PARIS : Rise of the Demon

Chapter 4

The Honesty Chanyeol

.

.

.

.

.

Enjoy

.

.

Baekhyun POV

Aku tidak pernah tahu akan ada malam dimana aku tidak pernah berhenti tersenyum. Meski bibirku masih terasa aneh karna Chanyeol menciumku dengan ganas di kantor tadi. Aku hanya tidak pernah berpikir ciuman pertamaku akan terasa begitu nikmat. Mungkin sekarang pipiku sudah berubah warna saking senangnya, aku benar-benar tidak menyangka.

Namun aku sempat khawatir akan sikap Chanyeol yg sepertinya menyimpan sesuatu terhadapku. Entahlah, seperti yg pernah ku katakan, tatapan mematikannya seolah hendak menelanjangiku. Aku sempat berpikir akan di perkosa tadi sore, karna Chanyeol begitu bergairah dan seperti orang kesetanan. Suaranya yg berat itu bahkan mendesah tanpa henti di telingaku. Antara kenikmatan, dan ketakutan.

Kedua perasaan itu memenuhi tiap inci setelah puas hanya dengan bibir dan tangannya yg bermain di sekujur tubuhku, aku bersyukur dia tidak bertindak lebih jauh dengan merobek pakaianku secara paksa. Bagaimanapun aku belum siap, meski Chanyeol memang sudah menyatakan perasaannya padaku. Tapi itu setelah dia menciumku tiba-tibatanpa izin. Tapi tidak masalah, hatiku berubah haluan seketika saat dengan romantisnya dia menyatakan perasaan.

Tidak terlalu mewah, hanya berupa kata-kata namun kecupan lembut dan penuh perasaan di kening serta bibirku membuat hatiku bertalu-talu dan bersorak memuja nama Chanyeol. Aku jatuh cinta padanya.

"Baekhyun.."

Pesan teks di ponselku menampilkan nama Chanyeol, aku membaca pesan itu segera dan membalasnya.

"iya?"

Aku memeluk guling, hari ini aku seperti tidak butuh tidur. Lihatlah mataku seperti di ganjal ribuan korek api hingga mampu terjaga sampai larut begini. Padahal biasanya aku paling suka tidur, selain itu makan. Kalau makan sambil tidurbisa dilakukan bersamaan, maka itu akan jadi hobi baru favoritku.

"Boleh aku memanggilmu sayang?"

Aku tidak tahu si telinga besar itu bisa jadi sangat cheesy. Aku merasakan betul perubahan sifat doby. Ya, nama baru yg kuberikan untuknya.

"Terserah.."

Hanya berselang satu menit, ponselku kembali bergetar. Ada pesan masuk.

"Kau tahu? Dalam kamus yg ku baca kata 'terserah' itu bisa berarti dua hal. Menyukai dengan gamblang atau mewakili perasaan tidak suka akan suatu hal. Jadi kau tidak suka ku panggil sayang begitu?"

Tawaku pecah saat itu juga, Chanyeol butuh kasih sayang barangkali. Aku tidak tahu yeoja atau namjachingu nya yg terdahulu memperlakukannya seperti apa.

"Bahasamu terlalu berat yeol, aku jadi mengantuk ^"

Pesanku kembali di balas, dengan nada yg akan terdengar aneh kalau Chanyeol yg berbicara.

"Jadi kau mau ku panggil sayang atau tidak? Astaga ternyata mendapat sebuah persetujuan darimu itu memang susah ya."

"Iya, baiklah doby. Aku mau. Cerewet."

Tak lama getaran ponselku terasa begitu kuat, kurasa yg mengirim pesan tengah marah karna getarannya terdengar garang.

"Kau berselingkuh? Siapa itu doby?!"

Bola mataku berputar, mengetik pesan di touchscreen smartphoneku dengan malas.

"Ya, aku berselingkuh. Doby itu kekasih baruku. Orangnya sangat jelek dengan telinga besar dansuka marah-marah. Aneh sekali."

