Luhan memucat, dalam benaknya ia bertanya-tanya apa yang dimaksud lelaki dihadapannya ini. Kesalahan apa? Seingatnya ia hanya dicium secara paksa saat itu, seketika itu pikiran negatif terus berkecamuk dikepalanya.

"Apa maksudmu?, kesalahan apa?"

Luhan mendongakkan kepalanya, tatapannya bersinggungan langsung dengan lelaki itu. Sedangkan dia terkesima, kerjapan mata Luhan begitu indah, alam bawah sadarnya bernafsu untuk mengusapi pipi halus Luhan, mengecup kedua mata indahnya lalu melumat bibir plum tersebut sampai habis, dia benar-benar ingin melakukannya. Namun sebelum itu terjadi, ketika laki-laki itu termangu lama, otak Luhan sudah dipenuhi trik untuk lolos dari kungkungan lelaki asing ini, ia memang sengaja menunggu waktu yang tepat.

"Kau tidak mendengarku?, aku ulangi, kesalahan apa?"

Laki-laki itu menyerigai ketika Luhan mulai tenang, ia tadi terhipnotis keelokan paras Luhan sehingga mengabaikan titisan bidadara didepannya. Dia semakin mempersempit jarak diantara mereka, sehingga rasanya Luhan sulit untuk bernapas, bahkan detakan jatungnya terdengar sangat keras di ruangan sunyi ini, Luhan tidak bisa menyembunyikan kegugupannya, sial.

Laki-laki itu mengarahkan bibirnya pada daun telinga kanan Luhan, "Jangan berpura-pura bodoh, disini sepi, Luhan. Dan aku baru saja diusir dari kelas. Bagaimana kalau kau ikut membolos juga? Ohh, banyak bilik toilet disini, kau mau pilih yang mana? Ayo, kita bersenang-senang. Cantik"

Detik itu juga, ketika laki-laki itu berhasil menyelesaikan kalimatnya. Suara pekikan keras menyusul dari bibir laki-laki tersebut.

"Arghh!"

"Dalam mimpimu bajingan!" sentak Luhan

Ketika dia berbisik, Luhan menggunakan kesempatan itu untuk mengigit leher lelaki tersebut dengan sangat kuat. Bahkan dirinya sendiri yakin jika itu akan meninggalkan bekas, tapi masa bodoh. Ia segera mendorong bahu lelaki tersebut kuat-kuat ketika lengah, ia sedikit tak percaya jika kekuatannya mampu membuat laki-laki itu sampai tersungkur di lantai.

"Dengar, saat ini aku hanya mencintai Oh Sehun. Kau mengerti?!"

Setelah mengucapkan itu, cepat-cepat Luhan pergi meninggalkan lelaki asing tersebut yang masih memegangi lehernya. Dalam kelengahannya laki-laki itu berdecih, persetan bahwa Luhan mencintai Sehun, dia akan tetap mengejar Luhan, bahkan sampai mati pun kalau perlu.

"Saat ini kau beruntung, suatu saat nanti aku akan membuatmu menungging dan mendesah untukku. Dan juga gigitan ini, ahh.. aku anggap ini Kiss bite darimu"

.

.

.

Damn I'm Manly Oh Sehun!

Chapter 12

Have No Chance

By: HunHan SeRaXi

.

.

Sehun khawatir, beberapa menit berlalu dan Luhan juga tidak kunjung kembali. Ia jadi tidak fokus, guru yang memberikan materi pun tidak diindahkannya, pikirannya terus melayang-layang mencemaskan Luhan. Sebagai kekasih yang baik dia jelas ingin menyusul dan memastikan keadannya, beberapa kali ia sempat melirik daun pintu, berharap bahwa ada derap langkah yang akan segera masuk ke kelasnya sehingga ia tak perlu khawatir lagi. Sehun mengembuskan napas, ia meruntuk kapan kekasihnya tidak akan membuatnya cemas begini? Haruskah ia terus mengantar Luhan kemana-mana? Mereka laki-laki, ingat. Tapi kenyatannya memang penggemar Luhan terus mengintai mereka saat ini, Sehun jadi kalut.

"Darimana saja?, lama sekali"

Seketika Sehun menatap kedepan ketika Guru tersebut bertanya.

"Maafkan saya, ada sedikit masalah tadi" Luhan membungkukkan diri beberapa kali dihadapan guru tersebut

"Silahkan duduk kembali" interupsinya

Matanya terus melirik Luhan, dia melihat kekasihnya itu nampak memucat. Sehun ingin sekali bertanya, namun jarak tempat duduk mereka cukup jauh. Tiba-tiba Luhan memandangnya, ia tersenyum sambil bibirnya bergerak mengggumamkan bahwa ia baik-baik saja. Sehun masih tidak percaya, ia yakin hatinya mengatakan memang ada apa-apa tadi. Dan ia harusnya berhak tahu apa yang barusan terjadi.

"Sehun, kau melamun?"

Gertakan guru tersebut membuat kesadaran Sehun kembali, ia cepat-cepat menghadap kedepan dan meminta maaf. Luhan yang menatapnya dapat memaklumi bahwa Sehun mengkhawatirkan dirinya, ia tersenyum samar, terselip rasa bahagia disela hatinya. Tapi Luhan masih ragu haruskah ia menceritakan sosok laki-laki itu pada Sehun?, dia hanya seorang laki-laki gila yang berhasil masuk ke sekolah ini. Luhan semestinya bisa mengabaikannya. Dan kenyataan tidak semudah yang diharapkan.

Luhan mengembuskan napas, peristiwa barusan terus terngiang dalam pikirannya. Ia mencoba mengingat kejadian silam, ketika dirinya masih bersekolah di Beijing. Luhan benar-benar tidak pernah mengetahui kehadiran lelaki tersebut, ia memang tipikal orang yang tidak memperdulikan para penggemarnya yang sialnya kebanyakan laki-laki itu. Luhan rasa, beberapa penggemarnya dulu dapat berbuat nekat demi menarik perhatiannya, ia sudah berupaya berbagai cara supaya mereka berhenti, tapi tetap tidak dihiraukannya. Mereka tipe fans sasaeng sejati, bagaimana mereka bisa tahu kepindahannya disini?. Ia juga tidak bisa menyalahkan siapapun, namun rasa obsesi yang besar dari mereka membuat sebagian diri Luhan merasa terganggu dan tidak nyaman. Jika sudah begini, bagaimana ketika ia menjadi artis nanti? Pikiran tersebut sukses membuat mood Luhan turun drastis.

