Bott!Kakashi

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : M

Pair : Obito x Kakashi

Warning : Penuh dengan hubungan seksual sesama laki-laki.

A/n 1 : nulis pake Lumia 610 maaf kalo kalo tulisannya brantakan.

...

makasih yg udah foll, fav, n review. Mendukung bgt.

yg log in saya blz lewat pm yah.

Guest : makasih reviewnya, ini dilanjutin kog, tapi emang nunggu ide dateng hehe.

Happy reading minna-san...

.

.

(Saya membaca di narutopedia, tinggi Obito 182 dengan berat 70,5 kg, sedangkan Kakashi 181 dengan berat 67,5. Kakashi itu kurus menurut saya, tapi tidak kerempeng. Jadi, saya bikin Obito lebih dominan disini).

.

.

Kakashi melangkah santai melewati gerbang besar Uchiha. walaupun disini sarang yakuza dia tidak gentar sama sekali, dan meskipun kehadirannya menimbulkan gunjingan sepanjang jalan, dia tetap tenang. Langkahnya pasti menuju ujung, rumah besar berarsitektur jepang dengan sedikit sentuhan modern. Rumah pemimpin (sementara) para Uchiha. Dan meskipun sebagian besar para Uchiha ini membencinya, tidak akan ada seorangpun yang berani menyentuhnya, karena dia-

"apakah dia Kakashi Hatake, kekasih Obito-dono?"

"iya anak baru. dia memang kekasih ketua"

.

.

Kakashi mencium kening Obito, turun ke hidung, pipi kanan, pipi kiri, lalu bi... (gagal, karna Obito memalingkan wajah). Kakashi acuh, dia melanjutkan ciumanya ke leher Obito, mulai dari yang kecupan ringan biasa bertambah dengan gigitan-gitan sensual.

"berhenti!, Bakashi!"

Masabodoh, Kakashi menjilat-cium-gigit-kecup sepanjang leher Obito.

Obito menggeram, "menyingkir dari tubuhku!" perintahnya kasar.

"tidak" Kakashi masih terus melanjutkan aksinya di leher Obito.

"menyingkir atau kulempar!" ancam Obito. Diikuti geraman yang terdengar seperti hewan buas mengerikan.

Kakashi menatap kesal, lalu berguling dari tubuh Obito. Duduk bersila, mengeluarkan buku oranye dari sakunya.

"keluar dari kamarku!"

"tidak" dengan santai Kakashi membalik halaman buku keramatnya.

"keluar atau kulempar!" gertak Obito.

"lempar saja" Kakashi menantang, tapi dengan nada datar.

"aku masih marah padamu!. keluar baik-baik, atau kuseret kau dar..."

Kakashi berbalik cepat, langsung melumat bibir Obito.

Mata Obito melebar mendepati serangan mendadak. Lalu dia menggigit bibir Kakashi sekuat tenaga.

"Aaarrrrrggg..." Kakashi memekik, dengan punggung tangannya dia menyeka bibir. Berdarah.

Obito menyeringai. Rasakan!.

"aku kan cuma ingin minta maaf, kenapa kau kasar sekali. Itte... " Kakashi mengambil tisu di nakas, membersihkan darah dari bibirnya.

Obito bersandar pada kepala ranjang, bersedekap angkuh. Puas bisa menyalurkan kejengkelannya. Masih baik dia hanya menggigit bibir, bukan balas menendang bola Kakashi.

Kakashi masih mengelap bibirnya. " sial, tidak mau berhenti"

Raut wajah Obito berubah. Matanya sedikit terbelalak.

Tisu kelima, dan darah masih terus keluar dari bibir bawah kakashi.

Obito panik, dia melompat turun dari ranjang, menghampiri lemari secepat yang dia bisa, membuka kasar, melempar apapun ditangannya, dia akan terus membongkar dan melempar apapun sampai...

Kotak P3k berada ditanga.

Berjalan tergesa, hampir terpeleset saputangan yang ia lempar, menghampiri Kakashi, duduk didekatnya, mengambil kapas, membuka botol alkohol, Mendongakkan kepala Kakashi, menahan tengkuknya dengan sebelah tangan, Sebelah tangan lagi menekan kapas beralkohol dibibir Kakashi.

Kakashi diam saja. Lukanya terasa perih. Tapi seperti lelaki pada umumnya, luka kecil tidak akan membuatnya merengek. Dia bukan banci, walaupun dia bisa dimasuki.

"sakit?" tanya Obito.

"sedikit"

"maaf ya"

Kakashi mengangguk.

.

.

.

Obito megusap-usap pipi Kakashi. Lalu menciumnya. "nah, sudah baikan?"

"yang sakit bibirku, bukan pipiku"

Obito tertawa kecil, lalu mengecup luka dibibir Kakashi. "nah, sekarang sudah baikan kan?"

Kakashi diam saja.

"mana ucapan maaf untukku?" tagih Obito.

"hangus!" jawab Kakashi datar.

