Warn: terdapat scene NC disini! sebaiknya baca ketika habis berbuka atau sebelum imsak, dan akan lebih baik lagi setelah lebaran.


Alasan kenapa aku tiba-tiba menghilang dari hadapan Luhan, adalah karena aku tidak ingin mengusiknya terlebih dahulu. Kalau ku pikir-pikir lagi, padahal itu adalah waktu yang paling pas. Dimana Sehun tidak ada dan aku bebas untuk mengganggunya. Tapi aku masih punya hati, aku seorang manusia tentu saja, dan aku mencintai Luhan. Kalau sampai dia gagal audisi karena terusik kehadiranku, aku juga tidak akan memaafkan diriku sendiri.

Saat itu aku berdiri diatas balkon asrama, melihat bagaimana acara perpisahan itu. Beberapa orangtua dari anak-anak yang terpilih sebagai trainee datang kesini untuk mengantar putra-putri mereka. Salah satu yang menjadi pusat perhatianku adalah Oh Sehun, kuperhatikan yang disampingnya sepertinya Ibunya, dan juga Luhan. kenapa mereka berbicara sudah selayaknya akrab sekali?.

"Shit!, Luhan mulai selangkah lebih dekat" tanpa sadar aku mengumpat

Menit berlalu, aku masih setia berdiri disini sampai kedua mobil itu bersiap membawa mereka. Tapi sebelum itu, yang membuatku geram adalah bagaimana Sehun sialan itu mendekati Luhan-ku. Dan hal yang tidak ingin kulihat akhirnya terjadi.

"Brengsek, mereka berciuman!" aku menggeram tertahan diatas sana

Andaikan aku berdiri tidak jauh darisana, andaikan Ibunya tidak berada disana. Sudah kupastikan bogeman mentah ini mendarat dipipinya. Biar Luhan melihatnya, bagaimana pipi kekasihnya itu akan lebam karena tonjokan kuatku. Dan tanpa peduli lagi, aku ingin menyeret Luhan darisana. Membawanya ke tempat yang jauh nan sepi, dan hanya kita berdua disana.

Aku terkikik geli, sepertinya anganku terlalu jauh.

Dan aksi menguntitku tidak berhenti sampai disini. Kalau Luhan-Ku peka, dia pasti akan terus mendapatiku berdiri agak jauh dan tersembunyi darinya. Aku bahkan menyempatkan diri setiap hari untuk selalu mengamatinya, bagaimana dia bertambah sexy ketika berkeringat, semakin cantik ketika dia bernyanyi dengan suara merdunya atau bahkan permainan musiknya mampu menghipnotisku dalam sekejap. Semua yang ada dalam diri Luhan aku menyukainya.

"Sedang apa kalian disini? Pergi! Jangan ganggu Luhan yang sedang latihan" gertak Sera dengan tegas, dia melotot marah

"Pergi kalian, hushh.. hushh.." Yerin dan Yujin mendorong mereka paksa agar menjauh dari ruangan dance tempat Luhan berlatih.

"Yackk... yakk.. lepaskan cengkramanmu!" protes para laki-laki itu, mereka kesulitan bernapas akibat kedua gadis yang menarik kerah mereka kencang

"Pergi darisini! Maka aku akan melepaskan kalian" ujar Sera dengan tangannya yang terlipat di dada

Setelah itu kelompok sasaeng Luhan mulai menjauh, mereka agaknya takut dengan ketiga gadis tersebut. aku mengumpat, mereka laki-laki dan kalah dengan mereka yang notabene perempuan? Cihh, dimana jiwa perkasanya? Aku terkekeh pelan, hanya saja mereka tidak sadar jika aku lebih berbahaya. aku selalu memilih tempat menguntit yang agak jauh, tapi pengelihatanku yang masih bagus sepertinya tidak akan masalah dengan hal itu.

Namun sejenak aku mulai merenung, jujur saja ini pertama kalinya aku begini. Memikirkan bagaimana jika Luhan benar-benar lolos audisi, maka yang ada tujuanku untuk mengejarnya kemari akan sia-sia. Lagi, aku mengumpat. Aku sudah menyadari dia berjuang keras sendiri untuk menyusul Sehun disana. Dan kalau sampai mereka bersatu lagi sementara aku tertinggal disini, habis sudah usahaku untuk mendapatkan Luhan.

Sejak itu, tiba-tiba aku mulai absen menguntit Luhan. Aku malah terfokus untuk lolos audisi juga, perlahan ku rubah seluruh penampilanku. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, aku menghabiskan banyak uang untuk itu. Dan dengan rambut pirang baruku ini, aku mulai percaya diri. Aku sudah menanamkan sugesti bahwa hanya orang bodoh-lah yang akan menolaku di agensinya. Aku ini visual yang menjanjikan. Sudah tentu, peluang untuk lolos dan debut sangat terbuka lebar bagiku.

Kini, aku dapat berdiri disini ditempat yang sama dengan Luhan. ia terlalu sibuk memandangi Sehun sampai tidak menyadari kehadiranku didekatnya. Dan ketika aku mulai memperkenalkan diri, dia mulai menegang.

"Perkenalkan namaku Wu Yifan, biasa dipanggil Kris. Aku berasal dari China tapi aku pernah tinggal di Kanada. Of course, I'm good in english. Kemampuanku yang paling menonjol adalah rapp"

Aku melirik sejenak kearahnya, menikmati bagaimana ekspresi Luhan ketika terkejut. Sangat menggemaskan sekali. Diam-diam aku mengulas senyum tipis, dan sialnya trainee wanita disana terlalu berisik. Aku menyempatkan diri untuk melirik musuhku, Oh Sehun. Dia nampak biasa saja, dan sudah kupastikan bahwa dia tidak tahu apapun tentangku.

