Srakk... Srakk...
"Ahhh... cepatlah sedikit, bodoh! Aku benci terlilit seperti ini" Kris mengumpat pada seorang remaja laki-laki yang merupakan teman satu dorm nya
"Kau ini, masih untung aku mau membantumu" gerutu teman sekamar Kris yang tengah berusaha melepas perban dengan menyayatnya
10 menit kemudian, perban tersebut tidak lagi membatasi pergerakan Kris. Bisa ia lihat dengan jelas, bekas lebam kebiruan tersebut nampak kontras dengan kulitnya yang putih. Masa bodoh, yang penting malam ini ia bisa membalaskan dendamnya pada Oh Sehun.
"Ambil ini...!" Kris melemparkan beberapa lembar Won dengan tidak elitnya pada teman yang telah membantunya tadi
"Sialan!" geram laki-laki itu, ada sedikit penyesalan kenapa ia membantunya tadi
Kini Kris telah bersiap, ia mengenakan pakaian gelap lengkap dengan topi hitam. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah masker. Kris yang misterius dahulu kini lahir kembali, ia tidak sabar ingin segera menculik Luhan. Sudut bibirnya tertarik tipis ketika ia menemukan sebuah anestesi di saku calana jeans nya, ia mendapatkan itu di ruang kesehatan. Kalau dia saja berhasil mencuri anestesi yang letaknya tersembunyi, maka untuk mendapatkan nomor ponsel Luhan jelas sangat mudah sekali baginya.
"Saatnya beraksi!" kemudian Kris menaikkan maskernya
Kris menapaki lorong sunyi nan remang, dia mengambil tempat dengan bersembunyi dibalik Vas keramik yang lumayan besar. Dengan sabar ia menunggu Luhan, tidak ada jalan lain menuju ruang dance selain melewati lorong ini, dan Kris yakin sebentar lagi Luhan akan muncul.
10 menit berlalu, Kris bahkan telah menguap. Ia hampir saja memejamkan mata jika tidak mendengar derap langkah kecil menggema. Ia otomatis terkesiap dan mulai bersiaga, sedikit ia condongkan tubuhnya agar dapat memastikan bahwa yang sedang berjalan ini adalah Luhan, dan gotcha! Itu memang Luhan. Kris menyerigai kemudian.
Sebelum Luhan melewatinya, Kris sudah mempersiapkan jarum suntik dengan tabung kecil berisi anestesi hasil curiannya tadi. Kris tidak tahu menahu tentang dosisnya, masa bodoh! yang penting Luhan tidak sadar ditangannya. Ketika suara langkah kaki Luhan semakin mendekat, Kris semakin berdebar. Dan begitu Luhan melewatinya, segera ia kejar Luhan dengan langkah sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Setelah posisinya tepat, Kris langsung mendekap Luhan dari belakang sambil menyekap mulutnya agar tidak berteriak.
Grep!
"Mmhh...!"
Luhan mendelik terkejut, sebagai refleks ia menjerit namun sebuah tangan telah membekap mulutnya. Seseorang tengah mendekapnya dari belakang, ia takut sekaligus berdebar bukan main. Apalagi dalam situasi sepi seperti ini, Luhan merasakan tangannya berkeringat dingin dan orang itu mulai menarik lengan mantelnya keatas, ia bisa melakukan itu dengan mudah karena pergelangan Luhan terlalu ramping. Dan Luhan semakin menegang ketika sebuah jarum menusuk lapisan kulitnya disertai sensasi dorongan jarum yang mulai menyalurkan sebuah obat –yang Luhan tidak tahu itu apa. Sehingga tidak butuh waktu lama kesadaran Luhan mulai menipis, ia terkulai lemas dipelukan Kris.
"Akhirnya kesempatan ini datang padaku, bersiaplah Luhan. Aku akan membawamu ke tempat yang tidak kau kira"
Kris menyempatkan diri mengecup pipi Luhan, lalu ia berlari gesit dengan membawa Luhan dalam gendongannya. Ia membawa kabur Luhan melewati pintu belakang gedung agensi yang jarang diketahui banyak orang. Kris akhirnya berhasil membawa Luhan keluar dari gedung agensi, kebetulan ia mendapati taksi yang lewat. Langsung saja ia menyetop dan masuk kedalamnya.
"Ahjussi, tolong carikan motel yang agak jauh darisini"
Sopir laki-laki didepannya agak bingung melihat keadaan pria satunya, ia lekas menjalankan taksi karena tidak enak dengan Kris. Namun ditengah perjalanan sopir itu memberanikan diri bertanya, dengan maksud agar terlihat ramah.
"Kenapa temanmu?" tanya sopir itu yang melirik kaca diatasnya
"Ahh... dia mabuk" Kris menjawab kikuk, selebihnya sopir itu tidak bertanya lagi
Sampai akhirnya mereka tiba disebuah motel yang seperti Kris inginkan. Setelah membayar taksi, segera ia membawa Luhan kedalam sana dan memesan satu kamar yang tersisa. Kris lega bukan main, disepanjang perjalanan ia terus tersenyum bahagia. Luhan sudah berada dipelukannya, dan kini cita-citanya terwujud, hanya akan ada ia dan Luhan saja disebuah kamar.
Perfect!
.
.
.
Damn I'm Manly Oh Sehun!
Chapter 15
I Choose My Love Rather Than My Dreams
By: HunHan SeRaXi
.
.
"Hey! Bagunlah... ayo cepat!"
Kim Junmyeon, si ketua kamar dorm yang Sehun tempati. Laki-laki yang mendapat amanat sebagai ketua itu membangunkan anggotanya satu-persatu. Sebagian dari mereka mengerang karena masih mengantuk, tidak dipungkiri bahwa menjadi trainee di agensi ini begitu berat sehingga ketika malamnya kebanyakan mereka semua kelelahan, waktu tidur 6 jam pun tidak cukup untuk membayar rasa lelah kemarin. Tapi apa daya, ini adalah amanat dari salah satu staff yang meminta mereka untuk segera berkumpul.
"Aishh... jinjja! Jam berapa ini?" erang seorang laki-laki ketika melihat jam yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi
"Kalian semua cepat bergegas ke ruang latihan, tidak peduli belum mandi ataupun sarapan. Kita diminta untuk segera berkumpul" ucap Junmyeon tegas
Sehun bangkit dari kasur kemudian merapikan tatanan rambutnya sambil mengenakan jaket. Ia lekas menuju ruang latihan bersama teman-temannya, disana ia melihat sudah banyak trainee yang berkumpul baik wanita ataupun pria. Semua dikumpulkan menjadi satu. Bahkan di pagi hari seperti ini Pelatih Kim dan Manager Yewon sudah berdiri rapi disana.
"Masing-masing ketua kamar mengabsensi anggotanya" titah Manager Yewon dengan lantang, diwajahnya terlihat gurat kecemasan yang berlebihan, dan hal itu tidak jauh berbeda dengan Pelatih Kim yang juga uring-uringan.