Chanyeol pasti tengah terbakar api cemburu di seberang sana, ckck bodoh.

"Bisa kau pertemukan aku dengannya? Aku merasa dia punya beberapa masalah yg harus diselesaikan. Kau jangan coba-coba berbicara dengannya."

Aku kembali memutar bola mataku malas, sudah pukul 2 dini hari. Aku menguap lantas terpejam beberapa kali. Diluar rumahku terdengar sekumpulan remaja nakal yg mungkinsedang pesta narkoba atau mabuk-mabukan.

"Bodoh, doby itu adalah kau Park Chanyeol. Dirimu sendiri. Coba selesaikan masalah yg ada pada dirimu. Buat telingamu jadi kecil dan ubah sifat marah-marahmu. Aku mau tidur, mengantuk sekali. Annyeong~ chu."

Meski sudah setengah terbawa alam mimpi, akusempat mendengar ponselku yg bergetar di atasnakas. Dua atau tiga kali. Mungkin empat. Empat pesan masuk sekaligus. Entah apa yg Chanyeol katakan, aku tidak ingin tahu. Saat hatiku terasa damai di alam mimpi, perasaan lain tiba-tiba muncul. Rasa itu kembali, perasaantakut.

Mungkin aku berada di ambang surga. Taman indah laksamana kayangan langit. Sungai susu dan kebun anggur yg merah merekah. Hatiku damai beberapa waktu. Namun semuanya berubah menyeramkan. Di sudut taman dapat kulihat dengan jelas sesosok tubuh berwarna hitam. Berjalan mendekat dengan langkah gontai. Aku merasa aneh, ya, aku mengenal mata dan bentuk telinga yg khas itu.

Chanyeol?

Makhluk itu berbulu, tingginya kira-kira dua meter dengan tanduk banteng mengacung gagah di masing-masing sisi kepalanya. Setiap langkah yg ia habiskan untuk mendekat menciptakan nuansa baru yg mencekam yg ia tinggalkan di belakang. Kolam susu yg ia lewati berubah warna menjadi hitam legam. Rumput hijau yg ia pijak menjadi layu dan gosong seketika. Pohon anggur yg ia lewati berubah menjadi tanaman berduri. Makhluk itu seolah pembawa kesengsaraan, wajahnya di penuhi luka dengan ekspresi bengis tanpa kasih sayang.

Seolah seperti... seorang penguasa kegelapan.

Aku membuka kedua mataku, melihat betapa tubuhku basah akibat peluh yg lengket seperti sehabis berolahraga. Gigiku bergemeretak dan jantungku berpacu dengan otakku. Berpikir dan mengamati sekeliling. Benar, ini adalah kamarku.

"Mimpi buruk."...

.

.

.

.

Author POV

Chanyeol baru yakin akan sesuatu, dia memang pernah melihat wajah Baekhyun sebelumnya. Dalam sebuah guratan bunga tidur tepatnya. Ya, siapa bilang demon tidak bisa bermimpi. Mereka bisa bermimpi bahkan hanya dengan berkedip atau tidak tidur sama sekali. Jadi semacam firasat atau penglihatan akan masa depan bila hal itu terjadi duluan sebelum mereka melakukan fase tidur.

Terlepas dari bagaimana cara demon bermimpi, Chanyeol pernah melihat Baekhyun dengan tanduk kecil di kepalanya. Semacam tanduk rusa atau kijang mungkin. Kecil sekali sampai tidak dapat terlihat. Persis seperti saat ini, dalam mimpi itu Baekhyun juga terlihat sangat indah dan bahkan lebih menawan. Dalam mimpi Chanyeol itu, Baekhyun hadir tanpa busana.

