu sungguh menyukai apapun yang dilakukan Luhan, bahkan wajah ketakutannya ini juga menjadi bagian favorit nya. ahh.. kenapa ia jadi psikopat begini sekarang? Dia juga tidak tahu, Luhan telah membuatnya buta akan segalanya.
"Jika aku melepas masker ku, kau mungkin akan mengingatku, Luhan"
Lelaki bermasker itu mulai menurunkan masker beserta tudung jaketnya, dan saat itu juga Luhan mulai mengingat semua, dan juga pria ini. Dia mengenal wajah nya namun tidak dengan nama nya.
"Kau..." Luhan rasanya tidak percaya dengan apa yang dilihat nya
"Apakah kau masih mengingat ku?" lelaki itu menyerigai ke arah nya, ia sangat yakin jika rusa cantik nya ini jelas tidak akan melupakannya, karena dahulu mereka pernah berbuat kesalahan bersama.
'Mungkin setelah ini, kita akan membuat kesalahan kedua yang lebih besar'
.
.
.
TBC
Fast up belum? maaf ya, nasib jadi siswa SMP tingkat akhir ya gini, tiap hari ada aja tugas yang besok minta dikumpulin -,- makasih loh ya, spoiler nya yang kemarin bener2 mancing review ~kkk ga nyangka akutuh review nya bisa tembus melebisi ekspetasi. Thanks to Precious HunHan (kak keken) yang udah kasih aku rekomendasi nama-nama cina yang bagus. dan semoga besok bisa tetep seperti ini, keep review ya biar aku ngetiknya lebih semangat ^^ sampai jumpa lagi...