"Manager Yewon-ssi, Luhan tidak ada" sahut seorang laki-laki
"Kris juga tidak kembali semalam" laki-laki lain juga menyahut yang sontak mereka berdua menjadi pusat perhatian trainee lainnya
"Kalian berdua! Hubungi anggota kalian yang tidak ada, kalau perlu cek dikamar dan dimanapun tempatnya" titah Yewon lagi dengan nada keras, terkesan emosi
"CEPATLAH?!" teriak Yewon lagi karena keduanya nampak lelet, sedangkan keadaan saat ini begitu genting
Pagi-pagi sekali Yewon dan juga pelatih Kim mendapat telepon bahwa ia harus segera kesana untuk mengabsen para trainee. Pihak security agensi ini mengatakan jika semalam ada seorang 2 orang trainee laki-laki mencoba kabur dengan satunya yang sedang dalam keadaan di gendong. Kejadian tersebut terekam oleh kamera CCTV yang tersebar diberbagai tempat, namun saat security tersebut berusaha mengejar keduanya, rupanya mereka sudah berhasil lolos dengan menaiki taksi. Plat nomor taksi yang membawa mereka berdua berhasil terekam CCTV. Untuk membantu pencarian, para staff security ini sepakat untuk melaporkan kejadian ini pada polisi sekaligus melacak keberadaan mereka berdua. Dan semalaman suntuk mereka mencari 2 orang laki-laki trainee yang kabur tersebut.
Laki-laki yang merupakan ketua kamar Kris dan Luhan kembali ke ruang latihan, dengan sangat menyesal mereka berdua mengatakan bahwa anggotanya yang hilang tidak ada dimanapun, baik dikamar maupun ruang yang lain. Ponsel Kris tidak dapat dihubungi sedangkan Luhan malah meninggalkan ponselnya. Lantas ponsel Luhan diminta oleh pelatih Kim dan laki-laki itu menyerahkannya.
"Bagaimana? Apakah anggota kalian sudah lengkap selain Kris dan Luhan?!" tanya Yewon lagi dengan lantang
"Ya, Manager" jawab mereka serempak
Yewon memijat pelipis, ia pusing memikirkan peristiwa yang jarang terjadi ini. Ketika polisi menemukan mereka semoga paparazi tidak berada disitu, ini sebuah skandal besar bagi agensi jika masalah ini sampai tersorot media.
"Baekhyun?!" panggil ketua Kim lantang
Baekhyun yang awalnya duduk tenang sontak berjengit, otomatis jantungnya berdebar-debar. Ada apa gerangan sampai ia dipanggil walaupun sedari tadi Pelatih Kim memainkan ponsel milik Luhan. Apakah dirinya ada sangkut pautnya atau—
"APA KAU TULI?! KEMARI!"
Baekhyun segera kedepan sambil menunduk takut, tatapan pelatih Kim begitu mengintimidasi.
"Apa kau yang meminta Luhan datang ke ruang dance, semalam?"
Refleks Baekhyun mendongak dengan gelengan, ia membantah dengan tegas ucapan Pelatih Kim "Sungguh, tidak Pelatih Kim. Saya bersumpah, saya tidak mengirimi pesan apapun pada Luhan semalam"
"Lihat, ponsel mu!"
Baekhyun segera menyerahkan ponsel dari kantung sakunya kepada Pelatih Kim.
.
.
.
Dari sekian orang yang sibuk mencari Kris dan Luhan, Sehun yang baru mengetahui ini menahan amarah. Ia marah mengetahui Kris berhasil menculik Luhan, sekaligus kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya ia bisa mencegah Luhan malam itu, dan bagaimana bisa Luhan sampai masuk dalam perangkap Kris? Sehun menggeram dalam keterdiamannya, ketika Pelatih Kim dan Manager Yewon meminta mereka semua untuk kembali, lekas Sehun menghampiri wanita itu untuk meminta informasi lebih lanjut.
"Tunggu, Yewon Noona! Bolehkah aku tahu bagaimana kejadian semalam?"
Yewon yang awalnya bersandar lelah ditembok semakin mengembuskan kasar napasnya, "Kenapa masih disini? Cepat kembali ke dorm dan bersiap-siap untuk latihan"
"Bagaimana Noona meminta kami tetap tenang dan melanjutkan latihan, sedangkan salah satu dari kami menghilang?" Sehun tidak percaya, agensi sebesar ini malah tidak memperdulikan trainee nya yang hilang
"Sehunna, kau hanya seorang trainee, ingat! Dan masalah ini bisa mempengaruhi reputasi agency kita. Sebaiknya kau jangan ikut campur, pergi dan bersiap-siaplah!" usir Yewon sambil menahan emosi agar tidak sampai membentak calon artis kesayangannya
"Noona lebih mengkhawatirkan reputasi agency daripada Luhan?! bagimana bisa—" Sehun terbawa emosi sampai ia berbicara informal pada Yewon dengan nada meninggi
"Luhan itu siapa bagimu? Sudah kukatakan berulangkali, FOKUS SAJA PADA TUJUANMU SEHUN?! Kenapa kau malah mengurusinya, sudah biarkan saja! Walaupun dia sahabatmu sekalipun—"
"Luhan kekasihku"
Detik itu juga Yewon mematung, ia kehilangan kalimat untuk menyampaikan kemarahannya. Yewon sungguh tidak menyangka, calon artis yang ia banggakan selama ini ternyata—
"Kenapa? Noona terkejut mendengarnya?" Sehun menatap lurus kedalam manik penyesalan yang ditunjukkan Yewon
"Jangan bercanda..." Yewon membuang muka, ia tersenyum masam ketika mengetahui kenyataan ini
"Apa aku terlihat sedang membuat lelucon?" timpal Sehun, kembali dengan nada dinginnya
"Kau membuatku semakin pusing, pergilah..." Yewon kembali mengusir Sehun dengan nafas terengah
Sehun memilih pergi, ia tahu Yewon tengah terguncang dengan fakta menyakitkan ini. Sehun mengerti, Yewon sangat mengharapkannya, namun mengetahui masalah Luhan saja yang diabaikan bukan tidak mungkin jika suatu saat ia mengalami masalah juga akan diabaikan oleh agensi yang memiliki predikat terbaik dinegeri ini. Sehun mendecih, ia mulai memikirkan kembali keputusannya untuk debut di agensi ini.
...
"Luhannie... sayang, bangunlah cantik"
Senyum Kris terus terkembang ketika menatapi tiap inchi wajah Luhan, ia bahagia bukan main. Mendapati Luhan dalam dekapannya adalah surga baginya, ia tidak ingin keberuntungan apapun selain ini. Bagaimana Kris yang menatapi intens wajah Luhan yang tengah tertidur pulas, jemari Kris juga tidak pernah diam untuk mengusak surai lembut nan harum milik Luhan-Nya.
"Jangan menguji kesabaranku, sayang. Cepat buka matamu dan kita akan segera menyatu dalam gairah" Kris menggumam seorang diri, ia agaknya kesal menatapi Luhan yang tidak bergerak sedikitpun
Sudah sejam yang lalu, saat mereka berhasil lolos dan bersembunyi dibalik kamar motel ini. Kris sungguh tak sabar ingin bermain dengan Luhan-Nya, ia berusaha bersabar ditengah kobaran gairahnya sendiri dibawah sana, Kris menahan sakit ini seorang diri. Namun nampaknya Luhan tidak kunjung sadar setelah ia menyuntikkan anestesi pada pergelangan Luhan.
"Bodoh, apa yang kulakukan? Sepertinya dosis yang kuberikan terlalu banyak" sekarang Kris merutuki kebodohannya, Luhan sampai tidak sadarkan diri adalah ulahnya. Dan rupanya ia baru menyadari jika dosis yang ia suntikkan terlalu berlebihan sehingga Luhan tidak kunjung sadar.