Namun mimpi itu sudah lama sekali, hampir dua ratus tahun yg lalu. Ia mendapat mimpi itu kala masih menetap di Budapest. Saat itu Chanyeol juga menganggap mimpi tersebut sebagai angin lalu. Sebab ia pikir pria mungil dalam mimpi itu hanya anak raja atau dewa yg tersesat dan berusaha menemukan mimpi kayangan di kamar orang tuanya. Tapi setelah bertanya, Maddox bilang kesembilan penguasa yg lain tidak pernah mendapat mimpi nina bobo seperti itu. Mimpi mereka semua tak pernah jauh dari tiga hal; neraka, wanita, dan penyiksaaan. Jadi Chanyeol mengedikkan bahunya tak acuh, itu cuma sekedar bunga tidur.

"Selamat pagi Sajangnim."

Chanyeol melempar senyuman pada Wendy, berjalan dengan langkah ringan masuk kedalam ruang kantornya.

"Selamat pagi." Wendy berhenti mengunyah roti yg menjadi sarapan kejar tayangnya, apa manusia bernama Park Chanyeol itu baru saja menjawab sapaannya seraya tersenyum? Woah, semenjak Baekhyun bekerja disini begitu banyak perubahan yg terjadi.

Hebat!

Chanyeol membuka pintu dan menemukan kekasih hatinya tengah sibuk dengan kertas-kertas yg berserakan di atas meja kerja. Berdiri memunggungi Chanyeol membuat lelaki tinggi itu gemas ingin melihat namjachingunya pertama kali di pagi hari

"Pagi sayang~"

Chanyeol melingkarkan kedua tangannya di pinggang Baekhyun dan berakhir di perut rata lelaki itu. Mengelus perut Baekhyun dan menciumi serta menjilati telinganya.

"Chanyeol hentikan, geli."

Baekhyun menggeliat tak nyaman, ia merasakan bagaimana hidung Chanyeol mendesak untuk dapat merasakan aroma tubuhnya dengan penuh nafsu. Dasar mesum.

"Seperti biasanya, kau selalu wangi. Bagaimana mungkin aku bisa berhenti." masih bertahan dengan aktifitasnya, tenaga Chanyeol pulih saat aroma ambrosia berhasil membuat seluruh saraf di otaknya aktif. Layaknya caffein.

"Aku candu akan dirimu, tolong rehabilitasi aku Byun."

Baekhyun tersenyum sesaat, Chanyeol bisa membuat hatinya lumer ke lantai kalau ia terus melakukan aktifitasnya itu. Jadi Baekhyun berbalik, menatap Chanyeol dengan wajah cerah namun tak lama senyumnya memudar. Wajah Chanyeol mengingatkannya akan sesuatu. Hal itu membuat Chanyeol bertanya-tanya akan perubahan ekspresi Baekhyun yg cukup drastis.

Masih memeluk kekasihnya itu, iatahu ada sesuatu yg salah saat matanya menangkap keganjilan di mata Baekhyun.

"Kau ketakutan. Ada apa?"

Baekhyun masih dalam ekspresinya, ia tidak tahu bagaimana Chanyeol bisa mengetahui apa yg ia rasakan tapi yg jelas ia tidak bisa berkata apa-apa selain menatap kedua mata Chanyeol. Mata yg sama yg ia lihat saat mimpi buruk tadi malam.

"Kau.. ketakutan padaku. Ya 'kan?"

Baekhyun menganga, ia hendak berbicara dengan membuka mulutnya setengah namun ia urungkan. Menggeleng kemudian tersadar tidak seharusnya dia punya pikiran seperti apa yg adadalan benaknya sekarang. Tidak, Chanyeol bukan seperti yg ada dalam pikirannya.

"Tidak.. ku pikir hanya... Ck, Chanyeol berhenti membaca pikiranku. Aku merasa tidak nyaman."

Chanyeol mengangkat bahunya lalu kembali mengeratkan kaitan dua tangannya di pinggang ramping Baekhyun.

