Tenzo melempar konsol gamenya begitu saja setelah sekali lagi dipecundangi oleh Kakashi, 15 ronde dan tak satupun dapat dimenangkan. Padahal ini game favoritnya, dan sesumbar pada sang senior kalau dia tak terkalahkan. Malu sekali rasanya. Dia menengok senpainya, dan sangat menyesal dengan itu karna mendapati seringai menghina dibibir Kakashi.
"payah!" ejek sang senior.
Tenzo jengkel, dengan sekali gerakan dia memepeti Kakashi, Mendorong dan Menghimpitnya dilantai beralas tikar lembut, menatap tepat kemata sang senior mencoba mengintimidasi, namun gagal seratus persen. "kau tau senpai, inilah yang membuatku kalah malam ini" bisik Tenzo di telinga sang lawan. Tanganya menelusup dan membelai lembut belalai Kakashi, menghasilkan desahan rendah pemiliknya.
Kakashi menyeringai, "aku tau matamu memang jelalatan Tenzo. Dan aku penasaran, berapa liter liur yang sudah kau telan sejak masuk kemari?" ejekan yang sungguh tepat sasaran, Kakashi mengucapkannya dengan nada paling mencemooh yang pernah Tenzo dengar.
Darah mudanya menggelegak, tak terima dengan ejekan sang senior. "ya senpai, aku memang bernafsu dengan tubuhmu. Dan jangan pikir aku akan pulang sebelum memuaskan nafsuku!" Tenzo menggeram ditelinga Kakashi.
"ayo kita mulai" sambut Kakashi.
Tenzo bergerak cepat menarik celana dalam Kakashi keluar dari kakinya, menatap kagum dengan apa yang telah dia buka, lalu tanpa babibu melahap benda setengah lembek yang sangat menggoda, menghisap sekuat tenaga dan disambut erangan keras seniornya.
"tidak secepat itu, bocah!" Kakashi bangkit, menggulingkan Tenzo kesisi lain dan menindihnya. Melumat bibir calon polisi tersebut dengan buas, lalu tangannya berusaha melucuti kaos si kouhai.
Mengerti permainan kecil Kakashi, Tenzo mencoba meraih satu-satunya bahan yang menempel ditubuh seniornya, namun Kakashi tak membiarkan itu menjadi mudah.
Mereka bergulat, saling lumat, saling raba, saling mendominasi, mencoba sebanyak mungkin menelanjangi lawannya. Telanjang jiwa dan raga.
...#####...
Tenzo bersedekap dada, memasang pose sekesal yang dia bisa. Usahanya menelanjangi seniornya gagal, padahal hanya selembar kaos. justru dia yang malah telanjang dengan ancaman adik kecil tak terpuaskan. Menjengkelkan.
Senpainya memang bisa ditiduri semua orang, lubangnya boleh dimasuki kapan saja, dimana saja, asalkan mereka bisa memenangkan trik kecil yang di mainkan. Intinya, kau harus licik untuk memonopoli lubang surga putra tunggal Sakumo Hatake itu.
"terlalu cepat seribu tahun untuk mendominasiku" Kakashi mendeklarasikan, lalu berjalan menjauhi kouhainya yang sedang merajuk. Setengah geli memandang burung tegang diselangkangan yang siap bersarang dilubang.
Mini kulkas di apertemennya terlalu rendah dibanding tingginya. Kakaahi harus berjongkoh untuk mendapatkan sekaleng cola. Dan aksi itu digunakannya untuk membuat kouhainya makin dongkol. Dengan sengaja dia berlama-lama memilih minuman, membungkukkan badanya lebih rendah, pantat ditinggikan, membuka kakinya lebih lebar sedikit, dan menggerakkan otot-otot anusnya supaya berkedut-kedut.
"aku anggap itu sebagai undangan, senpai" dalam sekejap kedipan, Tenzo sudah berada di belakang Kakashi. Mencengkeram erat pinggang sang senior dan menghentakkan burungnya kedalam sarang kenikmatan.
"aaarrrggggh, sial. Apa yang kau lakukan Tenzo?!" raung Kakashi, sungguh minta dibacok kouhainya ini, sembarangan saja mengeksplor lubangnya tanpa persiapan.