Kembali ia tatap wajah teduh Luhan, walaupun laki-laki mungil ini tidak melakukan apa-apa tapi wajah innocent sekaligus bibir cheris yang sedikit terbuka ketika tertidur cukup membuat Kris tidak tahankan diri. Luhan adalah bidadara yang sesungguhnya, entah Kris selalu hilang kendali jika berdekatan dengan sosok lelaki cantik ini. Tapi persetan, gairahnya telah memuncak sampai ke ubun-ubun, semakin lama semakin mendidih dan menyakitkan. Kris memilih gelap mata, ia ingin menggagahi Luhan ditengah kesadarannya yang hilang.
"Jangan salahkan aku, Lu. Kau terlalu indah"
Kris mengukung Luhan, ia lumati bibir tak berdosa itu. Bergerak sepihak, memberikan foreplay terbaiknya pada tubuh tak berdaya Luhan. Kris berusaha merangsang Luhan, ia ingin laki-laki itu terbangun dan mendesahkan namanya seperti Luhan mendesahkan Sehun. Kris menggeram ketika ia menyadari Luhan tidak bergerak sedikitpun, ia kesal jika harus bersetubuh dengan orang yang seperti mayat.
"Sialan! Buka matamu dan teriakkan namaku, Lu!"
PLAK
PLAK
Kris bahkan sampai menampar Luhan keras, berharap orang yang diinginkannya itu terbangun. Tapi usahanya sia-sia, sampai 2 jam kemudian Luhan masih terbaring lemah, tak sadarkan diri. Karena apapun yang Kris lakukan tak akan mendapat reaksi dari Luhan, ia bagaikan menyetubuhi mayat. Dan Kris benci akan itu.
"Kau membuatku semakin gila!" erang kris frustasi
Ia sobek celana katun Luhan, menampakkan paha putih mulus yang diinginkan Kris. Persetan, tidak peduli Luhan bagaikan mayat, yang penting ia harus menuntaskan hasratnya. Penisnya yang menegak itu ia kocok sebentar dan mengarahkannya pada anal Luhan, menerobosnya secara terburu dengan sangat mudah. Rasanya sempit, namun memang tak ada pergerakan apapun dari dinding anal Luhan. Kris hilang kendali, ia gerakkan pinggulnya maju-mundur yang memberikan sensasi tersendiri baginya.
Kris bergerak terlalu cepat, keegoisannya untuk 'menikmatkan diri sendiri' malah menjadikan anal Luhan lecet hingga berdarah. Penyatuan kering yang ia lakukan sepihak malah menyakiti fisik Luhan, apalagi ketika Luhan terbangun. Mungkin laki-laki mungil tak berdosa itu akan terguncang setelahnya.
"Arghh.. kau nikmat Lu! Shit! Ahh..." desahnya monolog
BRAK!
"Jangan bergerak!"
Kris tersentak, beberapa rombongan polisi masuk ke kamarnya yang telah dikunci tadi. Melihat Kris yang tengah melakukan tindak asusila pada Luhan, beberapa polisi itu langsung memborgol tangan Kris kemudian menyelimuti tubuh Luhan yang telanjang. Keadaan Luhan yang sudah sangat mengenaskan membuat polisi itu segera memanggil ambulan, sedangkan Kris digeret paksa keluar dari motel untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Kalian berdua, antarkan korban ke rumah sakit dan cari identitasnya. Sedangkan yang lain segera interogasi pelaku" titah sang komandan
Luhan sudah diboyong dengan tandu, sedangkan Kris dengan tangan terborgol lengkap pengawalan polisi disamping kanan-kirinya. Sepanjang perjalanan keluar motel, mereka jadi pusat perhatian orang-orang disana. Sebagian dari mereka mulai berbisik-bisik lirih dan tidak butuh waktu lama seseorang telah menjual berita mengejutkan ini kepada salah satu wartawan.
Dua remaja laki-laki tertangkap disebuah motel, mereka diduga seorang trainee yang berasal dari agensi YM Ent. Satu diantaranya dalam kondisi tidak sadarkan diri, dan kini kasus tersebut masih ditangani oleh pihak kepolisian.
Sontak pemberitaan ini sukses menjadi perbincangan hangat netizen di Korea. Bahkan menjadi trending di beberapa situs mengingat agensi YM Ent. merupakan agensi terbesar dan memiliki reputasi tinggi di negeri itu.
...
Sehun berjalan gontai, pandangannya kosong karena ia begitu mencemaskan Luhan. Bagaimana keadaannya disana, dan apakah dia baik-baik saja? Semua itu mempengaruhi mood Sehun hari ini. Ia telah berulangkali mengembuskan napas, berharap dengan ini ia menjadi agak tenang. Tapi nihil, semakin lama ia semakin ingin menemui Luhan.
"Hey..hey! Lihat, ini jadi trending terpanas hari ini"
"Astaga aku tidak menyangka, dia nekat sekali"
"Kira-kira apa yang mereka lakukan disana? Tidakkah kau berpikir demikian?"
Disepanjang langkahnya, banyak orang yang sibuk memandangi ponselnya sambil berbisik-bisik. Entah gosip apalagi hari ini, namun kenapa mereka semua nampak begitu antusias bergunjing. Sehun memilih tidak ambil pusing, ia rencananya akan menuju wastafel untuk mencuci tangan sekaligus menjernihkan pikiran, tetapi teriakan lantang Chanyeol menghentikannya.
"Sehunna, cepat kemari!" Chanyeol memberikan isyarat untuk segera mendekat kesana
Sehun mengembuskan napas lagi, disamping Chanyeol terdapat Kai yang sama-sama menunjukkan raut tak biasanya. Bahkan mereka berdua memegang ponsel, apakah mereka hendak mengajaknya untuk ikut bergunjing pula?
"Kenapa kau lambat sekali, lihat ini! Luhan-Mu sudah dibawa ke rumah sakit" Kai yang geregetan segera menghampiri Sehun dan menodongkan layar ponselnya
"APA?!"
Secepat itu pula Sehun merebut ponsel Kai, dan membaca berita tersebut dengan teliti.
"Ya Tuhan, ini tidak mungkin! Luhan... dia, bagaimana dia sekarang?!"
Sehun sampai jatuh terduduk, ia tidak sadar jika bulir air matanya mulai turun perlahan. Ponsel Kai ia remas kuat, hatinya sakit mengetahui Luhan tidak baik-baik saja saat ini. Ia merasa bagai pecundang yang tak mampu menjaga kekasihnya sendiri. Bagaimana bisa ia sampai lalai melindungi Luhan dari ancaman Kris? Bukankah dirinya telah berjanji pada Luhan saat itu, dan Sehun merasa ini semua salahnya. Ia benar-benar menyesal sekarang.
"Sehun, tenanglah. Kami mengerti perasaanmu" Chanyeol memeluk Sehun yang diikuti oleh Kai, lelaki tinggi itu mengusap punggung sahabatnya agar sedikit tenang. Tapi isakan Sehun tidak dapat disembunyikannya. Baik Chanyeol maupun Kai sama-sama iba melihat kondisi Sehun demikian.
"Kai, Chanyeol... bantu aku, bagaimana caranya agar aku bisa kesana?! Tolong katakan padaku hkss..."
"Tidak! Aku yakin wartawan sekalipun tidak akan diijinkan kesana. Mungkin kamar inap Luhan sedang dijaga ketat" bisik Chanyeol
"Maafkan aku karena harus memberitahumu ini" sesal Kai, ia agaknya tak tega melihat Sehun bersedih seperti itu
"Saat ini tenanglah, aku yakin tidak lama lagi Presdir Kim akan membuat sebuah pernyataan" timpal Chanyeol
.