'Bagus, permainan ini akan semakin menarik' batinku senang

Aku kembali duduk dan memosisikan diriku disamping Luhan, kebetulan tempat itu kosong. Dengan iseng aku berbisik lirih padanya "Hai cantik, kau terkejut? Senang bisa bertemu denganmu lagi, dan ohh... kita berada di agensi yang sama"

"Sialan kau, Kris!" umpatnya tanpa memandangku

Ahh.. aku jadi ingin tertawa bahagia sekarang, Luhan sudah mengetahui siapa namaku. Dan aku cukup senang mendengar dia menyebut namaku. Mungkin sekarang dia memanggilku sambil mendesis acuh, tapi mungkin tidak lama lagi dia akan memanggilku dengan suara desahan erotisnya.

Aku menunggu momen itu.

.

.

.

Damn I'm Manly Oh Sehun!

Chapter 14

Bastard Kris!

By: HunHan SeRaXi

.

.

"Haahh.. lelahnya"

Luhan beringsut sehabis latihan vokal perdananya digedung agensi, ia rebahkan kedua kakinya sejenak dilantai, menikmati gelanyar pegal sehabis berdiri selama berjam-jam. Selang beberapa menit ia berdiri lagi, meraih sebotol air mineral yang tersedia disana.

"Ehh..."

Keduanya terkejut, seseorang tidak sengaja ingin mengambil botol yang akan ia ambil, padahal masih tersedia banyak minuman disana. Orang itu meminta maaf sebab tangan mereka jadi bertumpuk, Luhan sendiri tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut.

"Ohh, maaf" refleks seorang laki-laki berkulit putih dengan dimple di pipinya

"Tidak apa-apa" sahut Luhan dengan senyum ramah

Laki-laki itu lekas mengambil botol yang lain, keduanya duduk sejajar dilantai sambil menenggak air putih tersebut sampai habis. Setelahnya, Luhan mulai mencoba mengakrabkan diri.

"Namaku Luhan, kau?" Luhan melemparkan pertanyaan pada laki-laki itu

Laki-laki itu tersenyum hingga cekungan pipinya terlihat jelas, lantas ia terheran "Bukankah tadi semuanya sudah perkenalan?"

Luhan mendengus, ia berusaha membela diri "Tapi kan, mereka banyak. Mustahil aku menghapalkan nama mereka dalam waktu singkat"

Laki-laki itu tertawa kemudian, lelaki mungil disampingnya begitu lucu. Ia kemudian memperkenalkan dirinya lagi "Namaku Zhang Yixing, aku dari Changsa"

Luhan langsung bertepuk tangan, ia senang bertemu dengan orang yang berasal dari negara yang sama dengannya "Wah... kebetulan, aku lahir di Beijing"

Tidak lama kemudian Luhan menyahut "Bahasa Korea mu bagus, sudah lama tinggal disini?"

Yixing berpikir-pikir sejenak, tiba-tiba ia lupa "Euhm... aku sudah berapa tahun ya disini, kira-kira kalau tidak salah hmm... 2 atau 3 tahun ahh... entahlah, aku lupa"

Luhan mengernyit, dalam hatinya ia membatin bagaimana bisa Yixing lupa kapan dia datang ke negara ini. Luhan tertawa diam-diam, sedangkan Yixing malah menggaruk kepalanya kasar. Ia benci dengan sifat pelupa nya, tapi seperti itulah dia.

"Tapi bahasa Korea mu juga tergolong bagus" cetus Yixing

Luhan menatap kearahnya, ia tersenyum sebagai balasan "Terimakasih"

Luhan melirik Sehun yang sepertinya sudah selesai latihan, sebenarnya seluruh trainee disini dibagi dalam beberapa kelompok, mereka latihan bergiliran dengan kelompok lain, sedangkan barusan Luhan mendapat giliran latihan vocal terlebih dahulu.

"Yixing, aku ingin menemui temanku. Sampai jumpa" pamit Luhan yang segera bergegas menghampiri Sehun

"Sehun" Luhan memanggilnya, yang merasa terpanggil itu menoleh lantas tersenyum kearahnya

"Bagaimana latihan pertama mu hari ini?" Sehun sekedar berbasa-basi, ia sempatkan jemarinya untuk mengusap ubun-ubun Luhan

"Tidak ada masalah" Luhan menyahut, senyumnya tidak pernah lepas ketika menatap Sehun

"Bagus, ohh ya. Teman –teman sudah menunggumu, kita kesana" Sehun menggandeng Luhan keluar dari kawasan gedung. Sebelumnya, Chanyeol, Baekhyun, Kai, beserta Kyungsoo meminta Sehun untuk mengajak Luhan ke cafe bubble tea. Mereka sangat tahu jika Sehun menyukai minuman disana.

Keduanya tidak menyadari, Kris berada dibelakang mereka. Laki-laki itu hendak mendekati Luhan ketika bersama Yixing namun secepat itu pula Luhan beranjak menghampiri Sehun. Kris menggeram, dia akan mengejar mereka yang sudah berjalan mendahului, namun niatnya tidak terlaksana akibat beberapa gadis yang mengerubunginya.

"Kris oppa, kulihat rapp mu bagus. Bolehkah aku belajar denganmu nanti?"

"Kris oppa, kau sudah punya pacar atau belum?"

"Kris oppa, bolehkah aku berfoto denganmu"

"Kris oppa..."

"Oppa, Kris oppa!"

Tanduk imajiner muncul diperempatan kepalanya, kalaupun kartun, mungkin wajahnya sudah digambarkan memerah bak api. Kris benar-benar dibuat jengkel. Mereka nampak murahan dimatanya, tapi secantik apapun mereka, Kris tetap terobsesi pada Luhan.

"Arghhh...! Bisakah kalian pergi? Aku masih banyak urusan"

Tidak main-main, Kris membentak mereka dengan keras. Suara baritone nya membuat beberapa gadis itu perlahan menjauh. Kris sangat marah dan wajahnya nampak tidak bersahabat, kalaupun mereka laki-laki sudah dipastikan mereka akan tergeletak lemah dengan banyak darah mengucur. Kris tidak pernah main-main jika dia emosi, untungnya mereka semua telah pergi.