Dan tentang laki-laki itu, Luhan bersumpah bahwa ia masih tidak mengetahui namanya. Pertemuan mereka pertama kali di gedung olahraga tersebut, ketika ia sedang frustasi dan melampiaskannya pada bola basket. Tiba-tiba saja ia ditarik dan laki-laki itu menyudutkannya, menciumnya paksa. Alasan itu pula yang nekat membawa Luhan kemari, namun pada akhirnya ia harus menerima kenyataan jika lingkungan barunya terkesan buruk, karena secara Luhan mendeklarasikan dirinya sebagai seorang yang straight, bahkan membenci homo. Tapi kenyataan berbalik, wajah rupawan yang ia dapatkan sejak lahir mendukung perubahan orientasi seksualnya. Dan itu semua terjadi karena kehadiran Sehun. Kekasihnya itu mengaguminya tapi tidak sampai berbuat nekat, dia memang beberapa kali pernah menjebaknya tapi sekarang rasanya kesalahan Sehun dimasa lampau sudah ia maafkan. Sekarang dia sudah memiliki Sehun disampingnya, dan semestinya ia tidak perlu merasa takut, hanya terus berada disisinya kemanapun Sehun pergi, dan semuanya akan aman. Lagipula ia juga memiliki banyak teman yang siap membantu atau bahkan melindunginya.

Sekali lagi, Luhan mengembuskan napas. Ia sedikit merasa rileks.

Disaat guru menghadap papan untuk menulis sesuatu, diam-diam Sehun memutar badan dan memandangi Luhan. Walaupun pandangan Luhan menatap lurus ke depan, tapi tatapannya kosong. Sebatang pena itu hanya diapit oleh jari-jarinya, tidak ada tanda-tanda untuk menorehkan sesuatu dilembaran bukunya. Luhan jelas-jelas melamun, dan Sehun tidak sabar untuk segera bertanya padanya.

Waktu terus berjalan, dan kini saatnya pergantian pelajaran.

"Baiklah, jam ku sudah habis. Persiapkan diri kalian sebaik mungkin"

Setelah memastikan guru itu keluar dari kelasnya, Sehun bernapas lega. Cepat-cepat ia hampiri Luhan untuk memastikan keadannya.

"Luhan, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?"

Luhan memaksakan senyumnya, dia mengangguk "Aku tadi mengalami kesulitan ketika membuka pintu toilet"

Lebih baik begitu, tidak usah menceritakan sosok lelaki anonim itu. Ia tidak ingin membuat Sehun khawatir, cukup terus berada disampingnya bukankah sudah cukup?.

"Ahh... kau harusnya lebih berhati-hati" telapak tangannya mendarat dikepala Luhan, mengusapnya dengan sayang

"Jangan khawatir, lagipula aku sudah berada disini dengan selamat" ujarnya, terkesan sedikit berlebihan.

Sehun melepaskan tawa kecilnya, ia begitu gemas mendengar cicitan kecil Luhan. Begitu manis dan lembut, ia tidak tahan untuk tidak menarik ujung hidung Luhan.

"Apa yang kau lakukan, ini sakit" dengus Luhan yang mengusap ujung hidungnya.

Sehun tersentak ketika tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang, Kai mengganggu moment mereka yang menginterupsi sambil bersuara kencang "Jangan terus bermesraan, sekarang waktunya kelas akting"

"Mentang-mentang yang baru resmi pacaran" timpal Chanyeol juga. Kedua bersahabat itu melenggang pergi meninggalkan Sehun dan Luhan yang masih berada di dalam kelas, sebagian besar teman-temannya sudah menuju ruang teater.

Dan ketika keadaan benar-benar sepi, Luhan angkat bicara "Sehun. A...aku..."

Luhan ingin mengutarakan sesuatu, tapi ia tidak menemukan kata yang pas. Pada akhirnya ia tergagap lagi, menimbulkan tanda tanya besar di benak Sehun.

"Kenapa?, tolong ceritakan padaku" desaknya, ia penasaran akut

Luhan bangkit dari duduknya dan langsung menyambar bibir Sehun, ia melumat bibir belahan bawahnya paksa. Terkesan tidak sabaran dan penuh luapan emosi. Sehun sendiri masih belum bisa menguasai keadaan, ia merasakan cengkraman kuat di tengkuknya.

Namun akhirnya ia mengalah, Sehun membuka bibirnya. Dan Luhan dengan leluasa menjelajahi isi mulutnya. Ia juga ikut mengimbangi, menggelitik dinding rahang atas Luhan sehingga tercipta rasa geli disana, semakin larut dan mereka tidak sadar jika temponya berubah lambat, keduanya sama-sama menikmati momen ini.

Sehun-lah yang berinisiatif menyudahi acara ciumannya, Luhan nampak terengah, sepanjang tulang pipinya samar-samar memerah. Luhan mengatur napasnya yang masih tidak teratur, selang beberapa menit tiba-tiba Sehun memberinya pelukan kehangatan.

"Apa yang terjadi, hmm..? Aku kekasihmu, tidak ingin berbagi cerita denganku?"

Satu tangan Sehun mengusak rambut belakangnya, ia memeluk Luhan dengan sayang. Ia tidak bodoh untuk menyadari bahwa Luhan berusaha mengarang cerita untuk menjawab kekhawatirannya. Sehun berhipotesa bahwa ini ulah salah satu sasaeng kekasihnya. Namun ia tidak ingin mengatakan hal tersebut secara langsung pada Luhan.

"Sehunnie, cukup percaya padaku dan kau akan selalu berada disampingku. Kau mau berjanji, kan?"

Mimik memohon Luhan membuat Sehun semakin bingung, untuk apa Luhan bertanya jika jawabannya sudah jelas-jelas iya. Lalu kenapa pula harus ada sebuah perjanjian kalaupun faktanya mereka sepasang kekasih, dan saling melindungi merupakan kewajiban mutlak, kan?.