.
.
Brakk!
"Ya Tuhan... huhuhu... Anakku Luhan! Bagaimana bisa ini terjadi padamu nak? Huhu..."
Begitu mendengar kabar tak mengenakan dari agensi Luhan, kedua orangtuanya beserta Lao Gao langsung terbang ke Korea saat itu juga. Ibu Luhan-lah yang terlihat paling menyedihkan saat ini. Sepanjang perjalanan wanita itu menangis mengingat beberapa bulan yang lalu Luhan juga pernah sampai masuk rumah sakit. Dan kali ini bukan karena kesalahan anak itu lagi, melainkan Luhan-lah yang jadi korban.
Sesampainya dirumah sakit, Ibu Luhan bahkan berlari terbirit mencari kamar anaknya dirawat. Begitu melihat Luhan tengah terpejam, wanita itu bersyukur dan langsung memeluknya erat. Ibu Luhan menumpahkan isak tangisnya kencang, karena dari informasi yang beredar Luhan telah mengalami pelecehan oleh temannya.
"Siapa yang melakukan hal sekeji ini padamu nak? Huhuhu..." tangis Ibu Luhan melihat kondisi Luhan yang tengah terbaring
"Mama, tenanglah" Lao Gao mendekati Ibu Luhan, menjatuhkan telapak tangannya pada bahu wanita itu namun malah disentak setelahnya
"Bagaimana bisa aku tenang setelah melihat bekas-bekas ini?!" Ibu Luhan berteriak kesal, ingin rasanya ia menjambak laki-laki yang telah menodai putranya
"Sayang. Jika Luhan sudah diperbolehkan pulang, aku ingin membawa putraku ini kembali ke Beijing! Aku tidak akan pernah mengijinkannya kembali ke negera ini" Ujar Ibu Luhan pada suaminya, laki-laki berumur itu hanya menunduk, ia merasa marah bercampur kasihan.
"Aku bahkan telah menyewa pengacara. Tenanglah, istriku. Aku akan mengurus masalah dengan YM Ent. aku tahu agensi itu dipimpin oleh seorang yang licik. Dan kupastikan, Luhan akan aman dan bisa segera kita bawa pulang ke Beijing" Baba Luhan merangkul pundak istrinya, memberikan kata penenang.
Cklek
"Permisi, apa anda keluarganya? Aku ingin memberikan informasi bahwa pasien mungkin akan segera terbangun tidak lama lagi. Ia tidak sadar karena pengaruh anestesi yang berlebihan, untungnya kami masih bisa mengatasinya. Jangan khawatir, pasien baik-baik saja" ujar dokter muda itu
"Lalu bagaimana tentang bekas-bekas ditubuhnya? Apakah benar—" Ibu Luhan tidak sanggup melanjutkan ucapannya ketika dokter tersebut menganggukkan kepalanya
"Benar, terbukti dari lubang anusnya yang lecet hingga beberapa memar kecil ditubuhnya. Pelaku telah bertindak diluar batas terhadap pasien yang tidak sadarkan diri" tambah dokter tersebut
"Ohh... astaga..."
"Mama...!"
Lengkap sudah ketakutan Ibu Luhan saat ini. Kepalanya sudah berkunang-kunang ketika dokter tersebut menjelaskan semuanya, kemudian wanita itu tak sadarkan diri yang beruntungnya masih bisa ditangakap Lao gao disampingnya.
...
Sayup-sayup Luhan mendengar kebisingan kecil disekitarnya, Luhan mengambil napas kemudian mengembuskannya diikuti kedua matanya yang terbuka. Bola matanya bergerak mengamati setiap sudut ruangan yang ditempatinya, ia mencoba bangkit namun bagian tubuhnya ada yang terasa sakit. Luhan mengerang sebagai refleks dan hal itu membuat Ibunya terkejut
"Luhan?! Kau sudah sadar, nak?" pekik Ibunya bahagia, sontak wanita itu memeluk putranya erat
Luhan masih tidak merespon, dalam hati ia bertanya-tanya mengapa ia sampai bisa berada disini. Dan tunggu, bukankah semalam...
Saat itu bukankah aku sedang berjalan di lorong agensi dengan kondisi gelap, kemudian tangan seseorang mendekap tubuhku dari belakang.
Grep!
"Hmpph..." aku ingin berteriak tapi mulutku telah disumpal oleh tangan seseorang. Aku berusaha berontak namun saat itu pula aku merasakan jarum menusuk kulit lenganku sampai akhirnya aku tidak sadar.
Luhan lalu mengangkat pergelangan tangannya untuk memastikan, dan benar. Terdapat bekas jarum suntik disana. Kemudian ia kembali merenung, mengabaikan sang Ibu yang sedang menatapnya bingung karena sedari tadi Luhan hanya diam.
"Luhan, bagaimana keadaanmu?" Ibunya bertanya lagi, namun Luhan mengabaikannya
Sebelum aku benar-benar tidak sadar, telingaku masih mendengar sebuah bisikan lirih. Tawa kecil orang itu membuatku bergidik. Dan aku masih mengingatnya dengan sangat jelas.
"Oh tidak?! Apa yang terjadi kemarin!" Kontan Luhan memekik panik, ia melihat keaadaan sekelilingnya yang berdinding cat putih dengan aroma obat yang kuat. Lantas ia juga menyadari jika ia sedang dipakaian selang oksigen.
"Mama, kenapa aku disini? Dan—"
"Kumohon tenanglah Luhan, jangan mengingat-ingat tentang kemarin" Ibunya semakin mengeratkan pelukan pada putranya, ia terisak pelan. Dan Luhan yang mendengarnya merasa pilu.
Luhan merasakannya, bagian anusnya terasa sangat sakit bahkan hanya digunakan untuk duduk. Meskipun ia telah tertidur berjam-jam namun seluruh tubuhnya remuk redam. Penasaran, Luhan membuka paksa kemeja yang ia kenakan. Dan benar, terdapat banyak bekas kemerahan disana.
"ARGHHHH...!"
Luhan berteriak nyaring, hal yang ia takutkan akhirnya terjadi. Tubuhnya penuh noda saat ini, dan bodohnya ia tidak tahu apa yang ia lakukan semalam. Lalu siapa yang melakukan ini padanya? Dan bagaimana bisa ia berakhir dirumah sakit dengan bantuan selang oksigen ini.
"Mama... apa yang terjadi padaku hikss..."
Luhan gelisah, ia menangis meraung sebagai bentuk pelampiasan. Sungguh ia ingin lari dari kenyataan, ia masih belum bisa menerima apa yang terjadi padanya. Tubuhnya telah ternodai, bisa dipastikan seseorang telah bermain dengan tubuhnya semalam. Ia masih ingat jika siang harinya ia bercinta dengan Sehun, sedangkan malam harinya ia dijebak oleh seseorang sampai dirinya tidak sadar.
"Mama... Hikss.."
"Luhan, sayang. Jangan menangis... semuanya baik-baik saja"
Mama Luhan berkata demikian, namun ia sendiri tidak bisa membohongi keadaan. Dan pada akhirnya wanita itu ikut menangis karena keprihatinannya melihat putranya yang ia sayangi harus mengalami kejadian mengerikan seperti ini.
.
.
.
Suasana yang biasanya lenggang kini berubah menjadi riuh akibat desakan wartawan yang tengah mengerubungi gedung agensi YM Ent. mereka sibuk mengambil gambar dan berusaha mencari informasi lebih lanjut dari beberapa staff yang lewat. Jelas saja jajaran staff YM Ent. tidak berani memberikan penjelasan karena ini termasuk hal yang pribadi dan merupakan topik yang sensitif.