Kris memijit pelipisnya. Dia sudah berusaha mendekati Luhan, tapi yang ada dia malah dicegat oleh beberapa trainee wanita murahan itu. Kris membencinya, sudah tidak terhitung berapa kali dia mengumpat. Ia mendecih, nyatanya setelah ia membuka masker dan jaket hitamnya yang ada malah membuat sugestinya sendiri menjadi kenyataan. Dia akan selalu dikejar wanita akibat paras tampan dan cool nya.

"Fuck! Aku gagal lagi hari ini"

...

"Luhanie... Selamat atas keberhasilanmu"

Begitu Luhan masuk, ia langsung diberi ucapan selamat oleh Baekhyun. Kedua pasangan itu sudah menunggu mereka sejak tadi, Luhan duduk diantara mereka diikuti Sehun disebelahnya. Baekhyun dan Kyungsoo nampak begitu antusias, binar mata mereka memancarkan kegembiraan melihat Luhan bisa duduk bersama lagi seperti disekolah dulu.

"Terimakasih, Baekhyun" balas Luhan dengan senyum merekah

"Sesekali aku berdo'a semoga kau lolos audisi. Kau tahu Luhan, aku begitu kasihan melihat Sehun sendirian disini. Dan nampaknya do'a ku terkabul sekarang" ungkap Kai yang kemudian menyeruput minuman rasa vanilla ditangannya

"Ohh, aku baru tahu kau diam-diam mendo'akan Luhan. Padahal kau ke gereja saja jarang" timpal Chanyeol terang-terangan. Sontak ia mendapat delikan dari si kulit tan

"Hey, do'a Jongin terkabul karena kalian sering menistakannya. Asal kalian tahu, Jongin-Ku semakin tampan dan seksi dengan kulit gelapnya" otomatis Kyungsoo langsung menggamit lengan Kai disisinya, ia memang sering membela Kai ketika teman-temannya mengolok kekasihnya.

Namun pembelaan Kyungsoo tidak berarti apa-apa, Chanyeol dan Baekhyun malah tertawa, apalagi si Dobi itu sampai terpingkal-pingkal. Chanyeol tersadar, dia memang sering menistakan Kai tapi itu hanya untuk sebuah lelucon, toh sah-sah saja jika ada yang memanggilnya tiang listrik atau telinga peri. Tapi terkadang ia merasa ejekannya itu bukan berarti dia membenci Kai, karena dengan saling mengejek persahabatan mereka akan semakin erat.

"Sudahlah, terimakasih atas do'a mu juga Kai" Luhan menengahi diantara mereka

"Luhannie, kau pasti berusaha dengan keras. Lihat, kau semakin kurus" ujar Baekhyun meneliti

"Benarkah?" Luhan menyahut

"Astaga. Kau harus banyak makan, Lu. Sini, buka mulutmu Aaaak..." Baekhyun mengiris sandwich kemudian menyuapkannya pada Luhan, yang disuapi itu hanya menurut lantas mengunyahnya.

"Lu, bagaimana tanggapan orangtua mu ketika mengetahui kau lolos audisi?" tanya Sehun kemudian

Luhan menjawab pertanyaan tersebut setelah menelan sandwich nya "Tentu mereka senang, aku diberi dukungan penuh oleh mereka. Aku sangat bahagia"

"Tidak jauh berbeda denganku, waktu Ibuku tahu aku diterima disini. Dia langsung membawaku pulang dari asrama lalu memasakkan makanan yang kusukai dirumah. Aku senang sekali waktu itu" sahut Kyungsoo

Mereka terlarut dengan pembicaraan masing-masing, perlahan Sehun mengembuskan napas. Mereka terlalu beruntung, ketika ia sendiri memberitahu Ibunya bahwa ia lolos, Sooyoung langsung memeluknya. Wanita itu kemudian memesan kue beserta makanan delivery, keduanya menunggu sampai Siwon dan Minho pulang, namun kenyatannya dua laki-laki tersibuk itu malah mengabaikan ajakan Sooyoung. Yang akhirnya Sehun hanya merayakan keberhasilannya dengan Sang Ibu saja.

"Tidak apa-apa, mereka memang sibuk" batin Sehun sambil menoleh ke jendela, mengamati sekitar.

Luhan merasa janggal, diam-diam ia melirik Sehun. Kekasihnya itu nampak diam hari ini. Ia mengamati Sehun yang menatap jendela, seperti memikirkan sesuatu. Perlahan ia tautkan tangannya pada sang kekasih yang otomatis membuat Sehun menoleh kearahnya.

"Kenapa diam?" cetus Luhan, namun ia mendapati gelengan lemah Sehun

"Tidak apa-apa" singkatnya

Luhan mengulum senyum, ia menyahut "Kau bohong"

Sehun jadi gemas, ia peluk Luhan kemudian mencubit pipi kanannya sambil berujar "Aku tidak bohong, sayang. Untuk apa aku membohongimu, hmm..."

Satu kecupan sayang mendarat di dahinya, Luhan tersenyum senang. Dengan berani telunjuknya menunjuk bibirnya yang sedang mengerucut "Disini belum"

Sehun menyerah, keimutan Luhan bisa saja membuatnya lepas kendali. Akhirnya ia juga mengecup bibir ranum tersebut, tapi secepat itu pula Luhan mengalungkan tangan dileher Sehun sambil menekan tengkuknya, dan ciuman itu berubah menjadi saling lumat.

