Ini pairing nya CHANBAEK dan ini bukan plagiat soalnya aku udah minta izin sama Author aslinya, untung nya diizinin

Kalau mau baca story aslinya ini link nya :

story/65361258-chanbaek-paris-the-rise-of-the-demon?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C6544818218Selamat membaca dan semoga suka ya~

"PARIS : Rise of The demon"

Chapter 2 :

Kehidupan yang baru

Tapi Bukan yang pertama

.

.

.

Pairing :

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

.

.

.

Enjoy

.

.

.

Pria itu meregangkan seluruh ototnya, tidak disangka bermain dengan seorang wanita di ranjang tadi malam dapat membuat demon seperti dirinya lelah juga. Karna faktor kelelahanyg ia alami saat bekerja membuatnya harus merasakan pegal di leher dan pundaknya. Jadi manusia itu ternyata tidak sepenuhnya menyenangkan. Manusia punya rasa lelah yg harus di pikul atas tubuhnya. Tapi seorang demon dapat memulihkan diri dengan cepat bagaimanapun juga

Chanyeol bergerak mendekati nakas di samping ranjangnya, sebuah kertas kecil bertuliskan pesan nakal berhasil membuatnya tersenyum.

"Telefon aku jika kau ingin bercinta lagi sayang, atau kau bisa datangi aku. Kau tahu dimana harus mencariku."

Wanita jalang yg kemarin lumayan juga, Chanyeol bermain beberapa ronde sampai rasanya ia sudah dapat pulih kembali. Ia harus bergegas mandi untuk pergi ke kantor. Baginya membayar wanita-wanita itu bukanlah hal yg sulit. Ia bisa lakukan apapun yg ia inginkan. Sebenarnya tidak perlu bekerja keras untuk menghasilkan banyak uang. Hanya dengan menjentikkan jarinya di udara maka setumpuk kertas tak berharga itu bisa datang entah dari mana. Namun untuk menutupi kedok, Chanyeol harus melakukan aktivitas layaknya yg biasa manusia lain lakukan. Dan manusia pada umumnya bekerja keras untuk mendapatkan uang. Bukan dengan cara ajaib dan tidak masuk akal.

Setelan jas dan kemeja putih menjadi sempurnasaat telah melekat di tubuh seorang Park Chanyeol. Ia mematut diri di hadapan cermin, memasang senyum yg biasa ia berikan untuk menggoda para wanita di klub. Aku tampan, pikirnya. Sempurna. Sudah pasti. Namun sesuatu mengganggunya. Entah itu apa namun ada bagian yg kosong dalam dirinya. Apa yang kurang? Apa yg harus ia miliki? Ia sudah punya segalanya. Kekayaan, jabatan, wajah rupawan, wanita-wanita penghibur, lalu apa? Apa yg harusChanyeol lakukan agar setiap kali ia bercinta dengan wanitanya ia merasa lengkap? Apa yang kurang?

Masih memikirkan semua itu namun Chanyeol memilih melakukannya sambil masuk kedalam mobil sportnya dan melaju membelah jalanan kota Seoul. Di dalam mobil ia mendengarkan musik yg ia setel dengan volume keras sampai ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Menikmati ambrosia paginya dengan pikiran melayang ke film porno setelah itu ia pun teler. Tidak ada yg lebih nikmat dari candu ambrosia. Ambrosia adalah sejenis minuman/makanan para penguasa dan dewa yg hanya ada di kerajaan langit. Bentuknya bisa menyerupai apasaja jika kalian sulit membayangkannya namun rasanya manis seperti madu, memabukkan seperti wine, dan membuat candu seperti saja semua hal paling nikmat yg bisa kau dapatkan di muka bumi, itu adalah ambrosia.

Chanyeol mendapat pasokan ambrosia yg bisa tahan seumur hidupnya dari pengiriman terlarang yg dilakukan oleh iblis- yang memang teman akrab para penguasa kegelapan- dengan mudah. Minggu lalu ia dikirimi banyak ambrosia lagi dari iblis bertanduk dan bertaring yg tidak jauh beda bentuknya dengan Chanyeol jika ia adalah demon.