"Aku tidak bisa, semua itu tersirat di matamu. Jadi sayang, sekarang katakan apa yg mengganggu pikiranmu. Aku harus tahu sesuatu."

Baekhyun balik memeluk Chanyeol, tangan mungilnya bermain-main di dada bidang Chanyeol yg ada di balik kemejanya. Membuat namja tinggi itu tersenyum sebab merasa geli. Tindakan Baekhyun ini bisa saja membuat Chanyeol kehilangan akal sehatnya dan bertindak seperti binatang lagi. Jadi dia berusaha menahan gejolak dalam dirinya dan menunggu Baekhyun berucap dengan sabar.

"Aku.. kemarin aku mimpi buruk."

Baekhyun mulai buka suara, entah mengapa perasaan Chanyeol berubah aneh. Sesuatu dalam dirinya yg berusaha ia tutupi seolah akan di ketahui Baekhyun sesaat lagi. Ini adalah firasat, dan biasanya firasat Chanyeol tidak pernah salah.

"Entahlah... aku hanya sempat berpikir kalau kau... bukan manusia." Chanyeol membelalakkan kedua matanya, jantungnya berhenti berdetak. Kepala mungil Baekhyun bergerak perlahan di bawah dadanya dan terlihat berusaha menemukan mata Chanyeol.

"Konyol bukan?"

Demon itu merasakan tubuhnya mulai terasa panas, darah berdesir dengan tidak santainya dalam tubuh manusianya. Ia baru ingat, mungkin Baekhyun bukan manusia biasa. Bagaimanapun Baekhyun adalah manusia unik dengan tubuh berlumuran ambrosia. Hal yg sangat patut di pertanyakan.

"Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?" senyum yang coba Chanyeol tunjukkan terlihat palsu, namun Baekhyun tidak dapat melihat itu sebab wajahnya kembali berhadapan dengan dada Chanyeol.

"Katakan yg sejujurnya, apakah itu benar? Karna..." Baekhyun menggantung kalimatnya, Chanyeol menatap gamang. "...karna jantungmuberdetak dua kali lebih cepat saat aku mengatakan hal itu."

BINGO.

Tidak ada keraguan dalam kalimat Baekhyun berarti Chanyeol tidak punya daya untuk mengelak. Ia pasrah dan menghela nafas panjang. Mengelus pucuk kepala Baekhyun dan menghirup aroma ambrosia lagi.

"Sayangnya itu benar Baek,"

Kepala Baekhyun langsung bergerak dengan cepat, menatap Chanyeol dengan tatapan tidak percaya. Ya, Chanyeol pikir itu wajar.

"Maksudmu?"

Akhirnya Chanyeol membuka rahasia terbesar dalam hidupnya. Melakukan hal terlarang yg tidak pernah ia lakukan selama sejarah ia menyamar dan hidup sebagai manusia. Kalau para tetua Budapest dan para penguasa kegelapan yg lain tahu akan hal ini, maka tamatlah hidup demon Chanyeol. Baekhyun mendengarkan dengan seksama bagaimana Chanyeol menceritakan perihal demon dan kesembilan penguasa lainnya.

Yang aneh, ia tidak terlihat begitu terkejut. Hanya masih tidak percaya bagaimana tubuhnya bisa mengeluarkan aroma seperti ambrosia dan masih tidak mengerti sebenarnya apa itu ambrosia.

"Lalu, setelah kau tahu aku adalah iblis bengis. Apa kau takut padaku?"

Chanyeol berujar dengan tatapan datar, terdapat sedikit percikan api dalam matanya yg sempat Baekhyun saksikan dalam mimpinya kemarin. Baekhyun mengangguk pasti,

"Ya."

Hawa dingin terasa begitu membelit sekujur tubuh Baekhyun, bagaimana mungkin ia bisa tidak takut saat ini. Kantornya bisa tiba-tiba berubah menjadi pemakaman dengan nuansa kabut yg mencekam. Tapi itu cukup keren, kalaudi pikir-pikir.