"Ohh, mereka sedang berskinship. Andaikan gadis-gadis itu disini" komentar Chanyeol

"Aku jadi merindukan mereka yang selalu menyoraki kita ketika membuat moment" kenang Baekhyun terkekeh

"Kau ingat Baek, saat video berciuman Luhan tersebar. Kita langsung ketakutan saat itu" Kyungsoo mengingat masa lalu yang otomatis membuat Baekhyun bergidik

"Yackk... jangan ingatkan aku tentang kejadian itu" protes Baekhyun, peristiwa tersebarnya video tersebut menjadi awal mula pecahnya hubungan persahabatan mereka. Kenangan itu sangat membekas diingatan Baekhyun yang menurutnya mimpi buruk.

"Tenanglah, Baekki. Jangan trauma, sekarang kita bersatu lagi bahkan Luhan sudah menyerah dengan sifat manly nya" Chanyeol mengusapi punggung kekasihnya, ia sangat tahu Baekhyun trauma dengan kejadian waktu itu.

"Apa kau bilang tadi, Yeol? Aku tidak manly begitu? Hey, meskipun aku ini pihak bawah. Aku tetap manly sampai kapanpun" Luhan membela diri

Sontak ketiga Seme itu tertawa. Kalau dilihat dari sudut manapun, image Luhan yang melekat tetaplah cantik, imut, lucu, dan sangat jauh dari kata manly. Tapi daripada ia mendapat amukan dari 'Nyonya Besar' akhirnya mereka hanya mengamini hal tersebut.

"Apa? Kalian menertawakanku heuhh...?!" Luhan mendelik tajam, tapi kesannya malah imut

"Tidak! Tidak, astaga. Baiklah kau can— tidak, kau manly. Serius" Chanyeol membuat tanda peace dengan cengiran lebarnya

Sempat hening beberapa saat, mereka memilih menikmati dessert beserta minuman bubble tea masing-masing. Sampai kemudian Baekhyun berujar kembali pada Luhan "Lu, aku sedikit lega kau akhirnya lolos. Dengan begitu kau tidak perlu khawatir lagi dengan sasaeng gila mu itu kan?"

DEG!

Luhan mematung, Baekhyun mengingatkan masalah itu disaat seperti ini. Melihat reaksi Luhan yang tidak biasa membuat Baekhyun jadi tak enak hati. Lekas ia segera meminta maaf pada Luhan. "Maaf, Lu. Aku hanya penasaran, sungguh aku tidak bermaksud—"

"Sehun, aku ingin kita berdua bicara secara pribadi" Luhan berujar pada Sehun tanpa mengindahkan ucapan maaf dari Baekhyun

Ajakan Luhan yang tiba-tiba sedikit membuat Sehun penasaran, entah disadari atau tidak. Setelah Baekhyun bertanya demikian, wajah Luhan agaknya sedikit memucat dengan ekspresi yang tidak biasanya ia tunjukkan

"Baiklah, kita cari meja yang kosong"

Keempat temannya terdiam, mereka hanya bisa memperhatikan kedua pasangan yang mulai beranjak dari meja mereka. Baekhyun merutuki mulutnya, ia sampai bertanya pada Chanyeol apakah ucapannya tadi terlalu sensitif? Namun Chanyeol tidak bisa memberikan jawaban pasti. Perlahan mereka mulai berspekulasi sendiri.

"Lagi-lagi ada yang disembunyikan olehnya" Kyungsoo memulai

"Aku yakin jika mereka sampai bicara berdua, itu pasti masalah yang serius" Chanyeol juga menimpali

"Padahal aku hanya ingin tahu, tapi sepertinya ucapanku tadi membuat Luhan sensitif. Apa kalian berpikir sasaeng Luhan itu masih ada walaupun dia sudah berada disini?" Baekhyun mencurahkan isi kepalanya

"Baek, obsesi itu membutakan. Mereka rela jika harus mengorbankan masa depan, uang, atau bahkan harga diri demi keinginan semu nya. Orang dengan gelar sasaeng tidak akan pernah jera dan terus menghantui objek keinginannya" Kai juga mengeluarkan pendapatnya

Chanyeol bertepuk tangan, dia kagum atas jawaban Kai "Tumben ucapanmu masuk akal, Kai?!"

"Kelak kita juga akan mengalami hal ini ketika menjadi artis, hanya saja aku tidak yakin apakah aku mampu menjalani hidup seperti itu. Semuanya penuh resiko, dan sayangnya Luhan telah mengalami hal tersebut jauh sebelum dia benar-benar menjadi artis" Kai menyahut dramatis dengan unek-uneknya

"Aku cukup prihatin melihatnya" Kyungsoo memandang Luhan dari kejauhan dengan tatapan kasihannya

.

.

.

"Sehun, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Maaf karena aku terus menyembunyikan hal ini dan—"

"To the point saja" Sehun memotong ucapan Luhan

Luhan menggigit bibir, ia menarik napas sejenak dan mengembuskannya. Nyatanya hal yang ia lakukan tidak memberikan efek apapun pada dirinya yang sedang nervous "Kris, dia mengincarku"

Sehun menegang, 3 kata yang keluar dari mulut Luhan cukup membuatnya mematung untuk beberapa saat. Didepannya Luhan menghela napas lagi, ia sudah menduga Sehun akan terkejut.

"Kris? Siapa dia?" timpal Sehun, nadanya terdengar dingin

"Bisa dikategorikan dia sasaeng ku, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Dan juga, dia terobsesi padaku. Entah nafsu atau cinta"

Luhan melihatnya, Sehun sedang mengepalkan tangan begitu kuat. Tapi ia juga tidak punya pilihan lain selain mengatakan hal ini kepada Sehun. Kris adalah musuh yang nyata serta ancaman bagi hubungan mereka. Luhan masih ingat bahwa ia dan Sehun telah berjanji saling melindungi satu sama lain. Dan inilah saatnya, ketika ia sudah bisa bersatu dengan Sehun tetapi Kris hadir dengan segala obsesi gilanya.