Mendekat ke arah kawasan kantor mata Chanyeol yg jeli melihat ke arah sepasang bokong wanita yg membuat libidonya naik. Sial kenapa harus ada wanita seperti itu pagi ini. Kalau malam hari Chanyeol bisa langsung menyeretnya ke apartement. Tapi di tengah keramaian ini Chanyeol harus rela menutup resleting celananya kembali mendapati wanita itu telah menghilang dari pandangannya.

"Selamat pagi, Park Sajangnim." Seorang karyawan menyapanya.

"Selamat pagi." Seperti biasa, dingin.

Memasuki ruang kerjanya, ia mendapati seluruh tempat menjadi sangat kotor dan berantahkan mengundang amarah pria itu. Ia tidak suka tempatnya berantahkan dan kotor. Walau di tanahnya dulu tidaklah lebih baik dari pada kandang sapi namun sekian lama menjadi seorang manusia menjadikan Chanyeol seorangyg rapi dan teliti.

"Bersihkan tempatku atau aku balikkan isi kantorini." ujar Chanyeol di ikuti anggukan cepat dari para karyawannya. Ia bisa saja melakukan itu kan? Dengan telapak tangannya maka gedung kantor ini akan terbalik dan hancur.

"Dimana sekretarisku? Kalian semua benar-benar mau mati ya?!"

Maju selangkah, karyawan wanita yg selalunya berani menjawab pertanyaan Chanyeol datang dengan kepala tertunduk.

"Dia sudah datang dan siap di wawancarai sajangnim." suaranya bergetar, Chanyeol tahu dia takut. Itu bagus.

"Aku akan mewawancarainya setelah tempatku bersih. Sebelum hal itu terjadi jangan ada yg berani meletakkan bokong kalian di kursi dengan nyaman. Mengerti?!"

"Iya, sajangnim." para karyawan menjawab serentak. Sungguh bekerja di perusahaan ini bagai berada di camp militer.

Seorang wanita muda berparas cantik masuk kedalam ruangan Chanyeol setelah pria itu dapat duduk di kursinya yg sudah di vacum tiga kali atas permintaannya. Chanyeol mengeritkan alisnya, apa ini?

"Siapa kau?"

Mendapat pertanyaan seperti itu, sang wanita menjawab dengan santai

."Saya calon sekretaris anda, sajangnim. Saya telah mendaftar beberapa hari yg lalu."

"Apa?!"

Suara Chanyeol kembali menggema di seluruh kantor, para karyawan ketakutan. Setelahnya ia memanggil karyawan yg tadi ia perintahkan untuk memanggil calon sekretarisnya.

"Ya, sajangnim. Dia adalah calon sekretaris yg ku ceritakan kemarin. Dia yg terakhir."

Chanyeol memijat pilipisnya,

"Aku tidak perduli apakah dia yg terakhir dari rasnya atau dia yg terakhir yg bisa mengetik surat di negri ini. Aku bilang aku mau sekretaris ku adalah seorang pria. Kau tahu aku tidak pernah menerima surat lamaran bagi mereka para perempuan."

"Ta-tapi sajangnim kita tidak punya pilihan lain.."

"Kau tidak mengerti apa yg ku katakan?"

"Memangnya ada apa dengan sekretaris wanita,Park sajangnim? Aku juga bisa menyamai kinerja seorang laki-laki, aku juga tidak suka mengeluh"

Wanita yg sedari tadi terdiam itu akhirnya buka suara. Chanyeol beralih menatapnya tajam karna dengan lancangnya wanita itu memotong pembicaraan. Namun tatapan Chanyeol tiba-tiba melunak dan berganti menjadi tatapan aneh dengan senyum mesum. Membuat wanita yg ditatapnya merasa aneh dan gugup.

"Apa kau mau tahu kenapa aku tidak ingin mempekerjakan wanita seperti mu, Nona?" tanya Chanyeol melangkah mendekat dengan senyuman yg tak luntur dari bibirnya.