"Kenapa diam?" Luhan berujar kembali, dalam hatinya ia merasa was-was

"Kenapa bertanya begitu?, kau meragukanku?" Sehun membalikkan pertanyaan

"Tidak! Sungguh, aku hanya..." Luhan jadi salah tingkah, ia takut ucapannya tadi menyinggung Sehun

"Dengar, Luhan" napas Sehun berembus dipermukaan kulinya, jarak mereka begitu dekat "Kapan pun kau membutuhkanku, aku pasti ada untukmu"

Sesaat jawaban Sehun membuat Luhan tersenyum, merasa begitu lega.

Telapak tangan Sehun terasa begitu dingin dipipinya, tatapan datarnya bersibobrok dengan iris rusa Luhan, "Aku tahu, pasti sasaeng mu mengganggumu lagi, kan? Jangan khawatir Luhan, ada aku disini"

Detik itu juga Luhan menerjang dada bidang Sehun, ada rasa yang membuncah dalam hatinya. Kata-kata Sehun sukses membuat semua kekhawatirannya perlahan semakin berkurang. Luhan mendongakkan kepalanya, ia juga berujar lirih pada Sehun "Apapun yang dikatakan sasaeng ku, jangan pernah mempercayainya, Sehun"

"Aku mengerti" sahutnya masih dalam posisi berpelukan.

"Ohh, apa kau masih ingat, kita punya janji dengan pendukung kita?" Sehun mengalihkan topik

"Pendukung?" Luhan mengernyit

"Siapa lagi, gadis-gadis diujung pintu sana yang sibuk menarik tisu"

Luhan kontan menoleh kebelakang, Yerin dan Yujin berada diambang pintu, menyaksikan mereka berdua yang sedari tadi berpelukan. Yerin, gadis itu terlalu sensitif jika melihat fanservice. Luhan ingat betul akan itu. Dan juga sejak kapan mereka berdua ada disana?

"Apa yang kalian lakukan disana?" tegur Luhan kemudian

"Kami tadi sekedar lewat dan tidak sengaja melihat sunbae berdua" ungkap Yujin, masih sibuk membantu membersihkan darah yang menetes dari hidung Yerin

"Sunbae, bisakah kalian berhenti membuatku diabetes?" sahut Yerin pula, mukanya memerah matang

"Sehun dan Luhan Sunbae, bolehkah aku menyimpan foto kalian berdua tadi? Aku janji tidak akan menyebarkannya" ijin Yujin memohon

Sedangkan Sehun dan Luhan hanya menanggapi sekedarnya, mereka terlalu over menurut Luhan. bukannya tidak suka, tapi ia dan Sehun baru saja menjalin hubungan dan sudah mendapatkan penggemar seperti Chanyeol dan Baekhyun. Luhan merasa ia belum terbiasa saja.

"Terserah, tapi tolong jangan buat masalah lagi. Ingatkan teman-temanmu untuk berkumpul di kedai sebelah sore nanti" ujar Sehun

"Tentu, dan ohh... apa Sunbae tidak menuju ruang teater? Kulihat teman-teman Sunbae ada disana" Yujin mengingatkan, dan spontan Luhan memekik

"Astaga Sehun, kita terlalu lama disini. Bagaimana kalau Kim Saem marah?!"

Detik itu juga tangan Sehun ditarik paksa oleh Luhan, ia tidak ingin dirinya dan Sehun mendapat masalah karena dianggap bolos dari pelajarannya. Pada akhirnya Sehun mengikuti Luhan dari belakang yang berlari tergesa. Ia tersenyum ketika Luhan sudah tidak canggung lagi ketika menggandeng tangannya.

...

Sore harinya, sesuai janji Sehun pada waktu itu. Kelompok gadis-gadis fujoshi itu berkumpul ditempat yang sudah ditentukan, mereka selalu punya cara jitu untuk lepas dari pengawasan satpam penjaga gerbang, untuk sekedar keluar bersenang-senang jelas itu melanggar tata tertib, kecuali kepentingan serius saja diperbolehkan. Selagi menunggu 'sosok utama' Yujin membagikan foto-foto Sehun dan Luhan saat berciuman tadi, sedangkan Yerin memekik heboh. Gadis itu bercerita dengan semangat yang menggebu, sampai mereka tidak menyadari bahwa Sehun dan Luhan sudah sampai ditempat.

"Sepertinya pembicaraan kalian seru sekali, maaf membuat kalian menunggu" ujar Luhan sambil memamerkan senyum bahagianya

"Tidak apa-apa, pasti kalian lama sekali ya di kamar mandi –awhh..." lagi-lagi Hera asal ceplos, dan Sera menjitaknya

"Maaf, kami terlalu bahagia hari ini" Sera menyahut, dia sedikit malu melihat tingkah Hera tadi

Mereka duduk melingkari bangu berdiameter lebar, gadis-gadis itu seolah mengerti, mereka menyisakan dua kursi paling depan dan sisanya boleh mereka duduki. Dan itu juga atas usulan Sera, perempuan itu terlalu bahagia sampai datang paling awal. Sehun dan Luhan duduk ditempat yang sudah disediakan dengan saling berhimpitan.

"Apakah kalian sudah memesan sesuatu?" Sehun bertanya kemudian

"Hanya melihat kalian berdua, perutku sudah bergejolak haha.." celetuk Dayoung

"Kalian ini, biar aku yang pesan" sungut Luhan, terkadang dia lelah di goda terus oleh gadis-gadis itu

Sambil menunggu pesanan mereka datang, banyak dari mereka melontarkan pertanyaan seputar bagaimana mereka bisa jadian atau sekedar sudah berapa kali bercinta. Luhan sampai dibuat meneguk ludah, dan Sehun juga bingung harus menjawab bagaimana. Gadis-gadis ini terlalu excited, padahal hubungan keduanya masih seumur jagung, walaupun secara realita mereka pernah berhubungan badan yang sialnya dipaksa itu. Tapi demi menjaga perasaan Luhan, Sehun sebisanya tidak membocorkan rahasia pribadi mereka berdua.