"Kenapa baru mengatakannya? Aku bahkan tidak tahu siapa dia, lalu bagaimana saat aku tidak ada—"

"Aku juga baru tahu namanya" potong Luhan, ia melanjutkan "Kami bertemu pertama kali saat dia tiba-tiba menciumku di ruang basket, dia pula alasanku sampai pindah ke negara ini. Dan aku tidak menyangka dia mampu menyusulku sampai kesini. Dia sasaengku yang paling tangguh"

Sehun membuang muka, tiba-tiba ia merasa pusing setelah mendengar cerita Luhan. Kris, seseorang yang menambah beban hidupnya saja. Tidakkah dia memiliki kesibukan lain selain mengejar Luhan? bahkan ia sendiri tidak yakin apakah laki-laki itu datang kesini untuk berniat menjadi artis atau malah mengincar Luhan-Nya.

Sehun memberikan tatapan penuh pada Luhan "Dengar Luhan, mulai saat ini jika ada yang mengganggu dirimu. Katakan saja padaku. Aku sedikit kesal mengetahui kau baru menceritakan hal ini"

"Sehunna, jangan marah..." Luhan mulai merengek, ia menatap takut-takut pada Sehun

"Aku tidak marah, hanya..." Sehun mengembuskan napas, ia tidak ingin membuat Luhan bersalah ataupun sebaliknya. Semua ini terlalu mendadak baginya.

"Aku tidak ingin membuatmu khawatir" Luhan berucap kemudian.

Sehun lantas menatapnya, mendaratkan usapan sayang pada pucuk kepala Luhan. ia berujar lirih yang masih dapat Luhan dengar "Kau telah mengucapkan itu ribuan kali. Kalau ada apa-apa katakan saja, sudah seharusnya aku mengetahui segala hal yang membuatmu takut"

"Ya, maafkan aku. Dan juga, terimakasih" senyum Luhan akhirnya terkembang

...

Sebetulnya jam istirahat mereka sudah habis. Sehun dan Luhan terhanyut dalam pembicaraan sehingga tidak menyadari waktu yang terus berputar. Bahkan teman-temannya pun sudah meninggalkan mereka, pikirnya mungkin tidak ingin mengganggu. Selesai sehun membayar, Luhan langsung menggamit lengannya lekas berjalan bersama.

"Sehun, apakah ini akan baik-baik saja? Aku bahkan masih baru disini"

Sehun menggenggam tangan Luhan. jari mereka saling bertautan, menghantarkan kehangatan bagi keduanya. Sehun menjawab kekhawatiran Luhan dengan santai "Cukup katakan yang sejujurnya pada mereka. Pasti ditolerir, walaupun harus mendapat ocehan dulu"

"Itu sama saja" dengus Luhan sambil mengerucut

Langkah keduanya terhenti ketika ada seseorang menghadang jalannya. Luhan mendongak yang seketika membuatnya membelalak, Kris. Dia sekarang berdiri dihadapan mereka dengan seringaian bodoh.

"Ohh, kebetulan sekali aku bertemu denganmu" ujar Kris begitu santai

Luhan semakin mengeratkan tangannya pada lengan Sehun, sedikit berjinjit ia berbisik lirih "Dia Kris"

Air muka Sehun berubah, tatapan dingin sekaligus ingin membunuh itu tampak begitu kentara. Tidak jauh berbeda dengan Kris, bahkan ia terkesan meremehkan situasi ini. Entah kedatangannya disengaja atau tidak, tapi keadaan saat ini bisa memicu pertengkaran lebih lanjut.

"Kenapa kau mengganggu, Luhan?" Sehun berujar dengan nada dingin, tatapan tajamnya tidak pernah lepas dari Kris

Kris berdecih, ia tertawa kemudian "Aku tidak mengganggunya, aku hanya menginginkannya"

"Bajingan, Kau!" refleks Sehun mengatakannya sambil membentak "Apakah kau tidak tahu jika dia kekasihku?"

"Tentu aku tahu. Tanpa perlu menjelaskan siapa diriku, mungkin Luhan sudah memberitahumu" Kris melipat kedua tangannya di dada, berlagak sok keren dan tidak takut.

"Tolong jauhi Luhan. Dia milikku" ujar Sehun tenang, ia menahan gejolak emosinya yang semakin naik.

"In your dream, Man. Kekasihmu itu terlalu indah hingga aku tak dapat menahan gairahku sendiri"

Brakk

Luhan terkejut, ia sampai membelalak hingga menutup mulutnya sendiri. Didepan matanya ia melihat Sehun yang menghajar Kris. Ia melihat laki-laki itu tersungkur didepannya, tonjokan Sehun sepertinya sangat kuat hingga bibir Kris robek.

"Sehun, henti—"

Brukk

"Akhhh...!"

Belum sempat Luhan mencegahnya, namun Kris sudah berbalik menyerang Sehun. Dia membalas tonjokan Sehun tak kalah kuat hingga tersungkur kebawah seperti Kris barusan.

"Hentikan!" teriak Luhan, namun ia malah di dorong oleh Sehun agar dirinya menjauh

Jduaghh...

Bughh...

Praak...

Bughh...

Jduaghh...

Baik Sehun maupun Kris tidak ada yang mau mengalah, mereka saling tonjok, meninju satu sama lain. Tidak jarang mereka jatuh lalu bangkit lagi untuk membalas. Bagi Kris, mengalah malah akan membuat image nya di depan Luhan hancur, dia ingin membuktikan bahwa dirinya lebih kuat daripada Sehun. Sedangkan Sehun sudah termakan oleh letupan emosinya sendiri. Dia tidak akan pernah mengampuni orang yang telah mengganggu dirinya ataupun Luhan.

"Sshhh... kau tidak punya malu, Luhan sudah mutlak menjadi milikku. Bahkan aku yang pertama kali merasakan tubuhnya" ujar Sehun percaya diri, ia tengah menarik kerah Kris kuat

"Sialan, asal kau tahu. Aku lah yang pertama kali merasakan bibirnya" timpal Kris tak kalah pede, ia menyerigai "Kalau saja waktu itu Luhan tidak kabur, pasti aku sudah menidurinya hingga pingsan"

Bughh...