Semakin mendekat, Chanyeol berdiri di hadapanwanita itu. Kepalanya maju mendekat, berhenti di telinga wanita itu. Ia berucap,

"Karna aku bisa saja memperkosamu di tempat ini." Terkejut bukan main, wanita itu menganga tidak percaya atas jawaban yg baru saja ia dengar. Ia mundur beberapa langkah sampai Chanyeol berada jauh darinya. Seperti biasa, reaksi sama yg Chanyeol sukai dari manusia saat mendengarancaman Chanyeol. Ketakutan.

"Bawa dia pergi dari tempatku. Carikan aku sekretaris pria secepat mungkin hari ini juga."

"T-tapi.. Sajangnim.."

"KELUAR!"

BLAM!

Pintu ruangan Chanyeol tertutup dengan sangat keras. Di balik pintu itu wanita yg Chanyeol bisikkan di telinganya tadi hanya mampu menangis tersedu-sedu. Kantor macam apa ini? Pemimpin macam apa itu? Pertanyaan yg pasti akan muncul dalam kepala para pelamar kerja yg bernasib sama seperti sang wanita karyawan wanita di sebelahnya hanya mampu berdiri sambil berusaha menenangkannya. Ia juga memijat kepalanya dan mengacak rambutnya frustasi, bosnya yg satu itu mungkin memang sudah gila.

"Yatuhan aku harus apa.." ucapnya bergumam pada diri sendiri. Masih berdiri di depan pintu ruangan bosnya, ia tidak tahu harus berbuat apa. Mencari seorang calon sekretaris dengan waktu cepat? Bahkan kini perusahaan yg mencari-cari karyawan bukan orang-orang yg berusaha berebut untuk melamar pekerjaan. Namun sungguh tidak ada pelamar yg berani menyerahkan surat lamarannya ke perusahaan ini lagi.

Di dalam ruangannya Chanyeol mengepalkan tangannya berusaha menahan emosi yg menggebu-gebu sampai ke ubun-ubunnya. Tak lama dari luar ruangan ia mendengar kegaduhan. Hampir saja ia melempar meja kerjanya ke arah pintu itu kalau saja ia tidak mendengar percakapan antara pria dan wanita itu.

"Ma-maaf, aku terlambat."

"K..kau? Ku pikir kau.."

"Maaf, aku berubah pikiran. Apa aku sudah terlambat?"

"Tidak! Kau datang di saat yg tepat. Ayo masuk."

Chanyeol melonggarkan ikatan dasinya, ia punya firasat baik untuk yg satu ini. Tak lama terdengar suara ketukan pintu.

"Masuk." perintahnya datar.

Karyawan wanitanya masuk ke dalam ruangan di ikuti seorang pria mungil bermata sipit di belakangnya. Mata Chanyeol tidak bisa berhenti mengikuti gerak-gerik namja itu sampai ia berdiri di hadapan Chanyeol. Tertunduk

."Sajangnim, ini calon sekretarismu yg baru. Beberapa hari yg lalu dia mengirimkan surat lamarannya namun ia mencabutnya. Tapi sekarang dia berubah pikiran.."

"Aku tidak perduli." Chanyeol menatap namja itu intens.

"Kau keluarlah. Tinggalkan kami berdua."

"iya, sajangnim. Saya permisi, kalau anda butuh sesuatu atau.."

"Cepat keluar"

"I-iya." Kedua pria itu tinggal berdua di ruangan kerja Chanyeol.

Entah mengapa si lelaki mungil tiba-tiba merasa tidak enak dan merasa penurunan suhu di ruangan ini. Hawanya menjadi sangat tidak enak.

"Angkat kepalamu."

lelaki kecil itu merasa manusia dingin dihadapannya tengah berbicara padanya.

"Y-ya?"

"Angkat kepalamu dan perkenalkan dirimu."

"Ah, iya. Selamat siang perkenalkan nama saya Byun Baekhyun" Chanyeol mengangguk sembari menggaruk dagunya pelan. Ia berdiri mendekati laki-laki bernama Baekhyun itu. Menepuk bahunya sesaat. Tersenyum.

"Nah, Byun Baekhyun-ssi. Kau tahu pekerjaan seorang sekretaris kan?"

"Ya, sajangnim."

"Bagus, bekerjalah dengan baik. Jangan sampai aku memecatmu dan melemparmu keluar."