"dasar!" Obito mendorong tubuh Kakashi pelan sampai kepala perak itu menyentuh bantal, lalu ikut berbaring disebelahnya, dan menarik tubuh Kakashi kedalam pelukannya. Yang dipeluk tidak menolak. Kaki mereka berlilitan, Obito merabai punggung Kakashi sayang. Lalu tangannya melingkar dipinggang Kakashi posesif. Tapi tiba-tiba ekspresinya berubah serius.

Kakashi menaikkan sebelah alisnya, "ada apa?"

"kau kurusan"

"hanya perasaanmu" Kakashi mengedikkan bahunya.

"tidak Kakashi, kau benar-benar mengurus"

"aku tidak merasakannya, sudahlah tenang sa..."

"bagaimana aku tenang, kau kurusan. Aku hafal setiap inchi tubuhmu, lebih hafal dari pada tubuhku sendiri. God, aku hanya cuti satu minggu dan kau sudah sekurus ini. Kakashi, apa kau makan teratur seminggu ini?" Obito panik, panik sampai setengah histeris. (cuti mengurusi Kakashi karna dia marah, bolanya ditendang Kakashi sampai cedera parah)

Kakashi memutar bolamatanya, Obito benar-benar berlebihan. "aku makan teratur, tenang saja"

"kuganti pertanyaannya, kau makan apa seminggu ini?"

"aku makan makanan bergizi Obito. Kau,tenanglah. Aku baik-baik saja!" Kakashi menghela nafas, kenapa dia ikutan ngotot?

Obito memandang Kakashi curiga, dia sudah terlalu hafal kebiasaan buruk Kakashi yang tidak becus mengurus perutnya sendiri. "kau makan dango berapa porsi sehari?"

Kakashi diam. Kenapa sih Obito keras kepala. Diakan baik-baik saja, mungkin hanya berat badannya menurun. Itupun, mungkin hanya beberapa kilo. Dia saja tidak terlalu ambil pusing.

"Kakashi..." tuntut Obito.

Dasar kepala batu, "aku makan dango setiap hari, kadang dua porsi, kadang tiga por..." ucapan Kakashi terhenti. Manusia didepannya mengeluarkan aura yang membuat dia keringat dingin. "te...tenang saja...aku...juga... Makan junk food...kadang-kadang... Ha...ha...ha...!" tawa yang benar-benar aneh, bahkan ditelinga Kakashi sendiri.

"Kau!" geram Obito.

Kakashi pasang telinga siap di omeli. Tapi yang terjadi diluar ekspektasi,

Obito merilexkan otot-ototnya, lalu mengeratkan pelukanya sayang, membelai sepanjang tulang punggung Kakashi dari luar kaosnya. "kenapa kau makan sembarangan. Kau bisa sakit" ucap Obito lembut. Berbedaan tinggi mereka yang hanya satu senti, membuat wajah mereka berhadap-hadapan saat berpelukan. Bibir Kakashi tepat didepan bibirnya.

"aku baik-baik saja Obito" Kakashi tersenyum kecil. Dari tadi mereka terus menerus bertukar oksigen, sedikit lucu menurutnya tapi menyenangkan.

"jangan berbohong, kau sakit perut berapa kali seminggu ini?" salah satu kebiasaan buruk Kakashi adalah memakan makanan manis berlebihan, lalu sakit perut kemudian.

"tidak sama sekali"

"bohong!"

"aku baik-baik saja Obito, kenapa kau menanyaiku terus" Kakashi milai jengkel, Ibunya saja tidak pernah sedetail ini menanya-nanyainya.

"berapa kali?" Obito kukuh.

"setiap pagi, puas!" Kakashi ingin berbalik saking jengkelnya, tapi tubuhnya ditahan Obito.

"mulai besok aku akan mengatur pola makanmu lagi!"

"tapi..."

"tidak ada bantahan!"

Kakashi mendesah, dia harus puasa lagi mulai besok. Huft, bye bye dango! Bye bye makanan manis!.

Kakashi teringat tujuannya kemari, dia meraba selangkangan Obito dari luar celana.

"ummmsss, apa yang kau lakukan Kakashi?"

"hanya memastikan, sudah sembuh, kan?" Kakashi berniat memasukkan tanganya, tapi ditahan Obito.

"jangan" tangan digenggamannya dia kecup sayang, "bisa bangun kalo dilanjutkan"

"memang itu tujuanku"

"tidak usah, kelihatannya kau lelah. mari tidur, aku juga lembur tadi malam"

"aku juga"

Mata Obito yang hampir terpejam, terbuka lebar. "sudah kuduga itu penyebab kantung matamu tebal. Dengan siapa?"

"kotetsu..."

"apa dia sangat hebat, sampai kau lembur segala?"

"denga izumo"

"apa? Bertiga!"

"hm" Kakashi mengangguk, "hooamm" kantuknya mulai berat ditahan.

"sial, Kakashi!. Aku benar-benar cemburu!"

"sudah seharusnya kau cemburu kan?"

Obito menghela nafas, tanpa sadar dia semakin mengeratkan pelukannya. overposesif.

.

.

.

Tbc.

Terimakasih sudah membaca.