"Bajingan! Akalmu sudah hilang terkikis nafsu" Sehun semakin menggila, ia menghajar Kris membabi-buta

"Uhuuk..." Kris mulai memuntahkan darah, namun senyum remehnya tidak pernah pudar

"Persetan, Luhan telah membuatku gila. Tujuanku kesini memang untuk merebutnya darimu"

Bughh...

Satu tonjokan lagi sukses membuat Kris telentang di lantai. Sedari tadi Kris memang tidak melawan Sehun, seluruh tubuhnya terasa remuk untuk kembali bangkit. Namun kata-kata Kris cukup ampuh menjadi bensin dalam kobaran api kemarahan seorang Oh Sehun.

Luhan gemetar diujung sana, melihat Kris yang memuntahkan darah membuatnya ingin berteriak. Ia sungguh takut bukan main, Sehun menghajar Kris hingga laki-laki itu tergeletak lemah dilantai. Ia ingin berlari, berteriak meminta tolong, tapi kenyataannya ia sendiri melemas. Menyaksikkan adegan perkelahian hingga keduanya sama-sama berwajah lebam kebiruan.

"Astaga! Apa yang kalian lakukan?!"

Tuhan menjawab kekhawatiran Luhan setelah akhirnya seorang wanita berlari kearah mereka. Tidak jauh berbeda, wanita itu juga sama-sama panik. Ia langsung menjauhkan dua kubu tersebut dan menjadi penengah diantara mereka.

"Sehun?! Lihat, wajahmu penuh lebam, Ya Tuhan" wanita itu terlihat menangkup pipi Sehun

Sehun ketahuan, dia sadar setelah melihat Kris tidak berdaya dibawahnya. Bahkan ketika Manager Yewon datang sebagai penengah, ada sedikit penyesalan dalam benaknya "Maafkan aku, Yewon Noona"

"Kau bodoh atau bagaimana hahh...? kau bisa dikeluarkan jika membuat masalah" Yewon berteriak dihadapan Sehun, wanita itu kalut. Dia cemas kalau sampai Sehun di drop out sebagai trainee

"Dan juga, apa yang kau lakukan hahh...? kenapa hanya melihat saja?!" Yewon juga sampai hati untuk membentak Luhan

Luhan berjengit, ia menunduk dalam sambil terus menggumam maaf. Sungguh, ia merasa tidak berguna dalam situasi seperti ini. Lekas ia hampiri Sehun dan dan bersiap untuk memapahnya.

"Kau bangunlah, ayo kuantar ke ruang kesehatan" Yewon memapah Kris, laki-laki itu lekas bangun walaupun sakit sekali dan berjalan tertatih menuju ruang kesehatan diikuti Sehun dan Luhan dibelakangnya.

.

.

.

Saat ini hanya Kris yang mendapat penanganan dari staff khusus kesehatan. Karena Kris lebih parah, wanita petugas kesehatan tersebut lebih lama berkutat pada Kris seorang. Luhan tidak tega melihat Sehun terabaikan, ia meminta ijin mengambil beberapa obat dan berniat membantu meringankan tugas wanita tersebut. Untungnya wanita tersebut mengijinkannya untuk membantu mengobati luka Sehun.

"Sehun, biar aku saja yang obati" ujar Luhan dengan menenteng satu kotak obat

Luhan duduk disebelah ranjang, kemudian mengacak isi dari kotak obat tersebut. hal pertama yang ia lakukan adalah membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di muka Sehun. Walaupun Luhan sudah berusaha sepelan dan selembut mungkin, namun terkadang Sehun meringis sakit. Luhan jadi kalut melihatnya.

"Sehun, tahan, ya. Ini akan semakin parah jika tidak segera diobati"

Mengabaikan tatapan Sehun yang semakin intens, Luhan tetap melanjutkan pekerjaannya. Ia tempelkan plester pada kulit Sehun yang terdapat luka. Kemudian mengambil salep dan mengoleskannya pada bagian yang memar. Dari jarak sedekat ini, Sehun senang sekali memandangi wajah Luhan. Tanpa sadar tangannya terangkat untuk menyentuh pipi mulus tersebut.

"Sehun... aku sedang fokus—" Luhan merengek, namun pada akhirnya ia terdiam karena Sehun menyatukan bibir keduanya

Jemari Luhan yang masih terdapat salep ia abaikan, ia malah memejamkan mata. Menikmati setiap cumbuan yang diberikan Sehun padanya. Diam-diam Sehun menarik kelambu dibelakang Luhan untuk menutupi aktivitasnya, namun Kris sudah tahu. Sedari tadi ia tidak peduli apa yang wanita itu lakukan pada wajahnya, matanya terus menyoroti dua sejoli yang diam-diam bermesraan ditempat seperti ini. Kris jelas cemburu, namun ia terhadang oleh staff kesehatan didepannya.

"Shit!" Kris mengumpat sekali lagi

"Apakah sudah selesai mengobatinya?" tanya staff wanita tersebut. Cepat-cepat Sehun maupun Luhan kembali ke posisi semula

"Ya, Sehun sudah lebih baik sekarang" ujar Luhan

Wanita itu membuka kelambunya, mengamati hasil pekerjaan Luhan kemudian dia mengangguk sekilas. Wanita itu kembali mengabaikan mereka berdua sambil berujar "Aku masih ada urusan, kalian ku tinggal disini tidak apa-apa, kan?"

"Tentu saja" sahut Luhan

Setelah itu mereka ditinggal dalam satu ruangan yang sama. Di ranjangnya Kris merutuki lilitan perban yang membuat pergerakannya terbatas, apalagi jika bergerak sedikit saja rasanya sakit tidak tertahankan. Kris benci dalam keadaan seperti ini, ranjangnya sudah ditutup oleh kelambu, sehingga ia tidak dapat melihat Sehun dan Luhan di ranjang seberang.