Baekhyun menelan salivanya kasar, kenapa suasana tiba-tiba menjadi horor begini.

"Apa? Jadi aku di terima sebagai sekretarismu? Tidak perlu di wawancarai?"

"Tidak, Baekhyun-ssi. Kau sekarang jadi sekretarisku. Bekerjalah dengan baik." Chanyeol kembali ke kursinya, melempar pandangan ke arah tumpukan berkas di atas meja. Baekhyun mengerti itu adalah tugasnya.

"baik, sajangnim."

.

.

.

.

.

Mendengus di trotoar jalan, namja itu mendongakkan kepalanya sembari memijit lehernya yang terasa amat pegal. Matanya terbukaperlahan setelah terpejam beberapa saat, masihmenatap langit gelap yg terbentang tanpa pernah memperhatikan jalan. Seorang pria paruh baya mengucap sumpah serapah saat tubuhnya di tabrak oleh namja berpakaian kantoran itu, namja itu hanya mampu membungkuk dalam-dalam sembari minta maaf.

"Aku lelah sekali..." ia bergumam.

Beruntungnya hari ini ia hanya merasa pegal. Padahal menurut penuturan rekan kerjanya di perusahaan yg baru itu bosnya bisa saja membuat badannya remuk sebentar lagi. memelankan langkahnya setelah dirasanya sesuatu seperti bergetar di dalam saku jasnya. Ada telefon dari seseorang. Siapa?

"Hallo."

"Iya ini aku, Baekhyun. Kau jangan heran, aku seperti mau mati sekarang."

"Sedang dalam perjalanan pulang. Kau sendiri?"

"Sedang di belakangmu. Berbaliklah."

Baekhyun berbalik dan menemukan seorang laki-laki berdiri tak jauh dari trotoar tempatnya berdiri. Ia tersenyum saat namja itu melambai padanya. Telefon mereka masih terhubung.

"Ya, aku melihatmu." ujar Baekhyun hendak mematikan sambungan dan menghampiri laki-laki itu.

"Tidak hyung, aku yg kesana. Kau tetap diam disana."

"Ah, iya."

Perlahan tapi pasti, laki-laki itu melangkah mendekati Baekhyun. Entah mengapa setiap langkah yg namja itu habiskan untuk menepis jarak diantara mereka membuat jantung Baekhyun berdegup kencang. Ia tidak suka hal itu. Merasa trotoar ini milik mereka berdua, laki-laki yang bergerak mendekat itu bisa saja langsung memeluk Baekhyun. Namun ia mengurungkan niatnya.

"Kau seperti gelandangan kalau mukamu kau tekuk seperti itu."

Namja itu tersenyum, mengacak rambut Baekhyun agar tampak lebih berantahkan.

"Singkirkan tanganmu dari rambutku, Sehun. Tidak sopan."

Sehun tersenyum, berjalan beriringan menyusuri trotoar yg syukurnya masih panjang membentang di depan. Jadi mereka punya waktu untuk bercengkrama menikmati kebersamaan mereka. Baekhyun menceritakan keluh kesahnya pasal bos barunya yg gila kerja dan punya emosi yg tidak stabil. Baru saja masuk kerja Baekhyun sudah diberi segudang pekerjaan yg tidak sanggup ia pikul sendiri. Belum lagi wajah sang bos yg selalu datar dan masam, jarang sekali ia lihat pria bernama Park Chanyeol itu tersenyum tulus padanya maupun karyawan lain. Lalu Sehun bertanya apa yg Baekhyun lakukan malam-malam begini, berjalan kaki sedangkan tubuhnya merasa tidak naik taksi saja.

"Aku tidak punya uang untuk itu." Sehun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

"Kenapa tidak telefon aku saja. Aku bisa mengantarmu pulang."

"Kau pikir aku mau merepotkanmu begitu? Tidak."

"Eyy, kau ini. Aku tidak pernah merasa direpotkan."

"Tapi aku merasa tidak enak. Kau sudah banyak membantuku. Terimakasih Sehun. Tapi mulai sekarang aku akan bekerja keras dan menghasilkan banyak uang sehingga hidupku akan senang. Aku ingin merasakan uang hasil keringatku sendiri."