Pembicaraan terhenti ketika makanan tersebut tersaji dihadapan mereka, uap yang mengepul dari makanan tersebut seketika membuat nafsu makan mereka tergugah. Pada akhirnya gadis-gadis itu tidak mengoceh lagi dan sibuk pada makanan masing-masing, begitu juga Sehun dan Luhan.

Sehun memotong daging tersebut kecil-kecil lalu membolak-balikan diatas pemanggang, sementara Luhan sibuk menikmati ramen panasnya. Sehun dengan telaten mengambil daging yang matang dan membungkusnya dengan sawi hijau, kemudian ia suapkan itu pada Luhan. Luhan menerima suapan itu dengan senang hati sambil pipinya memerah malu.

"Terimakasih Sehun" gumamnya, bahkan Sehun tak segan-segan menghapus jejak kauh ramen disudut bibirnya

Beberapa dari mereka yang sadar momen tersebut bertepuk tangan riang "Ayo lagi-lagi, Luhan. kini giliranmu!" paksa Sera

"Aku punya ide, bagaimana kalau kalian saling menyilangkan tangan?" cetus Dayoung, dan yang lainnya mengangguk setuju

Luhan nampak malu-malu, namun Sehun bergerak cepat. Ia memberikan bungkusan sawi hijau berisi daging ke tangan Luhan dan ia mengambil lagi untuk dirinya sendiri, ia silangkan tangannya dengan Luhan dan mereka makan dari tangan masing-masing, percaya atau tidak, rasanya berbeda dari tadi karena mereka makan sambil bersinggungan kulit.

"Uwahh... manisnya" Hera tersenyum girang

"Sekarang aku ingin melihat kalian berciuman dengan perantara mie, bisakah? Ayolah... " bujuk Sera, gadis yang satu ini selalu merasa kurang dengan segala fanservice yang telah diberikan

"Ahh... ayolah, ini permintaan khusus dari kami" desak lainnya juga

"Sehun, haruskah kita melakukannya?" tanya Luhan sambil mengerjab lucu, pipinya semerah kuah ramen

"Kenapa tidak?" timpal yang lebih tinggi

Ia menyumpit untaian ramen yang panjang dan Luhan membantunya dengan mengapit ujung sisi mie yang lain. mereka masukkkan sisian mie itu kedalam mulut sambil terus mengunyah dan semakin lama wajah mereka saling berdekatan, Luhan gugup bukan main sedangkan mimik muka Sehun sudah seperti ingin tertawa, kekasihnya sangat lucu ketika salah tingkah begitu. Gadis-gadis disekitar mereka bersorak heboh, bak supporter bola, ketika bibir Luhan dan Sehun menempel. Mereka berjingkrak-jingkrak gila sambil memekik nyaring.

Saat untaian mie tersebut habis, bibir Sehun dan Luhan bertemu. Sehun melumat bibir Luhan yang terasa asin akibat kuah mie tersebut, setelah mie tersebut benar-benar tertelan, lidah Sehun menerobos masuk dan Luhan membiarkannya, menikmati setiap sentuhan lidah panjang Sehun disetiap sudut rongga mulutnya. Saliva keduanya terasa sama-sama asin tapi rupanya hal ini menjadi pengalaman baru bagi mereka.

Luhan menyudahi kontak bibir mereka, ia menenggak segelas air putih untuk menetralkan degub jantungnya yang tidak karuan tadi. Luhan mengambil napas panjang, setelahnya ia melirik Sehun. Entah mengapa ia merasa malu sekaligus bahagia secara bersamaan, sedangkan kekasihnya itu mengedipkan satu matanya kearah Luhan dan hal tersebut sukses membuat dunia Luhan bergoncang hebat. Ia rasanya akan meleleh, seleleh-lelehnya.

"Ohh ya ampun, yang tadi itu benar-benar hebat" Sera terkagum-kagum, makanan di hadapannya sampai ia abaikan karena menyaksikkan kejadian tadi

"Tisu, tisu, tisu –aahh... dimana? Oh Tuhan, hidungku..." si Fujoshi istimewa, Yerin. Benar-benar meneteskan darah segar dari hidung mungilnya

"Untungnya aku sudah merekam tadi" sahut Yujin

Mulut Hera terbuka lebar, sedangkan Dayoung bergeming ditempatnya. Peristiwa tadi sukses membuat mereka tidak sanggup berkata-kata. Sampai akhirnya getaran diponsel kedua gadis itu membuyarkan ketergemingan mereka.

"Ada apa ini? Kenapa dia menelponku?" Dayoung terheran-heran

"Siapa?" sahut Yujin penasaran

"Roomate ku" jawab Dayoung, lalu ia melangkah keluar

"Aku ijin keluar, permisi" Hera juga melangkah keluar kedai untuk menerima panggilan teleponnya

Untuk mencairkan suasana, Sera bertanya lagi pada Sehun "Ohh ya, Sehun. Omong-omong bagaimana reaksi sasaeng Luhan ketika mengetahui siapa dirimu?"

Sehun hendak menjawab, namun dering telepon disakunya membuat ia mengurungkan diri menjawab pertanyaan Sera, "Maaf, aku mendapat telepon dari Chanyeol"

Sehun melangkah keluar dari kedai. Luhan mengembuskan napas, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba hatinya merasa tidak enak.

"Sera Unnie, Luhan Sunbae. Aku mohon pamit, aku ada urusan penting" Dayoung berujar yang nampaknya begitu tergesa-gesa.

"Kenapa mendadak?" Yerin menyahut setelah mimisannya mereda

"Ahh.. aku—"

"Aku juga ijin pamit, maafkan aku Luhan Sunbae, dan Sera Unnie. Annyeong" sela Hera, bahkan gadis itu berlari dari kedai saking terburunya

"Apa yang terjadi?" Sera menggumam bingung

Kemudian Sehun kembali, dengan wajah yang amat menyesal dia juga ijin pamit pada Luhan "Luhan, maafkan aku. Ini penting sekali, aku diharuskan kembali sekarang juga. Ini kartuku, nanti jika dalam 1 jam aku tidak kembali, kau boleh pulang"

"Sehun, sebenarnya ada ap—" Luhan menggigit bibirnya, tidak sampai ucapannya selesai, Sehun langsung melesat keluar dari kedai dan berjalan tergesa seperti Hera dan Dayoung

Luhan mengembuskan napas, kemudian ia lirik Sera, Yujin, dan Yerin yang masih duduk ditempat. Untuk mencairkan suasana Luhan kemudian berujar "Makanannya masih banyak, mari kita habiskan. Sehun memintaku untuk menunggu 1 jam lagi"

"Baiklah, kami menemanimu disini, Luhan. jangan kuatir" jawab Sera, kemudian mereka lanjutkan lagi santapannya

...

"APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAHH? APA KALIAN TAHU YANG SEDANG TERJADI DI DALAM SANA? INI MENYANGKUT MASA DEPAN KALIAN, BODOH!"

Guru Jang, pengajar tari dengan predikat killer disekolah, mengamuk hebat pada ketiga siswa dihadapannya. Bagaimana si Pak tua itu tidak marah jika ketiga anak bandel ini masa depannya bisa saja dipertaruhkan sekarang. Dia sungguh malu bukan main, sekolah akademi musik yang telah mengeluarkan bakal calon-calon artis ternama, citranya dirusak oleh mereka bertiga. Guru Jang itu menghela napas, rotan panjang ditangannya sedari tadi ia ketuk-ketukkan dilantai.

"Kuberitahu, staff dari YM Entertaiment dan PJY Entertaiment datang kesini untuk memberikan kartu hijau bagi kalian" kali ini suara Guru Jang merendah, tapi hal tersebut sukses membuat mata ketiga murid dihadapannya melebar, kaget.

"Kenapa? Kalian kaget?!" Guru Jang menyerigai

"Karena itulah, ketika Kau—"

Ctass...

Guru Jang memukul punggung Dayoung kencang menggunakan rotan yang ia bawa hingga gadis itu tersungkur menahan sakit. Sengaja Pak tua itu memukul punggungnya karena jika ia memukul di paha, itu aset yang berharga untuk bakal calon idol perempuan

"—Menjadi trainee, kau harus disiplin. Dan itu juga berlaku untukmu"

Ctass...

Guru Jang juga melayangkan sabetan rotannya itu ke punggung Hera, sama kencangnya dengan Dayoung. Bahkan gadis itu menahan air mata saking sakitnya.

"Jangan berbangga hati memiliki wajah yang rupawan, kau akan dibully habis-habisan oleh fansmu jika tidak profesional dipanggung"

Ctass...

Sehun menggigit bibir, rasanya begitu panas, dan tulang keringnya berdenyut-denyut ngilu tak tertahankan. Pukulan rotan Guru Jang tidak main-main, jika saja Pak tua itu memukul kakinya 2 kali, bisa dipastikan ia akan berjalan terpincang-pincang nanti.

Ctass...

Ketiganya tersentak kaget dengan lucutan rotan Guru Jang dilantai, sambil menampakkan raut muka puas, si Guru killer itu kemudian membentak dengan suara keras "CEPAT KALIAN MASUK KE AULA, JANGAN MEMBUAT STAFF TERSEBUT KHAWATIR DENGAN MENAMPAKKAN WAJAH KESAKITAN KALIAN!"

Mereka lari terbirit-birit, cukup sudah hukuman Jang tua itu. Bahkan rasanya masih sakit sekali, ketika mereka membuka pintu, sudah banyak anak yang berkumpul didalam sana, ketiganya membungkuk sopan dan sang kepala sekolah mempersilahkan mereka duduk di kursi yang tersedia.

"Untuk kalian bertiga yang baru datang, perkenalkan aku Kim Yewon. Staff pencari bakat dari YM Ent." Mata wanita itu tidak pernah lepas dari sosok incarannya, Oh Sehun. Pemuda yang pernah menabraknya waktu itu.

'Kupastikan kau akan berada dinaungan agensiku, Oh Sehun' batin Yewon

"Dan aku Kim Jinwoo, staff pencari bakat dari PJY Ent." Sambung laki-laki disamping Yewon, mereka tampak baik-baik saja di depan, tapi sebenarnya mereka saling bermusuhan. Mereka bahkan berani bertaruh jika calon bakat yang dipilihnya akan lebih unggul nanti.

"Baiklah, karena kurasa disini sudah lengkap 40 anak. Mari kita mulai saja acaranya" ujar Yewon

"Pertama, Aku dan Staff Jinwoo. Mengucapkan banyak terimakasih pada—"

Ketika Yewon memulai pidatonya, Chanyeol menoleh kebelakang. Ia berbisik-bisik memanggil nama Sehun hingga Dayoung disampingnya menyadarkannya. "Sehun Sunbae, Chanyeol sunbae memanggilmu"

Sehun mengarahkan tatapannya pada Chanyeol, lelaki bertelinga lebar itu melambaikan tangannya dan nampak tersenyum gembira. Sehun baru menyadari jika Chanyeol, Kai, bahkan Baekhyun dan Kyungsoo juga berada dalam aula ini. Mereka berempat duduk berjejer didepan sana. Selebihnya Sehun tidak peduli, ia kembali menatap depan, dan mendengarkan wanita itu berbicara.

"Seperti yang kalian ketahui bahwa kami hanya diperbolehkan memilih maksimal 20 anak untuk kami seleksi lagi, kabar baiknya kalian secara resmi diterima menjadi seorang trainee di agensi kami dengan masa percobaan selama 6 bulan. Jika kalian mampu melewati tahap ini, kalian bisa menjadi trainee kami yang sesugguhnya"

"Tidak perlu merasa cemas, kalian yang berada disini memiliki presentase 70% untuk bisa didebutkan lebih cepat. Alasannya, kalian sudah mempelajari banyak hal disini, kan? Sehingga kami tidak perlu ragu memilih kalian"

"Tapi jangan berbangga diri dulu, anak-anak lain yang tidak mendapat kesempatan seperti kalian bisa saja menggeser posisi kalian saat ini. Kebetulan dari YM Ent. sendiri akan mengadakan audisi pada bulan depan. Hanya saja kesempatan mereka untuk lolos terbilang kecil, karena itulah kalian yang sudah berada disini berusahalah dengan keras"