Ayah Luhan, Lao Gao beserta pengacara yang mereka sewa, sudah berada disana sebelum rombongan wartawan itu tiba. Secara khusus mereka diperkenankan berhadapan langsung dengan CEO YM Ent. Kim Youngmin. Laki-laki yang memiliki kuasa penuh atas agensinya itu terlihat santai meskipun dalam benaknya ia merasa was-was, karena bukan tidak mungkin orang didepannya ini akan menuntutnya di pengadilan nanti.
"Saya, Kim Youngmin. CEO dari agensi ini. Menyambut dengan hormat kedatangan anda sekalian kemari, silahkan dinikmati teh nya"
"Ya, terimakasih. Aku datang kemari bersama pengacaraku, silahkan jelaskan semuanya Tn. Hong" Ayah Luhan melirik seorang laki-laki disampingnya yang ia percaya sebagai pengacara, yang dipanggil Tn. Hong itu mengangguk kemudian berdehem sebentar sebelum melanjutkan
"Sebelumnya, saya Hong Jae Pyo. Akan menyampaikan apa yang diminta oleh klien saya, Tn. Xi."
"Ya, silahkan" ujar Youngmin mulai serius
"Lao Gao, bisakah kau menunggu diluar?" usir Ayah Luhan secara halus, Lao Gao mengangguk patuh
"Ya, Baba. Aku permisi"
Lao Gao beranjak berdiri kemudian membungkukan badan sebelum meninggalkan ruang ini. Ia menutup pintu mewah tersebut secara hati-hati sambil bernapas lega, sejenak ia menoleh kesana-kemari. Ayah Luhan dan pengacaranya sedang terlibat pembicaraan serius dan mungkin menghabiskan waktu yang lama. Akhirnya ia berjalan sesuai kata hatinya, semoga ia menemukan cafe dekat sini sambil menunggu mereka keluar.
"Lao Gao!"
Yang dipanggil akhirnya berhenti lalu menoleh, tak disangkanya ia bertemu Sehun disini. "Sehun, lama tidak bertemu"
Sehun dan Lao Gao saling berpelukan, kemudian Sehun berujar "Banyak yang ingin aku tanyakan padamu"
"Baiklah, kebetulan aku juga sedang menunggu" sahut Lao Gao, mereka berjalan menuju cafe terdekat
Satu cup coffee beserta green tea telah tersaji, baik Lao Gao maupun Sehun saling menikmati pesanan mereka sebelum memulai percakapan.
"Bagaimana keadaan Luhan?" Sehun memulai duluan
Lao gao nampak berpikir, ia melirik Sehun sekilas "Bisa kukatakan tidak baik-baik saja"
Sehun merengut, jelas ia sudah menduga bahwa Luhan sedang kacau saat ini. Kemudian ia bertanya lagi pada Lao Gao "Kau kesini pasti ada urusan tertentu tentang skandal Luhan, bolehkah aku mengetahuinya?"
Lao Gao mengangguk, ia berdehem sebentar dan melanjutkan "Dokter sudah memperbolehkan pulang, dan Mama memaksa Luhan kembali ke Beijing besok"
"Secepat itu?" Sehun menyahut tidak percaya
"Ya. Luhan sedikit terguncang pasca skandal itu, karena itulah Mama ingin merawat putranya sendiri, dan kami disini sedang bernegosiasi dengan Tn. Kim agar Luhan tidak terikat kontrak lagi dengan agensi ini"
Sehun terdiam, pikirannya berkecamuk. Tidak rela jika ia harus berpisah secepat ini dengan Luhan, apalagi ini salahnya. Bahkan ia tidak mampu untuk meminta maaf pada kekasihnya. Semuanya terjadi karena kelalaiannya.
"Maaf harus memberitahumu kabar yang tidak mengenakkan" Ujar Lao Gao kemudian
"Ya, sampaikan salamku padanya" timpal Sehun
.
.
.
Setelah Lao gao keluar, sang pengacara memulai pembicaraan "Kami datang kemari, bukan untuk menuntut agensi anda. Tapi kami menawarkan sebuah negosiasi"
Youngmin terlihat terkejut "Apa?! Negosiasi apa?"
"Anda adalah pemimpin, kami tahu anda dapat melakukan semuanya. Tapi jangan lupa, pamor anda juga tidak kalah dengan Tn. Xi. Beliau merupakan salah satu pengusaha sukses di Beijing dan memiliki reputasi tinggi. Kasus ini menyangkut anggota keluarganya, Xi Luhan. Dia anak semata wayang Tn. Xi"
Sejenak Youngmin meneguk ludah, sang pengacara melanjutkan kembali ucapannya.
"Karena itulah kami datang kemari untuk melakukan negosiasi dengan anda. Kami akan memberi cek tunai senilai 2 juta Won untuk perusahaan anda dengan syarat selama 1 bulan, kasus ini harus segera lenyap. Saya yakin dengan uang sebanyak ini anda mampu menutup mulut media, atau bahkan lebih. Dan juga, Xi Luhan harus kami bawa pulang ke Beijing. Itu artinya kami meminta anda untuk memutuskan kontrak trainee dengan Xi Luhan."
Youngmin menyerigai, ia lantas menyahut "Kenapa anda yakin saya dapat melakukannya?"
"Anda memanfaatkan artis anda sendiri untuk mencari sensasi demi menutupi skandal. Ini sudah sering kali terjadi, anda bisa menyewa Dispatch untuk drama kencan salah satu artis anda demi mengalihkan perhatian publik atas kasus Xi Luhan. Dan karena Tn. Xi adalah orang terpandang di Beijing, beliau berusaha keras untuk membersihkan nama anaknya dari kasus ini. Saya harap anda mengerti maksud saya, Tn. Kim"
Youngmin tertawa hambar, pada akhirnya dia mengangguk "Baiklah, saya menyanggupinya"
Baik Ayah Luhan maupun pengacaranya saling pandang, mereka berdua tersenyum puas karena bagaimanapun laki-laki dihadapannya ini akan melunak hanya dengan uang. Ayah Luhan pikir, tidak sulit membawa pulang Luhan asalkan ia mempunyai uang. Sang pengacara tersebut kemudian mengeluarkan cek tunai yang dimaksud beserta surat perjanjian yang telah ditempeli meterai.
Youngmin menarik napas, ia hampir menandatangani surat tersebut sebelum si pengacara menginterupsi "Kami memberi waktu anda selama 1 bulan, kasus ini harus segera lenyap dan nama Luhan bersih dari skandal. Jika tidak, kami akan menuntut perusahan anda"
Awalnya Youngmin menegang, namun ia tersenyum tipis kemudian "Jangan khawatir, Luhan akan kulepaskan" dilanjutkan dengan tangan lelaki itu yang membubuhkan tanda tangannya diatas kertas
"Terimakasih, kerjasamanya"
Tn. Hong beserta Ayah Luhan saling berjabat tangan dengan Youngmin. Mereka telah membuat kesepakatan yang dianggap menguntungkan kedua belah pihak.
...
Luhan menatap jendela, langit mulai menggelap seluruhnya. Orang-orang yang menjaganya pergi untuk mengurus skandal yang terjadi padanya. Luhan mengembuskan napas, Kris membuat semua orang jadi repot. Luhan bahkan tak enak hati mengetahui Ayahnya rela datang kemari demi dirinya. Ia tahu Ayahnya orang yang sibuk, dan juga ibunya. Luhan kasihan melihat wanita itu menangis menatapi keadaannya.