Tenzo masa bodoh, mencengkeram pinggang seniornya erat-erat dan mulai memompa. "sssssssh, surga..." desahnya.
"aaarrgggh, brengsek!" umpatan Kakashi dibarengi dengan cengkraman pada rak kulkasnya. Buku-buku jarinya memutih saking erat dia berpegangan. Lubangnya sakit sekali, mana dia tau aksi kecilnya menyulut bahaya. Beberapa bulan yang lalu Tenzo tidak seagresip ini.
"Tenzo-tenzo, berhenti sebentar!" disela giginya yang mengatup erat Kakshi berbicara.
"apa lagi?" nada kesal jelas terdengar dari suara Tenzo.
"ada pelumas dinakas, pakai...aaaarrrrggght!" kalimat Kakashi terpotong oleh raungannya. Tenzo menghentak begitu kuat.
"masabodoh dengan pelumas, ini enak sekalki" desisnya dibarengi pompaan keluar masuk.
...#####...
"sen...tuh... Spot...q...Tenzo..." rintih Kakshi.
"nanti" jawaban acuh yang dia terima.
Kakashi meringis sakit, nampaknya Tenzo sedang membalas dendam.
"Ten...zo..." suara Kakashi kecil, serat keputus asaan.
"nanti dulu, setelah aku puas baru senpai" Tenzo menyeringai setan, hentakan acaknya menyakiti rektum yang dia jajah, menghindari titik nikmat senpainya supaya balas dendam ini terasa lebih manis.
"Ten...zo...please..."
"still no!"
...###...
Tenzo memapah Kakashi ke ranjang, mereka sama-sama kelelahan namun terpuaskan. Pergulatan mereka luar biasa sekali, tiga ronde yang menakjubkan.
"bersihkan semuanya" ucap Kakashi saat dirinya sudah berbaring apik diranjang dan diselimuti Tenzo.
"aku juga lelah senpai, besok saja"
"bersihkan, ato kutendang bolamu sampe pecah!"
Tenzo meneguk ludah ngeri, teringat pada Uchiha seniornya yang bolanya cedera parah ditendang Kakashi. "hai' senpai"
"anak pintar" lalu Hatake muda memejamkan mata dengan damai.
Tenzo beralih ke depan TV, memperhatikan karpet lembut yang penuh noda sperma. Senyum mengembang di bibirnya. Tiga babak terpanas yang pernah ia alami, apalagi jika mengingat babak pertamanya. Uh luar biasa, mengendalikan seniornya yang superior itu sangat sensasional. Membuat sang senpai merintih dan memohon seolah hidupnya bergantung pada dia, Luar biasa sekali. Pembalasan memang manis. Tenzo yakin dinding-dinding rektum Kakashi lecet parah akibat ulahnya, terbukti dengan beberapa noda merah muda dikarpet, campuran sperma dan darah. Seringai mengembang di bibirnya.
Tenzo menggulung karpet dan membawanya ke kamar mandi, memasukkan tikar tersebut ke mesin cuci dan menunggunya bekerja. Senyum puas tak lekang dari bibirnya, wajahnya berseri. Seniornya memang luar biasa, tubuh sempurnanya, kejeniusannya, perilakunya, staminanya, dan permainan ranjangnya, semuanya mengundang orang untuk berlomba menjamahnya. arrrrggggh, gemas sekali Tenzo ingin mengungkungnya.
"huufft, terlalu cepat seribu tahun untuk mendominasinya" desahnya berat, teringat ucapan Kakashi. Nyatanya dia bisa menggagahi seniornya karna memang seniornyalah yang menginginkan hal itu, sekali ronde dia bisa menguasai seniornya, tapi dua ronde berikutnya dialah yang dipecundangi dengan kenikmatan. Senpainya itu mengendalikan tubuhnya bagai boneka, menggunakannya sebagai alat pemuas, walau tak dipungkiri dia juga terpuaskan. Namun jauh didasar jiwanya, ingin sekali dia mendominasi Kakashi, jiwa dan raganya. Tapi apa daya, dia tak sehebat ekspektasinya.
.
.
.
Tbc.