"Aku akan membagikan amplop berwarna hijau ini untuk kalian, jika nama kalian tidak terpanggil itu artinya kalian terpilih di agensi PJY Ent. didalam sini terdapat surat keterangan untuk orangtua kalian, dan aku juga akan membagikan lembaran ini, tugas kalian hanya menempeli meterei dan menandatanganinya beserta orangtua. Dengan begitu kalian resmi menjadi trainee percobaan kami selama 6 bulan"

Ditempatnya, Sehun menghela napas kasar. Sungguh, demi apapun ia begitu bahagia. Tapi kemudian ia teringat dengan ketidaksukaan Ayah dan Hyung nya tentang cita-citanya ini. Ia ingin sekali menunjukkan surat itu pada mereka dan membuktikan bahwa ia mampu meraih impiannya sendiri. Terbesit rasa lega ketika Ibunya sudah sadar, wanita itu pasti akan memekik girang ketika putra tercintanya berhasil menjadi trainee.

Lalu bagaimana dengan Luhan? kekasihnya itu, apakah mereka akan di agensi yang sama? Debut bersama dengan grup yang sama?, bahkan satu dorm mungkin, ohh.. ia lupa jika seandainya ia diterima disalah satu agensi sedangkan Luhan tidak lolos dan debut di agensi lain, tidak! Sehun tidak ingin ini terjadi, mereka harus bisa bersama-sama. itu mutlak, tapi sial, ia kalut sekarang.

"Sehun, Oh Sehun! Heii.. kau mendengarku?" Yewon bahkan sampai berteriak memanggil namanya, ia terlalu lama melamun hingga mengabaikan sekitar, lagi-lagi Dayoung mengguncang tubuhnya dan seketika Sehun sadar.

Buru-buru Sehun maju kedepan, ia menerima surat beserta amplop tersebut sambil membungkuk hormat. "Kau terlalu bahagia ya, sampai kupanggil tidak menjawab" tanya Yewon tersenyum ramah

"Maafkan saya, saya merasa—"

"Aku mengerti, yang jelas..." Sehun terperanjat ketika Yewon menangkup kedua tangannya sambil menatap lurus ke bola mata Sehun "Kau harapanku yang utama, kau harus benar-benar berada dibawah naungan agensiku. Aku yakin kau akan jadi artis ternama kelak, dan semua yang kau inginkan akan terpenuhi, hanya jika kau menjadi bagian dari kami" Yewon berbisik lirih dikalimat terakhir, bahkan Sehun sampai dibuat meremang karena canggung

Yewon menjauhkan tubuhnya, ia memulas senyum simpul pada target utamanya "Pertimbangkan tawaranku baik-baik, Oh Sehun"

"Ya, saya mengerti manager Kim Yewon-sshi" Sehun membungkukkan badannya lagi

"No! kalau kau sudah jadi trainee, panggil aku Noona" paksa wanita itu yang lagi-lagi tersenyum jenaka

"Terimakasih, Yewon Noona" putus Sehun kemudian, ia cepat-cepat berbalik dan kembali ke tempatnya. Beberapa anak lain yang melihatnya langsung menyudahi acara gosip-gosip mereka

Sampai ia mendudukkan diri, Dayong bertanya khawatir dan padanya dan Sehun berkata baik-baik saja. Bahkan didepannya keempat sahabatnya itu menatapnya bingung sekaligus cemas, mereka takut Sehun diancam atau kemungkinan buruk lainnya. Dan Sehun memberikan gestur bahwa ia baik dan tak perlu mengkhawatirkannya.

"Apa hanya aku yang merasa Sehun memiliki hubungan khusus dengan manager Yewon" ungkap Kai pada teman-temannya

"Kurasa tidak, tapi sepertinya wanita itu memiliki minat yang tinggi pada Sehun" sahut Baekhyun

"Ahh... apa kau ingat Kai?, bukankah saat pagelaran itu Sehun melarikan diri? Lalu bagaimana bisa wanita itu tahu terhadap Sehun?" timpal Chanyeol juga, ia sedikit merasa janggal

"Chanyeol, apa kau tidak suka jika Sehun mendapat kesempatan yang sama seperti kita? Kedengarannya kau seperti tidak—"

Ucapan Kyungsoo terputus, Chanyeol membantahnya "Tidak, Soo. Jelas sebagai sahabat aku bahagia, tapi ini sedikit janggal saja menurutku"

"Chanyeol ada benarnya" Kai menyahut setuju

"Lupakan Yeol, tidak baik menaruh curiga pada teman sendiri. Bagaimana kalau kita merayakan ini dengan ayam dan beer?" usul Baekhyun menggebu

"Baek, kau lupa ya? Diantara kita, hanya Luhan yang tidak mendapat kesempatan ini" ujar Kyungsoo, seketika ketiga temannya terdiam

"Oh astaga, aku melupakan si Rusa cerewet itu. Kau benar, pantas Sehun linglung begitu" celetuk Kai, tapi joke nya kali ini tidak ada lucu-lucunya sama sekali

"Apa kau tega kita merayakan pesta sedangkan Luhan dilema?" timpal Kyungsoo lagi, Baekhyun menunduk meminta maaf

"Hey..heii, sudahlah. Usul Baekhyun tidak ada salahnya juga. Ini bukan akhir perjuangan kita disini, Luhan juga bisa mendapat kesempatan yang sama jika dia layak" Chanyeol kemudian menengahi

"Kata Chanyeol benar, Soo. Jangan khawatirkan, Luhan. dia pasti mengerti alasannya" Kai mengusak rambut Kyungsoo

"Kalau begitu, nanti kita berkumpul diasrama ku, ajak Sehun dan Luhan ikut dan kita berpesta ayam dan beer bersama" cetus Chanyeol

"Tapi, Yeol—"

"Sudahlah, Baek. Tidak ada salahnya kita merayakan ini" dengan gemas Chanyeol menyentil pipi kirinya

'Mereka tidak punya belas kasihan, dasar sinting!" runtuk Kyungsoo dalam hati, selebihnya ia merasa kesal dengan Chanyeol

...