Kini ia hanya bisa terduduk diranjangnya, bayangan tentang Kris sedikit membuatnya trauma. Luhan telah diberitahu bahwa ia akan pulang ke Beijing besok, ia pasrah dan hanya mengangguk ketika Mama berkata demikian, namun terbesit dalam hati kecilnya bagaimana dengan Sehun? Ia ingin sekali menemuinya, tapi rasanya mustahil. Aturan agensi mengekang keduanya bertemu.
"Bagaimana kabarmu, Sehun?" monolognya
Luhan melirik ponselnya. Ia tahu Mamanya berusaha menyembunyikan benda itu darinya, sudah berapa hari ia tidak memegang benda tersebut Akhirnya ia nekat menghidupkan kembali ponselnya selagi orang-orang tidak ada.
Layar wallpaper menyala kembali, Luhan ingin sekali mengetahui tanggapan netizen tentang skandalnya. Luhan mengembuskan napas, ia mencoba memberanikan diri membaca beberapa komentar disana.
'Kudengar mereka merupakan kewarganegaraan China'
'Salah satunya merupakan anak orang kaya'
'Temanku bilang mereka pasangan homo'
'Benarkah? Ahh.. kenapa YM memilih trainee homo untuk di debutkan? Ckck'
Luhan mendecih, ia yakin orang yang memberikan komentar ini merupakan teman-teman sesama trainee nya. Bahkan semakin ia scroll kebawah semua aib-aibnya hampir diumbar ke permukaan, foto-foto predebutnya dengan Kris tersebar dengan begitu mudah walaupun terlihat sedikit buram. Sedikitnya ia bersyukur Sehun tidak terseret dalam kasus ini. Namun tetap saja, rasa malunya mendominasi. Mungkin pilihan Mama untuk membawanya pulang ke Baijing merupakan keputusan yang tepat.
CKLEK
Rupanya Mama sudah datang, buru-buru ia mematikan ponsel dan menyembunyikannya.
"Mama sudah mendapat tteokboki yang kau inginkan" Ibunya mengangkat kantung kresek berisi bungkusan tteokboki, Luhan tersenyum senang mendapatkan yang ia inginkan.
"Ahh... aku ingin segera menyantapnya" Luhan berseru semangat
"Nahh... ini, habiskan semuanya" ujar sang Mama
"Ayo makan dengan Mama!" rengeknya
"Tidak, bukankah kau yang menginginkan ini? Besok kau harus bersiap-siap, kita kembali ke rumah" Mama mengusap rambut Luhan dengan sayang lalu mengecupnya
"Ya, aku tahu" sahut Luhan, kemudian mulai menyantap tteokbokinya
.
.
.
Seluruh barang-barangnya sudah dikemasi, setidaknya ada 3 koper besar disana yang sebagian besar berisi milik Luhan. Kini kemeja rumah sakitnya sudah ia lepas, berganti dengan sweater rajut berwarna hijau tosca yang dipadankan dengan jeans putih. Luhan mengembuskan napas, sedikitnya ia berharap orang itu akan memberikan salam terakhir untuknya sebelum ia meninggalkan Korea.
"Mustahil. Apa yang aku harapkan darinya?" dengus Luhan
"Sayang, kau sudah siap? Ayo, kita harus segera berangkat!" Mama Luhan berseru
Luhan semakin cemberut, ia menimpali "Ma, bisakah kita menunggu sebentar lagi?"
Mamanya menggelengkan kepala, wanita itu mendekati putranya yang terduduk diranjang "Kurang sejam setengah dan kau masih ingin disini?"
Luhan mengembuskan napas kasar, ia menyahuti sang Mama "Baiklah, ayo berangkat"
Selama perjalanan menuju bandara ia hanya diam, ia memilih mengamati jalanan lewat kaca mobil daripada harus berbicara panjang lebar dengan keluarganya. Jika ditanya bagaimana perasaannya, ia akan mengatakan baik-baik saja. Namun jauh dilubuk hatinya yang terdalam, ia tidak ingin berpisah dengan Sehun. Kalaupun ia diharuskan pulang, sebentar saja ia ingin memeluk kekasihnya itu sambil mengucapkan salam perpisahan.
Bahkan ketika di bandara, ia seringkali melirik jam yang melingkar dipergelangannya. Sudah banyak sekali napas yang ia hirup dan buang. Ia menatap sekeliling bandara, siluet berpostur dada bidang itupun tidak kunjung nampak. Luhan semakin gelisah ketika waktu menunjukkan kurang 5 menit lagi menjelang keberangkatannya.
"Apakah kau melupakanku, sehunna?" gumamnya dengan lirih, setitik air mata jatuh dipipinya.
"Luhan, kau melamun? Ayo, pesawatnya sudah tiba"
Lagi-lagi seruan Mamanya membuat ia tersadar, Luhan kemudian bangkit lalu mengusap kasar pipinya yang dialiri air mata. Ia mengekori langkah Mama dan Babanya dibelakang sambil memegangi erat passportnya. Lao Gao memilih mengikuti Luhan dari belakang.
.
.
.
Kalaupun Luhan lebih teliti lagi, sebenarnya Sehun berdiri tidak jauh darinya. Hanya saja ketika Luhan berusaha mencari seseorang, ia selalu bersembunyi tepatnya menjaga jarak sejauh mungkin agar Luhan tidak melihatnya. Sehun rasanya juga sama sakitnya dengan Luhan, buket bunga yang ia pegang berulangkali ia remat kuat.
Entah kekuatan darimana, ia tahan berdiri selama itu ditempat yang sama selama 2 jam lebih. Menunggu kedatangan Luhan di bandara sampai ia melihat Luhan beserta keluarganya mulai berdiri untuk segera terbang ke Beijing. Sehun rasanya semakin berdebar. ia akui ia pengecut tidak berani menemui Luhan, tapi ia memberanikan diri mengirim bunga ini melalui Lao Gao. Ia berlari cepat demi mengejar Lao Gao hingga berhasil menepuk pundaknya.
"Lao Gao! Hosh.. hoshh.."
"Astaga Sehun?!" Lao Gao memekik, namun secepat itu tubuhnya terasa dibalikkan. Posisinya menghadap Sehun saat ini
"Jangan menoleh kebelakang, biarkan tubuh lebarmu ini menghalangi pandangan Luhan dariku" ujar Sehun masih mengatur napas
Lao Gao kesal, apa-apaan itu dengan menyebut badan lebarnya. Namun akhirnya Lao Gao yang mengerti hanya mengiyakan dan bertanya "Apa itu untuk Luhan?"
"Ya, beri—"
"Sudah kuduga, baiklah. Aku harus segera pergi. Sampai jumpa lagi, Sehun" Lao Gao memotong ucapan Sehun sambil menyambar sebuket bunga ditangannya. Ia segera berlari mengejar Luhan sekeluarga yang sudah jauh darinya.
...
"Lao Gao! Kau kemana saja?" Luhan berujar panik karena saat ia berbalik kebelakang, Lao Gao tiba-tiba menghilang saja.
"Maaf hehe... ini untukmu" Lao Gao menyerahkan buket bunga tersebut pada Luhan
"Dari siapa?" sahut Luhan
"Buka saja, kau akan tahu" timpal Lao Gao
Luhan mendengus, ia mengambil surat yang terselip disana secara terburu dan membacanya.
Triingg...
"Apakah itu?"