"Ya, aku takut pada dirimu. Aku sudah melihat wujud demonmu. Aku sempat menangis saat terbangun dari mimpi dan menyadari makhluk itu adalah kau."

Chanyeol semakin memberikan tatapan tidak suka, hatinya terasa sakit meski Baekhyun belum mengatakan apa-apa atau pertanyaan yg menjurus akan berakhirnya hubungan mereka. Tapi kalau memang begitu Chanyeol bisa sekarat tanpa menghisap ambrosia sebagai makanannya.

"Tapi kau... tidak akan membunuhku kan? Aku kekasihmu.." ucap Baekhyun dengan puppyeyes. Tangannya mengelus pipi Chanyeol pelan, berharap namja itu tersenyum lembut sebagai balasan. Nyatanya tidak, Chanyeol menyingkirkan tangan Baekhyun dan enggan menatapnya.

"Aku tidak tahu, aku tidak bisa menjanjikan hal itu." dingin dan datar.

Park Chanyeol yg dulu telah kembali. Mungkin mendekati sifat demonnya. Baekhyun hanya tinggal menunggu perubahan wujud Chanyeol lalu dia akan membunuhnya.

"Kalau begitu aku ikhlas, kau bisa membunuhku kapan saja." tatapan Baekhyun semakin lemah, Chanyeol merasa bisa mencekik dan mematahkan leher Baekhyun saat ini juga sebab Baekhyun terlihat seperti manusia yg sangat lemah. Chanyeol mendecih.

"Jadi kau menyerahkan dirimu begitu saja pada iblis sepertiku, begitu?"

Baekhyun menggeleng pelan, ujung bibirnya tertarik ke atas dengan perlahan. Membuat Chanyeol ingin mencekiknya karna terlihat begitu membingungkan. Kenapa Baekhyun sempat terseyum saat barusan ia bilang ia Baekhyun kembali naik ke wajah Chanyeol, lelaki tinggi itu tidak menolak.

"Tidak," senyumnya terus terpatri.

"Aku menyerahkan diriku pada cinta."

Saat itu, detik itu, Chanyeol berpikir akan memuja seseorang- atau benda- atau apalah itu yg bernama Cinta. Sebab saat Baekhyun mengucapkan kata itu, Chanyeol tahu itu di tujukan untuknya. Begitu dalam, kuat, dan tulus.

"Aku mencintaimu, Paris. Apa adanya. Tidak perduli kau demon atau pencabut nyawa dari dataran mana. Fakta sesungguhnya bahwa iblis sepertimu telah membuatku jatuh cinta membutakanku akan dunia ini. Jika memang kau akan mencabut nyawaku, maka lakukan dengan segenap jiwa dan cintamu."

Chanyeol langsung mencium bibir Baekhyun tepat saat lelaki mungil itu berhasil menyelesaikan kalimatnya. Melumat benda yg terasa manis itu hingga ia lupa daratan. Sungguh apapun itu yg bernama Cinta, Chanyeolakan memberikannya setumpuk ambrosia kering sebagai hadiah karna telah membuat Chanyeol merasakan perasaan lain yg membuatnya seolah merasa sebagai manusia.

Sungguh merasa... manusiawi.

Bahagia untuk yg pertama kalinya untuk waktu yg rasanya seperti selamanya.

Meski Chanyeol sendiri tidak tahu pasti apa itu cinta. Sebab seumur hidupnya ia baru mengenalkata itu, kata yg begitu indah yg belum pernah ia temukan dalam kamus di kepalanya. Baekhyun sang ambrosia yg telah mengenalkannya pada Chanyeol.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Digantungin! Maaf teman-teman tapi janji setelah pra-unbk aku bakal update chapter selanjutnya tetap support ya teman-teman

Semoga kalian suka sama ff nya^^

See you next Chapter cbhs

Follow dong wattpad aku ryhandacbhs ntar aku polbek ko hehe