"Sera, kurasa ini lebih dari 1 jam. Bagaimana—"

"Aku bahkan sudah menduga bahwa mereka tidak akan kembali" Sera tertawa pahit, kemudian gadis itu berdiri diikuti ketiga temannya

"Maaf jika acara bahagia Sunbae tidak berjalan dengan baik, aku—"

"Tidak apa-apa, pasti urusan tersebut begitu penting" Luhan memaklumi, ia tersenyum menandakan ia baik-baik saja pada ketiga gadis didepannya, walau sebenarnya ia merasa lelah terus menunggu

"Luhan, kau yakin kau baik-baik saja?" Sera memperhatikan Luhan cemas, yang ditatap itu mengangguk

"Tunggu disini, aku akan membayar semuanya" kemudian Luhan beranjak ke kasir, sedangkan Sera dan teman-temannya merasa tidak enak pada Luhan

"Sunbae, ayo pulang bersama kami" Ajak Yerin ketika Luhan selesai membayar, Luhan jelas mengangguk

"Aku hampir mati karena ketahuan keluar dari gerbang, kupikir untuk urusan menyelinap masuk, kalian jagonya" ujar Luhan yang merasa iri dengan kecerdasan gadis-gadis itu

"Hahaha... kami ini juga licik, Luhan. Asal kau tahu" timpal Sera, lantas menggamit lengan kanan Luhan

"Unnie, kita harus segera kembali. Ini hampir jam 6 sore" Yujin mengingatkan

Dan mereka berempat pulang dengan wajah bahagia, walaupun jauh dilubuk hati mereka masing-masing tersisip rasa sungkan atau lebih tepatnya tidak enak pada Luhan. karena mereka mengerti, Sehun telah memberikan harapan pada Luhan untuk menunggu sedangkan kekasih rusa itu juga tidak kunjung kembali setelah menunggu lebih dari 2 jam. Dan bahkan walaupun makanan mereka telah habis, Sera dan kawan-kawan menahan diri untuk tidak pamit demi menemani Luhan menunggu Sehun.

Sampai digerbang sekolah, mereka melihat dua mobil van bersiap meninggalkan areal sekolahnya. Luhan dan ketiga gadis tersebut bertanya, siapa orang didalam mobil tersebut? Dan jarang sekali mereka mendapati sebuah mobil asing yang terpakir didepan, biasanya guru-guru yang membawa mobil akan memakirkannya didalam, tempat khusus parkir mobil. Dan banyaknya anak yang memadati gerbang membuat petugas satpam tersebut lengah, sedangkan Luhan dan ketiga gadis tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera melesat kedalam.

"Sera, Yujin, dan Yerin. Terimakasih sudah mau ikut bergabung tadi. Kau tahu, aku merasa begitu senang hari ini. Dan juga terimakasih sudah membantuku untuk lolos dari pantauan satpam" ujar Luhan tersenyum ramah

"Sama-sama Sunbae, aku harap kalian lebih romatis lagi kedepannya" Yujin nyengir, lalu Luhan menyahut

"Tapi Yerin akan kehabisan banyak darah jika kami melakukan skinship"

"Ahh... jangan pedulikan dia sunbae, hidungnya seperti tidak punya selaput –Yackk" Yerin menjitaknya keras

"Kurasa Luhan sudah lelah. Kedua temanku ini memang agak yahh... kalau begitu kami permisi. Selamat malam, Luhan" cepat-cepat Sera menarik kedua temannya menjauh dan membiarkan Luhan sendiri

"Dasar aneh" cibir Luhan, lantas ia berjalan menuju kamar asramanya

Begitu Luhan membuka pintu, ia dikejutkan dengan kehadiran teman-temannya yang nampak berkumpul mengitari meja. Terdapat banyak botol-botol beer dan ayam yang mengunggah selera tersaji disana. Luhan mengerutkan kening, ada apa gerangan hingga mereka berpesta seperti ini?

"Luhan, ayo bergabung bersama kami" Itu teriakan Chanyeol, lantas Luhan mengambil tempat diantara mereka

"Apa yang terjadi? Kenapa kalian—"

"Ssstt... ini hari baik Luhan, wajib dirayakan" cetus Kai sambil mengarahkan telunjuknya di bibir

"Hari baik apa?" Luhan bertanya-tanya, bingung dengan suasana mendadak dikamar asramanya ini

"Kau tadi kemana saja? Apa kau tidak tahu perwakilan 2 agensi ternama sedang membagikan amplop keberuntungan. Maksudku, kami semua sekarang resmi menjadi trainee YM Ent."

"APA?!" Luhan memekik heboh, mulutnya terbuka lebar, dan Kyungsoo menyelipkan daging ayam kedalam mulut Luhan

"Bagaimana bisa?" Luhan mencicit lirih sambil mengunyah daging yang diberi Kyungsoo

"Maaf kalau ini membuatmu iri. Tapi yang pasti, ketika pagelaran sekolah waktu itu banyak staff dari beberapa agensi datang untuk mengincar calon trainee mereka. Dan siapa sangka kami terpilih menjadi trainee di agensi yang sama"

Chanyeol dan Kai secara bersamaan memeluk pasangannya masing-masing, mereka bersyukur ditempatkan di agensi yang sama. Lantas Luhan termenung, memikirkan fakta bahwa YM Ent. adalah agensi nomor satu Korea yang telah mendebutkan TVXQ dan Super Junior, keduanya termasuk idolanya tentu saja. Dan entah mengapa ia begitu menyesal, ia seharusnya ikut andil dalam pagelaran itu sehingga salah satu dari mereka ada yang mau melirik bakatnya. Dan kenyataan terasa lebih buruk.

"Jangan sedih Luhan, kau masih punya kesempatan yang sama dengan kami. Bulan depan YM Ent. akan mengadakan audisi" Kyungsoo mengusap punggung belakang Luhan, mata rusa tersebut terlihat murung

"Lalu apakah Sehun juga mendapatkan amplop keberuntungan?" tanya Luhan kemudian, mendongak pada teman-temannya yang menatap dirinya heran

"Jadi Sehun belum memberitahumu?" Baekhyun menyahut terkejut

"Dia bahkan begitu diharapkan oleh Manager Yewon" timpal Kai, Kyungsoo mendadak menoyor kepala kekasihnya karena memberitahukan perihal itu pada Luhan

"Benarkah itu?!" Luhan semakin sedih, bagaimana jika ia dan Sehun terpisah nanti

"Maaf Luhan, kupikir kalian sudah bicara tadi" Chanyeol berusaha membuat Luhan tidak sedih lagi, tapi nampaknya tidak semudah itu

"Ahh.. kupikir kedatanganku merusak pesta kalian. Aku harus keluar, jangan khawatirkan aku, aku baik dan bukankah Kyungsoo bilang masih ada kesempatan. Aku permisi" Luhan berusaha menahan matanya agar tidak mengeluarkan cairan asin, dan tetap tersenyum –Palsu.