Luhan berjongkok demi melihat benda yang jatuh setelah ia membuka suratnya. Bentuknya lingkaran dengan warna silver yang elegan. Nampaknya benda tersebut adalah sebuah gelang. Semakin penasaran, Luhan membaca cepat surat tersebut.
Untuk Rusa Manly-ku tercinta.
Maafkan kekasihmu –ooh, apa aku masih pantas disebut kekasih setelah tidak menemuimu pasca kejadian itu. Jujur saja aku merasa malu karena tidak dapat memenuhi janjiku untuk melindungimu. Aku tahu hari ini kita akan terpisah jarak dan waktu, karena yang pertama kali bersikeras untuk mencoba membalas cintaku adalah dirimu, rasanya tidak pantas jika aku yang mengakhiri hubungan kita. Karena itulah aku memberikan gelang pasangan ini untukmu –ahh.. omong-omong aku juga memakainya. Ini sebagai tanda bahwa kita masih saling terikat. Jadi kalau kau ingin hubungan kita berakhir, hanya kau yang dapat mengakhirinya.
Aku masih mencintaimu, Oh Sehun.
Selesai membaca, Luhan lekas memakai gelang tersebut. ia terisak, ada perasaan senang bercampur sedih dalam benaknya. Dengan lantang ia bergumam untuk membalas surat tersebut "Apa yang kau tulis, bodoh! Jelas saja aku masih mencintaimu. Dan hubungan ini tidak akan pernah berakhir, awas saja kalau kau yang tidak setia, cihh..."
.
.
.
O0O0O0O0O0O0O
END
O0O0O0O0O0O0O
.
.
.
EPILOG
.
.
Beberapa bulan kemudian...
Luhan mengerjab, ia merasakan sinar-sinar mentari berusaha membangunkannya. Luhan meringkuk sekali lagi, sampai akhirnya ia menyerah. Ia buka kedua matanya perlahan sambil menguap lebar.
"Jam berapa ini?"
Jika sudah seterang ini bisa dipastikan hampir menuju siang, Luhan berguling kearah nakas dan melihat waktu yang terpampang disana. "Ahh... pantas saja, sudah jam 9 pagi. Dan tidak ada yang membangunkanku"
CKLEK
"Selamat pagi... bagaimana kabarmu?" ujar seorang wanita muda begitu masuk ke kamar Luhan
"Lin Xiaojie, kenapa tiba-tiba datang kemari?" sahut Luhan sedikit terkejut, bagaimanapun juga ia barusan bangun tidur
"Tidak boleh ya? Padahal aku ingin memberimu kejutan" wanita itu mengerucutkan bibir, ia mengambil duduk dihadapan Luhan
"Bukan begitu, hanya saja bukankah terapiku sudah selesai?" sahut Luhan lagi, tidak ingin membuat wanita itu tersinggung
"Ya, bahkan kau sudah lebih baik" senyum wanita itu mengembang "Ahh... sekarang aku ingin menutup matamu"
Wanita yang dipanggil Lin Xiaojie oleh Luhan adalah psikiaternya. Orangtua Luhan sengaja memanggil psikiater untuk meredamkan trauma yang Luhan alami, dan semakin berjalannya waktu kondisi psikis Luhan mulai menunjukkan kemajuan. Orang-orang disekitarnya bahagia mengetahui hal ini, dan mereka berniat membuat kejutan untuk putra tercintanya.
"XiaoJie, apakah sudah? Pasti mataku akan memburam setelah ini" rengek Luhan, sekaligus penasaran
CKLEK
"Jangan terkejut... 1 2 3" Lin menghitung sampai dengan tiga kemudian melepaskan kedua tangannya dari mata Luhan
"Akhirnya kita berjumpa lagi" seorang laki-laki hadir dihadapannya, Luhan tidak begitu mengenali orang tersebut
Sejenak mata Luhan memburam parah akibat tangan Lin yang menutupi kedua matanya kuat. Ia agaknya kenal dengan suara itu, akhirnya ia mengucek kedua matanya dan hal tersebut dicegah oleh Lin "Jangan dikucek Luhan, tidak baik bagi matamu"
Laki-laki itu semakin mendekat. Dia mengambil posisi tepat didepannya, semakin lama dia semakin memajukan wajahnya hingga jarak mereka tersisa beberapa senti lagi. Luhan mengerjabkan matanya berulangkali, berharap pengelihatannya kembali membaik.
"Hey... aku kekasihmu, Oh Sehun" bisik orang itu ditelinganya
"APA?!"
Refleks Luhan memaksa matanya untuk melihat lebih jelas, ia bahkan sampai melotot lebar hanya untuk memastikan apakah dia benar-benar Oh Sehun kekasihnya. Dan setelah pengelihatannya agak membaik, ternyata benar. Orang didepannya ini adalah Oh Sehun kekasihnya.
"Sehunna... hikss..."
GREP
Mereka berpelukan cukup lama bahkan sangat erat sekali. Luhan benar-benar tidak ingin melepaskan pelukannya, ia takut ini hanya mimpi. Sampai-sampai ia terisak parah dibahu Sehun "Aku merindukanmu, brengsek"
"Ya. Mengumpatlah sepuasmu, aku lebih merindukanmu sampai rasanya ingin teleportasi kemari" balas Sehun sambil terus mengusap punggung sempit Luhan
"Ck, apa yang kau bicarakan hkkss.."
Bosan, Luhan melepaskan pelukannya. Ia melirik tepat pada pergelangan Sehun dan menemukan benda itu melingkar disana. "Kau masih mengenakannya?" gumam Luhan
"Tentu saja" Sehun menyahut, dan ia juga melihat gelang yang sama melingkari pergelangan Luhan
"Tapi bagaima bisa kau kemari? Bukankah—"
"Ssstt... kau ingin dengar ceritaku, Lu?" potong Sehun dan Luhan mengangguk
Setelah mendengar kabar dari Lao Gao bahwa Luhan akan pulang ke Beijing, Sehun jadi gelisah sendiri. Ia sering bolos latihan dan kabur ke atap gedung demi memikirkan kembali keputusannya menjadi trainee di agensi ini. Bukannya prihatin atas kejadian tersebut, malah mereka semua sibuk memperbaiki reputasi agensi. Artis senior yang sedang naik down dipaksa berkencan demi mengalihkan isu.
'Bahkan Tn. Kim tidak meminta maaf kepada kami ataupun Luhan secara pribadi, dia benar-benar mendewakan uang. Ia begitu egois dan hanya sibuk dengan perusahaannya sendiri, kami tidak pernah mendapati Tn. Kim sekedar datang menjenguk sekalipun'
Sepenggal ucapan Lao Gao terus terngiang, sebegitu tidak pedulinya-kah agensi terhadap seorang trainee? Ya, memang mereka seorang trainee. Kalaupun cedera cukup dibawa ke ruang kesehatan saja. Berbeda dengan artis senior yang demi mendapat simpati fans langsung dibawa ke rumah sakit. Sekarang Sehun mengerti, keputusannya untuk mundur menjadi trainee sudah bulat. Biar Yewon sampai marah-marah ia tidak peduli. Hidupnya hanya boleh ditentukan dirinya sendiri.
Dengan langkah mantap, ia telah menggenggam sebuah surat pengunduran dirinya. Secara sopan ia mengetuk pelan pintu Tn. Kim Youngmin, dan ia dipersilahkan masuk. Kebetulan Yewon sedang berada disana, sempat Yewon menyela terkejut pada Sehun.