Sehun lagi-lagi mengangguk. Dia mengacak rambut Baekhyun kembali lalu tersenyum

"Nah, hyung. Karna kau sudah punya niat untuk bekerja keras, bagaimana kalau aku traktir kau makan?"

"Hmm.. baiklah. Kau tahu saja aku sedang lapar."Baekhyun berjalan mendahului, sementara Sehun membiarkan namja itu berjalan di depannya sambil terus mengamati."Aku selalu tahu segalanya tentangmu hyung." gumamnya.

Tiba-tiba rintik air yg sangat banyak berjatuhan dari langit. Hujan. Baekhyun panik langsung menutupi kepalanya dengan tas kerjanya. Sehun berlari menghampirinya dan menarik tubuh itu mendekat.

"Ayo cari tempat berteduh hyung."

Baekhyun mengangguk, Sehun mendekapnya dengan erat seraya menutupi tubuhnya dengan jaket yg ia kenakan. Padahal Baekhyun punya jas namun Sehun tak memberi namja itu kesempatan untuk melindungi dirinya sendiri menggunakan jas miliknya. Sampai di sebuah halte, Sehun tak kunjung melepas dekapannya. Baekhyun sudah menatap Sehun sedari tadi agar ia dapat bebas dari namja itu. Setelahnya baru ia tersadar lalu menjadi kikuk. Keduanya begitu, canggung satu sama lain.

"Itu.. tadi.. Aku pikir kau pasti akan mengenakan jas itu lagi esok pagi. Jadi tidak boleh basah." Sehun memberi penjelasan agar tidak terjadi salah paham.

"Iya, kau benar. Aku tidak punya banyak jas di rumah."

Setelahnya kedua insan itu masih menunggu hujan reda di tengah keramaian halte. Berharap hujan akan berhenti, namun nyatanya nihil. Langit tidak bosan menangis malam itu. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di hadapan Baekhyun membuat namja itu kebingungan menatap Sehun. Sehun terdiam sesaat, namun tangan halus Baekhyun yg menyentuh tangannya membuatnya tersadar.

"Aku menelfon supirku tadi." Baekhyun mengangguk, acara makan malam mereka harus di tunda akibat hujan. Tapi kabar baiknya Baekhyun di antar sampai di depan rumah sewa kecil miliknya menggunakan mobil Sehun. Melambaikan tangannya setelah dilihatnya Sehun tersenyum dibalim kaca mobil. Baekhyun masuk kedalam rumah, ia tidak tahu tiba-tiba hawa di sekitar rumahnya terasa aneh. Cuaca memang dingin berkat hujan, namun dingin yg ia rasakan di kulitnya bukan lagi dingin yg seperti itu. Hawa macam apa ini?

.

.

.

.

.

"BYUN BAEKHYUN!"

"Iya, sajangnim."

"KAU LAMBAT, JANGAN BEKERJA SEPERTI SIPUT."

"KAU SALAH MELAKUKAN PEKERJAAN MU. ULANGI DARI AWAL!"

"APA YG KAU LIHAT? MENATAP KU TIDAK AKAN MENAMBAH WAKTUMU. CEPAT BEKERJA!"

"IYAAAAA SAJANGNIIIIIMMM"

Baekhyun menghela nafasnya, begini beratkah bekerja di perusahaan yg dijuluki gerbang neraka ini? Apakah Baekhyun menyesal? Tidak. Ia tidak punya pilihan. Hari kedua ini ia harap ia mampu bertahan. Karna yg ia dengar dari karyawan lain tidak ada sekretaris yg mampu bekerja lebih dari satu minggu bersama Park Chanyeol. Jadi ia harus bertahan selama seminggu kedepan.

"Ah, telingaku sakit. Aku bisa tuli kalau begini caranya."

"Kau harus sabar Baekhyun-ssi. Jangan sampai kau mengundurkan diri atau jika kau dipecat, maka tamatlah sudah." salah satu karyawan menyemangatinya.

"Ya, apa kalian tidak mengalami masalah pendengaran selama bekerja disini? Aku saja merasa harus memeriksakan telingaku ke dokter setelah ini."