Sedangkan Sehun memilih melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, ia lumat kembali bibir Luhan. mengecap rasa khas yang ditimbulkan oleh belahan bibir tersebut, tangannya diam-diam menggapai barisan kancing kemeja Luhan, melepasnya satu persatu, hingga Luhan dibuat telanjang dada.

"Akkhhh..." Luhan tidak sengaja mendesah akibat ulah Sehun yang tiba-tiba menyusu padanya, ia menutup mulutnya sendiri agar desahan itu teredam, apalagi Kris berada tidak jauh dari mereka.

Sehun menjilati daerah sekitar putingnya, sesekali menggigit gemas daging kecil kecoklatan tersebut, dan berakhir melahapnya rakus seakan puting Luhan dapat mengeluarkan susu kemudian. Tangan satunya yang menganggur juga ia gunakan untuk merangsang puting satunya yang belum terjamah. Hanya sekedar membuat gerakan seperti menggaruk kemudian memelintir pelan, namun apa yang ia lakukan semakin membuat Luhan kelabakan karena terus menahan desahannya.

Sehun menyerigai diatasnya, muka Luhan memerah hebat. Ia meminta Luhan untuk mencari posisi nyaman ditengah ranjang yang sempit ini. Mengabaikan fakta bahwa ia baru saja berkelahi hingga membuat beberapa bagian tubuhnya sakit, namun nyatanya Sehun masih kuat untuk mencengkram kedua tangan Luhan yang diposisikan diatas kepalanya. Luhan dibawahnya hanya pasrah, menerima setiap sentuhan Sehun dengan senang hati, karena ia memang mencintainya.

Slurpp... Slurpp...

Sehun beralih menjilati bagian ketiaknya, Sial! Sehun menemukan titik sensitifnya. Pejaman mata Luhan semakin erat dengan alisnya yang menukik tegang, berulangkali bibirnya ia gigit agar desahannya teredam. Sehun yang mengerti hal tersebut kemudian menggapai bibir Luhan digigit kencang, membungkusnya dengan lembut sampai Luhan terbuai kelangit ketujuh.

Puas, Sehun melepaskan pangutannya sepihak. Kembali beralih menjilati sensual bagian belakang leher Luhan, semakin keatas hingga bermuara pada daun telinga Luhan. Sehun mencecap indera bertulang lunak tersebut sampai akhirnya ia berbisik serak "Jangan ditahan, lepaskan saja desahanmu. Agar Kris tahu bahwa kau milikku"

Detik itu, Sehun memijat keras penis Luhan. dan si pemilik mendesah keras "Arghhh...!"

"Bagus" gumam Sehun menyerigai, ia sempatkan untuk mengecup pipi Luhan sekilas lalu turun pada bagian leher Luhan, menyesap-nyesap sampai menggigit kencang yang menimbulkan bekas samar.

"Jangan lupa desahkan namaku, sayang..." titahnya lagi dengan suara serak basahnya

Satu tangannya tidak pernah lepas dari bagian vital Luhan di selatan sana, sekedar memijatnya pelan namun memberikan efek pening karena penis Luhan ingin dibebaskan. Tapi apa pedulinya, Sehun. Ia ingin sedikit bermain-main dengan Luhan-Nya.

"Anghh... Sehun.. Sehun, tolong...!"

Luhan sampai memohon, ia tidak dapat mengendalikan gairahnya ketika Sehun secara bersamaan merangsang bagian leher sekaligus penisnya dalam satu waktu. Napas Luhan mulai putus-putus, keringat sebiji jagung mengalir di pelipisnya, matanya merem melek ketika Sehun terus mengerjai tubuhnya.

"Hahhh... rasanya aku... sampai"

Setelah itu penisnya mengeluarkan cairan, Sehun menangkupnya. Mengoleskan itu pada sekitar paha dalamnya, tidak lupa dengan lubang berkerut yang ia abaikan sedari tadi. Jarinya yang telah licin akibat cairan Luhan sendiri perlahan ia masukkan kedalam sana, rasanya begitu mudah karena licin. Karena kemudahan itulah ketiga jarinya langsung masuk sekaligus dan mengobrak-abrik bagian dalamnya.

Clep.. clepp..clep...

Suara becek tersebut terdengar erotis bagi Luhan, diam-diam ia mengulum senyum, namun tidak bertahan lama ia kembali dikejutkan dengan Sehun yang kali ini menjilati paha dalamnya. Otomatis kakinya yang ditekuk akhirnya mengapit kepala Sehun. Dibawah sana Sehun menjilat-jilati paha Luhan yang sebelumnya telah ia lumuri cum nya sendiri. Dengan jahil ia berusaha membuat masterpiece disana. Satu hal, kulit didaerah ini lebih sensitif sehingga memungkinkan Luhan semakin mengerang nikmat.

"Sialan, milikku juga ingin dimanjakan!" Sehun mengumpat, sedangkan Luhan malah terkekeh

Buru-buru Sehun melepas celana sekaligus membebaskan penisnya yang menegak sejak tadi. Ia kocok sejenak miliknya sendiri sambil melumuri penisnya dengan sisa-sisa pre-cum Luhan. Setelah siap, ia posisikan miliknya tepat didepan anal berkerut Luhan, dan tanpa menunggu lama penisnya kini masuk secara bertahap kedalam surga dunianya.

"Akhhh... bergerak!"

Sehun tersenyum senang ketika Luhan sudah memberikan aba-aba, ia genjot pelan-pelan miliknya disana, mencari titik kenikmatan Luhan. Tapi Luhan merespon sebaliknya, ia ingin Sehun bergerak cepat, lubangnya terasa gatal karena Sehun terlalu lamban untuk menggesek dinding analnya. Akhirnya, Sehun menyerah. Ia menuruti kemauan Luhan yang ingin bermain kasar.