Luhan keluar dari asramanya dengan perasaan tak menentu, semua teman-temannya mendapatkan amplop keberuntungan sedangkan dirinya tidak, bahkan Sehun juga. Ia lantas berpikir dirinya akan kesepian karena Sehun dan yang lainnya akan tinggal dalam dorm, sedangkan ia harus menyelesaikan sekolahnya disini sampai wisuda kelulusan.

"Ahh tidak, tidak! Apa yang aku pikirkan? Itu tidak akan terjadi, ahh..."

Luhan mengigit bibir, jangan sampai usahanya sia-sia karena gagal audisi. Ia terlanjur berjanji pada Mama nya untuk pulang dalam keadaan sukses. Tapi musibah sialan yang menimpa dirinya membuat Luhan merasa lebih menyesal daripada sebelumnya. Seharusnya ia menurut pada Sehun, seharusnya ia tidak termakan rayuan sales ulung dan seharusnya ia... terlanjur sudah, Luhan harus menerima nasibnya sekarang.

Ia menatap ke depan, netranya menangkap sosok postur berpunggung lebar seperti kekasihnya. Tidak salah lagi, itu pasti Sehun kekasihnya. Bukannya bahagia seperti yang lain, dia malah memikirkan sesuatu yang Luhan sendiri tidak mengerti apa yang perlu Sehun pikirkan jika masa depan sudah berada digenggamannya. Ia langkahkan kakinya mendekat kearah Sehun dan mendudukkan diri disampingnya.

"Sehun, kau baik-baik saja?" Luhan melambaikan tangannya didepan Sehun

Sehun terhenyak kemudian menatap teduh Luhan "Bukankah aku yang seharusnya bertanya begitu?"

Luhan lantas tersenyum "Kenapa begitu? Kau tidak mau membagi cerita bahagiamu padaku?" tawar Luhan

Sehun masih terdiam, sejujurnya ia tidak ingin Luhan mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang trainee, dan nampaknya Luhan sudah mengetahui duluan "Aku bahagia melihat kekasihku akhirnya bisa meraih impiannya"

"Luhan, ini tidak seperti—"

"Selamat untukmu, Sehun sayangku" diikuti dengan sebuah kecupan singkat yang mendarat dibibir Sehun

"Dengar, Lu. Aku bahkan ragu dengan semua ini. Apakah Ayah dan Hyung akan mendukungku dengan keputusan ini dan selain itu kau yang aku pikirkan" Sehun menghela napas

"Kenapa aku—"

"Aku tidak bisa membiarkanmu sendiri disini, dan aku terlalu egois jika harus meninggalkanmu demi impianku" Sehun menangkup kedua pipi Luhan

"Sayang, apa yang kau bicarakan? Kenapa masih memperdulikanku, tenanglah—"

"Bagaimana aku bisa tenang jika sasaengmu akan bersorak gembira mengetahui aku tidak ada, dan gadis-gadis itu juga tidak akan bisa melindungimu sepenuhnya"

Luhan bergeming, ucapan Sehun sepenuhnya benar. Dan apabila ia mengingat sosok laki-laki gila misterius tersebut, tiba-tiba seluruh tubuhnya bergidik ngeri, ohh.. tidak! Itu mimpi buruk. Tapi dia juga tidak ingin egois terhadap Sehun, semua ini murni kesalahannya karena tidak menuruti ucapan Sehun waktu itu, ketika ia terus berusaha menjadi manly hingga jatuh sakit dan tidak bisa mengikuti pagelaran, sekarang ia harus pasrah jika pada akhirnya ia tidak memiliki kesempatan yang sama seperti teman-temannya.

"Sehun, jangan kecewakan Ibumu. Aku baik-baik saja, jangan khawatir terhadapku, kumohon. Ini impianmu dan aku tidak berhak menghalanginya. Sebagai kekasih aku seharusnya mendukungmu, bukan malah membuatmu bimbang seperti ini, maaf"

Luhan menundukkan kepalanya, kemudian kepalanya dibawa bersandar didada Sehun sedang tangan kekasihnya itu mengusap sayang pucuk rambutnya "Luhan, aku mengkhawatirkanmu karena aku cinta padamu, aku jelas tidak ingin kau kenapa-napa dan—"

"Sehun, ini permintaanku. Kejar impianmu karena kesempatan tidak datang dua kali. Aku berjanji akan menyusulmu sebagai seorang trainee juga. Do'akan aku lolos audisi di YM Ent. walau kemungkinan tersebut kecil"

"Tidak! Kau pasti bisa Luhan. Aku yakin itu, jangan pesimis dahulu" Sehun melemparkan tatapan serius padanya, dan Luhan hanya mengangguk lucu.

"Baiklah, mari kita berjanji akan sukses bersama-sama, kelak" Luhan mengacungkan jari kelingkingnya

"Ok, aku berjanji" Sehun ikut melingkarkan kelingkingnya, lalu disusul dengan ciuman mendadak pada bibir Luhan yang menggodanya sejak tadi

"Hmmpp... Sehunna" Luhan mengerang akibat ciuman mendadak Sehun.

.

.

.

TBC


Halo ^^ Sera is back yeay! gimana kabar kalian? sehat ya ^^

Makasih banget yang udah nunggu ff ini dengan sabar, maaf juga kemarin sempat nge-php lagi. janji deh kedepannya enggak :v

Idk why but when I heard -Roleplay- I remembered my fanfic. seriously :'v "You're crazy boy, Imma get you boy" and why must BOY! Luhan sasaeng is BOY LOL :v

See you next chapter :*