"Kami sudah terbiasa. Tidak ada karyawan yg tidak di teriaki olehnya satu hari saja."

"Aku harap suaranya habis dan tidak bisa bicara lagi." sumpah Baekhyun membuat karyawan disebelahnya menggeleng.

"Mustahil, dia tidak pernah kehilangan suaranya barang satu detikpun. Dia itu ajaib."

"Apanya yg ajaib, dia itu gila."

Baekhyun memasuki ruangan Chanyeol dengan setumpuk kertas di tangannya. Benar sekali, kertas-kertas itu berat kawan. Dan Baekhyun sempat berdiri cukup lama di hadapan Chanyeolmembuat namja tinggi itu akhirnya melepaskan sikap acuhnya selama ini.

"Apa yg kau lakukan." Dengan satu nada. Datar sekali.

"P-park sajangnim, aku harus meletakkan ini dimana?" Chanyeol menatap lelaki dihadapannya itu, wajahnya hampir tetutupi tumpukan kertas yg menurutnya tidak terlalu berat. Cih, dasar lemah.

"Disana." Chanyeol menunjuk sebuah sudut.

"Iya." Berhasil meletakkan tumpukan kertas itu, Baekhyun hampir saja bersorak ria dan berdansa untuk merayakannya namun tatapan Chanyeol membuatnya tersenyum kikuk. Lalu menunduk dan meminta maaf. Memang Baekhyun akui dirinya sedikit berisik. Tunggu, bukan. Maksudnya sangat berisik. Berbeda dengan atasannya itu yg merupakan seseorang yg suka ketenangan saat bekerja. Baekhyun bahkan tidak bisa berhenti bergerak bahkan untuk sekedar menghentikan suara sepatunya yg berdecit dengan lantai saat ia duduk. Begitu berisik dan mengganggu.

Pukul enam sore. Baekhyun kembali ingin bersorak sorai namun ia tahu ia masih ingin hidup hingga esok saat melihat tatapan Chanyeol. Hari ini ia tidak perlu lembur seperti kemarin karna tugas hari ini sudah sebagian ia kerjakan kemarin. Jadi ia bisa pulang dengan tenang dan makan di kedai pinggir jalan terlebih dahulu sebelum pulang ke berhenti dari aktivitasnya. Seluruh syarafnya menegang. Kedua matanya terpejam menikmati sesuatu yg sangat berbeda. Tiba-tiba ia horny, libidonya naik entah karna apa. Tapi indra penciumannya menangkap dengan jelas aroma itu. Matanya terbuka, kedua rahangnya saling beradu. Aroma itu... ambrosia?

"Sajangnim, aku sudah menyelesaikan tugasku."

Chanyeol menatap Baekhyun intens, lama dan menyelidik. Benarkah itu? Apa ia tidak salah? Apa Baekhyun..Sementara namja yg ia tatap mulai merasa risih dengan tatapan itu dan memutuskan untuk segera pergi.

"Tunggu, Baekhyun."

Baekhyun terdiam, Chanyeol memanggil namanya seolah mereka sudah akrab. Ada apa ini? Chanyeol mendekat, mencoba memastikan sesuatu. Benar saja. Ia mencoba lebih dekat agar dapat mencium aroma itu lebih lama.

"Sajangnim, kalau tidak ada hal penting yg ingin kau bicarakan aku harus pergi sekarang. Permisi." ujar Baekhyun berlalu dengan segera. Ia merasa risih dengan sikap Chanyeol yg tiba-tiba berubah aneh. Tunggu, bukankah Chanyeol memang selalu aneh?

Sementara Chanyeol masih terdiam di tempatnya. Celananya sudah terasa sangat sempit minta dipuaskan. Tapi ia merasa aneh. Bagaimana mungkin? Baekhyun... adalah ambrosia?

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

Hai… ada yang minat sama ff ini? Makasih buat follow dan favorite nya apalagi review nya, repost bukan sekedar copy paste doang loh, ini juga butuh pegeditan jadi kalau ada yang suka silahkan dikomen nya^^

Sekali lagi aku tekankan ini bukan karya aku tapi repost dari akun kak Elle dan kak Sasha

Di wattpad user name : Every_Twins

Sekian dari aku, see you