Plakk... Plakk.. Plakk...

Sehun gemas menatapi dua bongkahan kenyal Luhan, ia tampar satu-persatu hingga sedikit menimbulkan kemerahan. Ia semakin mempercepat tusukannya, menggenjot Luhan dengan brutal hingga ranjang mereka berdecit keras. Luhan kelimpungan, desahannya sampai tidak teratur akibat serangan telak Sehun yang bertubi-tubi didalamnya.

"Ngghha... Ahakkhh... Hhhh..."

Tidak hanya itu, Sehun ikut menggoyangkan pinggulnya sehingga penisnya ikut berputar didalam sana. Luhan menjerit nikmat, tidak pernah ia merasakan sensasi baru seperti ini. Bagian yang biasanya jarang terjamah sekarang bisa merasakan sentuhan penis Sehun juga.

Pyarrr...

Kris tidak tidur, ia mendengarkan semuanya. Desahan Luhan, dan bagaimana ranjang tersebut sampai bergoyang heboh. Kris bisa memperkirakan sehebat apa permainan Sehun, namun disisi lain ia jadi ikut menegang, bagaimana suara sexy desahan Luhan diruang ini membuatnya merasakan panas. Kris terus menggerutu akibat tangannya yang penuh perban, sekuat tenaga ia mencoba melepas lilitan perban tersebut tapi malah sikunya tidak sengaja menyenggol gelas kaca disebelahnya. Menimbulkan suara pecahan kaca yang nyaring dan sempat ia dengarkan suara decitan ranjang tersebut juga ikut terhenti.

Sehun maupun Luhan terkejut. Mereka saling pandang sejenak namun kemudian Sehun membisikan untuk tetap tidak peduli saja. Biar kali ini Sehun egois, ia hanya ingin menunjukkan bahwa Luhan adalah hak patennya dan tidak akan pernah dimiliki siapapun kecuali dirinya.

Pada akhirnya Sehun kembali menggenjot Luhan dengan brutal, tampa ampun, hingga mata Luhan memutih, rasanya sebentar lagi ia akan terbang ke awan. Bersamaan dengan itu, Sehun juga merasakan miliknya berkedut-kedut hebat didalam sana, semakin membesar dan dalam tusukan ketiga dia berhasil klimaks dengan semburan sperma hangatnya didalam lubang Luhan.

...

Malamnya, Luhan merasa begitu lelah. Sehun telah menggempur tubuhnya habis-habisan, walaupun hanya satu ronde namun yang tadi begitu berkesan baginya. Ia tidak menyangka diruang kesehatan keduanya mampu melakukan hal tersebut, Luhan jadi senyum-senyum sendiri. Ia ingin merebahkan tubuhnya dikasur namun tertahan karena dering ponsel tanda pesan masuk berbunyi.

'Luhan, ini aku Baekhyun. Maaf, waktu itu aku ganti nomor. Sekarang kau diminta menemui Pelatih Kim diruang dance seperti biasa. Selamat malam Luhan, maaf mengganggumu ^^'

Luhan mengembuskan napas, padahal ia sudah sangat lelah. Tapi pelatih Kim mencarinya pasti karena ia bolos sehabis kejadian tadi. Ia sudah menduga bahwa ia akan terkena sanksi, Itu sudah resikonya. Segera ia bangkit dari kasur dan mengambil mantelnya, ia berjalan keluar dari dorm trainee menuju ruang dance.

Saat ini memang sudah masuk pukul 11 malam waktu Korea. Pantas saja lorong gedung ini nampak sepi dengan cahaya remang, beberapa staff perusahaan ini sudah dipastikan banyak yang pulang sehingga menyisakan beberapa security saja yang bertugas jaga malam disekitar gedung. Luhan cepat-cepat membuang pikiran anehnya, ia menyugesti dirinya sendiri bahwa tidak akan terjadi apa-apa, namun entah mengapa hatinya berdebar tidak menentu saat ini.

Luhan berjalan dengan tenang, sampai ia merasakan seseorang mendekap tubuhnya dari belakang. Ia ingin berteriak tapi mulutnya telah disumpal oleh tangan seseorang. Ia berusaha berontak namun saat itu pula ia merasakan jarum menusuk kulit lengannya dengan diikuti kesadaran Luhan yang perlahan menghilang.

Kris terkekeh dibelakangnya, sekarang Luhan tidak sadarkan diri dipelukannya. Lekas ia gendong Luhan dan segera membawanya keluar dari gedung sebelum ia kepergok beberapa staff security didepan sana.

"Akhirnya kesempatan ini datang padaku, bersiaplah Luhan. Aku akan membawamu ke tempat yang tidak kau kira"

Kris menyempatkan diri mengecup pipi Luhan, lalu ia berlari gesit dengan membawa Luhan dalam gendongannya. Ia membawa kabur Luhan melewati pintu belakang gedung agensi yang jarang diketahui banyak orang, biasanya trainee wanita menggunakan tempat rahasia tersebut untuk makan ayam diam-diam karena terdapat celah pintu sempit disana yang langsung terhubung dengan sebuah gang.

Kris berhasil membawa Luhan keluar dari gedung agensi, kebetulan netranya menangkap sebuah taksi yang lewat di malam hari. Langsung saja ia menyetop taksi tersebut dan masuk kedalamnya, Kris tertawa bahagia, ia bersyukur rencananya kali ini berhasil ia lewati bersama Luhan yang tidak sadarkan diri dalam pelukannya.

"Luhan, mari kita bersenang-senang setelah ini"

TBC


Ps: Tinggal satu chapter lagi ^^ terus pantengin ff ini ya :D siders dimohon kebesaran hatinya untuk menyumbangkan satu review saja di chapter-chapter terakhir ff ini :'')