"Apa yang kau lakukan disini?" Yewon bertanya dengan nada tinggi
Sehun tidak menggubris pertanyaan Yewon, ia membungkuk hormat pada Youngmin kemudian menyerahkan surat pengunduran dirinya itu dimeja "Saya Oh Sehun, trainee yang dipilih Manajer Yewon langsung. Ingin mengundurkan diri sebagai trainee dari agensi ini. Mohon maafkan saya"
"APA MAKSUDMU, SEHUN!" Yewon menjerit marah, lekas ia hampiri laki-laki itu sambil menarik tangannya
"Maafkan aku Manager Yewon-sshi, tapi ini sudah keputusanku" ujar Sehun dengan santai, perlahan ia lepaskan cengkraman tangan Yewon
"APA KAU GILA?! BAHKAN PELUANGMU UNTUK DEBUT SANGAT BESAR. DAN KAU INGIN MENYIA-NYIAKAN KESEMPATAN INI?!"
"Aku menerima pengunduran dirimu" Youngmin menyela, sontak Yewon menoleh terkejut pada sang atasan
"Presdir, dia sangat—"
"Aku mengeluarkannya. Sebelumnya dia pernah terlibat perkelahian dengan sesama trainee, bahkan sepertinya kau homo kan? Youngmin melirik Sehun sambil menyerigai "Tidak ada yang kuharapkan darinya, pergilah!"
"Aku permisi" Sehun membungkukkan badan dan keluar dari ruang itu dengan perasaan lega.
Dan kini Luhan-lah yang membisu, ia tidak percaya Sehun melakukan itu karena dirinya.
"Bukankah debut adalah impianmu? Lalu bagaimana dengan Bibi Sooyoung dan teman-teman kita?" Luhan berujar lirih
"Mereka mendukung keputusanku, jangan khawatir. Aku masih bisa ikut sebagai anggota tim teater musikal dan sebagainya, peluangku masih banyak" tangan Sehun terangkat untuk mengusap pucuk kepala Luhan
"Kau pasti memilih mundur karena aku hikss... maafkan aku Sehun, aku selalu merepotkanmu dalam segala hal" Luhan memeluk Sehun dan menangis disana
"Aku bahkan tidak merasa begitu. Ini memang pilihanku, sama sekali tidak ada hubungannya denganmu" Sehun menimpali
"Kau bohong hikss..." Luhan sampai memukuli dada Sehun dengan kepalan tangannya
CKLEK
"Manisnya anak Mama..." itu seruan Mamanya, Luhan jadi salah tingkah sampai menyembunyikan wajahnya dibahu Sehun
"Sudah cukup bermesraannya?" Lao Gao menyahut ditengah-tengah mereka
Luhan lantas menarik wajahnya, sambil cemberut ia protes pada semua orang "Kenapa kalian memberikan kejutan disaat aku baru bangun tidur begini? Ini tidak lucu, aku terlihat jelek"
"Tidak, kau masih cantik" Sehun menyahut dan mendapat delikan tajam Luhan
"Dengar Oh Sehun! Aku tak peduli seberapa banyak kau mengataiku cantik, salau seribu kalipun aku benar-benar tak peduli! Karena Xi Luhan selamanya Manly!"
"Baiklah, kau tetap manly" Sehun menimpali, Lao Gao yang ada disana tiba-tiba terkekeh
"Luhan, kami semua senang melihat senyum ceriamu kembali lagi. Baba sangat merindukan tawa manismu seperti ini, karenanya Baba meminta Sehun datang kemari. Berterimakasihlah pada Lao Gao yang telah mengatur semuanya, dan juga ada hal yang ingin aku sampaikan..."
"Apa itu, Baba?" Luhan menyahut semangat
"Baba bertemu seorang producer rekaman, baba ingin cita-citamu sebagai seorang penyanyi terwujud. Biar Baba mengeluarkan uang banyak untuk satu single debutmu, yang penting Baba bisa melihatmu tersenyum lagi cukup membuatku senang"
Luhan tidak bisa berkata-kata, ia memeluk Babanya dengan sangat erat sambil terus menggumam "Terimakasih banyak Baba, aku menyayangimu"
"Jangan bersedih lagi. Aku tidak ingin kau kecewa karena gagal debut. Lagipula kau sudah banyak berlatih, aku rasa ini saat yang tepat untuk mewujudkan mimpimu" ujar sang Baba sambil terus mengusapi pucuk kepala Luhan
"Tidak! aku tidak ingin debut jika tidak bersama Sehun!" pekik Luhan yang sontak membuat orang-orang disana terkejut
"Apa yang kau katakan?" Sehun menyahut
"Baba, bolehkah aku debut bersama Sehun? Kupikir jadi Duo tidak buruk juga, lagipula kami sama-sama tampan kan?" Luhan menggamit paksa lengan Sehun dan mengeluarkan jurus aegyo nya pada sang Baba
Sehun disampingnya tercengang bukan main, ia melirik Luhan tajam dan hanya ditanggapi kekehan kecil miliknya.
"Baiklah, Baba akan mengurusnya" Babanya angkat tangan, menyerah dengan segala keimutan dan permintaan macam-macam Luhan
"Yeayyy! Kita akan jadi Duo dipanggung nanti" pekik Luhan bahagia, saking bahagianya kembali ia peluk Sehun dengan erat
"Lu, aku tidak bisa bernapas"
"Ohh maaf, pokoknya kau harus jadi partnerku" kekang Luhan
"Terserahmu saja, haahh..." Sehun akhirnya bernapas lega sehabis pelukan Luhan terlepas
.
.
.
Kalian masih penasaran dengan kelanjutannya? Review tembus 700+ bakal ada sequel...
Kesan pesan penulis: Terimakasih banyak kepada para pembaca yang sudah mengikuti fanfic ini dari awal sampai akhir, yang sudah meluangkan waktu demi membaca ff percobaan(?) ini, yang sudah review favorite dan follow terimakasih banyak. Kalau kalian peka, mungkin kalian akan merasa ff ini dari chapter awal sampai akhir memiliki gaya penulisan yang berbeda. Nah, sebenarnya ff ini memang saya jadikan wadah untuk mengasah kemampuan menulis saya. Jadi kalau terasa berbeda mohon dimaklumi.
Khusus untuk para sesepuh gw dalam dunia perhentaian HunHan :'v makasih udah meracuniku dengan hal-hal berbau ghei di bbm :3. Buat Suster Vaer –ekhem, makasih infonya soal anestesi. Ohh ya, sempet ada yang nanya 'kok gak dilanjutin sampe HunHan beranak pinak?' :3 ya gimana ya? Dari awal aku emang gak menyertakan unsur M-preg disini, jadi kalau mau baca ff HunHan family mesum aku udah ada Naughty Daughter. Dibaca aja walau discontinue :''D seru kok, serius gw :v *promosi
Masih suasana lebaran ya, penulis mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf apabila selama ini aku ada salah sama kalian :D sebagai penulis abal-abal aku juga berusaha yang terbaik demi menghibur kalian semua. Sampai ketemu di sequel ya ^^ Insyaallah sih, wkwk do'akan saja. Bye Bye... :*
.
.
.
O0O0O0O0O0O0O
COMING SOON
O0O0O0O0O0O0O
.
.
Let You Go And Try To Love Him
Hal tersulit dalam hidupku adalah merelakanmu pergi, aku bahkan masih mencintaimu sampai saat ini. Ketika kita dipertemukan kembali, bodohnya aku malah jatuh cinta pada perusak hidupku sendiri.
HunHan is always
